Lamunanku buyar oleh gedoran pintu depan, keras dan tak sabaran.
“Bu Sabrina! Demi Tuhan, ibu nggak bakal percaya apa yang barusan aku lihat!” suara Rinah meledak begitu aku membuka pintu, napasnya masih terengah-engah. Rinah adalah seorang janda usia 35 tahun dan sangat akrab dengaku.
Aku mengerlingsambil tersenyum malas. “Wah. Ini level heboh. Gosip kelas berat, ya? Terakhir kamu begini waktu tahu Irzan ternyata nggak seperti yang kamu kira.”
“Jangan sebut nama itu, Bu!” Rinah mendesah sambil menerobos masuk. “Ini beda. Dan masih soal brondong. Aku masih gemetar ini, Bu.”
“Oke, masuk dulu,” kataku sambil menarik lengannya. “Nada kamu bikin tetangga mikir kita habis berentem, Rin.”
Kami berdua menuju ruang keluarga.
“Mak Ukah ke mana, Bu?” tanyanya sambil melongok ke sana kemari, mempertanyakan wanita paruh baya yang kadang membantuku rapi-rapi.
“Udah pulang, katanya ada tamu di rumahnya.”
“Syukurlah.” Rinah langsung melesat ke dapur, menuang air putih dan meneguknya sampai habis. “Gila, haus banget nih, Bu.”
Aku duduk di sofa, menyilangkan kaki. “Sekarang ceritakan. Jangan setengah-setengah. Aku kenal gaya kamu.”
“Ini dimulai dari rumah Bu Leha,” kata Rinah akhirnya, duduk lebih dekat ke aku. “Aku ke sana buat narik uang arisan kompleks.”
“Bu Leha yang baru pindahan dan katanya nikah sama brondong itu?” tanyaku memastikan.
Rinah mengangguk. “Betul.” Lalu menghela napas pendek. “Dan yang orang-orang komplks masih suka bisik-bisik soal mereka itu.”
“Kenapa dengan Bu Leha?” Aku mulai penasaran.
“Nah, aku kan ke rumahnya, diterima sama Bu Leha di ruang makannya,” lanjut Rinah. “Meja makannya bulat, atasnya kaca. Kami duduk berhadapan, ngobrol biasa, sambil nunggu dia ambil uang setoran arisan.”
Rinah berhenti sebentar, lalu tersenyum miring.
“Terus Revan, suami brondongnya itu masuk ke ruang tengah.”
Aku menoleh dan Rinah menelan ludah.
“Sepertinya Revan baru keluar dari kamar mandi. Masih pake handuk putih cuma dililit di pinggang.” Rinah mengangkat bahu. “Santai banget. Kayak nggak ada tamu.”
Aku mengernyit. “Terus?”
“Revan ikut duduk di meja,” kata Rinah. “Masih basah, rambut sama kulitnya. Bu Leha nyodorin kwitansi dari aku, minta Revan memeriksanya.”
Rinah menelan ludah lagi, jelas isi kepalanya sedang mengulang adegan itu di kepalanya.
“Pas Revan maju sedikit buat nerima kwitansi itu, tubuhnya condong ke depan…. Ya Tuhan…” serunya tertahan.
“Kenapa?” aku mulai penasaran.
“Handuknya… bergeser ke samping.” lanjut Rinah berdesis. Mengangkat tangan, seolah ingin menghentikan ingatannya sendiri.
“Terus?” Aku makin kepo.
“Ya Tuhan, Bu!” katanya lirih, “aku sampai menahan napas.”
Aku ikut menegang. “Emang ada apa?”
“Ya Tuhan Bu, di balik meja kaca itu,” lanjut Rinah, “aku lihat ada sesuatu yang menggantung. Di sela paha Revan di balik handuk. Besar, panjang, walau gak hidup. Tanpa dia sadari sama sekali.”
Refleks aku menutup mulut. “Ya Allah, Rinah…”
“Aku bersumpah, bukan sengaja lihat, Bu.” Rinah cepat-cepat membela diri. “Tapi posisinya pas. Dan gerakannya bikin kelihatan banget. Segede pisang ambon.”
Aku terdiam, lalu tertawa kecil gugup. “Astaga…”
“Itu bukan soal ukurannya, Bu,” Rinah menggeleng. “Tapi karena aku melihat suami masih muda orang, di meja makan, sambil ngomongin arisan. Rasanya kayak salah tempat, salah waktu.”
“Berapa lama kamu liatnya?” tanyaku pelan.
“Beberapa detik,” jawab Rinah jujur. “Tapi cukup buat aku bengong, cukup buat aku sadar… lebih besar dari punya mantan suamiku atau siapapun yang pernah aku tahu. Kadang tubuh bereaksi lebih cepat dari sopan santun ya, Bu.”
Aku terdiam. Ada geli yang tak kuinginkan, bercampur rasa tak nyaman yang nyata.
Rinah menghela napas panjang, seperti orang yang baru saja mengakui sesuatu yang sejak tadi ditahannya.
“Bu,” katanya pelan, “Dan yang bikin aku benar-benar buyar itu bukan cuma kejadian di rumah Bu Leha, tapi setelahnya.”
Aku menoleh. “Kejadian apa lagi?”
“Nah, aku kan pulang lewat jalan belakang sekolah tempat ibu ngajar. Mau ke kamar mandi dekat sekolah itu. Yang biasa dipakai siswa terus kalau sore sama warga.”
Aku mengangguk. “Iya, terus kenapa dengan kamar mandi itu? Roboh?” Aku sedikit mencibir geli.
“Aku kira kosong.” Rinah tersenyum miring. “Tapi salah satu pintunya nggak tertutup rapat.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, lebih pelan, “Dan di dalamnya… ada Mas Hendi.”
Aku menegakkan punggung. “Hendi?”
“Iya. Mas Hendi yang petugas sekolah itu, yang jago main polinya itu, Bu. Dia lagi buang air kecil.” Rinah menutup mulutnya seolah keceplosan dan ingin menormalkan sesuatu yang jelas tak normal untuk dilihatnya.
“Posisinya jelas. Situasinya jelas. Dan aku jelas nggak seharusnya ada di situ.”
“Terus?” suaraku turun mkaiin penasaran karena menyangkut nama Hendi, petugas sekolah tempatku mengajar.
“Aku refleks berhenti sepersekian detik, Bu. Bukan karena ingin lihat, tapi karena kaget.” Rinah mengusap wajahnya. “Lebih besar dari pisang ambon Revan!” pekiknya.
“Hah! Kamu gila Rinah. Terus kamu nongkrong liatin di sana? Hihihi dasar kamu ya!” Aku tak kuasa menahan geliku.
“Gak lah. Habis itu aku langsung putar badan. Tapi kepalaku keburu panas, Bu. Rasanya kayak kepergok ngelakuin sesuatu yang padahal bukan niatku.”
Aku terdiam lagi. Rasa geli dan tak nyaman bercampur jadi satu.
“Dia sadar kamu melihatnya?” tanyaku.
“Nggak,” Rinah menggeleng. “Syukurlah. Tapi bayangannya keburu nempel di kepalaku, Bu. Dalam satu hari, aku melihat dua hal yang seharusnya privat, di dua tempat berbeda, dari dua lelaki berbeda. Otakku kayak dipukul dua kali.”
Aku menyandarkan tubuh ke sofa. “Pantesan kamu kehausan.”
“Bukan haus minum doang, Bu.” Rinah terkekeh lemah. “Haus normal, rasanya pengen nikah lagi kaya Bu Leha. Hari ini rasanya semua batasan bocor.”
Aku ikut tertawa kecil, tapi tawaku cepat mati.
Cerita Rinah meninggalkan rasa aneh di dadaku. Bukan hasrat. Lebih seperti kesadaran bahwa hidup orang dewasa penuh momen canggung yang datang tanpa izin, lalu pergi meninggalkan bekas yang terkadang susah untuk dilupakan, walau momen itu sangat singkat. Dan bekas ingatan itu yang kadang, lebih berbahaya daripada niat buruk.
Setelah Rinah pamit dan suara motornya menghilang di tikungan, rumah kembali senyap. Aku masih duduk di sofa, cangkir di tanganku sudah dingin. Pintu yang baru saja tertutup terasa seperti garis batas antara tawa yang kupaksakan dan pikiran yang mulai tak lagi bisa kukendalikan.
Bu Leha terlintas di benakku. Perempuan itu sebentar lagi pensiun dari menjadi guru SD, rambutnya selalu disanggul rapi tanpa gaya, tubuhnya pun jauh dari gambaran anggun yang sering dipuja orang. Bahkan di mataku, Bu Leha cenderung gendut, biasa saja, nyaris tak meninggalkan kesan.
Namun entah bagaimana, setiap kali kulihat dia berjalan di kompleks, selalu ada Revan suami mudanya. Lelaki yang secara usia lebih pantas jadi anak bungsunya, bukan pasangan hidup. Tapi Revan menatap Bu Leha dengan cara yang tak bisa dipalsukan. Tangannya ringan meraih, senyumnya hadir tanpa diminta. Mesra, terang, tanpa rasa malu.
Di kompleks ini, nama mereka sedang jadi buah bibir. Perbedaan usia yang mencolok itu tak pernah gagal memancing komentar. Ada yang mencibir, ada yang menggeleng tak habis pikir. Namun di balik semua bisik-bisik itu, satu hal tak bisa kusangkal: mereka tampak bahagia, mesra dan romantis. Kemesraan sederhana itu, justru menohok lebih dalam daripada gosip mana pun.
Aku menyandarkan punggung, menatap langit-langit rumah. Ada rasa iri yang tak kuinginkan, tapi terlalu jujur untuk kusangkal.
Jika Bu Leha yang biasa-biasa saja bisa diperlakukan dengan penuh perhatian, lalu kenapa aku tidak? Kenapa Mas Jason, yang memiliki segalanya, tak pernah lagi punya tenaga atau kemauan untuk membuatku benar-benar merasa dibutuhkan sebagai seorang perempuan, bukan hanya rutinitas kewajiban sebagai suami.
Pikiranku masih berputar ketika bel rumah berbunyi pendek. Sekali. Sopan. Aku bangkit, membuka pintu.
Di depan berdiri Hendi.
“Selamat siang menjelang sore, Bu Sabrina,” sapanya sambil menunduk hormat. “Ini saya mengantarkan titipan dari Bu Yosi.” lanjutnya.
“Oh, Ibu Kepala sekolah udah kembali dari Solo?” tanyaku sambil menerima bungkusan itu.
“Udah, sekitar satu jam yang lalu, Bu.”
“Oke, terima kasih ya, Hen.”
“Sama-sama, Bu.”
“Saya permisi dulu, masih ada beberapa titipan buat guru-guru lainnya, Bu.”
“Oh iya, hati-hati ya Hen,” kataku, menjaga suaraku tetap datar.
“Mari, Bu.” Hendi mengangguk lagi.
Ia melangkah pergi, menyusuri halaman, lalu menghilang di tikungan, sepertinya motor dia ditunda dekat rumah Bu Wiwid. Pikiranku tiba-tiba dipenuhi cerita Rinah tentang insiden kamar mandi tadi bersama Hendi..
^*^
ns216.73.217.14da2


