Jauh sebelum Kaelen lahir ke bumi dan menjadi cahaya serta harapan dan penerus tahta Bloodmoon pack, Raven muda memiliki seorang adik perempuan cantik bernama Selena. Gadis belia yang mewarisi paras cantik mendiang sang ibu, dan keberanian sang ayah. Selena lahir membawa duka bagi sang ayah, Alpha Thomas.
Sang istri, Luna Beatrice harus pergi meninggalkan dirinya setelah berjuang dengan nyawanya untuk melahirkan Selena kehadapannya. Sejak belia, Raven lah yang menggantikan peran sang ayah bagi Selena. Sang ayah bukannya tidak memiliki kasih dan sayang bagi anak perempuannya itu, tetapi sejak kepergian sang istri separuh jiwanya pun ikut pergi. Alpha Thomas tak pernah memiliki nyali untuk sekedar menatap putri tercintanya, paras wajahnya selalu mengingatkan dirinya akan mendiang belahan jiwanya, luna Beatrice. Dan itu hanya akan membuatnya hatinya semakin hancur.
Itulah yang menjadi alasan besar dibalik ketidak peduliannya terhadap Selena. " Maafkan aku sayang....aku hanya tak kuasa menatap wajah cantiknya, Selena mewarisi wajah cantikmu....maafkan aku..." Kalimat itu yang selalu ia ucapkan ketika ia berdiri dibalik pintu kamar anak gadisnya, melalui celah kecil yang sengaja Raven buat agar sang ayah dapat menatap sang adik walau sejenak, sekembalinya ia dari kesibukannya memimpin Bloodmoon pack.
20 tahun berlalu semenjak peristiwa menyakitkan itu, kini alpha Thomas telah membersamai sang istri di alam kekal. Sang alpha meninggal dalam tidurnya dalam keadaan tenang di usia senja, sebuah keajaiban sungguh...Karena Werewolf yang terikat jiwa akan berbagi energi hidup, jika sang luna terlebih dulu mati, maka sang alpha tak pernah akan bertahan lama, begitupun sebaliknya. Entah, mungkin dewi bulan memiliki rencana lain, mungkin dewi bulan ingin agar alpha Thomas mencurahkan cintanya terlebih dulu kepada Selena, anak gadis yang selama ini dia hindari keberadaannya.
Ya! Selama lima tahun terakhir akhirnya gadis itu mendapatkan kasih sayang yang selama ini hanya ia dapatkan dari sang kakak Raven. Disaat-saat terakhirnya alpha Raven lebih banyak menghabiskan waktu bersama Selena, menceritakan tentang kecantikan dan kelembutan mendiang istrinya luna Beatrice, dan bagaimana ia begitu menyesal karena telah mengabaikan anak gadisnya itu selama ini. "Kau memiliki paras cantik ibumu nak...Maafkan ayah" itu ucapan terakhir alpha Thomas sebelum sang istri menjemputnya dalam tidurnya.
"Terimakasih ayah, ibu...Kini aku bahagia" Lirih Selena dihadapan pusara sang ayah, sosok yang belum lama ini dia rasakan pelukan hangatnya. Seperti biasa, setiap sore menjelang malam gadis cantik itu akan mengunjungi makam kedua orangtuanya untuk menceritakan kesehariannya. Tetapi udara sore ini terasa asing baginya, terasa begitu dingin dan gelap. Selena berusaha untuk mengenali bau werewolf, tetapi tidak bisa. Ini sesuatu yang lain, pikirnya. Selena merasa akan ada bahaya yang mengancamnya "Siapa disana? tunjukan dirimu!" teriaknya dengan tangan dan kakinya dalam keadaan siaga.
"Waspada Selena, ini bau vampir!" werewolf dalam diri Selena memberikan peringatan.
Tiba-tiba sosok hitam melesat, dan dalam sekejap mata ada dihadapan Selena. Kedua pasang netra saaling bertemu, senyum sang pria yang nyaris tak terlihat, sorotan tajam netra merahnya, dan sentuhan ujung jari di wajah cantiknya menyisakan debaran jantung yang hebat di dada Selena. "Ini bukan takut, ini hal lain" Selena bermonolog.
Selena mundur setapak, bukan karena takut, tetapi detak jantungnya terlalu cepat untuk diredam. Sosok pria itu begitu tenang, seolah tak terganggu oleh ancaman atau siaga yang terpancar dari tubuh Selena.
"Aku tak berniat untuk menyakitimu..." ucapnya pelan, suaranya dalam dan dingin layaknya kabut malam. "Aku....hanya penasaran"
"Penasaran?" Selena menatap tajam. "Kau vampir, apa yang kamu cari dimakam para werewolf?!" Selena semakin bersiaga
Nathan sedikit menunduk, matanya menatap batu nisan yang ada dibelakang Selena." Aku mendengar cerita tentang seorang putri alpha yang selalu datang ke sini. Aku ingin tahu apakah cerita itu benar..."
Selena menahan napas. Tak ada yang tahu tentang kebiasaanya mendatangi tempat yang begitu sakral baginya, kecuali sang kakak Raven. Tapi, pria ini tahu. Selena menampis kemungkinan jika sang kakak lah yang membocorkan rahasia ini kepada orang lain, terlebih seorang vampir. Itu sangat mustahil!
"Aku tak suka diikuti" katanya dingin.
"Aku tidak mengikuti....aku mengunggu" jawab Nathan, dan kali ini senyumannya terlihat jelas - tipis, menyimpan rahasia.
Selena kembali menatapnya, lama. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang tak bisa ia pahami. Bukan ancaman, bukan pula tipu daya...tapi luka. Luka yang mirip dengan miliknya.
Malam itu keduanya tak berbicara banyak, hanya saling menatap, saling menbaca. lalu Nathan pergi, menghilang dalam kabut sperti bayangan yang tak pernah ada.
Tetapi keesokan harinya, ia datang lagi...Dan malam berikutnya, Dan malam setelahnya.
Pertemuan mereka menjadi sebuah ritual rahasia, diantara batu nisan dan bisikan angin, mereka berbagi cerita, tawa, dan luka. Selena mulai melihat sisi lain dari vampir - bukan hanya sebagai musuh, tetapi mahluk yang juga merasakan kehilangan.
Nathan disisi lain, mulai meraskana sesuatu yang selama ini tak pernah ia ijinkan untuk tumbuh. Ketertarikan, kekaguman, dan pada akhirnya...Cinta. Meski keduanya tahu bahwa dunia mereka tak diciptakan untuk bersatu. Setiap tatapan yang mereka bagi adalah pelanggaran, setiap sentuhan merupakan pengkhianatan!
Dan ketika keduanya akhirnya tak lagi bisa melawan semua rasa itu, mereka memilih untuk melawan. Melawan aturan, melawan takdir, dan melawan sejarah.
Mereka memilih satu sama lain....
Dan dari pilihan itulah ...skandal hebat antara dua bangsa besar dimulai. Ataukan mungkin terulang kembali?
ns216.73.216.164da2


