Kediri - Pesantren Darussalam
143Please respect copyright.PENANAHttxyTPS6C
"Sepi juga ya, Jo," gumam Purnomo, matanya menatap langit senja di atas pesantren Darussalam. Angin sore berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma tanah basah dan daun-daun kering.
"Iya, Pur. Tanpa Mas Kamil dan Mbak Titah, pesantren terasa hampa," sahut Paijo, menghela napas panjang. Ia menatap ke arah bangunan utama pesantren, bayangan kenangan akan tawa dan canda Kamil dan Titah terbayang di benaknya.
Tiba-tiba, suara Pak Kyai Abdullah memecah kesunyian. "Assalamu'alaikum, Jo, Pur."
"Wa'alaikumussalam, Pak Kyai," jawab mereka berdua serempak.
Pak Kyai Abdullah duduk di samping mereka, wajahnya tampak sedikit lesu. "Berdoalah kalian agar Titah dan Kamil baik-baik saja di Jakarta, dan semoga mereka segera kembali ke pesantren ini," ujarnya, suaranya terdengar lembut namun penuh harap.
Paijo dan Purnomo mengangguk mengerti. Mereka juga merindukan kehadiran Kamil dan Titah. "Inggih, Pak Kyai," kata Paijo.
Pak Kyai Abdullah tersenyum simpul. "Saya juga merindukan mereka, anak-anakku itu. Tapi, Galih dan istrinya adalah orang tua mereka, kita harus menghormati keputusan mereka." Ia mengusap janggut putihnya. "Sudahlah, mari kita sholat Magrib berjamaah."
Mereka pun bergegas menuju masjid, langkah kaki mereka diiringi suara adzan yang mulai berkumandang.
143Please respect copyright.PENANAjyet96qKVc
Jakarta - di Rumah Pak Galih
143Please respect copyright.PENANAzuL5GBCq5p
Acara empat bulanan Titah berlangsung meriah. Suasana ruangan dipenuhi oleh tawa dan canda para tamu. Aroma masakan lezat memenuhi udara. Namun, di balik keceriaan itu, Titah merasakan sedikit kerinduan akan suasana tenang di pesantren Darussalam. Setelah acara selesai, Bu Prameswari, ibu Titah, menutup acara dengan ucapan, "Alhamdulillah, acaranya berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun. Demikianlah acara empat bulanan ini selesai. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab para tamu serempak.
143Please respect copyright.PENANAgxObtpWwhK
Dua hari kemudian, Pak Galih memanggil Kamil dan Titah. "Ada pengumuman penting," katanya, wajahnya serius. Kamil dan Titah saling berpandangan, penasaran. Pak Galih menyerahkan sebuah surat. "Bukalah," katanya singkat.
Setelah membaca surat itu, Kamil dan Titah saling bertukar pandang, terkejut. "Papa serius?" tanya Kamil, suaranya sedikit gemetar.
"Ya," jawab Pak Galih. Bu Prameswari ikut penasaran. "Ada apa, Galih?" tanyanya.
"Nanti setelah makan siang, di meja makan," jawab Pak Galih.
Selama makan siang, suasana tegang. Kamil dan Titah sesekali melirik satu sama lain. Siska, dengan tatapan penuh arti, memperhatikan Kamil. Fitroh, tampak tenang. Siska bergumam dalam hati, Gagal lagi. Aku harus menemukan cara lain.
Setelah makan siang, Pak Galih mengumumkan, "Kamil dan Titah diterima di program S1 dan S2 di Prancis!"
Fitroh berseru, "Serius, Pah?" Ia gembira, namun sedikit cemas.
"Iya," jawab Kamil. Ia telah tahu sebelumnya, tapi diminta berpura-pura.
"Kenapa Prancis? Bukan Arab atau Mesir?" tanya Fitroh. "Biar dekat dengan Siska?" lanjutnya, sedikit menggoda.
Kamil tersenyum. "Ada alasannya, A." Kekecewaan terlihat jelas di wajah Siska.
Kamil pamit ke Pesantren Darussalam untuk menyelesaikan urusan sebelum ke Prancis. Ia menyapa istrinya, Titah, "Sayang, aku pamit dulu, ya."
"Iya, Mas. Hati-hati," jawab Titah.
Di pesantren, Kamil bertemu Paijo dan Purnomo. Mereka senang Kamil datang. "Kangen banget sama kamu, Mil!" seru Paijo. (Kangen banget karo kowe, Mil!)
"Aku juga kangen kalian," jawab Kamil.
Kamil menceritakan tentang penerimaan di Prancis. Paijo dan Purnomo ikut senang. Mereka berjanji akan menjenguk jika ada kesempatan.
Di Jakarta, Siska merencanakan sesuatu. Ia bergumam, "Aku harus menghentikan mereka." Bu Prameswari memperhatikan Siska dengan curiga. "Kamu kenapa, Siska?" tanyanya.
"Tidak apa-apa, Tante," jawab Siska, menyembunyikan niatnya. Pak Galih mengamati Siska dengan tajam. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan Siska.
143Please respect copyright.PENANAJDWo7al3cj
----
143Please respect copyright.PENANA3k8Xama6yl
Kediri, pukul 01.00 WIB. Keheningan malam di Pesantren Darussalam tiba-tiba pecah oleh suara mesin mobil yang berhenti di depan asrama. Pak Ustaz Fitroh dan Pak Ustaz Fitri terbangun.
"Siapa yang datang larut malam begini?" tanya Pak Ustaz Fitroh, suaranya masih setengah mengantuk.
"Tidak tahu, Mas. Kita lihat saja," jawab Pak Ustaz Fitri.
Mereka melihat Kamil keluar dari mobil. "Assalamu'alaikum," sapa Kamil.
"Wa'alaikumussalam," jawab kedua ustaz itu.
"Titah mana?" tanya Pak Ustaz Fitri. Pak Ustaz Fitroh menambahkan, "Kamu sendirian?"
"Iya, Mas," jawab Kamil. "Jangan panggil Pak Ustaz, panggil Mas saja, ya," kata Pak Ustaz Fitri. "Titah kan sepupu kami."
"Oh, iya, Mas," kata Kamil.
Tiba-tiba, Annisa muncul, tampak pucat dan mual. "Saya... saya mual," katanya, sambil memegangi perutnya.
"Ada apa, Nis?" tanya Pak Ustaz Fitri, khawatir. Annisa tampak semakin lemah.
"Saya... saya tidak tahu," jawab Annisa, sebelum akhirnya pingsan.
"Ya ampun, Nisa!" seru Pak Ustaz Fitri. Pak Ustaz Fitroh segera menyuruh Kamil untuk mencari Frenski, suami Annisa.
"Cepat, ya," katanya. Kamil mengangguk dan bergegas pergi.
143Please respect copyright.PENANA4KPTeZ798L
Asrama Santri Putra. Frensky dan Rivan sedang mengobrol.
"Bayangno, seru banget yen sore nanti ana bayi cilik." kata Frengky.
"Pasti, Mas," jawab Rivan.
"Yen aku ora kelamaan ngdekati bojoku, saiki mesti wis meteng kaya Titah."
Kamil datang. "Assalamu'alaikum," sapa Kamil.
"Wa'alaikumussalam," jawab Rivan dan Frensky.
"Kamil! Kau sudah pulang dari Jakarta?" seru Frensky, terkejut.
"Iya," jawab Kamil. "Aku hanya mengambil barang-barangku dan pamit. Oh ya, istrimu pingsan tadi. Aku bertemu dia di jalan bersama Pak Ustaz Fitroh dan Fitri."
"Serius?" tanya Frensky, panik.
"Ya, di rumahnya," jawab Kamil.
Frensky dan Rivan segera pergi ke rumah Frensky. Di sana, mereka bertemu Pak Kyai Abdullah, Pak Ustaz Fitroh, dan Pak Ustaz Fitri.
Frensky bertanya dengan cemas tentang kondisi Annisa. Pak Kyai Abdullah menjelaskan Annisa baik-baik saja, hanya kelelahan. Ia menyuruh Frensky masuk ke kamar Annisa.
Kamil dan Rivan pamit. Kamil menjelaskan pada Pak Kyai Abdullah bahwa ia hanya mengambil barang-barang dan akan segera pergi ke luar negeri bersama Titah.
Di kamar, Annisa terbangun. Ibunya, Umi Fatimah, dan Mbak Aisyah memberitahunya kabar gembira: Annisa hamil. Frensky sangat bahagia dan bersujud syukur.
143Please respect copyright.PENANAlf6Y3eheEP
Sementara yang lain berada di rumah Frensky, Kamil dan Pak Kyai Abdullah berbicara di rumah Pak Kyai. Pak Kyai ternyata sudah tahu rencana Kamil kembali ke Pesantren Darussalam dari ayahnya. Beliau berpesan agar Kamil berhati-hati di Prancis dan menjaga Titah yang sedang hamil.
Keesokan harinya, Kamil meninggalkan Pesantren Darussalam bersama Lik Purnomo dan Lik Paijo, karena dua hari lagi ia akan berangkat ke Prancis.
Keesokan harinya lagi, Kamil pamit pada Pak Kyai Abdullah, Pak Ustaz Fitroh, Pak Ustaz Fitri, dan Umi Fatimah. "Saya pamit pulang ke Jakarta. Lusa saya berangkat ke Prancis untuk bekerja dan kuliah bersama istri saya," kata Kamil.
"Inggih, semoga lancar," kata Pak Kyai Abdullah dan Umi Fatimah.
Annisa menitip salam untuk Titah. Kamil juga berpesan pada Rivan, "Jangan lupa halalkan kekasihmu!"
"Siap, Mil! Tinggal selangkah lagi menuju pelaminan," jawab Rivan, tertawa.
Kamil pamit, "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab mereka semua.
143Please respect copyright.PENANAoxids3FBQx
----
143Please respect copyright.PENANARMRDYcQ4K4
Prancis. Di Apartemen No. 27. Titah sedang memasak di dapur. Aroma masakan memenuhi ruangan kecil itu.
"Titah, sedang apa?" tanya Paijo.
"Memasak sahur untuk Mas Kamil," jawab Titah.
"Tidak perlu, Titah," kata Paijo. "Aku dan Purnomo bisa membantu."
"Benarkah? Terima kasih," kata Titah, lega.
"Nasi goreng saja, ya, dengan telur mata sapi setengah matang," kata Titah.
Purnomo datang, "Sahur sudah siap?"
"Sudah, tapi Mas Kamil belum bangun," kata Titah.
"Baiklah, aku akan menyiapkan meja makan," kata Purnomo.
Titah membangunkan Kamil. "Mas, sudah jam dua. Sahur, yuk," ajak Titah.
"Iya, Sayang," jawab Kamil, menguap.
Mereka makan sahur bersama, suasana hangat dan penuh kasih sayang. Suara tawa mereka mengisi keheningan pagi di apartemen kecil itu.
ns216.73.217.110da2


