Meski ragu-ragu, kulaksanakan juga perintah Bu Lies itu. Kuturunkan ritsleting celana jeansku, lalu kupelorotkan celana jeans berikut celana dalamku, sehingga kontol ngacengku tersembul seperti sedang menunjuk ke arah Bu Lies.
“Woooow! Kontolmu segede dan sepanjang ini Bon?!” seru Bu Lies sambil memegang kontolku yang memang sudah ngaceng ini.
Aku tak menyangka semuanya ini akan terjadi begini cepatnya. Tapi aku tetap menggunakan akal sehatku. Kalau bossku menginginkannya, tiada alasan bagiku untuk menolaknya. Lagipula Bu Lies memang seksi habis di mataku.
Selimut itu sudah dihamparkan di atas rerumputan liar di antara pepohonan yang mirip hutan tak terawat ini. Aku disuruh berlutut dengan dada agak rebah ke belakang.
“Tak usah telanjang bulat. Dengan begini pun kita bisa melakukannya. Hitung - hitung test aja, apakah kamu lelaki sejati atau sebangsa mantan suami Artini…"
Lalu Bu Lies berjongkok sambil menyeret celana dalamnya ke samping. Dia membelakangiku, sehingga kurang jelas seperti apa bentuk memeknya. Yang jelas, sambil berjongkok dia berhasil membenamkan kontolku ke dalam liang tempiknya.
Lalu bokong gede itu naik turun dengan gesitnya, sehingga kontolku terasa dibesot-besot oleh liang licin yang empuk dan hangat.
“Tempikku kepenak mboten?” tanyanya.
“Saestu kepenak Buuu…” sahutku sambil memejamkan mata, karena memang terasa liang tempik Bu Lies itu luar biasa enaknya.
“Ini sekadar tes aja Bon. Kalau kurang puas, nanti lanjutkan di rumah aja ya.”
“Iii… iya Bu.”
“Uedaaan… kontolmu ini gede tenan Bon. Sampai seret gini mainnya.”
“Mungkin karena punya Ibu terlalu kecil, jadi sempit…”
“Hihihihiiii… ini luar biasa enaknya Bon…” ucap Bu Lies ketika ayunan bokongnya mulai menggila.
Terkadang kudengar suara desahannya yang aaah oooh… aaah… ooooh… Sebenarnya ada yang kutakutkan. Takut ada orang lewat lalu memergoki kami sedang beginian.
Untungnya Bu Lies tak kuat lama-lama. Hanya belasan menit dia mengayun bokongnya, lalu menggelepar dan ambruk.
“Wah, duweku sampun metu Bon. Kamu belum kan?”
“Belum Bu.”
“Nanti lanjutin di rumah ya,” ucap Bu Lies sambil mengangkat bokongnya tinggi - tinggi, sehingga kontolku pun terlepas dari liang memeknya yang seperti apa bentuknya.
Belum jelas. Baru bentuk buah pantat gedenya saja yang jelas di mataku. Bu Lies membetulkan celana dalamnya yang terseret ke samping, kemudian duduk di atas selimut yang dihamparkan itu. Aku pun membetulkan letak celana dalam dan celana jeansku, lalu duduk di samping Bu Lies.
“Tau gak, kenapa aku gelis metu mau?”
“Kenapa Bu?”
“Karena sejak suamiku meninggal, baru sekarang aku merasakan lagi enaknya kontol. Apalagi sekalinya ketemu kontol yang panjang gede gitu. Ya cepet keluarlah aku.”
“Iya Bu.”
Bersambung……
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


