Malam itu rumah terasa sesak meski AC menyala maksimal. Nathan duduk di pinggir ranjang king-size miliknya dan Raya, tubuh atletisnya yang tinggi tegap hanya dibalut celana pendek hitam ketat. Dada bidangnya naik-turun cepat, otot perut six-pack-nya berkilat karena keringat tipis. Usianya baru 28 tahun, tampan dengan rahang tegas, mata elang, dan kulit sawo matang yang terawat. Tapi yang paling membuat wanita-wanita di gym selalu melirik adalah tonjolan besar di antara selangkangannya – kontol 20 sentimeter yang tebal, berurat, dan selalu siap tempur.
Di sebelahnya, Raya – istrinya yang berusia 26 tahun – terbaring menyamping, memakai tank top tipis dan rok tidur pendek yang naik sampai pangkal paha. Kulitnya putih mulus seperti susu, rambut hitam lurus tergerai di bantal, bibirnya merah alami, dan tubuhnya seksi dengan pinggang ramping serta pantat bulat yang biasanya bikin Nathan gila. Tapi malam ini, seperti hampir setiap malam selama tiga bulan terakhir, Raya sibuk dengan ponselnya.
“Sayang…” Nathan merayap mendekat. Tangannya yang besar dan berotot menyusup pelan ke bawah rok Raya, merasakan kulit paha dalam yang halus dan hangat. Jarinya terus naik sampai menyentuh celana dalam sutra yang tipis. “Aku udah kangen banget sama memek kamu yang pink itu.”
Raya menghela napas panjang tanpa menoleh. “Capek, Nath. Besok pagi ada meeting penting sama klien dari Singapura. Kamu tidur aja deh.”
Nathan menarik tangannya, rahangnya mengeras. “Capek mulu, Ray. Satu bulan ini kita cuma dua kali. Itu pun cuma masuk sebentar, terus kamu langsung mandi. Aku ini laki-laki normal, Ray. Kontolku tiap hari ngaceng mikirin kamu, tapi kamu kayak nggak butuh.”
Raya memutar bola matanya, masih fokus ke layar. “Kamu egois. Aku kerja full time, ngurus rumah, ngurus kamu. Nggak semua harus soal seks. Kalau mau, ya masturbasi aja di kamar mandi seperti biasa.”
Kata-kata itu seperti tamparan. Nathan bangkit tanpa bicara lagi, masuk ke kamar mandi, dan mengunci pintu. Di depan cermin besar, ia menatap dirinya sendiri. Wajahnya tampan, tapi matanya penuh nafsu yang terpendam. Celana pendeknya diturunkan kasar. Kontolnya langsung melompat keluar – sudah setengah tegang, panjang 20 cm, tebal seperti botol kecil, urat-urat menonjol, kepala kontolnya mengkilap karena precum yang keluar banyak.
Nathan memegang batangnya yang panas dan berat dengan tangan kanan. Ia mulai mengocok pelan, naik-turun, sambil memejamkan mata. Bayangan yang muncul bukan Raya. Bukan istrinya yang cantik tapi dingin itu.
Bayangan Heni.
Ibu mertuanya sendiri.
Heni, 42 tahun, tapi tubuhnya masih seperti wanita 32 tahun. Kulit putih mulus tanpa cela, rambut hitam bergelombang sampai bahu, wajah cantik dengan bibir tebal dan mata sipit yang menggoda. Payudaranya besar – ukuran 38E – padat, bergoyang-goyang setiap ia berjalan, pinggulnya lebar, pantatnya montok sempurna, dan memeknya… Nathan membayangkan memek Heni yang masih rapat meski sudah melahirkan Raya dulu.
“Ahh… Bu Heni…” desah Nathan pelan. Tangan kanannya semakin cepat mengocok kontolnya. Ia membayangkan Heni membungkuk di depannya di dapur, roknya naik, memeknya basah dan terbuka. Bayangan lidah Heni yang merah menjilat kepala kontolnya membuat Nathan mendesah lebih keras. Tangan kirinya meremas bola-bolanya yang penuh sperma, berat, dan sudah lama tidak dikeluarkan dengan benar.
“Bayangin memek Bu Heni… basah… panas… nyedot kontol anak menantu sendiri…” Nathan mengocok lebih brutal. Bunyi kecap-kecap tangan di batang kontolnya terdengar di kamar mandi yang sepi. Ia membayangkan Heni berlutut, payudaranya yang besar diapit kontolnya, lalu mulutnya yang hangat mengulum dalam-dalam sampai tenggorokan.
“Fuck… Bu… enak banget…!” Tubuh Nathan menegang hebat. Sperma panas menyembur keluar dengan kuat – jet pertama menyembur sampai ke cermin, jet kedua dan ketiga mengenai wastafel, jet keempat masih deras. Total hampir 8-9 kali semprotan tebal. Nathan bernapas tersengal, lututnya agak lemas, tapi nafsunya masih membara. Kontolnya belum benar-benar lemas.
Ia membersihkan diri, lalu kembali ke ranjang. Raya sudah tidur membelakangi dia. Nathan memandang punggung istrinya dengan campuran marah dan lapar. Malam itu ia tidur dengan pikiran penuh Heni.
Pagi harinya, matahari baru terbit. Raya sudah berangkat kerja pukul 06.30 dengan alasan meeting pagi. Rumah sepi. Nathan hanya memakai celana pendek olahraga yang longgar, dada telanjang, ototnya terpampang jelas. Ia sedang membuat kopi hitam saat bel pintu berbunyi.
Nathan membuka pintu. Heni berdiri di depan dengan senyum lembut. “Pagi, Nathan. Mama datang bantu. Raya bilang kalian berdua sibuk banget akhir-akhir ini. Mama tinggal di sini beberapa hari, masak, bersihin rumah, biar kalian tenang.”
Heni memakai kaos putih longgar yang sedikit ketat di dada dan rok jeans selutut. Rambutnya diikat ponytail, parfum floralnya langsung menyeruak ke hidung Nathan. Payudaranya yang besar terlihat jelas bentuknya, putingnya samar-samar menonjol karena AC mobil.
Nathan menelan ludah. “Masuk, Bu. Biar aku angkat tasnya.”
Saat Heni membungkuk meletakkan tas besar di lantai, kaosnya melorot ke depan. Celah dada dalam yang putih dan lembut langsung terpapar. Nathan bisa melihat bra hitam renda yang menahan dua gunung susu besar itu. Kontolnya langsung berdenyut keras di dalam celana.
Sepanjang pagi, Nathan berusaha menahan diri. Tapi Heni bergerak di dapur seperti godaan hidup. Ia memasak nasi goreng, membungkuk mengambil bumbu dari lemari bawah. Roknya naik, memperlihatkan paha dalam yang putih mulus dan hampir terlihat garis celana dalam.
Nathan mendekat dari belakang, pura-pura mengambil gelas di atas. Tubuhnya sengaja menempel. Kontolnya yang sudah setengah ngaceng menekan pelan pantat montok Heni.
“Maaf, Bu… dapurnya sempit,” bisiknya, tapi pinggulnya malah menggesek pelan.
Heni tersentak, napasnya tersendat. “Nathan… hati-hati dong, Nak.”
Tapi ia tidak menjauh. Nathan memberanikan diri lebih jauh. Tangannya memegang pinggang Heni yang ramping, lalu naik pelan ke perut rata. 7546Please respect copyright.PENANAgp0rURCGZS
“Bu Heni masaknya enak banget. Wanginya… bikin aku lapar yang lain.”
Heni menggigit bibir bawahnya. 7546Please respect copyright.PENANAIvajM4ILxH
“Kamu… jangan mulai, Nath. Kamu suami Raya, Mama ini ibunya.”
“Tapi Raya nggak pernah kasih aku yang aku butuhin, Bu,” jawab Nathan parau. Tangannya terus naik sampai jemari menyentuh bagian bawah payudara Heni yang berat. “Bu Heni masih muda… cantik… payudaranya besar… aku sering bangun tengah malam mikirin Bu Heni. Mikirin gimana rasanya ngisep puting Bu Heni sambil masukin kontol ke memek Bu.”
Heni bernapas semakin cepat. Tubuhnya gemetar. “Nathan… ini dosa besar… kita nggak boleh…”
Tapi suaranya lemah. Nathan menarik celana dalam Heni ke samping dengan satu tangan. Jari tengahnya langsung menyentuh memek yang sudah basah licin. “Wah… Bu… memeknya udah banjir. Panas banget. Basah banget.” Jarinya menggosok klitoris yang membengkak pelan, lalu masuk sedikit ke lubang yang sempit.
“Ahh…!” Heni mencengkeram meja dapur. Payudaranya naik-turun cepat. “Jari kamu… besar… pelan-pelan, Nath…”
Nathan memasukkan satu jari penuh, lalu dua. Ia mengocok perlahan tapi dalam, menekuk jari untuk menggosok titik G Heni. Tangan kirinya meremas payudara kiri Heni dari luar kaos, meremas kasar, memilin puting yang sudah keras seperti batu.
“Enak ya, Bu? Memek Bu Heni nyedot jari aku. Bayangin nanti kontol 20 cm aku yang masuk ke sini… pasti muat pas-pasan, Bu.”
Heni mendesah tanpa malu lagi. “Ahh… ahh… lebih dalam… gosok situ lagi… iya… di situ enak banget, Nath!”
Suara kecipak basah memek Heni terdengar jelas di dapur. Nathan mempercepat gerakan, tiga jari sekarang, mengocok brutal sambil ibu jarinya menekan klitoris. Heni menggoyang pinggulnya mengikuti irama, pantatnya bergesekan dengan kontol Nathan yang sudah ngaceng maksimal.
“I… I… mau keluar… Nath… Mama mau squirting…!!” Heni menjerit pelan. Tubuhnya kejang hebat. Memeknya menyemprot cairan bening panas ke tangan Nathan, membasahi lantai dapur. Orgasme itu begitu kuat hingga lutut Heni goyah, ia hampir jatuh kalau Nathan tidak memeluknya dari belakang.
Nathan menarik jarinya yang basah kuyup, lalu menjilatnya di depan Heni. “Manis banget, Bu. Memek ibu mertua ternyata paling enak.”
Heni bernapas tersengal, wajahnya merah padam, matanya berkaca-kaca campur malu dan puas. “Kamu… nakal sekali. Ini baru pertama kali… Mama nggak pernah kayak gini sama siapa pun sejak Papa meninggal.”
Nathan mencium leher Heni dari belakang, menggigit pelan. “Ini baru pemanasan, Bu. Masih banyak yang mau aku kasih. Besok, lusa, tiap hari selama Bu di sini.”
Mereka berpisah karena mendengar suara tetangga di luar. Sepanjang hari, ketegangan terus membara. Heni sesekali sengaja membungkuk lebih dalam saat menyapu, memperlihatkan celah dada atau garis pantat. Nathan sengaja lewat di belakangnya, menggesek kontolnya setiap ada kesempatan.
Siang hari, saat Heni istirahat di sofa, Nathan duduk di sebelahnya. “Bu… liat nih.” Ia menarik celana pendeknya sedikit, memperlihatkan kepala kontol yang sudah mengkilap precum.
Heni melotot, tapi tangannya langsung meraih. “Besar sekali… tebal… Raya nggak pernah cerita.”
“Karena Raya nggak pernah ngeluarin full,” kata Nathan. “Bu Heni mau coba pegang?”
Heni menggenggamnya pelan, mengocok naik-turun. Tangan kecilnya tidak cukup melingkari batang itu. “Panasp… berdenyut… Mama jadi basah lagi, Nath.”
Mereka hampir melanjutkan, tapi Nathan menahan diri. “Simpan tenaga, Bu. Malam nanti kita lanjut di kamar tamu.”
Malam harinya, setelah Raya tidur pulas karena capek kerja, Nathan keluar ke ruang tamu. Heni sudah menunggu, memakai baju tidur tipis tanpa bra. Payudaranya bergoyang bebas, putingnya menonjol jelas.
Mereka berciuman panas. Lidah Nathan masuk ke mulut Heni, menghisap lidahnya rakus. Tangan Nathan meremas payudara Heni dengan brutal, menarik-narik puting, sementara tangan Heni mengocok kontol Nathan di dalam celana.
“Besok… di kamar tamu… Mama mau rasain kontol kamu yang besar ini,” bisik Heni di telinga Nathan, suaranya sudah penuh nafsu.
Nathan tersenyum. “Siap, Bu. Aku akan garap memek Bu Heni sampai banjir tiap hari.”
Mereka berpisah dengan tubuh panas membara. Nathan kembali ke kamar, kontolnya masih ngaceng, tapi kali ini ia tahu – godaan ini baru permulaan dari perselingkuhan yang akan mengubah segalanya.
7546Please respect copyright.PENANAoUXCUq4QyP


