Air shower masih mengguyur tubuh kami berdua. Aku Lidya, telanjang bulat, punggungku menempel dingin ke dinding keramik. Heru berdiri di depanku seperti predator, tubuh kekarnya mengunci segala gerakanku. Kontolnya yang monster – 22 cm panjang, tebal seperti pergelangan tanganku, urat-urat menonjol ganas – sudah menekan bibir vaginaku yang sempit dan masih kering ketakutan.
“Yah… aku mohon… jangan lakukan ini… aku masih menolak… ini dosa besar!!!” jeritku sambil meronta hebat, air mata mengalir deras bercampur air hangat. Kedua tanganku mendorong dada bidangnya sekuat tenaga, tapi sia-sia.
Heru menatapku dengan senyum dingin penuh nafsu. Tangan kirinya mengunci kedua pergelangan tanganku di atas kepala dengan mudah, tangan kanannya mencengkeram pinggulku kuat-kuat hingga meninggalkan bekas merah.
“Sudah cukup drama penolakanmu, Lidya. Malam ini kontol Papa akan menghancurkan vagina istri anak Papa yang sempit ini. Kamu boleh menjerit sekeras mau, tapi kontol ini tetap akan masuk.”
Dengan satu dorongan brutal dan tanpa ampun, dia menghunjam maju.
PRAAAAAKKKKK!!!
Separuh kontolnya langsung masuk. Vaginaku yang rapat dan belum pernah terisi sebesar ini langsung robek dipaksa mengembang. Rasa sakit yang luar biasa membuatku menjerit histeris.
“AAAAAHHHHHH!!! SAKIIIIITTTTT!!! KELUARIN!!! KELUARIN KONTOLMU YANG BESAR ITU!!! AKU TIDAK MAU!!! HIKSSSS!!!”
Heru tertawa rendah, suaranya parau penuh kenikmatan. “Sakit? Ini baru kepalanya, Nak. Masih ada 15 cm lagi yang harus masuk.” Dia mundur sedikit, lalu menghunjam lagi lebih keras. PLAK! Sekarang sudah ¾ masuk. Dinding vaginaku terasa robek, rahimku ditekan kuat.
“Aaaahhh… tolong… sakit sekali… kontol Bapak terlalu besar… aku hancur… hiks… jangan dalam-dalam!!!”
“Tahan dulu, jalang. Sebentar lagi kamu akan minta sendiri,” ejeknya sambil menggigit leherku keras. Dia mundur sekali lagi, lalu dengan satu hantaman penuh kekuatan, seluruh 22 cm kontolnya tenggelam sampai pangkal. Kepala kontolnya menabrak dinding rahimku yang paling dalam.
“AAAAAHHHHHH!!! AKU ROBEK!!! KELUARIN!!! AKU BENCIIIII!!!”
Heru mulai menggenjot tanpa ampun. Hantaman demi hantaman cepat dan dalam. PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK! Suara benturan basah memenuhi kamar mandi. Payudara besarku bergoyang liar ke atas-bawah, putingku mengeras karena gesekan tubuhnya.
“Enak kan vagina istri anakku ini? Sempit sekali, mencengkeram kontol Papa erat banget,” katanya sambil meremas payudaraku kasar, mencubit putingku hingga merah.
“Aaaah… ahh… jangan bilang gitu… aku istri Indra… hiks… keluarin… aku mohon Yah…”
Heru malah mempercepat. Dia mengangkat satu kakiku tinggi, posisi berdiri, lalu memompa lebih ganas. Setiap hantaman membuat kepala kontolnya menghantam rahimku. Sakit perlahan bercampur kenikmatan aneh yang belum pernah aku rasakan dengan Indra.
Lama-kelamaan eranganku berubah. “Aaaahhh… terlalu dalam… kontol Bapak… memenuhi aku… aaaahhh!!!”
“Kamu mulai basah banget, Lidya. Tubuhmu sudah mengkhianati suamimu yang kontolnya kecil itu,” ejek Heru sambil menampar payudaraku keras. PLAK! PLAK!
“Aku… aku tidak mau… tapi… aaaahhh… aku keluar… AKU NGELUARRR!!! HAAAAAHHH!!!”
Tubuhku kejang hebat. Orgasme pertama yang benar-benar dahsyat. Vaginaku mencengkeram kontolnya erat, cairan beningku menyembur keluar bercampur air shower. Heru mengerang panjang, kontolnya berdenyut-denyut. Sperma panasnya menyembur deras, banjir ke dalam rahimku. Begitu banyak hingga meluber keluar dari sela vaginaku.
Dia menarik kontolnya keluar dengan suara plop basah. Vaginaku menganga lebar, sperma kental mengalir deras ke lantai.
“Tapi ini baru permulaan,” katanya sambil menarik rambutku kasar. “Bersihkan kontol Papa yang kotor oleh sperma dan cairanmu sendiri.”
Aku dipaksa berlutut. Kontol besar yang masih setengah tegang dimasukkan paksa ke mulutku. Aku tersedak hebat, air liur menetes-netes dari sudut bibir.
“Hisap dalam-dalam, Lidya! Jangan cuma di ujung. Telan sebisa kamu!” bentaknya sambil memegang kepalaku dan memompa mulutku seperti vagina. “Bagus… pelacur bapakmu sudah mulai belajar.”
Setelah puas di kamar mandi, Heru mengangkat tubuhku yang lemas seperti boneka dan membawaku ke kamar tidur utamanya. Dia melemparku ke ranjang, lalu naik ke atas tubuhku.
Sekarang posisi misionaris. Dia memegang kedua tanganku di atas kepala, kontolnya kembali masuk pelan tapi pasti.
“Aaaahhh… lagi… sakit lagi Yah… kontolmu masih terlalu besar…” erangku sambil menangis.
“Katakan ‘Kontol Bapak enak’ kalau mau aku pelan,” ancamnya sambil menggesek ujung kontolnya di klitorisku.
“Aku… aku tidak mau bilang… hiks…”
Heru langsung menghunjam keras. PRAAAKKK!
“AAAAHHH!!! KONTOL BAPAK ENAK!!! ENAK SEKALI!!! JANGAN CEPAT-CEPAT!!!” jeritku tanpa sadar.
Dia tertawa puas dan mulai menggenjot brutal. Payudaraku diremas-remas kasar, putingku diisap dan digigit hingga memerah. Setiap hantaman membuat ranjang berderit keras.
“Aku keluar lagi… aaaahhh… jangan di dalam… hiks… tapi enak… kontol Bapak memenuhi aku… lebih besar dari Indra… aaaahhh!!!”
Heru mempercepat. “Indra? Suamimu itu cuma kontol kecil yang tidak bisa memuaskan istri cantiknya. Mulai sekarang rahimmu milik sperma Papa!”
Dia menyembur lagi di dalam, orgasme keduaku datang bertubi-tubi.
Siang harinya, pemaksaan berlanjut tanpa henti.
Di meja makan ruang tamu:
Heru duduk di kursi, kontolnya tegak. Aku dipaksa duduk di pangkuannya menghadap dia (cowgirl). Kontolnya masuk perlahan sampai penuh.
“Gerak pinggulmu sendiri, Lidya. Naik turun seperti pelacur,” perintahnya sambil memegang pinggangku.
“Aku… aku malu… ini di meja makan… nanti ada yang lihat…” kataku gemetar.
“Tidak ada orang. Gerak! Atau Papa yang pompa dari bawah sampai kamu pingsan.”
Aku mulai naik turun pelan. Kontol besar itu keluar-masuk vaginaku yang sudah banjir. Payudaraku bergoyang di depan wajahnya. Heru menangkap putingku dan mengisap kuat.
“Aaaahhh… pelan Yah… kontolmu menyentuh rahimku terus… aku gila… aaaahhh!!!”
“Katakan kamu lebih suka kontol Papa daripada kontol Indra!” bentaknya sambil menampar bokongku.
“Aku… aku lebih suka kontol Bapak yang besar… kontol Indra kecil dan cepat lemes… aaaahhh… aku keluar lagi!!!”
Aku orgasme di atas pangkuannya sambil sarapan roti yang sudah dingin.
Di balkon belakang rumah (siang hari, angin hangat):
Heru berdiri di belakangku, satu kakiku kuangkat tinggi ke pagar balkon. Rokku sudah disobek, tubuhku hanya pakai crop top. Kontolnya menghunjam dari belakang sambil angin siang menyapu kulit telanjangku.
“Bayangkan kalau tetangga lewat dan lihat istri Indra sedang dientot ayah mertuanya,” ejeknya sambil menghantam dalam-dalam.
“Aaaahhh… jangan bilang gitu… malu… tapi… enak sekali… kontol Bapak terlalu dalam… hancurkan vagina aku… aaaahhh!!!”
PLAK PLAK PLAK PLAK! Suara hantaman keras bercampur eranganku yang sudah serak. Dia menarik rambutku, punggungku melengkung, lalu menyembur sperma ketiga kalinya di dalam sambil angin meniup wajahku yang basah air mata kenikmatan.
Di kamar mandi lagi (sore hari) – Anal pertama:
Heru memaksaku membungkuk di wastafel. Dia melumasi kontolnya dengan minyak, lalu menekan kepala kontolnya ke lubang anusku yang masih perawan.
“Jangan di situ Yah!!! Itu tempat kotor!!! Aku takut… sakit… jangan!!!” jeritku panik sambil mencoba lari.
Heru memegang pinggulku kuat dan mendorong masuk perlahan tapi pasti.
“AAAAAHHHHHHHH!!! SAKIIITTTTT!!! KELUARIN!!! ANUS AKU ROBEK!!! HIKSSSS!!!”
“Tenang… pelan-pelan… anus istri anakku juga harus dilatih,” katanya sambil terus mendorong. Setengah kontolnya masuk. Rasa penuh dan sakit yang luar biasa membuatku menangis tersedu.
Lama-kelamaan dia mulai gerak pelan. “Sekarang enak kan? Kontol Papa di dua lubangmu.”
“Aaaahhh… sakit… tapi… aneh… jangan gerak cepat… aku… aku keluar dari vagina lagi… hiks… aku gila…”
Heru mempercepat, tangannya meremas payudaraku dari belakang. Dia keluar di dalam anusku yang pertama kali.
Malam harinya di ranjang – Reverse Cowgirl:
Aku dipaksa naik ke atas, membelakangi Heru. Kontolnya masuk lagi ke vagina yang sudah longgar karena seharian dientot.
“Naik turun sendiri, jalang. Tunjukkan seberapa ketagihan kamu sudah.”
Aku naik turun sambil menangis. “Aku… aku tidak ketagihan… ini paksaan… aaaahhh… tapi kontol Bapak… memenuhi aku… enak sekali… lebih enak dari suamiku…”
Heru menampar bokongku keras berulang kali. 8968Please respect copyright.PENANA4khWsJxlOY
PLAK! PLAK! PLAK! Bekas merah terlihat jelas.
“Katakan kamu milik kontol Papa sekarang!”
“Aku… aku milik kontol Bapak… Lidya sudah mulai gila sama kontol besar Bapak… Indra tidak akan pernah tahu… aaaahhh!!! AKU KELUAR LAGI!!!”
Aku orgasme hebat sambil naik turun seperti pelacur sungguhan. Heru menyembur sperma keempat kalinya di dalam rahimku.
Aku tergeletak lemas di ranjang, tubuh penuh sperma, vaginaku dan anusku bengkak merah, pikiran mulai kacau. Yang ada di kepalaku hanya rasa penuh kontol Heru.
Heru memelukku dari belakang, kontolnya masih setengah tegang di antara bokongku.
“Besok, kamu akan mengemis kontol ini seharian, Lidya.”
Aku hanya bisa mengangguk lemah sambil berbisik, “Ya… Yah…”
ns216.73.217.39da2


