Matahari siang itu bersinar terik, memanggang aspal di kompleks perumahan elite di pinggiran kota. Namun panasnya udara tak kunjung menyentuh ruang tamu mewah di rumah Ustadz Hadi. AC berdengung pelan, menjaga suhu ruangan tetap dingin seperti es, sesuai dengan keinginan sang suami yang tak tahan berkeringat sedikit pun.
Ratna Kusuma melangkah perlahan dari dapur. Langkah kakinya yang telanjang di atas lantai marmer tak mengeluarkan suara. Perempuan berusia 32 tahun itu membawa nampan berisi teh hangat dan kue kering, berjalan dengan anggun seperti wayang yang digerakkan dalang. Jilbab hitamnya rapi, tak ada sehelai rambut pun yang meloloskan diri. Baju kurung cokelat mudanya longgar, menutupi seluruh tubuhnya tanpa membentuk lekuk sedikit pun.
Tapi siapa yang tahu? Di balik kain yang longgar itu, tubuh Ratna adalah karya seni yang tak pernah diapresiasi. Payudaranya yang besar dan berat, mengembang dengan megahnya meski tak disangga bra yang ketat. Bentuknya masih kencang, mengunci di dadanya dengan bangga, dengan dua buah puting yang berwarna merah muda, selalu tegang dan menunggu untuk dimainkan. Pinggulnya lebar, pinggangnya sempit, membentuk jam pasir yang sempurna. Pahanya yang putih mulus, berdaging tebal dan kenyal, menggigit satu sama lain setiap kali ia melangkah, menciptakan gesekan kecil yang terasa di antara kakinya.
Tubuh yang dipuja oleh alam, tapi diabaikan oleh pemiliknya yang sah.
"Mas, minumnya," suara Ratna lembut, hampir berbisik.
Ustadz Hadi duduk di sofa kulit hitam, kacamata baca bertengger di hidung mancungnya. Pria berusia 45 tahun itu sedang membaca kitab, jari-jarinya memutar tasbih dengan ritme yang monoton. Ia mendongak sejenak, mengambil gelas dari nampan tanpa melihat isterinya, lalu menengguk tehnya cepat.
"Terlalu manis," katanya dingin.
"Maaf, Mas. Besok saya kurangin gulanya."
Hadi tidak menjawab. Ia kembali membaca kitabnya, seolah Ratna sudah tak ada di ruangan itu. Perempuan itu berdiri masih, menatap punggung suaminya yang tegap namun kaku. Pria itu memang tampan—kulit sawo matang, jenggot terawat, tubuh atletis yang tak pernah melampaui batas. Tapi dari pria itu, Ratna tak pernah mendapat apa yang ia dambakan.
Sudah tiga bulan sejak terakhir kali Hadi menyentuhnya. Tiga bulan sejak ia merasakan berat tubuh suaminya di atasnya. Tiga bulan sejak ia mendengar suara nafas yang memanas, sejak ia merasakan kepanasan yang membuat kulitnya merah, sejak ia merasakan sesuatu yang keras dan besar memasuki dirinya.
Tiga bulan yang terasa seperti tiga abad.
Ratna berjalan kembali ke dapur, meletakkan nampan di atas meja granit. Tangannya gemetar sedikit, bukan karena dinginnya AC, tapi karena sesuatu yang bergolak di dalam dadanya. Sesuatu yang selalu ia coba padamkan dengan shalat, dengan dzikir, dengan doa-doa panjang di sepertiga malam.
Tapi semuanya tak pernah cukup.
Ia membuka kulkas, mengambil botol air dingin, dan menempelkannya di lehernya. Tetesan air mengalir di kulit putihnya, menghilang masuk ke balik kerah baju kurungnya. Ratna memejamkan mata, membayangkan tetesan itu adalah jemari seseorang—siapa?—yang menelusuri lehernya dengan lambat, memberikan kecupan-kecupan kecil di belakang telinganya.
Ratna membuka mata dengan kasar. Astaghfirullah. Apa yang ia pikirkan?
Ia menyandarkan punggungnya di kulkas, kedua tangannya meremas baju kurungnya di area perut. Di bawah kain itu, perutnya yang rata dan lembut berkontraksi pelan, seolah merespons bayangan yang tak seharusnya ada. Lebih ke bawah, di antara dua paha yang berdaging, ia merasakan sesuatu yang memanas. Sesuatu yang basah. Sesuatu yang berdenyut.
Sudah berapa lama ia merasakan ini? Setiap hari. Setiap malam. Setiap kali ia mandi dan air mengalir di tubuhnya. Setiap kali ia berbaring di ranjang dan mendengar dengkuran suaminya yang tak peduli. Setiap kali ia melihat pasangan lain berjalan berdampingan di mall, bermesraan, saling sentuh, tanpa malu.
Ratna menarik napas panjang. Ia mengambil wudhu, membasahi wajahnya yang oval dengan mata sipit yang menggoda, hidung mancung yang mendekati kesempurnaan, dan bibirnya—bibir yang penuh, tebal di bagian bawah, merah alami tanpa perlu lipstik. Bibir yang tak pernah dikemaskan oleh suaminya selama berbulan-bulan.
Shalat dhuha. Ya, itu yang ia butuhkan. Shalat untuk menenangkan hati, untuk memohon ampunan atas pikiran-pikiran kotor yang mulai bersarang di kepalanya.
Ratna berjalan ke kamar tidur, mengambil sajadah di lemari, dan membentangkan di atas karpet tebal. Ia berdiri menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dan mulai shalat.
"Allahu akbar..."
Suara merdu yang biasa menenangkannya kini terasa hampa. Setiap kali ia ruku, baju kurungnya jatuh ke depan, membentuk lengkungan yang menonjolkan payudaranya yang besar. Ia mencoba menahannya, menarik kain agar tak membentuk lekuk, tapi sia-sia. Tubuhnya terlalu berisi, terlalu subur, terlalu wanita untuk disembunyikan.
Ia sujud, dahi menyentuh sajadah, pantat terangkat tinggi di udara. Posisi ini... posisi ini selalu membuatnya gelisah. Karena di posisi ini, ia tak bisa berbohong pada dirinya sendiri. Di posisi ini, ia membayangkan ada seseorang di belakangnya, memegang pinggulnya, menariknya ke belakang, dan...
Astaghfirullahaladzim.
Ratna mengakhiri shalatnya dengan cepat, lebih cepat dari biasanya. Ia duduk bersimpuh di sajadah, kedua tangan terangkat berdoa, tapi bibirnya hanya bergerak tanpa suara. Matanya terasa panas, bukan karena menangis, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang membara di perut bagian bawahnya, menjalar ke selangkangan, membuat bagian tersembunyinya semakin basah dan berdenyut.
Ia menunduk, menatap pangkuannya sendiri. Di bawah baju kurung dan rok panjangnya, di balik cadar dalam yang ia kenakan setiap hari, memeknya sedang mengeluarkan cairan yang hangat dan lengket. Ia bisa merasakannya melumasi paha bagian dalamnya, membuatnya tidak nyaman.
Ini bukan yang pertama kalinya. Ini terjadi hampir setiap hari sekarang. Tubuhnya memberontak, menuntut haknya, berteriak minta disentuh, diisi, dimiliki.
Ratna bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Ia mengunci pintu, menanggalkan jilbabnya, lalu melepaskan baju kurungnya perlahan. Cermin di depannya memantulkan tubuh yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun kecuali suaminya.
Payudara yang besar dan berat, tergantung megah dengan puting yang merah muda dan tegang. Perut yang rata dengan pusar yang kecil dan dalam. Pinggul yang melebar, membentuk kurva yang mengundang. Dan di antara dua paha yang putih dan berdaging, sebuah memek yang bersemu merah muda, berbulu tipis berwarna hitam, dan saat ini—basah becek oleh cairan yang tak pernah ia minta.
Ratna menatap dirinya di cermin. Wajahnya yang cantik, tubuhnya yang sempurna, semuanya tersembunyi di balik kain yang menutupi seluruh auratnya. Isteri ustadz yang shalehah. Pengajar ngaji yang ditiru oleh para jamaah. Perempuan suci yang tak tersentuh noda.
Tapi tak ada yang tahu bahwa perempuan suci ini sedang terbakar oleh nafsu yang tak tertahankan. Tak ada yang tahu bahwa setiap malam, ia menangis bukan karena mendengar ayat suci, tapi karena kesepian yang membelenggu tubuhnya. Tak ada yang tahu bahwa di balik jilbabnya yang rapi, tersimpan dosa-dosa kecil yang mulai menggerogoti taqwa yang ia bangun selama bertahun-tahun.
Ratna membuka shower, membiarkan air dingin mengalir di tubuhnya. Ia berharap air itu bisa memadamkan api yang membakar dirinya. Tapi air itu justru membuatnya semakin sadar akan setiap inci kulitnya. Setiap tetes yang mengalir di payudaranya, di perutnya, di pahanya, terasa seperti jemari yang menelusuri tubuhnya dengan lambat dan penuh gairah.
Ia memejamkan mata, dan tanpa ia sadari, tangannya mulai merayap ke bawah. Melewati leher, dada, perut, dan berhenti di atas kemaluannya yang basah. Jari-jarinya bergidik saat menyentuh bulu halus yang menutupi memeknya. Ia tahu ini salah. Ia tahu ia harus berhenti. Tapi tubuhnya tak mau mendengar.
Satu jari masuk perlahan, merasakan dinding memeknya yang hangat, basah, dan berdenyut. Ratna menggigit bibir bawahnya, menahan desahan yang hampir lolos. Jari itu bergerak perlahan, memijit klitorisnya yang bengkak dan sensitif, menciptakan gelombang kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dalam bayangannya, bukan tangannya yang menyentuh. Adalah tangan seorang pria. Tangan yang besar, kasar, dan penuh gairah. Tangan yang memegang pinggulnya, menariknya, dan menghancurkan dinding taqwa yang selama ini ia jaga.
Tapi siapa pria itu? Wajahnya tak jelas, bayangannya kabur. Yang Ratna tahu, pria itu bukan suaminya. Pria itu adalah seseorang yang lebih muda, lebih kuat, lebih lapar. Seseorang yang bisa memberikan apa yang tak bisa diberikan oleh Ustadz Hadi.
Jari Ratna bergerak lebih cepat, lebih dalam. Cairan memeknya semakin banyak, mengalir ke pahanya, bercampur dengan air shower yang terus mengalir. Desahannya semakin keras, tak bisa ditahan lagi. Ia menyangga tubuhnya di dinding kamar mandi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sibuk memuaskan memeknya yang kelaparan.
Ah... ah... sedikit lagi... sedikit lagi...
Lalu, tepat saat ia berada di ambang puncak, bayangan itu menghilang. Tiba-tiba, tanpa alasan, kenikmatan itu memudar, meninggalkannya sendirian di bawah air dingin yang tak peduli. Ratna membuka mata, menarik jarinya keluar, dan menatap cairan bening yang menempel di ujung jarinya.
Ia gagal lagi. Seperti biasanya. Sentuhan tangannya sendiri tak pernah cukup untuk menambang kekosongan di dalam rahimnya. Ia butuh yang asli. Ia butuh pria. Ia butuh suaminya.
Ratna memukul dinding kamar mandi dengan kepalan tangan. Air matanya bercampur dengan air shower, tak bisa dibedakan mana yang mana. Ia menyandarkan punggungnya di dinding, meluncur ke bawah, dan duduk di lantai kamar mandi yang dingin.
Berapa lama lagi ia harus hidup seperti ini? Berapa lama lagi ia harus menahan nafsu yang mengoyak tubuhnya? Berapa lama lagi ia harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja?
Ia tak tahu. Yang ia tahu, hari ini terasa sangat panjang, dan malam nanti akan terasa lebih panjang lagi. Karena malam nanti, sekali lagi, ia akan berbaring di ranjang di samping suami yang tak peduli, mendengar dengkurannya yang teratur, sementara memeknya menangis minta disentuh.
Dan ia tak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis dan berdoa.
Doa yang sepertinya tak pernah didengar.
Sore menjelang dengan cepat, seolah waktu ikut bersekongkol mempercepat datangnya malam yang Ratna takuti. Ia duduk di tepi ranjang, baru saja selesai shalat ashar. Kain sajadah masih tergulung di sampingnya, memancarkan aroma debu dan kekhusyukan palsu. Ratna menatap tangannya yang masih basah oleh sisa air wudhu, menatap jemari-jemari halus yang tak pernah digunakan untuk meremas kulit pria selama berbulan-bulan.
Dari lantai bawah, terdengar bunyi kunci berputar. Pintu depan terbuka. Ustadz Hadi pulang.
Ratna segera berdiri, membetulkan jilbabnya yang sudah mulai sedikit berantakan, lalu melangkah turun dengan langkah yang diatur senyaman mungkin. Wajahnya dipaksa membentuk senyuman welcome—senyuman isteri shalehah yang menanti suami pulang dari medan jihadnya mengajarkan agama.
"Mas Hadi pulang," sapa Ratna lembut saat pria itu memasuki ambang pintu.
Hadi hanya mengangguk singkat. Ia melepas sepatu kulitnya dengan gerakan kaku, menyandarkan tas hitamnya di meja入口, dan berjalan melewati isterinya tanpa sedikit pun sentuhan, tanpa kecupan pipi, apalagi pelukan. Bau attar dari leher Hadi menguar, tajam dan dingin, sangat berbeda dengan rasa hangat yang Ratna cari.
"Ada tamu makan malam ini. Kiai Hamdan dari kota," ucap Hadi datar, melangkah menuju kamar mandi. "Sediakan makanan yang layak. Jangan terlalu banyak gula pada tehnya."
"Baik, Mas."
Pintu kamar mandi ditutup dengan bunyi klik yang tajam, mengunci Hadi dari dunia luar—dan mengunci Ratna di luar kehidupannya. Perempuan itu berdiri sendirian di ruang tamu, menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu kayu. Dadanya terasa sesak. Sekali lagi, ia hanya menjadi mesin pemenuh kebutuhan, bukan perempuan yang diinginkan.
Di dapur, Ratna mengiris bawang dengan gerakan mekanis. Matanya menatap mata pisau yang membelah umbi merah itu, membayangkan betapa mudahnya sesuatu yang utuh diiris menjadi hancur berkeping-keping. Seperti hatinya. Seperti rahimnya yang merintih kelaparan.
Saat memasak, panas dari kompor menyapu wajah dan tubuhnya. Keringat mulai bermunculan di dahi dan leher Ratna. Ia melihat bayangannya di kaca jendela dapur—seorang perempuan berjilbab dengan baju kurung yang mulai menempel di kulit karena peluh. Tanpa ia sadari, lengannya yang berpeluh mengusap dada, dan sensasi kulit yang saling bersentuhan itu membuatnya tersentak. Payudaranya terasa sangat berat hari ini, begitu peka hingga gesekan kain bra saja terasa seperti siksaan.
Ia memegangi payudaranya sejenak di atas dapur yang memanas, meremasnya perlahan. Ah... sedikit tekanan saja membuat putingnya berdiri tegang, mengirimkan sinyal listrik langsung ke selangkangannya. Ratna menggigit bibir bawahnya, berusaha menekan desahan yang nyaris lolos. Di bawah rok, memeknya kembali berdenyut, mengeluarkan lendir yang hangat dan membuatnya gelisah.
Ia merasa seperti seekor hewan kedinginan yang terus merapikan diri di dekat api, tapi api itu—suaminya—menolak untuk menghangatkannya.
Malam pun tiba. Makan malam bersama Kiai Hamdan berjalan dengan lancar, penuh dengan obrolan-obrolan perihal fikih dan dakwah yang tak pernah Ratna pahami konteksnya. Ia hanya duduk diam di sudut meja, sesekali menuangkan teh, menjadi dekorasi yang wajib ada dalam rumah seorang ustadz. Matanya sesekali mencuri pandang ke arah wajah Hadi yang sedang berbicara dengan penuh wibawa. Pria itu tampan, tak bisa dipungkiri. Garis rahangnya tegas, matanya dalam, tangannya yang memegang cangkir teh begitu berisi.
Tapi tangan itu tak pernah menyentuhnya dengan gairah. Tangan itu hanya tahu cara memutar tasbih, membolak-balik halaman kitab, dan menolak rayuan isterinya.
Setelah tamu pulang dan pintu depan ditutup, Ratna membersihkan meja dengan langkah yang tertatih. Kelelahan mulai menyapu tubuhnya, tapi kelelahan itu bukan karena pekerjaan rumah. Ia lelah menahan nafsu. Llah menahan rindu pada sentuhan yang tak pernah datang.
Ia membasuh tangan, mematikan lampu dapur, dan naik ke kamar tidur dengan jantung yang berdebar lebih kencang dari biasanya. Malam ini, ia bertekad. Ia tidak akan membiarkan Hadi tidur tanpa mencobanya sekali lagi. Tiga bulan sudah. Terlalu lama bagi perempuan berusia tiga puluh dua tahun yang masih sangat subur.
Di kamar, Hadi sudah duduk di tepi ranjang, memakai sarung dan kaus oblong, sibuk membaca ponselnya. Ratna masuk dengan napas yang diatur. Ia membuka lemari, bukan mengambil baju tidur biasa yang longgar dan membosankan, melainkan sebuah neglige satin berwarna dusty pink yang pembeliannya terpaksa ia sembunyikan dari suaminya beberapa bulan lalu. Baju itu tipis, dengan kerung dada yang rendah, dirancang untuk memamerkan lekuk tubuh, bukan menutupinya.
Dengan punggung menghadap Hadi, Ratna melepas baju kurung dan roknya. Ia sengaja membiarkan lampu malam menyala, membiarkan siluet tubuhnya terpantul di dinding. Ia tahu lekuk pantatnya yang montok, pinggangnya yang kecil, dan pahanya yang penuh terlihat jelas di balik bayangan itu. Ia berharap Hadi melihatnya. Ia berharap suaminya menghentikan bacaannya dan menatap isterinya yang sedang menanggalkan pakaiannya.
Tapi tidak ada suara dari arah ranjang. Tidak ada decak kagum. Tidak ada tarikan napas yang tertahan.
Ratna menarik neglige satin itu melewati kepalanya. Kain dingin itu meluncur di kulitnya, menyentuh putingnya yang sudah tegang sejak tadi di dapur, membuatnya merinding. Ia membalikkan badan, berjalan mendekat ke ranjang dengan langkah yang paling anggun yang bisa ia lakukan.
"Mas..." panggil Ratna, suaranya dibuat serendah dan seberat mungkin, nadanya dipenuhi rayuan yang tak ia gunakan sejak awal pernikahan mereka.
Hadi mendongak sekilas, lalu kembali menatap layar ponselnya. "Kenapa pakai baju begitu? Terlalu tipis. Kalau ada tamu tiba-tiba datang, bagaimana?"
"Tidak ada tamu yang datang tengah malam ke kamar tidur kita, Mas," jawab Ratna, berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Ia duduk di samping suaminya, mendekatkan tubuhnya hingga aroma parfumnya yang bercampur keringat halus tercium oleh Hadi.
Tangannya yang halus menyentuh paha Hadi di atas sarung. Perlahan, ia mengusip paha itu, merayap naik menuju pinggang. "Mas... sudah lama sekali kita tidak..."
"Ratna." Suara Hadi memotong, tajam dan dingin seperti es yang mencairkan semangat Ratna seketika. Pria itu menyingkirkan tangan isterinya dari pahanya dengan gerakan yang terlalu cepat, seolah ia baru saja menyentuh sesuatu yang najis.
"Mas, tolong... aku butuh Mas hari ini," Ratna tidak menyerah. Ia memajukan tubuhnya, membiarkan lututnya menyentuh lutut Hadi, dadanya yang terangkat oleh neglige satin itu sedikit menekan lengan suaminya. "Aku merindukan Mas. Tiga bulan, Mas. Tubuhku... tubuhku sakit."
Udara di kamar itu mendadak terasa sangat berat. Hadi meletakkan ponselnya di atas nakas dengan bunyi ketukan yang keras. Ia menoleh, menatap Ratna dengan tatapan yang tak pernah Ratna lihat selama ini—tatapan kecewa, penuh kebencian yang terselubung, dan rasa jijik yang nyaris tak tertutupi.
"Sakit? Apa yang sakit, Ratna? Penyakitmu hanya ada di pikiranmu yang kotor," desis Hadi, suaranya tertahan agar tidak terdengar oleh tetangga, namun kekerasannya memukul telinga Ratna layaknya teriakan. "Kau ini perempuan atau binatang? Tidak bisa menahan nafsu sedikit saja? Kita ini hamba Allah. Kita bukan binatang yang dikendalikan oleh selangkangannya."
Kata-kata itu menampar Ratna lebih keras dari cekikikan fisik. Ia mundur sedikit, dadanya terasa seperti dihantam palu. Matanya memanas, air mata mulai menggenang.
"Tapi Mas... aku isterimu. Ini hakku—"
"Hak?" Hadi tertawa sinis, tawa yang menusuk ulu hati Ratna. "Hakmu adalah taat pada suamimu! Hakmu adalah menjaga dirimu bukan menggoda dengan pakaian penggoda seperti pelacur! Apa kau pikir dengan memakai kain tipis itu aku akan tergoda dan melakukan hal-hal hewani sepertimu? Berpikirlah! Shalat malam, baca Al-Quran, bukan merenungkan nafsumu!"
Kata 'pelacur' dan 'hewani' bergema di kepala Ratna, memecahkannya menjadi jutaan kepingan. Ia terdiam, bibirnya bergetar hebat, air mata akhirnya tumpah membasahi pipinya yang merah padam. Ia tidak menyangka suaminya akan mengatakannya. Ia hanya ingin dicintai, ingin disentuh, ingin diinginkan sebagai perempuan, bukan sebagai mesin pencuci piring dan pelayan tamu.
Hadi membalikkan badannya, membelakangi Ratna. Ia mematikan lampu nakas dengan kasar, menenggelamkan kamar itu dalam kegelapan. "Tidurlah. Dan ganti baju itu sekarang juga. Aku tidak tahan melihatnya."
Kamar itu seketika hening, hanya diisi oleh suara detak jantung Ratna yang terlalu keras dan rintihan tangisnya yang tertahan di tenggorokan. Ia duduk bingung di tepi ranjang dalam kegelapan, merasa telanjang meski memakai neglige satin. Bukan telanjang secara fisik, tapi telanjang secara martabat. Suaminya baru saja merampas harga dirinya, menginjak-injak kebutuhannya, dan menyebutnya pelacur hanya karena ia ingin bercinta dengan suaminya sendiri.
Dengan tangan yang gemetar dan penglihatan yang buram oleh air mata, Ratna melepaskan neglige satin itu. Ia tidak mempedulikan kain itu jatuh ke lantai. Ia meraih baju tidur biasa yang longgar dan kaku, menariknya melewati kepalanya, menyembunyikan tubuhnya kembali ke dalam kain yang tak berbentuk.
Ia berbaring di samping Hadi, menjauhkan tubuhnya hingga nyaris terjatuh dari ranjang. Suaminya sudah mengatur napas dengan teratur, seolah perseteruan tadi tidak mengguncang hatinya sedikit pun. Pria itu bisa tidur dengan tenang, sementara Ratna sedang mati sedikit demi sedikit di sampingnya.
Di dalam kegelapan, Ratna menatap langit-langit. Tangannya secara refleks merayap ke dadanya sendiri, meremas payudara yang tadi ia tawarkan pada suaminya namun ditolak dengan kasar. Ia meremasnya keras, mencoba mencari rasa sakit untuk menggantikan rasa hampa di hatinya. Putingnya yang tegang ditelekukkan oleh jari-jarinya sendiri, dan rasa sakit itu sedikit mengurangi gatal di selangkangannya.
Lalu, tangannya turun. Melewati perut yang rata, menyusup di bawah kain baju tidur yang longgar, dan masuk ke dalam celana dalamnya.
Saat jarinya menyentuh kemaluan, Ratna menutup matanya rapat-rapat. Memeknya basah. Sangat basah. Meskipun ia ditolak, dihina, dan disebut pelacur, tubuhnya justru semakin menjijikkan dengan mengeluarkan lendir nafsu yang deras. Ia membenci dirinya sendiri karena ini, tapi ia tak bisa berhenti.
Ia memasukkan dua jari ke dalam liangnya yang menangis. *Squelch.* Suara itu terdengar sangat jelas di kegelapan. Ia tidak berani mendesah. Ia hanya bisa menggigit bantal sambil menyodok memeknya yang becek dengan gerakan yang penuh kemarahan dan frustrasi.
Ia membayangkan seorang pria. Bukan Hadi. Pria itu tidak memiliki wajah, tapi ia kuat, ia panas, dan ia lapar. Pria itu tidak akan menolaknya. Pria itu tidak akan menyebutnya pelacuh. Pria itu akan merobek baju tipis itu, membuang bra yang menahan payudaranya, dan mengisap putingnya hingga ia menjerit. Pria itu akan menarik pahanya, membuka lebar-lebar, dan menghantam sesuatu yang keras dan besar ke dalam rahimnya hingga ia lupa pada nama suaminya.
Ah... ya... hancurkan aku... Ratna merintih dalam hati, jari-jarinya bergerak makin cepat, makin dalam. Cairan memeknya membasahi pahanya, membasahi seprai, membawa aroma amis yang memenuhi kamar. Ia tidak peduli jika Hadi menciuminya. Ia tidak peduli lagi.
Saat gelombang orgasme yang dipaksakan itu akhirnya menghantamnya, Ratna menggigit bantal dengan keras hingga rahangnya terasa pegal. Tubuhnya bergetar, liangnya berkontraksi mengisap jari-jarinya sendiri, tapi kenikmatan yang ia rasakan hampa. Kosong. Seperti minum air laut yang semakin membuatnya haus.
Ia menarik tangannya, membiarkan cairan itu mengering di pahanya. Ia tidak punya tenaga untuk berdiri dan membersihkan diri. Ia hanya ingin terbaring di sini, di dalam dosa yang ia ciptakan sendiri, di samping pria yang menyebutnya najis.
Malam itu panjang. Dan Ratna tahu, esok hari akan datang dengan cepat. Ia harus kembali menjadi isteri ustadz yang sempurna, menyembunyikan memek yang becek dan hati yang hancur di balik jilbab yang rapi.
Tapi di kepalanya, bayangan pria tanpa wajah itu masih berdiri. Menunggu. Menantikan saat Ratna akhirnya berhenti berlari dan mulai jatuh ke pelukannya.
Dan saat itu tiba, Ratna tahu ia tidak akan pernah kembali lagi.
Pagi datang tanpa kehangatan. Ratna membuka mata, disambut oleh cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui celah gorden, menyinari sisi ranjang yang sudah kosong. Hadi sudah tiada, meninggalkan bekas lipatan selimut yang rapi di sisinya. Seperti biasa, pria itu bangun sebelum fajar dan tak pernah sekali pun menoleh untuk membangunkan isterinya dengan ciuman pagi.
Ratna terbaring masih, merasakan pegal yang meresap di setiap sendi tubuhnya. Tidurnya semalam nyaris tak ada, digantikan oleh mimpi-mimpi buruk yang dipenuhi bayangan tangan-tangan kasar yang meraihnya dan suara-suara yang membisikkan kata-kata kotor di telinganya. Ia menggerakkan kakinya, dan sekali lagi, menyadari kelembapan yang menempel di paha dan celana dalamnya. Memeknya masih becek. Meskipun ia sudah merangsangnya hingga orgasme semalam, tubuhnya seolah menolak untuk puas. Racun nafsu itu telah meresap ke dalam aliran darahnya, menuntut suapan yang lebih nyata dari sekadar jari-jari dan bayangan.
Dengan napas yang berat, Ratna menarik selimut dan memaksa tubuhnya berdiri. Ia berjalan ke kamar mandi, mencuci muka yang sembab, lalu berwudhu untuk shalat subuh. Air yang dingin itu tak mampu menyirami nafsu di dalam hatinya.
Setelah shalat, Ratna bersiap-siap untuk rutinitas paginya: mengajar ngaji di rumahnya. Setiap Selasa dan Kamis, para jamaah perempuan dari kompleks sekitar akan berduyun-duyun datang ke ruang tamu rumah Ustadz Hadi untuk belajar tajwid dan mengkaji kitab.
Ratna memilihkan baju kurung berwarna abu-abu tua, yang paling longgar dan paling tidak membentuk tubuh di antara koleksinya. Ia mengenakan kerudung yang menutupi dada, memastikan tidak ada seinci pun kulit yang terlihat. Ia menatap diri di cermin—wajahnya yang cantik kini tampak pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata. Ia mengoleskan sedikit bedak, berusaha menutupi jejak kelelahan dan dosa semalam.
"Semoga hari ini berjalan lancar," bisik Ratna pada pantulannya, seolah berdoa, tapi sebenarnya lebih seperti permohonan agar kegilaan di dalam dirinya tidak tumpah keluar.
Pukul sembilan pagi, bel depan berbunyi. Ibu-ibu jamaah mulai berdatangan, membawa anak-anak mereka yang masih kecil, membawa wadah-wadah makanan, dan membawa senyuman yang selalu terlalu ramah bagi Ratna.
"Assalamu'alaikum, Bu Ustadzah! Alhamdulillah, hari ini cuacanya cerah," sapa Ibu Murtilah, perempuan paruh baya yang selalu duduk di barisan depan.
"Wa'alaikumussalam, Bu Murtilah. Silakan masuk, sudah saya siapkan tikarnya," jawab Ratna dengan senyum yang telah ia latih berulang kali. Senyum penuh ketenangan, senyum isteri ustadz yang tak tersentuh masalah duniawi.
Mereka duduk melingkar di ruang tamu yang luas, membuka kitab-kitab suci di pangkuan mereka. Ratna duduk di atas kursi kayu yang sedikit lebih tinggi, memimpin pembacaan.
"Bismillahirrahmanirrahim. Hari ini kita akan membaca Surat An-Nisa, ayat 34," ucap Ratna, suaranya merdu dan mengalir. "Ar-rijalu qawwamuna 'alan-nisa... Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan..."
Saat Ratna melafalkan ayat itu, sesuatu di dalam dadanya berdenyut sakit. Ia melirik ke arah Ibu Murtilah yang mengangguk-angguk kagum, lalu ke perempuan-perempuan lain yang mendengarkan dengan taat. Mereka semua percaya pada setiap kata yang keluar dari bibir Ratna. Mereka menganggap Ratna adalah sosok perempuan yang dilindungi, dihormati, dan dipenuhi kasih sayang oleh suaminya.
Tapi kenyataannya? Suaminya menganggapnya pelacur hanya karena ingin bercinta.
"Suami adalah pemimpin, jadi kita sebagai isteri harus taat. Jangan pernah menolak panggilan suami, Bu-bu. Itu dosa besar," lanjut Ratna, suaranya mulai bergetar sedikit. Ia mencoba menekan rasa sesak di tenggorokannya. "Meskipun kita sedang lelah, sedang tidak enak hati, kita wajib memenuhi hajatnya. Karena... karena surga isteri ada di bawah telapak kaki suami."
Kata-kata itu terasa seperti pasir yang ditelannya sendiri. Ia mengajarkan ketaatan, sementara di malam hari ia merintih sendirian karena ketaatan itu membawanya pada kekeringan yang menyiksa.
"Bu Ustadzah, kalau suami kita tidak pernah memanggil kita, bagaimana?" tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan. Suara itu berasal dari Nisa, janda muda berusia akhir dua puluhan yang baru saja bergabung di pengajian. Nisa menatap Ratna dengan mata yang penuh rasa sakit yang biasa.
Ratna terdiam. Pertanyaan itu menusuk tepat di jantungnya. Bagaimana jika suami tidak pernah memanggil? Bagaimana jika suami justru menolak saat isteri yang memanggil?
"Itu... itu ujian, Bu Nisa," jawab Ratna, suaranya terdengar serak. Ia menelan ludah, berusaha menjaga ketenangan di wajahnya. "Kita harus bersabar. Mungkin suami sedang banyak pikiran. Atau mungkin... mungkin kita yang kurang mendekatkan diri pada Allah, jadi suami jadi jauh."
Kata-kata itu adalah kebohongan yang paling masif yang pernah Ratna ucapkan. Karena Ratna sudah mendekatkan diri pada Allah sejak ia menginjakkan kaki di rumah ini. Ia shalat, ia puasa, ia bersedekah, ia mengaji. Tapi suaminya tetap dingin. Rahimnya tetap kering. Dan nafsunya tetap mengamuk seperti api yang diberi bensin.
Pengajian berlanjut, tapi pikiran Ratna melayang. Ia tidak fokus pada huruf-huruf hijaiyah di depannya. Matanya malah menyapu tubuh-tubuh perempuan di ruangan itu. Ia memperhatikan Ibu Murtilah yang mengenakan gamis yang terlalu ketat, memperlihatkan bentuk lengan yang berdaging. Ia memperhatikan Nisa yang kerudungnya sedikit tergeser, memperlihatkan leher yang panjang dan putih. Ia membayangkan bagaimana jika suami-suami mereka memperlakukan mereka di ranjang. Apakah mereka juga menangis di tengah malam karena ditolak? Apakah mereka juga memek yang becek karena tak pernah disentuh?
Astaghfirullah. Apa yang ia pikirkan? Ratna menggelengkan kepalanya kasar, mencoba mengusir pikiran kotor itu.
"Bu Ustadzah? Ada yang salah?" tanya Ibu Murtilah, menatap Ratna dengan kekhawatiran.
"Tidak, tidak. Maaf, saya sedikit pusing," alasan Ratna, memegangi pelipisnya. "Mari kita lanjutkan."
Setelah pengajian usai dan para jamaah pulang, Ratna merapikan ruang tamu dengan gerakan yang lambat. Ia memungut kitab-kitab yang berserakan, menyapu lantai, dan mencuci gelas-gelas yang ditinggalkan tamu. Tangan-tangannya sibuk bekerja, tapi otaknya tak berhenti berpikir.
Ia merasa seperti orang gila. Di siang hari ia adalah sosok suci yang mengajarkan kesalehan, di malam hari ia adalah perempuan hina yang merangsang dirinya sendiri sambil membayangkan pria asing. Keduanya hidup berdampingan di dalam tubuh yang sama, saling membenci, saling memakan.
Saat ia selesai mencuci gelas terakhir di dapur, Ratna berdiri di depan jendela. Ia menatap halaman belakang rumahnya yang luas, melihat pohon mangga yang rindim dan pagar tinggi yang melindungi rumahnya dari pandangan luar. Tapi pagar itu juga memenjarakannya. Ia terjebak di dalam rumah yang dingin, bersama pria yang tak menginginkannya, dan dengan nafsu yang pelan-pelan memakannya hidup-hidup.
Matanya turun ke perutnya sendiri, lalu ke bawah. Ia menekan tangan di atas kemaluannya di luar baju kurung. Terasa hangat. Terasa berdenyut. Ia ingin menangis. Mengapa tubuhnya begitu berontak? Mengapa ia tidak bisa menjadi perempuan yang baik seperti yang diinginkan suaminya? Perempuan yang bisa menahan nafsu, yang bisa puas hanya dengan shalat dan dzikir?
Karena ia bukan malaikat. Ia manusia, yang terbuat dari daging dan darah yang membutuhkan sentuhan.
Sore itu, saat matahari mulai merendam di ufuk barat, Ratna duduk di teras belakang rumah. Ia mengangkat kakinya ke atas kursi, memeluk lututnya, menatap langit yang berwarna jingga. Angin sore berhembus pelan, mengibarkan ujung jilbabnya, menyentuh lehernya yang terbuka sedikit.
Terdengar suara motor mendekat dari arah gang belakang. Suara knalpot yang besar dan keras, sangat berbeda dari suara motor matik yang biasa lewat. Ratna menoleh, kebiasaan lintasannya yang tidak bisa ia kendalikan.
Sebuah motor sport hitam berhenti di depan rumah kontrakan kosong di seberang halaman belakangnya. Rumah itu sudah kosong selama berbulan-bulan, sejak penyewa sebelumnya pindah. Ratna biasanya tidak peduli, tapi kali ini, sosok yang turun dari motor itu membuat matanya terkunci.
Seorang pemuda.
Ia memakai jaket kulit hitam yang membuka di bagian dada, menampilkan kaus putih yang ketinggalan oleh keringat perjalanan. Rambutnya disisir ke belakang, sedikit berantakan oleh helm. Wajahnya... Tuhan, wajahnya seperti dipahat dari batu granit, dengan rahang yang tegas dan hidung yang mancung. Ia melepas helm, mengibaskan rambutnya, lalu menatap sekeliling dengan mata yang tajam.
Saat mata pemuda itu menyapu lingkungan, tatapannya tiba-tiba bertemu dengan mata Ratna yang sedang menatapnya dari teras seberang.
Ratna tersentak. Ia harus membuang muka. Ia harus masuk ke dalam rumah. Ini tidak pantas. Ia sedang menatap pria ajnabi yang bukan mahramnya. Tapi kakinya menolak bergerak. Matanya terpaku pada sosok pemuda itu.
Pemuda itu tidak membuang muka. Sebaliknya, ia menyeringai tipis, senyum yang tahu diri, senyum yang seolah menelanjangi Ratna dari jarak dua puluh meter itu. Ia mengangkat dagu sedikit, memberikan isyarat salam yang arogan, lalu berjalan masuk ke dalam halaman kontrakan itu, membawa tas ransel di punggungnya yang kekar.
Ratna duduk mematung, jantungnya berdegup sangat keras hingga terasa berdentang di telinganya. Napasnya memburu. Kepalanya pusing.
Siapa pemuda itu? Penghuni baru? Dan kenapa hanya dengan satu tatapan, tanpa sentuhan, tanpa kata-kata, memeknya yang sudah mulai reda kembali berdenyut hebat, mengeluarkan cairan yang hangat dan menjengkelkan di balik celana dalamnya?
Ini bukan kebetulan. Ini adalah godaan yang dikirimkan langsung oleh setan ke teras rumahnya.
Ratna berlari masuk ke dalam rumah, mengunci pintu teras, dan bersandar di sana. Ia menutup matanya, mencoba mengusir bayangan senyum pemuda itu, tapi semakin ia berusaha melupakannya, semakin jelas bayangan itu tertanam di kepalanya.
Malam itu, saat Hadi pulang dan langsung pergi ke masjid untuk shalat Isya berjamaah, Ratna berdiri di depan jendela kamar tidurnya yang menghadap ke halaman belakang. Ia mematikan lampu kamarnya, bersembunyi di balik gorden, dan mengintip.
Di halaman kontrakan seberang, lampu teras menyala. Ia bisa melihat siluet pemuda itu bergerak di dalam rumah. Pemuda itu tampaknya sedang merapikan barang-barangnya. Sesekali, ia keluar ke teras, menyalakan rokok, dan menatap ke arah langit malam.
Ratna memperhatikan setiap gerakan pemuda itu. Cara ia mengisap rokok, cara asap mengepul dari bibirnya yang tipis, cara ia bersandar di tiang teras dengan sikap yang santai dan penuh kepercayaan diri. Ada aura bahaya yang menguar dari pria itu, aura yang sangat kontras dengan kesucian rumah Ratna.
Dan Ratna menyadari satu hal yang mengerikan: ia tertarik pada bahaya itu. Ia tertarik pada api yang bisa membakarnya hidup-hidup. Karena kehidupan suci yang ia jalani selama ini terlalu dingin, terlalu membosankan, hingga ia mulai membeku. Ia butuh api. Ia butuh kehangatan, meski itu datang dari neraka.
Tangannya merayap ke bawah baju tidurnya sekali lagi. Ia tidak bisa menahannya. Siang ini, ia mengajarkan kesalehan. Malam ini, ia akan mengkhianatinya dengan bayangan seorang pemuda yang bahkan belum ia ketahui namanya.
Ratna mengelus memeknya yang basah, membayangkan tangan pemuda itu mengganti tangannya. Membayangkan bibir yang mengisap rokok itu mengisap putingnya sebagai gantinya. Membayangkan tubuh yang kekar itu menimpanya, menghancurkan dinding-dinding pembatas yang selama ini membelenggunya.
Ah... siapapun kamu... pikir Ratna, sementara jarinya mulai bergerak lebih cepat. Aku butuh kamu. Aku butuh dosa yang bisa membuatku lupa pada surga yang tak pernah kukenal.
Dan di luar jendela, pemuda itu menghembuskan asap rokoknya ke udara malam, seolah sedang mengirimkan pesan pada Ratna bahwa ia ada di sana, menunggu.
Menunggu untuk memakannya.
Hujan rintik-rintik turun tanpa henti sejak subuh, membuat udara di luar terasa sangat dingin dan lembap. Ratna bangun dengan tubuh yang terasa berat, seolah ada timbunan batu di atas dadanya. Semalam, ia kembali mengakhiri harinya dengan tangan yang membelai kemaluannya sendiri, membayangkan sosok pemuda berjaket kulit yang bahkan belum ia ketahui namanya. Dan sekali lagi, kenikmatan yang ia dapat hanyalah kepingan-kepingan hampa yang tak bisa menyambung retakan di hatinya.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang kabur oleh tetes-tetes air hujan. Di sampingnya, tempat tidur Hadi sudah kosong seperti biasa. Pria itu bahkan tidak sempat menyapa sebelum pergi ke masjid untuk mengurus persiapan peringatan Maulid Nabi. Tidak ada pesan. Tidak ada catatan. Hanya kekosongan yang makin membesar.
Ratna menghela napas panjang, lalu memaksa tubuhnya berdiri. Ia harus menjalani hari ini, seperti hari-hari sebelumnya. Menjadi isteri yang sempurna. Menjadi pengajar ngazi yang diteladani. Menjadi perempuan yang tak memiliki nafsu.
Setelah mandi dan shalat subuh, Ratna bersiap-siap menghadapi hari yang panjang. Ia mengenakan baju kurung berwarna navy blue dengan hiasan sulam di kerahnya, jilbab matching yang disematkan rapi, dan rok hitam panjang yang menyapu lantai. Ia memilih bra yang sedikit lebih ketat dari biasanya—bukan karena ingin terlihat seksi, tapi karena payudaranya terasa sangat sensitif hari ini. Sedikit gerakan saja membuat putingnya bergesekan pada kain, mengirimkan sensasi yang mengganggu konsentrasinya.
Pagi itu, Ratna mengerjakan rutinitasnya dengan otomatis. Ia menyapu lantai, mengepel, mencuci pakaian suaminya, dan memasak nasi beserta lauk-pauk untuk makan siang. Tapi sepanjang aktivitas itu, pikirannya terus melayang ke jendela dapur.
Jendela itu menghadap langsung ke halaman belakang rumah kontrakan kosong—atau yang kini tampaknya sudah tidak kosong lagi. Sejak kemarin sore melihat pemuda itu tiba, ada sebagian kecil dari diri Ratna yang terus ingin mengintip, ingin tahu apa yang dilakukan pemuda itu di pagi yang mendung ini.
Saat ia sedang mencuci sayur di bak dapur, telinganya menangkap suara bass yang tak biasa dari arah seberang. Suara musik yang berat dan berirama, sangat berbeda dengan recitan murottal yang biasa mengudara dari rumah-rumah tetangga setiap pagi. Ratna menghentikan kegiatannya. Ia mengeringkan tangannya di celemek, lalu perlahan berjalan mendekat ke jendela.
Ia mengintip dari balik gorden renda yang setengah tertutup.
Di halaman belakang kontrakan, pemuda itu sedang berdiri di bawah atap teras yang bocor, merokok sambil menatapi hujan. Ia hanya mengenakan celana jogging hitam dan kaus putih tipis yang basah oleh percikan air, menempel di tubuhnya dan memperlihatkan lekuk-lekuk otot yang luar biasa di bawahnya. Rambutnya lembap, diusir ke belakang dengan gerakan santai, menampilkan wajah yang tampan namun penuh dengan kekasaran yang mengundang.
Ratna menelan ludah. Matanya terpaku pada sosok itu. Ada sesuatu yang sangat primitif dalam cara pemuda itu berdiri—kaki terbuka lebar, bahu mengendur, satu tangan di saku celana, dan yang memegang rokok diletakkan di bibir tipisnya. Ia tampak seperti serigala yang sedang beristirahat, mengawasi wilayah kekuasaannya, menunggu mangsa yang lewat.
Dan seolah memiliki indra keenam, pemuda itu mendongak. Matanya yang gelap dan tajam langsung menembus jarak, menemukan siluet Ratna yang bersembunyi di balik gorden.
Ratna tersentak. Ia lompat ke belakang, bersembunyi di balik dinding dapur, jantungnya berdegup kencang sekali hingga terasa berdentum di telinganya. Pipinya terasa panas, napasnya memburu. Ia tertangkap basah sedang mengintip. Ia tertangkap basah sedang menatap pria bukan suaminya.
Astaghfirullah! Astaghfirullah! Ratna meremas ujung celemeknya, berusaha menenangkan diri. Ini hanya kewajaran. Pemuda itu baru pindah. Tentu ia akan penasaran dan melihat-lihat. Dan Ratna kebetulan sedang berada di dekat jendela. Itu saja. Tidak ada niat jahat. Tidak ada godaan.
Tapi tubuhnya berkata lain. Di bawah rok panjangnya, memeknya kembali mengeluarkan cairan yang hangat dan menjengkelkan. Hanya dari tatapan mata! Hanya dari jarak dua puluh meter! Bagaimana bisa seorang pria memiliki kekuatan begitu besar tanpa menyentuhnya sama sekali?
Ratna berlari ke kamar mandi, mencuci mukanya dengan air dingin, berusaha memadamkan api yang baru saja menyala di perutnya. Ia menatap cermin, melihat wajahnya yang memerah dan matanya yang berbinar tidak normal.
"Kamu gila, Ratna. Kamu gila," omelnya pada dirinya sendiri. "Dia anak orang. Mungkin mahasiswa. Mungkin pekerja kasar. Kamu istri ustadz! Kamu bukan perempuan jalang yang bisa tergoda hanya karena melihat pria tampan!"
Tapi kata-katanya sendiri terdengar seperti kebohongan. Karena Ratna tahu, bukan kecantikan pemuda itu yang menggodanya. Tapi kelaparan. Ia sudah terlalu lama kelaparan, sehingga meskipun hanya bayangan makanan, ia sudah mulai mengiler.
*
Sore harinya, hujan telah berhenti. Ratna sedang menjemur pakaian suaminya di halaman belakang. Ia sengaja memilih waktu sore, berharap pemuda itu sudah masuk ke dalam rumah dan tidak terlihat di teras. Tapi sekali lagi, takdir bermain padanya.
Saat Ratna sedang menjepretkan baju Hadi di tali jemuran, terdengar suara gerakan dari arah seberang. Ia tidak menoleh, memaksakan diri untuk fokus pada pekerjaannya, tapi telinganya mencuri suara-suara itu.
"Permisi, Bu."
Suara itu membuat Ratna tersentak. Berat. Rendah. Dan sangat dekat. Ia memutar tubuhnya, menemukan pemuda itu berdiri di tepi pagar pembatas, bersandar santai sambil memegang sekaleng minuman bersoda.
Jarak mereka kini hanya terpaut dua meter. Ratna bisa melihat detail-detail yang tidak ia tangkap dari kejauhan. Pemuda itu lebih tinggi dari bayangannya, mungkin sekitar seratus delapan puluh sentimeter. Kulitnya sawo matang yang mulus, tanpa bekas jerawat atau noda. Matanya sangat hitam, seperti lubamg tanpa dasar, dengan bulu mata yang tebal. Dan bibirnya... bibirnya tipis dengan sudut-sudut yang naik, seolah selalu siap untuk menyeringai.
"Ya?" Ratna berusaha membuat suaranya sedingin mungkin, menyembunyikan getaran di tenggorokannya.
Pemuda itu tersenyum, menampilkan gigi-gigi putih yang kontras dengan kulit gelapnya. "Saya Fadhli. Baru pindah kemarin. Mau tanya, Bu, posisi masjid di kompleks ini di mana ya? Saya dengar azan tadi, tapi bingung arahnya."
Ratna menelan ludah. Fadhli. Namanya Fadhli. "Oh... masjidnya di ujung jalan utama, masuk gang sebelah kiri. Tidak jauh dari sini."
"Terima kasih, Bu. Saya belum hafal jalannya. Kompleksnya besar," Fadhli mengangguk, lalu meminum sodanya. Matanya tidak meninggalkan Ratna. Ia membiarkan pandangannya menyapu perempuan itu dari atas ke bawah—dari jilbab yang rapi, ke baju kurung yang longgar, turun ke pinggul yang lebar, dan berhenti di kaki yang tertutup rok panjang.
Ratna merasa telanjang di bawah tatapan itu. Ia tidak terbiasa dilihat seperti ini. Suaminya tidak pernah menatapnya dengan gairah. Tapi tatapan Fadhli... tatapan itu seperti tangan yang membelai tubuhnya, mengupas lapisan demi lapisan kain yang menutupinya, hingga tersisa hanya daging dan nafsu.
"Ini... ini rumah siapa, Bu? Rumah ustadz ya? Saya lihat banyak tamu yang pakai jilbab dan peci kemarin," tanya Fadhli lagi, suaranya santai, namun ada nada menggoda di balik kata-katanya.
Ratna mengangguk pelan. "Iya. Rumah suami saya. Dia ustadz di masjid sebelah."
Fadhli menyeringai lebih lebar. "Wah, istri ustadz. Salut, Bu. Pasti sabar banget ya, jaga rumah sendirian seharian."
Kalimat itu mengandung makna ganda yang tidak halus. Ratna bisa merasakan getaran di dadanya. Ia tahu Fadhli sedang menggodanya, mencari celah, mencari kelemahan. Dan Ratna tahu, kelemahannya sangat besar.
"Saya harus masuk. Banyak yang harus dikerjakan," Ratna membalikkan badan, tidak mau memperpanjang percakapan yang semakin berbahaya ini.
"Tunggu sebentar, Bu," panggil Fadhli. Ratna berhenti, tapi tidak menoleh. "Kalau butuh apa-apa, saya di seberang saja. Siang atau malam. Jangan sungkan ya, Bu."
Siang atau malam. Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan penuh janji. Ratna tidak menjawab. Ia melangkah cepat masuk ke dalam rumah, mengunci pintu teras, dan bersandar di sana dengan napas yang memburu.
Tangannya gemetar. Wajahnya terasa sangat panas. Dan di antara pahanya, memeknya sedang menangis minta disentuh, kebecekannya kembali mengotori celana dalamnya.
Fadhli. Pemuda itu bernama Fadhli. Dan ia telah menawarkan dirinya pada Ratna, dengan cara yang paling halus namun paling mematikan. Siang atau malam. Jangan sungkan.
Ratna meremas dadanya, mencoba menahan rasa sesak yang semakin tak tertahankan. Ia tahu, ini adalah awal dari sesuatu yang besar. Sesuatu yang akan menghancurkan hidupnya. Tapi untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa hidup. Merasa ada warna di dalam hitam-putih kehidupannya.
Malam itu, saat Hadi pulang dan langsung tertidur setelah shalat Isya, Ratna berbaring di samping suaminya dengan mata yang terbuka lebar. Ia tidak menyentuh dirinya sendiri malam ini. Ia tidak mau. Ia ingin menyimpan kebecekannya, menyimpan nafsunya, untuk sesuatu yang lebih nyata.
Untuk Fadhli.
Ia membayangkan senyum Fadhli. Membayangkan suaranya yang berat. Membayangkan kata-katanya: *Siang atau malam. Jangan sungkan.*
Ratna memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidur dengan bayangan pria yang bukan suaminya mengisi kepalanya. Bukan sebagai mimpi buruk, melainkan sebagai mimpi yang sangat, sangat indah.
*
Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama namun beban yang berbeda. Ratna menjalani rutinitasnya—memasak, membersihkan rumah, mengajar ngazi—tapi kini ada sesuatu yang baru di setiap harinya: Fadhli.
Pemuda itu tampaknya memiliki jadwal yang tidak teratur. Kadang ia ada di teras kontrakannya di pagi hari, dada telanjang, sedang mengerjakan push-up dengan gerakan yang lambat dan terkontrol, memperlihatkan setiap kontraksi otot perutnya yang membentuk blok-blok sempurna. Kadang ia ada di malam hari, duduk di teras dengan lampu temaram, merokok dan menatap langit, seolah sedang memikirkan sesuatu yang mendalam.
Dan setiap kali ia melihat Ratna, ia tidak pernah gagal menyapanya. Dengan senyum yang tahu diri, dengan tatapan yang menelanjangi, dengan suara yang mengandung makna ganda.
"Pagi, Bu Ratna."
"Kelihatan lelah, Bu. Jangan terlalu keras bekerja."
"Makanan dari dapur Bu Ratna wanginya sampai ke sini. Bikin lapar."
Setiap kata, setiap tatapan, setiap senyum adalah paku yang dipukulkan ke dalam peti mati kesalehan Ratna. Ia berusaha melawan, berusaha membuang muka, berusaha mengingatkan dirinya pada surga dan neraka. Tapi semakin ia melawan, semakin kuat tarikan pemuda itu.
Suatu sore, Ratna sedang menyapu halaman belakang saat Fadhli berjalan melewatinya, membawa dua kantong plastik berisi belanjaan dari minimarket. Pemuda itu berhenti di depan pagar, menatap Ratna dengan mata yang menyipit karena terkena cahaya matahari sore.
"Bu Ratna, mau saya bantuin sapu?" tawarnya, suaranya ringan.
Ratna menggeleng cepat. "Tidak perlu. Ini tugas saya."
Fadhli tertawa pelan. "Istri ustadz memang sempurna ya. Semua dikerjakan sendiri. Suami sampai hati membiarkan istri yang cantik begini kepanasan."
Kata 'cantik' itu meluncur begitu saja dari bibir Fadhli, tanpa basa-basi, tanpa rasa canggung. Dan efeknya pada Ratna sangat merusak. Wajah perempuan itu memerah padam seketika. Suaminya tidak pernah memanggilnya cantik. Tidak pernah dalam sepuluh tahun pernikahan mereka Hadi mengapresiasi penampilannya, apalagi mengatakan ia membuat orang kepanasan.
"Saya... saya masuk," Ratna membalikkan badan, lari dari situ sebelum Fadhli bisa melihat efek kata-katanya pada dirinya.
Ia masuk ke rumah, mengunci pintu, dan berlari ke kamar. Di sana, ia melemparkan sapu ke lantai dan meremas dadanya yang terasa sesak. Keringat menetes di pelipisnya, dan napasnya memburu bukan karena kepanasan, tapi karena kata-kata Fadhli yang terus terngiang di telinganya.
*Cantik. Kepanasan. Istri ustadz.*
Ratna jatuh tertelungkup di atas ranjang, memukul bantal dengan kepalan tangan. Ia marah. Marah pada Fadhli yang terus menggodanya. Marah pada Hadi yang tidak pernah menganggapnya seperti itu. Dan marah pada dirinya sendiri karena ia sangat menikmati godaan itu.
Di bawah roknya, memeknya sedang berdenyut hebat, mengeluarkan cairan yang sangat banyak hingga merembes ke paha-pahanya. Ratna menekan wajahnya ke bantal, menahan desahan yang hampir lolos. Ia tidak ingin melakukannya lagi. Ia tidak ingin menyentuh dirinya sendiri sambil memikirkan Fadhli. Tapi tubuhnya menuntut. Tubuhnya kelaparan.
Dengan tangan yang gemetar, Ratna sekali lagi memasukkan jarinya ke dalam celana dalamnya, merangsang klitorisnya yang bengkak, membayangkan Fadhli yang berdiri di depannya, membayangkan tangan pemuda itu mengganti tangannya, membayangkan bibir yang mengucapkan kata 'cantik' itu sedang mengisap putingnya.
Ah... Fadhli... Ratna mendesah ke dalam bantal, air matanya mengalir membasahi kain katun itu. Ia membayangkan suara berat pemuda itu berbisik di telinganya, menggantikan suara Hadi yang selalu dingin dan menolak.
Dan saat ia mencapai puncak, untuk pertama kalinya, nama yang keluar dari bibirnya bukanlah nama suaminya.
"Fadhli... ah!"
Ratna menangis. Ia menangis karena kenikmatan yang luar biasa, dan menangis karena ia tahu ia telah melanggar batas yang tak seharusnya. Ia tidak hanya membayangkan pria asing. Ia telah menyebut namanya saat ia mencapai orgasme. Ia telah memberikan sebagian dari dirinya pada Fadhli, meski pemuda itu tidak tahu.
Dan itu hanya permulaan. Karena esok, lusa, dan seterusnya, Ratna tahu ia akan semakin sulit untuk melepaskan diri dari bayangan pemuda itu.
Fadhli telah menanamkan racun di dalam dirinya. Dan racun itu sedang menyebar dengan cepat, meracuni setiap sel tubuhnya, mengubah perempuan suci yang selama ini ia bangun menjadi seekor betina yang kelaparan dan tak bisa dijinakkan.
Di luar jendela, malam semakin gelap. Dan di kontrakan seberang, lampu teras Fadhli masih menyala, seolah pemuda itu sedang menunggu sesuatu.
Menunggu Ratna akhirnya menyerah pada racun yang ia berikan.
Pagi-pagi sekali, sebelum matahari benar-benar menampakkan diri, Ratna sudah duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Air wudhu belum kering di wajahnya, bercampur dengan air mata yang tiba-tiba mengalir tanpa izin. Ia baru saja selesai shalat tahajud, sebuah ibadah yang biasanya menjadi pelarian dan penenang jiwanya. Tapi malam ini, bukannya hatinya tenang, justru semakin kacau.
Kepalanya dipenuhi oleh gema nama yang tadi malangsa ia sebut saat membuang nafsu sendirian. *Fadhli.*
Ratna memukul dadanya pelan, berusaha mengusir bayangan itu. Astaghfirullahaladzim. Ia baru saja berzina dengan pikirannya. Ia baru saja menjadikan seorang pria asing—pemuda yang bahkan baru ia lihat dua hari lalu—sebagai objek fantasinya yang paling memabukkan. Dan yang paling mengerikan, saat ia merangsang dirinya sendiri semalam, orgasme yang ia rasakan jauh lebih kuat, lebih mengguncang, dan lebih memuaskan daripada apa pun yang pernah ia dapatkan dari sentuhan suaminya selama sepuluh tahun pernikahan.
Itulah yang membuatnya takut. Bukan karena dosanya, melainkan karena betapa ia menikmatinya.
Ia meraih kitab suci di atas rak, membuka halaman acak, dan mencoba membaca. Tapi huruf-huruf Arab itu seolah berdansa di depan matanya, membentuk siluet tubuh yang kekar, rahang yang tegas, dan senyum menyudutkan yang seolah mengejeknya. Ratna menutup kitab itu dengan kasar, mendesah frustasi.
Saat azan subuh berkumandang, Hadi sudah berdiri di sampingnya, memimpin shalat dengan bacaan yang sempurna dan tak tercela. Ratna mengikuti setiap gerakannya, namun kekhusyukannya hampa. Ia mencuri pandang ke arah suaminya yang sedang sujud—punggung yang lebar, pinggang yang ramping, tapi tak ada api. Tak ada nafsu yang memancar dari pria itu. Hadi adalah es yang membeku, sementara Ratna adalah api yang sedang meronta mencari kayu pembakar.
Setelah shalat, di meja makan, keheningan memenuhi ruangan. Hadi menyendok nasi panas ke mulutnya, mengunyah dengan ritme yang stabil, tanpa menoleh ke isterinya yang hanya duduk menatap teh hangatnya.
"Besok saya ada daurah di kota sebelah. Pulangnya mungkin lusa malam," ucap Hadi mendadak, memecah sunyi.
Ratna menoleh, jantungnya berdebar sekali. Daurah. Berarti Hadi akan pergi. Berarti ia akan sendirian di rumah. Sendirian... di seberang pemuda itu. "Berapa lama, Mas?"
"Tiga hari dua malam. Urusan yayasan penting, tidak bisa ditunda," jawab Hadi datar. Ia mengusap bibirnya dengan tisu, lalu berdiri. "Jaga rumah baik-baik. Jangan biarkan siapa pun masuk kalau tidak kenal."
"Baik, Mas."
Hadi melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Suara mobilnya menyala, lalu menghilang perlahan meninggalkan halaman. Ratna duduk terpaku di kursi makan. Tiga hari. Dua malam. Sendirian.
Kata 'sendirian' itu kini terdengar sangat berbeda di telinganya. Biasanya, kesendirian itu kesepian yang menyiksa. Tapi kali ini, ada semut-semut merayap di perutnya, memberitahunya bahwa kesendirian itu adalah pintu terbuka menuju kebebasan yang terlarang.
Sore harinya, Ratna mencuci pakaian di halaman belakang. Tangannya mencengkeram sikat cucian, menggosok kain baju kurung Hadi dengan gerakan yang lebih keras dari biasanya, melampiaskan frustrasinya pada pakaian yang tak bisa merespons. Udara sore cukup terik, membuat keringat menetes di leher dan dada Ratna, membasahi kerah baju kurungnya.
Dari arah seberang, terdengar suara gerakan dan gesekan logam. Ratna menahan diri untuk tidak melihat. Ia mengunyah bibir bawahnya, memusatkan perhatian pada cucian di tangannya. Tapi sudut matanya menangkap bayangan hitam yang bergerak di halaman kontrakan.
Fadhli sedang mencuci motor.
Pemuda itu menggelindingkan motor sport hitamnya ke halaman, mengambil ember dan spons, lalu mulai menyabuni bodi motor dengan gerakan yang lambat dan telaten. Ia hanya mengenakan celana pendek kain berwarna abu-abu dan... tanpa baju.
Ratna bernapas tersengal. Pandangannya kabur sejenak. Ia memaksakan diri untuk menunduk, tapi godaan terlalu besar. Perlahan, matanya mendelik ke arah seberang, menatap pemandangan yang seharusnya haram baginya.
Tubuh Fadhli adalah deklarasi maskulinitas yang mentah dan brutal. Kulit sawo matangnya mengkilap oleh keringat dan percikan air. Otot-otot punggungnya berkontraksi setiap kali ia menggerakkan spons, membentuk lembah dan bukit yang tajam. Lengannya yang kekar bergerak dinamis, memperlihatkan urat-urat hijau yang menonjol di bawah kulit. Perutnya—Tuhan, perutnya—adalah papan cuci yang terdiri dari enam bongkahan otot yang tegas, diselimuti garis-garis halus bulu hitam yang mengarah dari dada pusar ke bawah, menghilang masuk ke pinggang celana pendeknya.
Saat Fadhli membungkuk untuk menyabuni roda depan, otot-otot pahanya mengeras seperti batu granit. Dan di antara dua paha itu, tersembunyi di balik kain abu-abu yang sedikit ketat, Ratna bisa melihat tonjolan yang tak bisa disembunyikan. Bentuknya besar, memanjang, dan berat, bergoyang sedikit mengikuti gerakan pemuda itu.
Ratna secara tidak sadar mencengkeram tepi bak cucian hingga buku-buku jarinya memutih. Memeknya—yang sejak pagi sudah gelisah—kini berdenyut dengan sangat hebat. Ia bisa merasakan panas menjalar di perut bagian bawahnya, dan cairan yang hangat serta lengket mulai mengalir keluar dari liangnya, membasahi celana dalamnya sekali lagi. Putingnya tegang seperti batu, menggesek kain bra yang kasar, memberinya sengatan listrik kecil yang membuatnya ingin merintih.
Ah... Tuhan... Ratna menggigit tangannya sendiri, mencoba menahan desahan yang terancam meledak dari tenggorokannya. Ia tidak pernah melihat kontol secara langsung dalam hidupnya—Hadi selalu mematikan lampu saat bercinta, dan selalu melakukannya dengan sangat cepat. Tapi melihat tonjolan besar di balik celana Fadhli ini membuka dunia baru baginya. Dunia di mana pria itu dibuat untuk menggagahi, dan perempuan dibuat untuk ditelan.
Tiba-tiba, Fadhli berhenti mengusap. Ia membuang spons ke dalam ember, lalu berdiri tegak. Ia mengambil sehanduk dari pangkal motor, mengusap wajah dan dadanya yang basah, lalu perlahan mendongak ke arah seberang pagar.
Sekali lagi, mata mereka bertaut.
Ratna lumpuh. Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa bersembunyi. Ia terjebak dalam tatapan mata hitam Fadhli yang seolah menembus jiwanya. Pemuda itu tidak tersenyum. Ia hanya menatap, dengan intensitas yang membakar. Matanya perlahan turun dari wajah Ratna, menyapu leher yang berkerincut, dada yang naik-turun dengan cepat, lalu berhenti di area selangkangan yang tertutup rok basah.
Ratna tahu apa yang sedang Fadhli pikirkan. Pemuda itu tahu. Ia tahu bahwa Ratna sedang basah. Ia tahu bahwa Ratna sedang memandanginya dengan lapar.
Fadhli menjilat bibir bawahnya perlahan. Sebuah gestur sederhana, namun bagi Ratna, itu seperti sentuhan fisik yang menghantam kemaluannya langsung. Ia mendesah keras, suaranya pecah di tenggorokan, terdengar jelas di halaman yang sepi.
Fadhli tersenyum. Senyum kemenangan yang menyudutkan. Ia membalikkan badan, mengambil handuknya, dan berjalan masuk ke dalam kontrakan, meninggalkan Ratna yang berdiri mematung di tengah cucian yang tertinggal.
*
Malam harinya, saat Hadi sedang mengepak barang-barangnya di kamar, Ratna berdiri di depan cermin kamar mandi. Ia sudah memakai baju tidur biasa—kaos longgar dan celana training. Tapi kali ini, ia tidak langsung keluar. Ia menatap tubuhnya di cermin.
Ia menarik kaosnya ke atas, memperlihatkan perutnya yang rata dan putih. Lalu, tangannya turun, menarik celana training dan celana dalamnya sedikit ke bawah, memperlihatkan paha yang mulus dan memek yang masih sangat lembap. Ia membayangkan Fadhli melihatnya seperti ini. Membayangkan mata hitam itu menyapu kulitnya. Membayangkan tangan kasar itu meremas pantatnya yang montok.
Ratna tersenyum pahit. Ia gila. Ia benar-benar gila. Ia tidak lagi mengenali dirinya. Perempuan yang dulu menangis karena ditolak suaminya kini telah berubah menjadi makhluk yang menantikan kehadiran pria lain untuk memuaskannya.
Ia merapikan pakaiannya dan keluar kamar mandi. Hadi sudah selesai mengepak, duduk di tepi ranjang membaca doa perjalanan.
"Saya tidur di ruang tamu malam ini. Besok subuh langsung berangkat," ucap Hadi, tanpa menatap Ratna.
"Baik, Mas. Hati-hati," jawab Ratna, suaranya datar. Tak ada rasa sedih karena suaminya akan pergi. Hanya antisipasi yang membuncah di dadanya.
Malam itu, Ratna tidur sendirian di kamar utama. Ia mengunci pintu dari dalam, mematikan lampu, dan berbaring di atas ranjang yang luas. Keheningan rumah yang kosong terasa sangat berbeda. Biasanya, keheningan ini menakutkan. Tapi malam ini, keheningan ini adalah musik pengantar tidur yang paling indah.
Ia tidak menyentuh dirinya sendiri. Ia sengaja menahannya. Ia ingin nafsunya menumpuk. Ia ingin memeknya menangis kelaparan. Karena besok, Hadi akan pergi. Dan ia akan sendirian... hanya berjarak dua meter dari Fadhli.
Ratna memejamkan mata, membayangkan apa yang akan terjadi esok. Membayangkan apakah Fadhli akan menyapanya lagi. Membayangkan apakah pemuda itu akan mendekat. Membayangkan apa yang akan ia lakukan jika Fadhli benar-benar menyentuhnya.
Daripada merasa takut, Ratna merasa ada gelombang panas yang menjalar di seluruh tubuhnya. Ia membayangkan tangan Fadhli merobek baju kurungnya. Membayangkan bibir pemuda itu menempel di lehernya. Membayangkan kontol yang besar dan berat itu menekan perutnya, siap untuk membelah rahimnya yang kosong selama bertahun-tahun.
Ya, esok adalah hari baru. Hari di mana Ratna yakin, dinding pertahanannya yang terakhir akan runtuh. Dan ia tidak akan berusaha membangunnya kembali.
Karena seekor betina yang kepanasan, tidak akan pernah bisa menolak api yang datang menghangatkannya. Meski api itu akan membakarnya hidup-hidup.
Ratna tertidur dengan senyum di bibirnya, dan mimpi basah yang sangat indah menemani malam terakhirnya sebagai isteri yang suci.
ns216.73.216.238da2


