Pagi setelah godaan di dapur itu, suasana rumah terasa berbeda. Heni bangun lebih awal, tubuhnya masih terasa lemas karena orgasme hebat yang diberikan Nathan kemarin. Memeknya masih agak nyeri tapi basah setiap kali mengingat jari-jari tebal menantu itu mengocoknya sampai squirting. Ia berdiri di depan cermin kamar tamu, memakai daster tipis tanpa bra. Payudaranya yang besar terlihat jelas, puting cokelat mudanya menonjol keras.
“Ya Tuhan… apa yang Aku lakuin kemarin,” gumam Heni sambil menggigit bibir. Wajahnya merah.
“Dia suami Raya… anakku Ini dosa besar.” Tapi saat tangannya tanpa sadar menyentuh memeknya yang masih licin, ia mendesah pelan. “Tapi… enak sekali. Kontolnya besar banget… Mama belum pernah lihat yang segede itu.”
Heni berusaha menguatkan hati. Hari ini ia akan menjaga jarak. Tidak boleh ada sentuhan lagi. Ia harus ingat posisinya sebagai ibu mertua.
Sementara itu, Nathan sudah bangun dengan kontol pagi yang ngaceng keras. Ia sengaja tidak memakai baju sama sekali. Tubuh atletisnya telanjang bulat, kontol 20 cm-nya setengah tegang bergoyang saat berjalan. Raya sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali, seperti biasa, dengan alasan deadline proyek. Rumah hanya tinggal Nathan dan Heni.
Nathan masuk ke dapur dengan santai. Heni sedang mencuci piring, membelakanginya. Daster tipisnya naik sampai setengah paha.
“Pagi, Bu Heni,” sapa Nathan dengan suara dalam. Ia berdiri tepat di belakang Heni tanpa jarak.
Heni tersentak, menoleh. Matanya langsung turun ke kontol Nathan yang sudah ngaceng penuh, kepalanya mengkilap precum.
“Nathan! Kamu…kok kamu telanjang! Pakai baju dong!”
Nathan tersenyum nakal. “Kenapa, Bu? Di rumah sendiri. Ibu kan sudah lihat dan pegang kemarin. Lagian… kontol ini ngaceng gara-gara kamu.”
Heni mencoba menjauh, tapi Nathan menahan pinggangnya. Kontolnya menekan pantat montok Heni dari belakang. “Nathan… cukup. Kemarin itu kesalahan. Kita nggak boleh lanjut. Ini salah besar.”
“Tapi memek Bu Heni kemarin basah banget, Bu,” bisik Nathan di telinga mertuanya. Napasnya panas. “Dan sekarang… aku mau yang lebih. Aku mau Bu Heni cium kontol aku. Hisap. Telan dalam-dalam.”
Heni menggeleng kuat, tapi suaranya gemetar. “Nggak… Mama nggak bisa. Raya anak Mama…”
Nathan tidak peduli. Ia memutar tubuh Heni, lalu mendorongnya pelan ke kamar tamu yang kosong. Pintu dikunci. Di dalam kamar tamu ada meja rias besar dengan cermin panjang.
“Bu… lihat ini,” kata Nathan sambil memegang kontolnya yang tegang maksimal. Batangnya tebal, urat-urat menonjol, kepala kontolnya merah mengkilap. “20 cm, Bu. Tebal. Berat. Ini yang Raya nggak pernah puasin. Bu Heni mau rasain nggak?”
Heni duduk di tepi ranjang, matanya tidak bisa lepas dari kontol itu. “Besar sekali… Tuhan… gimana muatnya…”
Nathan mendekat, berdiri di depan Heni. Kontolnya tepat di depan wajah mertuanya. “Cium dulu, Bu. Cium kepalanya.”
Heni ragu-ragu. Tapi aroma maskulin kontol Nathan membuat kepalanya pusing. Ia mengecup pelan kepala kontol yang panas itu. Lidahnya keluar sedikit, menjilat precum yang asin-manis.
“Ahh… bagus, Bu,” desah Nathan. Tangan besarnya memegang kepala Heni. “Sekarang buka mulutnya. Hisap.”
Heni membuka mulutnya yang tebal dan merah. Kepala kontol Nathan masuk perlahan. Mulutnya hangat, basah, lidahnya langsung menjilat di bawah kepala kontol.
“Ngghh… enak, Bu Heni… lebih dalam,” Nathan mendorong pelan. Setengah batangnya masuk ke mulut Heni. Pipi Heni menggembung. Ia mulai mengulum, naik-turun, suara gluck-gluck basah terdengar.
Nathan memegang rambut Heni seperti pegangan. “Iya… gitu… isep lebih kuat. Mama mertua aku ternyata jago ngisep kontol.” Ia mendorong lebih dalam sampai kepala kontol menyentuh tenggorokan Heni.
“Hngg… hngg…” Heni tersedak, air liur menetes dari sudut mulutnya ke payudaranya yang besar. Tapi ia tidak mundur. Malah semakin rakus. Kedua tangannya memegang batang kontol yang tidak muat masuk ke mulut, mengocok bagian pangkal sambil mengulum ujungnya dengan ganas.
Nathan mendesah nikmat. “Fuck… mulut Bu Heni panas banget. Lebih enak dari memek Raya. Hisap lagi, Bu… telan kontol menantu sendiri.”
Heni semakin gila. Ia mengulum sekuat tenaga, lidahnya berputar di batang kontol, menghisap precum yang terus keluar. Payudaranya bergoyang-goyang liar setiap kepalanya maju-mundur.
Setelah hampir sepuluh menit oral panas itu, Nathan menarik kontolnya keluar. Benang liur menghubungkan mulut Heni dengan kepala kontolnya.
“Sekarang giliran aku puasin Bu Heni,” kata Nathan dengan suara serak.
Ia mengangkat tubuh Heni yang montok ke atas meja rias. Daster Heni ditarik ke atas sampai pinggang. Celana dalamnya ditarik kasar ke samping. Memek Heni sudah banjir lagi – bibir memeknya tebal, pink di dalam, klitorisnya membengkak.
Nathan berlutut di depan meja. Wajahnya tepat di depan memek mertuanya. “Wangi banget, Bu. Memek ibu mertua.” Lidahnya langsung menjilat dari bawah ke atas, menjilat lubang memek sampai klitoris.
“Ahh…! Nath… enak…” Heni mencengkeram rambut Nathan. Pinggulnya terangkat.
Nathan menjilat dengan rakus. Lidahnya masuk ke lubang memek, menggoyang-goyang di dalam, lalu menghisap klitoris kuat-kuat. Dua jarinya memasukkan ke memek Heni, mengocok cepat sambil lidahnya bekerja di atas.
“Memek Bu enak banget… basah… nyedot lidah aku,” kata Nathan di antara jilatan. Suara kecipak basah memek Heni memenuhi kamar.
Heni menggoyang pinggulnya liar. “Iya… jilat lagi… hisap klitoris Mama… ahh… Mama mau keluar lagi… Nath!!”
Nathan mempercepat. Tiga jari sekarang, mengocok brutal sambil lidahnya menari di klitoris. Heni menjerit pelan, tubuhnya kejang hebat. Memeknya menyemprot cairan panas ke wajah Nathan. Squirting kedua kalinya.
Tapi Nathan tidak berhenti. Ia terus menjilat sampai Heni orgasme lagi untuk kedua kali dalam waktu singkat. Tubuh Heni gemetar tak terkendali.
Nathan berdiri, kontolnya ngaceng keras di depan memek Heni yang masih berkedut. “Mau dimasukin sekarang, Bu?”
Heni menggeleng lemah, meski matanya penuh nafsu. “Belum… belum siap, Nath. Ini terlalu cepat… Kontol kamu terlalu besar. Mama takut sakit.”
Nathan tersenyum. Ia menggosok-gosok kepala kontolnya di bibir memek Heni yang licin. “Oke, Bu. Hari ini cukup oral dulu. Tapi besok… aku mau masukin full ke memek Bu Heni di ranjang pernikahan aku dan Raya.”
Heni bernapas tersengal, wajahnya merona. “Ini salah… sangat salah… tapi… enak sekali, Nath. Mama belum pernah sepuas ini.”
Nathan mencium bibir Heni dalam-dalam, lidah mereka saling hisap. “Besok lanjut lebih berani lagi, Bu. Aku akan bikin Bu Heni ketagihan kontol aku setiap hari.”
Mereka membersihkan diri. Heni merapikan dasternya dengan tangan gemetar. Saat keluar kamar tamu, ia masih merasakan rasa kontol Nathan di mulutnya.
Sepanjang siang, Heni berusaha menghindar, tapi Nathan sengaja telanjang di rumah, kontolnya bergoyang setiap lewat di depan Heni. Beberapa kali ia memeluk Heni dari belakang, menggesek kontolnya di pantat mertuanya.
Malam harinya, saat Raya sudah tidur, Heni diam-diam keluar ke ruang tamu. Nathan sudah menunggu dengan kontol ngaceng.
“Bu… mau lagi?” tanya Nathan.
Heni mengangguk malu. “Cuma sebentar… Mama mau hisap lagi.”
Heni berlutut di depan sofa, mengulum kontol Nathan dengan lebih rakus dari tadi pagi. Mulutnya naik-turun cepat, tangannya memijat bola-bola Nathan. Nathan mendesah nikmat sambil meremas payudara Heni.
“Aku akan garap Bu Heni setiap hari sampai ibu minta sendiri dimasukkan kontol aku,” bisik Nathan.
Heni hanya mendesah di antara isapan. “Mmm… mmm…”
Perselingkuhan mereka baru saja dimulai, dan sudah semakin sulit dikendalikan.
Versi PDF: lynk.id/bande41/q71rk2mgqdyq/checkout
Kalau ada kendala silahkan email ke saya ya
6533Please respect copyright.PENANA2I9hxC688s


