Matahari baru saja menampakkan ujung kemerahannya di ufuk timur ketika Ratna mendengar bunyi mesin mobil suaminya hidup. Dari jendela kamar tidur lantai dua, ia memperhatikan Honda Accord hitam itu bergerak keluar dari garasi, lalu melaju perlahan menghilang di ujung jalan beraspal. Ustadz Hadi telah pergi. Tiga hari dua malam. Sepeninggal pria itu, rumah megah yang selalu terasa membeku itu kini terasa lebih hampa, namun pada saat yang sama, udara di sekeliling Ratna seolah mendadak berubah menjadi lebih tipis, lebih mudah terbakar.
Ratna membalikkan badan, bersandar di dinding kamar, dan melepaskan napas panjang yang sedari tadi tertahan di rongga dadanya. Hari ini adalah hari pertama ia sendirian. Tak ada tatapan dingin Hadi. Tak ada perintah-perintah yang membosankan. Hanya dia dan keheningan. Dan kesunyian itu, alih-alih menakutkannya, justru membangkitkan sesuatu yang gelap di dalam dirinya.
Ia berjalan menuju lemari pakaian, membuka pintu kayu itu dengan gerakan yang lebih santai dari biasanya. Biasanya, ia akan langsung mengambil baju kurung paling longgar dan warna paling gelap, menyembunyikan dirinya dari pandangan dunia. Tapi pagi ini, tangannya berhenti pada sebuah baju kurung berbahan sifon berwarna sage green. Kainnya tidak tebal, cukup untuk menutupi aurat, namun cukup tipis untuk menampilkan lekuk jika terkena cahaya, dan desainnya memiliki kerah yang sedikit lebih rendah dari biasanya.
Tanpa berpikir panjang, Ratna mengenakannya. Di depan cermin, ia memperhatikan bayangannya. Bahan sifon itu jatuh indah mengikuti kontur pinggulnya yang lebar. Ia mengenakan bra renda berwarna putih di dalamnya, dan tanpa ia sadari saat memilih, putingnya yang sudah tegang sejak bangun tidur—mungkin karena mimpi buruk yang penuh gairah semalam—terlihat samar-samar menonjol di balik dua lapis kain itu. Dua tonjolan kecil yang memberontak, seolah menuntut untuk diperhatikan.
Ratna membetulkan jilbabnya, membiarkan sedikit rambut yang tak ikut tersampul jatuh membingkai wajahnya yang oval. Ia menyemprotkan sedikit parfum, lebih banyak dari biasanya, di leher dan pergelangan tangan. Aroma floral itu bercampur dengan aroma alami kulitnya yang sedikit berkeringat karena kelembapan pagi.
Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah dengan cepat—menyapu, mengepel, menyiapkan makanan yang tak akan ia makan siang ini—Ratna merasa gelisah. Ia berjalan keliling rumah, jari-jarinya memetik daun tanaman hias, matanya berkali-kali melirik ke arah jendela belakang. Hanya ada dinding pembatas dan pagar besi yang memisahkan rumahnya dengan kontrakan Fadhli. Dua meter. Hanya dua meter dari dosa yang sedang menunggunya.
Sekitar pukul sepuluh pagi, udara mulai terasa panas. Ratna mengambil selang air dan berjalan ke halaman belakang untuk menyiram tanaman. Ia memakai sandal jepit, rok hitam panjangnya sedikit tersapu air, membuat kain menempel di betisnya yang putih dan berdaging. Saat ia membuka kran dan air mulai memancur, terdengar suara decit dari arah pintu kontrakan seberang.
Jantung Ratna berdebar kencang. Ia tidak menoleh secara langsung, namun sudut matanya menangkap sosok Fadhli yang melangkah keluar ke teras.
Pemuda itu memakai kaus oblong putih yang ketinggalan di bahu, memperlihatkan kulit dada dan klavikelnya yang tegas. Celana training hitamnya melonggar di pinggang, digayuti oleh tali yang tak diikat erat. Rambutnya berantakan, seolah baru bangun tidur, dan di tangannya ia membawa gelas plastik berisi kopi.
Fadhli menopang tubuhnya di tiang teras, menatap Ratna yang sedang menyiram tanaman. Matanya yang tajam menyapu tubuh perempuan itu dari atas ke bawah, berhenti lebih lama di area pinggul dan paha yang tertutup rok basah.
"Pagi, Bu Ratna," sapa Fadhli, suaranya berat dan serak karena baru bangun tidur. Bass yang keluar dari tenggorokannya menggetarkan udara di antara mereka.
Ratna mematikan selang air dan perlahan menoleh. Ia mencoba menelan ludah, tapi tenggorokannya terasa kering. "P... pagi, Fadhli."
Fadhli tersenyum tipis, lalu mengambil langkah mendekat ke arah pagar pembatas. Ia berjalan dengan santai, namun setiap langkahnya terasa seperti predator yang sedang mengepung mangsanya. Ia berhenti tepat di balik pagar besi yang berjarak sekitar satu meter dari posisi Ratna.
"Kok sendirian aja, Bu? Biasanya kan suami Abang Hadi selalu ada di pagi hari," tanya Fadhli, meminum kopinya sambil matanya tak lepas dari wajah Ratna.
Ratna meremas ujung selang air di tangannya. "Mas Hadi ada daurah di luar kota. Pulangnya lusa."
"Oh..." Fadhli mengangguk pelan. Senyumnya melebar, menampilkan gigi-gigi putihnya yang mengancam. "Berarti Bu Ratna sendirian di rumah sebesar ini. Tidak takut?"
Dua kata itu menyentuh sesuatu di dalam diri Ratna. *Tidak takut?* Justru ia takut pada dirinya sendiri. Ia takut pada apa yang mungkin dilakukannya jika dibiarkan sendirian di dekat pemuda ini. "Tidak. Saya biasa."
"Bohong," kata Fadhli singkat. Ia meletakkan gelas kopinya di atas pilar pagar, lalu memegang celah-celah pagar besi itu dengan kedua tangannya. Jari-jarinya yang panjang dan kasar melingkari besi itu, membuat Ratna membayangkan bagaimana rasanya jika jari-jari itu menggenggam pinggulnya. "Kulit Bu Ratna merah. Napasnya ngos-ngosan. Itu bukan ciri orang yang tidak takut. Itu ciri orang yang sedang... gelisah."
Ratna tersentak. Ia tidak menyadari bahwa wajahnya memerah, atau bahwa napasnya memang sedikit memburu karena jarak mereka yang semakin dekat. Aroma maskulin dari tubuh Fadhli—keringat pagi, kopi, dan sedikit sisa rokok—meresap melalui celah-celah pagar, menghipnotis indra penciumannya. Aroma itu berbeda dengan attar dingin yang selalu melekat di tubuh Hadi. Aroma Fadhli hidup. Aroma itu memanas.
"Saya... saya hanya kepanasan," alasan Ratna, suaranya semakin tidak stabil. Ia mundur selangkah, mencoba menjaga jarak.
Tapi Fadhli tidak membiarkannya. Pemuda itu memajukan wajahnya ke arah celah pagar, mengurangi jarak di antara mereka hingga wajah mereka kini hanya terpisahkan oleh besi-besi penyekat yang tipis. "Kepanasan? Atau... kebelet?"
Kata terakhir itu diucapkan dengan bisikan yang sangat rendah, namun terasa seperti petir di tengah hari yang menyambar tepat di kemaluannya. Ratna membuka mata lebar, wajahnya seketika terasa sangat panas. *Kebelet.* Kata yang sangat vulgar, yang biasa digunakan untuk hewan yang sedang birahi. Dan Fakta bahwa Fadhli mengucapkannya padanya membuat memeknya berkontraksi hebat, memeras cairan yang langsung membasahi celana dalamnya.
"Fadhli! Jangan bicara seperti itu padaku!" Ratna membentak, namun suaranya bergetar, tanpa kekuatan, terdengar lebih seperti rayuan daripada kemarahan.
Fadhli tertawa pelan, suaranya berat dan menggoda. Ia menjulurkan tangannya melewati celah pagar. Ratna reflex mundur, tapi tidak cukup cepat. Ujung jari Fadhli berhasil menyentuh ujung jilbab Ratna, menahannya.
Jemari pemuda itu menyentuh kain jilbab yang menutupi dada Ratna. Sentuhan itu sangat ringan, hampir tak terasa, namun bagi Ratna, terasa seperti arus listrik bertegangan tinggi yang menembus kain, menembus kulit, dan langsung menuju ke putingnya yang sudah tegang keras. Ratna mendesis napas tertahan, lututnya mendadak lemas.
"Kenapa kamu lari, Nduk?" panggil Fadhli, suaranya kini tak lagi menyertakan embel-embel 'Bu', membuatnya terdengar jauh lebih intim, jauh lebih berbahaya. "Aku tidak menggigit. Aku hanya ingin mengenal tetangga baruku lebih dekat."
Tangan Fadhli bergerak turun perlahan dari ujung jilbab, turun ke bahu, lalu berhenti di lengan atas Ratna. Ia mengusap kulit Ratna di atas lengan baju kurung yang tipis. Sentuhan itu mengirimkan gelombang panas yang membakar setiap sel di tubuh perempuan itu.
Ratna gemetar hebat. Ia harus mendorong tangan itu. Ia harus berlari masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Tapi tubuhnya menolak bergerak. Ia terpaku di tempatnya, menikmati belaian kasar dari tangan pria yang bukan suaminya itu. Di bawah rok panjangnya, memeknya sedang mengeluarkan cairan yang sangat banyak, membuat celana dalamnya terasa seperti kolam yang banjir. Ia bisa merasakan lendir itu mengalir ke paha bagian dalam, panas, lengket, dan sangat menjengkelkan.
"Fadhli... tolong... lepas..." ratap Ratna, suaranya nyaris tak terdengar, bercampur dengan desahan yang tertahan.
Tangan Fadhli berhenti mengusap, lalu perlahan ia menjepit lengan Ratna dengan tekanan yang sedikit lebih kuat. Cengkeraman itu memiliki, menunjukkan kekuatan pria yang tak bisa dilawan. "Kau tidak mau aku lepas, Nduk. Kau berdiri di sini, membiarkan tanganku menyentuhmu, karena kau juga menginginkan ini. Bukan?"
Kata-kata itu adalah kebenaran yang menyakitkan. Ratna menunduk, menatap tangan Fadhli yang sedang mencengkeram lengannya. Tangan yang besar, urat-uratnya menonjol, dengan jari-jari yang kasar oleh kerja keras. Ia membayangkan tangan itu bergerak turun dari lengannya, merayap ke dada, meremas payudaranya yang berat, lalu turun lagi ke perut, menyusup ke bawah rok, dan merobek celana dalamnya yang sudah basah itu.
Ah... Ratna menutup matanya, membayangkan skenario itu membuat klitorisnya berdenyut begitu kuat hingga ia merasa bisa mencapai orgasme hanya dari sentuhan di lengan ini.
Tiba-tiba, terdengar suara telepon berdering dari dalam rumah Ratna. Suara itu memecah trance yang menjerat mereka berdua.
Ratna tersentak. Ia menarik lengannya dengan kasar, membebaskan diri dari cengkeraman Fadhli. Ia memandang pemuda itu dengan mata yang terbelalak, napasnya memburu, dan wajahnya yang merah padam.
Fadhli membiarkan lengannya lepas. Ia tersenyum, menyandarkan punggungnya di pagar, dan memasukkan tangannya kembali ke saku celana. Ia menatap Ratna dengan tatapan yang penuh kepuasan, seolah ia baru saja memenangkan sebuah pertempuran tanpa perlu mengeluarkan pedang.
"Sepertinya ada yang mencarimu, Nduk. Pergilah angkat teleponmu," bisik Fadhli, suaranya rendah dan mengejek.
Ratna tidak menjawab. Ia membalikkan badan dan berlari masuk ke dalam rumah, mengetuk pintu teras dengan kasar, lalu menguncinya. Ia bersandar di pintu, memegangi dadanya yang terasa akan meledak. Telepon di ruang tamu terus berdering, tapi ia tidak mempedulikannya. Yang ia pedulikan hanyalah napasnya yang memburu, jantungnya yang berdegup kencang, dan memeknya yang sedang menangis kelaparan di balik rok basahnya.
Ratna menunduk, melihat roknya. Di bagian paha, ada noda gelap yang mulai terlihat. Cairan dari memeknya telah merembes menembus celana dalam dan kain rok. Ia terlihat seperti orang yang baru saja mengomong, atau seperti perempuan tunasusila yang baru saja diperkosa di halaman belakang rumahnya sendiri.
Sementara itu, di luar, terdengar suara langkah Fadhli yang berjalan kembali ke teras kontrakannya. Pemuda itu duduk di kursi plastiknya, meminum sisa kopinya yang sudah dingin, dengan senyum yang masih tertinggal di bibirnya. Ia tahu ia telah memenangkan ronde pertama. Ia tahu bahwa isteri ustadz yang suci itu sedang berdiri di balik pintu yang terkunci, dengan memek yang becek dan pikiran yang dipenuhi oleh bayangannya.
Dan ia tahu, itu hanya permulaan. Karena Hadi tidak ada di rumah, dan Ratna sedang sendirian. Sangat sendirian. Dengan seekor serigala yang tinggal tepat di seberang pagar.
Ratna merayap ke lantai, meringkuk di samping pintu. Ia memasukkan tangannya ke bawah rok, menyentuh celana dalamnya yang kini sudah kuyup oleh cairan. Saat jarinya menyentuh klitorisnya yang bengkak, ia tak lagi bisa menahan desahannya.
"Ah... Fadhli..." erangnya, matanya terpejam, membayangkan cengkeraman tangan kasar itu turun ke selangkangannya. Ia menyodok dirinya sendiri dengan dua jari, brutal dan putus asa, mencoba mengusir rasa gatal yang kini telah berubah menjadi badai yang mengoyak dinding rahimnya.
Ia mencapai puncak dalam hitungan detik, tubuhnya kejang-kejang di atas lantai keramik yang dingin, membasahi tangannya dengan cairan pekat yang tak lagi bisa ia hitung volumenya. Tapi saat gelombang itu reda, yang tersisa hanyalah rasa hampa yang lebih besar.
Karena itu hanya jarinya sendiri. Ia butuh Fadhli. Ia butuh sentuhan nyata dari pemuda itu.
Dan ia tahu, hari masih panjang. Kesempatan itu masih terbuka lebar. Hadi jauh, dan Fadhli ada di sana, menunggu.
Ratna bangkit dengan kaki yang gemetar, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tapi di kepalanya, sebuah rencana mulai terbentuk. Rencana untuk melepaskan segala ikatan yang selama ini membelenggunya. Rencana untuk akhirnya membiarkan dirinya jatuh.
Jatuh ke pelukan dosa yang ia nantikan.
Siang itu terasa membakar. Bukan hanya karena matahari yang bersikap tak bersahabat, melainkan karena api yang telah dinyalakan oleh Fadhli di halaman belakang rumah Ratna kini menjalar tak terkendali, memakan dinding-dinding pertahanan yang selama ini ia bangun dengan keringat dan air mata.
Setelah kejadian di halaman belakang tadi pagi, Ratna bersembunyi di dalam kamar. Ia mengunci pintu, menarik gorden hingga ruangan diliputi kegelapan, dan duduk bersimpuh di atas karpet dengan punggung bersandar di ranjang. Tangannya masih gemetar. Bibirnya masih terasa panas, seolah bayangan napas Fadhli masih menempel di sana. Dan di antara pahanya... celana dalamnya sudah berganti tiga kali sejak pagi, namun tak ada satu pun yang mampu menahan genangan nafsu yang terus mengalir dari memeknya.
Apa yang baru saja terjadi? Fadhli menyentuhnya. Fadhli memegang lengannya. Fadhli membisikkan kata-kata yang tak seharusnya diucapkan pada isteri orang. Dan yang paling mengerikan, Ratna membiarkannya. Ia berdiri di sana, membiarkan jari-jari pemuda itu merayap di tubuhnya, dan tak berusaha melarikan diri hingga telepon berdering menyelamatkannya.
Telepon itu ternyata dari Ibu Murtilah, menanyakan jadwal pengajian besok. Ratna menjawab dengan suara yang ia usahakan senormal mungkin, meski jantungnya masih berdegup liar. Setelah menutup telepon, ia langsung berlari ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin, berharap bisa memadamkan panas yang tak kunjung reda.
Tapi air dingin itu tak bisa membersihkan dosa yang telah terlanjur terjadi di pikirannya. Ratna menatap dirinya di cermin kamar mandi—wajahnya yang merona, matanya yang berbinar tidak normal, dan bibirnya yang sedikit bengkak karena ia menggigitnya terlalu keras menahan desahan. Ia terlihat seperti perempuan yang baru saja bercinta, bukan isteri ustadz yang sedang menjalani hari biasa.
Ini gila. Ini benar-benar gila. Hadi baru saja pergi beberapa jam, dan Ratna sudah hampir menyerahkan dirinya pada pria lain. Apa yang akan terjadi jika Hadi pergi lebih lama? Apa yang akan terjadi jika Fadhli lebih agresif?
Ratna menggelengkan kepalanya keras-keras, memercikkan air dari rambut basahnya. Ia harus menguasai dirinya sendiri. Ia adalah Ratna Kusuma, isteri Ustadz Hadi, pengajar ngazi yang dihormati oleh seluruh jamaah. Ia bukan perempuan jalang yang bisa tergoda hanya karena suaminya pergi dan ada pria tampan yang tinggal di seberang rumahnya.
Tapi semakin ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, semakin kuat suara setan di dalam kepalanya berbisik: *Kau menginginkannya. Kau tahu itu. Kau basah hanya karena dia menyentuh lengannya. Bayangkan apa yang akan terjadi jika dia menyentuh lebih dari itu.*
Ratna menutup telinganya dengan kedua tangan, seolah bisa mengusir suara itu. Ia keluar dari kamar mandi, mengenakan baju rumah yang longgar, dan memaksa dirinya untuk melakukan aktivitas normal. Ia menyalakan televisi, mencoba menonton sinetron yang tak ia pahami alurnya. Ia membuka kitab, mencoba membaca ayat-ayat suci. Ia memasak makanan yang tak akan ia makan.
Tapi setiap beberapa menit, matanya akan melirik ke arah jendela. Halaman belakang rumahnya terlihat sepi, kontrakan Fadhli tampak tenang. Pemuda itu mungkin sudah keluar, atau mungkin sedang tidur siang. Ratna tidak tahu, dan ia berusaha keras untuk tidak peduli.
Sore harinya, saat matahari mulai merendam di ufuk barat dan udara di luar terasa lebih sejuk, Ratna memberanikan diri keluar rumah. Ia perlu membeli beberapa bahan makanan yang kehabisan stok, dan pasar tradisional hanya berjarak beberapa ratus meter dari kompleksnya. Ia mengenakan jilbab yang rapi, baju kurung yang sopan, dan berjalan keluar melalui pintu depan.
Langkahnya ringan, tapi pikirannya berat. Ia berharap dengan keluar dari rumah, ia bisa membersihkan kepalanya dari bayangan Fadhli. Ia berjalan melewati jalan utama kompleks, menyapa beberapa tetangga yang kebetulan berada di halaman rumah mereka, dan berusaha tersenyum senormal mungkin.
Saat ia melewati gang kecil yang menjadi jalan pintas menuju pasar, langkahnya terhenti. Di ujung gang, bersandar di dinding rumah kosong dengan tangan di saku celana, adalah Fadhli.
Pemuda itu memakai kemeja flanel hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan yang kekar dan urat-urat yang menonjol. Celana jeansnya ketat di paha, memperlihatkan bentuk kaki yang panjang dan berotot. Ia sedang merokok, menghembuskan asap ke udara dengan gerakan yang lambat dan penuh gaya, seolah ia sedang membintangi film daripada sekadar menunggu di gang yang sepi.
Ratna berhenti, jantungnya berdebar kencang. Ia ingin berbalik dan mencari jalan lain, tapi kakinya seperti tertanam di aspal. Matanya terpaku pada sosok Fadhli yang tampak semakin mempesona di bawah cahaya sore yang keemasan.
Fadhli mendongak, menangkap tatapan Ratna. Ia menyeringai, membuang sisa rokoknya ke tanah dan menginjaknya dengan ujung sepatu bootnya. Ia berjalan mendekat, langkahnya santai namun penuh kekuasaan, seolah ia tahu bahwa Ratna tidak akan lari darinya.
"Lagi mau ke mana, Nduk?" sapa Fadhli, suaranya berat dan rendah. Kali ini, ia dengan berani memanggil Ratna dengan sebutan yang intim itu, tanpa embel-embel 'Bu', seolah mereka sudah saling mengenal dalam jangka waktu yang lama.
Ratna menelan ludah, berusaha menjaga jarak. "Saya... saya mau ke pasar. Beli bahan makanan."
"Sendirian?" Fadhli memiringkan kepalanya, matanya menyapu tubuh Ratna dari atas ke bawah dengan tatapan yang tak bisa disembunyikan nafsunya. "Bahaya lho, perempuan secantik ini jalan sendirian di sore hari. Banyak orang jahat."
Ratna merasa wajahnya memanas karena pujian itu. "Saya... saya biasa sendirian. Rumah saya dekat."
Fadhli mendekat, mengurangi jarak di antara mereka hingga Ratna bisa mencium aromanya—parfum maskulin yang bercampur asap rokok dan keringat sore. Aroma itu memabukkan indra penciumannya, membuat kepalanya pening dan selangkangannya kembali memanas.
"Boleh aku ikut?" tanya Fadhli, suaranya rendah dan menggoda. "Aku juga perlu belanja. Baru pindah, kulkasku masih kosong."
Ratna terkejut. Ia ingin menolak, tapi kata-kata itu macet di tenggorokannya. Ia tahu jika ia menolak, Fadhli akan tahu bahwa ia takut, bahwa ia sedang berjuang melawan nafsunya sendiri. Dan Ratna tidak ingin terlihat lemah di hadapan pemuda ini.
"Terl... terserah kamu," jawab Ratna, suaranya hampir tak terdengar. Ia membalikkan badan dan melanjutkan jalan menuju pasar, berharap Fadhli tidak mengikuti.
Tapi tentu saja, Fadhli mengikuti. Ia berjalan di samping Ratna, bahunya hampir menyentuh bahu perempuan itu, membuat jarak di antara mereka terasa sangat dekat dan intim. Setiap langkah mereka, baju kurung Ratna akan bergesekan dengan kemeja Fadhli, menciptakan suara kecil yang membuat saraf-saraf Ratna bergetar.
Mereka berjalan dalam keheningan yang mencekam. Ratna tidak berani menoleh ke arah Fadhli, tapi ia bisa merasakan tatapan pemuda itu yang tak lepas dari tubuhnya. Ia tahu Fadhli sedang memperhatikan cara ia melangkah, cara pinggulnya bergoyang pelan di balik rok panjangnya, dan cara payudarinya sedikit terlihat bergoyang meski tertutup baju kurung yang longgar.
"Nduk," panggil Fadhli tiba-tiba, memecah keheningan.
"Ya?" Ratna tidak menoleh.
"Maaf soal tadi pagi. Aku tidak bermaksud menakutimu."
Ratna menelan ludah. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah ia harus marah? Apakah ia harus memaafkan? Atau apakah ia harus jujur bahwa ia menikmati sentuhan itu?
"Tidak apa-apa," jawab Ratna akhirnya, suaranya datar. "Kamu tidak menakutiku."
"Benarkah?" Fadhli menurunkan suaranya, membuatnya terdengar lebih dekat, lebih intim. "Karena dari cara kau berdiri tadi, kau tidak terlihat takut. Kau terlihat... lapar."
Kata 'lapar' itu menghantam Ratna seperti petir. Ia mempercepat langkahnya, berusaha menjauh dari Fadhli, tapi pemuda itu dengan mudah menyusulnya.
"Hei, aku bercanda, Nduk. Jangan tersinggung," kata Fadhli, kali ini nadanya lebih lembut, hampir seperti permintaan maaf. "Aku hanya... aku tidak bisa menahan diriku. Kau terlalu cantik untuk diabaikan."
Kata-kata itu membuat langkah Ratna melambat. Ia menoleh sekilas ke arah Fadhli, menemui mata pemuda itu yang tampak tulus namun penuh gairah. Cantik. Pemuda itu menyebutnya cantik. Bukan dengan niat merendahkan atau menggoda secara kasar, melainkan dengan pengakuan yang jujur, seolah ia sedang menyatakan fakta yang tak bisa dibantah.
Ratna cepat membuang mukanya, menyembunyikan senyum pahit yang terbentuk di bibirnya. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali seseorang menyebutnya cantik. Suaminya tidak pernah melakukannya, seolah kecantikan itu adalah sesuatu yang tabu untuk diapresiasi.
Mereka tiba di pasar tradisional yang ramai. Ratna berjalan di antara kios-kios sayur dan ikan, memilih bahan makanan dengan tangan yang terlatih. Fadhli mengikutinya, membawa keranjang belanja yang ia tawarkan untuk memikul, sebuah gestur kesopanan yang mengejutkan Ratna.
Saat Ratna sedang memilih tomat di sebuah kios, Fadhli berdiri di belakangnya. Jarak mereka sangat dekat—terlalu dekat untuk dua orang yang bukan muhrim. Ratna bisa merasakan panas tubuh Fadhli di punggungnya, bisa mencium aromanya yang memabukkan.
"Nduk, tomat yang ini bagus," Fadhli mengulurkan tangannya melewati bahu Ratna, mengambil sebuah tomat merah dari tumpukan. Lengannya yang kekar menyentuh bahu Ratna dalam gerakan itu, menciptakan sensasi listrik yang menjalar ke seluruh tubuh perempuan itu.
Ratna menarik napas tajam, hampir menjatuhkan tomat di tangannya. Ia merasa payudaranya seketika terasa berat dan putingnya tegang keras di balik bra dan baju kurungnya. Memeknya, yang sudah mulai tenang, kembali berdenyut dan mengeluarkan cairan yang hangat.
Fadhli mencondongkan tubuhnya, bibirnya mendekat ke telinga Ratna. "Maaf, lenganku kebesaran," bisiknya, napasnya yang hangat menyentuh daun telinga perempuan itu.
Ratna merasa kakinya melemas. Ia harus memegang tepi kios untuk menopang tubuhnya. Sentuhan itu... sentuhan itu terasa begitu nikmat, begitu memabukkan, dan begitu salah. Ia tidak seharusnya menikmati ini. Ia tidak seharusnya membiarkan pria lain berdiri begitu dekat dengannya, menyentuhnya, membisikkan kata-kata di telinganya.
Tapi ia tidak bisa bergerak. Ia terjebak dalam aura Fadhli, terhipnotis oleh kehadiran pemuda itu yang begitu mendominasi. Ia ingin Fadhli menyentuhnya lagi. Ia ingin pemuda itu memeluknya dari belakang, meremas payudaranya, mencium lehernya, dan melakukan hal-hal yang tak pernah suaminya lakukan padanya.
"Ambil ini, Nduk," Fadhli menawarkan tomat itu ke tangan Ratna. Saat perempuan itu mengambilnya, jari-jari mereka bersentuhan lagi. Kulit Fadhli terasa kasar dan hangat, sangat berbeda dari kelembutan kulit Ratna. Kontras itu membuat perempuan itu semakin gila.
Mereka melanjutkan belanja dengan Ratna yang semakin tidak fokus. Setiap kali Fadhli bergerak, setiap kali pemuda itu mendekat, Ratna merasa seluruh sarafnya berteriak. Ia bisa merasakan memeknya semakin basah, celana dalamnya semakin lembap, dan klitorisnya semakin bengkak oleh gairah yang tak tersalurkan.
Saat mereka selesai belanja dan berjalan kembali menuju rumah, matahari sudah hampir terbenam. Langit berwarna jingga keunguan, menciptakan pemandangan yang romantis yang tak sesuai dengan situasi mereka yang penuh dosa.
Fadhli membawa dua kantong plastik berat di tangannya, sementara Ratna membawa satu kantong yang lebih ringan. Mereka berjalan berdampingan di sepanjang gang yang semakin sepi seiring malam yang mendekat.
"Nduk," panggil Fadhli lagi.
"Iya?"
"Terima kasih sudah mengizinkanku ikut. Aku tidak mengganggu, kan?"
Ratna menggeleng pelan. "Tidak. Kamu tidak mengganggu."
Fadhli tersenyum, senyum yang tulus dan tanpa agenda tersembunyi untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu. "Aku senang. Karena aku... aku menikmati waktu bersamamu."
Kata-kata itu sederhana, tapi efeknya pada Ratna sangat besar. Ia merasa ada sesuatu yang hangat mekar di dalam dadanya, sesuatu yang tak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. Perasaan diinginkan. Perasaan dihargai. Perasaan bahwa kehadirannya berarti bagi seseorang.
Mereka tiba di depan rumah Ratna. Fadhli menghentikan langkahnya, meletakkan kantong-kantong belanjaan itu di depan pagar.
"Ini, biar aku bantu masukkan," tawar Fadhli, memungut kantong-kantong itu dan mengikutinya ke dalam halaman depan rumah.
Ratna ingin menolak, tapi ia tahu itu akan terlihat tidak sopan. Ia membuka pintu depan, membiarkan Fadhli masuk ke teras rumahnya untuk meletakkan belanjaan.
Saat Fadhli meletakkan kantong-kantong itu di atas meja di teras, ia menoleh ke arah Ratna. Mata mereka bertaut lagi, dan kali ini, tidak ada pagar yang memisahkan mereka. Hanya udara yang dipenuhi gairah yang tak terucapkan.
"Nduk," bisik Fadhli, suaranya serak. Ia memajukan langkahnya, mengurangi jarak di antara mereka. "Aku..."
Ia mengangkat tangannya, perlahan menyentuh pipi Ratna. Sentuhan itu lembut, penuh perhatian, sangat berbeda dari sentuhan di pagi hari yang penuh nafsu. Ratna menutup matanya, merasakan kehangatan dari telapak tangan Fadhli di kulitnya. Ia mendesah pelan, suaranya nyaris tak terdengar, tapi Fadhli pasti mendengarnya.
"Fadhli..." bisik Ratna, matanya masih tertutup. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia tidak tahu apakah ia harus mendorong tangan itu atau menempelkan wajahnya lebih dalam ke telapak tangan pemuda itu.
"Aku tidak bisa menahan diriku lagi, Nduk," bisik Fadhli, wajahnya semakin dekat, napasnya bercampur dengan napas Ratna. "Kau terlalu..."
Tapi sebelum Fadhli bisa menyelesaikan kalimatnya, sebelum bibir mereka bisa bertemu, terdengar suara motor mendekat dari arah jalan utama. Suara knalpot yang familiar terdengar semakin jelas.
Ratna tersentak. Ia mendorong tangan Fadhli dengan kasar, melangkah mundur hingga punggungnya menghantam dinding teras. Matanya terbelalak, wajahnya pucat pasi.
"Bukan..." bisik Ratna, suaranya gemetar. "Bukan Mas Hadi... dia bilang lusa..."
Tapi suara motor itu semakin dekat, dan saat Ratna melirik ke arah jalan, ia melihat sebuah motor familiar berhenti di depan rumahnya. Bukan Hadi. Adik iparnya, Rizal, yang kebetulan lewat setelah pulang kerja.
"Assalamu'alaikum, Kak Ratna!" sapa Rizal dari atas motornya, tampak terkejut melihat sosok pria asing di teras kakak iparnya.
Ratna cepat membetulkan jilbabnya dan ekspresi wajahnya, berusaha terlihat senormal mungkin. "Wa'alaikumussalam, Rizal. Ada apa?"
"Lewat aja, Kak. Eh, ini siapa?" Rizal menoleh ke arah Fadhli yang sedang berdiri canggung di teras.
Fadhli dengan cepat mengatur ekspresi wajahnya, memasang senyum ramah yang tak bersalah. "Fadhli, Bu. Tetangga seberang. Tadi bantu bawa belanjaan Kak Ratna."
Rizal mengangguk, tampaknya menerima penjelasan itu. "Oh, pindah baru ya, Bang? Salam kenal. Ya, Kak, aku duluan. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab Ratna dan Fadhli bersamaan.
Saat suara motor Rizal menghilang di ujung jalan, Ratna membuang napas lega. Tapi kelegaan itu cepat digantikan oleh kekecewaan yang tak ia mengerti. Bibir Fadhli hampir menyentuh bibirnya. Tangannya hampir meremas pinggulnya. Dan jika Rizal tidak lewat...
Fadhli berjalan menuju pintu teras, memberi jalan pada Ratna. "Sepertinya aku harus pergi. Malam ini aku ada keperluan."
Ratna mengangguk, tanpa menatap pemuda itu. Ia takut jika ia menatap Fadhli, ia akan melihat nafsu yang sama di mata pemuda itu, dan ia takut ia tidak akan mampu menahannya.
"Terima kasih atas bantuannya," kata Ratna, suaranya tertahan.
Fadhli tersenyum, lalu melangkah keluar dari teras. Sebelum ia meninggalkan halaman, ia menoleh sekali lagi. "Nduk."
Ratna menoleh, menatap Fadhli dengan mata yang masih berkaca-kaca karena gairah yang tak tersalurkan.
"Malam ini, kau tidak sendirian," bisik Fadhli, suaranya rendah dan penuh janji. "Aku di seberang. Jika kau butuh apa pun... aku ada."
Lalu pemuda itu berbalik dan berjalan meninggalkan halaman rumah Ratna, melintasi jalan, dan memasuki kontrakannya. Pintu ditutup, lampu teras dinyalakan, dan Ratna ditinggalkan sendirian di teras rumahnya dengan belanjaan yang mulai memanas dan memek yang menangis kelaparan.
Ratna memungut kantong-kantong belanjaan itu, memasukkannya ke dalam rumah, dan mengunci pintu dengan gemetar. Ia bersandar di pintu, menutup matanya, dan membayangkan apa yang akan terjadi jika Rizal tidak lewat. Apakah ia akan membiarkan Fadhli menciumnya? Apakah ia akan membiarkan pemuda itu meremas payudaranya di teras rumahnya sendiri?
Ya. Ia tahu jawabannya. Ia akan membiarkannya. Ia akan menyerah pada Fadhli tanpa perlawanan. Karena Ratna sudah muak menahan diri. Ia sudah muak menjadi perempuan suci yang tidak diinginkan oleh suaminya sendiri.
Malam itu, Ratna tidak bisa tidur. Ia berbaring di ranjang yang luas dan kosong, mendengarkan suara jangkrik dan desiran angin di luar jendela. Matanya menatap langit-langit yang gelap, tapi yang ia lihat adalah wajah Fadhli. Yang ia rasakan adalah sentuhan tangan pemuda itu di pipinya. Yang ia dengar adalah bisiknya: *Aku di seberang. Jika kau butuh apa pun... aku ada.*
Ratna merayap ke bawah selimut, tangannya sekali lagi menemukan jalan ke selangkangannya. Ia tidak memakai celana dalam malam ini—ia sengaja melepasnya, ingin merasakan udara dingin menyentuh memeknya yang sedang menangis.
Saat jarinya menyentuh klitorisnya yang bengkak, ia membayangkan itu adalah jari Fadhli. Ia membayangkan pemuda itu sedang berbaring di sampingnya, mencium lehernya, meremas payudaranya, dan menyodok memeknya dengan jari-jari yang kasar dan penuh gairah.
"Fadhli... oh Fadhli..." Ratna mendesah, pinggulnya bergerak menemui sodokan jarinya sendiri. Ia membayangkan kontol pemuda itu yang besar dan keras membelah liangnya yang sempit, merobek dinding-dinding rahimnya yang sudah lama tak disentuh, mengisapnya hingga ia menjerit nama pemuda itu.
Ia mencapai orgasme dengan erangan yang tertahan di bantal, tubuhnya berkontraksi hebat, memeras jari-jarinya sendiri seolah tak ingin melepaskannya. Tapi sekali lagi, kenikmatan itu hampa. Karena itu bukan jari Fadhli. Karena itu bukan kontol Fadhli yang sedang memenuhi rahimnya.
Dan Ratna tahu, esok hari, ia akan mencoba lagi. Ia akan mencoba mendekati Fadhli. Ia akan mencoba merasakan sentuhan nyata dari pemuda itu. Karena ia sudah tidak tahan lagi. Ia sudah gila karena kelaparan yang tak terpuaskan.
Di luar jendela, kontrakan seberang masih terang. Dan Ratna tahu, Fadhli juga belum tidur. Mungkin pemuda itu sedang memikirkannya juga. Mungkin pemuda itu juga sedang mengurus kebutuhannya sendiri sambil membayangkan isteri ustadz yang cantik dan kesepian di seberang rumahnya.
Bayangan itu membuat Ratna tersenyum. Senyum yang penuh dosa, penuh nafsu, dan penuh antisipasi.
Karena esok adalah hari baru. Dan Ratna bertekad, esok ia tidak akan melewatkan kesempatan yang hari ini terlewatkan karena kehadiran Rizal. Esok, ia akan membiarkan dirinya jatuh.
Dan ia tidak akan pernah kembali lagi.
Hari kedua tanpa Hadi datang dengan hujan lebat yang mengguyur kota sejak subuh. Suara tetesan air yang memukul atap rumah terdengar seperti dentuman drum yang monoton, menciptakan melodi kesunyian yang semakin membuat Ratna merasa terisolasi dari dunia luar. Tapi kesunyian itu bukan lagi musuh. Kini, ia menjadi sekutu yang membisikkan hal-hal terlarang di telinga Ratna.
Ratna terbangun lebih siang dari biasanya, sekitar pukul tujuh pagi. Tubuhnya terasa lemas, bukan karena kurang tidur, melainkan karena aktivitas larut malamnya yang terlalu intens. Ia membelalakkan mata di bawah selimut, menatap langit-langit kamar yang masih remang. Di sebelahnya, bantal tempat ia merintih dan menggigit semalam masih lembap, meninggalkan noda gelap yang menjadi bukti pengkhianatannya pada kesucian pernikahannya.
Ia merentangkan tubuhnya, merasakan pegal di pinggang dan paha dalam. Memeknya masih terasa sangat sensitif, bengkak sedikit karena gesekan jari-jarinya sendiri yang brutal semalam. Namun, sensitivitas itu justru membuatnya semakin sadar akan keberadaannya. Setiap kali ia menggerakkan kaki, ia bisa merasakan bibir memeknya yang tebal bergesekan satu sama lain, mengirimkan kejut-kejut listrik kecil yang membuatnya mendesah dalam hati.
Saat ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi, langkahnya sedikit menjinjit. Celana dalam yang ia kenakan—sehelai katun tipis berwarna putih—sudah terasa lembap lagi hanya dalam hitungan menit setelah ia bangun. Tubuhnya tampaknya telah kehilangan kendali. Seperti keran yang bocor, memeknya terus meneteskan cairan yang hangat dan lengket, seolah menangis karena kehilangan sesuatu yang tak pernah ia miliki.
Saat air shower mengalir di tubuhnya, Ratna menutup matanya dan membiarkan tangannya menjelajahi setiap inci kulitnya. Ia membayangkan tangan Fadhli menggantikan tangannya. Membayangkan jari-jari kasar itu menyusuri lehernya, meremas payudaranya yang berat, memutar putingnya yang tegang, lalu turun ke perutnya yang berkontraksi, dan akhirnya menyusup ke antara paha-pahanya yang rapat.
Ratna mendesah saat bayangan itu menghantam pikirannya. Tangannya otomatis turun, menyentuh kemaluannya yang basah di bawah aliran air. Ia memijit klitorisnya perlahan, bukan untuk mencapai orgasme, melainkan untuk menenangkan denyutan yang tak kunjung reda. Tapi alih-alih tenang, sentuhan itu justru menambah intensitas gairahnya. Ia membayangkan Fadhli berdiri di belakangnya di kamar mandi ini, memeluk pinggangnya, menempelkan kontolnya yang keras ke pantatnya yang montok, sambil membisikkan kata-kata kotor di telinganya.
Ah... Fadhli... Ratna menggigit bibirnya, menahan desahan yang hampir lolos. Ia harus berhenti. Ia tidak boleh terus seperti ini. Ia bukan binatang yang tidak bisa mengontrol nafsunya.
Dengan paksa, Ratna menarik tangannya dari kemaluannya. Ia mematikan shower dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk, lalu berjalan menuju lemari pakaian.
Hari ini, ia tidak memakai baju kurung. Sejak Hadi pergi, ia merasa ada kebebasan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia mengenakan blus lengan panjang berbahan katun tipis berwarna putih, dipadukan dengan rok hitam yang menjuntai hingga mata kaki. Di dalamnya, ia mengenakan bra push-up yang membuat payudaranya terlihat lebih terangkat dan penuh, menciptakan lekuk belah yang dalam di kerah blusnya yang sedikit terbuka.
Saat ia berdiri di depan cermin, ia menyadari bahwa penampilannya hari ini jauh berbeda dari biasanya. Ia terlihat... lebih hidup. Lebih feminin. Lebih menggoda. Dan ia tahu untuk siapa ia berdandan seperti ini.
Untuk Fadhli.
Sekitar pukul sepuluh pagi, hujan mulai reda. Ratna melihat kesempatan itu. Ia mengambil keranjang cucian yang sudah penuh sejak dua hari lalu dan berjalan ke halaman belakang. Biasanya, ia menggunakan mesin cuci, tapi hari ini ia memilih untuk mencuci manual di bak belakang rumah. Alasannya sederhana—bak cucian itu berada tepat di samping pagar pembatas dengan kontrakan Fadhli, memberikannya alasan yang sah untuk berada di luar rumah.
Ratna memulai mencuci dengan gerakan yang lambat. Ia membasahi baju-baju kurung suaminya dengan air, menuangkan deterjen, lalu mulai menggosoknya dengan sikat. Telinganya waspada, menangkap setiap suara dari arah seberang. Suara langkah kaki. Suara pintu terbuka. Suara korek api yang dinyalakan.
Ia tahu Fadhli ada di teras.
Tapi Ratna tidak menoleh. Ia terus mencuci, membiarkan sikatnya bergerak monoton di atas kain, sementara jantungnya berdebar kencang menantikan suara yang ia dambakan.
"Nduk!"
Suara itu akhirnya datang, membuat Ratna tersentak. Ia memutar kepalanya perlahan, menemukan Fadhli yang sedang bersandar di pagar pembatas dengan sebatang rokok di tangan kanannya dan secangkir kopi di tangan kirinya. Pemuda itu memakai kaus oblong abu-abu dan celana jogging hitam, rambutnya masih berantakan, menandakan ia baru saja bangun.
"Fadhli," sapa Ratna, suaranya lebih lembut dari yang ia rencanakan.
"Hujannya deras banget tadi malam ya?" Fadhli menghembuskan asap rokok ke udara, matanya menatap Ratna dengan intensitas yang membuat perempuan itu merasa telanjang. "Kamu tidak kedinginan?"
Ratna menggeleng, tangannya terus menggosok baju di bak cucian, berusaha terlihat sibuk. "Tidak. Saya biasa."
Fadhli meminum kopinya pelan, lalu berjalan mendekat ke arah pagar. Ia berhenti tepat di balik besi-besi pembatas, jaraknya hanya terpaut kurang dari satu meter dari Ratna.
"Nduk, kemarin..." Fadhli memulai, suaranya lebih rendah, lebih hati-hati. "Maaf soal di teras rumahmu. Aku tidak bermaksud melanggar batas. Aku hanya... terbawa suasana."
Ratna berhenti menggosuk. Jantungnya berdebar lebih kencang. Ia menoleh, menatap Fadhli dengan mata yang sayu. "Kamu tidak perlu meminta maaf."
Fadhli mengangkat alisnya, seolah terkejut dengan jawaban Ratna. "Benarkah? Kau tidak marah?"
Ratna menelan ludah. Ia harus jujur. Setidaknya pada dirinya sendiri. "Tidak. Saya... saya tidak marah."
Sesaat keheningan memenuhi udara di antara mereka, hanya dipecahkan oleh suara tetesan air dari bak cucian dan kicauan burung yang mulai keluar setelah hujan reda. Fadhli menatap Ratna dengan tatapan yang berubah, dari penuh penyesalan menjadi penuh keingintahuan.
"Kalau kau tidak marah..." Fadhli membuang sisa rokoknya, lalu memajukan wajahnya lebih dekat ke celah pagar. "Apa artinya kau juga menikmatinya?"
Pertanyaan itu adalah jebakan. Jika Ratna menjawab ya, ia mengakui bahwa ia telah berkhianat pada suaminya, bahwa ia telah menikmati sentuhan pria lain. Jika ia menjawab tidak, ia berbohong pada dirinya sendiri, dan ia tahu Fadhli tidak akan mempercayainya.
Ratna memilih untuk tidak menjawab. Ia membalikkan badan kembali ke bak cucian, menyembunyikan wajahnya yang memerah dari pandangan Fadhli. "Saya harus menyelesaikan cucian ini."
Tapi Fadhli tidak mau menyerah. Ia meraih selang air yang tergantung di dekat pagar, lalu berjalan mendekat ke bak cucian Ratna. Ia berdiri di sisi lain bak, tepat di depan Ratna, hanya terpisahkan oleh bak plastik yang penuh busa sabun.
"Biarkan aku bantu," kata Fadhli, mengulurkan tangannya untuk mengambil sikat cucian dari tangan Ratna.
Saat tangan mereka bersentuhan, Ratna kembali merasakan aliran listrik yang sama seperti kemarin. Sentuhan itu singkat, tapi cukup untuk membuatnya menarik napas tajam. Ia menatap tangan Fadhli yang sedang memegang sikat—tangan yang besar, kasar, dengan urat-urat yang menonjol dan jari-jari yang panjang. Ia membayangkan tangan itu bukan memegang sikat, melainkan memegang payudaranya, mencengkeramnya dengan kuat, meremas daging yang kenyal dan lembut itu.
Ratna menggigit bibir bawahnya, menahan desahan yang terancam lolos. Di bawah rok hitamnya, celana dalam putihnya mulai memanas dan lembap kembali.
Fadhli mulai menggosok baju di bak cucian, tapi matanya tidak fokus pada pekerjaannya. Ia terus menatap Ratna, memperhatikan setiap gerakan perempuan itu, setiap tarikan napas, setiap kemerahan di pipinya.
"Nduk, kau tahu tidak?" Fadhli berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari Ratna. "Sejak pindah ke sini, aku selalu melihatmu. Dari pagi sampai malam. Kau selalu sibuk. Menyapu, memasak, mencuci, mengaji. Kau tidak pernah berhenti."
Ratna menunduk, fokus pada busa sabun di tangannya, berusaha mengabaikan kata-kata Fadhli yang semakin menusuk pertahanannya. "Itu tugas saya sebagai isteri."
"Tugas?" Fadhli menyeringai, suaranya mengandung nada sinis yang samar. "Kau menyebutnya tugas? Bukan pengorbanan? Kau begitu sempurna, Nduk. Kau melakukan semua itu sendirian, sementara suanimu... di mana dia?"
Pertanyaan itu menohok Ratna. Ia berhenti menggosuk, tangannya mencengkeram kain baju di bak cucian. Di mana suaminya? Di masjid. Di kantor yayasan. Di perjalanan. Di mana pun, asal tidak di sisi isterinya yang membutuhkannya.
"Mas Hadi sedang pergi," jawab Ratna, suaranya datar, berusaha menyembunyikan rasa sakit yang tiba-tiba menyapu dadanya.
"Ya, aku tahu. Tiga hari dua malam, kan?" Fadhli meletakkan sikat cucian, lalu memajukan tangannya ke arah Ratna. Ia mengusap rambut yang menutupi wajah perempuan itu, menyampulkannya ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat lembut.
Ratna tersentak, ingin menjauh, tapi kakinya menolak bergerak. Sentuhan Fadhli di wajahnya terasa sangat nikmat, sangat tepat, sangat... dibutuhkan. Ia memejamkan mata, menikmati belaian jari-jari pemuda itu di kulit wajahnya yang halus.
"Kau sangat cantik, Nduk," bisik Fadhli, suaranya berat dan penuh gairah. "Sangat cantik. Dan sangat kesepian. Aku bisa melihatnya di matamu. Kesepian yang sudah lama sekali menghantuiimu."
Kata-kata itu menghancurkan dinding terakhir yang memisahkan Ratna dari kejatuhannya. Ia membuka mata, menatap Fadhli dengan mata yang berkaca-kaca. Benar. Pemuda itu benar. Ia kesepian. Sudah bertahun-tahun ia kesepian, hidup di samping pria yang tidak pernah melihatnya sebagai perempuan, yang lebih memilih kitab suci daripada merangkul isterinya yang sedang menangis di tengah malam.
"Fadhli..." Ratna mendesah, suaranya serak. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia hanya tahu bahwa ia tidak ingin sentuhan itu berhenti.
Fadhli mengusap pipi Ratna dengan ibu jarinya, lalu membelai rahangnya yang halus. Ia memajukan wajahnya lebih dekat, mengurangi jarak di antara mereka hingga Ratna bisa merasakan napasnya yang hangat dan bercampur aroma kopi.
"Aku tidak akan menyakitiimu, Nduk," bisik Fadhli, matanya menatap langsung ke mata Ratna. "Aku hanya ingin membuatmu merasa... hidup. Merasa diinginkan. Seperti yang seharusnya kau rasakan."
Lalu, perlahan, Fadhli memiringkan wajahnya. Bibirnya mendekati bibir Ratna, memberikan kesempatan pada perempuan itu untuk mundur, untuk menolak, untuk menyelamatkan dirinya dari dosa yang akan menghancurkan hidupnya.
Tapi Ratna tidak mundur.
Ia menutup matanya, menyerahkan dirinya pada momen yang telah ia nantikan sejak hari pertama ia melihat pemuda itu. Bibirnya sedikit terbuka, menanti sentuhan yang akan membawanya ke jurang kenikmatan yang tak bisa dikembalikan.
Namun, sebelum bibir mereka bertemu, sebuah suara memecah keheningan.
"Ibu! Ibu!" Suara anak-anak dari arah depan rumah membuat Ratna tersentak. Ia mendorong Fadhli dengan refleks, melangkah mundur hingga pinggangnya menghantam tepi bak cucian.
"Ibu Ratna! Ada paket untuk Ibu!" Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat. Anak-anak dari tetangga yang sering membawakan paket untuk rumah Ratna.
Ratna dengan cepat membetulkan jilbabnya dan ekspresi wajahnya, berusaha terlihat senormal mungkin meski jantungnya berdegup sangat kencang hingga terasa berdentang di telinganya. Ia menoleh ke arah Fadhli, yang sedang berdiri dengan senyum pahit di bibirnya, seolah ia juga kecewa karena momen itu terputus.
"Aku... aku harus pergi," kata Ratna, suaranya gemetar. Ia meninggalkan bak cucian tanpa menyelesaikan pekerjaannya, berjalan cepat menuju pintu belakang rumah.
"Nduk!" panggil Fadhli dari belakang.
Ratna berhenti, tapi tidak menoleh.
"Besok," kata Fadhli, suaranya tegas dan penuh janji. "Besok, aku akan ke rumahmu. Jam sepuluh pagi. Kita perlu bicara."
Ratna tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam rumah, mengunci pintu, dan bersandar di sana dengan napas yang memburu. Tangannya gemetar hebat, wajahnya terasa sangat panas, dan di antara pahanya, celana dalamnya sudah basah kuyup oleh cairan yang tak ia minta.
Besok. Jam sepuluh pagi. Di rumahnya.
Fadhli akan datang ke rumahnya. Sendirian. Tanpa Hadi. Tanpa gangguan. Dan Ratna tahu, jika pemuda itu melangkah masuk ke rumahnya besok, tidak ada jalan untuk kembali. Ia akan jatuh ke dalam dosa yang tak bisa dimaafkan.
Tapi saat ia memejamkan mata dan mengingat sentuhan Fadhli di wajahnya, Ratna menyadari satu hal yang mengerikan:
Ia tidak ingin kembali.
Ia ingin jatuh. Ia ingin dihancurkan. Ia ingin merasakan bibir Fadhli di bibirnya, tangan Fadhli di tubuhnya, dan kontol Fadhli di dalam memeknya yang sudah lama menangis kelaparan.
Malam itu, Ratna tidak bisa tidur. Ia berbaring di ranjang, mendengarkan suara hujan yang kembali turun dengan derasnya. Matanya menatap langit-langit yang gelap, tapi yang ia lihat adalah wajah Fadhli. Yang ia rasakan adalah belaian jari-jari pemuda itu di pipinya. Yang ia dengar adalah bisiknya yang penuh janji: *Besok, aku akan ke rumahmu.*
Ratna merayap ke bawah selimut, tangannya sekali lagi menemukan jalan ke selangkangannya. Ia membayangkan Fadhli berada di atasnya, menimbanya dengan tubuh yang kekar, menciuminya dengan gairah yang tak tertahankan, dan memasukkan kontolnya yang besar dan keras ke dalam liangnya yang menangis.
Fadhli... Fadhli... Ratna mendesah, jarinya bergerak lebih cepat, lebih dalam, memompa memeknya yang sangat basah dengan brutal. Ia membayangkan kontol pemuda itu merobek dinding rahimnya, mengisapnya hingga ia menjerit, mengisi rahimnya yang kosong dengan peju yang panas dan banyak.
Ah! Fadhli! Ratna mencapai puncak dengan erangan yang tertahan, tubuhnya bergetar hebat, memeras jari-jarinya sendiri seolah tak ingin melepaskannya. Tapi kali ini, kenikmatan itu tidak terasa hampa. Karena ia tahu, besok, fantasinya akan menjadi kenyataan. Besok, ia tidak akan lagi merangsang dirinya sendiri sambil membayangkan pemuda itu. Besok, Fadhli akan ada di rumahnya, dan Fadhli akan melakukan apa yang selama ini suaminya abaikan.
Ratna tersenyum di dalam gelap, senyum yang penuh dosa dan antisipasi. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tapi ia tahu satu hal: hidupnya akan berubah selamanya.
Dan ia siap menyambut perubahan itu dengan kaki yang terbuka lebar.
Malam itu adalah siksaan terpanjang dalam hidup Ratna. Hujan yang turun tanpa henti sejak sore membuat udara di dalam kamar terasa sangat lembap dan dingin, namun tubuh Ratna seolah memiliki sistem pemanasnya sendiri. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan Fadhli yang hampir menciumnya di bak cucian siang tadi langsung berkelebat, membuat jantungnya berdebar dan memeknya kembali membanjiri celana dalamnya.
Pukul dua dini hari. Ratna terbangun dari tidur yang dangkal, merasa lapar—bukan lapar perut, melainkan lapar yang jauh lebih primitif. Ia merintih pelan, membalikkan tubuhnya di atas ranjang, dan tanpa sadar tangannya merayap ke bawah selimut. Celana dalamnya sudah basah lagi. Ia tidak pernah berpikir bahwa seorang perempuan bisa menghasilkan cairan sebanyak ini, seolah tubuhnya sedang memberontak dan menangis meminta sesuatu yang tak pernah diberikan.
Ratna menarik napas panjang, mencoba menahan dirinya untuk tidak menyentuh kemaluannya. Ia ingin menyimpan nafsunya untuk besok. Ia ingin datang pada Fadhli dalam keadaan kelaparan, bukan kenyang. Tapi bayangan bibir Fadhli yang hampir menyentuh bibirnya itu terus menghantuinya. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika ciuman itu terjadi. Apakah bibir Fadhli terasa kasar? Apakah lidah pemuda itu akan langsung memasuki mulutnya? Apakah Fadhli akan mendesahkan suara berat itu saat bibir mereka bertemu?
Ah... Ratna tidak tahan lagi. Tangannya menyusup ke dalam celana dalamnya, menyentuh klitorisnya yang bengkak dan sangat sensitif. Ia membayangkan tangan Fadhli di sana, membayangkan jari-jari kasar itu memijitnya, memasukkan dirinya ke dalam liangnya yang menangis.
Fadhli... Ratna mendesah, jarinya bergerak lebih cepat. Ia membayangkan pemuda itu berada di atasnya di ranjang ini, menahan pergelangan tangannya di atas kepala, menatapnya dengan mata yang gelap dan penuh gairah, lalu menciumnya dengan brutal sementara pinggulnya mendorong masuk ke dalam tubuhnya.
Orgasmenya datang dengan cepat dan keras, membuat tubuhnya berkontraksi hebat dan mulutnya terbuka dalam bisikan yang putus asa. "Fadhli... oh God... Fadhli..."
Setelah gelombang itu reda, Ratna terbaring lemas di atas ranjang, menatap langit-langit yang gelap. Air matanya mengalir pelan di pipi, bukan karena sedih, melainkan karena frustrasi. Kenikmatan dari tangannya sendiri tak pernah cukup. Ia butuh Fadhli. Ia butuh sentuhan nyata dari pria itu. Dan besok... besok Fadhli akan datang ke rumahnya.
Ratna mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu memejamkan mata. Kali ini, ia berhasil tertidur, dengan bayangan Fadhli yang menjadi selimut yang menghangatkannya di malam yang dingin.
*
Pagi datang dengan langit yang cerah, seolah Tuhan sedang memberikan pemandangan terbaik untuk hari yang akan menjadi titik balik dalam hidup Ratna. Hujan semalam telah membersihkan segalanya, meninggalkan udara yang segar dan dedaunan yang berkilau oleh tetesan air.
Ratna bangun pukul enam pagi, jauh lebih awal dari biasanya. Ia mandi dengan sabun yang beraroma melati, menggosok tubuhnya hingga memerah, memastikan setiap inci kulitnya bersih dan harum. Ia mencukur rambut-rambut halus di sekitar kemaluannya yang mulai tumbuh sedikit lebat, membiarkan area itu botak dan mulus—seolah ia sedang mempersiapkan dirinya untuk malam pengantinannya.
Saat berdiri di depan lemari pakaian, Ratna menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk memilih pakaian. Bukan baju kurung. Hari ini, ia ingin terlihat berbeda. Ia mengenakan blus lengan panjang berbahan katun tipis berwarna dusty pink, yang cukup ketat di dada namun longgar di perut. Kerahnya berbentuk V, menampilkan sedikit lekuk belah payudaranya yang dijejalkan oleh bra push-up berupa renda hitam. Di bawahnya, ia mengenakan rok hitam yang menjuntai hingga mata kaki, terbuat dari kain yang jatuh sempurna mengikuti lekuk pinggul dan pantatnya.
Dan di bawah rok itu... Ratna mengenakan celana dalam renda hitam yang sangat tipis, hampir transparan, yang baru ia beli berbulan-bulan lalu namun tidak pernah ia kenakan karena dianggap terlalu cabul oleh suaminya. Kain itu sangat tipis, menampilkan bentuk bibir memeknya yang tebal dan lembab, siap untuk disentuh, siap untuk dirobek.
Ratna menyemprotkan parfum di seluruh tubuhnya—leher, belakang telinga, pergelangan tangan, belakang lutut, dan paha bagian dalam. Ia bahkan menyemprotkan sedikit di atas celana dalamnya, menciptakan aroma yang memabukkan bercampur dengan bau alami memeknya yang sedang berahi.
Saat ia berdiri di depan cermin, ia hampir tidak mengenali perempuan yang membalas tatapannya itu. Ia terlihat... cantik. Seksinya. Hidup. Bukan isteri ustadz yang tertutup dan kaku, melainkan perempuan yang siap untuk ditaklukkan.
Pukul delapan pagi. Ratna duduk di ruang tamu, mencoba menonton televisi namun matanya terus melirik ke arah jam dinding. Jarum menit bergerak sangat lambat, seolah waktu sedang bersekongkol untuk menyiksanya.
Pukul sembilan. Ratna mulai gelisah. Ia berdiri, berjalan keliling ruangan, membetulkan bantal-bantal di sofa, menyusun majalah di atas meja, dan membersihkan debu yang tak ada. Tangannya gemetar, napasnya memburu, dan memeknya sudah sangat basah hingga ia bisa merasakan kelembapan itu merembes ke roknya.
Pukul sembilan tiga puluh. Ratna tidak tahan lagi. Ia berjalan ke kamar mandi, mencuci wajahnya dengan air dingin, berusaha menenangkan saraf-sarafnya yang sedang kalut. Ia menatap dirinya di cermin, mengambil napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
Tenang, Ratna. Tenang. Ini hanya pertemuan biasa antara tetangga. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi suara kecil di kepalanya berbisik: *Bohong. Kau tahu apa yang akan terjadi. Kau menginginkannya.*
Pukul sepuluh kurang lima menit. Ratna duduk kembali di sofa, kedua tangannya meremas di pangkuannya. Matanya terpaku pada pintu depan, menunggu bunyi ketukan yang akan mengubah segalanya.
Dan kemudian, tepat pukul sepuluh, terdengar ketukan di pintu.
Tok. Tok. Tok.
Tiga ketukan, dengan ritme yang lambat dan mantap, seperti detak jantung Ratna yang sedang berdegup kencang.
Ratna bangkit, kakinya terasa seperti terbuat dari kapas. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah yang tertatih, tangannya meraih gagang pintu, lalu memutar perlahan.
Saat pintu terbuka, dunia Ratna seketika berhenti berputar.
Fadhli berdiri di teras rumahnya, memakai kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku dan celana jeans yang ketat di paha. Rambutnya disisir rapi, wajahnya tampak segar, dan di tangannya ia membawa dua gelas plastik berisi kopi dari kedai depan kompleks.
"Selamat pagi, Nduk," sapa Fadhli, suaranya berat dan rendah, mengandung nada kepuasan yang tak tersembunyi saat melihat penampilan Ratna hari ini. Matanya dengan berani menyapu tubuh perempuan itu dari atas ke bawah, berhenti lebih lama di area dada yang ditampilkan oleh blus dusty pink itu.
Ratna menelan ludah, berusaha menemukan suaranya. "P... pagi, Fadhli."
Fadhli mengangkat gelas-gelas plastik di tangannya. "Aku bawa kopi. Kayaknya kita butuh ini untuk bicara."
Ratna mengangguk, lalu meminggirkan badan, memberikan jalan pada pemuda itu. "Silakan masuk."
Saat Fadhli melangkah melewatinya, bahunya menyentuh lengan Ratna. Sentuhan itu singkat, sekilas, tapi bagi Ratna, terasa seperti api yang menyentuh kulitnya yang dilapisi minyak. Ia menarik napas tajam, napasnya tercekat, dan memeknya berkontraksi hebat, mengeluarkan cairan yang membasahi celana dalam renda hitamnya.
Fadhli berjalan masuk ke ruang tamu, matanya mengamati interior rumah yang dingin dan tertata rapi. Ia meletakkan gelas-gelas kopi di atas meja, lalu duduk di sofa tanpa menunggu undangan, seolah ia sudah menjadi bagian dari rumah ini.
Ratna menutup pintu, menguncinya dari dalam—sebuah tindakan yang ia lakukan secara otomatis, tanpa berpikir, namun memiliki makna yang sangat dalam. Dengan pintu yang terkunci, ia dan Fadhli kini terisolasi dari dunia luar. Tidak ada gangguan. Tidak ada interupsi. Hanya mereka berdua di dalam ruangan yang dipenuhi gairah yang tak terucapkan.
Ratna berjalan perlahan menuju ruang tamu, duduk di sofa di seberang Fadhli. Jarak mereka terpaut oleh meja kayu yang kecil, namun jarak itu terasa sangat jauh dan sangat dekat sekaligus.
Fadhli mengambil salah satu gelas kopi, menggeserkannya ke arah Ratna. "Ini, Nduk. Kopi hitam. Tanpa gula. Kayaknya itu yang kau suka."
Ratna mengambil gelas itu, memegangnya dengan kedua tangan untuk menyembunyikan getarannya. Ia menyesap kopinya pelan, merasakan rasa pahit itu mengalir di tenggorokannya, berharap bisa mendinginkan panas di dalam dadanya.
Tapi panas itu tidak reda. Karena sumber panas itu bukan kopi, melainkan pria yang duduk di seberangnya.
"Makasih," bisik Ratna, suaranya nyaris tak terdengar.
Mereka minum kopi dalam keheningan yang mencekam. Suara tegukan dan desisan AC menjadi satu-satunya yang terdengar di ruangan itu. Tapi di antara mereka, ada percakapan tanpa suara yang sangat bising. Tatapan mata yang saling menantang, napas yang mulai memburu, dan aura seksual yang menguar dari tubuh keduanya, bercampur menjadi satu di udara yang mulai pengap.
"Aku minta maaf soal kemarin," Fadhli memecah keheningan, meletakkan gelas kopinya di atas meja. "Aku tidak seharusnya hampir... kau tahu. Tapi aku tidak menyesal melakukannya."
Ratna menatap Fadhli, matanya berkaca-kaca. "Kenapa?" tanyanya, suaranya serak. "Kenapa kamu melakukan ini padaku? Kamu tahu siapa saya. Kamu tahu saya istri ustadzmu."
Fadhli menyeringai, senyum yang tahu diri. "Justru karena itu, Nduk. Karena kau istri ustadz. Karena kau perempuan yang paling suci di kompleks ini. Karena kau... tak tersentuh."
Kata 'tak tersentuh' itu menusuk Ratna tepat di jantungnya. Ia menunduk, menatap kopi hitam di gelasnya yang mulai dingin. "Saya tidak tak tersentuh. Saya..."
"Kesepian," potong Fadhli, suaranya tiba-tiba lembut, penuh pengertian. "Kau sangat kesepian, Nduk. Aku bisa melihatnya setiap kali aku menatapmu. Matamu... matamu meminta tolong."
Ratna menutup matanya, air mata akhirnya tumpah membasahi pipinya. Benar. Fadhli benar. Ia kesepian. Sudah bertahun-tahun ia kesepian, hidup di samping pria yang tidak pernah melihatnya sebagai perempuan, yang lebih memilih kitab suci daripada merangkul isterinya yang sedang menangis di tengah malam.
Fadhli bangkit dari sofanya, berjalan mengelilingi meja, lalu duduk di sofa tepat di samping Ratna. Jarak mereka kini sangat dekat—paha Fadhli yang kekar menyentuh paha Ratna yang berdaging di balik rok hitamnya.
Ratna tersentak, ingin menjauh, tapi tubuhnya menolak bergerak. Ia bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Fadhli, bisa mencium aroma maskulinnya yang memenuhi indra penciumannya, bisa merasakan aura dominasi yang menguar dari pemuda itu.
"Nduk," bisik Fadhli, suaranya tepat di telinga Ratna. "Kau tidak perlu menangis sendirian lagi."
Tangan Fadhli perlahan naik, menyentuh punggung tangan Ratna yang sedang memegang gelas kopi. Sentuhan itu hangat, lembut, namun memiliki. Jari-jari pemuda itu membelah jari-jari Ratna, menginterlasikannya, menciptakan sambungan yang intim dan sangat salah.
Ratna mendesah pelan, matanya masih tertutup, air matanya terus mengalir. Ia tidak menarik tangannya. Ia membiarkan Fadhli memegangnya, membiarkan kehangatan dari telapak tangan pemuda itu meresap ke dalam kulitnya yang dingin.
"Fadhli... ini salah," bisik Ratna, suaranya hancur oleh rasa bersalah dan nafsu yang bertarung di dalam dirinya.
"Ya, ini salah," jawab Fadhli, suaranya jujur dan tanpa penyesalan. "Tapi terkadang, hal yang paling salah di dunia ini adalah hal yang paling kita butuhkan."
Fadhli melepaskan tangan Ratna, lalu memindahkan gelas kopi dari genggaman perempuan itu ke atas meja. Kemudian, dengan gerakan yang lambat namun pasti, ia meraih bahu Ratna, menarik perempuan itu agar menghadapnya.
Ratna membuka matanya, menatap Fadhli dengan mata yang sayu dan penuh gairah yang tertahan. Ia bisa melihat keinginan yang sama di mata pemuda itu—keinginan yang telah membakar mereka berdua sejak hari pertama mereka bertemu.
"Tidak ada yang bisa menghentikan ini lagi, Nduk," bisik Fadhli, wajahnya semakin dekat, napasnya bercampur dengan napas Ratna. "Kecuali kau."
Ratna mengetahui bahwa ini adalah momen keputusan. Ia bisa mendorong Fadhli, berdiri, dan memintanya pergi. Ia bisa menyelamatkan dirinya dari dosa yang akan menghancurkan hidupnya. Tapi saat ia menatap mata Fadhli yang gelap dan membara, saat ia merasakan panas dari tubuh pemuda itu, saat ia mencium aroma yang memabukkan itu, Ratna tahu bahwa ia tidak memiliki kekuatan untuk menolak.
Karena ia tidak ingin menolak.
Lambat laun, Ratna mengangkat tangannya, menyentuh dada Fadhli yang kekar di atas kemeja hitamnya. Ia bisa merasakan detak jantung pemuda itu yang berdebar kencang, sejajar dengan detak jantungnya sendiri. Tangan itu kemudian naik, menyusuri leher Fadhli yang kekar, lalu berhenti di belakang tengkuk pemuda itu.
Ratna menarik Fadhli lebih dekat, menutup jarak di antara mereka, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengambil langkah pertama menuju dosa yang ia dambakan.
Bibir mereka bertemu.
Ciuman itu awalnya lembut, ragu, seperti dua orang yang sedang belajar berjalan untuk pertama kalinya. Bibir Ratna terasa dingin, sementara bibir Fadhli terasa panas. Kontras itu menciptakan sensasi yang luar biasa, yang membuat kedua orang itu mendesah secara bersamaan.
Tapi kelembutan itu tidak bertahan lama. Nafsu yang telah dipendam selama berhari-hari akhirnya meledak. Fadhli memegang pinggang Ratna, menarik perempuan itu hingga tubuh mereka menempel rapat. Payudara Ratna yang besar dan berat menekan dada Fadhli yang kekar, menciptakan gesekan yang membuat puting keduanya tegang keras.
Fadhli memiringkan kepalanya, membuka mulutnya, dan memasukkan lidahnya ke dalam mulut Ratna. Lidah itu menjelajahi rongga mulut perempuan itu dengan gerakan yang rakus, menjilati lidah Ratna, mengisap bibirnya, menelan desahan-desahan yang akhirnya lolos dari tenggorokan perempuan itu.
"Ah... Fadhli..." Ratna mendesah ke dalam mulut Fadhli, tangannya meraih rambut pemuda itu, mencengkeramnya dengan kuat. Ia membuka mulutnya lebih lebar, membiarkan lidah Fadhli bercumbu dengan lidahnya, merespons dengan gairah yang tak tertahankan.
Ini adalah ciuman pertama Ratna yang sebenarnya. Hadi tidak pernah menciumnya seperti ini—panas, dalam, penuh gairah. Ciuman Hadi selalu singkat, kering, dan tanpa emosi, seperti kewajiban yang harus dipenuhi sebelum bercinta di dalam gelap. Tapi ciuman Fadhli... ciuman Fadhli adalah api yang membakar, yang membuat Ratna merasa hidup, yang membuatnya merasa diinginkan, yang membuatnya merasa menjadi perempuan sejati.
Tangan Fadhli mulai bergerak dari pinggang Ratna, naik perlahan menyusuri tulang rusuk perempuan itu. Setiap sentuhan membakar kulit Ratna di balik blus tipisnya, membuatnya merinding dan mendesah lebih keras. Saat tangan Fadhli akhirnya mencapai payudara Ratna dan meremasnya di luar bra, Ratna menjerit ke dalam mulut pemuda itu.
"Ah!" Ratna melepaskan ciuman itu, kepalanya mendongak, punggungnya melengkung. Payudaranya terasa sangat berat, sangat sensitif, sangat lapar untuk disentuh. Sentuhan Fadhli—meski masih di luar bra—adalah sentuhan yang paling nikmat yang pernah ia rasakan dalam hidupnya.
Fadhli menatap wajah Ratna yang terbuai oleh kenikmatan, lalu tersenyum. Ia meremas payudara Ratna lebih keras, memutar putingnya yang tegang dengan ibu jari dan telunjuknya melalui kain bra dan blus.
"Kau suka ini, Nduk?" bisik Fadhli, suaranya berat dan penuh kepuasan. "Kau suka payudaramu dipegang seperti ini?"
Ratna tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa mengangguk dengan kepala yang terbuai, matanya terpejam, bibirnya terbuka dalam desahan yang tak tertahankan. Ia tidak pernah menyadari bahwa payudaranya bisa menjadi sumber kenikmatan yang begitu besar. Selama ini, Hadi hanya menyentuhnya secara singkat sebelum langsung menuju ke selangkangan, tanpa pernah menghargai keindahan dan kepekaan payudaranya.
Fadhli menarik kerah blus Ratna ke bawah, memperlihatkan bra push-up hitam yang menyangga payudara perempuan itu. Payudara yang terkurung dalam bra itu terlihat sangat penuh, hampir meluber, dengan dua puting yang tegang keras menekan kain renda tipis.
"Ya God..." Fadhli mendesah, matanya terbelalak melihat pemandangan di depannya. "Kau sangat... sempurna."
Tanpa membuang waktu, Fadhli memasukkan tangannya ke dalam bra Ratna, membebaskan payudara kanan perempuan itu dari kurungannya. Payudara itu melontar keluar, menggantung megah dengan puting yang berwarna merah muda gelap dan areola yang besar.
Ratna menutup matanya, malu dan gairah bercampur menjadi satu. Ini adalah pertama kalinya payudaranya dilihat dalam cahaya terang oleh pria lain. Dan dari cara Fadhli menatapnya, ia tahu bahwa pemuda itu menghargai apa yang dilihatnya.
Fadhli menunduk, memasukkan puting Ratna ke dalam mulutnya, menghisapnya dengan keras.
"Ah! Fadhli!" Ratna menjerit, tangannya meraih rambut Fadhli, menekan kepala pemuda itu lebih dalam ke payudaranya. Sensasi itu luar biasa—panas, basah, dan sangat nikmat. Lidah Fadhli berputar di sekitar putingnya, menggigitnya pelan, lalu mengulumnya seluruhnya, seolah ingin menelan payudaranya.
Sementara itu, tangan Fadhli yang lain turun dari payudara kiri Ratna, menyusuri perut perempuan itu yang berkontraksi, lalu mencapai pinggang rok hitamnya. Ia memasukkan tangannya ke bawah rok, meraba paha Ratna yang putih, mulus, dan sangat lembap oleh keringat dan cairan yang merembes dari kemaluannya.
Saat tangan Fadhli menyentuh paha bagian dalam Ratna, perempuan itu mendesah lebih keras. Ia bisa merasakan jari-jari pemuda itu semakin dekat ke kemaluannya, semakin dekat ke sumber gairah yang sedang mengamuk di dalam dirinya.
Fadhli menyentuh celana dalam renda hitam yang tipis itu, dan saat ia merasakan kebecekannya, ia mendesak keras di sela-sela menghisap payudara Ratna.
"Kau sangat basah, Nduk. Celana dalammu sudah hancur," bisik Fadhli di sela-sela hisapannya. "Kau sudah siap untukku, bukan?"
Ratna tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa mengangguk dengan kepala yang terbuai, matanya terpejam, bibirnya terbuka dalam desahan yang tak tertahankan. Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya—begitu basah, begitu terbuka, begitu membutuhkan.
Tangan Fadhli merayap masuk ke dalam celana dalam Ratna, menyentuh bibir memek yang tebal dan sangat basah. Saat jari pemuda itu menyentuh klitorisnya yang bengkak, Ratna menjerit seakan mau mati.
"Ah! Ya! Di situ... Fadhli... di situ!"
Fadhli memijit klitoris Ratna dengan gerakan melingkar, sementara jari lainnya menyusup masuk ke dalam liang perempuan itu yang sangat basah dan berdenyut. *Squelch.* Suara basah dan licin itu terdengar jelas di ruangan yang sepi, beriringan dengan desahan dan erangan Ratna yang semakin tak tertahankan.
Ini adalah sentuhan yang paling intim yang pernah Ratna rasakan. Sentuhan yang membuatnya merasa hidup, merasa diinginkan, merasa menjadi perempuan sejati. Dan ia tahu, ini baru permulaan. Karena Fadhli masih berpakaian. Karena kontol Fadhli masih tersembunyi di balik celana jeansnya. Dan karena ia masih bisa merasakan banyak hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Fadhli... Ratna merintih, pinggulnya bergerak naik turun, menemui sodokan jari pemuda itu. Ia membayangkan itu bukan jari, melainkan kontol Fadhli yang besar dan keras, membelah liangnya yang sempit, merobek dinding-dinding rahimnya yang sudah lama tak disentuh.
Dan saat gelombang orgasme yang luar biasa itu menghantamnya, membuat tubuhnya berkontraksi hebat dan mulutnya terbuka dalam jeritan yang tak tertahankan, Ratna tahu bahwa ia telah melintasi batas yang tak bisa dikembalikan.
Ia bukan lagi isteri ustadz yang suci. Ia bukan lagi perempuan yang menahan nafsunya. Ia adalah seekor betina yang telah menyerahkan dirinya pada pria yang ia dambakan.
Dan ia menikmatinya. Setiap detik. Setiap sentuhan. Setiap jilatan.
Saat Fadhli mengangkat wajahnya dari payudara Ratna, bibirnya mengkilat oleh keringat dan air liur, matanya membara dengan nafsu yang belum terpuaskan.
"Masih banyak lagi, Nduk," bisik Fadhli, suaranya berat dan menjanjikan. "Ini baru permulaan."
Ratna menatap mata Fadhli, lalu mengangguk perlahan. Ia tidak bisa berbicara. Ia tidak bisa berpikir. Ia hanya bisa mengikuti kemauan pemuda itu, seperti domba yang mengikuti serigala ke dalam kandangnya.
Karena Ratna tahu, apa pun yang akan terjadi selanjutnya, ia akan menerimanya dengan tangan terbuka dan kaki terbuka lebar.
Sebagai seorang pendosa yang bahagia.
Sisa-sisa orgasme itu masih mengguncang tubuh Ratna, membuat setiap serat ototnya bergetar seperti daun yang ditiup angin kencang. Ia bersandar lemas di sofa ruang tamu, napasnya terengah-engah, dadainya naik-turun dengan cepat di bawah blus dusty pink yang sudah berantakan. Payudaranya yang baru saja disembur oleh kenikmatan itu tergantung megah di luar bra, putingnya yang basah oleh air liur Fadhli masih tegang keras, memerah memikat di bawah cahaya lampu ruang tamu.
Namun, alih-alih membiarkan Ratna beristirahat, Fadhli justru semakin terdorong. Melihat isteri ustadz yang selama ini ia anggap suci itu kini hancur lebur di tangannya, tersenyum mesum dengan wajah yang merona merah oleh dosa, membuat gairah di dalam tubuh pemuda itu meledak tak terkendali.
"Kau sangat cantik saat jatuh, Nduk," bisik Fadhli, suaranya berat dan serak. Ia menjilat bibirnya, menatap Ratna dengan mata yang gelap oleh nafsu yang memuncak. "Begitu rapuh. Begitu basah. Begitu... serakah."
Ratna menatap Fadhli dengan mata yang sayu, air matanya mengering di pipi, digantikan oleh rona merah nafsu yang tak bisa disembunyikan. Ia merasa malu, tapi malu itu tak lagi membuatnya ingin lari. Malu itu justru menambah panas di selangkangannya, membuat memeknya yang masih berdenyut itu kembali mengeluarkan cairan yang pekat dan hangat.
Fadhli berdiri, menatap Ratna dari atas. Tingginya yang menjulang membuat perempuan itu merasa kecil, tak berdaya, siap untuk ditelan. Dengan gerakan yang santai namun penuh kekuasaan, Fadhli membuka kancing kemeja hitamnya satu per satu, memperlihatkan dada yang bidang dan berotot, perut yang rata dan keras seperti granit, serta garis-garis bulu hitam yang mengarah ke bawah.
Mata Ratna terbelalak. Ia menelan ludah saat melihat tubuh Fadhli yang terbuka. Suaminya, Hadi, memiliki tubuh yang kurus dan kaku, kulitnya pucat dan tidak berisi. Tapi Fadhli... Fadhli adalah maskulinitas yang mentah. Otot-ototnya berkontraksi setiap kali ia bergerak, kulitnya sawo matang berkilat oleh keringat, dan ada kekuatan yang menguar dari setiap inci tubuhnya.
Fadhli melemparkan kemejanya ke lantai, lalu tangannya bergerak ke sabuk celana jeansnya. Bunyi gesper logam yang terbuka terdengar sangat keras di tengah keheningan ruangan, seperti suara tembakan yang menandai dimulainya sebuah perang. Ia menarik resleting celananya, lalu membiarkannya jatuh ke lantai.
Saat Fadhli hanya mengenakan celana dalam boxer berwarna abu-abu, Ratna menahan napas. Tonjolan di balik kain itu sangat besar, sangat keras, berdiri tegak menuntut perhatian. Bentuknya panjang dan tebal, mengiris kain tipis itu, seolah siap untuk menerobos keluar.
Fadhli menarik celana dalamnya ke bawah, membebaskan kontolnya dari kurungan yang sempit.
Ratna membuka mulutnya, napasnya tercekat sepenuhnya. Kontol Fadhli menjulur keluar, tegak lurus ke atas, berwarna cokelat kehitaman, dengan urat-urat hijau yang menonjol di sepanjang batangnya. Kepalanya besar, merah muda, dan mengkilap oleh cairan pra-ejakulasi yang sudah merembes di ujungnya. Panjangnya... Tuhan, panjangnya dan tebalnya jauh melampaui apa pun yang pernah Ratna lihat atau rasakan dari suaminya.
"Ini yang kau cari selama bertahun-tahun, bukan, Nduk?" Fadhli memegang pangkal kontolnya, menggerakkannya pelan ke atas dan ke bawah, memamerkan ukurannya yang menakutkan sekaligus menggoda itu. "Ini yang kau butuhkan untuk mengisi rahimmu yang kosong."
Ratna menatap kontol itu dengan mata yang berkaca-kaca, bukan karena takut, melainkan karena kelaparan yang tak tertahankan. Mulutnya terasa kering, tapi selangkangannya semakin basah. Ia ingin menyentuhnya. Ia ingin merasakannya di tangannya, di mulutnya, di dalam memeknya yang sedang menangis kelaparan.
Dengan tangan yang gemetar, Ratna meraih tangan Fadhli, menarik pemuda itu mendekat. Fadhli tersenyum puas, lalu berlutut di lantai, tepat di antara dua paha Ratna yang terbuka. Ia meraih pinggang Ratna, menarik perempuan itu hingga pantatnya berada di tepi sofa, sementara kaki-kakinya terbuka lebar, mengapit pinggang Fadhli.
Fadhli menunduk, mencium bibir Ratna lagi, kali ini dengan lebih lembut, lebih mendalam, seolah sedang memberikan penghiburan sebelum menghancurkannya. Tangannya merayap ke bawah rok Ratna, menarik kain itu ke atas hingga terkumpul di pinggang, memperlihatkan paha-paha yang putih, montok, dan sangat lembap oleh cairan yang mengalir deras dari kemaluannya.
Celana dalam renda hitam yang tipis itu kini basah kuyup, menempel di bibir memek Ratna, memperlihatkan bentuknya yang tebal dan bengkak dengan sempurna. Fadhli mengusap kemaluan perempuan itu melalui kain tipis yang becek itu, merasakan kepanasan dan kelembapan yang luar biasa di telapak tangannya.
"Kau benar-benar siap untukku," bisik Fadhli di sela-sela ciuman, suaranya bergetar oleh nafsu yang memuncak. "Kau begitu basah, Nduk. Aku bisa merasakanmu bahkan melalui kain ini."
Ratna mendesah, pinggulnya bergerak naik, menekan kemaluannya ke tangan Fadhli, mencari gesekan yang lebih dalam. "Fadhli... tolong... jangan siksa aku lagi..."
Fadhli tersenyum, lalu menarik kain celana dalam itu ke samping, memperlihatkan memek Ratna yang sudah sangat becek, merah muda, bengkak, dan berdenyut minta disentuh. Bulu-bulu halus di sekitarnya basah oleh cairan yang mengalir deras dari liangnya.
Tanpa membuang waktu, Fadhli menunduk, menjilat bibir memek Ratna dari bawah ke atas dengan gerakan yang lambat dan penuh penekanan.
"Ah!" Ratna menjerit, tangannya refleks meraih rambut Fadhli, mencengkeram rambut lembap itu dengan kuat. Sensasi itu terlalu besar, terlalu intens. Lidah Fadhli yang panas dan kasar menjilati klitorisnya yang bengkak, memijitnya, lalu menyusup masuk ke dalam liangnya yang sangat basah.
Suara *squelch* basah dan licin bergema di ruangan itu, beriringan dengan desahan dan erangan Ratna yang semakin tak tertahankan. Fadhli mengulum memek Ratna seperti buah yang matang, mengisap klitorisnya, memasukkan lidahnya ke dalam liangnya, menelan cairan yang mengalir deras dari kemaluan perempuan itu.
Oh God... oh God... Fadhli... Ratna merintih, pinggulnya bergerak naik turun, menemui jilatan Fadhli. Ia tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Hadi tidak pernah—tidak pernah dalam sepuluh tahun pernikahan mereka—melakukan ini padanya. Seks dengan Hadi selalu cepat, gelap, dan satu arah. Tapi Fadhli... Fadhli sedang memakannya, menghancurkan pertahanannya, dan membuatnya merasa seperti perempuan yang paling diinginkan di dunia.
Gelombang orgasme kedua menghantam Ratna dengan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya. Ia menjerit nama Fadhli, tubuhnya berkontraksi hebat, liangnya berkedut-kedut liar, memeras lidah Fadhli yang sedang berada di dalamnya, membanjiri wajah pemuda itu dengan cairan cintanya yang pekat dan hangat.
Fadhli mendesah puas, mengangkat wajahnya dari antara paha Ratna. Bibir dan dagunya mengkilat oleh cairan Ratna, matanya membara dengan nafsu yang belum terpuaskan. Ia menjilati bibirnya, menelan sisa cairan itu, seolah itu adalah minuman terenak di dunia.
"Manis," bisik Fadhli, suaranya serak. "Sekarang, saatnya aku mengisi bagian yang kosong ini."
Fadhli berdiri, memegang pangkal kontolnya yang sangat keras dan besar. Ia menggesekkan kepala kontolnya ke bibir memek Ratna yang masih berdenyut, mengusapnya ke atas dan ke bawah, mencampurkan cairan pra-ejakulasinya dengan cairan Ratna yang becek, menciptakan gesekan yang membuat kedua orang itu mendesah.
"Fadhli..." Ratna menatap pemuda itu dengan mata yang terbelalak, napasnya memburu. Ia bisa merasakan panas dari kontol itu di kemaluannya, bisa merasakan kebesarannya yang siap untuk merobeknya. "Tunggu... itu... itu terlalu besar..."
Fadhli menunduk, mencium kening Ratna dengan lembut, sebuah kontras yang aneh dengan kebrutalan tindakan mereka. "Percaya padaku, Nduk. Tubuhmu diciptakan untuk menerima ini. Kau hanya perlu rileks."
Lalu, dengan tekanan yang lambat namun pasti, Fadhli mulai mendorong pinggulnya ke depan.
Kepala kontolnya yang besar mulai membelah bibir memek Ratna, merenggangkan dinding-dinding liangnya yang sudah lama tak disentuh. Ratna menarik napas tajam, tangannya mencengkeram lengan Fadhli dengan kuat, kukunya mencengkeram kulit pemuda itu hingga memutih.
"Ah! Sakit... Fadhli... sakit!" Ratna merintih, air matanya kembali mengalir. Ini terasa sangat berbeda dari Hadi. Kontol Fadhli jauh lebih besar, lebih panjang, dan lebih keras. Ia merasa seperti perawan yang sedang dibeli untuk pertama kalinya, merasakan rasa perih yang luar biasa saat liangnya dipaksa meregang untuk menampung ukuran pemuda itu.
Fadhli berhenti sejenak, memberikan waktu pada Ratna untuk beradaptasi. Ia mencium air mata di pipi perempuan itu, mengusapnya dengan ibu jarinya. "Maaf, Nduk. Tapi kau harus kuat sedikit. Aku akan membuatmu lupa pada rasa sakit ini."
Fadhli mulai bergerak pelan, mendorong kontolnya masuk sedikit demi sedikit, lalu menariknya keluar, memberikan ruang bagi liang Ratna untuk menyesuaikan diri. Setiap kali ia mendorong, ia memasukkan batangnya lebih dalam, merenggangkan dinding-dinding liang yang sempit itu, menciptakan suara basah dan licin yang sangat erotis.
Squelch... squelch... squelch...
Ratna menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit yang perlahan mulai berubah menjadi kenikmatan. Liangnya yang sudah sangat basah mulai melumasi kontol Fadhli, memudahkan pergerakan pemuda itu. Sensasi penuhnya—sensasi merasa benar-benar diisi, merasa rahimnya disentuh oleh sesuatu yang keras dan panas—mulai mengambil alih kesadarannya.
"Ah... Fadhli... lebih dalam..." Ratna mendesah, pinggulnya mulai bergerak, menemui dorongan Fadhli. Ia tidak lagi merasa sakit. Ia hanya merasa lapar. Ia ingin kontol itu masuk hingga akar, ingin merasakan bulu-bulu kemaluan Fadhli menyentuh bibir memeknya, ingin merasakan bola-bola kontol pemuda itu menampar pantatnya.
Fadhli mendengam puas, lalu mendorong pinggulnya dengan lebih kuat. Satu dorongan keras, dan kontolnya tenggelam sepenuhnya ke dalam liang Ratna.
"Ah!" Mereka berdua mendesah secara bersamaan. Ratna merasa napasnya tercekat, matanya terbelalak, tubuhnya terasa seperti sedang dibakar hidup-hidup. Kontol Fadhli telah membelah dirinya, merobek dinding-dinding rahimnya, dan menempel langsung pada serviksnya yang tak pernah disentuh oleh suaminya.
"Ini... ini terasa..." Ratna tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak memiliki kata-kata untuk menggambarkan sensasi ini. Perih, nikmat, penuh, panas, dan sangat salah. Tapi ia tidak ingin Fadhli berhenti. Ia tidak pernah ingin ini berhenti.
Fadhli menatap wajah Ratna yang sedang berjuang menahan gelombang kenikmatan itu, lalu tersenyum. Ia menarik kontolnya keluar hingga hanya tersisa kepala saja, lalu mendorongnya kembali dengan keras.
Plak!
"Ah!" Ratna menjerit, punggungnya melengkung, payudaranya bergoyang hebat mengikuti hentakan itu.
Fadhli mulai memompa Ratna dengan ritme yang stabil, memasukkan dan menarik kontolnya yang besar dari liang perempuan itu dengan gerakan yang penuh kekuasaan. Setiap hentakan menciptakan suara basah yang keras, bercampur dengan suara kulit yang beradu dan desahan yang tak tertahankan.
Plak! Plak! Plak! Squelch! Squelch! Squelch!
"Fadhli! Ah! Fadhli! Kontolmu... besar sekali... ah!" Ratna berteriak, suaranya tak lagi tertahan. Ia tidak peduli jika tetangga mendengarnya. Ia tidak peduli pada dosanya. Ia hanya ingin hentakan itu terus berlanjut, ingin kontol itu terus merobeknya, menghancurkannya, membuatnya lupa pada segalanya selain kenikmatan ini.
Fadhli menggigit leher Ratna, meninggalkan tanda merah yang dalam, sementara tangannya meremas payudara perempuan itu dengan kasar. Ia memompa lebih cepat, lebih keras, lebih dalam, menghantam serviks Ratna dengan setiap dorongan, menciptakan gelombang nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh perempuan itu.
"Ratna... kau sempit sekali... kau nikmat sekali..." Fadhli mendengam di telinga Ratna, suaranya berat dan penuh keringat. "Kau suka kontolku di dalam memekmu, kan? Kau suka aku menghancurkan memekmu yang suci ini, kan?"
"Iya! Ah! Iya! Aku suka! Aku suka kontolmu! Hancurkan aku, Fadhli! Hancurkan memekku!" Ratna merintih, kata-kata kotor yang tak pernah ia bayangkan akan keluar dari bibirnya mengalir begitu saja, didorong oleh nafsu yang telah membuai akal sehatnya. Ia mengangkat pinggulnya, menemui setiap hentakan Fadhli, meremas kontol pemuda itu dengan dinding liangnya yang berkedut-kedut.
Mereka bercinta di ruang tamu rumah Ratna—di atas sofa yang biasa ia gunakan untuk menerima tamu-tamu pengajian, di bawah cahaya lampu yang terang, tanpa malu, tanpa dosa yang menghantui. Ruangan yang dulunya menjadi saksi kesalehannya kini menjadi saksi kejatuhan yang paling hina namun paling memuaskan.
Fadhli mengubah posisi mereka. Ia mengangkat tubuh Ratna, memutar perempuan itu hingga ia berlutut di lantai, kedua tangannya memegang tepi sofa, pantatnya yang montok dan putih terangkat tinggi di udara. Posisi doggy style. Posisi yang sangat hina, sangat binatang, namun sangat nikmat.
"Nduk, pantatmu... sangat indah," bisik Fadhli, menampar pantat Ratna dengan telapak tangannya yang kasar.
Plak!
"Ah!" Ratna mendesah, pantatnya bergetar, meninggalkan jejak merah di kulit putihnya. Rasa sakit itu menambah gairahnya, membuat memeknya berkontraksi hebat.
Fadhli memasukkan kembali kontolnya ke dalam memek Ratna dari belakang, menerobos masuk hingga akar dalam satu dorongan brutal. Kedalaman dari posisi ini membuat Ratna merasa kontol Fadhli hampir mencapai tenggorokannya.
"Ah! Terlalu dalam! Fadhli!" Ratna menjerit, wajahnya ditekan ke bantal sofa, air matanya kembali mengalir.
Fadhli memegang pinggang Ratna dengan kedua tangannya, mencengkeramnya hingga memar, lalu mulai memompa dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa. Setiap hentakan membuat pantat Ratna bergoyang, memukul paha Fadhli dengan suara yang keras dan berirama.
Plak! Plak! Plak! Plak!
"Ratna! Aku mau keluar!" Fadhli mendengam, suaranya tertahan oleh nafsu yang memuncak. Ia memompa lebih cepat, lebih dalam, lebih tidak terkendali.
Ratna tahu apa artinya itu. Ia tahu Fadhli hampir mencapai puncak. Dan ia tahu ia harus mencegahnya—ia tidak menggunakan kondom, dan ia tidak sedang dalam masa subur. Tapi kata-kata itu mati di tenggorokannya. Ia tidak ingin Fadhli berhenti. Ia tidak ingin Fadhli menarik kontolnya keluar. Ia ingin merasakan peju pemuda itu mengalir di dalam rahimnya, mengisi kekosongan yang selama ini menghantuinya.
"Keluarlah, Fadhli! Keluarkan semuanya di dalam memekku! Ah!" Ratna berteriak, dorongan pinggulnya bertemu hentakan Fadhli dengan liar. "Panaskan rahimku! Buat aku hamil! Ah! Ya!"
Perintah itu adalah puncak kegilaan mereka. Fadhli meraung, memegang bahu Ratna, dan mendorong kontolnya sedalam mungkin ke dalam liang perempuan itu. Tubuhnya menegang, otot-ototnya berkontraksi, lalu ia meledak.
Ratna merasakannya. Aliran panas yang sangat kuat menyembur dari ujung kontol Fadhli, menembus serviksnya, membanjiri rahimnya yang kosong. Panasnya luar biasa, banyaknya luar biasa, seolah pemuda itu telah menyimpannya bertahun-tahun hanya untuk momen ini.
Sensasi peju Fadhli yang mengalir di dalam rahimnya itulah yang akhirnya membawa Ratna ke puncak kenikmatan yang paling tinggi. Ia menjerit, suaranya pecah, tubuhnya berkontraksi liar, liangnya berkedut-kedut dengan sangat kuat, mengisap setiap tetes peju dari kontol Fadhli yang masih tertanam di dalamnya.
Orgasme itu bukan sekadar gelombang, melainkan tsunami yang menghancurkan segalanya. Pikiran Ratna kosong, tak ada lagi dosa, tak ada lagi neraka, tak ada lagi Hadi. Hanya ada Fadhli, kontolnya, pejunya, dan kenikmatan yang luar biasa memabukkan.
Mereka jatuh ke lantai secara perlahan, tubuh mereka terpisah, meninggalkan jejak cairan yang bercampur—cairan Ratna yang jernih dan peju Fadhli yang putih dan kental—mengalir dari memek Ratna yang masih berkedut-kedut, membasahi karpet ruang tamu yang biasanya bersih dan suci.
Fadhli memeluk Ratna dari belakang, menarik napas yang berat dan cepat. Kulit mereka saling menempel, keringat bercampur menjadi satu, aroma seks yang pekat memenuhi ruangan.
"Ini baru permulaan, Nduk," bisik Fadhli di telinga Ratna, suaranya lelah namun penuh kepuasan. "Kau milikku sekarang. Memek ini milikku. Rahimmu milikku."
Ratna tidak menjawab. Ia hanya bisa terbaring di pelukan Fadhli, menatap langit-langit ruangan yang mulai kabur oleh air matanya. Ia tahu kata-kata Fadhli itu benar. Ia telah menyerahkan dirinya pada pemuda itu. Ia telah membiarkan kontol pria lain merobeknya, membiarkan peju pria lain mengalir di rahimnya.
Ia bukan lagi isteri ustadz yang suci. Ia adalah perempuan jalang yang telah menyerahkan kehormatannya di ruang tamu rumahnya sendiri.
Tapi saat ia merasakan peju Fadhli yang mulai mengering di pahanya, saat ia mencium aroma seks yang memenuhi ruangan, dan saat ia mengingat bentuk kontol Fadhli yang baru saja membuatnya mencapai surga yang tak pernah ia kenal... Ratna tersenyum.
Senyum yang penuh dosa. Senyum yang menandai dimulainya kejatuhannya.
Karena ia tahu, ia tidak akan pernah bisa kembali lagi. Ia tidak ingin kembali. Ia ingin terus jatuh, terus berdosa, terus merasakan kontol Fadhli di dalam dirinya.
Meskipun itu berarti ia harus terbakar di neraka.
Saat itu, Ratna tidak peduli pada neraka. Karena ia baru saja menemukan surganya. Surga yang terletak di ujung kontol seorang pemuda berjaket kulit, yang tinggal di kontrakan di seberang rumahnya.
Surga yang sangat terlarang, namun sangat memabukkan.
ns216.73.217.22da2


