Richie terbangun dari tidur singkatnya dengan sakit kepala. Sudah beberapa hari yang lalu sakit kepalanya tak juga binasa. Meskipun sudah seringkali ia menelan aspirin puluhan butir sebelum tidur. Tetapi entah mengapa sakit kepala nya tak juga sirna.
Seorang dokter pernah mengatakan sesuatu hal kepada nya ketika Richie datang di sebuah klinik. Dokter muda itu bilang bahwa sakit kepala yang di deritanya kemungkinan akibat dari semacam gejala penyakit tumor. hanya saja sel sel tumor tersebut belum nampak berkembang besar. Tetapi cukup mampu untuk.mengganggu suplai darah ke otak nya. Oleh sebab itulah Richie sering mengalami sakit kepala.
Richie adalah seorang mahasiswa di sebuah universitas swasta yang ada di daerah metropolitan. Saat ini ia telah menempuh pendidikan di universitas tersebut sampai pada semester tujuh. Ini berarti hanya kurang satu semester lagi untuk mendapatkan gelar sarjana. Hari hari Richie di lalui dengan penuh kesibukan belajar. Ia ingin lulus kuliah dengan nilai yang memuaskan.
Hampir setiap hari ia pergi ke perpustakaan kota untuk membaca banyak buku dan juga untuk mencari referensi sebagai bahan bahan kajian skripsinya nanti. Seperti hari ini misalnya. Setelah bangun dari tidur, Richie segera bergegas ke kamar mandi untuk Membersihkan diri . Dan sepuluh menit kemudian telah selesai, lalu menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Richie sebenarnya adalah seorang pemuda yang berpenampilan cukup tampan. Rambutnya lurus, berwarna hitam pekat, kulit coklat keputih-putihan. Sementara bentuk pipinya agak sedikit tirus dan berkumis tipis. Tubuhnya tegap, bertinggi badan sekitar 177 cm dan mungkin berat badan nya berkisar antara 70-76 kilogram.
Seperti biasa setelah Richie sarapan ia segera menyiapkan segala sesuatunya untuk di bawa. Hari ini adalah hari Minggu, dan hari ini kebetulan tidak ada jadwal kuliah. Jadi Richie tidak perlu memakai pakaian yang biasa di buat untuk kuliah. Ia hanya memakai pakaian santai. Mengenakan kaus coklat bergambar dan memakai celana jeans hitam lengkap dengan sepatu. Tak lupa juga membawa tas punggung berisi beberapa buku tulis untuk mencatat.
Hari ini ia berencana untuk pergi menuju perpustakaan kota seperti biasanya. Tanpa berlama-lama lagi ia segera melangkahkan kakinya menuju garasi tempat sepeda motor terparkir. Pintu garasi di bukanya lebar dan motor di bawanya keluar garasi. Sebelum ia pergi Richie menyempatkan diri untuk berpamitan kepada papanya yang saat itu sedang berada di belakang rumah untuk menyiram tanaman tanaman herbal. Setelah bersalaman dengan papanya ia setengah berlari kembali ke depan rumah lalu menaiki sepeda motor. Segera setelah itu motor pun melaju kearah timur dengan kecepatan sedang. Perjalanan menuju ke perpustakaan kota tersebut membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit. Dan ketika telah sampai di depan perpustakaan ia memperlambat laju motornya lalu berhenti di tempat parkir yang telah tersedia.
Setelah memastikan sepeda motor sudah pada posisi yang benar, ia pun melepas helm dan meletakkannya di atas spion motor. Lalu ia segera menuju pintu perpustakaan. Sampai di dalam perpustakaan Richie mengedarkan pandangannya ke beberapa sudut ruangan di sana. Ternyata perpustakaan itu masih nampak sepi. Hanya terlihat beberapa orang sedang membaca buku dan yang lainnya sedang mencari cari buku yang mereka inginkan. Setelah Richie menemukan kursi kosong di sebelah jendela ia pun duduk sebentar. Dan lalu meletakkan tas punggungnya yang berisi beberapa buku keatas meja di depan kursi.
Tanpa menunggu lama ia segera berjalan mengelilingi rak rak buku yang berjajar di ruangan itu. Ia ingin mencari buku konsep konsep filsafat seperti yang biasanya ia baca. Kali ini ia menemukan sebuah buku filsafat yang bersampul biru. Buku itu tidak terlalu tebal. Namun di tulis oleh seorang filsuf kenamaan bernama Jeremy bentham. Buku filsafat itu dalam judulnya memuat kata kata utilitiarinisme. Sesuatu yang menurut Richie sangat baru. Karena penasaran dengan judul tersebut ia pun segera mengambilnya dan segera duduk di kursi semula.
Perlahan lahan ia membuka sampul halaman buku, satu persatu halaman buku ia baca dengan saksama. Semakin ia banyak membaca nya semakin ia menjadi semakin penasaran untuk mendalami konsep utilitiarinisme tersebut. Tak terasa Richie telah menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk membaca buku. Namun Richie masih merasa belum paham betul mengenai isi buku tersebut. Dan karena kepala Richie perlahan lahan mulai terasa sedikit berdenyut. Ia memutuskan untuk berhenti membaca. Dan meletakkan bukunya di atas meja. Untuk menghilangkan rasa berdenyut di kepala nya Richie sengaja melihat suasana di luar perpustakaan melalui jendela.
Ketika Richie sedang asyik melihat lihat suasana di luar perpustakaan. Secara tidak sengaja ia melihat sebuah mobil putih sedang berparkir di tempat nya. Dalam mobil putih itu nampak keluar seorang wanita berhijab biru . Richie melihat wanita tersebut dengan lekat lekat. Sepertinya wanita itu juga akan masuk ke perpustakaan. Dan ternyata dugaannya benar. Tak lama kemudian wanita tersebut memasuki perpustakaan dengan membawa tas kecil hitam yang berada di pinggangnya.
Richie terus saja memperhatikan wanita tersebut berjalan. Sesaat setelah memilih kursi yang tepat wanita itu pun duduk. Lalu mengeluarkan secarik kertas serta pena guna mencatat sesuatu. Ia pun mencatat catat dalam beberapa kalimat. Setelah selesai wanita itu kemudian berjalan menuju ke tempat di mana penjaga perpustakaan berada. Penjaga perpustakaan ini adalah seorang wanita juga, sudah cukup dewasa dan berkacamata. Wanita berhijab itu nampak berbicara sebentar pada wanita penjaga perpustakaan. Dan sesaat kemudian wanita berhijab itu menyerahkan secarik kertas yang telah di tulisnya barusan.
Dan ketika wanita penjaga perpustakaan itu menerima secarik kertas itu dan membacanya. Lalu Jari telunjuknya kemudian menunjuk ke sebuah deretan rak rak buku yang berjajar di ruangan. Sepertinya wanita itu tengah menunjukkan arah permintaan wanita berhijab tersebut. Wanita berhijab itu pun berjalan ke arah rak rak buku yg di tunjuk oleh wanita penjaga. Dan setelah beberapa saat memilah milah deretan buku. Ia pun menemukan dua buku yang ia maksud. Lalu membawanya ke tempat duduk untuk di bacanya.
Richie terus memperhatikan wanita berhijab itu. Dan ternyata wanita berhijab itu wajahnya sangat cantik. Karena tempat duduk wanita itu posisinya berhadapan dengan tempat duduk Richie. Secara tidak sengaja mata Richie berpautan pandangan untuk sebentar. Karena merasa wajahnya sedang di tatapnya wanita itu pun melayangkan senyum untuk Richie untuk sekadar beramah tamah. Demikian juga Richie juga melempar senyum untuk wanita tersebut.
***
Richie saat ini telah berusia dua puluh satu tahun. Maka tidak mengherankan apabila tak sengaja bertatapan mata dengan seorang wanita yang cantik hatinya pun terasa berdebar-debar. Dan ini adalah suatu yang normal. Karena pada umumnya usia usia seperti Richie adalah masa ketika pubertas mulai datang.
Mungkin karena masih penasaran dan karena wanita berhijab tersebut berpenampilan sangat cantik, Richie pun tak henti-hentinya mencoba untuk mencuri curi pandang dengan nya. Dan dasar nasib memang sedang mujur. Wanita berhijab itu pun nampaknya tidak keberatan untuk di lihat wajahnya. Richie sengaja mencuri curi pandang pada nya namun tetap masih pada batas batas tertentu. Ini agar tetap menjaga kesopanan. Ia tidak melihat pada yang lain, hanya memfokuskan pada wajah. Dalam beberapa waktu Sesekali wanita itu pun selintas pernah membalas tatapan Richie . Dan setelah itu melayangkan senyuman nya yang manis.
Richie semakin berdebar jantung tatkala wanita tersebut melayangkan senyum untuk nya. Ia merasa sangat senang. Dan semakin banyak ia memandang semakin nampak bertambah cantik pula wanita yang ada di depannya tersebut. Karena jantung sudah berdebar debat. Richie kemudian memberanikan diri untuk menghampiri wanita tersebut untuk mengajak berkenalan. Dengan perlahan Richie melangkah menuju kedepan kursi wanita itu. Ia mulai merasa masa bodoh lagi dengan keadaan sekitar. Ia tidak peduli lagi dengan apapun. Yang ter penting niatnya untuk mengajak berkenalan berhasil itu sudah cukup.
Pertama Tama ia menghampiri wanita itu.tentu saja di kepala Richie sudah banyak terdapat skenario skenario cara melakukan kenalan yang bagus. Setelah cukup dekat ia tersenyum . Setelah mendapat jawaban maka skenario skenario berikutnya akan mengikuti.
Richie berdiri dua langkah di depannya . Lalu menyapa pelan. Di jawablah sapaan Richie juga dengan nada pelan. Sebab perpustakaan bukan tempat untuk suara yang keras. Perempuan cantik itu kemudian meletakkan buku yang sejak tadi di bacanya . untuk beberapa saat suasana terasa sunyi. Dan agar suasana kembali mencair Richie menanyakan jam berapa sekarang. Perempuan memandang Richie sebentar ia Tidak nampak terkejut. Lalu menoleh kearah tangan kanannya yang terdapat jam tangan kecil.
" Maaf mengganggu sebentar, handphone saya setting waktunya salah, aku ingin memperbaikinya. Jam yang ada di ruangan mungkin tidak akurat. Aku cuma ingin memastikan saja" kata Richie memulai pembicaraan
Wanita itu kembali tersenyum sebelum menjawab . Ia tersenyum namun Tidak menunjukkan gigi. Sebuah Senyum dari orang yang tidak sedang menawarkan apa-apa. Dan pada akhirnya Mereka duduk di meja yang sama. Berhadapan, tapi masing-masing dengan buku di tangan masing-masing
Setelah menuntaskan bacaan dari beberapa halaman buku kemudian, Richie menutup bukunya. Menatap sampulnya sejenak, lalu berkata:
“Saya sudah sering ke sini, tapi entah kenapa hari ini sangat kesulitan untuk memahami buku yang sedang aku baca ini. Bisakah kamu membantuku," tanya Richie.
"Tapi aku tidak memaksa, jika kamu keberatan tidak apa apa kok" lanjut Richie
" Oh. Tidak. .boleh.. memangnya kamu butuh bantuan apaan sih...,? Tanya wanita itu
" Ini ...nih..pada halaman ini..,aku tidak dapat memahami maksud sebenarnya dari beberapa paragraf di sini" jawab Richie sambil menunjukkan satu halaman dalam bukunya.
Wanita itu pun mencoba sebisanya untuk menjelaskan dengan bahasa yang mudah di mengerti bagian bagian paragraf yang di tunjuk Richie.
Dari situasi basa basi inilah Richie berkesempatan untuk mulai berkenalan dengan wanita ini. Dan wanita itupun dengan senang hati memperkenalkan namanya.
***
Bersambung ke bagian berikutnya
ns216.73.216.208da2


