Chapter 3: Getaran yang Tak Terbendung33Please respect copyright.PENANA7PDpiBQERI
33Please respect copyright.PENANAp8FGXTBijJ
POV Tiga Serigala
Malam itu, di sebuah kosan sederhana yang pengap, ketiga laki-laki itu sedang berkumpul dalam grup chat rahasia mereka yang bernama “Proyek Akhwat Montok”.
Udin: Bro, gue masih kepikiran gamis Dwi pas foto bareng kemarin. Kain tipisnya nempel banget di pantat montoknya. Gue yakin dia nggak pakai legging. Empuk, padat, dan kenyal banget. Pas gue remas pelan dari belakang, jari gue hampir tenggelam di balik kain. Bayangin kalau tanpa celana dalam, pasti lebih enak.
Markus: Gila... Anjir gue ngaceng sampe sekarang tiap ingat. Aku suka banget tipe akhwat seperti dia. Semakin suci dan alim kelihatannya dari luar, semakin pengen aku rusak pelan-pelan. Dada montoknya naik-turun waktu dia tegang tadi... bikin gue pengen sobek kancing gamisnya, terus hisap putingnya keras-keras sambil dia masih pakai hijab syari. Bayangin dia merintih “Mas... ini dosa” tapi memeknya banjir deras.
Jamal: Kalian sabar bro. Dia udah mulai ketagihan. Kemarin pas gue bisikin di lift, badannya langsung merinding hebat. Gue bisa bau aroma nafsu yang mulai keluar dari tubuhnya. Besok kita push lagi lebih dalam. Gue yang atur strategi biar dia semakin berani skip layer demi layer. Pelan-pelan, biar dia sendiri yang ngajak kita buka auratnya.
Udin: Deal. Gue pengen pegang langsung memek mulusnya yang pasti pink dan sempit itu. Markus: Gue mau nyobain dada ranumnya, remas sambil gigit putingnya. Jamal: Sabar. Benihnya sudah tumbuh subur. Tinggal tunggu dia mekar jadi jalang berhijab yang kita inginkan.
33Please respect copyright.PENANAgICoXwYMjL
POV Dwi Amalia
Aku duduk di tepi kasur sambil memegang ponsel dengan tangan yang terus gemetar. Pesan anonim dari mereka masih terbuka di layar, setiap kata terasa seperti cambukan sekaligus belaian yang terlarang.
Anonim: Mbak Dwi cantik sekali malam tadi. Gamisnya bikin semua orang perhatian. Besok ke kantor pakai apa? Coba tanpa lapisan dalam ya… cukup kemeja syari aja di luar. Mbak bakal merasa lebih hidup, lebih bebas. Tubuh montok Mbak terlalu sayang kalau selalu dikungkung kain tebal.
Aku menutup mulut dengan tangan, napasku tersengal. Ya Allah... ini sudah keterlaluan. Aku nggak boleh. Ini dosa besar. Aku akhwat solehah yang selalu menjaga aurat, pacar Putra yang baik dan selalu menghormatiku...
Tapi jari-jariku malah ragu-ragu saat memilih pakaian pagi itu. Aku mengambil tanktop tebal biasa, tapi kemudian meletakkannya kembali ke lemari dengan napas tertahan. Akhirnya aku hanya memakai bra tipis berwarna nude dan celana dalam tipis di balik kemeja syari putih serta rok panjang hitam. Begitu kemeja menempel langsung ke kulit dada, payudaraku yang montok terasa lebih berat dan sensitif. Putingku sudah mengeras hanya karena gesekan kain tipis, menonjol samar dan terasa nyeri nikmat setiap kali aku bergerak.
Kenapa aku nurut godaan mereka? Kenapa tubuhku malah bergetar excited seperti ini? Aku kotor... aku sudah sangat kotor...
Putra chat minta maaf karena kesiangan parah dan menyuruhku naik ojol saja. Aku menghela napas panjang, perasaan campur aduk antara lega karena tidak perlu berbohong dan kecewa karena tidak ada pelindung di sampingku.
Ojol datang. Driver laki-laki paruh baya sekitar 50 tahun. Karena terburu-buru, aku duduk normal. Rok panjangku naik sedikit, memperlihatkan betis mulus yang tak terlindungi legging. Angin pagi langsung menyapa kulit halusku dengan lembut, membuat bulu kudukku berdiri dan sensasi aneh muncul di selangkangan.
Sepanjang perjalanan, banyak pengendara motor di samping melirik betisku yang putih dan mulus dengan tatapan lapar. Aku merasa diperhatikan, dipermalukan, tapi juga... sangat diinginkan. Setiap kali motor mengerem mendadak, dada montokku bergoyang berat di balik kemeja tipis. Putingku bergesek bra seamless, menimbulkan gesekan yang semakin membuatku sensitif dan basah.
Tangan driver “tak sengaja” menyentuh betisku saat mengerem keras. Telapak kasar dan hangat itu menyapu kulit mulusku, naik perlahan ke lutut, bahkan sedikit ke paha dalam. Aku tersentak hebat. Listrik panas langsung menjalar deras ke memekku yang mulai berdenyut.
Ya Allah… kenapa sentuhan orang asing bisa bikin aku basah seperti ini? Aku kotor… aku benar-benar kotor sekali…
Saat turun dari motor, tangan driver lagi-lagi menyentuh betisku lebih lama. Jari telunjuknya mengusap pelan dari lutut ke atas, hampir menyentuh paha dalamku. Lututku lemas berat. Selangkanganku sudah banjir, cairan hangat meleleh membasahi celana dalam tipis.
Di kereta yang sangat padat, aku berdiri sambil memegang tiang dengan tangan gemetar. Pikiranku benar-benar kacau.
Mas Putra… maafkan aku. Aku nggak tahu kenapa aku jadi seperti ini. Aku sangat mencintai kamu… tapi tubuhku sekarang haus sentuhan yang haram. Aku sudah rusak...
Tiba-tiba ada desakan kuat dari belakang. Sesuatu yang keras, panas, dan tegang menekan bokong montokku dengan jelas. Tangan tak dikenal meraba pinggulku dari belakang, lalu turun ke paha, merasakan kulit mulusku yang telanjang di balik rok.
Aku menegang seluruh tubuh. Jangan… tolong jangan di sini… di depan orang banyak...
Aku mencoba bergeser kecil, tapi kereta terlalu penuh. Tangan itu semakin berani. Telapaknya meremas pantat montokku melalui rok tipis, menikmati keempukan dan kenyalnya dengan rakus. Jari-jarinya mengusap celah pantatku, menekan pelan ke arah memek dari belakang.
Aku menggigit bibir kuat-kuat sampai terasa sakit. Aku harus teriak… aku harus melawan ini… ini pelecehan! Tapi tubuhku malah gemetar nikmat. Setiap remasan dan usapan membuat cairan hangat meleleh semakin deras di celana dalamku.
Lalu, saat kereta berayun keras karena rem mendadak, jari tengah molester itu mendorong kuat ke depan — tepat mengenai lubang vaginaku dari luar rok dan celana dalam. Ia menekan kuat, berputar pelan, lalu menusuk dengan gerakan yang tepat dan penuh pengalaman, seolah tahu titik paling sensitifku.
AAHH… TIDAK…! jeritku dalam hati berkali-kali. Aku mencoba menahan dengan sekuat tenaga, kaki mengepal, otot paha menegang, tapi kenikmatan itu terlalu kuat, terlalu memabukkan.
Ya Allah… aku orgasme di kereta umum… di depan banyak orang… aku pacar Putra tapi sekarang aku cum karena jari orang asing… MAAFKAN AKU MAS… AKU JALANG… AKU JALANG BERHIJAB YANG MENIKMATI SENTUHAN INI…
Tubuhku mengejang hebat tanpa bisa dikendalikan. Orgasme datang seperti banjir bandang yang dahsyat. Cairan panas menyembur deras membasahi celana dalamku hingga menetes ke paha dalam. Lututku lemas total, aku hampir ambruk. Desah kecil “nghh… ahh…” lolos dari bibirku meski aku berusaha menahannya dengan gigitan bibir yang kuat.
Molester itu menghilang di kerumunan. Aku turun dengan langkah goyah, cairan masih menetes pelan di paha dalamku. Di toilet stasiun, aku menangis tersedu sambil membersihkan diri dengan tisu. Air mata malu, dosa, penyesalan, dan sisa kenikmatan bercampur menjadi satu badai di dada.
Aku sudah rusak total… aku nggak pantas lagi sama Putra… Tapi… kenapa rasanya begitu nikmat? Kenapa tubuhku malah menginginkan lebih?
Saat akhirnya tiba di kantor, Udin, Markus, dan Jamal sudah menunggu di koridor dengan senyum yang penuh arti, seolah mereka tahu persis apa yang baru saja terjadi padaku.
Hari ini... baru saja dimulai dengan cara yang semakin gelap.
33Please respect copyright.PENANAUAxBg4x3Ra
33Please respect copyright.PENANAZkkKBZNHS3
Setelah basa-basi singkat yang penuh pujian terselubung, Jamal bertepuk tangan sekali dan berkata dengan semangat, “Eh, sebelum jogging beneran, kita pemanasan dulu yuk biar tidak kram atau cedera. Apalagi Mbak Dwi baru pertama kali pakai outfit olahraga yang lebih fit gini.”
Aku melihat senyum Jamal yang lebar itu. Di balik senyum ramahnya, ada kilatan rencana yang membuat bulu kudukku berdiri.
Jamal mulai mengatur posisi dengan santai. “Gini aja, Mas Putra dan Mbak Dwi di depan bersebelahan. Markus sama Udin di belakang mereka berdua. Gue di paling depan sebagai instrukturnya.”
Gerakan pertama adalah shoulder stretch. Aku mengangkat kedua tangan ke atas dengan serius. Jaket UV yang agak fit di badan ikut terangkat, membuat dada ku semakin membusung. Aku bisa merasakan tatapan lapar ketiga laki-laki itu tertuju ke sana.
Jamal tersenyum lebar, “Bagus sekali Mbak Dwi. Gerakannya anggun. Dada Mbak kelihatan... sangat sehat dan berenergi.”
Udin dan Markus ikut nimbrung dengan nada santai tapi penuh arti, sementara Putra hanya tertawa kecil tanpa curiga.
Kemudian Jamal memberikan instruksi gerakan kedua, “Selanjutnya leg stretch! Angkat satu kaki ke atas, tekuk lutut setinggi perut, tahan sebentar, lalu ganti kaki. Ini penting buat paha dan keseimbangan.”
Aku langsung shock. Gerakan ini sangat berbahaya. Rok pendekku pasti akan tersingkap tinggi.
Aku melakukannya dengan sangat kaku dan ragu-ragu. Lututku naik pelan, tapi aku tidak berani mengangkat terlalu tinggi. Jamal langsung menggeleng.
“Mbak Dwi kok kaku banget? Gerakannya harus lebih dalam biar ototnya teregang maksimal. Nanti kalau keram siapa yang tanggung jawab? Ayo, angkat lebih tinggi lagi. Jangan malu-malu, Mbak kan sudah berani pakai outfit ini.”
Putra ikut menyemangati, “Iya sayang, semangat dong. Angkat yang benar biar tidak cedera.”
Dengan hati yang berdegup kencang dan rasa malu yang membakar wajah, aku mengangkat kaki kananku lebih tinggi. Rok pendekku langsung tersingkap drastis. Lekukan paha dalamku yang mulus, garis celah memekku yang tertutup legging tipis, bahkan bentuk intimku samar-samar terlihat jelas.
Jamal tersenyum lebar, “Wah... bagus sekali. Paha dalam Mbak kelihatan fleksibel banget.”
Karena gerakanku masih kaku, Jamal mendekat dengan cepat. “Mbak Dwi, boleh saya koreksi gerakannya sebentar? Biar lebih benar.”
Belum sempat aku menjawab, tangan kirinya sudah memegang punggung belakangku, sementara tangan kanannya memegang lutut kakiku yang diangkat.
Awalnya terasa seperti bantuan biasa. Tapi detik berikutnya, tangan kanannya mulai bergerak naik dari lutut ke paha bawahku dengan gerakan yang terarah dan penuh nafsu. Jari-jarinya menyusuri paha dalamku yang sensitif.
Ya Allah... tangannya...
Sensasi listrik menjalar deras ke perut bawahku. Aku panik berat, tubuhku menegang hebat, tapi aku tidak berani bergerak karena Putra ada di sebelahku.
Tangan Jamal terus naik. Semakin tinggi, semakin dalam. Akhirnya jari-jarinya sampai di area intimku. Ia menekan telapak tangannya tepat di memekku dari luar legging tipis, lalu mulai menggaruk pelan dengan ujung jari.
Pada saat yang sama, tangan kirinya turun ke bokongku. Telapaknya meremas bokongku dengan rakus, lalu jari tengahnya menekan kuat tepat di anal ku dari luar legging.
Dua titik sensitifku diserang bersamaan.
Aku panik setengah mati. Ya Allah... tolong... jangan di sini... Mas Putra ada di sebelahku!
Tapi kenikmatan itu terlalu kuat. Jari Jamal menggaruk dan mengorek memekku dengan lihai, menemukan klitoris ku dengan tepat, memutar pelan, lalu menekan dan menggosok dengan ritme yang semakin intens. Sementara jari di anal ku menekan dan memutar dengan tekanan yang pas.
Perang batinku hancur berkeping-keping.
Bagian diriku yang masih setia berteriak keras: Berhenti Dwi! Ini pengkhianatan besar! Kamu pacar Putra! Kalau ketahuan, semuanya akan hancur!
Tapi tubuhku sudah berkhianat total: Enak... terlalu enak... jarinya terlalu lihai... tekanan di memek dan anal bersamaan... aku mau meledak... tolong jangan berhenti... tapi tolong berhenti... aku takut... aku malu...
Tubuhku gemetar hebat. Keringat dingin bercampur cairan panas mengalir di selangkanganku. Gelombang orgasme sudah naik dengan sangat cepat, siap meledak kapan saja.
Jamal berbisik pelan di telingaku, suaranya hampir tidak terdengar, “Tenang Mbak... rileks saja... gerakannya sudah bagus kok...”
Pada saat itu Putra menoleh dan tersenyum, “Nah gitu dong sayang, pemanasannya enggak kaku lagi. Untung ada Jamal yang mau bantu.”
Jamal tersenyum lebar sambil menjawab santai, “Tenang Mas Putra, saya bantu sebisa mungkin. Mbak Dwi sudah mulai... panas dan basah... oleh keringat hehe.”
Aku terlonjak kaget. Di saat yang sama, jari Jamal menekan klitoris ku lebih kuat dan jari di analnya mendorong lebih dalam.
Aku tidak kuat lagi... Aku mau orgasme... tapi tidak boleh... tidak di depan Mas Putra... tolong...
ns216.73.216.69da2


