Satu dua , tiga sampai enam penampil komedi telah selesai menyampaikan materi lawakannya dengan gaya masing masing. Semua dari keenam komedian pada umumnya sangat lucu, mereka menampilkan gaya bicara yang satir dan sedikit sarkas namun tetap lucu mengundang tawa penonton. Sebuah lelucon yang cukup cerdas .
Richie dan teman wanitanya saat itu sangat menikmati pertunjukan. Mereka berdua sangat terkesan. Sisa sisa kelucuan para stand up terkadang masih sering muncul di pikiran mereka saat di bicarakan atau di kenang kembali. Dan kini panggung telah di tutup dengan layar putih . Menandakan pertunjukan telah berakhir. Dan semua penonton pulang kerumah masing-masing.
Sementara mereka berdua berjalan keluar studio menuju mobil . Mereka memasuki mobil dan berkendara ke luar studio. Di dalam mobil mereka juga masih mengobrol.
" Gimana Vid..bagus kan stand up comedy nya" tanya Richie pada teman wanitanya yang ternyata bernama Vidia.
" Iya...bagus banget sih...lucu..dan kadang bikin aku mikir juga.. kalo.kamu sendiri Rich gimana..? Tanyanya balik
" Iya sama..aku juga gak henti-hentinya ketawa...para komedian itu sangat lucu..bikin aku ngakak terus... gaya komedi yang cerdas sih menurut ku...!!
" Ya..bener banget.."
" Ngomong ngomong kamu ingin langsung pulang nih...apa gimana..? Tanya Richie pada Vidia...
"Emm.. gimana ya...kalo kamu rich mau pulang juga...aku ngikut aja sih ama kamunya.."
" O..gitu..ini nih... sebenarnya aku gaik ingin langsung pulang sih..perutku laper..mau makan sesuatu gitu...kalo kamu gimana?
" Ya boleh ...kita cari makan dulu juga asyik sih..oke ..kita cari makan dulu dehh..."
Dan berhentilah mereka di sebuah cafetaria. Memarkirkan mobil dan masuk kedalamnya. Memesan beberapa hidangan serta minuman.
Mereka duduk berhadap-hadapan. Karena posisi duduk nya yang seperti itu otomatis mereka sering melakukan kontak mata. Mereka sama sama dapat melihat wajah mereka masing masing. Vidia berwajah cantik dan anggun sementara Richie adalah pemuda yang cukup tampan dan berkulit bersih. Situasi semacam itu selanjutnya menciptakan suatu perasaan yang asing bagi mereka. Dan ternyata perasaan yang sama di rasakan mereka.
Di tempat itu pula mereka secara jujur mengungkapkan perasaannya yang masih terpendam rapi. Richie mengawali mengungkapkan terlebih dahulu kemudian Vidia juga mengungkapkan perasaannya yang sama pada Richie. Dan hari itu mereka bersepakat menjalin suatu tali persahabatan yang lebih erat dan lebih dalam . Bukan lagi sebagai teman yang baru saja saling mengenal. Tetapi mereka ingin sesuatu yang lebih berkualitas.
Acara makan pun selesai, lalu mereka meneruskan perjalanan menuju kerumah . Sesampainya di rumah keadaan rumah sedang sepi. Mamanya Vidia sedang tidak ada di sana. Mungkin sedang keluar. Yang tinggal hanya seorang satpam yang bekerja di depan. Richie bertanya pada satpam tersebut di mana mamanya Vidia. Lalu si satpam menjawab bahwa ibu Vidia tengah keluar beberapa jam lalu bersama seorang tamu laki laki. Richie menduga bahwa lelaki yang pergi bersama ibu Vidia mungkin lelaki yang sama seperti di lihatnya pada pagi itu. Richie tidak ambil pusing dengan ini. Lalu segera Richie pamit pulang pada Vidia dan satpam .
***
Hari ini adalah hari ke empat belas di bulan Oktober. Hari dimana Richie tengah di sibukkan oleh jadwal kuliah beruntun. Tugas tugas juga mulai menumpuk. Membuat Richie semakin sering merasakan pusing di kepala. Tugas tugas kuliah silih berganti datang. Memeras energi tubuh dan otak. Richie sangat serius dalam mengerjakan tugas individu maupun kelompok. Ia tidak ingin mengecewakan orang tuanya jika nanti nilai kuliah nya buruk. Aspirin telah banyak ia telan. Hingga habis berbotol botol. Memang menjadi mahasiswa jurusan filsafat sangat berat ia rasakan. Setiap saat harus terus membaca banyak buku yang tebal. Untuk memperluas wawasan dan mempelajari konsep konsep abstrak.
Dari pagi hingga menjelang sore hari harinya banyak di isi dengan kegiatan membaca, menulis dan berpikir. Namun meski demikian Richie tidak pernah sedikitpun merasa letih dalam belajar. . Ia adalah tipe orang yang memang menyukai kegiatan berpikir. Dan sejak masih sekolah SMA ia bercita-cita menjadi seorang filsuf. Meskipun hanya amatiran. Setelah selesai membaca buku pada sore itu tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari smartphone yang di taruhannya di dalam kamar. Segera ia ambil smartphone dan menjawab si penelpon. Dan ternyata si penelpon adalah Vidia. Richie pun sedikit senang. Dalam pembicaraan telepon Vidia meminta Richie untuk datang ke rumahnya. Katanya ada sesuatu hal serta pekerjaan penting yang ingin di lakukan. Tanpa pikir panjang Richie pun segera menemui Vidia di rumah. Sesampainya di rumah Vidia nampaknya di sana sedang terjadi masalah pada instalasi listrik. Rumah Vidia menjadi gelap.
Saat itu juga Vidia tengah berdiri di depan rumah, dengan wajah khawatir. Lampu lampu di ruang tamu sudah tidak menyala, Sebagai seorang mahasiswi dan perempuan pula Vidia tidak tahu siapa yang bisa di mintai bantuan memperbaiki masalah instalasi listrik ini. Karena saat itu beberapa tetangga menolak untuk memperbaiki di karenakan tidak terbiasa menangani listrik atau karena takut kesetrum
"Aduh, kalau terus begini saya tidak bisa hidupin komputer dong. gumam Vidia sambil mengelus kepala.
" Lah. Memang pak satpam nggak bisa bantu.. perbaiki, tanya Richie setelah berada di dalam rumah.
" Pak satpam tidak ada di rumah sekarang, karena katanya anaknya lagi sakit. Lagi nganterin kerumah sakit. Besok baru bisa kerja lagi katanya" jawab Vidia
" Oh...gitu..terus mama kamu .."
" Mama juga sedang nggak ada di rumah... sekarang biasa lah ... kerjaan jadi dosen di luar Jawa kan memang gitu..menuntut waktu..kalo tiap hari pulang bisa bikin capek lah..."
"Ooo..," jadi kamu sendirian dong dirumah"
" Enggak sih...ada art itu. Sedang di dapur '
"Oh..ya udah aku coba dulu deh perbaiki listriknya ' kamu ada alat alat nya kan ?"
"Ada.. sebentar aku ambilin"
"Sembari menunggu di Carikan alat, Richie duduk di sofa sambil mengarahkan pandangannya ke beberapa arah. Mungkin ia akan menemukan suatu masalah pada kabel kabel listrik tersebut
Setelah alat alat nya di berikan mulailah Richie berkeliling ke berbagai ruangan untuk memeriksa kabel kabel yang mungkin telah putus atau terkelupas dengan senter . Sambil mencari penyebab masalah padamnya listrik Richie menanyakan mengapa instalasi listrik di rumah Vidia menjadi padam. Apakah sebelumnya telah terjadi sesuatu. Dan Vidia pun menjelaskan bahwa listrik menjadi padam setelah beberapa saat Vidia menyalakan komputer. Dan insting Richie pun selanjutnya mengaitkan padamnya listrik mungkin di sebabkan oleh ketidak beresan dengan stop kontak ataupun komputer Vidia sendiri.
Dan ternyata setelah Richie memeriksa instalasi kabel yang menghubungkan perangkat komputer nya sedang mengalami masalah. Mungkin akibat terjadi arus listrik pendek saat kabel perangkat komputer sedang terhubung.
Dengan seksama Richie memeriksa beberapa kabel yang ada di sana. Mencari cari penyebab pasti nya. Dan ternyata benar seperti dugaan Richie. Kabel yang ada di situ nampak terdapat bekas terbakar. Mulai lah Richie mencoba mengetes jalur kabel positif setelah sekering di nyalakan kembali. Untuk beberapa lama ia masih terus memeriksa. Pekerjaan itu kira kira menghabisi waktu hingga nyaris satu jam.
Berbekal pada ilmu yang di dapatkan pada waktu menjalankan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dahulu. Akhirnya Richie dapat memperbaiki instalasi listrik. "Wah, ini berbahaya sih vid... Aku bisa bantu periksa dulu sebentar, kalau masalah kecil mungkin bisa aku atasi. Kalau masalah nya lebih serius, aku akan hubungi teman ku yang lebih ahli"
Setelah sekitar satu jam, instalasi listrik diperbaiki dengan rapi. Lampu lampu kembali menyala terang, Vidia merasa sangat lega dan ingin membayar jasa si Richie. Tapi Richie menolaknya dengan ramah.
"Cukup kalau kamu selalu berhati-hati dengan penggunaan listrik saja. Jangan memasang beban yang terlalu berat pada satu stop kontak, dan segera hubungi ahli kalau ada tanda-tanda masalah lagi ya," pesan Pak Soleh sebelum pulang.
Sejak itu, Vidia selalu ingat untuk tidak menganggap remeh masalah instalasi listrik dan tidak sungkan lagi untuk meminta bantuan Richie ketika dibutuhkan
***
Setelah Richie selesai memperbaiki instalasi listrik ia kemudian beristirahat sebentar. Sementara itu Vidia memberikan nya secangkir kopi dan beberapa kue . Di sofa itu kemudian mereka duduk sambil berbincang bincang.
" Eh... Vidia ngomong ngomong kamu sudah sering dong di tinggal sama mama kamu keluar""
"Iya bener sih ..kamu,"
" Jadi biasa nya di rumah cuma ada kamu sama pak satpam gitu...?"
"Iya sih..aku udah terbiasa. Tapi kali ini pak satpam lagi ada keperluan penting. Jadinya aku tinggal sendirian deh di rumah. Di temenin art. " Jawabannya
" Kamu nggak takut..?"
" Takut sih nggak ya...cuman ngerasa sepi gitu.. nggak ada yang di ajak ngobrol.."
"0hh..."
"Kamu mau nggak nemenin aku di sini.. temenin ngobrol.. sebentar aja..itu kalau kamu ngga buru buru pingin pulang sih..."
"0h.. nggak papa kok..mau saya temenin kamu...
Akhirnya Richie pun menemani Vidia ngobrol.di rumah nya. Dengan demikian mereka berdua menjadi semakin akrab. .sekira satu jam lebih. Mereka berbincang bincang sambil menonton film box office. Dan ketika waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam Richie pamit untuk pulang..Dalam perjalanan pulang Richie merasa sangat senang karena semakin dekat dengan Vidia
***
ns216.73.216.208da2


