Kaelen tidak pernah menyangka bahwa undangan makan malam dari kolega bisnisnya itu akan berujung pada pengkhianatan. Di ruang konferensi yang tampak biasa, ia duduk tenang, dikelilingi oleh manusia yang tersenyum ramah. Tetapi siapa sangka jika ternyata senyuman-senyuman itu palsu! Kaelen tak pernah mengira jika kolega bisnis yang selama ini dia percayai kebaikannya, ketulusannya, ternyata menyimpan niat besar yang begitu busuk!
Pagi tadi sang Alpha menerima pesan singkat resmi undangan dari perusahaan kolega lamanya, bahkan kerjasama mereka terjalin semenjak mendiang sang ayah masih hidup.
"Makan malam di Fredericson manor" Ucap Kaelen, membaca lokasi tempat dimana mereka akan bertemu untuk membicarakan kelangsungan projek pembangunan hotel terbesar di kotanya, ia pun meletakkan kembali gawainya dan meminta kepada sang Beta untuk mempersiapkan semuanya.
"Baik Alpha.." Beta Simon menganggukan kepalanya, tanda kesanggupannya dalam memenuhi perintah sang Alpa, lalu bergegas meninggalkan ruangan untuk memberikan tugas-tugas kepada para werewolf yang lain.
Dan disini Kaelen dan beberapa kawanannya berada saat ini, dalam keadaan tak berdaya, dalam sebuah ruangan kaca canggih yang tertutup rapat. Ruangan makan malam yang tadinya begitu khidmat telah berubah menjadi area pembantaian! Mereka bahkan tak memiliki kesempatan untuk membela diri, karena serangan licik Martin Fredericson adalah berupa gas pelumpuh syaraf.
“Bulu emasmu... benar-benar nyata,” bisik Martin sang kolega, matanya menyala penuh obsesi, setelah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana para werewolf merubah wujudnya. “Kami hanya butuh satu helai rambut emasmu... Untuk kemajuan umat manusia.” Martin terkekeh, menyisakan pertanyaan besar dibenar Kaelen.
Sang Alpha memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan para werewolf lainnya, sehingga gas dengan dosis kecil seperti itu tak memiki pengaruh yang besar bagi tubuhnya. Kaelen bangkit, tubuhnya tegang. “Kalian gila!”
Dengan isyarat tubuhnya, Martin memerintahkan anak buahnya untuk menambahkan dosis hingga ke level mematikan. Tak lama tubuh Kaelen pun melemah, dan dalam sekejap mata, ia telah dikelilingi oleh tim ilmuwan berseragam putih. Mereka membawa perlengkapan medis cangggih, tabung kaca, dan ekspresi dingin yang tak mengenal belas kasih, di ruangan yang berbeda.
Di luar gedung, sesosok mahluk tengah berdiri di atas atap, hoodie-nya menutupi wajah dinginnya. Ia telah mengikuti Kaelen sejak pagi, nalurinya tak tenang. Dan kini, ia tahu kenapa. Matanya yang tembus pandang, mampu menyaksikan seluruh kejadian mengerikan itu dari balik dinding tebal Frederick manor dengan sangat jelas! Gadis itu hanya menunggu celah dan waktu yang tepat untuk bertindak, meski itu harus mengorbankan keselamatan pria yang selama ini telah membuat dirinya gila.
"Sialan! Beraninya mereka menyentuh tubuhnya...!"
Tanpa suara, gadis itu melompat dari atap, menerobos jendela kaca dan mendarat di tengah ruangan. Para penjaga terkejut, tapi tak sempat bereaksi. Dalam hitungan detik, gadis itu mampu melumpuhkan seluruh penjaga disana, lalu melesat menuju ruangan dimana Kaelen berada saat ini.
Kaelen terhuyung, matanya kabur, tapi ia mencoba untuk mengenali aroma itu. Bukan werewolf, bukan manusia, juga bukan vampir. Sesuatu yang... familiar.109Please respect copyright.PENANAwEtGbS1BH3
“Siapa kau?” gumamnya lemah
Lyra tidak menjawab. Ia hanya menatapnya sebentar, lalu berkata pelan, “Kau terlalu berharga untuk jatuh di tangan mereka.”
Mereka menghilang di kegelapan malam, meninggalkan ruangan penuh kekacauan dan manusia yang tak pernah menyangka bahwa makhluk yang mereka buru, ternyata memiliki pelindung yang jauh lebih berbahaya, dan itu telah menimbulkan hasrat baru dalam diri seorang Martin Frederick.
"Cari tahu mahluk apa itu!"
Masih segar dalam ingatan Martin, bagaimana ia melihat sesosok mahluk yang tiba-tiba saja menghancurkan rencana besar yang nyaris saja berhasil ia wujudkan. Pergerakannya yang begitu cepat, bahkan nyaris tak terbaca! Dalam sekejap mata ia sanggup menghabisi semua penjaga, padahal semua orang tahu bagaimana kuatnya para penjaga yang dimilikinya. Banyak dari mereka memiliki latar belakang militer dengan strategi dan kekuatan perang yang mumpuni! Bahkan selama ini mudah bagi mereka untuk menghabisi lawan-lawan sekuat apapun mereka.
"Alpha...Demi dewi bulan! Akhirnya anda terbangun!" seru seorang maid yang sejak beberapa hari ini merawat sang alpha dibawah pengawasan para dokter ahli dan tabib dari bangsa werewolf.
Para tenaga medis yang berjaga pun bergegas memasuki ruangan dan melakukan pemeriksaan, untuk memastikan kesehatan alpha mereka.
"Anda telah benar-benar pulih dari racun Alpha..." ujar salah satu dari mereka.
"Dimana dia?" Kaelen berusaha untuk bangkit, kesadarannya masih tertuju kepada sosok misterius yang telah berhasil menyelamatkannya dari maut.
"Siapa yang Anda maksud alpha?" Gama Larick tiba-tiba memasuki ruangan, sebelum orang-orang diruangan itu membuka suaranya. Seorang gama memiliki kemampuan untuk memprediksi masa depan dan mempelajari masa lalu melalui penerawangannya.
Seperti memahami maksud dari pertanyaan sang Gama, Kaelen pun mengganti pertanyaannya. "Sudah berapa lama aku tertidur?" ucapnya, lalu kembali ke posisinya semula.
"Anda tertidur selama 4 hari Alpha, apa yang anda rasakan sekarang?" Larick menghampiri sang Alpha, lalu memerintahkan semua orang meninggalkan mereka berdua dengan isyarat tangannya dan duduk disamping tempat tidurnya.
"Hentikan omong kosongmu Larick, katakan padaku bagaimana aku bisa sampai di rumahku...!" Kaelen bertanya setelah yakin bahwa semua orang telah meninggalkan ruangan, bahkan mungkin telah pergi sejauh mungkin dari ruangannya itu.
"Salah satu penjaga menemukanmu tergeletak didepan pintu masuk rumah Alpha, kau dalam keadaan yang sangat buruk malam itu...Apa yang sebenarnya terjadi?" Penasaran, Larick bertanya. Atau mungkin hanya ingin memastikan sesuatu.
"Blacklist Martin Frederickson dan semua bisnisnya! batalkan semua kerjasama yang telah terjalin dengan mereka! tarik semua aset milik kita disana! Dia berusaha untuk membunuhku Larick! Andaikan....." Ucapan Kaelen terhenti, masih ada keraguan dalam dirinya untuk mengungkapkan peristiwa penting malam itu.
Ah...Kaelen masih mencari-cari bau aroma tubuh sosok misterius itu, kenapa rasanya seperti saat bertemu dengan gadis itu? Sang Alpha menghela napasnya pelan, mencoba untuk menetralkan kembali gejolak dalam dirinya.
"Andaikan apa Alpha...?" Larick bertanya tanpa memandangkan wajahnya kearah Kaelen, sepertinya pengelihatannya malam itu benar adanya. Pandangannya hanya fokus pada satu titik di ruangan itu, foto keluarga sang Alpha.
"Ahh, Sudah lah Larick...Pastikan saja apa yang aku perintahkan tadi terlaksana secepat mungkin. Dan perintahkan perang atas mereka!" Kaelen beranjak dari duduknya, ia bermaksud untuk menenangkan pikirannya dengan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
"Baik Alpha..." Larick pun beranjak, setelah memperlihatkan gestur tubuhnya memohon ijin kepada sang Alpha untuk meninggalkan ruangan.
Di bawah guyuran air yang membasahi tubuhnya, Kaelen memejamkan mata—mencoba memahami peristiwa yang mengubah segalanya malam itu.
"Siapa dia...?"
"Mengapa dia ada disana?"
Kaelen membuka matanya, menatap pantulan samar dirinya di kaca berembun. “Siapa kau sebenarnya?” bisiknya. Ia tahu, itu bukan kebetulan. Sosok itu pasti sudah mengawasinya sejak lama.
109Please respect copyright.PENANA3zPMTjxTLw


