Hari rabu pagi, liburan di Jakarta sudah masuk hari ke-4. Rumah di Margonda terasa lebih hidup, penuh canda tawa. Aku sudah bangun dari pagi bantuin mama Rizki.
Badan masih pegal karena tidur bareng Hima yang suka nendang-nendang di malam hari. Bau masakan ibu Rizki, harum bikin laper.
Mama Rizki masih belum selesai dengan aktifitasnya di dapur, Bapak Rizki sudah berangkat kerja sejak pagi, katanya biar nggak kena macet. Rizki duduk di meja makan, baru bangun rambut masih acak-acakan tapi tetap tampan.
“Pagi, Lin,” sapa Rizki pelan sambil senyum tipis. Matanya langsung tatap aku dari ujung rambut sampe ujung kaki. Aku pakai kaos longgar sama celana pendek, rambut di iket asal.
“Pagi, Riz,” jawabku sambil duduk di sebelahnya. Kaki kami sengaja nyenggol di bawah meja, cuma sebentar, tapi cukup bikin pipiku hangat.
Hima keluar dari kamar sambil gosok mata. “Kak Lina, hari ini aku mau renang sama temen-temen di kolam renang deket komplek. Kak Rizki mau ajak Kak Lina ke mana?”
Rizki langsung lirik aku, senyumnya melebar. “Mau ke Monas nggak, Lin? Rabu kan bukan libur, pasti sepi. Kita berdua aja.”
Aku langsung deg-degan. “Boleh banget! Aku belum pernah ke Monas beneran, cuma liat di foto doang.”
Hima cengengesan. “Yaudah, aku nggak ikut deh. Aku mau renang sama temen-temen. Tapi jangan lupa bawa oleh-oleh ya, Kak!” Anak Jakarta emang beda, lebih gaul.
Mama Hima ketawa dari dapur. “Iya, jangan pulang malam-malam. Hati-hati di jalan ya, anak-anak.”
Kami berangkat jam 9 pagi naik taksi ke Stasiun Depok, lalu KRL ke Gambir. Perjalanan sekitar 1 jam. Di KRL pagi hari Rabu lumayan sepi, kami duduk berdampingan. Kaki kami nyenggol lagi, kali ini nggak sengaja.
“Riz… ini beneran kita berdua mau ke Monas ya?” Tanyaku pelan, suara hampir hilang di antara suara kereta.
Dia angguk, mata nggak lepas dari aku. “Iya Lin. Hari ini cuma kamu sama aku. Nggak ada Hima cerewet, nggak ada Mama Papa nanya-nanya. Cuma kita.”
Aku gigit bibir bawah, senyum kecil. “Aku seneng banget. Kayak mimpi. Dari dulu pengen banget ke Monas, tapi nggak pernah kebayang bisa ke sana bareng kamu.”
Rizki meraih tanganku pelan di KRL. Jarinya usap punggung tanganku. “Aku juga, Lin. Dari dulu aku pengen bawa kamu ke tempat-tempat kayak gini. Liat kamu senyum lebar, ketawa lepas… kayak di kereta malam Minggu kemarin.”
Aku ingat momen itu, langsung pipiku panas. “Kamu beneran suka liat aku ketawa ya?”
“Beneran. Banget.” Suaranya pelan tapi tegas. “Setiap kali kamu ketawa, rasanya dunia jadi lebih cerah. Aku pengen kamu selalu gitu, Lin. Bahagia. Sama aku.”
Aku cuma bisa tatap dia lama. “Riz… aku juga pengen kamu bahagia. Setiap hari. Makanya aku mau coba lebih berani sama kamu. Meski kita harus nahan-nahan di rumah.”
Dia senyum lembut, jempolnya usap telapak tanganku. “Kita pelan-pelan aja. Yang penting kamu ada di samping aku. Itu udah lebih dari cukup.”
Sampai Monas sekitar jam 11 siang. Hari Rabu biasa, bukan libur nasional, lapangan rumput luas hampir kosong. Cuma ada beberapa keluarga kecil, turis asing, sama petugas keamanan yang duduk santai. Angin Jakarta lumayan kencang, bikin rambutku beterbangan.
Kami jalan pelan di rumput, tangan saling gandeng. Nggak ada yang notice, soalnya sepi banget.
“Lin, foto yuk,” ajak Rizki sambil angkat HP.
Aku langsung berdiri di depan Monas, pose biasa aja. Tapi Rizki malah tarik aku lebih deket, peluk dari belakang sambil selfie. Payudaraku nempel pelan di lengannya, aku bisa ngerasain napasnya di tengkuk.
“Riz… orang liat nanti,” gumamku setengah malu.
“Sebentar doang. Aku pengen simpen momen ini.” Dia cium pipiku pelan dari samping, cepet banget, tapi cukup bikin aku merinding.
Kami duduk di rumput agak jauh dari orang lain, deket pohon rindang. Rizki selonjoran, aku bersandar di bahunya. Angin sepoi-sepoi dan panas Jakarta tapi menenangkan. “Lin… kalau nanti kita udah lulus SMA, kamu mau ke mana, kuliah?” tanyanya tiba-tiba.
Aku mikir sebentar. “Entah ya… pengen deket-deket kamu aja. Kamu mau ke mana?”
“Ke ITB atau UGM pinginnya. Tapi aku tetep ingin deket kamu di manapun, aku ikut ke sana.” Dia putar badan, tatap aku deket banget. “Aku nggak mau jauh dari kamu, Lin. Serius.”
Aku balas tatapnya. “Aku juga nggak mau. Tiap pagi bangun, aku pengen liat kamu dulu. Tiap malam tidur, pengen kamu yang peluk aku.”
Rizki tarik napas dalam, lalu pelan-pelan deketin wajahnya. Kami ciuman pelan di bawah pohon, angin bikin rambutku menutupi sebagian wajah. Bibirnya hangat, lembut, nggak buru-buru. Cuma lama-lama, penuh perasaan.
Pas dia melepas ciumannya, dia bisik di telingaku, “Aku sayang kamu, Lin. Beneran. Lebih dari yang bisa aku bilang.”
Aku peluk lehernya erat. “Aku juga sayang kamu, Riz. Lebih dari apa pun.”
Kami diem lama di situ, cuma denger suara angin sama burung. Monas tinggi menjulang di depan kami, tapi rasanya dunia cuma ada kita berdua.
Kami naik lift ke atas Monas setelah beli tiket masuk yang murah banget buat hari biasa. Antreannya pendek, cuma beberapa orang aja. Begitu pintu lift terbuka di lantai observasi, angin langsung nyerang kencang.
Pemandangan Jakarta 360 derajat terbentang di depan mata—gedung-gedung tinggi menjulang, jalan raya macet di kejauhan, atap-atap rumah rapat, sampe samudra beton yang nggak ada habisnya.
Aku langsung loncat kecil-kecil, tangan nutup mulut karena nggak percaya. “Riz… ini beneran Jakarta dari atas? Ya Tuhan, gede banget! Semuanya keliatan kecil dari sini!”
Rizki berdiri di belakangku, tangannya langsung melingkar di pinggangku pelan dari samping. Kami berdiri deket pagar kaca, angin bikin rambutku beterbangan liar. Dia cuma ketawa kecil sambil tatap aku, bukan tatap pemandangan.
“Seneng nggak, Lin?” tanyanya lembut, suaranya hampir hilang di angin.
Aku angguk cepet, mata masih nggak bisa lepas dari view. “Seneng banget! Ini pertama kalinya aku liat kota sebesar ini dari atas. Dulu cuma liat di TV atau foto doang. Rasanya… kayak mimpi. Makasih ya Riz, bawa aku ke sini.”
Dia tarik aku lebih deket, dagunya menyandar di bahuku. “Aku yang makasih, Lin. Kamu mau ikut ke sini bareng aku. Liat kamu seneng gini… itu yang paling aku pengen.”
Aku balik badan sedikit, tatap matanya. “Kamu nggak liat pemandangannya?”
Rizki geleng kepala pelan, senyum tipis. “Aku lagi liat pemandangan yang paling bagus sekarang.”
Pipiku langsung panas, meski angin dingin. Aku pukul pelan lengannya. “Gombal banget sih…”
“Beneran kok,” katanya sambil ketawa kecil. “Dari dulu aku suka liat kamu bahagia kayak gini. Mata kamu berbinar, senyum lebar, tawa lepas… itu lebih indah dari view Monas mana pun.”
Aku diem sebentar, lalu peluk pinggangnya balik. Kami berdiri gitu lama, badan nempel, angin nyanyi di telinga. Jakarta di bawah sana rame, tapi di sini rasanya cuma ada kami berdua.
“Riz… kalau nanti kita punya waktu lagi, ajak aku ke tempat tinggi lain ya? Biar aku bisa liat kota bareng kamu terus,” bisikku pelan.
Dia cium keningku lama, angin bikin rambut kami saling nyatu. “Pasti, Lin. Ke mana aja. Selama kamu seneng, aku ikut ke mana pun. Aku cuma pengen kamu bahagia… sama aku.”
Aku angkat muka, tatap dia deket banget. “Aku udah bahagia banget sekarang, Riz. Karena ada kamu di sini.”
Kami ciuman pelan di atas Monas, angin kencang bikin semuanya terasa lebih dramatis. Nggak lama, cuma cukup buat bilang semuanya tanpa kata-kata. Pas pisah, aku balik liat pemandangan lagi, dada naik-turun karena seneng campur deg-degan.
“Riz… ini hari terbaik liburanku,” kataku sambil pegang tangannya erat.
Dia genggam balik, jempolnya usap punggung tanganku. “Masih ada beberapa hari lagi, Lin. Kita bikin semuanya lebih baik dari ini.”
Kami turun pelan-pelan, tangan saling gandeng sepanjang naik lift, turun. Di bawah, Monas masih berdiri megah, tapi buat aku, hari ini nggak cuma tentang Monas. Ini tentang Cinta kita, tentang senyum, tawa, tatapan, dan janji kecil yang nggak perlu diucapin keras-keras.
Kami pulang naik KRL sore itu, sepanjang perjalanan aku terus bersandar di bahu Rizki, mata setengah merem tapi hati penuh. Aku seneng banget. Benar-benar seneng.
ns216.73.216.250da2


