Jakarta. Di rumah Pak Galih, Bu Prameswari tampak merindukan Kamil dan Titah.
"Mah, kenapa?" tanya Pak Galih.
"Aku kangen Kamil," jawab Bu Prameswari.
"Video call saja, Mah," saran Pak Galih.
Bu Prameswari segera melakukan video call dengan Kamil dan Titah. Layar menampilkan wajah Kamil dan Titah yang tersenyum ramah. Suasana hangat langsung terasa di ruang keluarga Pak Galih.
"Kabar kalian bagaimana?" tanya Bu Prameswari.
"Baik, Mah," jawab Kamil. "Titah juga baik. Kehamilannya sudah enam bulan," tambah Kamil.
"Belum USG, ya?" tanya Bu Prameswari.
"Belum, Mah," jawab Titah.
"Jam berapa di sana?" tanya Pak Galih.
"Setengah tiga siang, Pah," jawab Titah. "Di sini jam delapan pagi," lanjutnya.
"Benar, Titah pintar sekali," puji Bu Prameswari. "Jangan samakan jurusan Kamil dan Titah, Mah," keluh Kamil, sambil tertawa.
"Oh, sudah waktunya sahur, ya?" tanya Pak Galih.
"Iya, Pah," jawab Titah dan Kamil.
Mereka mengakhiri video call. Suasana hangat masih terasa di ruang keluarga.
Tepat pukul delapan pagi, Kamil dan Titah berangkat kuliah dengan angkutan umum. Mereka berjalan beriringan, menikmati suasana pagi kota Jakarta yang ramai.
119Please respect copyright.PENANAUuBICCqC0F
Prancis. Kampus ESSEC Business School.
Ruang 117. Titah dan Kamil masuk ke kelas masing-masing.
Ruang 118. Perkuliahan dimulai. Mrs. Dina, dosen pengampu, meminta mahasiswa memperkenalkan diri.
Di luar Ruang 117, Bagus memperhatikan Titah. Ia mengenali Titah sebagai keponakan Pak Kyai Abdullah. Bagas, saudara kembar Bagus, datang.
"Gus, ambilkan mobilku, ya," kata Bagus.
"Iya, Gus," jawab Bagas.
Setelah kuliah, Kamil menemani Titah berbelanja di pasar. Kamil mengingatkan bahwa mereka akan berpisah di kampus mulai besok karena beda jurusan.
Di luar kampus, Kamil meminta Titah menunggu. Bagus mendekati Titah.
"Kamu Titah, kan? Keponakan Pak Kyai Abdullah?" tanya Bagus.
Titah mengangguk. Bagus memperkenalkan diri sebagai teman lamanya. Ia mengungkapkan perasaannya yang masih ada untuk Titah.
Kamil datang. Bagus berbisik, "Hati-hati."
"Hati-hati? Maksudnya?" tanya Kamil.
"Nanti Titah jelaskan," jawab Bagus.
"Yuk, ke pasar," ajak Titah.
Mereka pergi ke pasar, meninggalkan Bagus yang penuh misteri.
119Please respect copyright.PENANAQwjgAcLatL
Di apartemen, Titah menceritakan tentang Bagus, mantan kekasihnya yang masih menyimpan perasaan padanya. Kamil mendengarkan dengan tenang, menguatkan Titah. Ia berjanji akan lebih berhati-hati. Paijo dan Purnomo membenarkan cerita Titah.
Keesokan harinya, Kamil dan Titah kembali bertemu Bagus di kampus. Bagus kembali mengingatkan Kamil, "Hati-hati."
Kamil menenangkan Titah dan menyuruhnya masuk kelas. Mereka berjanji akan saling menghubungi setelah kuliah.
Di Ruang 207, Titah berkenalan dengan Andin, mahasiswa Indonesia lainnya.
Di luar ruangan, Bagus bergumam, "Aku akan pastikan kau kehilangan Titah."
Di Ruang 109, perkuliahan Bahasa Inggris dimulai. Anna, dosen baru, memperkenalkan diri dan meminta mahasiswa memperkenalkan diri.
Setelah perkuliahan, suasana kampus kembali ramai. Ketegangan antara Kamil dan Bagus masih terasa. Titah dan Kamil melanjutkan hari mereka, tetapi bayangan Bagus masih menghantui mereka.
119Please respect copyright.PENANABQgjTouOEG
Kuliah Kamil selesai lebih dulu. Ia menemani Titah beristirahat di kampus. Kamil merasa Bagus masih memperhatikan mereka. Bagas, adik Bagus, mendekati mereka. Ia meminta alamat mereka karena ingin membicarakan sesuatu. Titah memberikan alamat apartemen mereka.
Bagas menjelaskan bahwa ia ingin membantu mereka menjauhi Bagus. Ia mengungkapkan bahwa ia dan Bagus tinggal di apartemen yang sama. Titah mengundang Bagas untuk buka puasa bersama di apartemen mereka. Bagas menerima undangan itu.
119Please respect copyright.PENANAWlJ1fpOUVb
Apartemen No. 13. Bagas merencanakan untuk mempercepat pernikahan Ochi dan Kamil agar ia bisa menikahi Ocha.
Apartemen No. 27. Paijo dan Purnomo heran melihat banyaknya makanan yang disiapkan Titah. Titah menjelaskan bahwa mereka akan kedatangan tamu, kemungkinan Bagas.
Bagas datang. Titah memperkenalkan Bagas pada Kamil.
Arab Saudi, Riyadh. Di apartemen Fitroh, Mbak Ningrum meminta Arya menyiapkan makanan untuk buka puasa. Arya menerima telepon dari Pak Galih. Ia memberikan telepon kepada Fitroh.
119Please respect copyright.PENANAlFc26Ki1TO
Di Arab Saudi, Pak Galih dan Fitroh mendiskusikan rencana untuk melindungi Kamil dan Titah dari Siska. Fitroh dan Indriani akan membantu di Prancis.
Di Riyadh, Fitroh dan keluarganya bersiap untuk pindah ke Prancis. Mereka akan pindah rumah setelah buka puasa. Arya senang karena bisa bertemu Kamil dan Titah di Prancis.
Di Apartemen No. 27, Bagas memberi tahu Kamil bahwa Ochi, calon istrinya, akan kuliah di kampus yang sama dan akan segera pindah ke Prancis. Kamil merasa lega. Paijo dan Purnomo membantu mempersiapkan kedatangan Ochi.
119Please respect copyright.PENANARgf087mFvr
Arab Saudi, Riyadh. Di depan apartemen Fitroh.
Fitroh berpesan kepada Umar (menggunakan bahasa Arab): "أنا وعائلتي سنذهب لرعاية شركة عائلية في فرنسا، أنت شخص موثوق به في هذا المنزل. اعتني جيدًا بهذا المنزل، منزل آخر إذا كنت بحاجة إلى أي شيء، من فضلك لا تتردد في إخباري، ممفهوم؟"
Umar menjawab (menggunakan bahasa Arab): "حسنًا سيد فيتروه، سأبقي على تفويض السيد فيتروه جيدًا وشكراً لك على ثقتك بي بصفتي أمينًا للسيد فيتروه"
Fitroh pamit (menggunakan bahasa Arab): "نعم، مرحبًا بك، ثم وداعًا، تحياتي"
Umar membalas (menggunakan bahasa Arab): "وعلكم السلام، كن حذراً يا رب وعائلتك"
Prancis. Apartemen No. 27.
Teh Indriani datang. "Yuk, siap-siap," ajaknya.
"Mau ke mana, Teh?" tanya Kamil.
"Ke rumah kalian," jawab Teh Indriani. "Papa sudah membelikan kalian rumah."
Kamil dan Titah terkejut. Mereka segera bersiap-siap.
Mereka pindah ke rumah baru. Fitroh sudah menunggu di rumah barunya yang ternyata bersebelahan dengan rumah Teh Indriani. Setelah beres-beres, Kamil, Yudi, dan Fitroh mengadakan rapat untuk perusahaan baru mereka.
119Please respect copyright.PENANAhrWq9ek5Lw
Di lobi apartemen, Bagus melihat Kamil dan Titah. Bagas panik dan memberi tahu Kamil bahwa Bagus sudah tahu mereka tinggal di sana. Kamil menjelaskan bahwa ia akan pindah ke rumah baru yang dibeli ayahnya.
South Pigalle. Teh Indriani memperlihatkan rumah Kamil dan Titah yang terletak di antara rumah Teh Indriani dan Fitroh. Teh Indriani berjanji akan membicarakan sesuatu yang penting dengan Kamil keesokan harinya. Yudi mengajak Kamil dan Titah melihat-lihat rumah baru mereka.
119Please respect copyright.PENANAMPnDXeGKmk
Kampus ESSEC Business School. Di koridor kampus, Fitroh dan Yudi menyapa Kamil.
"Mil," panggil Fitroh.
"Iya, A," jawab Kamil.
"Jangan lupa ya, malam ini kita lanjutkan rapat di tempat yang akan aku kirim alamatnya via WhatsApp," kata Fitroh.
"Iya, A," sahut Kamil.
Yudi menambahkan, "Alamatnya nanti aku kirim juga, Mil."
"Oke, A," kata Kamil lagi.
Fitroh dan Yudi berlalu. Kamil tersenyum, merasa lega karena mendapat dukungan dari keluarganya.
Ruang Kelas 134. Pak Nico, dosen Bahasa Indonesia dan Manajemen Bisnis yang baru, memulai perkuliahan.
"Selamat pagi, semuanya," sapa Pak Nico ramah.
"Selamat pagi, Pak," jawab mahasiswa serempak.
"Perkenalkan, saya Nico, dosen Bahasa Indonesia dan Manajemen Bisnis yang baru. Ada yang berasal dari Indonesia di sini?" tanya Pak Nico.
Kamil mengangkat tangan. Bagas dan Bagus juga mengangkat tangan.
"Oh, ada beberapa ya. Saya juga dari Indonesia, lho. Dari Medan, Sumatera Utara," kata Pak Nico sambil tersenyum.
Kamil merasa senang. Ia penasaran dan bertanya, "Pak, maaf, boleh tahu Bapak dari mana, ya?"
"Dari Medan, Sumatera Utara," jawab Pak Nico.
"Oh, Sumatera Utara," seru Kamil. "Saya juga pernah ke sana, Pak."
"Benar? Bagus sekali. Ada pertanyaan lain?" tanya Pak Nico.
"Tidak, Pak. Terima kasih," jawab Kamil.
"Sama-sama, Kamil," kata Pak Nico.
119Please respect copyright.PENANAj4aOkTask2
Setelah rapat, Kamil pergi ke toko baju muslim untuk membeli baju untuk Titah dan dirinya. Di toko, ia bertemu Fitroh. Mereka memilih baju dan koko. Saat Kamil sedang memilih, ia tak sengaja bertabrakan dengan Siska.
"Maaf, Mbak," kata Kamil.
"Aa Kamil," sapa Siska.
"Siska," Kamil sedikit terkejut. "Maaf, ya. Aku buru-buru."
Fitroh yang melihat kejadian itu, langsung menyadari benarnya perkataan ayahnya. Siska tampak ingin mengikuti Kamil.
Yudi datang dan mengajak mereka pulang. Kamil dan Fitroh bergegas meninggalkan toko, meninggalkan Siska yang tampak kecewa.
ns216.73.217.39da2


