Namaku Dimas, 31 tahun. Baru dua tahun menjabat sebagai Marketing Manager di salah satu perusahaan consumer goods besar di Jakarta. Gaji lumayan, mobil dinas, rumah tipe 80 di perumahan elit pinggiran kota. Dari luar kelihatan sempurna. Tapi di dalam… aku sudah hampir gila.
Istriku, Rina, akhir-akhir ini berubah drastis. Dulu dia manis, sekarang setiap pulang kerja langsung manyun. Kerjaannya di bank swasta makin berat, ditambah lagi dia baru dipromosikan jadi Branch Manager. Pendapatannya sudah lebih besar dariku. Setiap aku coba dekati, mau peluk dari belakang, mau cium lehernya… selalu ada alasan: “Capek Mas… besok aja”, “Lagi mood jelek”, “Kamu kok cuma mikir itu doang sih?”
Tekanan kerja di kantor juga gila. Bulan ini target marketing naik 40%, klien susah, tim sales banyak yang resign. Tiap malam aku pulang dengan kepala penuh. Satu-satunya pelampiasan yang dulu selalu berhasil adalah bercinta sama Rina. Tapi sekarang… kosong.
Di rumah ada satu-satunya orang yang selalu ada tiap aku pulang: Mbak Yuni.
Yuni pembantu rumah tangga kami yang sudah kerja di sini hampir setahun. Umurnya 24 tahun, asli dari Jawa Tengah. Kulitnya sawo matang mengkilap, rambut hitam panjang selalu diikat kuncir kuda, tubuhnya… astaga. Meski pakai seragam pembantu yang sederhana — baju kurung lengan pendek warna krem dan rok span hitam selutut — tetap saja kelihatan menggoda. Payudaranya besar, kira-kira 36C, pinggangnya kecil, pantatnya montok dan kencang karena tiap hari nyapu, ngepel, nyetrika.
Aku selalu berusaha tidak memandangnya terlalu lama. Aku lelaki setia. Tapi akhir-akhir ini… susah.
Hari itu Kamis malam, seperti biasa aku pulang jam 7 lewat. Rina sudah kirim WA tadi siang: “Mas, aku lembur sampe malam. Jangan nunggu aku makan.” Jadi rumah sepi. Hanya ada Yuni.
Aku masuk, tas kujejak di sofa. Yuni lagi nyapu ruang tamu. Seragamnya agak basah keringat di bagian punggung, roknya naik sedikit karena jongkok. Batang pahanya yang mulus kelihatan. Aku langsung merasa ada yang bergerak di celanaku.
“Malam, Mas Dimas,” sapanya lembut sambil berdiri. Senyumnya manis, giginya rapi.
“Malam, Yun. Capek ya?” tanyaku sambil melepas dasi.
“Biasa aja, Mas. Ibu tadi bilang mau lembur, jadi Yuni masak buat Mas aja. Mau makan sekarang?”
Aku menggeleng. “Nanti aja. Mandi dulu.”
Di kamar mandi aku onani cepat sambil bayangin Yuni. Tapi rasanya tetap kurang. Air dingin shower tidak bisa redakan api di kepalaku.
Selesai mandi aku pakai kaos oblong hitam dan celana pendek. Keluar ke ruang keluarga, Yuni sudah selesai nyapu. Dia lagi nyetrika baju-baju Rina di meja makan. Lampu ruangan agak redup. Aku duduk di sofa, buka bir kaleng, nyalain rokok.
Yuni melirikku. “Mas kok kelihatan capek banget? Biasanya Mas cerita-cerita sama Ibu… sekarang Ibu jarang di rumah ya?”
Aku tersenyum pahit. “Iya Yun… kerjaan lagi berat. Ibu juga sibuk.”
Dia diam sebentar, lalu bilang pelan, “Kalau Mas butuh apa-apa… Yuni ada kok, Mas.”
Nada suaranya biasa saja, tapi matanya… ada sesuatu. Aku mengangguk saja, pura-pura tidak paham.
Malam semakin larut. Jam menunjukkan pukul 21.30. Rina WA lagi: “Mas, aku nginap di hotel deket kantor ya, meeting besok pagi banget. Jangan nunggu.”
Hati aku langsung panas. Sendirian di rumah berdua Yuni.
Aku ke dapur ambil bir lagi. Yuni lagi cuci piring. Air keran mengguyur tangannya yang halus. Seragamnya basah di bagian dada, baju kurungnya menempel ketat di payudara besarnya. Putingnya samar-samar kelihatan karena tidak pakai bra di dalam rumah.
Aku berdiri di belakangnya, jarak cuma satu meter. Bau sabun colek dan keringat campur parfum murahnya menguar. Penisku sudah setengah tegang.
“Yun…” panggilku pelan.
“Iya Mas?”
“Kamu… sudah punya pacar?”
Dia tertawa kecil, malu-malu. “Belum Mas. Yuni kan baru di Jakarta. Takut salah pilih.”
Aku mendekat lagi. “Capek kerja tiap hari ya? Badanmu kok tetap seksi gini…”
Yuni berhenti mencuci. Badannya agak kaku. “Mas… jangan gitu dong… Yuni takut…”
Tapi dia tidak menjauh.
Aku taruh tangan di pinggangnya dari belakang. Pelan sekali. “Yun… Mas lagi stres banget. Ibu… jarang mau. Kamu… mau bantu Mas nggak?”
Yuni diam lama. Nafasnya mulai cepat. Lalu dia balik badan, menatapku dengan mata besarnya yang polos tapi sudah mulai berkabut gairah.
“Mas… ini salah… tapi… Yuni juga sudah lama… suka lihat Mas. Mas baik… ganteng… tapi Yuni takut Ibu tahu…”
Aku tidak kasih dia kesempatan berpikir panjang. Aku tarik pinggangnya, peluk erat, lalu cium bibirnya langsung. Yuni sempat kaget, tapi hanya dua detik kemudian dia balas ciumanku. Lidahnya polos tapi panas. Tangannya merangkul leherku.
Kami berciuman liar di dapur. Tanganku langsung merayap ke bawah roknya, meremas pantatnya yang kencang dan kenyal. “Mmmhh…” erangnya di sela ciuman.
Aku angkat tubuhnya, dudukkan di meja dapur. Roknya aku singkap sampai pinggang. Celana dalamnya warna merah muda, sudah basah di tengah. Aku buka kancing baju kurungnya satu per satu. Payudaranya yang besar langsung meluncur keluar. Putingnya cokelat gelap, sudah mengeras.
“Aaahh… Mas…” desahnya ketika aku lumat puting kirinya. Aku hisap kuat, gigit pelan, lalu pindah ke yang kanan. Tanganku meremas-remas keduanya bergantian. Yuni melengkungkan badannya, tangannya meremas rambutku.
Aku turun, jongkok di depannya. Celana dalamnya aku geser ke samping. Vaginanya sudah banjir. Bibirnya tebal dan basah mengkilap. Aku jilat sekali, panjang dari bawah sampai atas.
“Nngghh…!! Mas… enak… aaahh…” Yuni langsung menggelinjang. Aku hisap klitorisnya, masukkan dua jari ke dalam liangnya yang sempit dan panas. Dinding vaginanya langsung mencengkeram jariku kuat.
Lima menit kemudian Yuni sudah orgasme pertama. Tubuhnya kejang, cairannya muncrat sedikit ke daguku. “Aaaahhh… Mas… Yuni keluar… aaahh!!”
Aku berdiri, buka celana pendekku. Penisku sudah 16 cm, tegang maksimal, kepalanya mengkilap precum. Yuni menatapnya dengan mata lapar.
“Mas… besar sekali…” bisiknya takut-takut tapi nafsu.
Aku tarik dia turun dari meja, balik badannya, tekuk dia di meja dapur. Roknya aku angkat, celana dalamnya aku tarik sampai lutut. Pantatnya yang montok terbuka lebar.
Slebbhh…!
Dengan sekali dorong, penisku masuk sampai pangkal. Hangat. Sempit. Basah. Dinding vaginanya meremas-remas batangku seperti mau memeras.
“Ooouuughhh…!! Mas… penuh… aaahh… sakit… tapi enak…” erang Yuni.
Aku kocok pelan dulu, lalu semakin cepat. Clebb… clebb… clebb… crett… crett… Suara tabrakan daging basah memenuhi dapur. Payudaranya bergoyang-goyang hebat. Aku remas keduanya dari belakang sambil terus mengocok.
Sepuluh menit doggie di meja dapur, Yuni orgasme kedua. Aku tahan dan tarik keluar. Penisku berkilau cairannya.
Aku bawa dia ke sofa ruang tamu. Aku duduk, dia aku suruh naik ke pangkuanku. Cowgirl. Dia sendiri yang memegang batangku, mengarahkan ke lubangnya, lalu menurunkan pinggulnya perlahan.
Slebbhh… “Nnggghhh…!! Dalam banget Mas… aaahh… Yuni penuh… penuh sekali…”
Dia mulai goyang naik-turun. Payudaranya bergoyang liar di depan mukaku. Aku lumat, hisap, gigit putingnya bergantian. Yuni semakin liar. Pinggulnya berputar, naik-turun semakin cepat. Keringatnya menetes ke dada ku.
“Aaahh… Mas… enak… enak banget… Yuni suka… aaahh… trus Mas… trus…”
Aku pegang pinggulnya kuat, bantu dorong naik-turun. Penisku keluar-masuk liangnya dengan cepat. Cairan putih-putih sudah keluar di pangkal batangku.
Kami ganti posisi lagi. Aku rebahkan dia di sofa, angkat satu kakinya ke pundakku, setengah misionaris. Kocokan semakin dalam dan kuat. Setiap dorongan aku tekan sampai pangkal, kepala penisku ngejepit rahimnya.
Yuni sudah menjerit-jerit keenakan. “Mas… Mas… Yuni mau keluar lagi… aaahh… keluarin di dalam aja Mas… Yuni aman… aaahh…!!”
Aku tidak tahan lagi. Aku kocok sekuat tenaga. Crett… crett… crett… crekk… crekk…!
“Ergghhh… Yuni… Mas keluar…!!”
Croot… croott… crooott… crott!!
Aku menyemburkan sperma panas-panas dalam-dalam ke rahimnya. Yuni kejang hebat, orgasme ketiganya. Vaginanya mencengkeram penisku seperti mau mematahkan. Kami berpelukan erat sambil masih berdenyut-denyut.
Tapi itu baru ronde pertama.
Setelah istirahat sebentar, aku bawa dia ke kamar pembantu. Di kasur kecilnya, kami lanjutkan lagi. Kali ini oral dulu. Yuni ternyata jago ngulum. Bibirnya yang tebal mengulum kepala penisku, lidahnya menari-nari di lubang uretra. Dia hisap kuat, kocok batangnya, jilat buah pelirku. Aku hampir gila keenakan.
Lalu aku naik lagi. Kali ini dari belakang sambil berdiri, dia membungkuk memegang kepala ranjang. Aku kocok ganas. Pantatnya yang montok bergetar setiap tabrakan. Aku tampar pelan pantatnya, dia malah semakin mengerang keenakan.
Kami coba hampir semua posisi yang aku tahu. Missionary, doggie, spooning, bahkan standing di kamar mandi pembantu sambil air shower menyiram tubuh kami berdua.
Ronde ketiga creampie lagi di kasurnya. Kali ini aku tembak sperma sebanyak-banyaknya sampai keluar dari sela vaginanya yang sudah penuh.
Pukul 01.30 malam, kami berdua sudah lemas. Yuni berbaring di pelukanku, badannya basah keringat, rambutnya acak-acakan, bekas kissmark merah di leher dan payudaranya.
“Mas… ini rahasia kita ya…” bisiknya lemah sambil menciumi dada ku.
Aku cium keningnya. “Iya Yun… rahasia kita.”
Di luar, hujan mulai turun. Rina masih di hotel. Besok pagi dia pulang.
Tapi malam ini… beban pikiranku sudah jauh lebih ringan.
Dan aku tahu, mulai besok… setiap kali Rina lembur atau pergi, aku punya “pembantu” yang siap melayani semua kebutuhanku.
ns216.73.217.22da2


