Chapter 7. Menuruti Ide Suami
14423Please respect copyright.PENANAYSBlQ0pKLB
14423Please respect copyright.PENANABpn5mPzIZU
Matahari menyelinap melalui jendela, menerangi partikel debu yang menari-nari di udara. Suasana rumah terasa hangat dan santai. Marwan sedang keluar untuk kegiatan penutupan bimtek kantornya di sebuah hotel. Sejak percakapan dengan Marwan, sebuah keberanian baru—atau mungkin kecerobohan—telah tumbuh dalam diriku. Hari itu, aku memilih untuk mengenakan daster favoritku yang berwarna lavender. Daster itu pendek, hanya sebatas paha pertengahan, dan yang paling riskan: aku tidak memakai apapun di baliknya. Ini perkembangan baru bagi diriku.
14423Please respect copyright.PENANAqfWoy74HS6
Awalnya aku menyiapkan makan siang, membereskan meja. Aku bisa merasakan pandangan Farel mengikutiku dari balik layar laptopnya, di mana dia pura-pura sibuk. Tapi hari ini, ada sesuatu yang berbeda dalam caranya memandang. Bukan lagi sekadar curi-curi pandang yang penuh rasa bersalah, tapi lebih lama, lebih berani, seolah-olah dia sedang mencoba untuk memahami sesuatu.
14423Please respect copyright.PENANA1CfSpNCDkP
Saat aku harus melintas tepat di depannya aku berhenti sejenak. Aku tahu persis apa yang bisa dia lihat dari sudut itu: siluet tubuhku yang terbungkus daster, tanpa garis bra dan celana dalam di baliknya. Dia tidak langsung menunduk. Matanya, yang biasanya menghindar, kali ini tertahan selama beberapa detik yang terasa sangat lama. Napasnya, kudengar, agak tersendat.
14423Please respect copyright.PENANAUgAuESVlPL
Alih-alih merasa dilanggar atau malu, sebuah sensasi listrik mengaliri tubuhku. Ini adalah respons yang selama ini kutunggu-tunggu. Sebuah pengakuan diam-diam bahwa aku, sebagai seorang wanita yang cantik dan bertubuh indah, memiliki efek padanya. Dengan senyum kecil yang sengaja kusembunyikan, aku berpaling padanya.
14423Please respect copyright.PENANAJhBG4cQRCM
"Farel," kataku, suaraku sengaja kubuat datar dan wajar, seolah tidak ada yang aneh. "Jadi lelaki itu harus berani. Kamu gak bisa seumur hidup sembunyi di balik rasa malu."
14423Please respect copyright.PENANAMZLlbytVOL
Dia mengangguk pelan, matanya masih tertuju padaku, seolah terpaku.
14423Please respect copyright.PENANAmBYvaGqZiv
"Kalau ada sesuatu yang kamu inginkan, atau sesuatu yang ingin kamu ungkapkan, kamu harus berani ngomong. Diam-diam dan ngintip itu gak baik untuk cowok."
14423Please respect copyright.PENANA0kbVi6uBzB
Aku berdiri di sana, memberinya waktu. Ruang tamu yang sunyi itu terasa seperti arena pertarungan, di mana ketakutan dan keberanian Farel sedang bertarung habis-habisan. Kulihat kerongkongannya bergerak menelan. Wajahnya memerah, tapi kali ini dia tidak menunduk.
14423Please respect copyright.PENANAB3Yr30Mewv
"Aku... aku..." suaranya serak, hampir seperti bisikan.
14423Please respect copyright.PENANA9eK7epYJ6R
"Ya? Katakan saja, Farel. Gak usah takut," bujukku lembut, seperti mendorong seorang anak untuk mengambil langkah pertamanya.
14423Please respect copyright.PENANAaIY5x7g3Q8
Dia menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan seluruh keberanian yang dimilikinya di dunia.
14423Please respect copyright.PENANAF5BTgl2oSZ
"Aku... suka liat Kak Nay," akhirnya meledak keluar dari mulutnya, cepat dan penuh beban. Begitu kata-kata itu terucap, dia langsung menutup wajahnya dengan tangan, tubuhnya meringkuk seolah bersiap menerima hantaman.
14423Please respect copyright.PENANAlBg7Kaouy7
Tapi yang kuterima justru adalah kemenangan. Jantungku berdebar kencang, bukan karena terkejut atau marah, tapi karena rasa puas yang begitu dalam. Akhirnya.
“Liat kak Nay kenapa Farel?” Tanyaku lebih mendesak.
“Itu…. Aku suka liat kak Nay telanjang. Kayak waktu di kamar mandi.”
14423Please respect copyright.PENANACUDku8teZz
Kuberjalan mendekatinya, dan dengan lembut mengangkat dagunya ke atas agar aku bisa melihat wajahnya. "Nah, gitu dong. Kalau jadi laki-laki harus berani ngomong," kataku, tersenyum. "Lihat? Gak ada yang terjadi kan? Kakak nggak marah. Justru kakak senang kamu jujur."
14423Please respect copyright.PENANAaa85MlNJfL
Dia menatapku, matanya membesar, penuh dengan rasa tidak percaya dan kelegaan. Seolah-olah sebuah beban berat telah diangkat dari pundaknya.
14423Please respect copyright.PENANALHS1zftOnG
"Itu wajar, Farel. Kamu lelaki, aku perempuan. Wajar kalau kamu suka lihat tubuh telanjang perempuan. Yang penting caranya. Jangan sembunyi-sembunyi. Berani bilang, itu baru cowok."
14423Please respect copyright.PENANA1a6cozLG4G
Aku membiarkan kata-kataku menggantung di udara. Dalam benakku, ini adalah terapi yang berhasil. Aku telah memberinya ruang yang aman untuk mengakui perasaannya, sesuatu yang tidak pernah dia dapatkan dari keluarganya. Aku telah menunjukkan bahwa ketertarikan pada wanita adalah hal yang normal, bukan sesuatu yang memalukan yang harus berakhir dengan pengintaian.
14423Please respect copyright.PENANA6Oo0swLxec
Tapi di balik kepuasan itu, di sudut gelap kesadaranku, ada bisikan kecil yang bertanya: Apakah ini masih tentang membantu Farel? Ataukah ini sudah menjadi semacam validasi untukku sendiri? Apakah senyum yang kini terukir di wajahku adalah senyum seorang kakak sepupu yang bangga, atau senyum seorang wanita yang baru saja mendapatkan pengakuan yang dia dambakan?
14423Please respect copyright.PENANApzerM7SEiQ
Aku berjalan ke kamar untuk melihat Aisya. Aman, anakku itu sedang tidur dengan lelap. Aku keluar kamar dan menuju ke dapur, aku bisa merasakan pandangannya mengikuti setiap gerakanku. Dan kali ini, aku tidak lagi merasa dia adalah sepupu yang pemalu yang perlu dibimbing. Dia adalah seorang lelaki muda, dan aku adalah wanita yang telah memberinya izin untuk memandang auratku. Aku seolah lupa bahwa aku seorang ustadzah dan wanita muslimah yang taat. Sebuah dinamika baru yang berbahaya dan memabukkan telah lahir di antara kami, dan batas-batas yang kugambar sendiri mulai terasa samar dan rentan.
14423Please respect copyright.PENANAjCER0ZrPlw
14423Please respect copyright.PENANAeFg18NeZsJ
Aku sedang mencuci piring di dapur ketika aku merasakan kehadirannya di ambang pintu. Aku tidak perlu menengok; aku sudah hafal dengan aura diamnya yang kini penuh keyakinan.
14423Please respect copyright.PENANAatdw2ZPNfw
"Kak Nay," suaranya, yang dulu lirih, kini terdengar lebih dalam dan mantap.
14423Please respect copyright.PENANAsoAFGSe1p4
"Ya, Farel?" jawabku tanpa menoleh, berusaha terdengar biasa.
14423Please respect copyright.PENANA9hU9coxREg
"Aku... mau lanjut omongan yang tadi."
14423Please respect copyright.PENANAmf02k33gNp
Aku mematikan keran dan berbalik, menyeka tangan dengan serbet. Dia berdiri di sana, bahunya lebih tegap, pandangannya menatapku langsung. Rasa malu yang dulu menyelimutinya seperti kabut telah sirna, digantikan oleh tatapan penuh hasrat yang membuatku sedikit bergidik.
14423Please respect copyright.PENANAigYvvxMWxr
"Obrolan yang mana Farel?" tanyaku, mencoba tetap tenang.
14423Please respect copyright.PENANA7zxIacMW41
Dia menarik napas. "Soal aku suka lihat Kak Nay telanjang itu." Dia jeda, matanya seolah memindai wajahku, mencari tanda-tanda penolakan. "Tapi... Waktu itu aku cuma bisa liat... sepintas."
14423Please respect copyright.PENANA6b6NKpqo8H
Jantungku mulai berdebar lebih kencang. Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini.
14423Please respect copyright.PENANAVubpS9lQtk
"Aku pengen liat Kakak. Lebih dari yang sebelumnya. Lebih... jelas."
14423Please respect copyright.PENANAIcccgDh7sy
Kelanjutan kisah ini bisa dibaca di victie https://victie.com/novels/kisah_nayla
Chapter 8. Kenikmatan pertama yang aku alami
Chapter 9. Aku tidak menyesal
Chapter 10. Melampaui Batas
Chapter 11. Papah pengen ngintip Mamah
Chapter 12. Live Show buat suamiku14423Please respect copyright.PENANAhBjj2X0153
Chapter 13. Kenikmatan terakhir dari Farel.14423Please respect copyright.PENANAfoiKSgq0Y3
Chapter 14. Mencari pengganti Farel14423Please respect copyright.PENANA8jIOXxLQmA
14423Please respect copyright.PENANAQNbRiwMypW
Gila Farel sudah jadi seberani itu karena dorongan nafsunya. Udara antara kami, panas dan berani. Sebuah pernyataan seperti itu harusnya membuatku marah, merasa dilecehkan. Tapi sekarang? Sekarang, setelah berminggu-minggu memainkan permainan berbahaya ini, setelah menikmati setiap pandangan dan setiap isyarat, kalimat itu justru menyalakan api yang telah lama membara dalam diriku.
14423Please respect copyright.PENANAiirRdlTjVz
Anehnya, atau mungkin tragisnya, tidak ada rasa bersalah yang muncul. Yang ada hanyalah sebuah godaan yang begitu kuat, menggoda dan memabukkan. Ini adalah puncak dari segala "terapi" yang aku lakukan, sebuah lompatan gila ke dalam wilayah terlarang yang selama ini hanya aku sentuh dari pinggirannya.
14423Please respect copyright.PENANAxd8j9bzER0
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku hanya menatapnya, membiarkan diamku berbicara. Aku lihat jam di dinding baru jam satu siang. Marwan paling cepat pulang ke rumah jam lima sore. Aisya sudah tidur. Di luar mulai hujan. Aku merasa bahwa semua aman. Lalu, dengan gerakan yang lambat dan disengaja, tanganku naik ke tali pengikat daster berwarna biru langit yang kupakai. Mata Farel membesar, napasnya menjadi lebih cepat, terlihat dari naik-turunnya dadanya.
14423Please respect copyright.PENANAFwrOXKVYZF
Dengan tarikan yang perlahan, tali itu terbuka. Daster itu, yang selama ini menjadi penghalang tipis antara "kakak" dan "wanita", kini terbuka dan meluncur dari pundakku, mendarat dengan lembut di lantai di sekeliling kakiku.
14423Please respect copyright.PENANAG3HpWKf61s
Aku berdiri di sana, telah sepenuhnya terbuka di hadapannya. Tidak ada lagi yang tersembunyi. Tidak ada lagi misteri. Payudaraku yang montok tersaji indah di hadapan Farel. Puting susuku mengacung dengan tegak. Coklat kemerahan. Aku sendiri terangsang dengan ketelanjanganku ini. Apalagi Farel. Belum lagi dengan bagian bawah tubuhku. Kemaluan paling terlarang milik aku yang tersaji tanpa penghalang. Bagian tubuh wanita yang susah payah ingin dia lihat dengan cara mengintip.
14423Please respect copyright.PENANAOlZFcJNDfq
Dia terdiam, terpana. Wajahnya bukan lagi wajah seorang anak laki-laki yang pemalu, tapi wajah seorang lelaki yang melihat, untuk pertama kalinya dengan bebas dari rasa takut, sesuatu yang selama ini hanya ada dalam imajinasinya atau dia lihat hanya lewat video. Memang dia pernah coba lihat dengan cara mengintip tapi aku tak yakin dengan cara itu dia bisa lihat semuanya. Kini dia lihat secara langsung dan nyata. Rasa takut telah digantikan oleh rasa kagum yang dalam dan penuh hasrat birahi.
14423Please respect copyright.PENANATNpVlQqoCN
"Ini yang kamu mau?" tanyaku, suaraku terdengar serak, jauh lebih berani daripada yang kurasakan dalam hati.
14423Please respect copyright.PENANAWg4Jewho0A
Dia mengangguk, hampir tidak percaya. "Iya," bisiknya. "Kakak... cantik sekali."
14423Please respect copyright.PENANAH7wl1pgI7M
Kalimat itu, yang diucapkan dengan penuh kekaguman polos, terasa lebih intim daripada sentuhan apa pun. Dalam keheningan rumah yang hanya diisi oleh napas kami yang tak beraturan, sebuah garis telah terlampaui. Aku, yang seharusnya menjadi pembimbing dan pelindung, telah menyerah pada godaan untuk menjadi objek yang dipuja. Dan Farel, yang datang sebagai anak yang tersesat, kini telah melihat sebuah sisi dari dunianya yang gelap—sebuah sisi yang kubicarkan untuk dia masuki, tanpa rasa bersalah, tapi dengan sebuah kepuasan gelap yang membuatku bertanya-tanya: siapa sebenarnya yang sedang menyelamatkan siapa? Dan di mana batas itu akan berakhir?
14423Please respect copyright.PENANAkeVoUHfSBv
Ruang keluarga penuh dengan hasrat dan godaan yang nyaris kasat mata. Daster biru langit itu masih tergeletak di lantai, sebuah pernyataan bisu tentang batas yang baru saja dilanggar. Aku berdiri di hadapan Farel, membiarkan dirinya menatap, menyerap setiap detail, memenuhi rasa penasarannya yang selama ini membara.
14423Please respect copyright.PENANAd8v1s0VcIo
Dalam diam, pikiranku bergejolak. Di satu sisi, nalar berteriak bahwa ini salah, sangat salah. Tapi di sisi lain, ada bagian diriku—bagian yang gelap, terabaikan, dan haus akan pengakuan—yang merasa ini adalah sebuah kemenangan. Lihatlah dia, Farel yang dulu begitu ringkih, kini berdiri tegap, matanya tidak lagi penuh rasa malu dan ketakutan, tetapi dengan kepercayaan diri yang baru lahir, meski dalam konteks yang begitu kelam.
14423Please respect copyright.PENANAsMMcOjSuQB
"Gitu dong, Farel," ucapku akhirnya, memecahkan kesunyian yang tegang. Suaraku sengaja kukontrol agar terdengar lembut dan membimbing, seolah ini semua adalah bagian dari pelajaran. "Kamu berani lihat tanpa malu-mulu. Kakak harap ini bikin kamu makin percaya diri. Bahwa melihat, bahkan mengagumi wanita itu hal yang wajar, asal dilakukan dengan cara yang benar."
14423Please respect copyright.PENANAxzlhxiWIcJ
Matanya, yang terpaku padaku, seakan menyala. Keberanian yang baru ditemukannya seperti anggur yang memabukkan. Dia tidak lagi melihatku hanya sebagai sepupu atau seorang kakak. Dalam pandangannya yang sekarang, aku adalah seorang wanita, dan dia adalah seorang lelaki.
14423Please respect copyright.PENANAPku22CstBA
"Kak Nay..." suaranya rendah, serak, penuh dengan keinginan yang belum terjelaskan. Dia mengambil satu langkah maju, lalu berhenti, seolah masih ragu untuk melintasi jarak terakhir yang memisahkan kami.
14423Please respect copyright.PENANAMZU1MUoykp
"Apa, Farel?" godaku lembut, memberinya ruang untuk berbicara.
14423Please respect copyright.PENANAey2VBBTV6e
"Dosa nggak, ya..." dia mulai, lalu menghela napas dalam, mengumpulkan seluruh nyalinya. "...kalau aku... pengen... menyentuh Kakak?"
14423Please respect copyright.PENANAgm9F1fdzlz
Kalimat itu mengguncang ruangan. Ini bukan lagi sekadar melihat. Ini adalah sebuah permintaan untuk melangkah lebih jauh, untuk mengubah fantasi menjadi kenyataan fisik. Jantungku berdetak kencang, bukan karena ketakutan, tetapi karena antisipasi yang liar. Godaan itu kembali menggoda, lebih kuat dari sebelumnya. Bagaimana rasanya disentuh olehnya? Oleh kepolosan yang telah berubah menjadi keberanian ini?
Bersambung
ns216.73.216.75da2


