[Echoes of the Pasti : Bagian keempat]
*
SUARA gemeretak memenuhi udara, gema dari batu-batu yang tersebar, terlelap dalam ketidakteraturan. Kurasakan ujung jemariku yang mulai dingin dari bebatuan, merasakan rasa kasar dan berpori, seolah-olah menelusuri tiap-tiap ujungnya. Bebatuan mulai melayang satu per satu mengikuti gerakan tanganku dengan aura sihir yang membumbung di udara.95Please respect copyright.PENANAIPdmcmjcCu
Bebatuan pertama bergetar, bergeser dari posisinya dengan bunyi gemeretak tajam—seperti suara gesekan batu yang bangkit dari tidur panjangnya. Kutarik satu-persatu rangkaiannya menyebar, lalu mulai melesak; saling menemukan tempat mereka di udara kosong, sebelum akhirnya diikat dengan sihir. Suara-suara debuman lain saling menyambung, desir halus dan debu batu yang berjatuhan. Hingga, seluruh rangka jembatan itu terdengar seperti orkestra yang ditarik menuju nada akhir.
Sedikit lagi. Jemariku mulai bergetar, tak kuasa menahan beban luar biasa, telapak tanganku mulai terasa panas seperti terbakar. Kudorong lagi sihirku lebih kuat, sampai angin disekitarku mulai bertiup tak beraturan. Desiran udara yang membawa batu-batu tiba-tiba menabrakkannya beberapa kali di pinggir jurang, sedikit menggetarkan tanah tempatku berdiri.
Suara berderak yang semakin ribut, memahat tiap-tiap celah bebatuan yang disambung rata di atas jurang yang menganga.
Angin bergerak menuju celah bebatuan yang telah bersatu padu kembali. 'DUMM!', potongan terakhir batu penopang melesat dan menyatu di tempatnya. Kutarik tanganku dari asal lingkaran sihir yang kubuat, lalu berbalik dengan sekuat tenaga pada asal suara ribut dan ledakan di belakang.
"Rochena, SEKARANG!"
Kurasakan instingnya yang mendapatkan perhatianku.
Jejakan kakinya yang bergerak cepat membawaku untuk ikut menghampiri jembatan yang baru saja usai. Kurasakan kaki panjang Yvaine di belakang dan aura tubuh si Gadis muda yang segera mengejar langkah kakiku di depan mereka, namun melambat saat desisan lain dan lolongan yang belum usai terdengar kembali di belakang kami.
Oh, demi Dewa, rasanya ini seperti tidak pernah usai.
"Kau belum selesai membasmi semuanya?!"
"Mereka menyebalkan … !" Yah, perlu kuakui itu benar. "Tapi hanya ada satu yang mengejar kita sekarang!" Rochena mulai menjejakkan kakinya di atas jembatan yang telah kusatukan. Suaranya yang keras menyahutiku sembari berusaha melawan angin, "Bagaimana selanjutnya?!"
Membuat serangan yang kuat sangat berbahaya untuk jembatannya saat ini, sedangkan ada kesempatan emas untuk mendorong hewan itu ke dasar jurang agar kami tidak dikejar usai menyebrang. Duh, menyebalkan—benar kata gadis itu tadi.
"Aku akan—"
Tanpa aba-aba, desiran halus dari udara membawaku pada gagasan untuk berbalik meski tidak ada pemandangan yang berbeda di mataku.
Kurasakan angin yang tiba-tiba melonjak, seperti napas tertahan di antara pertempuran. Kalimatku terhenti ketika getaran aneh terasa di sepanjang jembatan yang kusatukan tadi. Itu jelas terdengar bukan langkah kaki Rochena atau langkahku sendiri. Ada sesuatu yang lebih besar—atau, langkah kaki yang lebih liar.
Desisan pendek itu meletup, diikuti bunyi gemuruh dari cakar-cakar besar menghentak pondasi jembatan. Suara geraman yang kudengar samar-samar tadi berubah sangat nyata sekali, persis seperti berbisik di depanku. Desingan tajam udara terbelah, dengan suara anginnya yang dapat kutakangkap samar. Kemudian kudengar suara melengking rendah; seperti ancang-ancang hewan besar, menyentakku.
Tubuh besar serigala itu melompat ke arahku.
"HATI-HATI!"
Lingkaran sihir bercahaya terbentuk seperkian detik, menarik semua energi yang berceceran di udara. Namun belum sempurna sihir itu melesat ke depan, ternyata ada yang sudah memperkirakan gerakan si serigala sejak tadi, sebelum diriku.
'BRAK!', sebuah tubuh besar terdengar dengan gerakan kuat yang memotong aliran angin di sekitarnya. Dia melesat ke depan, menabrakkan dirinya pada si Serigala. Kekuatan yang ia keluarkan menggema dalam rasakan langkah kerikil-kerikil kecil yang berbunyi di bawahku.
Yvaine. Aku merasakan keberadaannya—langkah-langkah beratnya yang mencengkeram pijakannya dengan hati-hati, napasnya yang berat, raungan yang menyerupai singa besar, dan… dia mendorong sesuatu. Tidak, tidak—bukan sesuatu. Serigala itu! Ada suara seret dan gesekan keras saat cakar-cakar besar Yvaine beradu dengan cakar musuhnya. 'SRING!', menggema dalam udara dingin. Raungannya berubah menjadi lebih liar.
Dengan ancang-ancang kuat, kudengar tubuhnya melesat seperti peluru—menubruk ke arah si Serigala, membuat Serigala itu meraung—bukan dengan kekuatan, tapi dengan rasa tak berdaya.
'BRUK!'
Suara lolongannya yang menggema horor di antara jurang membuatku sedikit bergidik. Sepertikan detik berkutat dengan segala kemungkinan di depan yang tak dapat ku lihat, ku dengar suara berat tubuh serigala itu menghantam sisi jurang seperti melolong-lolong di antara pembatas jurang. Aku selamat.
Oh, kita selamat!
"Yvaine!" Aku bergetar, memanggilnya, mencari-cari kepala kucing besar itu "Anak pintar—"
Namun sebelum aku sempat menarik napas lega, suara gemeratak yang berasal dari kakinya membuat jantungku hampir pindah tempat lagi.
Cengkeramannya mendadak mengiris kesunyian, raungannya yang kencang makin membuatku panik. Kurasakan ia tengah mencoba menarik dirinya sendiri ke atas, yang malah membuat kucing besar itu makin kehilangan keseimbangan. Langkahnya terdengar hampir tergelincir di permukaan jembatan yang licin. Yvaine kehilangan keseimbangannya.
"YVAINE!"
Yvaine kehilangan keseimbangannya.
"TUNGGU DI SITU! Aku akan—"
Dia akan jatuh ke—
"NYONYA!"
Kurasakan tangan hangat lain menggenggam tangan kiriku dengan kasar, saat kesadaran lain seperti menepuk otakku bahwa kaki kananku saat ini mengambang di pinggir jurang yang menganga.
Aku mundur dengan cepat, lalu terduduk begitu saja—kakiku lemas tak karuan. Sembari mengatur nafas yang tercekat, "Aku akan—"
"Aku yang akan menolongnya," si Gadis muda mencengkeram bahuku kuat, "kekuatan anda tidak boleh terbagi untuk menjaga jembatan dan menolong kucing itu, yang ada kita bertiga bisa mati sama-sama di sini!"
Kuteguk salivaku. Bahkan cara mengomel gadis itu bahkan mirip dengannya.
Desiran udara yang datang membawakan percikan energi halus mulai bergetar setelah seperkian detik lengang. Rambutku sudah ribut duluan karena terbang dibawa angin, serta daun-daun yang merontok di seberang sampai berterbangan sesekali menyentuh wajahku yang kotor.
Kudengar dengkuran milik si Kucing yang terdengar setengah kesal bercampur ketakutan, serta bebatuan yang kian mengikis tak kuasa menahan bobot miliknya. Arus sihir Rochena seperti berdenyut di sekelilingku, menyatu dengan pacu jantungku yang kian terpompa stabil.
"Turunkan pelan-pelan … " Pintaku, nyaris seperti doa—saat kusadari bahwa tubuh Yvaine pasti tengah mengambang di udara dengan sihir Gadis muda itu. "Apa kau menangkapnya, Rochena?"
"Sedikit lagi … " Jawabnya pelan. Kudengar daun-daun yang berdesir dan menari-nari dengan angin disekitar kami kian membumbung meninggi, digerakkan oleh gelombang energi yang ditarik ke atas udara. Sensasi halus dan dingin merayap di tanganku, seolah-olah angin ini hidup dan benar-benar bisa membawa kami serta-merta terbang bersamanya.
Dari atas, Yvaine menggeram—mirip seperti singa kecil. Suaranya menggantung di udara, antara bingung atau takut. Aku terus menenangkannya dengan memberi sinyal kehadiranku di benaknya. Hingga terdengar suara retakan kecil, seperti kerikil-kerikil yang saling bergesekan, dan kusadari bahwa tubuh hewan itu sudah menapak di atas tanah.
Kaki panjangnya bergerak cepat dan berlari ke arahku, lalu kurasakan kepalanya yang mencari-cari tanganku dan suara mengeong yang sama.
"Aku tahu, aku tahu," Gumamku tersenyum, meski napasku masih tersengal-sengal. "Tapi lain kali jangan membahayakan dirimu sendiri."
Kurasakan kehadiran gadis itu yang melirikku, "Memangnya dia bisa paham bahasa anda?"
"Barangkali," Kugapai kepala Yvaine yang berbulu lebat, sisa pertarungan tadi yang menyisakan bau hangus dan tanah di badannya. "Terimakasih, Rochena."
"Yang tadi itu sangat berbahaya!" Ia menaikkan suaranya, "harusnya ada yang memberitahuku ada jurang di depan atau apalah. Apakah anda menyembunyikan sesuatu lagi setelah ini?"
"Setahuku, sih, tidak ada," Aku terkekeh—yang ternyata malah mengundang desisan tak suka darinya. "Ah … iya, maaf, aku yang salah. Sudah bertahun-tahun aku tidak berani keluar menuju pedalaman Silverfall bahkan semenjak pondokku di bangun. Masalahnya sudah belasan tahun aku tidak ke dalam dan ternyata banyak yang berubah di sini."
Belum gadis itu membalasku, langkah kaki kasarnya langsung buru-buru berusaha berjalan meninggalkan titik jembatan. "Kita tidak bisa lama-lama di sini."
"Kau benar," Kugapai temali di kalung Yvaine dan menggenggamnya erat, "menurutmu, berapa lama lagi kita akan sampai menurut peta?"
"Setengah jalan," Balasnya. "Mungkin kita bisa berjalan sampai setengah jam kalau cepat, kecuali ada penghadang lagi seperti barusan tadi."
"Harusnya, sih, ada," kurasakan aura gelap dari gadis itu yang ditujukan padaku—lalu kubayangkan ekspresi melotot menyeramkan darinya. "Tapi kalau kita menyamarkan energi mana dalam tubuh, barangkali hewan-hewan sihir di sini tidak bisa mengendus kita."
Gadis itu tercenung sesaat, "Lagi-lagi aku tidak diberitahu!"
"Memangnya harus kuberitahu?"
Rochena berhenti mengomel untuk selanjutnya mengerang sebal ke arah Yvaine. Ekor panjang kucing besar itu membelai wajahnya, membuat debu-debu dan sisa tanah dengan bau gosong yang bercampur di sana berkumpul di wajah gadis itu.
ns216.73.216.204da2


