Matahari sore baru saja terbenam, menyisakan semburat jingga keunguan di ufuk barat yang perlahan ditelan oleh kegelapan malam. Di dalam rumahnya, Ratna Kusuma berdiri di depan cermin besar kamarnya, merapikan lipatan jilbab segi empat berwarna marun yang membungkus kepalanya. Tangannya yang sedikit gemetar menyematkan jarum pentul di bawah dagu. Di balik kain jilbab yang santun dan gamis longgar berwarna abu-abu yang menutupi seluruh tubuhnya, jantung Ratna berdegup dengan ritme yang liar dan tak beraturan. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya, sebuah campuran antara rasa bersalah yang amat sangat dan gairah yang begitu membakar hingga membuat selangkangannya terasa berdenyut, hangat, dan mulai basah oleh cairan alaminya sendiri.
Hanya beberapa jam yang lalu, di atas meja kayu jati tebal di ruang kerja suaminya—meja yang sama yang biasa digunakan Ustadz Hadi untuk menyusun teks ceramah dan mengkaji kitab-kitab suci—Ratna telah diposisikan layaknya seekor binatang jalang oleh Fadhli. Pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu telah menggagahinya tanpa ampun, menghunjamkan batang kontolnya yang besar dan urat-uratnya yang menonjol keras ke dalam liang memek Ratna yang becek. Di atas meja itu, Ratna mendesah, mengerang, dan menyerahkan seluruh harga dirinya sebagai seorang istri ustadz ternama demi kepuasan duniawi yang belum pernah ia dapatkan dari suaminya yang dingin. Sisa-sisa peju panas milik Fadhli bahkan masih terasa mengalir perlahan, keluar dari lubang memeknya, membasahi celana dalam katun putih yang kini dipakainya, menciptakan sensasi lengket dan pengap yang justru terus-menerus merangsang saraf-saraf sensitifnya setiap kali ia melangkah.
Ratna menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Malam ini, suaminya, Ustadz Hadi, sedang pergi ke luar kota untuk menghadiri tabligh akbar dan baru akan kembali esok sore. Rumah itu seharusnya sepi. Namun, sore tadi sebelum pergi, Hadi sempat berpesan bahwa Fadhli—pemuda kontrakan belakang yang belakangan ini sering datang untuk belajar agama—akan datang berkunjung bersama seorang temannya dari luar kota yang ingin berkonsultasi mengenai masalah keluarga. Karena Hadi harus pergi mendadak, ia meminta Ratna untuk tetap menerima mereka dengan baik jika mereka terlanjur datang, memberikan teh hangat, dan menyampaikan permohonan maaf karena sang ustadz tidak bisa menemui mereka secara langsung.
"Mengapa harus malam ini? Mengapa Fadhli harus membawa orang lain ke rumah ini saat Mas Hadi tidak ada?" bisik Ratna pada bayangannya di cermin. Ada ketakutan yang nyata di dalam hatinya, namun jauh di lubuk jiwanya yang paling dalam, yang kini telah dikotori oleh manipulasi sensual Fadhli, Ratna tahu ada debaran antisipasi yang mengerikan. Fadhli bukan pemuda biasa. Fadhli adalah iblis berwajah tampan yang tahu persis bagaimana cara menghancurkan pertahanan moralnya. Setiap tindakan Fadhli selalu terencana, penuh tipu muslihat, dan selalu bertujuan untuk mendorong Ratna ke dalam jurang kehinaan yang lebih dalam.
Ketukan di pintu depan mengejutkan Ratna. Suara ketukan itu tidak keras, namun terdengar tegas dan berirama, seolah-olah sang pengetuk tahu persis bahwa wanita di dalam rumah sedang menunggunya dengan penuh kecemasan.
Ratna menarik napas dalam-dalam, menekan dadanya yang naik turun dengan cepat akibat detak jantung yang menggila. Jilbabnya sudah rapi, menutupi payudaranya yang besar dan padat, aset tersembunyi yang selama bertahun-tahun diabaikan oleh Hadi namun selalu dilahap dengan rakus oleh Fadhli. Gamisnya menjuntai longgar, menyembunyikan lekuk pinggulnya yang lebar dan pantatnya yang sintal, yang baru saja ditampar hingga memerah oleh telapak tangan kekar Fadhli beberapa jam lalu.
Dengan langkah yang diatur sepelan mungkin untuk menyembunyikan kegugupannya, Ratna berjalan menuju pintu depan. Aroma sisa persetubuhan mereka di ruang kerja seolah masih tercium di udara, bercampur dengan wangi pengharum ruangan mawar yang sengaja ia semprotkan untuk menyamarkan bau peju dan keringat. Ketika jemarinya menyentuh gagang pintu, Ratna merasakan sensasi dingin besi yang kontras dengan kehangatan tubuhnya yang sedang membara.
Ia membuka pintu perlahan. Di balik daun pintu kayu yang terbuka, berdirilah dua orang pemuda di bawah temaram lampu teras.
Orang pertama, tentu saja, adalah Fadhli. Malam ini ia mengenakan kemeja koko polos berwarna hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan otot-otot lengannya yang kekar dan berbulu tipis. Celana jeans gelapnya membungkus kaki panjangnya dengan pas. Wajahnya yang maskulin dihiasi oleh senyuman tipis yang sangat familier bagi Ratna—senyuman licik seorang predator yang tahu bahwa mangsanya sudah tidak berdaya. Matanya yang tajam langsung menusuk ke arah mata Ratna, lalu dengan berani turun ke arah dada Ratna yang terbungkus jilbab marun, seolah-olah ia bisa melihat menembus kain itu dan menelanjangi payudara besar berputing coklat yang beberapa jam lalu ia hisap dengan kasar.
Di sebelah Fadhli, berdiri seorang pemuda lain. Pemuda itu tampak sedikit lebih muda, mungkin seusia Fadhli atau setahun di bawahnya. Namanya, seperti yang kemudian diperkenalkan, adalah Dimas. Dimas memiliki perawakan yang cukup tegap, mengenakan kemeja kotak-kotak dan celana kain. Wajahnya tampak sedikit canggung dan tegang, matanya memandang Ratna dengan rasa hormat yang mendalam, tipikal pandangan seorang pemuda saleh kepada seorang istri ustadz yang dihormati di kampung tersebut.
"Assalamu’alaikum, Bu Ratna," sapa Fadhli, suaranya terdengar begitu sopan, begitu lembut, sangat bertolak belakang dengan suara berat penuh berang yang keluar dari tenggorokannya saat ia memerintahkan Ratna untuk mengulum kontolnya hingga ke pangkal di ruang kerja tadi siang.
"Wa’alaikumussalam... Fadhli," jawab Ratna, suaranya agak bergetar di ujungnya, namun ia mencoba sekuat tenaga untuk bersikap normal. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Dimas yang berdiri di samping Fadhli. "Dan... ini temannya Fadhli?"
"Iya, Bu Ratna. Ini Dimas, teman kuliah saya dari kota sebelah. Dia yang tempo hari saya ceritakan ke Ustadz Hadi, yang ingin meminta nasehat dan bimbingan terkait masalah di keluarganya," kata Fadhli dengan ekspresi wajah yang tampak begitu tulus dan prihatin.
Dimas segera menundukkan kepalanya sedikit, merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada sebagai tanda hormat. "Selamat malam, Bu Ustadz. Maaf merepotkan malam-malam begini. Saya Dimas."
Ratna tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kegelisahan yang merayapi seluruh permukaan kulitnya. "Oh, iya, Mas Dimas. Silakan masuk dulu, mari duduk di dalam. Tapi... mohon maaf sekali, sepertinya Mas Hadi tadi sore ada keperluan mendadak ke luar kota untuk mengisi tabligh akbar. Beliau baru pulang besok sore. Tadi beliau sempat berpesan, kalau Mas Fadhli dan Mas Dimas datang, diminta menunggu atau kalau memang mendesak, Mas Hadi meminta maaf karena tidak bisa menemui langsung malam ini."
Mendengar hal itu, Dimas tampak kecewa dan agak bimbang. "Oh, begitu ya, Bu? Waduh, sayang sekali. Padahal saya sengaja luangkan waktu malam ini karena besok pagi harus sudah kembali ke kampus."
Sebelum Dimas memutuskan untuk pamit pulang, Fadhli segera mengambil kendali situasi dengan kelicikannya yang luar biasa. Ia melangkah maju satu babak, melintasi ambang pintu, aroma parfum maskulinnya yang bercampur dengan bau tubuh khas lelaki yang sangat dikenal Ratna langsung menyeruak masuk ke indra penciuman wanita itu.
"Ah, sayang sekali kalau Dimas langsung pulang, Bu Ratna. Perjalanannya cukup jauh dari kota sebelah. Bagaimana kalau kita masuk dulu sebentar? Setidaknya Dimas bisa beristirahat sejenak sambil minum teh. Siapa tahu ada beberapa hal mendasar yang bisa saya diskusikan dengan Dimas di sini, memanfaatkan suasana rumah Ustadz Hadi yang tenang dan penuh berkah ini. Lagipula, saya juga sudah terlanjur berjanji pada Ustadz Hadi untuk mengembalikan beberapa buku tafsir yang saya pinjam kemarin," ujar Fadhli, matanya menatap Ratna dengan intensitas yang membuat lutut Ratna terasa lemas. Di balik kata-kata sopan itu, Ratna menangkap pesan tersembunyi yang berbahaya: *Jangan coba-coba mengusirku, Ratna, atau aku akan menghancurkanmu di depan temanmu ini.*
Ratna menelan ludahnya yang terasa kelat. Ia melirik ke arah Dimas yang tampak sungkan, lalu kembali menatap Fadhli. Tatapan mata Fadhli begitu dominan, seolah-olah ia sedang menelanjangi Ratna di ambang pintu itu juga. Denyutan di antara kedua paha Ratna semakin terasa nyata. Cairan becek di celana dalamnya terasa semakin hangat, mengingatkannya pada dosa yang baru saja mereka lakukan.
"I-iya, tentu saja. Silakan masuk, Mas Fadhli, Mas Dimas. Silakan duduk di ruang tamu. Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri. Saya akan buatkan minum di dapur," kata Ratna akhirnya, menyerah pada tekanan psikologis dan gairah terlarang yang diembuskan oleh kehadiran Fadhli.
"Terima kasih banyak, Bu Ratna. Anda memang istri ustadz yang sangat baik dan pengertian," sahut Fadhli dengan nada suara yang sedikit ditekan, menyiratkan ejekan yang tajam pada kata 'istri ustadz'.
Kedua pemuda itu melangkah masuk ke dalam rumah. Saat Fadhli berjalan melewati Ratna di koridor yang agak sempit menuju ruang tamu, bahunya sengaja bergesekan dengan payudara besar Ratna yang menonjol di balik gamis. Sentuhan singkat namun disengaja itu mengirimkan sengatan listrik instan langsung ke selangkangan Ratna. Ratna tersentak kecil, napasnya tertahan di tenggorokan, namun ia segera menundukkan kepala, berharap Dimas yang berjalan di depan Fadhli tidak menyadari interaksi mikro yang sangat cabul tersebut.
Fadhli dan Dimas kemudian duduk di sofa panjang ruang tamu. Ruang tamu itu ditata dengan sangat rapi dan islami, dengan kaligrafi ayat-ayat suci Al-Qur'an menghiasi dinding-dindingnya. Sebuah ironi yang sangat besar, mengingat di rumah inilah, di berbagai sudutnya, sang istri ustadz telah berulang kali ditekuk, ditunggingkan, dan diisi oleh kemaluan besar seorang pemuda pemuas nafsu.
Ratna berbalik arah menuju dapur untuk menyeduh teh, mencoba menjauhkan diri sejenak dari atmosfer berbahaya yang dibawa oleh Fadhli. Namun, saat ia melangkah menuju dapur, ia tahu bahwa malam ini tidak akan berjalan dengan mudah. Fadhli sengaja membawa Dimas ke rumah ini bukan tanpa alasan. Ada sebuah skenario gila dan penuh risiko yang sedang dipersiapkan oleh pemuda manipulatif itu, dan Ratna, dengan tubuhnya yang sudah sepenuhnya kecanduan dan tunduk pada kendali Fadhli, hanya bisa menunggu dengan pasrah ke mana arus nafsu ini akan membawanya.
Di dalam dapur yang bernuansa hijau muda yang sejuk, Ratna berdiri terpaku di depan kompor gas. Tangannya yang memegang ketel aluminium terasa dingin dan gemetar, sangat kontras dengan hawa panas yang mulai menjalar dari selangkangannya menuju ke seluruh tubuh. Ia menyalakan api kompor, membiarkan lidah api biru mulai memanaskan air untuk teh hangat yang akan disuguhkannya. Sambil menunggu air mendidih, Ratna menyandarkan pinggul lebarnya pada tepian meja dapur. Posisinya ini mendadak mengingatkannya pada kejadian beberapa hari lalu, di mana Fadhli menyergapnya dari belakang saat ia sedang mencuci piring, menaikkan gamisnya, dan langsung menghunjamkan kontol besarnya tanpa ampun hingga bokongnya menumbuk pinggiran meja ini berulang kali.
Ratna memejamkan mata erat-erat, meremas pinggiran meja kayu itu hingga buku-buku jarinya memutih. "Astaghfirullahal'adzim... kenapa pikiran ini selalu kembali ke sana?" bisiknya lirih, meratapi moralitasnya yang telah runtuh berkeping-keping. Namun, tubuhnya tidak bisa berbohong. Memeknya yang sudah terbiasa digempur oleh Fadhli kini merespons ingatan itu dengan memproduksi lendir asmara yang lebih banyak. Celana dalam katun putih yang dipakainya semakin terasa basah, lembap, dan menjepit hangat di antara celah bibir memeknya yang bengkak.
Dari ruang tamu, lamat-lamat terdengar suara obrolan antara Fadhli dan Dimas. Suara Dimas terdengar berat namun penuh keraguan, sementara suara Fadhli terdengar begitu berwibawa, dalam, dan penuh percaya diri, seolah-olah ia adalah seorang penasihat spiritual yang ulung, menggantikan posisi Ustadz Hadi.
"Jadi begitu, Fad... ibuku sejak ayah meninggal rasanya berubah. Dia sering kelihatan kesepian, tapi belakangan ini aku tidak sengaja melihatnya sering melamun sambil memandangi foto-foto lama. Aku takut dia salah jalan atau mencari pelarian yang tidak benar," terdengar suara Dimas mengalir, menceritakan masalah pribadinya kepada Fadhli dengan penuh rasa percaya.
Ratna, yang berpura-pura sibuk menyiapkan cangkir dan menuangkan gula ke dalam teko, mendengarkan obrolan itu dengan telinga yang terpasang tajam. Ia merasa iba pada Dimas, seorang pemuda yang tampak tulus mencari solusi. Namun di sisi lain, Ratna tahu betul betapa manipulatifnya Fadhli. Fadhli bisa menggunakan kelemahan psikologis siapa pun untuk keuntungannya sendiri.
"Kamu harus paham, Dim. Seorang wanita, apalagi yang sudah lama menjanda, memiliki kekosongan yang tidak bisa dipahami oleh anak laki-lakinya. Ada kebutuhan emosional, dan... ya, kebutuhan biologis yang terpendam. Kadang, di balik pakaian mereka yang sopan atau sikap mereka yang diam, ada badai nafsu dan kesepian yang sangat besar. Manusia itu lemah, Dim. Sekuat apa pun mereka menjaga kehormatan, jika dipicu oleh situasi yang tepat, mereka akan menyerah pada kodratnya," suara Fadhli terdengar begitu filosofis dan dalam.
Ratna yang mendengar kalimat itu langsung merasakan sindiran yang menghunjam tepat ke jantungnya. *Badai nafsu dan kesepian yang sangat besar...* Bukankah itu adalah gambaran dirinya sendiri? Seorang istri ustadz yang haus akan belaian, yang selama bertahun-tahun kelaparan secara seksual karena Hadi hanya menyentuhnya sebulan sekali dengan durasi beberapa menit yang dingin dan kaku? Fadhli sedang membicarakan ibu Dimas, namun matanya yang tak terlihat oleh Ratna seolah sedang menatap langsung ke dalam jiwanya yang jalang.
Air di dalam ketel mulai mendidih, mengeluarkan bunyi siulan kecil. Ratna segera mematikan kompor, menuangkan air panas ke dalam teko yang sudah diisi daun teh melati. Aroma wangi teh menyeruak, sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Ia menata tiga buah cangkir di atas nampan plastik berwarna coklat.
Saat Ratna sedang mengangkat nampan tersebut dan berbalik untuk berjalan menuju ruang tamu, langkahnya tiba-tiba terhenti. Sosok tinggi kekar Fadhli sudah berdiri di ambang pintu dapur yang remang-remang, menghalangi jalannya.
Ratna tersentak kecil, hampir saja menjatuhkan nampan di tangannya. "Ya Allah, Fadhli... kamu mengagetkan saya," bisik Ratna dengan nada setengah panik, matanya melirik ke arah ruang tamu untuk memastikan Dimas tidak melihat mereka.
Fadhli tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju dua babak, memaksa Ratna untuk melangkah mundur hingga pantat lebarnya kembali membentur meja dapur. Senyuman di wajah Fadhli malam ini tampak jauh lebih gelap dan berbahaya dari biasanya.
"Lama sekali buat tehnya, Bu Ustadz? Atau... Ibu sedang membayangkan sesuatu yang mesum di dapur ini?" bisik Fadhli, suaranya sangat rendah, hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Matanya yang liar langsung turun merayapi tubuh Ratna, terpaku pada gundukan besar payudara Ratna yang naik turun dengan cepat di balik jilbab marunnya.
"Fadhli, tolong... ada temanmu di depan. Jangan macam-macam malam ini, saya mohon," Ratna memelas, suaranya bergetar hebat. Kedua tangannya yang memegang nampan gemetar hingga cangkir-cangkir di atasnya berdenting pelan.
"Justru karena ada Dimas di depan, permainan malam ini akan menjadi jauh lebih menarik, Ratna," kata Fadhli, menanggalkan sebutan 'Ibu' yang biasa digunakannya untuk merendahkan status Ratna. Fadhli melangkah semakin dekat, menempelkan tubuh kekarnya yang hangat langsung ke tubuh Ratna. Ratna bisa merasakan kekerasan dada Fadhli yang bidang menekan payudara besarnya yang empuk.
Tanpa memedulikan nampan yang dipegang Ratna, tangan kanan Fadhli yang besar dan kasar merayap masuk ke balik jilbab lebar Ratna. Jari-jarinya yang kuat langsung mencengkeram tengkuk Ratna, sementara ibu jarinya mengelus rahang wanita itu dengan tekanan yang mendominasi. Ratna hanya bisa mendongak, matanya berkaca-kaca antara takut dan gairah yang meledak instant.
"Kamu tahu apa yang sedang kami bicarakan di depan, hm? Dimas sedang meratapi ibunya yang kesepian. Dia tidak tahu, bahwa wanita di depannya ini, seorang istri ulama yang sangat dihormatinya, sebenarnya adalah seekor pelacur kecil yang memeknya selalu mengocor setiap kali aku datang," bisik Fadhli kejam, namun kata-kata vulgar itu justru bertindak seperti afrodisiak yang paling kuat bagi Ratna.
"Ahhh... Fadhli, jangan... Dimas bisa dengar..." Ratna mendesah tertahan, mencoba menahan suaranya agar tidak membelah keheningan rumah.
"Biarkan dia mendengar sedikit. Biar dia tahu bagaimana suara erangan seorang wanita yang sedang dipenuhi nafsu terlarang," Fadhli tersenyum menyeringai. Tangan kirinya yang bebas kini turun ke bawah, merayap di atas kain gamis abu-abu Ratna, tepat di atas gundukan memeknya yang menonjol. Fadhli menekan telapak tangannya kuat-kuat ke selangkangan Ratna, memutar telapak tangannya di sana.
"Ohhh, Tuhan..." Ratna memejamkan mata, kepalanya terkulai lemas di pundak Fadhli. Sentuhan kasar namun tepat sasaran itu langsung mengenai klitorisnya yang sudah sensitif sejak siang. Kain gamis dan celana dalamnya yang basah kuyup terasa menempel ketat akibat tekanan tangan Fadhli. Ratna bisa merasakan betapa beceknya dirinya sendiri saat ini, cairan memeknya yang kental dan hangat melumuri jemari Fadhli dari balik kain.
"Bahkan belum aku telanjangi, memekmu sudah ngocor sebanjir ini, Ratna. Kamu benar-benar jalang yang tidak bisa diberi kelonggaran sedikit pun," cemooh Fadhli, menikmati ketidakberdayaan wanita matang di hadapannya.
"Fadhli, saya mohon... bawa teh ini ke depan. Kasihan Dimas..." Ratna berbisik di sela-sela napasnya yang memburu. Otaknya menyuruhnya untuk memberontak, namun tubuhnya justru bergerak berlawanan; pinggul lebarnya malah sedikit maju, menekan telapak tangan Fadhli agar gesekan di memeknya terasa lebih intens.
Fadhli terkekeh pelan, menyadari dualitas nakal dalam diri Ratna. Ia menarik tangannya dari selangkangan Ratna, lalu merebut nampan berisi teh dari pegangan wanita itu.
"Baiklah, kita layani tamu kita dulu. Tapi ingat, Ratna... malam ini belum selesai. Kamu harus ikut duduk di depan bersama kami. Aku ingin melihat bagaimana wajah sucimu menahan gairah saat aku mempermainkanmu di bawah hidung teman kuliahku sendiri. Kalau kamu menolak atau berbuat aneh, aku akan menceritakan pada Dimas apa yang kita lakukan di atas meja kerja suamimu siang tadi. Mengerti?" ancam Fadhli dengan mata berkilat penuh kemenangan.
Ratna hanya bisa mengangguk pasrah, bibirnya yang basah terbuka kecil, mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa sakit di dada. Fadhli berbalik dengan santai, membawa nampan teh itu menuju ruang tamu dengan langkah tegap, meninggalkan Ratna yang masih bersandar di meja dapur, mencoba merapikan kembali jilbab dan gamisnya yang sedikit berantakan, bersiap menghadapi ujian bahaya terbesar dalam hidupnya malam ini.
Ratna menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan lewat bibir yang masih terasa kelu. Ia mengusap pipinya yang terasa hangat, memastikan tidak ada rona merah yang terlalu mencolok sebelum melangkah keluar dari dapur. Dengan langkah yang sengaja diperlambat untuk menenangkan debaran jantungnya, Ratna menyusul Fadhli ke ruang tamu. Di sana, Fadhli sudah meletakkan nampan di atas meja kopi berkaki pendek, lalu duduk kembali di samping Dimas dengan wajah tanpa dosa.
"Mari, Mas Dimas, diminum tehnya. Maaf hanya ada teh hangat dan sedikit camilan seadanya," kata Ratna, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar keibuan dan ramah, selayaknya seorang nyonya rumah yang berbudi luhur.
Dimas mendongak, tersenyum sopan sembari memajukan tubuhnya. "Ah, ini sudah lebih dari cukup, Bu Ustadz. Terima kasih banyak, jadi merepotkan begini."
"Sama sekali tidak merepotkan, Mas," jawab Ratna sembari memosisikan dirinya duduk di sofa tunggal yang berada di sisi kanan meja, berhadapan serong dengan kedua pemuda itu. Posisinya ini sebenarnya cukup berjarak, namun dari sudut ini, pandangan mata Fadhli bisa dengan leluasa mengurung seluruh pergerakannya.
Fadhli meraih cangkirnya, menyesap teh hangat itu perlahan tanpa melepaskan pandangannya dari Ratna. "Dimas ini tadi sedang bercerita banyak hal, Bu Ratna. Terutama tentang kekhawatirannya sebagai anak laki-laki melihat ibunya yang belakangan ini tampak... berbeda. Lebih sering mengurung diri, melamun, dan seolah menyimpan rahasia besar dari anak-anaknya. Saya bilang pada Dimas, seorang wanita matang terkadang memiliki sisi misterius yang tidak akan pernah ia tunjukkan pada siapa pun, bahkan pada darah dagingnya sendiri."
Kata-kata Fadhli terdengar seperti sebuah analisis psikologis yang cerdas bagi Dimas, namun bagi Ratna, itu adalah sebuah cambukan verbal. Setiap patah kata yang keluar dari mulut pemuda itu bagaikan jari-jari kasar yang meraba-raba kembali rasa bersalah di dalam dadanya. Ratna tahu betul apa yang dimaksud dengan 'menyimpan rahasia besar'. Di balik jilbab marun yang menutup dada dan gamis abu-abu yang longgar ini, ia menyembunyikan identitas dirinya sebagai seorang istri ustadz yang telah melacurkan jiwanya pada pemuda di depannya.
Dimas mengangguk-angguk, wajahnya tampak merenungkan ucapan Fadhli. "Benar juga apa yang kamu katakan, Fad. Kadang aku merasa bersalah karena terlalu sibuk dengan urusan kuliah hingga tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan Ibu di rumah. Sebagai wanita yang sudah lama sendiri, mungkin ada ruang kosong di hatinya yang tidak bisa kupenuhi."
Fadhli meletakkan cangkirnya kembali ke tatakan dengan bunyi denting halus yang memecah keheningan. "Betul sekali, Dim. Wanita itu makhluk yang penuh perasaan. Di luar mereka bisa terlihat begitu tegar, begitu taat, dan begitu terjaga. Tapi di dalam... ketika mereka sendirian di malam hari, siapa yang tahu seberapa besar gejolak nafsu dan kerinduan yang mereka tahan? Kadang-kadang, mereka hanya butuh seorang pria yang tahu bagaimana cara membimbing... atau menjinakkan ego mereka."
Saat mengucapkan kata 'menjinakkan', Fadhli dengan sengaja menurunkan pandangannya ke arah celah di antara kedua paha Ratna. Tangan kanan Fadhli yang berada di bawah meja mulai bergerak. Ruang tamu itu menggunakan meja kopi yang posisinya agak rendah, dan sofa yang mereka duduki membuat ruang di bawah meja menjadi area remang-remang yang luput dari pandangan langsung Dimas, yang saat ini sedang tertunduk memandangi cangkir tehnya sendiri.
Ratna merasakan firasat buruk ketika melihat Fadhli sedikit memajukan posisi duduknya di ujung sofa. Benar saja, beberapa detik kemudian, ujung sepatu kulit hitam milik Fadhli merayap maju di atas karpet berbulu, melintasi batas bawah meja, dan dengan berani menyentuh ujung kaki Ratna.
Ratna tersentak kecil, tubuhnya menegang seketika. Ia mencoba menarik kakinya sedikit ke belakang, namun mata tajam Fadhli langsung berkilat menatapnya, memberikan isyarat ancaman yang tak terbantahkan. Jika Ratna bergerak terlalu drastis, Dimas pasti akan menyadarinya. Terjebak dalam pilihan yang mustahil, Ratna terpaksa membiarkan kakinya tetap di tempat.
Melihat mangsanya menyerah, Fadhli meningkatkan keberaniannya. Ujung sepatunya merayap naik, menggosok perlahan tulang kering Ratna dari balik kain gamis abu-abunya yang panjang. Sentuhan itu terasa begitu intens, mengirimkan gelombang panas yang langsung melesat menuju selangkangan Ratna yang sudah becek sejak di dapur tadi.
"I-ibu... Ibu harus bagaimana ya, Mas Dimas? Maksud saya, setiap manusia memang punya kelemahan," Ratna mencoba berbicara untuk mengalihkan perhatian Dimas sekaligus menutupi kegugupannya yang mulai memuncak. Suaranya terdengar agak serak dan sedikit bergetar, sesuatu yang ia harap dianggap Dimas sebagai bentuk rasa empati yang mendalam.
Dimas mengangkat wajahnya, menatap Ratna dengan pandangan penuh rasa hormat dan harap. "Itulah, Bu Ustadz. Saya bingung harus memulai pembicaraan dari mana dengan Ibu saya. Saya takut menyinggung perasaannya, atau malah membuatnya semakin menjauh. Menurut Bu Ustadz, sebagai sesama wanita, apa yang sebenarnya paling diinginkan oleh seorang wanita dalam kondisi seperti itu?"
Pertanyaan tulus dari Dimas terasa seperti lelucon paling kejam yang pernah didengar Ratna. Apa yang diinginkan wanita dalam kondisi kesepian? Ratna ingin berteriak bahwa wanita yang kesepian menginginkan belaian kasar, menginginkan tubuh kekar yang memeluknya hingga sesak, dan menginginkan batang kontol besar yang menghunjam masuk ke dalam memeknya hingga ia melupakan seluruh aturan agama dan moralitas, persis seperti apa yang telah dilakukan Fadhli padanya.
Sementara Dimas menunggu jawaban dengan khidmat, kaki Fadhli semakin gila bekerja di bawah meja. Ujung sepatunya kini sudah merayap naik ke antara kedua lutut Ratna, mencoba memisahkan kedua paha yang dijepit erat oleh wanita itu. Ratna menahan napas, kedua tangannya yang saling bertautan di atas pangkuan meremas kain gamisnya dengan sangat kuat untuk menahan erangan yang hampir lolos dari tenggorokannya.
"Wanita... wanita itu..." Ratna terbata-bata, matanya mulai berkaca-kaca menahan sensasi nikmat yang bercampur aduk dengan ketakutan yang luar biasa. "Wanita terkadang... hanya ingin didengarkan, Mas Dimas. Mereka... ahh..." Ratna menghentikan kalimatnya mendadak, menggigit bibir bawahnya erat-erot.
Di bawah meja, Fadhli berhasil menyelipkan ujung kakinya tepat di antara kedua paha Ratna yang sedikit terbuka akibat kepasrahan tubuhnya. Dengan gerakan memutar yang perlahan namun bertenaga, Fadhli menggosokkan ujung sepatunya tepat di atas gundukan memek Ratna yang terbungkus kain. Meskipun terhalang oleh lapisan gamis dan celana dalam yang basah, tekanan yang presisi itu langsung mengenai klitoris Ratna yang sudah sangat bengkak dan sensitif.
Cairan hangat dari liang sanggama Ratna seolah kembali ngocor, membasahi celana dalamnya hingga semakin lembap. Sensasi gesekan sepatu Fadhli di atas memeknya yang becek menciptakan jepitan nikmat yang menyiksa. Seluruh tubuh Ratna bergetar halus, payudara besarnya naik turun dengan ritme yang sangat cepat di balik jilbab marunnya.
"Bu Ustadz tidak apa-apa?" tanya Dimas dengan raut wajah khawatir, melihat perubahan ekspresi Ratna yang tampak menahan sesuatu dengan mata yang terpejam sesaat.
Fadhli terkekeh pelan, sebuah kekehan yang terdengar begitu wajar di telinga Dimas, namun terdengar begitu iblis di telinga Ratna. "Bu Ratna sepertinya terlalu mendalami masalahmu, Dim. Beliau ini memang sangat perasa dan selalu ikut merasakan kesulitan orang lain. Benar kan, Bu Ratna?"
Ratna membuka matanya, menatap Fadhli dengan pandangan yang sarat akan keputusasaan dan gairah yang tak tertahankan. "I-iya, Mas Dimas. Ibu... Ibu hanya merasa tersentuh dengan cerita Mas Dimas. Maaf, kepala Ibu tiba-tiba terasa sedikit pening," dusta Ratna, sembari terus berjuang mati-matian menahan gerakan panggulnya yang secara alami ingin membalas gesekan kaki Fadhli di bawah meja. Risiko malam ini begitu tinggi; satu desahan yang salah, satu gerakan yang terlalu mencolok, maka runtuhlah sudah seluruh kehormatan Ustadz Hadi dan dirinya di depan pemuda saleh ini. Dan di atas segalanya, Ratna menyadari dengan ngeri bahwa bahaya yang mengintai inilah yang justru membuat memeknya semakin basah dan kecanduan.
Satu menit terasa bagaikan satu jam bagi Ratna yang terjebak dalam siksaan kenikmatan di bawah meja ruang tamu itu. Dimas, yang sama sekali tidak menyadari badai syahwat yang sedang bergolak tepat di depannya, menyesap teh hangatnya dengan perlahan. Sementara itu, Fadhli terus memainkan jemari kakinya di atas gundukan memek Ratna yang semakin empuk, becek, dan berdenyut kencang. Gesekan lambat yang bertekanan kuat itu membuat Ratna harus mencengkeram lututnya sendiri dengan kuku yang hampir menembus kain gamis, menahan sekuat tenaga agar tubuhnya tidak meliuk pasrah.
"Kalau Bu Ustadz merasa kurang sehat, sebaiknya istirahat saja di kamar," kata Dimas dengan nada yang sangat tulus, menatap wajah Ratna yang kini dihiasi bulir-bulir keringat lembut di sekitar pelipis dan dahi. "Saya jadi merasa semakin tidak enak sudah mengganggu waktu istirahat Ibu."
"Ah, tidak apa-apa, Mas Dimas... Ibu hanya... hanya perlu sedikit udara segar," jawab Ratna terbata-bata. Matanya melirik tajam ke arah Fadhli, memohon dengan sangat agar pemuda laknat itu menghentikan siksaan kakinya.
Bukannya berhenti, Fadhli justru tersenyum licik. Ia menarik kakinya perlahan dari sela paha Ratna, memberikan kelegaan sesaat yang membuat Ratna mendesah lega secara refleks. Namun, kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik. Fadhli tiba-tiba mengubah posisi duduknya, bersandar ke sofa seraya meregangkan kedua kakinya.
"Dim, sepertinya aku harus mengembalikan buku tafsir yang kemarin aku pinjam dari Ustadz Hadi ke ruang kerjanya. Sekalian aku mau mengambil beberapa jilid lanjutannya yang sudah diizinkan beliau untuk kubawa pulang," kata Fadhli dengan nada santai, seolah hal itu adalah perkara biasa. Ia lalu menatap Ratna dengan binar mata yang penuh intrik. "Bu Ratna, boleh saya minta tolong ditemani ke ruang kerja Ustadz? Saya agak lupa di rak sebelah mana beliau menyimpan jilid kelima dan keenamnya."
Jantung Ratna serasa melompat keluar dari dadanya mendengar permintaan itu. Ruang kerja Hadi. Ruangan tempat mereka baru saja memadu kasih dengan begitu liarnya beberapa jam yang lalu. Tempat di mana aroma sisa persetubuhan mereka mungkin masih tertinggal secara samar. Fadhli sengaja ingin membawanya kembali ke sana, meningkatkan taruhan bahaya ini hingga ke tingkat yang paling ekstrem.
"Oh, silakan, Fad. Pergi saja dengan Bu Ustadz. Aku tunggu di sini sambil menghabiskan teh ini," sahut Dimas tanpa curiga sedikit pun. Bagi Dimas, Fadhli adalah sahabatnya yang saleh dan rajin menuntut ilmu agama pada sang ustadz, sehingga wajar jika Fadhli sudah terbiasa keluar masuk ruang kerja tersebut.
Ratna berdiri dari sofanya dengan lutut yang terasa gemetar dan lemas. Selangkangannya terasa sangat basah dan lengket; setiap gerakan kakinya membuat celana dalam yang kuyup oleh cairan memeknya menjepit bibir kemaluannya, menciptakan sensasi geli yang erotis. Ia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauan Fadhli, karena menolak hanya akan membuat Dimas bertanya-tanya atau memicu Fadhli untuk melakukan tindakan nekat yang lebih menghancurkan.
"Mari... Mas Fadhli. Saya antarkan ke ruang kerja Mas Hadi," kata Ratna, mencoba menstabilkan suaranya yang serak akibat menahan gairah.
Fadhli bangkit berdiri, tubuhnya yang tegap dan kekar tampak begitu dominan di ruang tamu yang sempit itu. Ia berjalan mengekor di belakang Ratna yang melangkah menuju koridor dalam rumah, arah menuju ruang kerja Ustadz Hadi yang terletak di bagian belakang, dekat dengan ruang keluarga.
Saat mereka berdua melangkah memasuki koridor yang remang-remang dan terlepas dari pandangan langsung Dimas, Fadhli mempercepat langkahnya. Tanpa peringatan, tangan kekar Fadhli merayap maju dari belakang, melingkari pinggul lebar Ratna, dan menarik tubuh matang itu hingga pantat sintalnya menumbuk keras selangkangan Fadhli.
"Ah!" Ratna memekik pelan, buru-buru membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan.
Fadhli mendekatkan wajahnya ke telinga Ratna yang tertutup jilbab marun, mengembuskan napas panasnya yang beraroma mint. "Bagaimana rasanya bermain di bawah hidung teman kuliahku, hm? Kamu lihat betapa bodohnya dia? Dia menganggapmu sebagai wanita suci, padahal memekmu dari tadi sudah ngocor membasahi karpet rumah suamimu sendiri."
"Fadhli... tolong, jangan di sini... Dimas hanya beberapa meter di depan..." Ratna berbisik panik, namun pantat lebarnya justru menggeliat pelan, merasakan tonjolan keras di balik celana jeans Fadhli yang menekan belahan pantatnya dari balik gamis. Batang kontol besar Fadhli rupanya sudah menegang sempurna, siap untuk merobek lubang memek Ratna kembali.
"Justru itu yang membuat kontolku tegang sekeras batu, Ratna. Risiko ini... ketakutanmu ini... membuat memek jalangmu memeras peju dengan sangat nikmat," bisik Fadhli seraya meremas sebelah pinggul Ratna dengan kasar, meninggalkan rasa sakit yang langsung berubah menjadi gelombang gairah di tubuh wanita itu.
Mereka tiba di depan pintu ruang kerja yang tertutup. Ratna membuka pintu kayu tersebut dengan tangan yang basah oleh keringat dingin. Begitu pintu terbuka, aroma ruangan yang khas—campuran bau buku tua, minyak wangi gaharu milik Hadi, dan... samar-samar wangi cairan sperma yang mengering dari pergumulan mereka siang tadi—langsung menyergap indra penciuman mereka.
Fadhli mendorong tubuh Ratna masuk ke dalam ruangan, lalu dengan gerakan cepat dan tanpa suara, ia menutup pintu di belakang mereka, memutar grendel kuncinya hingga terdengar bunyi *klik* yang halus namun menggelegar di dada Ratna. Ruang kerja itu kini terisolasi dari dunia luar, menyisakan mereka berdua dalam ruangan penuh kitab, dengan seorang pemuda lugu yang menanti di ruang tamu depan tanpa tahu bahwa istri sang guru sedang bersiap untuk dikuliti kembali oleh nafsu terlarang.
Bunyi klik dari kunci pintu yang berputar seolah memutus seluruh sisa hubungan Ratna dengan dunia luar, mengurungnya dalam ruang penuh dosa bersama iblis yang paling dicintainya. Di luar sana, hanya berjarak sekat dinding dan beberapa meter koridor, Dimas sedang duduk dengan tenang, menikmati teh hangatnya dalam ketidaktahuan yang absolut. Risiko tertangkap basah yang begitu nyata ini justru bertindak seperti minyak yang disiramkan ke atas api syahwat yang sudah membakar tubuh Ratna sejak sore tadi.
Fadhli tidak membuang waktu. Begitu pintu terkunci, ia langsung membalikkan tubuh Ratna dengan kasar hingga punggung wanita itu membentur daun pintu kayu jati tersebut. Ratna tersentak pelan, jilbab marunnya sedikit bergeser, memperlihatkan gurat lehernya yang putih bersih dan jenjang. Sebelum Ratna sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk memelas, Fadhli sudah merangsek maju, mengunci tubuh matang itu dengan kehangatan dadanya yang bidang.
Tanpa aba-aba, Fadhli menundukkan kepalanya, menyergap bibir Ratna dengan sebuah ciuman yang sangat kasar, menuntut, dan penuh dominasi. Lidah Fadhli yang hangat dan licin langsung menerobos masuk ke dalam rongga mulut Ratna yang pasrah, mengabsen deretan gigi dan mengulum lidah wanita itu dengan rakus. Ratna melenguh pasrah, kedua tangannya yang semula berniat menahan dada Fadhli justru perlahan merayap naik, mencengkeram erat bahu kekar pemuda itu untuk mencari pegangan karena lututnya sudah benar-benar lemas kehabisan tenaga.
"Mmph... ahh... Fadhli..." desah Ratna begitu Fadhli melepaskan pagutan bibirnya sejenak untuk berpindah menciumi leher dan rahang Ratna. Aroma parfum maskulin Fadhli bercampur bau peluh jantan membuat otak Ratna semakin tumpul untuk berpikir jernih.
"Lihat dirimu, Ratna. Kamu memohon agar aku berhenti di depan teman kuliahku, tapi begitu kita berdua di sini, memekmu langsung berdenyut minta diisi, bukan?" bisik Fadhli dengan suara berat yang serak penuh nafsu, seraya tangan kanannya merayap turun dengan cepat, menyingkap kain gamis abu-abu Ratna ke atas hingga sebatas pinggang.
Paha lebar Ratna yang mulus kini terekspos di udara dingin ruang kerja. Celana dalam katun putih yang dikenakannya tampak sudah berubah warna menjadi abu-abu gelap di bagian tengahnya, basah kuyup oleh lelehan lendir asmara yang ngocor tanpa henti sejak berada di ruang tamu tadi. Fadhli terkekeh sinis melihat pemandangan erotis itu. Dengan jari-jarinya yang kuat, ia langsung menyusup ke balik karet celana dalam Ratna, menangkup gundukan memek wanita matang itu yang terasa sangat hangat dan bengkak.
"Ahhh! Fadhli... pelan-pelan... jangan dilepas semua..." Ratna merintih pelan, menggigit jilbabnya sendiri agar suaranya tidak menembus keluar pintu.
Fadhli tidak mendengarkan. Jari tengahnya yang panjang dan kasar langsung dilesakkan masuk ke dalam liang memek Ratna yang sudah sangat becek dan longgar akibat persetubuhan mereka beberapa jam lalu. Cairan pelumas alami Ratna yang kental langsung menyambut jamahan jari Fadhli, berbunyi *ecek-ecek* pelan saat Fadhli mulai mengocok liang sanggama itu dengan ritme yang cepat dan dalam. Ibu jari Fadhli juga tidak tinggal diam; ia menekan dan memutar-mutar klitoris Ratna yang menonjol keras sekeras biji jagung.
"Ohhh God... Mas Hadi... ahhh... Fadhli, nikmat sekali... terus, keluarin pejumu di dalam..." Ratna mulai meracau, kehilangan seluruh akal sehatnya. Tubuhnya meliuk-liuk di depan pintu, panggul lebarnya bergerak maju mundur secara otomatis, membalas setiap tusukan jari Fadhli yang menghantam titik terdalam rahimnya. Sensasi jari Fadhli yang mengaduk-aduk memeknya yang basah kuyup membuat air madu Ratna semakin deras mengalir, melumuri pergelangan tangan Fadhli hingga menetes ke atas lantai ubin ruang kerja.
Fadhli tahu bahwa waktu mereka sangat terbatas. Dimas bisa saja memanggil atau curiga jika mereka terlalu lama di dalam ruangan. Sambil terus mengocok memek Ratna dengan satu tangannya, tangan kiri Fadhli bergerak cepat menurunkan resleting celana jeans-nya sendiri. Dari balik celana dalam hitamnya, menyembul keluar batang kontol besar Fadhli yang sudah menegang sempurna, urat-uratnya menonjol kemerahan, dengan ujung kepala kontol yang sudah mengeluarkan setitik air madu jantan yang jernih.
Fadhli menarik jarinya dari dalam liang memek Ratna, menyisakan lubang kemaluan wanita itu yang menganga lebar, memerah, dan terus berdenyut-denyut mengeluarkan cairan bening yang kental. Tanpa menurunkan gamis Ratna, Fadhli merenggut celana dalam katun putih itu hingga robek di bagian selangkangannya, membiarkan memek toge Ratna terekspos sepenuhnya.
"Posisikan pantatmu di meja, Ratna. Cepat, sebelum teman kuliahku bosan menunggu di depan," perintah Fadhli dengan nada mutlak yang tidak boleh dibantah.
Ratna, yang sudah sepenuhnya menjadi budak seks Fadhli, segera berbalik membelakangi Fadhli. Ia membungkuk di atas meja kerja suaminya, menumpukan kedua telapak tangannya di atas tumpukan kitab tafsir yang berdebu. Pantat lebarnya yang sintal ditunggingkan tinggi-tinggi ke arah Fadhli, menciptakan pemandangan yang luar biasa jalang di balik balutan jilbab santun yang masih melekat di kepalanya. Di bawahnya, liang memeknya yang becek bergoyang-goyang, seolah mengemis untuk segera ditusuk oleh batang keras yang sudah dikenalnya dengan baik.
Fadhli melangkah maju, menempelkan perutnya ke pantat Ratna. Ia memegang pangkal kontol besarnya yang panas, mengarahkan ujung kepalanya yang tumpul tepat di bibir memek Ratna yang sudah basah oleh lendir.
"Dengarkan baik-baik, Ratna. Setiap kali aku menghunjam ke dalam, kamu harus menahan desahanmu. Kalau Dimas sampai mendengar dan masuk ke sini, dia akan melihat bagaimana istri ustadz panutannya sedang ditunggingkan dan digenjot seperti pelacur murahan," bisik Fadhli memberi peringatan terakhir yang justru membuat memek Ratna menjepit-jepit kecil karena ngeri sekaligus super terangsang.
"Ahhh... i-iya Fadhli... tusuk sekarang... masukan kontol besarmu... ahh..."
Tanpa ampun, Fadhli menghentakkan pinggul kekarnya maju ke depan. *Plokk!* Batang kontol besar sepanjang dua puluh jentik itu langsung amblas masuk seluruhnya, tenggelam ke dalam kehangatan liang memek Ratna yang becek hingga pangkal kontolnya menumbuk keras bibir memek luar wanita itu.
"Ohhhmmphhh!" Ratna memekik tertahan, matanya terpejam erat, seluruh otot tubuhnya menegang hebat menerima invasi mendadak yang begitu besar dan padat. Liang memeknya yang elastis langsung menjepit ketat batang kontol Fadhli, memerasnya dengan kehangatan yang luar biasa nikmat. Saking beceknya Ratna malam ini, suara penetrasi itu terdengar sangat basah, *slurrp-chasss*, bergema samar di sudut-sudut ruangan yang sunyi.
Fadhli mulai melakukan gerakan mendayung. Ia menarik kontolnya keluar hingga tersisa ujungnya saja, lalu menghujamkannya kembali ke dalam dengan sentakan yang bertenaga. Setiap tumbukan membuat tubuh Ratna terdorong ke depan, menyebabkan tumpukan kitab di atas meja bergoyang pelan. Ratna mencengkeram pinggiran meja kayu jati itu dengan jari-jari yang memutih, kepalanya mendongak ke atas dengan bibir terbuka, meraup udara malam yang terasa gerah. Ia harus berjuang mati-matian menahan erangan kepuasan yang siap meledak dari tenggorokannya setiap kali kepala kontol Fadhli menyenggol dinding rahimnya yang sensitif.
"Ughh... nikmat sekali, Ratna... memekmu benar-benar menjepit kencang malam ini... ahh," Fadhli ikut mendesah rendah, menikmati jepitan dinding memek Ratna yang berlendir tebal. Gerakan pinggul Fadhli semakin lama semakin cepat dan liar, menciptakan ritme persetubuhan yang panas dan penuh risiko di balik pintu terkunci.
Di tengah-tengah puncak pergumulan terlarang itu, tiba-tiba dari arah ruang tamu depan, terdengar suara langkah kaki yang mendekat, diikuti oleh suara ketukan pintu luar koridor yang cukup jelas.
"Fad? Bu Ustadz? Maaf, bukunya sudah ketemu belum ya? Ini ada telepon dari ibu saya di rumah, sepertinya saya harus segera pamit pulang sekarang," suara Dimas terdengar memanggil dari luar koridor, jaraknya mungkin hanya terpaut beberapa meter dari pintu ruang kerja yang terkunci.
Mendengar suara Dimas yang begitu dekat, jantung Ratna serasa berhenti berdetak. Ketakutan yang amat sangat menyergap seluruh kesadarannya. Tubuhnya bergetar hebat, dan secara refleks, otot-otot di dalam liang memeknya mencengkeram kontol Fadhli dengan jepitan yang luar biasa kencang, sebuah reaksi panik yang justru mengantarkan mereka berdua ke ambang batas orgasme.
Fadhli yang merasakan jepitan super ketat itu langsung mengerang tertahan. Matanya berkilat liar penuh kemenangan. Alih-alih melambat karena takut ketahuan, kelicikan Fadhli justru membimbingnya untuk melakukan langkah yang paling gila. Ia memegang pinggang lebar Ratna dengan kedua tangannya, lalu melakukan tiga kali hentakan pamungkas yang sangat dalam, cepat, dan bertenaga, melesakkan seluruh batang kontol besarnya hingga mentok ke dasar rahim Ratna.
*Plok! Plok! Plok!*
"Ahhhmmphhh!" Ratna berguncang hebat, seluruh kesadarannya pecah saat liang memeknya meledak dalam orgasme yang paling dahsyat, mengeluarkan banjir cairan asmara yang pekat dari dalam rahimnya. Pada saat yang bersamaan, otot-otot kontol Fadhli ikut berkontraksi dengan hebat. Batang kekar itu berdenyut-denyut di dalam memek Ratna yang menjepit ketat, sebelum akhirnya menyemburkan lahar peju panas yang melimpah ruah, mengocor deras langsung ke dalam liang rahim Ratna, membanjiri bagian dalam wanita itu dengan benih dosanya.
Mereka berdua terpaku selama beberapa detik dalam posisi bertumbukan, napas mereka memburu dengan cepat namun harus ditahan agar tidak mengeluarkan suara. Sisa-sisa peju panas Fadhli terasa mengalir hangat di dalam perut Ratna, menciptakan sensasi penuh dan berdosa yang luar biasa nikmat.
"Fad? Di dalam kah?" suara Dimas kembali terdengar, kali ini ketukannya terdengar di pintu ruang kerja.
Fadhli dengan tenang menarik kontolnya keluar dari memek Ratna yang tampak berbusa putih akibat percampuran air madu dan peju yang meluap keluar. Dengan gerakan cepat, Fadhli merapikan kembali celananya, lalu berbisik di telinga Ratna yang masih lemas tak berdaya di atas meja.
"Rapikan pakaianmu, Ratna. Temui dia. Biarkan dia mencium aroma peju temannya sendiri yang melekat di tubuh suci istri ustadznya," bisik Fadhli seraya tersenyum iblis, sebelum berjalan menuju pintu untuk membukanya, meninggalkan Ratna yang buru-buru membenahi gamisnya dengan tangan yang gemetar hebat di tengah sisa-sisa kepuasan terlarang malam itu.3904Please respect copyright.PENANAW3OWKtbez7


