Senin malam 20 Juli 2009, kereta ekonomi dari Stasiun Senen sudah jalan hampir dua jam. Lampu kabin redup kuning, AC dingin menusuk tulang, bau mi instan dan “Stella” pengharum ruangan semerbak menusuk hidung. Aku duduk di kursi 12A dekat jendela, Rizki di sebelahku, kepalanya sudah miring ke bahuku bersandar manja sejak tadi.
Dia pelan-pelan buka mata, suaranya serak karena ngantuk. “Lin… capek nggak?”
Aku senyum kecil, jari aku usap pelan punggung tangannya yang lagi genggam jari aku di bawah jaket. “Capek banget, Riz. Badan pegal semua dari Dufan kemarin. Tapi… seneng banget. Liburan ini… rasanya kayak mimpi yang nggak mau aku bangunin.”
Rizki ketawa pelan, matanya masih setengah merem. “Aku juga. Seneng banget bisa bawa kamu ketemu Mama Papa, ketemu Hima yang cerewet itu.” Dia geser lebih deket, cium keningku sebentar, lalu kepalanya kembali sandar di bahuku. Napasnya pelan dan teratur. Beberapa menit kemudian, dia sudah tertidur lagi.
Aku nggak bisa tidur. Aku cuma bisa pandang wajahnya dari samping. Cahaya lampu kereta yang lewat di jendela sesekali menyinari pipinya yang imut kayak bayi tua. Bulu matanya panjang hampir bertemu, bibirnya sedikit terbuka, rambutnya acak-acakan. Aku bergumam pelan banget, hampir nggak kedengeran sendiri, “Ya ampun… Tidur juga masih tampan banget sih kamu.”
Aku senyum sendiri, jari aku pelan usap pipinya. Hati aku hangat banget. Ini Rizki-ku. Yang baik, yang sabar, yang bikin aku berani manja. Liburan satu minggu ini bikin aku ngerasa… lebih deket sama dia. Lebih berani nunjukin sayang.
Kereta tiba di Stasiun Tawang Selasa pagi jam 05.40. Udara Semarang sangat sejuk, kabut tipis nempel di atap stasiun. Aku langsung manja pas turun dari kereta. Tas aku taruh di lantai, tangan aku meraih pundak Rizki.
“Riz… gendong aku dong. Capek banget.” Suara pelan manja.
Rizki ketawa geli, tapi langsung jongkok sedikit. “Manja banget sih kamu habis liburan.” Dia angkat aku ke punggungnya. Tapi begitu badanku nempel, dia langsung goyang-goyang pelan. “Wah… berat juga ya. Dua tas ransel, satu kardus oleh-oleh Mama, plus pacarku yang manja gini.” Langkahnya tertatih, tapi dia tetep ketawa kecil sambil napasnya agak ngos-ngosan.
Aku peluk lehernya erat, dagu aku sandar di bahunya. “Biarin. Aku mau dimanja hari ini. Boleh ya?”
“Boleh… boleh banget.” Jawabnya sambil cium pipiku cepet.
Kami keluar stasiun, langsung naik taksi biasa yang parkir di depan. Begitu masuk mobil, aku nggak mau duduk di sebelah. Aku langsung naik ke pangkuan Rizki, badanku meringkuk di dadanya. Payudara tobrutku nempel hangat di bajunya. Rizki peluk pinggangku erat, tangannya usap punggungku pelan-pelan.
Sopir taksi, bapak-bapak umur 50-an, lirik kami dari kaca spion sambil nyengir. “Wah… kelihatan mesra banget ya?”
Rizki langsung nyengir lebar, tangannya makin erat di pinggangku. “Biasa aja Pak, pengantin baru.”
Pak sopir ketawa ngakak. “Hahaha… pengantin baru! Bagus, bagus. Semoga cepet dapet momongan ya, biar rumahnya rame. Amin.”
Aku sama Rizki langsung saling pandang, lalu ketawa bareng sampai bahu kami goyang. Aku sembunyiin muka di leher Rizki, pipiku panas banget. “Riz… malu ih,” bisikku sambil ketawa pelan.
Dia cium rambutku. “Lucu banget kamu. Biarin aja, Pak sopirnya baik kok.”
Sampai rumah Nogososro jam 06.30 pagi, jalanan masih sepi. Rizki turun duluan, bawa semua barang masuk ke teras. Dua tas ransel, kardus oleh-oleh keripik dan cokelat dari Mama Hima. Aku masih duduk di teras, pura-pura merajuk, tangan aku angkat lagi.
“Riz… gendong lagi dong. Aku masih Capeeekk...” Kali ini lebih manja.
Rizki keluar lagi dari dalam rumah, senyumnya lebar banget. Dia dekatin aku pelan, tangannya di pinggangku. “Manja amat, pacar siapa sih?”
Aku angkat muka, senyum genit sambil peluk lehernya. “Pacar orang paling tampan dan baik hati di dunia. Namanya Rizki. Kamu kenal enggak?”
Rizki tersenyum lebar, matanya berbinar. “Nggak kenal tuh... Siapa ya?” Tangan dia langsung gelitikin pinggangku pelan. Aku langsung kegelian, ketawa sambil meronta kecil. “Riz… ahaha… jangan… geli banget!”
Dia nggak berhenti, malah angkat aku bopong lagi, bawa aku masuk rumah sambil ketawa bareng. “Ini pacarku yang manja. Harus diturutin.”
Di dalam, ruang keluarga yang di tinggal seminggu. Rizki duduk di sofa panjang, aku langsung naik ke pangkuannya, badanku menghadap dia. Kami saling tempelkan dahi, napas kami bercampur. Mata kami saling tatap lama. Nggak ada kata-kata dulu. Cuma senyum kecil, jari aku usap pipinya, jari dia usap rambutku yang acak-acakan.
Rizki bisik pelan, suaranya dalam dan hangat, “Aku sayang kamu, Lin.”
Aku senyum, mata aku agak berkaca-kaca karena bahagia. “Aku lebih, sayang sama kamu. Lebih dari apa pun.”
Kami saling deketin pelan… lalu berciuman. Lembut, lama, penuh kangen yang selama seminggu ditahan karena kami fokus liburan. Tangan Rizki di pinggangku, tanganku di lehernya. Ciuman itu nggak tergesa, kayak lagi ngerasain setiap detik pulang ke rumah… pulang ke dia.
Di sofa ruang keluarga rumah Nogososro, rumah Rizki. Lidah kami saling beradu dengan hati yang penuh dan bibir yang masih saling menempel.
ns216.73.217.128da2


