Langit terbakar merah, seolah ikut menyaksikan pertumpahan darah yang tak terhindarkan. Di lembah kelam antara dua pegunungan, pasukan werewolf dan vampir saling berhadapan. Para werewolf telah bertransformasi ke wujud serigalanya dan bersiap untuk menerjang siapapun yang berani menyerangnya, sedangkan para vampir tengah menunjukan taring-taring tajam serta kuku-kuku runcing mereka, dengan seringai mengerikan mereka siap untuk menghabisi siapapun yang berani mendekat. Bumi seakan bergetar, udara panas menyeruak dipuncak cuaca dingin bulan Desember dan malam itu akan menjadi saksi bisu apakah kawanan werewolf yang dipimpin oleh alpha Raven akan berhasil mempertahankan teritorinya, ataukah para vampir yg dipimpin oleh Dimitri akan berhasil merebutnya dari mereka.
Di barisan depan, berdiri Alpha Raven—sosok serigala besar dengan mata menyala dan bulu keemasan yang berkilau di bawah cahaya bulan. Ia adalah legenda hidup, pemimpin salah satu kawanan terkuat werewolf bernama Bloodmoon. Di seberangnya, Dimitri, sang penguasa vampir yang terkenal dengan kesadisannya, berdiri sambil memainkan sebongkah batu berwarna hitam kemerahan dengan seringai licik yang tak pernah menyentuh matanya. Jubah hitamnya berkibar, dan kata-katanya manis seperti racun.139Please respect copyright.PENANAVwfjs3pnG7
“Wilayah ini milik kami sekarang,” ucap Dimitri, suaranya tenang namun penuh ancaman. “Kalian bisa tunduk... atau hancur.” Dia meremas batu tersebut hingga hancur tak bersisa dan meniupnya, matanya mengikuti arah semburan debu ke angkasa, lalu kembali menyeringai licik menampakkan taringnya yang tajam dengan tatapan mengerikan tertuju kepada serigala terbesar tak jauh didepannya.
Raven menggeram. “Kami tidak akan tunduk pada bayangan.” lalu memerintahkan kawanannya untuk bersiaga penuh, mengantisipasi serangan tiba-tiba dari musuh yang ada dihadapannya.
"Kau yang memintanya anjing bodoh!" Geram Dimitri. Dan perang pun pecah setelah dirinya yang murka meneriakan perintah untuk menyerang kepada semua pengikutnya.
Kaelen, masih remaja saat itu, dia berdiri dengan gagah di barisan tengah. Bulunya berwarna keemasan warisan sang ayah, dengan tanda petir di keningnya. Meski kekuatannya belum sepenuhnya terbentuk, tetapi semangat tempurnya sudah begitu tinggi. Dia bahkan telah berhasil memimpin pertempuran-pertempuran kecil untuk mempertahankan wilayahnya dari kawanan werewolf lain yang berniat untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Matanya menyerap segalanya—jeritan, darah, dan kehancuran. Ia melihat sang ayah bertarung layaknya dewa perang, dan berhasil memimpin kawanan untuk memukul mundur bangsa vampir.
Namun di tengah kekacauan, sesuatu menarik perhatian Kaelen. Sesosok wanita, entah darimana datangnya muncul dan bergerak seperti bayangan. Akan tetapi setiap langkahnya membawa kematian bagi para vampir. Dalam sekejap, sepuluh makhluk malam tumbang di hadapannya. Rambutnya gelap tergerai, matanya biru laut menyala, dan tubuhnya diliputi aura yang tak bisa dijelaskan. Kaelen tahu—ia bukan werewolf juga bukan vampir.
Kaelen terpaku. "Siapa dia...?" Berucap dalam pikirannya, sekejap kemudian berhasil kembali menggigit leher vampir yang berusaha untuk menyerangnya hingga putus, lalu mengunci kembali pandangannya pada sosok misterius yang tengah melesat kesana kemari menghabisi lawan-lawan dengan begitu mudahnya. Bahkan ketika Dimitri memanggil kekuatan gelapnya untuk memanipulasi medan perang dengan ilusi dan tipu daya dengan mengubah arah angin untuk menyesatkan pasukan werewolf, dan memecah formasi mereka, dengan mudahnya sosok misterius itu menghalaunya dengan hanya menggerakkan telapak tangannya. Entah hal ini diketahui oleh sang ayah atau bahkan kawanannya yang lain atau tidak, Kaelen hanya melihat semua orang termasuk alpha Raven tengah bahu membahu memukul mundur musuh, dan mereka berhasil memenangkan pertempuran itu.
"Alpha...!" Kaelen berlari menghampiri sang ayah, dia bermaksud untuk mempertanyakan kehadiran sosok misterius yang ikut andil dalam pertempuran mereka malam ini. Tetapi urung dia lakukan setelah pemuda itu melihat hal yang paling mengerikan dalam hidupnya dan kini ada dihadapannya. Alpha Raven terluka parah dengan luka robek menganga dileher, dada serta perutnya dan jatuh tersungkur dihadapannya. "Ayah!!.." Teriak Kaenan, berubah bentuk dan berhasil mengangkap tubuh sang ayah tepat pada waktunya.139Please respect copyright.PENANA7cq301pO73
Langit mendung menggelayut diangkasa, hujan rintik-rintik membasahi bumi , seakan langitpun turut menangis dan berduka atas kematian sang legenda. Ya... Hari ini merupakan hari yang kelam bagi seluruh bangsa werewolf terutama bagi kawanan werewolf Bloodmoon, mereka bukan hanya kehilangan sosok pemipin yang kuat, tetapi juga panutan yang selalu mendampingi serta melindungi kawanan dengan segenap nyawa dan hidupnya. Sang alpha dikenal sebagai sosok pemimpin yang memiliki integritas tinggi, dia mungkin kejam terhadap musuh-musuhnya, tetapi bagi kawanannya dia merupakan sosok yang penuh kasih sayang yang tak dia tunjukan melalui kelembutannya, tetapi lewat ketegasannya.139Please respect copyright.PENANASchdVjgr99
Tubuh Kaenan bergetar dihadapan pusara sang ayah, ia menangis sejadi-jadinya. Malam tadi alpha Raven telah berpulang ke pangkuan dewi bulan, menyisakan luka yang mengaga dan ruang yang hampa dibenak Kaenan. Setelah hampir dua malam gabungan tim dokter terbaik dari bangsa werewolf dan bangsa elf berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan sang apha dari luka-luka menganga di tubuhnya, alpha Raven meninggal diatas meja operasi akibat kehabisan darah dan terpapar racun mematikan dari taring dan kuku-kuku para vampir yang telah berhasil melukai tubuh kekarnya. 139Please respect copyright.PENANAuf09bnQ9lg
Masih segar dalam ingatan Kaenan, bagaimana ia menyaksikan sendiri tabib agung dari bangsa werewolf dan bangsa penyihir berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan racun mematikan itu dari tubuh sang ayah. Mereka bahkan terlibat perdebatan sengit mengenai bagaimana cara menyelamatkan sang alpha, dan satu kata yang berhasil membuatnya tertarik sekaligus awal kemarahannya terhadap bangsa yang masih misterius bernama Lycan.139Please respect copyright.PENANAejBdr2SgcZ
"Kita butuh darah Lycan!" ujar salah satu tabib agung penyihir, dengan posisi telapak tangan tepat diatas dada alpha Raven. Dia dan penyihir agung werewolf tengah berusaha mengeluarkan aura pemusnah racun memalui tangan-tangan sakti mereka.139Please respect copyright.PENANABwEkPAvBar
"Ini bukan waktunya untuk bercanda Xiel, itu hanya mitos!" sanggah Bren sang tabib dari bangsa werewolf, dia pun memutuskan untuk menambah kekuataanya. "Oh dewi bulan...Jika memang bangsa Lycan itu ada, aku minta tunjukan keajaibanmu"
Brak! Slashhhh....
Pintu jendela terbuka, dan sebuah bayangan hitam secepat kilat terbang melewati ruangan lalu hilang kembali melalui arah yang sama, meninggalkan satu botol kecil cairan biru menyala dan sejuta tanda tanya. Kaenan yang melihat peristiwa tersebut dari sudut ruangan, berdiri lalu menyambar botol kecil itu dan menghampiri kedua tabib agung. "Berikan pada ayahku!" titahnya tanpa pikir panjang, kewarasannya berkata lain.
Tapi sayang, sang takdir memiliki kehendaknya sendiri, nyawa alpha Raven, raja sekaligus ayah tercintanya sudah tidak tertolong. Alpha Raven meninggal tepat saat botol kecil itu terbuka.
Pertempuran tiga hari yang lalu bukan hanya tentang mempertahankan wilayah, tetapi tentang kehormatan, warisan, dan masa depan. Dan ditengah duka dan nestapa, Kaelen menyadari satu hal, perang ini akan mengubah segalanya. Termasuk dirinya, sang pewaris tahta.
ns216.73.216.250da2


