Seminggu telah berlalu, Maya yang tengah menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan rumah berusaha menjernihkan pikiran. Kegaduhan dalam batinnya meronta antara panik dan mencari solusi akan masalah yang ia hadapi kini. Beberapa kali ia terlihat lesuh setelah seharian membenah rumah, menyapu, serta menjemur kain yang telah ia cuci.
169Please respect copyright.PENANA3CKOJ37094
Ia butuh seorang untuk berbagi cerita dan keluh kesah, mencari solusi bersama dan membuatnya tenang untuk sementara.
169Please respect copyright.PENANA8Rs0Ctkeq5
Tak ada yang bisa membantunya. Masalah kini ia pendam sendiri, hingga akhirnya beberapa kali ia terlihat lunglai ditengah kesibukan dan akhirnya tumbang tak sadarkan diri, sendiri dirumah itu.
169Please respect copyright.PENANALZ6Ju1TfIR
Dering ponsel berbunyi, pesan masuk dari Adam yang bertubi tak digubrisnya. Setelah sadarkan diri, ia menuju dapur hanya untuk meneguk segelas air. Tatapannya kosong, sekilas ia melihat perutnya yang ia yakini ada seorang janin yang mulai tumbuh dan suatu saat akan menjadi manusia.
169Please respect copyright.PENANAqDcnDqIOgb
Dalam diamnya; begitu banyak hal yang ia sesali, yang ia benci dan akhirnya menghasilkan karma dari dosa yang ia perbuat.
169Please respect copyright.PENANAmTZAN4ZDrA
Jika saja waktu bisa terulang, Maya tak ingin mengenal sosok Adam atau bahkan ia tak akan merestui hubungan anaknya bersama pria itu. Namun takdir tak bisa disanggah, dan perasaan dirinya terhadap Adam tak bisa ia tutupi. Mungkin untuk saat ini ia sangat membenci calon menantunya itu, namun disisi lain ia juga sedikit membutuhkan kehadirannya.
169Please respect copyright.PENANAmBSMqTCGXL
Sementara disisi lain, Siska kini semakin akrab bersama Beni. Berbagai kesempatan Beni sering muncul hanya sekadar untuk menyapa atau bahkan membawakan makanan untuk Siska. Pendekatan tersebut terlihat sangat terang-terangan, meski tindakan tersebut beralasan untuk menjaga silahturahmi yang pada faktanya pria hidung belang itu semata-mata mengincar sel∆ngkng∆n wanita saja.
169Please respect copyright.PENANAqUXBuHB41i
Beberapa kali ia juga memberanikan diri untuk menggenggam tangan Siska ditengah percakapan, tanpa alasan yang jelas. Membelai rambut sampai bahkan mulai berani mencium pipinya.
169Please respect copyright.PENANATTFnTetkHE
Mendapat tindakan yang agak menggelitik itu, awalnya Siska merasa risih namun perlahan mulai tergoyahkan hingga akhirnya dimana ia mampu terkulai lemas, melemah dan tersapu oleh belaian godaan si lelaki dari masa lalu itu.
169Please respect copyright.PENANAagLAmV67YB
Beni juga sudah tidak sungkan untuk membawa Siska ke dalam kehidupan pribadinya. Beberapa kali ia mengunjungi ke kediaman Beni. Kontrakan yang kurang lebih sama milik Adam namun terlihat agak sedikit rapih dan bersih daripada milik si pecandu k3l∆m1n janda itu.
169Please respect copyright.PENANAKpWH2EteqX
Awalnya keduanya hanya mengobrol seperti biasanya, Siska mulai membiasakan diri dengan memperhatikan detail sudut rumah itu. Di dinding terdapat sebuah lukisan yang terlihat antik, beberapa alat musik tersusun rapi di sudut lorong menuju kamar. Tak ada yang istimewa di hari pertama kunjungan, hingga hari-hari berlalu dimana mereka makin saling dekat dan akhirnya menuntaskan dengan tidur bersama.
169Please respect copyright.PENANAjEMHO4xShq
Awalnya Siska menyesalinya, namun karena adanya tekanan adrenaline yang membuatnya ketagihan, iapun kembali mengulanginya lagi dan lagi, hingga penyesalan tersebut berubah menjadi nafsu belaka.
169Please respect copyright.PENANAyFeL1jJEmC
Hubungan dengan Adam pun kian renggang, mereka hanya bertemu untuk saling melepas rindu dan menyapa layaknya pasangan yang sudah suntuk akan kikisan waktu. Adam juga mulai menyibukkan diri akan pekerjaan kantor dan lebih memilih untuk berkomunikasi dengan calon mertuanya yang tengah dihamilinya.
169Please respect copyright.PENANA7BLIpmG4oU
Minggu berganti Bulan, Maya sudah menampakkan tanda kehamilan. Perutnya mulai sedikit membesar. Ia seringkali mengenakan daster besar kedodoran untuk menutupi kehamilannya kepada Siska.
169Please respect copyright.PENANAJIYt7IIHQL
Siska yang memang jarang dan seringkali waktunya dihabiskan diluar rumah, juga tak begitu memperhatikan kondisi Ibunya. Ketika malam hari dimana Ibunya mengalami mual, dengan polosnya ia percaya bahwa Maya hanya mengalami masuk angin tanpa secercik curiga kalau Ibunya tengah mengandung anak dari tunangannya, sampai ketika di pagi buta, Maya yang sudah tak bisa menahan kelelahan, ambruk tak sadarkan diri. Siska yang melihatnya lantas panik dan segera meminta pertolongan untuk mengantarkan Ibunya ke puskesmas terdekat.
169Please respect copyright.PENANA5KrmnRp9yk
Ruang remang, hanya beberapa perawat berada di ruangan itu. sesekali mereka berbincang membahas hal yang tak dimengerti oleh Maya yang baru saja sadarkan diri. Dalam lunglai dengan penglihatan masih berkunang-kunang ia bertanya kepada perawat yang tengah menanganinya, "Aku dimana?"
169Please respect copyright.PENANAUMvxwyg9BE
"Ibu berada dipuskesmas Mekar Sari,"jawab perawat bertubuh gempal itu. "Anak Ibu yang mengantar anda, sekarang dia ada di ruang resepsionis untuk menerima arahan dari dokter"
169Please respect copyright.PENANA2Nyp0V6JCK
Tak lama kemudian Siska akhirnya masuk bersama dengan perawat lain yang tepat berada didepannya. Melihat anaknya dengan raut wajah kesal, Maya telah menerka bahwa apa yang ia sembunyikan selama ini telah terungkap sudah. Namun alih-alih murka, Siska lebih memilih diam, melipat kedua tangannya sambil menyimak arahan dari perawat untuk kesehatan anak yang dikandung oleh ibunya.
169Please respect copyright.PENANA3NSNOwoZBs
Setelah semua urusan selesai di rumah sakit itu, mereka berduapun kembali kerumah dengan saling berdiam diri. Sesekali Maya melirik ke anaknya, siap menerima apabila amarah Siska meledak. Namun entah mengapa, Siska malah memilih diam sepanjang perjalanan pulang hingga akhirnya satu pertanyaan muncul setelah sesampainya dirumah itu. "siapa ayahnya?"
169Please respect copyright.PENANATxHXNaHpTD
Mendengar pertanyaan mendadak itu, Maya tertunduk lesuh dan hanya terdiam, duduk disofa siap menerima cercaan.
169Please respect copyright.PENANAjBPVevYSGl
"Ibu punya pacar?!" Siska kembali bertanya, memastikan.
169Please respect copyright.PENANAUHY9NQ9lRp
Lagi-lagi Maya diam tak berani menatap mata anaknya.
169Please respect copyright.PENANAuphrgYbSOn
"Besok lelaki itu harus datang kerumah!" Siska menyapu air matanya, lantas berlalu meninggalkan Ibunya ruang tamu seorang diri.
169Please respect copyright.PENANAGUPWFpoB7l
Kekesalan memenuhi perasaannya. Dalam perjalanan menuju toko, ia menghentak-hentakkan setir mobil melampiaskan amarah yang ia bendung sedari tadi. Ingin rasanya dirinya mencabik-cabik lelaki yang tega menghamili wanita yang telah membesarkannya, dugaan tak sedikitpun tertuju pada Adam, Siska malah membayangkan sosok pria berjakung, tinggi namun bungkuk, dengan rambut beruban layaknya seorang pria tua dengan status sosial lebih tinggi dari keluarganya.
169Please respect copyright.PENANANDaycBjC2e
Tak dapat respon dari Maya, Adam yang gelisah semenjak tak berjumpa selama beberapa bulan akhirnya berinisiatif untuk mengunjungi rumah Maya dipetang hari sehabis pulang dari kantor. Dirinya sudah siap dengan konsekuensi apapun yang terjadi, daripada memendam rasa was-was dan tanda tanya besar yang bersarang di pikirannya, ia pun memberanikan diri untuk berjumpa dengan pujaan hatinya itu.
169Please respect copyright.PENANA4ixFWwWyqY
Tepat pada pukul Tujuh malam, ia memarkirkan mobilnya beberapa meter dari rumah Maya. Sekali lagi ia mencoba untuk menghubungi Maya berharap kali ini ada jawaban darinya, namun nihil tak ada jawaban dari calon mertuanya itu. Kesal hati, ia pun turun dari mobil dan mengendap-endap, menengok dan memastikan bahwa rumah itu terdapat sosok yang ia cari. Seperti gelagat yang mencurigakan, beberapa warga yang lewat seakan menaruh curiga terhadapnya. Berusaha tetap terlihat normal, sesekali ia menyapa warga dengan senyuman yang semakin menguatkan bahwa dirinya adalah orang aneh yang sedang memantau penghuni rumah.
169Please respect copyright.PENANAjiDDGBH9M7
Tak ingin menjadi bahan perbincangan tetangga, Adampun mengundurkan niat dan kembali ke mobil sampai ketika Siska datang dan melihatnya.
169Please respect copyright.PENANAFsv3DXgs8T
"Adam?" tanya Siska penuh curiga "Mengapa kamu disini?"
169Please respect copyright.PENANAm9I1OybsUd
"Aku merindukanmu. Lama tak berjumpa" jawabnya bohong.
169Please respect copyright.PENANASOdAQK2kBa
"Aku juga kangen kamu. Kenapa tak membunyikan bel? Aku tak tahu kamu diluar." ujar Siska "Masuklah!"
169Please respect copyright.PENANA8sRKM53MJQ
Keduanya pun masuk kedalam rumah, Adam terlihat gusar dan beberapa kali matanya menyoroti setiap ruangan, mencari sosok yang ia harap bisa bertemu. Perbincangan keduanya mulai terasa mengalir, dimana Siska menjelaskan bahwa dirinya tengah sibuk akan usaha butik, yang pada faktanya kesibukan tersebut hanyalah kebohongan untuk menutupi hubungan gelapnya bersama Beni.
169Please respect copyright.PENANALbKBHRp6M0
Ia juga berdalih bahwa kelelahan akan pekerjaan membuat tubuhnya sering sakit sehingga tak sempat mengabari atau bahkan bertemu, namun entah mengapa kelelahan itu justru berubah menjadi mesin ganas ketika melakukan hubung4n badan bersama Beni, bahkan sampai berjam-jam lamanya.
169Please respect copyright.PENANAHK5maIBsM0
celotehan dari pacarnya hanya membuat Adam termangu-mangu, mengiyakan bahkan mempercayai kebohongan busuk itu. Tentunya ia juga memaklumi bahwa apabila Siska menyeleweng di belakang hal itu adalah kewajaran, mengingat perbuatannya kepada Siska lebih busuk dari apa yang Siska lakukan kini.
169Please respect copyright.PENANAiu5ZPXdnTq
"Ibu dimana?" Adam memecah suasana dengan pertanyaan. Tak tahan akan rasa keingintahuan dari kabar wanita yang ia sayangi, ia pun memberanikan diri bertanya kabar.
169Please respect copyright.PENANAmS5wBNVhIv
"Ibu dikamar," jawab Siska singkat. ia sedikit kesal namun tak menaruh curiga. "Akhir-akhir ini ada masalah" tambahnya, yang seketika membuat Adam terpangu.
169Please respect copyright.PENANAKp81JTbbwl
"Masalah apa?" Adam penasaran, menanti jawaban.
169Please respect copyright.PENANAu6odoz9DSc
"Ibu hamil"
169Please respect copyright.PENANA1mJZ4qkZiY
Seketika dunia runtuh. Adam mematung dengan tatapan kosong. Ia tak bisa berkata apa-apa kecuali menelan ludah dan berharap ini semua hanyalah mimpi.
169Please respect copyright.PENANAJxuYOy7All
Siska menambahkan bahwa Ibu juga belum menyebut nama lelaki yang sudah menghamilinya yang semakin membuat Siska kesal "Ibu sekarang tak ingin bicara dan mogok makan, seharian dikamar sambil menangis" ujarnya yang membuat Adam semakin merasa bersalah.
169Please respect copyright.PENANAX7Xf2v1Gnl
"Apa aku bisa menemuinya?" Pinta Adam, berharap.
169Please respect copyright.PENANAVfj44Si7Ia
Siska berpikir sejenak, namun akhirnya mengiyakan.
169Please respect copyright.PENANAOJRmTi8Db7
Adam menuju kamar Maya disudut lorong lantai dua rumah itu. Siska yang berada di belakang hanya menatapnya dari jauh sembari menyilangkan tangan. Tak sedikit pun rasa curiga, bahkan dirinya seperti menganggap Adam adalah sosok calon menantu yang bisa membuat Ibunya nyaman.
169Please respect copyright.PENANAn4vHMqemGS
ketukan pintu mulai terdengar. Awalnya Maya menghiraukan, sampai akhirnya suara Adam memeceh keheningan. "Ibu ada didalam? Ini Adam, Bu"
169Please respect copyright.PENANAnGfXSX6OQE
Siska yang tengah memperhatikan, merasa niat Adam hanya akan berakhir sia-sia. ia pun turun, meninggalkan Adam.
169Please respect copyright.PENANAW3GPWVtQm6
Bersamaan dengan itu, Maya yang mendengar suara Adam seketika bangkit dari kasurnya, membuka pintu lantas menarik lengan calon menantunya memasuki kamar. Ia tak sanggup memendam rindu, lantas memeluk pria itu dengan erat.
169Please respect copyright.PENANACnWvIKvU6u
"Aku merindukanmu, sayang..." kesah Maya sambil menangis.
169Please respect copyright.PENANAW8jv3x0eUR
"Aku juga, sayang..." Adam membalas.
169Please respect copyright.PENANACa3q9f3soR
Mereka saling m3lum4t bibir, saling m3r4ba dan kembali berc1um4n. Mereka seperti tak peduli lagi apabila tingkahnya ketahuan oleh Siska. Yang terpenting mereka bisa melepas rindu yang selama ini mereka pendam.
169Please respect copyright.PENANAWZd3qgzhzI
Siska pun tak menaruh curiga terhadap dua insan yang berada di lantai atas rumahnya. Ia masih sibuk dengan laptopnya di ruang keluarga.
169Please respect copyright.PENANAWu37jbryvl
Hendaknya ia ingin meninggalkan mereka berdua setelah menerima telpon dari salah satu karyawannya, namun berat hati jika ia tiba-tiba pergi tanpa sepengetahuan Ibunya, terlebih lagi Adam masih ada dirumah.
169Please respect copyright.PENANAVtVwcOJsGh
Ia pun bangkit menuju lantai atas, niatnya memberitahu keduanya bahwa dirinya hendak keluar menuju butik.
169Please respect copyright.PENANALFxnqjT9bn
Adam yang sudah selesai melepas rindu, ia pun keluar dari kamar itu dan berpapasan dengan Siska. "Aku akan ke Butik sejenak, kamu masih ingin tinggal?" ujar Siska, memastikan.
169Please respect copyright.PENANAdR3HJPY0JQ
"Tidak, aku akan pulang."
169Please respect copyright.PENANAgThCeJBiFE
sekilas Siska menoleh ke kamar Ibunya yang setengah terbuka. Kekhawatiran akan kesehatan ibunya membuat dirinya ragu untuk meninggalkannya seorang diri. Ia pun menaruh harap kepada lelaki yang ada didepannya untuk menundah kepulangan dan meminta untuk menjaga Ibu sementara dirinya keluar mengurus toko.
169Please respect copyright.PENANAw9kpKSsKFf
"Bisakah kamu tinggal untuk sementara? Aku ragu meninggalkan Ibu seorang diri" pinta Siska sembari berharap persetujuan.
169Please respect copyright.PENANAQGNP5G0aJ0
Sejenak Adam terdiam, ia tak ingin terlihat terburu-buru menyetujui permintaan pacarnya itu, walau pada faktanya ia sangat menginginkan hal tersebut.
169Please respect copyright.PENANAxyQC4LQGXM
"Okelah. Tapi jangan lama-lama, aku takut ibu akan canggung jika lama bersamaku" pintanya terkekeh didalam hati.
169Please respect copyright.PENANAhvlRGfyzJ9
"Aku akan membelikanmu makanan setelah pulang nanti."
169Please respect copyright.PENANAkYhwkzhU5G
"Tak usah risau, pergilah. Hati-hati dijalan"
169Please respect copyright.PENANAsDoVvNvvxf
Siska keluar dengan melambaikan tangan, menutup pintu seperti tak merisaukan apa yang akan terjadi didalam rumah itu.
169Please respect copyright.PENANAVqMQdzsP2Y
Adam yang tengah berdiri menunggu Siska berlalu akhirnya bisa dengan leluasa bermain nakal dengan mertuanya. Setelah membalikkan badan, Maya ternyata sedari tadi menguping pembicaraan Siska dan Adam. Ia tersenyum sembari pelan menuruni anak tangga.
169Please respect copyright.PENANAHnVhpez7f7
Adam kemudian menyambut calon mertuanya itu, dihampirinya kemudian memeluknya. Tak lupa memberikan cium∆n mesra.
169Please respect copyright.PENANA2h4h89N6Mx
"Malam ini kamu milikku," ujar Adam dan dibalas Maya dengan anggukan pelan tanda setuju.
169Please respect copyright.PENANAsfHnjpB5b2
BERSAMBUNG...
169Please respect copyright.PENANAhkT6q8CLok
Selengkapnya disini: https://lynk.id/shark95
ns216.73.216.69da2


