Bab 4 : Siksaan sepanjang pagi di kantor
2917Please respect copyright.PENANAGN1mnlATRv
Ruangan kerja Ririn terasa semakin sempit dan panas meski AC kantor menyala maksimal. Jam tayang pukul 09.15, tapi bagi Ririn setiap menitnya terasa seperti satu jam penuh mendengarkan manis yang tak berujung. Ia duduk di kursi ergonomis di belakang meja kayu mahal, rok pensil hitam ketat menempel di paha putihnya yang halus. Di bawah rok itu, memek dan analnya sudah penuh sesak oleh dua dildo 18 cm yang tebal, kunci rapat dengan cincin logam dingin yang hanya Dimas yang bisa membuka.
2917Please respect copyright.PENANAcuAVGyE0iq
Getaran masih berada di level setelah pesan terakhir Dimas. Bzzz… bzzz… denyutan konstan itu menyebar dari anal ke memek, membuat dinding dalam kedua lubangnya berdenyut tanpa henti. Obat perangsang yang diminumnya pagi tadi sudah bekerja penuh; darahnya terasa mendidih, ceri-nya bengkak dan berdenyut nyeri karena ingin disentuh, sementara cairan orgasme alaminya terus mengalir pelan, membasahi pangkal memek hingga roknya terasa lembab di bagian dalam.
2917Please respect copyright.PENANATmPeUXDdu1
Ririn mencoba fokus pada layar laptop. Jari-jarinya mengetik laporan bulanan, tapi setiap huruf yang diketik disertai gelombang kecil kenikmatan yang membuat lututnya saling menekan. “Ah… sial…” gumamnya pelan dengan nada pemarah yang sudah mulai pecah. Matanya berwarna coklat yang biasanya memikat kini berkaca-kaca, pipinya merah muda karena panas yang menjalar dari perut ke dada.
2917Please respect copyright.PENANAtZY2v6H5YU
Tiba-tiba ponsel di meja bergetar. Pesan dari Dimas: “Naik ke level 3. Jangan desah keras.”
2917Please respect copyright.PENANAtCzoNahBfM
Jantung Ririn berdegup kencang. Sebelum sempat memprotes, getaran melonjak. BZZZZ… BZZZZ… getaran lebih kuat dan cepat membuat dildo di anal berputar perlahan di dalam lubang belakangnya yang sensitif. Dildo memek ikut bergetar hebat, urat-urat teksturnya menggosok dinding memek Ririn dengan sempurna.
2917Please respect copyright.PENANA10d5kCGmoZ
“Ngghhh !!” Ririn buru-buru menutup mulut dengan telapak tangan. Tubuhnya melengkung di kursi, bokong bulat besarnya bergeser tanpa sadar, membuat penis buatan semakin dalam. Sensasi penuh dan getaran itu seperti ribuan lidah kecil yang menjilat dari dalam. cairan orgasmenya semakin banyak, menetes pelan ke celana dalam tipis hingga ia bisa mencium bau birahinya sendiri yang manis dan pekat.
2917Please respect copyright.PENANA2NUNaYcN8M
Ia mencoba bernapas dalam-dalam, dada naik-turun dengan cepat sehingga payudara F cup-nya menekan kemeja putih ketat. puting pinknya sudah menekan kain bra, terasa nyeri dan panas. “Dimas… kamu benar-benar mau aku gila di sini…” bisiknya dalam hati.
2917Please respect copyright.PENANABpYODK5MpY
Sepuluh menit kemudian, pintu ruangan diketuk. Sekretaris masuk membawa dokumen peta. “Mbak Ririn, ini laporan dari divisi marketing yang diminta Pak Dimas.”
2917Please respect copyright.PENANA2tHsWM8whT
Ririn mengangkat wajah, berusaha tersenyum profesional. “Terima kasih…letakkan saja di sini.” Suaranya agak gemetar. Saat sekretaris meletakkan peta, getaran tiba-tiba naik lagi ke level 4 sesuai pesan baru dari Dimas. Ririn mencengkeram tepi meja kuat-kuat, kuku jarinya memutih.
2917Please respect copyright.PENANALtqFnjpJng
Di dalam tubuhnya, dildo anal bergetar ganas, kristalin dinding analnya yang sudah sensitif maksimal. memeknya berdenyut hebat, memijat dildo dengan kontraksi kecil yang tak terkendali. Ia merasa berada tepat di ambang orgasme—gelombang panas naik ke perut, ke dada, ke kepala—tapi obat pengunci membuat puncak itu tertahan, hanya membuat pemancaran semakin tak terganggu.
2917Please respect copyright.PENANAQFG5J7k2uq
“Apa ada yang lain, Mbak?” tanya sekretaris.
2917Please respect copyright.PENANADArjIqoh91
Ririn menggeleng cepat, menggigit bibir bawah hingga hampir berdarah. “Tidak… terima kasih…” Begitu pintu tertutup, ia langsung menunduk, napas tersengal. “Aaaah… aku tidak tahan lagi… ceriku mau meledak…”
2917Please respect copyright.PENANAC19m0dcqc8
Ia mengirim pesan ke Dimas dengan tangan gemetar: “Level terlalu tinggi… aku sudah basah sekali… tolong turunkan… aku mohon…”
2917Please respect copyright.PENANALqHzu7zC8h
Balasan cepat datang: “Turun ke level 2. Tapi kamu harus kirim foto memekmu sekarang juga. Buka rok sedikit dan foto.”
2917Please respect copyright.PENANA6aG1wlmOaf
Ririn melirik pintu ruangan yang terkunci. Dengan cepat ia berdiri, menarik rok pensil ke atas hingga pinggang. Celana dalam tipisnya sudah basah kuyup, pangkal penis memek mengkilap oleh cairan orgasme yang berlimpah. Ia memotret dengan ponsel, mengirimkan gambar close-up memeknya yang menganga di sekitar dildo hitam tebal.
2917Please respect copyright.PENANACC1xFQH5vc
Pesan Dimas: “Bagus.memekmu cantik sekali saat basah begini.Naik lagi ke level 3.”
2917Please respect copyright.PENANAGR6h4I9UkZ
Dapatkan kembali naik. Ririn hampir menjerit, buru-buru duduk dan menekan paha rapat-rapat. Sensasinya semakin gila. Setiap detik terasa seperti Dimas sendiri yang sedang mengenjotnya dari dalam. Ia membayangkan titit besar Dimas menggantikan dildo, membayangkan suara “plak plak” yang akan terdengar kalau pria itu ada di sini sekarang.
2917Please respect copyright.PENANAnHsIm7eOLR
Jam 11.00, ia harus menghadiri rapat kecil dengan tim sales. Ririn berjalan ke ruang rapat dengan langkah pelan dan hati-hati. Setiap ayunan kaki membuat dildo bergeser, getaran naik-turun mengikuti perintah Dimas melalui remote. Di dalam lift yang sempit, ia berdua dengan seorang karyawan laki-laki. Getaran melonjak ke level 4 tepat saat pintu lift tertutup.
2917Please respect copyright.PENANAjrJ66fqml6
“Ngghh…” Ririn menahan desahan di tenggorokan, tangannya memegang pegangan lift yang kuat-kuat. Pria itu meliriknya sekilas, “Anda baik-baik saja, Mbak?”
2917Please respect copyright.PENANA97W8Y9vjTN
“Ya… hanya… agak pusing…” jawab Ririn dengan suara parau. Di dalam tubuhnya, anal dan memeknya bergetar hebat. cairan orgasme yang terus mengalir, membuat celana dalamnya semakin basah. Ia merasa malu luar biasa—malu karena sedang basah di tempat umum, malu karena menikmati penurunan ini, tapi juga semakin terangsang karena rasa malu itu sendiri.
2917Please respect copyright.PENANAgQhRs0pi9c
Di ruang rapat, ia duduk di ujung meja. Presentasi berjalan, tapi Ririn hampir tidak mendengar apa pun. Getaran naik ke level tertinggi yang diizinkan di siang hari. BZZZZZZ!!! Tubuhnya menegang, pinggulnya bergeser pelan di kursi. Ia merasakan penis buatan di anal menekan titik sensitif di dalam, sementara penis buatan memek menggosok kristorisdari dalam dengan setiap getaran.
2917Please respect copyright.PENANA3qzWmMFVPP
Keringat menetes di atasnya, mengalir masuk ke bagian payudara. puting pinknya begitu keras sehingga terasa nyeri. Ia mencoba mencatat, tapi tulisannya berantakan. Rekan di sebelahnya bertanya, “Mbak Ririn, Anda setuju dengan target bulan ini?”
2917Please respect copyright.PENANAvnoi0x1WHQ
Ririn menarik napas dalam, berusaha menjaga nada suara. “Saya… setuju… tinggal kita optimalkan…” Suaranya hampir pecah di akhir kalimat. Di bawah meja, tangan mengepal roknya kuat-kuat. Gelombang orgasme yang ditahan sudah begitu dekat, begitu kuat, namun tetap terkunci. Siksaan itu membuat air mata menggenang di matanya.
2917Please respect copyright.PENANAdPI8eK5whq
Sepanjang rapat, Dimas terus bermain. Pesan demi pesan: “Naik”, “Turun sedikit”, “Bayangkan tititku yang menggantikan dildo memekmu”. Ririn merasa seperti boneka yang dikendalikan sepenuhnya. Bagian dirinya yang pemarah ingin berteriak dan melempar jarak jauh itu ke muka Dimas, tapi bagian yang semakin kuat—sisi yang suka didominasi—mulai menikmati setiap detiknya. Ia merasa hidup, merasa diinginkan, merasa benar-benar milik Dimas.
2917Please respect copyright.PENANACcjbkSZJ0M
Jam 11.45, rapat selesai. Ririn berjalan kembali ke ruangannya dengan langkah goyah. Bokong bulat besarnya bergoyang pelan, setiap langkah membuat penis bergetar dan getaran terasa lebih dalam. Ia masuk ke ruangan, mengunci pintu, lalu langsung bersandar di dinding.
2917Please respect copyright.PENANAqG0hvpJqro
“Aku… tidak tahan lagi…” bisiknya dengan suara gemetar. Tangannya turun ke bawah rok, tapi dia ingat larangan Dimas. Ia tidak boleh menyentuh. Hanya boleh menahannya.
2917Please respect copyright.PENANAfCWrPJSihl
Ia mengirim pesan terakhir sebelum makan siang: “Dimas… aku sudah menangis di sini… memek dan analku sakit karena ingin keluar… tolong… aku mohon izinkan aku orgasme… aku akan melakukan apa saja…”
2917Please respect copyright.PENANAwdrJNd5bem
Balasan Dimas datang disertai emoji api: "Datang ke ruanganku sekarang. Makan siang kita akan sangat spesial. Tapi kamu masih harus menahan sampai aku bilang boleh. Kalau kamu keluar tanpa izin, malam ini hukumannya akan membuat menangis kenikmatan sepanjang malam."
2917Please respect copyright.PENANA2TNBP4XBmR
Ririn memejamkan mata, air mata menetes di pipinya. Tubuhnya gemetar hebat, memeknya berdenyut nyeri, analnya penuh dan panas. Emosinya campur aduk—marah, malu, kecewa, tapi di atas semua itu ada hasrat yang sudah habis akal sehatnya.
2917Please respect copyright.PENANAiJMHkH9wqa
Ia bangkit, merapikan rok dan rambut hitam panjangnya yang sedikit acak-acakan. Dengan langkah goyah tapi penuh tekad, ia berjalan menuju ruangan Dimas. Setiap langkah terasa seperti langkah menuju surga sekaligus neraka kenikmatan.
2917Please respect copyright.PENANAlqz4N9jzit
Dan dia tahu, di balik pintu ruangan bosnya itu, membayangkan pagi yang panjang ini akan berubah menjadi ledakan yang mungkin membuatnya tidak bisa berjalan lurus lagi.
2917Please respect copyright.PENANAVmXK8p1bmN
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
2917Please respect copyright.PENANAeT0ViQVTQZ
2917Please respect copyright.PENANAm9xh12jmOR


