2753Please respect copyright.PENANAUlMawjcX7m
BAB 1
Mba Rien – Awal Perjumpaan
2753Please respect copyright.PENANAsGQDgE6D8L
Nama panjangnya adalah Rinduwati Suliandara. Mba Rien, begitu ia biasa
dipanggil, adalah seorang guru tari di Sanggar Tari Pelangi. Goni tak pernah tahu usia wanita itu yang sesungguhnya, tetapi pokoknya ia tak tampak terlalu tua, walau jelas bukan pula remaja.
Wajahnya -jika memakai ukuran normal- tidaklah terlalu cantik.Tidak pula terlalu jelek. Biasa-biasa saja Tetapi Mba Rien memiliki mata yang sangat indah, bening dihiasi bulu mata lentik.Juga memiliki bibir yang -menurut Goni- sangat menarik, karena selalu kelihatan basah.
Waktu itu Goni duduk di bangku SMA, kelas dua A. Untuk usianya, waktu itu Goni tergolong “terlambat”dalam soal pacaran. Ia tidak punya teman wanita istimewa, karena baginya semua teman wanitanya sama saja.
Konon ada yang naksir, namanya Alma, gadis dari kelas dua B. Tetapi Goni tidak tertarik, walau kata teman-temannya gadis itu tergolong ratu. Bagi Goni, ia memang ratu, tetapi entah kenapa ia tidak tertarik. Berenang di sungai lebih menarik bagi Goni, katimbang jalan-jalan dengan Alma.
Tetapi Mba Rien menarik hatinya sejak awal mereka berjumpa.Waktu itu, Goni mengantar adik perempuannya, Susi, ke sanggar untuk latihan menari.Goni sangat sayang kepada adik satu-satunya yang baru berusia 7 tahun itu (jarak dua kakak-beradik ini memang terlalu jauh).
Dengan sepeda, diboncengnya Susi ke sanggar, dan diantarnya sampai ke ruang latihan di tengah kompleks sanggar. Saat itulah ia melihat Mba Rien, sedang mengikatkan setagen ke sekeliling pinggangnya.
“Selamat sore Susi…,” ucap Mba Rien menyapa Susi, lalu sekejap melirik Goni.Suara wanita itu lembu ttetapi bernada wibawa, pikir Goni sambil melepas gandengan tangan adiknya.
“Mba Rien, ini kakak saya…,” Susi menunjuk ke Goni yang masih berdiri di pintu ruang latihan. Mba Rien mengangkat muka, dan tersenyum kepada Goni. Agak canggung, Goni membalas tersenyum dan berucap serak, “Selamat sore, mbak…”.
Mba Rien hanya mengangguk tanpa berhenti tersenyum, lalu menerima salam Susi, dan berbalik menuju tempat segerombolan anak-anak yang sedang bersiap belajar menari. Goni masih berdiri,memandang tubuh Mba Rien dari belakang, dan entah kenapa ia merasa jantungnya berdegup lebih keras.
Tubuh Mba Rien menyita perhatiannya, terbungkus kain dan baju ketat, menampakkan lika-liku yang menawan. Astaga, pikir Goni, wanita ternyata bisa menarik juga!
2753Please respect copyright.PENANAqvNZ89A7dF
Untuk beberapa jenak, Goni masih berdiri di depan pintu, menelan ludah berkali-kali dan merasa wajahnya merah karena malu. Kepada siapa?Entahlah.Tetapi perjumpaan pertama dengan Mba Rien berbekas keras di kalbunya. Sambil mengayuh sepedanya pulang, Goni tiba-tiba memiliki pikiran-pikiran seronok.
Gila kamu! tukasnya dalam hati, menyalahkan diri sendiri. Mana mungkin kamu bisa meremas-remas tubuh itu! ucap suara lain di kepalanya. Meremas….? Dari mana datangnya ide gila itu?pikir Goni gelisah.
Berkali-kali Goni merasa sadel sepedanya terasa lebih kecil dari biasanya, dan selakangannya sering terasa geli. Sial! sergahnya dalam hati.
Ketika ayah memintanya menjemput Susi, dengan bersemangat Goni mengatakan Ya. Lalu, ia pun tiba di sanggar 15 menit sebelum waktu latihan selesai. Ia duduk di bawah pohon kamboja, tidak jauh dari ruang latihan.
Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat Mba Rien melenggak-lenggok mengajarkan gerakan yang diikuti oleh belasan anak-anak kecil. Pandangan Goni tak lekang dari gerakan-gerakan Mba Rien, dan entah kenapa ia kini mengerti apa artinya sebuah tari yang indah! Selama ini, bagi Goni menari adalah kegiatan perempuan yang tak menarik.
Menjemukan, bahkan. Tetapi ketika melihat Mba Rien mengangkat tangan, melenggok ke kiri,menggerakkan pinggulnya …., Goni menelan ludah lagi. Bajingan kamu! ucap sebuah suara di dalam kepalanya.
Goni membuang muka, mengalihkan pandangannya ke hamparan rumput.Tetapi, seperti ditarik magnit, muka Goni sesekali kembali lagi memandang ke ruang latihan.
2753Please respect copyright.PENANAn5njZWNpl5
Dari ruang tari, Rien juga bisa melihat keluar, walau perbedaan terang menyebabkan matanya agak silau jika harus memandang ke arah tempat Goni duduk.
Sambil terus menggerakkan tubuhnya, Rien melirik dan mengernyit heran melihat remaja itu betah duduk sendirian.Biasanya, para penjemput murid-muridnya datang terlambat, dan tidak pernah berlama-lama di sanggar tari.
Apalagi yang laki-laki, entah itu kakak atau ayah atau paman. Pada umumnya, di kota kecil ini, menari bukanlah sesuatu yang menarik untuk pria. Makanya, tingkah Goni bagi Rien agak tidak biasa.
Ketika akhirnya latihan selesai, Goni bangkit dan mendekat ke arah ruang latihan, tetapi tetap dalam keteduhan pohon kamboja. Entah kenapa, ia tak berani lebih dekat. Sebetulnya ia ingin mendekat,tetapi dadanya berdegup kencang setiap kali ia melangkah.
Semakin dekat ke ruang latihan, semakin kencang degupnya. Sebab itu, ia berhenti setelah dua langkah saja. Ia akan menunggu saja sampai Susi keluar dan menghampirinya.
Rien, dengan sedikit peluh di lehernya, mengucap salam perpisahan kepada murid-muridnya. Lalu,sambil melepas stagen, ia berjalan ke pintu. Dilihatnya Susi berlari ke arah penjemputnya, remaja yang betah berlama-lama di bawah pohon kamboja menonton latihannya itu.
Sambil melepas ikat rambutnya, sehingga rambutnya yang sebahu kini tergerai, Rien berdiri di pintu dan berucap lembut, tetapi juga cukup keras untuk didengar Goni.
2753Please respect copyright.PENANAjaFP4BI2jk
“Kenapa tadi tidak tunggu di dalam saja, Dik…,” ujarnya.Goni cuma bisa menyeringai seperti kera sedang makan kacang.
Rien jadi tersenyum melihat seringai remaja yang tampak kikuk itu.Goni menelan ludah melihat senyum yang menawan itu.Entah kenapa, senyum itu tampak menarik sekali. Rasanya, Goni seperti disiram air es yang sejuk.Edan kamu! ucap suara di dalam kepalanya lagi.
Dan Goni pun cepat-cepat membungkuk berpamitan, lalu menggandeng tangan Susi menuju sepeda. Rien kembali tersenyum memandang kedua kakak-beradik yang akur itu meninggalkan sanggarnya.
2753Please respect copyright.PENANAoN2lJxH7AR
Setelah pertemuan itu, Goni sering melamunkan Mba Rien. Lebih gila lagi, saat mandi dan menyabuni tubuhnya, Goni merasakan darahnya berdesir membayangkan Mba Rien. Percuma ia mengguyurkan bergayung-gayung air dingin ke tubuhnya, tetap saja kelaki-lakiannya perlahan menegang. Aduh celaka! jeritnya dalam hati, ketika melihat ke bawah.
Cepat-cepat ia menyabuni dirinya, lalu membilasnya, membungkus tubuhnya dengan handuk dan lari ke luar kamar mandi menuju kamarnya. Mudah-mudahan tidak ada yang melihat tonjolan di bawah pinggangnya yang terbungkus handuk itu!
Malam hari, ketika ia gelisah bergulang-guling di ranjangnya, Goni kembali membayangkan Mba Rien. Lagi-lagi terbayang pinggulnya yang padat berisi, pinggangnya yang ramping, dan dadanya yang membusung walau tidak terlalu besar.
Goni juga terkenang lehernya yang agak basah oleh keringat.Juga bibirnya.Ya, bibirnya itu yang paling menawan.Selalu basah, dan tampaknya lembut sekali. Apalagi kalau ia tersenyum, menampakkan sedikit gigi-giginya yang putih. Bagaimana rasanya menggigit bibir itu?
Goni makin gelisah, sebab kini kelaki-lakiannya menengang lagi seperti ketika ia sedang mandi. Malam sudah agak larut, dan rumah sudah sepi.Tak ada suara-suara, selain jangkerik. Goni menelungkupkan tubuhnya.Celaka, justru gerakan itu menyebabkan kelaki-lakiannya terjepit di antara tubuhnya dan kasur yang empuk.
Tanpa sadar, Goni menggerak-gerakkan badannya, menggesekkan kelaki-lakiannya ke kasur. Matanya terpejam, dan terbayang ia berada di atas tubuh Mba Rien. Terbayang ia mengulum bibir Mba Rienyang basah.
Terbayang dadanya yang ceking menempel di dada Mba Rien yang kenyal. Gila! Goni terlonjak ketika merasakan cairan hangat mengalir cepat membasahi celana dalamnya. Untung ia sigap, sehingga seprai tidak ikut basah.
Hanya saja, di pagi hari ia harus mencari alasan untuk bisa mencuci sendiri celana dalamnya, tanpa harus mencuci pakaian anggota keluarga yang lain!
2753Please respect copyright.PENANAD2entP5oeS
Beberapa hari setelah perjumpaan pertamanya dengan Goni, kembali Rien terheran melihat remaja itu sudah ada setengah jam sebelum latihan usai. Setengah jam! Betapa lamanya ia akan menanti di situ sendirian, ucap Rien dalam hati sambil terus menggerakkan badannya di depan para penari cilik.
Berkali-kali Rien melirik ke arah pohon kamboja, dan bertanya-tanya dalam hati, mengapa gerangan remaja itu begitu betah menunggu adiknya.Terlebih-lebih lagi, remaja itu selalu memandang ke dalam dengan seksama.
Sialan, mungkin ia tertarik melihat tubuhku, umpat Rien dalam hati. Tetapi, mungkin juga ia tertarik pada tarianku. Siapa tahu? Atau mungkin tertarik pada dua-duanya, ucap Rien dalam hati. Ia tersenyum sendiri ketika mengambil kesimpulan terakhir ini.
“Satu … dua…tiga …. empat, putar……,” Rien memutar tubuh memberi contoh, diikuti oleh bidadari-bidadari kecil yang tertatih-tatih mencoba meniru sesempurna mungkin.
“Satu ..dua … tiga … empat, putar….,” suaranya lembut, tetapi tegas dan cukup nyaring.
Goni menyenderkan tubuhnya di batang pohon kamboja.Sayup-sayup suara Mba Rien sampai di telinganya.Terdengar merdu. Gila! semua yang berhubungan dengan wanita itu selalu bagus.
Apa-apaan ini? sebuah suara menghardik di kepala Goni, membuatnya tertunduk sendiri. Dicabutnya sebatang rumput, dimain-mainkannya di antara jari-jarinya. Goni merenung, bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi dalam dirinya.
Mengapa Mba Rien jadi begitu menarik, padahal ia jauh lebih tua dariku? Mengapa Alma yang seusia dengannya itu tidak semenarik Mba Rien, padahal Alma juga cantik. Goni menarik nafas dalam-dalam,lalu kepalanya terangkat lagi, memandang lagi ke dalam ruang latihan.
Cuma kali ini ia tidak melihat Mba Rien di sana. Dipanjang-panjangkannya lehernya, mencari-cari,kemana gerangan wanita itu. Goni bahkan memiringkan tubuhnya, sampai hampir rebah ke kiri, untuk melihat sudut terjauh yang masih terjangkau pandangan.
Mba Rien tidak ada, sementara murid-muridnya masih bergerak sesuai irama musik dari tape-recorder. Kemana dia?
Hampir copot rasanya jantung Goni, ketika tiba-tiba Mba Rien muncul dari balik tembok rumah disebelah ruang latihan. Rupanya, ada gang yang menghubungkan rumah itu dengan ruang latihan, yang tidak terlihat dari tempat Goni duduk.
Rupanya Mba Rien meninggalkan murid-muridnya untuk masuk ke rumah itu. Dan kini ia berjalan kembali ke ruang latihan, tetapi tidak melalui gang, melainkan lewat pintu depan. Lewat di depan Goni, melenggang santai dengan kainnya yang ketat membungkus tubuhnya yang indah.
2753Please respect copyright.PENANA36JvMRM6ff
“Ayo.., tunggu di dalam, Dik!” ucap Mba Rien menghentikan langkah sebelum masuk. Senyum yang memikat Goni terhias di bibirnya.Goni menelan ludah, tak bisa menyahut, dan cuma bisa meringis lagi. Betul-betul seperti kera yang sedang kepedasan.
“Ayo …,” ajak Mba Rien lagi, lembut tetapi tegas.
2753Please respect copyright.PENANAhkKa8Rk1Gw
Goni bangkit, dan dengan ragu-ragu melangkah mendekat.Mba Rien tertawa kecil, lalu melanjutkanlangkah mendahului masuk.Pelan-pelan Goni menyusulnya. Ketika ia tiba di ruang latihan, Mba Riensudah berputar-putar lagi memberi contoh gerakan tarinya.
Goni mencari-cari bangku untuk duduk, tetapi tak ada satu pun di sana. Ia lalu berdiri saja, menyender di sebuah tiang yang cukup besar.
Rien melirik, melihat remaja itu berdiri kikuk.Kasihan, pikirnya. Tetapi biarlah begitu, kalau ia memang tertarik pada tarianku -atau tubuhku!- biar saja ia berdiri sampai pegal. Tersenyum Rien mendengar kata hatinya yang terakhir ini. Ya, biar dia berdiri sampai pegal!
Selama 20 menit, Goni berdiri saja melihat adiknya latihan menari.Susi terlihat senang melihat kakaknya sudah hadir. Berkali-kali Susi kelihatan ketinggalan langkah, karena ia tersenyum-senyum kepada kakaknya.
Goni mengernyitkan dahinya, meletakkan telunjuk di bibirnya, memperingatkan Susi agar tetap serius. Rien tersenyum melihat tingkah keduanya.
Ketika akhirnya latihan selesai, Goni bernafas lega. Bukan saja karena ia sudah pegal berdiri, tetapi juga karena sebenarnya ia agak tersiksa. Betapa tidak? Sejak tadi ia terpesona oleh gerak Mba Rien,tetapi ia harus menyembunyikan perasaan itu. Betapa sulit!
Rien berjalan mendekati Goni sambil melepas stagen. Goni berdiri kikuk ketika akhirnya Rien berdiri dihadapannya, cukup dekat untuk mencium bau keringatnya yang ternyata tidak mengganggu Goni.
“Suka menari?” tanya Rien. Matanya memandang lekat remaja di hadapannya.Senyumnya mengembang halus.Goni menelan ludah lagi.
Goni menggeleng kuat. Rien tertawa kecil, “Saya pikir kamu suka. Sebab, kamu betah menunggu adikmu latihan.”
“Saya …., sebetulnya saya suka ..,” ucap Goni tergagap.
“Oh, ya???”Rien membelalakan matanya yang indah, senyumnya mengembang lagi.Goni menelan ludah lagi. “Seberapa suka, sebetulnya …,” tanya Rien lagi, ringan.
“Mmmm … saya suka menonton saja.” jawab Goni sekenanya.
“Menonton anak-anak kecil menari?” tanya Rien. Wah! Goni tertunduk, mukanya tiba-tiba terasa panas. Sial!
Rien tergelak melihat Goni tertunduk malu. Kini ia tahu apa yang sesungguhnya ditonton laki-laki belia ini! Ia ke sini untuk menontonku, melihat tubuhku! Dan kesimpulan ini membuat dirinya senang. Bagi Rien, menyenangkan penonton adalah tujuan utamanya menari, bukan?
“Siapa nama kamu?” tanya Rien lembut sambil melepas ikat rambutnya. Goni mengangkat muka, melihat kedua tangan Rien terangkat, dan samar-sama kedua ketiaknya yang mulus terlihat dari lengan bajunya yang agak tersingsing.
“GONI..,” terdengar jawaban pelan. Rien tersenyum lagi, sengaja berlama-lama membuka ikat rambutnya, membiarkan remaja itu melihat apa yang ingin dilihatnya. Nakal sekali kamu, Rien! Sebuah suara terdengar di kalbunya.
Siksaan bagi Goni baru berhenti ketika Susi menarik tangannya pulang. Sambil menggumamkan selamat sore, ia berbalik dan menggandeng adiknya ke tempat sepeda.
“Datang lagi, yaaa!” seru Rien ketika Goni sedang bersiap mengayuh. Duh! Goni jadi serba salah. Apakah ia harus menjawab seruan itu? Ah, sudahlah! sergahnya dalam hati dan cepat-cepat mendayung. Dari kejauhan Rien memandang kakak-beradik itu menghilang di balik tikungan. Senyum manis masih di bibirnya.
2753Please respect copyright.PENANAWdd4073VMc
Demikianlah seterusnya, Goni semakin terpikat oleh wanita yang pandai menari dan pandai menggoda itu. Sekali waktu ia mencoba menghindar, meminta kepada ayah untuk tidak usah menjemput Susi dengan alasan harus latihan bola kaki.
Selama empat kali latihan, ia tidak mampir ke sanggar, dan tidak berjumpa Mba Rien. Dan itu artinya,sudah sebulan ia tidak melihat tubuh molek itu melenggak-lenggok. Lama juga, ya?
Sampai suatu hari, ada pertunjukkan dari di balai kota, di selingi permainan band sebuah kelompok amatir yang cukup populer di kota kecil ini. Goni datang bersama teman-temannya, tentu hanya untuk menonton band.Acara tari-tarian di sore hari dilewatkan saja. Rombongan Goni baru tiba di atas pukul 8, saat band mulai naik panggung.
Di situlah Goni berjumpa lagi dengan Mba Rien. Saat band memainkan lagu ketiga, Goni pergi kebelakang panggung untuk buang air kecil, karena di sana lah terdapat toilet untuk umum.
Saat kembali ke tempat duduknya, sewaktu meliwati pintu yang menuju tempat pemain berganti pakaian, Goni melihat Mba Rien duduk di sebuah bangku. Langkahnya terhenti, lalu ia menyelinap kebalik tembok yang agak gelap. Dari situ, ia bisa melihat Mba Rien, tetapi wanita itu tidak bias melihatnya.
Rien memakai jeans ketat dan sebuah kaos agak longgar berwarna putih. Rambutnya digelung ke atas,memperlihatkan lehernya yang jenjang dan agak basah oleh keringat.Ia tampak letih, dan sedang menikmati sebotol minuman dingin. Bibirnya menjepit sebuah sedotan, dan matanya tampak melamun.
Bagi Goni, Mba Rien tampak menawan malam itu. Ia kemudian melihat wanita itu bangkit menuju kesebuah kamar di belakang panggung. Goni mengikuti gerak-geriknya dengan seksama, aman dalam lindungan bayang-bayang yang gelap.
Tak lama kemudian, tampak Mba Rien membuka sebuah pintu, dan di dalam terlihat terang berderang tetapi sepi. Berjingkat, Goni berpindah tempat sehingga bisa memandang lebih bebas ke dalamruangan itu.
Rien menutup pintu ruang, tetapi rupanya kurang begitu kuat mendorong, sehingga masih tersisa celah untuk melihat ke dalam.Dengan jantung berdegup kencang, Goni melihat ke kiri dan kanan.Tidak ada siapa-siapa.
Semua orang berada di depan panggung asyik menonton band. Pelan-pelan ia melangkah mendekati ruang yang ternyata adalah ruang ganti pakaian bagi para artis. Ia tiba di depan pintu ruang itu, dan dari celah yang tersisa, ia bisa melihat ke dalam. Goni menelan ludah, dan menahan kagetnya.
Di dalam, Mba Rien tampak sedang membuka kaosnya, membelakangi Goni. Tubuhnya yang putih dan padat terlihat jelas, apalagi kemudian ia berputar menghadap sebuah cermin yang pantulannya terlihat dari tempat Goni berdiri. Ia bisa melihat dua payudara yang indah, terbungkus beha yang tampak terlalu kecil. Lutut Goni terasa bergetar.
Kemudian tampak Mba Rien melepas celana jeansnya. Goni merasa kakinya terpaku di tanah. Dengan kuatir ia melihat ke sekeliling, takut kepergok. Tetapi suasana di sekitar ruang ganti itu tetap sepi.Maka ia tetap mengintip ke dalam.
Jeans sudah dibuka dan tergeletak di lantai. Mba Rien hanya bercelana dalam dan berbeha, dan tubuhnya indah bukan main. Putih mulus, padat berisi.Goni berkali-kali menelan ludah.
Pemandangan indah itu berlangsung tak lebih dari 10 menit, karena kini Mba Rien sudah berganti rok panjang dan baju hem coklat.Tetapi bagi Goni, rasanya lama sekali. Cepat-cepat ia berbalik dan tergopoh kembali ke depan panggung.
2753Please respect copyright.PENANADEhYC1hpgF
Rien mendengar suara langkah orang. Terkejut, ia segera lari ke pintu dan melihat pintu belum tertutup sepenuhnya. Celaka, pikirnya, seseorang tadi mengintipku berganti pakaian.Cepat-cepat dikuaknya pintu, di longokkannya kepala, bersiap berteriak jika memergoki si pengintip.Tetapi di luar sepi, tidak ada siapa-siapa. Ah, mungkin cuma perasaanku saja, pikir Rien.
2753Please respect copyright.PENANAP1dqcBU9pt
Sementara itu, di depan panggung Goni gelisah mengenang pengalamannya. Lagu-lagu yang
dibawakan band di depannya terasa hambar. Teman-temannya terlihat girang, tetapi ia sendiri kurang
bergairah. Dengan alasan mengantuk, ia pulang lebih dulu dari teman-temannya yang keheranan.
“Ada apa denganmu, Goni?” tanya sobatnya, Dodi. Ia tidak menjawab, dan hanya menggumam sambil
melangkah meninggalkan arena pertunjukkan.
“Dasar kutu buku …,” gerutu Iwan, temannya yang lain.
Goni tak peduli, dan terus melangkah menembus malam.
Dan malam itu, Goni menikmati hayalnya di atas ranjang, meremas-remas kelaki-lakiannya yang menegang sambil membayangkan tubuh mulus Mba Rien.
Tak berapa lama, ia mengerang tertahan, merasakan cairan hangat memenuhi telapak tangannya.
Dengan tissue yang sudah disiapkannya, ia melap tangannnya, lalu tidur nyenyak sambil berharap bertemu Mba Rien di alam mimpi. Namun mimpinya ternyata kosong belaka, tentu karena ia sebetulnya sudah sangat mengantuk malam itu.
ns216.73.217.39da2


