Chapter 2: Malam yang Bergetar
41Please respect copyright.PENANA1Zt8Nh2PXQ
POV Dwi Amalia
Pagi ini aku berdiri lebih lama dari biasanya di depan cermin kamar kosanku. Gamis syari maroon panjang yang baru kubeli minggu lalu menempel lembut di tubuhku. Kainnya memang agak tipis, sehingga setiap kali aku bernapas dalam, dada montokku yang ranum naik-turun terlihat jelas meski sudah tertutup rapat. Putingku tanpa sadar mengeras sedikit menekan kain, menciptakan tonjolan kecil yang membuatku malu sendiri.
Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Dua minggu ini aku merasa bukan diriku lagi...
Pujian-pujian kecil dari Udin, Markus, dan Jamal seperti benih beracun yang terus tumbuh di dalam hatiku. Setiap kata mereka tentang “lekuk tubuh”, “pinggul montok”, “dada yang eye-catching”, bahkan “betis mulus” membuat gelombang aneh muncul di perut bawahku. Aku merasa sangat bersalah kepada Mas Putra. Ia laki-laki yang baik, selalu menghormatiku, dan mencintaiku dengan tulus. Tapi... kenapa aku malah merasa hidup saat mendengar pujian yang penuh nafsu dari laki-laki lain?
Ya Allah... ampuni hamba-Mu yang lemah ini. Aku akhwat yang seharusnya menjaga aurat, kenapa malah menikmati godaan seperti ini?
Pagi itu di kantor, saat aku turun ke pantry mengambil air, Udin sudah menunggu seolah sengaja.
“Mbak Dwi, acara kantor malam ini gamisnya yang mana?” tanyanya sambil tersenyum lebar. Matanya terang-terangan turun ke dada montokku, lalu ke pinggul, seolah sedang membayangkan sesuatu yang terlarang.
“Aku pakai gamis maroon yang panjang ini, Mas. Yang biasa,” jawabku pelan, suaraku hampir bergetar.
Udin mendekat selangkah. Suaranya menjadi rendah dan penuh godaan, hampir seperti bisikan mesum. “Bagus... Tapi Mbak, malam ini coba tanpa legging di dalamnya ya. Gamisnya kan tebal dan panjang, nggak ada yang tahu kok. Mbak bakal lebih nyaman. Angin AC-nya lebih sejuk menyapa kulit. Gerakannya lebih bebas. Tubuh ideal Mbak yang montok ini sayang banget kalau selalu dikungkung kain tebal-tebal. Betis mulus Mbak pasti pengen bernapas juga kan?”
Aku terdiam. Jantungku berdegup keras sekali. Tanpa legging? Hanya celana dalam tipis di balik gamis? Bayangan kain gamis yang langsung menyentuh kulit pahaku yang halus membuat selangkanganku berdenyut pelan. Sensasi hangat yang aneh muncul di sana.
“Mas Udin... itu... terlalu berani,” bisikku lemah, pipiku panas.
Udin hanya tersenyum nakal. “Coba aja sekali ini, Mbak. Siapa tahu Mbak suka.”
Sepanjang sore, saran itu terus terngiang di kepalaku. Jamal dan Markus juga sengaja lewat berkali-kali, melempar pujian halus yang semakin membuatku gelisah.
“Wah Mbak Dwi, gamis maroon hari ini bikin Mbak kelihatan semakin anggun. Kainnya nempel pas di dada ya?” goda Jamal dengan suara lembut.
Markus menambahkan, “Iya, gerakannya indah sekali. Tubuh Mbak seolah hidup di balik kain itu.”
Akhirnya malam itu, di kamar kosan, aku berdiri di depan lemari dengan tangan gemetar. Perang batinku semakin sengit.
Ini salah besar, Dwi. Kamu pacar Putra. Auratmu harus dijaga. Kalau dia tahu...
Tapi tanganku malah meletakkan legging tebal kembali ke lemari. Aku hanya memakai celana dalam tipis berwarna nude di balik gamis maroon. Saat kain gamis yang lembut langsung menyentuh kulit betis dan paha dalamku, aku merinding hebat. Dingin... tapi juga menggairahkan. Setiap langkah membuat kain bergesek pelan di paha, menimbulkan sensasi geli yang menjalar ke memekku.
Ya Allah... aku sudah keterlaluan. Kenapa tubuhku jadi begini sensitif? Kenapa aku malah basah hanya karena ini?
Putra menjemputku tepat waktu. Ia memandangku dari atas ke bawah dengan mata penuh cinta. “Kamu cantik sekali malam ini, sayang. Gamisnya pas banget di badanmu.”
Aku tersenyum malu, tapi di dalam hati aku merasa kotor. Di mobil, setiap gerakan membuat gamis bergesek lembut di paha telanjangku. Aku diam-diam merapatkan kedua kakiku, sudah merasakan kelembapan yang mulai membasahi celana dalam tipis.
Sesampai di ballroom hotel, acara kantor berlangsung ramai. Aku duduk di sebelah Putra, tapi tatapan Udin, Markus, dan Jamal tak pernah lepas dariku. Mereka duduk di meja sebelah, mata mereka seperti menelanjangiku pelan-pelan.
Game dimulai. Saat sesi berpasangan berpindah, Jamal tiba-tiba ada di depanku. Ia memegang pinggangku sebentar saat “membantu” keseimbangan. Jari-jarinya menekan lembut di pinggang rampingku.
“Gerakannya anggun sekali Mbak,” bisiknya tepat di telingaku, napasnya hangat. “Tanpa legging kan? Mbak kelihatan lebih bebas malam ini. Aku bisa bayangin betis mulus Mbak di balik gamis ini...”
Aku merona hebat. Dia tahu...
Game selanjutnya dengan Udin. Saat estafet balon, tubuhnya sengaja menekan dada montokku. Aku bisa merasakan kehangatan dan kekerasan tubuhnya. Tanpa legging, angin AC yang meniup dari bawah gamis membuat paha dalamku merinding nikmat.
“Nyaman kan, Mbak?” bisik Udin mesum di telingaku. “Tubuh Mbak semakin hidup malam ini. Aku suka lihat Mbak begini... bebas sedikit.”
Perang batinku semakin sengit. Aku nggak boleh menikmati ini... ini pengkhianatan terhadap Mas Putra! Tapi kenapa memekku semakin basah hanya karena sentuhan kecil dan bisikan mesum mereka?
Saat sesi foto bersama, semua orang berdesakan. Aku berdiri di tengah. Tiba-tiba dari belakang, sebuah tangan hangat menyentuh pinggulku. Jari-jari itu meraba pelan, lalu turun ke paha, merasakan kulit betisku yang telanjang di balik gamis tipis.
Siapa...? Markus?
Aku membeku. Tangan itu semakin berani, menekan bokong montokku dari belakang. Telapaknya meremas pelan, menikmati keempukan pantatku. Sensasinya membuat lututku lemas. Aku basah lebih banyak sekarang, cairan hangat meleleh di celana dalam.
Saat flash kamera menyala, aku tersenyum manis ke depan, tapi di dalam hati aku berteriak keras:
Ya Allah… ada yang meraba bokongku di tengah keramaian… dan aku malah menikmatinya… Maafkan aku Mas Putra… aku sudah kotor sekali. Aku jalang berhijab yang menyukai sentuhan haram ini...
Malam itu, saat pulang dengan Putra, aku diam saja. Putra menggenggam tanganku lembut, “Kamu cantik sekali tadi sayang. Aku bangga punya pacar seperti kamu.”
Sesampai di kosan, aku langsung masuk ke kamar mandi. Aku membuka gamis dengan tangan gemetar. Betisku sudah merah karena gesekan kain sepanjang malam. Tanpa menunggu lama, tanganku turun ke selangkangan yang sudah banjir.
Aku menyentuh diri sendiri sambil mengingat semua pujian, bisikan, dan sentuhan hari ini. Jari tengahku mengusap klitoris yang bengkak, memutar pelan, lalu menekan lebih dalam. Aku membayangkan tangan Markus yang meremas bokongku, jari Udin yang hampir menyentuh paha dalamku.
“Ahh... hnghh...” desah kecil lolos dari bibirku.
Aku orgasme dengan cepat dan kuat di bawah pancuran air hangat. Tubuhku mengejang hebat, cairan panas menyembur membasahi jari-jariku. Aku menggigit bibir kuat-kuat agar tak bersuara, tapi air mata malu dan kenikmatan bercampur di wajahku.
Maafkan aku Mas… aku nggak bisa berhenti… Aku tahu ini baru permulaan. Dan aku semakin takut… sekaligus tak sabar menanti apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
ns216.73.216.69da2


