Senin pagi, setelah libur dua minggu akhir semester aku masuk sekolah lagi. Kali ini beda, sekarang aku kelas tiga, meskipun naik dengan nilai pas-pasan.
Motor Rizki berhenti pelan di depan rumahku di Pringgondani yang sederhana. Semenjak kami resmi pacaran, sekarang pulang dan pergi bareng Rizki. Nggak bonceng Iqbal lagi.
“Pagi, Lin,” katanya pelan sambil senyum, tapi matanya sudah bilang lebih banyak.
Aku naik ke boncengan, peluk pinggangnya erat dari belakang tanganku melingkar di perutnya. Sepanjang jalan ke sekolah, angin pagi dari arah laut bertiup sejuk, tapi dadaku terasa sesak.
Dulu di kelas 2, kami berlima. Aku, Rizki, Bayu, Iqbal, Fitria selalu sekelas. Tiap hari nongkrong bareng, pulang bareng, ribut di kantin bareng. Tapi kelas 3 ini… semuanya bakal berubah.
Rizki, Bayu, Iqbal, dan Fitriani di IPS 1. Aku sendirian di IPS 2.
Begitu sampai parkiran sekolah, Rizki matiin mesin. Dia pegang tanganku sebentar, jempolnya usap punggung tanganku pelan di balik tas. “Nanti siang setelah pulang, entah aku atau kamu yang keluar kelas duluan, tunggu di sini ya. Langsung pulang bareng.”
Aku mengangguk, tapi suaraku hampir hilang. “Iya, Riz…”
Aku jalan ke kelas IPS 2 sendirian. Langkah terasa berat, seperti ada beban di dada. Begitu masuk ruangan, suasana langsung menyergap. Banyak wajah yang aku kenal dari tahun lalu, tapi hari ini semuanya terasa asing dan… berat.
Ismi dan gengnya sudah duduk di belakang, ketawa keras sambil saling lempar kapur tulis. Galuh duduk di pojok dengan kaki naik ke kursi, nyanyi dangdut pelan sambil goyang kepala. Nita lagi sibuk ngecat kuku pake spidol hitam.
Ningsih, yang sekarang ngotot dipanggil Nixi “biar kelihatan gaul”. Berdiri di depan papan tulis, goyang-goyang pinggul pura-pura jadi guru. Finda, cowok yang terkenal sangean, langsung nyengir lebar pas aku masuk, matanya melotot ke payudaraku tanpa sungkan. Iyus di sebelahnya cuma cengengesan sambil ngunyah permen karet.
Aku duduk di bangku depan dekat pintu, sendirian. Tangan aku pegang pinggiran meja kuat-kuat sampai jari memutih. Ruangan ini rame, tapi aku merasa hampa.
Dulu kami berlima selalu bareng, saling ejek, selalu ada Rizki yang duduk di sebelahku sebelum jam pelajaran. Sekarang? Hanya aku di sini, dikelilingi suara ribut yang nggak aku kenal betul, tatapan Finda yang bikin aku ingin nutup dada, dan tawa Ismi yang terlalu keras.
Aku tatap keluar kelasku. Gedung IPS 1 kelihatan di sebelah sana. Di sana pasti lagi rame. Rizki lagi duduk bareng Bayu, Iqbal, Fitria… mereka pasti lagi ketawa-ketawa. Aku di sini sendirian. Rasanya seperti ada lubang di dada yang tiba-tiba menganga lebar.
Tapi di tengah rasa sepi yang menyesakkan itu, ada satu hal yang bikin aku bisa bernapas lega.
Hubungan aku sama Rizki sekarang sudah jauh lebih dalam dari pacaran biasa. Sudah kayak suami-istri kecil hehehe.
Rumah Rizki di Nogososro selalu sepi, Riski tinggal sendiri semenjak nenek pindah ikut bibi Rizki di Ungaran. Kalau Mbak Har nggak nyuruh aku bantu-bantu di rumah, aku langsung ke Nogososro sore harinya.
Masuk kayak rumah sendiri. Masakin buat Rizki, nyuci baju seragamnya, nyapu-ngepel, nyetrika bajunya yang rapi. Kalau aku yang disuruh Mbak Har bikin keripik singkong di Pringgondani, Rizki yang dateng ke rumahku. Dia duduk di teras belakang, kupas singkong bareng aku sampai tangannya penuh getah, bantu packing keripik. Kadang sampai jam 10 malam.
Kami saling jaga. Saling bantu. Saling sayang tanpa perlu kata-kata berlebihan.
Aku tarik napas dalam-dalam. Nanti sore Rizki jemput aku lagi. Kami berduaan di rumahnya. Dan semuanya akan terasa hangat lagi.
Bel masuk berbunyi. Bu Guru masuk dengan buku absen. Aku duduk tegak, pura-pura fokus ke papan tulis. Tapi dalam hati, aku sudah menghitung jam sampai bel pulang.
***
Hari kedua sekolah, geng Ismi sudah mulai “berlagak”.
Ismi duduk di bangku tengah belakang, kakinya naik ke meja. Di sekelilingnya ada Galuh, Nita, Nixi (yang masih goyang-goyang pinggul sambil ketawa), Finda, dan Iyus. Mereka lagi usir seorang cewek kuper yang namanya aku lupa, cewek berkacamata yang duduk di bangku depan Ismi.
“Eh, pindah sana,” kata Ismi sambil nyengir, jarinya nunjuk ke bangku paling pojok belakang yang kosong. “Ini tempat geng kita. Kamu pindah ke belakang aja.”
Cewek itu cuma diam, muka merah, buru-buru pindah sambil bawa tasnya. Nggak ada yang protes. Semua anak di kelas pura-pura sibuk buka buku atau ngobrol pelan. Takut.
Aku duduk di bangku depan dekat pintu seperti kemarin. Tapi belum lima menit, Finda menuju bangku ku dan duduk di sebelahku.
“Eh Lin, boleh duduk sini nggak?” tanyanya sambil nyengir, matanya lagi-lagi turun ke dadaku. “Tempatmu enak, anginnya sejuk.”
Sebelum aku jawab, Ismi sudah nyerocos dari belakang, “Finda, diem. Itu tempat Lina. Pacarnya Rizki loh. Jangan macem-macem.”
Finda langsung mundur sambil angkat tangan, tapi masih nyengir. “Iya iya… pacar Rizki. Maaf-maaf, bos.”
Mereka semua ketawa kecil. Tapi aku ngerasa dingin di punggung. Mereka tahu. Semua tahu aku pacaran sama Rizki. Rizki yang terkenal cerdas dan tampan. Karena itu mereka nggak langsung usir aku kayak anak kuper tadi. Tapi tatapan mereka… tetap bikin aku tidak nyaman.
Sepanjang pelajaran pertama, geng Ismi makin berulah. Mereka saling lempar potongan kapur tulis. Satu kapur meleset, kena kepala anak cowok di depan yang kuper. Cowok itu cuma pegang kepalanya pelan, diam. Nggak berani marah. Ismi sama Nixi malah ketawa ngakak.
“Eh sorry bro, salah lempar!” teriak Nixi, tapi nada suaranya jelas-jelas nggak nyesel.
Aku cuma bisa diem, pandang ke luar kelas. Dada aku naik-turun cepet. Kelas ini rame, tapi rasanya seperti kandang. Semua orang takut sama geng Ismi. Dan aku… aku cuma bisa bertahan karena nama Rizki.
Tapi di balik semua itu, aku tetap ngerasa sendirian.
Aku pegang ujung rok abu-abuku erat. Sabarlah Lin… nanti sore Rizki jemput. Kami pulang bareng. Dia pasti peluk aku di Nogososro, dengerin cerita aku, usap rambut aku sambil bilang “Gapapa, aku ada di sini.”
Bel istirahat berbunyi. Aku tetap duduk di tempat, pura-pura baca buku. Dari belakang aku denger Ismi bilang pelan ke gengnya, “Eh, Rizki kan ganteng banget ya… kaya pula. Untung Lina yang dapet. Kalau aku… pasti udah aku… hahaha.”
Mereka ketawa lagi.
Aku tutup mata sebentar. Hati aku campur aduk. Takut, kesepian, tapi juga… lega karena ada Rizki yang nunggu sepulang nanti.
Hari ini baru saja dimulai. Tapi aku sudah nggak sabar nunggu bel pulang.
ns216.73.216.250da2


