Pukul 05.15 pagi.
Aku terbangun dengan tubuh masih lengket keringat dan bau seks. Yuni masih meringkuk di pelukanku di kasur kecil kamar pembantu. Payudaranya yang besar menempel hangat di dada ku, napasnya pelan dan teratur. Sperma kering dari ronde tadi malam masih meninggalkan bekas lengket di paha dalamnya. Penisku sudah setengah tegang lagi hanya karena merasakan tubuh telanjangnya yang empuk.
Aku usap pinggulnya pelan. Yuni menggeliat, matanya terbuka sedikit, lalu tersenyum malu-malu.
“Pagi, Mas… sudah bangun?” suaranya serak dan manja.
“Belum puas, Yun,” bisikku di telinganya sambil menggigit cuping telinganya pelan. “Rina baru pulang jam 8-an. Masih ada waktu.”
Yuni menggigit bibir bawahnya. Matanya langsung berubah berkabut lagi. “Mas nakal… Yuni masih pegel dari tadi malam… tapi… Yuni juga mau lagi kok, Mas.”
Tanpa banyak bicara, aku balik badannya hingga telentang, lalu langsung menindihnya. Aku cium bibirnya dalam-dalam, lidah kami saling menari liar. Tangan kananku meremas payudaranya yang kencang, memilin putingnya yang sudah mengeras. Yuni mendesah di dalam ciuman.
“Aaahh… Mas… pelan dulu… hhnn…”
Aku turunkan ciuman ke lehernya, meninggalkan kissmark baru di samping yang kemarin. Lalu ke dada. Aku lumat payudaranya bergantian, mengisap kuat hingga terdengar suara “slurrp… slurrpp…” Yuni melengkungkan punggungnya, tangannya meremas rambutku keras.
Aku terus turun. Membuka lebar kedua pahanya. Vaginanya masih bengkak dan merah karena semalaman dipakai. Sisa spermaku dari tadi malam masih sedikit keluar dari lubangnya yang mengkilap.
Aku jilat sekali panjang.
“Nngghhh…!! Mas… aaahh… kotor… masih ada… aaahh!!”
“Justru enak,” jawabku sambil menyelipkan lidah ke dalam liangnya. Aku hisap cairan campuran kami, lalu mainkan klitorisnya dengan lidah cepat. Dua jariku masuk lagi, mengaduk-aduk dalam-dalam. Yuni langsung menggelinjang hebat, kakinya menjepit kepalaku.
“Aaahh… Mas… enak… Yuni mau keluar lagi… aaahh… cepat Mas…!!”
Kurang dari tiga menit, Yuni orgasme pagi pertamanya. Cairannya muncrat kecil ke mulutku. Tubuhnya kejang keras sambil menjerit pelan menahan suara.
Aku naik lagi. Penisku sudah keras banget, urat-uratnya menonjol. Aku angkat kedua kakinya ke pundakku, posisi misionaris dalam. Ujung kepala penisku aku gesek-gesek di bibir vaginanya yang basah.
“Masukin, Mas… pelan-pelan dulu ya…” pintanya dengan suara gemetar.
Slebbhhhh…!
Satu dorongan pelan tapi pasti, penisku masuk sampai pangkal. Rasanya masih sangat sempit dan panas meski sudah dipakai semalaman.
“Oouughh…!! Penuh… Mas… aaahh… dalam banget…” erang Yuni.
Aku mulai mengocok. Lambat dulu, lalu semakin cepat. Clebb… clebb… clebb… crett… crett… Suara basah daging saling bertemu menggema di kamar kecil itu. Payudaranya bergoyang-goyang indah setiap kali aku dorong keras.
“Kenceng Yun… remas Mas…” perintahku.
Yuni langsung mengencangkan otot vaginanya, memijat batang penisku dengan dinding dalamnya. Rasanya luar biasa. Aku semakin ganas mengocoknya.
Kami ganti posisi. Aku duduk di pinggir kasur, dia naik ke pangkuanku menghadapku (cowgirl). Yuni memegang batangku, mengarahkan sendiri, lalu menurunkan pinggulnya perlahan sampai habis.
“Slebbhh… aaahhh… Mas… enak… Yuni suka yang begini… bisa dalam banget…”
Dia mulai goyang naik-turun. Lambat dulu, lalu semakin liar. Payudaranya yang besar bergoyang tepat di depan mukaku. Aku hisap putingnya bergantian sambil tanganku meremas pantatnya yang montok. Yuni semakin cepat, pinggulnya berputar-putar seperti mau mematahkan penisku.
“Aaahh… Mas… Yuni enak… enak banget… aaahh… trus Mas… trus…!!”
Aku bantu dorong pinggulnya dari bawah dengan kuat. Setiap turun, penisku menabrak rahimnya. Yuni sudah menjerit-jerit kecil keenakan.
Tak lama kemudian dia orgasme lagi. Vaginanya mencengkeram penisku kuat sekali, tubuhnya gemetar hebat. Aku tahan sebisa mungkin.
Aku angkat tubuhnya, baringkan telungkup di kasur, lalu naik dari belakang (doggie). Aku pegang pinggangnya yang ramping, lalu kocok keras dan cepat. Pantatnya yang bulat bergetar hebat setiap tabrakan.
Plak… plak… plak… plak…!
“Mas… kenceng… aaahh… Yuni suka… suka yang kasar… aaahh!!”
Aku tampar pantatnya dua kali. Yuni malah semakin mengerang keenakan. Aku tarik rambutnya pelan hingga punggungnya melengkung, lalu kocok sekuat tenaga.
Ronde ini berlangsung hampir 15 menit. Aku ganti-ganti ritme, kadang pelan dalam, kadang cepat dangkal. Yuni sudah orgasme keempat kalinya pagi ini saat aku masih tahan.
Akhirnya aku merasa mau meledak.
“Yun… Mas mau keluar lagi…”
“Keluarin di dalam aja Mas… penuhin Yuni… aaahh… Yuni mau rasain panasnya lagi…”
Aku kocok semakin cepat. Crett… crett… crett… crekk… crekk…!!
“Ergghhh…!! Yuni… Mas keluar…!!”
Crootttt… crooott… croott… crooott…!!
Semburan sperma pagiku yang tebal dan panas menyembur kuat-kuat ke dalam rahimnya. Yuni kejang hebat, orgasme bersamaku. Vaginanya memerah dan berdenyut-denyut memeras setiap tetes spermaku.
Kami ambruk berpelukan di kasur kecil itu, napas kami sama-sama tersengal. Penisku masih berada di dalam vaginanya yang penuh, sesekali masih berdenyut mengeluarkan sisa sperma.
Yuni menciumi dada ku lemah, suaranya hampir hilang. “Mas… Yuni capek… tapi senang… Mas Dimas ganas banget…”
Aku cium keningnya yang berkeringat. “Kamu enak sekali, Yun. Mulai sekarang… tiap kali Ibu nggak ada di rumah, kamu siap ya?”
Yuni tersenyum manja, matanya masih sayu karena kepuasan. “Siap, Mas… Yuni milik Mas sekarang… pelayan Mas kapan saja.”
Jam sudah menunjukkan pukul 07.20. Kami buru-buru membersihkan diri. Yuni mandi cepat, lalu memakai seragam pembantunya lagi. Aku kembali ke kamar utama, mandi, dan berpakaian seperti biasa.
Saat Rina pulang jam 08.15, rumah sudah rapi. Yuni sedang menyiapkan sarapan dengan wajah biasa saja, meski jalannya sedikit pincang karena pegel.
Rina mencium pipiku. “Maaf ya Mas, lembur terus. Kamu baik-baik aja kan semalam?”
Aku tersenyum sambil memeluk pinggangnya. “Baik, Sayang. Yuni sudah bantu Mas semuanya kok.”
Yuni yang sedang meletakkan nasi goreng di meja hanya tersenyum kecil, pipinya sedikit merah.
Di bawah meja, kakiku mengusap pelan betis Yuni.
Malam ini Rina bilang akan lembur lagi.
Dan aku sudah tidak sabar menunggu ronde berikutnya.
List Cerita Dari Shalltear3782Please respect copyright.PENANAVh4cnjiJmk
docs.google.com/spreadsheets/d/1Y9KMFZBWbZEZ3EsMZ0cq_RS03eTHZrjjz5hWzH16C2c/edit?usp=sharing
lynk.id/bande413782Please respect copyright.PENANAkYpHiEuFOS


