Aku Lidya, 24 tahun. Kulitku putih mulus seperti porselen, rambut hitam panjang lurus, wajah cantik dengan bibir penuh dan mata yang selalu membuat pria lemah. Tubuhku seksi banget: pinggang ramping, bokong bulat kencang, dan payudara besar 36D yang selalu bergoyang meski aku pakai bra. Paha putihku tebal, vagina ku sempit dan masih rapat meski sudah menikah setahun.
Suamiku Indra, 27 tahun, tampan di luar, tapi di ranjang dia nol besar. Kontolnya cuma 11 cm saat tegang, ereksinya sering lemah, dan dia paling cuma tahan 2-3 menit. Aku selalu pura-pura orgasme supaya dia tidak sedih, tapi setiap malam aku tidur dengan frustrasi yang menggunung.
Hari itu Indra harus berangkat ke luar kota untuk proyek kantor selama seminggu penuh. Pagi-pagi sekali dia mencium keningku di depan pintu.
“Sayang, aku pergi dulu ya. Jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa, bilang ke Papa aja,” katanya sambil tersenyum polos.
Aku mengangguk, tapi dalam hati merasa was-was. Rumah ini besar, dan aku akan tinggal berdua dengan ayah mertuaku, Heru.
Heru, 48 tahun, masih sangat tampan dan kekar. Tubuhnya terjaga karena rutin gym, dada bidang, lengan berotot, perut rata. Wajahnya tegas dengan sedikit uban di pelipis yang justru membuatnya semakin berwibawa. Dia duda sudah lama. Aku sering melihatnya pulang malam dengan aroma parfum wanita, tapi aku tidak pernah berani bertanya.
Sepanjang pagi aku berusaha menghindarinya. Aku pakai daster rumah yang longgar tapi sopan, bra dan celana dalam lengkap. Aku sibuk membersihkan rumah supaya tidak ada alasan dia mendekat.
Siang harinya Heru pulang lebih awal. Dia masih pakai kaos olahraga ketat yang menempel di tubuh kekarnya, keringat membuat bajunya basah.
“Lidya, Indra sudah berangkat?” tanyanya dengan suara berat sambil meletakkan tas gym.
“Iya, Yah. Seminggu,” jawabku pelan, tidak berani menatap matanya.
Heru tersenyum tipis. Dia mendekat ke dapur di mana aku sedang mencuci piring. Tubuhnya berdiri tepat di belakangku. Aku bisa merasakan panas tubuhnya.
“Kamu sendirian di rumah besar ini… pasti sepi ya,” bisiknya. Tangan kanannya pelan menyentuh pinggangku dari belakang.
Aku langsung menegang. “Yah… tolong jangan. Ini tidak benar.”
Aku mencoba menjauh, tapi dia menahan pinggangku lebih erat.
“Kenapa? Papa cuma mau bantu kamu agar tidak kesepian,” katanya sambil tertawa kecil. Napasnya menyapu telingaku.
Aku mendorong tangannya. “Yah, aku istri Indra. Tolong hormati itu.”
Heru mundur selangkah, tapi matanya masih menatap payudaraku yang naik-turun karena napas cepat. “Baiklah… Papa cuma bercanda.”
Tapi sejak saat itu, godaan mulai datang terus-menerus.
Sore harinya, saat aku duduk di sofa menonton TV, Heru keluar dari kamar hanya pakai handuk di pinggang. Tubuh atasnya telanjang, otot-ototnya basah masih dari mandi. Kontur perut sixpack dan garis V yang turun ke bawah jelas terlihat.
“Lidya, ambilin Papa minum dong,” pintanya sambil duduk di sebelahku.
Aku berdiri cepat, tapi saat melewatinya, tangannya menyentuh paha belakangku pelan. Aku langsung menepis.
“Yah! Jangan sentuh!” bentakku keras.
Heru hanya tersenyum. “Kamu tegang sekali. Santai dong, Nak.”
Malamnya aku sengaja mengunci kamar. Tapi jam 11 malam, aku mendengar ketukan.
“Lidya, Papa mau bicara sebentar. Soal Indra.”
Aku ragu, tapi akhirnya membuka pintu sedikit. Heru berdiri di depan pintu hanya pakai celana pendek longgar. Aku bisa melihat tonjolan besar di selangkangannya yang sudah setengah tegang.
“Apa, Yah?” tanyaku was-was.
Heru mendorong pintu pelan hingga terbuka lebar. “Indra bilang ke Papa, dia khawatir kamu kesepian. Dia minta Papa jagain kamu baik-baik.”
Dia melangkah masuk. Aku mundur sampai punggungku menyentuh tembok.
“Yah… keluar dari kamar aku. Please…”
Heru mendekat sampai tubuhnya hampir menempel. Tangannya menyentuh pipiku lembut, lalu turun ke leher, lalu ke dada. Dia meremas payudaraku dari luar daster dengan pelan tapi kuat.
“Payudara kamu besar sekali, Lidya. Pasti Indra senang mainin ini setiap malam,” bisiknya.
“Aaaahh! Lepas! Jangan sentuh!” Aku menampar tangannya keras dan mendorong dada kekarnya. “Keluar sekarang juga atau aku teriak!”
Heru mundur sambil tertawa pelan. “Kamu keras kepala. Tapi Papa suka yang susah ditaklukkan.”
Dia keluar dari kamarku, tapi sepanjang malam aku tidak bisa tidur. Payudaraku masih terasa panas di bekas remasannya. Aku merasa bersalah, tapi juga aneh… ada getaran kecil di perutku.
Keesokan paginya
Aku bangun dengan mata panda. Heru sudah di dapur membuat kopi. Dia pakai kaos tanpa lengan, otot lengannya terpampang jelas.
“Sarapan dulu, Lidya,” katanya ramah seolah tidak ada kejadian semalam.
Aku duduk jauh darinya. Tapi saat aku mengambil roti, tangannya tiba-tiba memegang tanganku.
“Lidya… Papa tahu Indra kurang memuaskan kamu di ranjang.”
Wajahku langsung memerah. “Apa maksud Yah? Jangan bicara sembarangan!”
Heru menatap mataku dalam. “Kontol anak Papa kecil, kan? Dan cepat keluar. Kamu pasti sering frustrasi.”
“Aku tidak mau dengar! Tutup mulut!” Aku berdiri marah, kursi terdorong keras.
Heru juga berdiri. Dia lebih tinggi dan jauh lebih kuat. Dia menarik lenganku hingga aku jatuh ke pelukannya.
“Biarkan Papa tunjukkan apa yang kamu butuhkan,” katanya sambil mencium leherku paksa.
“Aaaah! Lepas! Aku tidak mau!” Aku meronta hebat, mencakar lengannya, menendang kakinya. “Ini dosa! Aku istri anakmu!”
Heru melepasku tapi matanya sudah gelap penuh nafsu. “Kamu bisa menolak sekarang… tapi lama-lama kamu akan minta sendiri.”
Sepanjang hari itu dia terus mengejarku.
Di ruang cuci — dia memelukku dari belakang, menggesekkan tonjolan besar di celananya ke bokongku. Aku menjerit dan lari.
Di taman belakang — dia menarikku ke pangkuannya saat aku lewat, tangannya merayap ke dalam rokku, menyentuh paha dalam. Aku menangis dan memukul mukanya.
Setiap kali aku menolak keras, dia mundur, tapi godaan semakin berani.
Sore menjelang malam, ketegangan memuncak.
Aku sedang mandi di kamar mandi utama (pintunya tidak terkunci karena aku buru-buru). Tiba-tiba pintu terbuka. Heru masuk telanjang bulat. Kontolnya sudah ngaceng penuh.
Besaaar sekali.
Panjangnya lebih dari 20 cm, tebal, urat-urat menonjol, kepala kontol ungu gelap dan mengkilap. Aku belum pernah melihat yang sebesar itu.
“Keluar!!! Aku mandi!!!” jeritku sambil menutupi tubuh dengan tangan.
Heru masuk ke bawah shower bersamaku. Air hangat membasahi tubuh kekarnya.
“Lidya… cukup menolak. Papa sudah tidak tahan,” katanya dengan suara parau.
Dia menekanku ke dinding kamar mandi. Satu tangan memegang kedua pergelangan tanganku di atas kepala, tangan satunya meremas payudaraku kasar, mencubit putingku yang langsung mengeras meski aku menangis.
“Jangan… Yah… aku mohon… aku tidak mau… ini salah!!!” tangisku pecah.
Heru menggesekkan kontol besarnya di perutku, di paha, lalu di bibir vaginaku yang sudah basah entah karena air atau karena takut bercampur nafsu.
“Kamu bilang tidak mau… tapi tubuhmu jujur,” ejeknya.
Aku meronta sekuat tenaga. “LEPASIN!!! AKU BENCIMU!!!”
Heru menampar bokongku keras sekali. PLAK!
Dia membungkuk, mengangkat satu kakiku tinggi, lalu menggesekkan kepala kontolnya di klitorisku berulang-ulang.
Aku menangis, tubuh gemetar. “Jangan masukin… please… aku masih menolak… aku tidak mau jadi pelacur…”
Heru menatap mataku dalam, kontolnya sudah tepat di lubang vaginaku yang sempit.
“Hari ini baru permulaan, Lidya. Kamu boleh menolak sekeras mungkin… tapi akhirnya kamu akan menggila minta kontol Papa yang besar ini.”
Dia mendorong pinggulnya sedikit… hanya kepalanya masuk setengah senti.
Aku menjerit keras.
“AAAAAHHH!!! KELUARIN!!! SAKIT!!! AKU TIDAK MAU!!!”
ns216.73.216.86da2


