Aku sengaja ingin memperlihatkan keperkasaanku, supaya Bu Lies ketagihan, ingin dientot terus olehku kelak. Sudah dua kali Bu Lies orgasme. Tapi kontolku masih tangguh, masih memompa liang memek legitnya Bu Lies. Padahal keringatku mulai membasahi tubuhku. Keringat Bu Lies juga sama, tampak membasahi tubuhnya di sana-sini.
Sampai pada suatu saat, Bu Lies berkelojotan sambil mengerang,
“Aku mau lepas lagi Bon… bisa dibarengin nggak?”
“Mudah - mudahan bisa Bu,” sahutku sambil mempercepat entotanku.
Sambil menyedot-nyedot pentil toket gedenya, Bu Lies mulai berkelojotan… kemudian mengejang tegang dengan perut agak terangkat ke atas. Pada saat itulah aku pun menancapkan kontolku di dalam liang memek Bu Lies. Moncong kontolku sampai menabrak dan mentok di dasar liang tempik wanita setengah baya itu.
Lalu liang sanggama Bu Lies terasa berkedut-kedut kencang, diikuti dengan gerakan spontan yang seperti spiral… laksana meremas dan memilin kontolku yang tengah meletuskan lendir kenikmatanku.
Crooot… cooootttt… crooooootttt… Crooooootttttt… crooooooooottttt… crooootttt…!
Aku menggelepar, lalu terkulai di atas perut Bu Lies. Bu Lies pun terkulai. Namun sesaat kemudian dia mencium bibirku dengan lahapnya, disusul dengan bisikannya di dekat telingaku,
“Terima kasih ya Sayang. Kamu telah memberikan sesuatu yang sangat berarti bagiku. Ini takkan kulupakan sampai kapan pun.”
“Ibu juga telah memberikan sesuatu yang sangat berarti bagiku. Punya panjenengan luar biasa enaknya,” sahutku.
Kemudian kucabut kontolku dari dalam liang tempik Bu Lies. Bu Lies pun duduk, lalu turun dari bed.
“Ayo kalau mau bersih - bersih di kamar mandi,” ajaknya.
Aku pun mengikuti langkah Bu Lies masuk ke dalam kamar mandi pribadinya.
Begitu berada di dalam kamar mandi, Bu Lies langsung duduk di atas kloset. Dan aku berjongkok di depan kloset itu.
“Heh… mau apa kamu malah jongkok di situ Bon?” tanya Bu Lies.
“Pengen liat punya Ibu seperti apa kalau sedang kencing… hehehee…”
“Hihihiiii… ada - ada aja. Iya liatin deh. Sekalian cebokin setelah aku kencing ntar ya.”
“Iya Bu. Mau kok aku nyebokin Ibu.”
“Mau nyebokin apa mau megang - megang tempikku?”
“Hehehee… mau dua - duanya Bu,” sahutku sambil menarik shower dan siap-siap untuk menceboki Bu Lies.
Lalu terdengar bunyi kencing Bu Lies di dalam kloset. Sweerrrr… kecewesssss kecewessss… Aku pun langsung mendekatkan shower ke tempik Bu Lies, sementara tangan satunya lagi siap untuk menceboki memek bu boss.
“Baru sekali ini aku ngalami dicebokin sama orang lain. Bona… Bona… kamu mulai jadi tangan kananku luar dalam.”
“Iya. Ibu juga mulai jadi atasan luar dalam.”
Bu Lies bangkit dari kloset, sementara aku justru baru mulai kencing. Kemudian kubasuh kontolku yang masih berlepotan lendir. Pada saat itulah Bu Lies memelukku dari belakang.
Sambil berbisik,
“Masih kuat main berapa kali lagi?”
Bersambung…..
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


