3224Please respect copyright.PENANABOiLSaEg4fBAB 2
3224Please respect copyright.PENANAnUsT4OGYuC
3224Please respect copyright.PENANAFOC8czYHjQ
3224Please respect copyright.PENANAI0ovYF9lDq
Pagi ini kantor terasa lebih pengap dari biasanya. Aku duduk di kubikel yang sama, laptop menyala dengan spreadsheet yang belum selesai. Jam menunjukkan pukul 09.30, tapi konsentrasiku buyar sejak tadi. Pikiranku terus kembali ke malam kemarin — ke cerita Qila tentang Genjor yang bajunya basah kuyup, tentang Bang Dayat yang sering bantu di belakang rumah.
3224Please respect copyright.PENANAi3Y2BKydm9
3224Please respect copyright.PENANAEMTulZ2tEP
3224Please respect copyright.PENANAso3oy0Oqjz
Aku mengusap wajah, mencoba fokus ke kolom angka di layar. Tapi bayangan Qila muncul lagi. Istriku yang mandiri, yang setiap hari mengurus depot galon sendirian bersama tiga cowok. Genjor yang 20 tahun, badannya tonggos tapi cungkring, otot lengannya pasti kelihatan saat angkat galon berat. Aku membayangkan dia berdiri di depan Qila, keringat mengalir di leher dan dada, kaosnya menempel ketat di tubuh.
3224Please respect copyright.PENANAZfehryL5ZW
3224Please respect copyright.PENANAybJAZ93jGn
3224Please respect copyright.PENANArsqTdohGuo
“Kenapa aku malah mikir begini?” gumamku pelan.
3224Please respect copyright.PENANAR2V9V0QXgF
3224Please respect copyright.PENANApNKDMF2AnG
3224Please respect copyright.PENANAQe27MuNZv0
Seharusnya aku senang. Usaha Qila maju, aku bisa tenang kerja di kantor. Tapi ada rasa aneh yang mulai muncul sejak kemarin. Campuran antara bangga dan... gelisah. Setiap kali Qila cerita soal Genjor dengan nada santai, ada sesuatu di dadaku yang berdenyut pelan. Bukan marah murni, tapi seperti ada bara kecil yang hangat dan menggelitik.
3224Please respect copyright.PENANAMvGBj0wFGl
3224Please respect copyright.PENANAx2W20qABM2
3224Please respect copyright.PENANAzeK2xhm3yU
Bos lewat di depan kubikel, aku buru-buru pura-pura sibuk ngetik. Tapi pikiranku melayang lagi. Bayangin Qila pagi ini pakai kaos tipis dan celana pendek rumah, rambut diikat asal, payudaranya bergoyang pelan saat dia berjalan di depot. Genjor pasti sering lewat di depannya, mungkin sengaja nunjukin badannya yang kuat. Bang Dayat yang gemuk dan jelek mukanya, dengan senyumnya yang biasa, suka bantu angkat barang ke belakang rumah — tempat yang agak tersembunyi dari jalan.
3224Please respect copyright.PENANA5ONRSOaZAU
3224Please respect copyright.PENANAIq8QDwBzNr
3224Please respect copyright.PENANAiXGqP93N5F
Aku menggeser duduk, merasa selangkangan agak panas. Kontolku bergerak pelan di dalam celana kantor. Aneh. Aku nggak marah, malah ada sensasi ini yang nggak biasa. Seperti penasaran yang pelan-pelan tumbuh.
3224Please respect copyright.PENANA70VWa8jsAJ
3224Please respect copyright.PENANA7ITSHR96C3
3224Please respect copyright.PENANAZUuRm6MQBO
Sepanjang pagi sampai siang, aku susah konsentrasi. Meeting kecil pun aku cuma mengangguk-angguk tanpa benar-benar mendengar. Pikiranku terus ke rumah. Ke Qila yang setiap hari dikelilingi cowok-cowok itu.
3224Please respect copyright.PENANAcmoSLIIpO3
3224Please respect copyright.PENANAMFxUUij64p
3224Please respect copyright.PENANA2LPYpaLkiS
Jam lima sore aku sudah keluar kantor. Motor aku jalankan pelan melewati jalan kompleks. Seperti biasa, aku sengaja lewat depan depot galon. Pintu besi masih terbuka lebar, lampu neon sudah menyala meski matahari belum benar-benar terbenam.
3224Please respect copyright.PENANAAdNu2UhBAU
3224Please respect copyright.PENANAEjIgzn7fEx
3224Please respect copyright.PENANAMFEye73c3Z
Aku memperlambat laju motor.
3224Please respect copyright.PENANAg4rRIVUSlX
3224Please respect copyright.PENANA9gq7y7Bb8f
3224Please respect copyright.PENANAjT2X4pXHgR
Qila berdiri di dekat meja kasir, pakai kaos abu-abu longgar yang agak basah di bagian dada karena keringat. Celana pendek jeansnya memperlihatkan paha putihnya yang mulus. Di depannya, Genjor sedang mengangkat tiga galon sekaligus ke motor customer. Kaosnya basah kuyup, menempel ketat di tubuh tonggosnya. Otot lengannya menonjol, urat-uratnya kelihatan jelas. Dia tersenyum lebar ke Qila sambil berkata sesuatu yang aku nggak dengar.
3224Please respect copyright.PENANAySbfM0knet
3224Please respect copyright.PENANAv6wLwaEifq
3224Please respect copyright.PENANAtSPAI2u6Kd
Qila tertawa kecil, tangannya memegang nota. Senyumnya ringan, mata sipitnya agak menyipit lebih dalam. Ada kilau keringat di lehernya yang turun ke belahan dada. Bang Wesno sedang bantu muat galon kosong, tapi Bang Dayat — badannya yang gemuk dan mukanya jelek — berdiri lebih dekat ke Qila, seolah sedang nunggu instruksi. Dia bilang sesuatu sambil menunjuk ke belakang rumah, Qila mengangguk dan tersenyum tipis.
3224Please respect copyright.PENANAKOmiPwyCry
3224Please respect copyright.PENANARRO32FhQQk
3224Please respect copyright.PENANARPBjONeQ8k
Aku merasa dada seperti ditekan. Hangat. Ada rasa cemburu kecil yang nyelinap, tapi juga sensasi aneh yang membuat kontolku berdenyut pelan di dalam celana. Aku melihat Genjor membungkuk, bokongnya yang kecil tapi kencang terlihat saat mengangkat. Qila memandang sebentar ke arah itu sebelum kembali ke nota.
3224Please respect copyright.PENANAnJMUEwphqN
3224Please respect copyright.PENANA3uFQzxAIv8
3224Please respect copyright.PENANAwRVGN9GPnp
Aku nggak berhenti. Langsung bawa motor ke rumah yang hanya beberapa meter dari situ. Begitu masuk, aku melepas helm dan sepatu. Hati masih berdegup agak kencang.
3224Please respect copyright.PENANAngem2iiODc
3224Please respect copyright.PENANAL88tMLUxvr
3224Please respect copyright.PENANAExzej1XzDi
Qila pulang tak lama setelah aku. Aroma tumis tempe dan sayur asem langsung memenuhi rumah. Dia masuk dapur dengan rambut masih sedikit acak-acakan, kaosnya agak lengket di tubuh.
3224Please respect copyright.PENANAp5YpURyCYe
3224Please respect copyright.PENANAj1feMbxLvs
3224Please respect copyright.PENANA3QwE0YEIQd
“Mas sudah pulang? Tunggu ya, aku siapin makan dulu,” katanya sambil tersenyum tipis.
3224Please respect copyright.PENANAyRfZIeKDN7
3224Please respect copyright.PENANAVBEIeXEMrx
3224Please respect copyright.PENANAyCogzwaEZl
Kami duduk di meja makan. Qila menyendokkan nasi dan lauk ke piringku. Aku mencuri pandang ke dadanya yang naik-turun pelan, bra hitam samar terlihat karena kaos basah keringat. Paha putihnya yang terbuka di bawah meja membuatku ingin meraba, tapi aku tahan.
3224Please respect copyright.PENANAoGgkRkbsuN
3224Please respect copyright.PENANAuOUa9zznR7
3224Please respect copyright.PENANA5R7BTYltcR
Baru beberapa suap, Qila mulai bercerita seperti biasa.
3224Please respect copyright.PENANASyJNp2xqvp
3224Please respect copyright.PENANAdd10Pg0QeS
3224Please respect copyright.PENANAB3xtdmKaha
“Hari ini depot rame banget, Mas. Pagi-pagi sudah ada order 40 galon buat kos-kosan baru. Genjor sama Bang Wesno yang kerja keras. Genjor itu... ya ampun, tadi dia kepleset waktu angkat galon yang baru diisi air. Basah kuyup dari atas sampai bawah, Mas. Kaosnya nempel banget di badan, sampe perutnya yang rata kelihatan. Celananya juga basah, bentuknya... agak keliatan gitu.”
3224Please respect copyright.PENANA0iiHDc63iF
3224Please respect copyright.PENANA0zKMchL5Zr
3224Please respect copyright.PENANA2TfcZoPXVV
Qila tertawa kecil sambil mengaduk sambal. Matanya berbinar mengingat kejadian itu. Aku mengunyah lebih pelan, dada terasa panas.
3224Please respect copyright.PENANA61V8Pe8LM3
3224Please respect copyright.PENANAa2XWbwjuYY
3224Please respect copyright.PENANAo9bMeyQlhw
“Terus aku kasih dia handuk kecil buat lap. Dia lap badannya di depanku, Mas. Badannya kurus tapi ototnya kelihatan jelas. Lucu deh liat dia malu-malu sambil lap.”
3224Please respect copyright.PENANAEnNUlBhl2b
3224Please respect copyright.PENANAxCb8tWfnf6
3224Please respect copyright.PENANAihLaqHHqz5
Aku merasa ada yang bergerak di selangkangan. Kontolku perlahan mengeras sedikit. Bukan karena Genjor, tapi karena cara Qila menceritakannya — suaranya santai, tapi ada nada yang agak hidup, agak... sensual.
3224Please respect copyright.PENANAfA91x9goTe
3224Please respect copyright.PENANAhIxRkj8gEM
3224Please respect copyright.PENANAKl1Uy5lcES
“Bang Dayat juga bantu banyak hari ini,” lanjut Qila sambil menyuap nasi. “Dia angkat galon ke belakang rumah. Katanya biar aku nggak capek bolak-balik. Trus kita ngobrol lagi soal istrinya. Dia cerita kadang malam-malam susah tidur, badannya panas sendiri. Kasian ya, Mas... umurnya 40 tapi sudah sendirian lama.”
3224Please respect copyright.PENANAcWIQhlOntg
3224Please respect copyright.PENANA5JBQfk0zIZ
3224Please respect copyright.PENANAIfub7L4fuz
Nada Qila menjadi lebih lembut saat bicara tentang Bang Dayat. Aku membayangkan Bang Dayat yang gemuk, perutnya agak buncit, mukanya jelek, berdiri dekat Qila di belakang rumah yang agak sepi. Mungkin dekat-dekat, mungkin napasnya yang berat terasa.
3224Please respect copyright.PENANA1XdXsQl40B
3224Please respect copyright.PENANAapCwwHdox1
3224Please respect copyright.PENANAFAupo2B4TZ
“Dia bilang apa lagi?” tanyaku, suaraku agak serak.
3224Please respect copyright.PENANAcUtYrnPUbj
3224Please respect copyright.PENANASu6pVYlwHy
3224Please respect copyright.PENANAdZje9KOXzh
Qila mengangkat bahu. “Biasa aja. Curhat soal kesepian. Aku cuma dengerin. Tapi ya... cowok lama nggak ngapa-ngapain pasti susah juga.”
3224Please respect copyright.PENANAPnFsiLDjiZ
3224Please respect copyright.PENANAWEL8sn6SlT
3224Please respect copyright.PENANABAbQ8uVs2J
Dia tersenyum tipis lagi. Senyum yang sama seperti yang aku lihat tadi sore di depot.
3224Please respect copyright.PENANAMgHwe5iM5O
3224Please respect copyright.PENANAMCJMB8UMuX
3224Please respect copyright.PENANASAQMr9k5KB
Kami makan dalam diam sebentar. Aku mencuri pandang ke wajah Qila. Bibirnya agak basah karena sambal, kulit lehernya masih ada bekas keringat. Tubuhnya yang hangat setelah seharian kerja di depot, dikelilingi Genjor yang muda kuat, Bang Dayat yang kesepian, dan Bang Wesno.
3224Please respect copyright.PENANAIuj8fhGi9p
3224Please respect copyright.PENANAydTxUIUGhY
3224Please respect copyright.PENANA06CfTeMs86
Ada rasa panas dingin di dada aku. Cemburu yang tipis, tapi juga ada sensasi aneh yang nikmat. Aku nggak mau mengakuinya, tapi cerita Qila hari ini lebih detail dari kemarin. Lebih hidup.
3224Please respect copyright.PENANAJdSvfOD3qD
3224Please respect copyright.PENANAXszG5SlLue
3224Please respect copyright.PENANAtupjuR74vv
“Untung ada mereka ya,” kataku pelan, mencoba terdengar biasa.
3224Please respect copyright.PENANASfImxZGH35
3224Please respect copyright.PENANAnc4rUrxt5u
3224Please respect copyright.PENANAot9Bu8N1mo
Qila mengangguk. “Iya. Kalau nggak, aku pasti capek banget. Genjor rajin, Bang Dayat juga suka bantu di belakang.”
3224Please respect copyright.PENANAAl404OmeZp
3224Please respect copyright.PENANA46m0c2yuhA
3224Please respect copyright.PENANAQSDhTqeD8W
Dia bilang “di belakang” dengan nada biasa, tapi di telingaku terdengar agak berbeda. Belakang rumah yang agak tersembunyi, tempat yang jarang aku datangi.
3224Please respect copyright.PENANAxzhdNzmVqR
3224Please respect copyright.PENANAnM6eFofHq3
3224Please respect copyright.PENANA53vtMFHQOy
Makan malam berlanjut, tapi pikiranku sudah nggak tenang. Dada panas, selangkangan berdenyut pelan, dan ada pertanyaan kecil yang mulai muncul di kepala.
3224Please respect copyright.PENANAES1Bmg0aIb
3224Please respect copyright.PENANAWySHewFb6X
3224Please respect copyright.PENANAc4Gg0GNZsR
Ini cuma cerita biasa... kan?
3224Please respect copyright.PENANAwZzM90r4Rh
3224Please respect copyright.PENANA6fe43YcWuO
3224Please respect copyright.PENANA8u2Tcu34i1
Setelah makan malam selesai, Qila membereskan piring tanpa banyak bicara. Aku duduk di sofa ruang tengah, menyalakan TV yang menayangkan sinetron malam. Suara televisi mengisi keheningan rumah, tapi pikiranku masih terjebak pada kata-kata Qila tadi — “suka bantu di belakang”.
3224Please respect copyright.PENANAYlnyQieA3Y
3224Please respect copyright.PENANAXuoVftmpAP
3224Please respect copyright.PENANAyDdO38bDzy
Qila keluar dari dapur, sudah ganti kaos longgar berwarna krem yang tipis. Bra-nya tidak dipakai, sehingga bentuk payudaranya samar terlihat setiap kali dia bergerak. Dia duduk di sebelahku, tapi agak menjauh di ujung sofa, kakinya dilipat santai. Paha putihnya yang halus terpapar di bawah cahaya lampu ruang tamu.
3224Please respect copyright.PENANAlrstoVUZQA
3224Please respect copyright.PENANAf0vxHnqQVk
3224Please respect copyright.PENANAB24wSvfDSF
Aku mendekat, tanganku menyentuh paha bagian atasnya pelan, mengusap naik-turun dengan lembut. Kulitnya masih hangat setelah seharian bekerja. Qila melirik sekilas, tapi matanya kembali ke layar TV.
3224Please respect copyright.PENANALrZpPkcSVl
3224Please respect copyright.PENANA83MTuS4SPc
3224Please respect copyright.PENANA8nok3hzNA6
“Kamu capek banget ya hari ini?” tanyaku sambil terus mengusap pahanya, jemariku sesekali menyelinap ke bagian dalam yang lebih sensitif.
3224Please respect copyright.PENANANUiFvhWA1Q
3224Please respect copyright.PENANAvGQFYqxOzr
3224Please respect copyright.PENANAfROJgHjTYm
“Capek,” jawabnya pendek. Nada suaranya datar. Dia menggeser tubuh sedikit, tapi bukan mendekat — malah seperti menjauhkan pahanya pelan.
3224Please respect copyright.PENANAast8g18uxH
3224Please respect copyright.PENANAmyBBgmRpsB
3224Please respect copyright.PENANAZ2SwciJ9lJ
Di TV, adegan romantis sedang berlangsung, tapi Qila malah membuka HP-nya. Layar ponsel menyala terang, jarinya menggeser chat dengan cepat. Aku sempat melihat nama “Genjor” di daftar chat sebelum dia memiringkan layar.
3224Please respect copyright.PENANAaLcQaV4rVL
3224Please respect copyright.PENANAmnvKfHplxi
3224Please respect copyright.PENANAZqRCm8uQAC
“Ngobrol apa sama Genjor?” tanyaku santai, meski dada mulai terasa sesak.
3224Please respect copyright.PENANAEOurc0i1nu
3224Please respect copyright.PENANAyttZ3TQC2Q
3224Please respect copyright.PENANASGSEGdMdFT
“Cuma soal order besok pagi,” jawab Qila tanpa mengangkat wajah. Dia tersenyum kecil sendiri saat membaca sesuatu di HP, bibirnya melengkung tipis. Senyum yang jarang aku lihat kalau lagi bersamaku akhir-akhir ini.
3224Please respect copyright.PENANA6u9zRLqpdY
3224Please respect copyright.PENANA4cByA8jt6E
3224Please respect copyright.PENANAeyAFUVJzBo
Aku mencoba lagi, tanganku naik ke pinggangnya, merangkul dari samping dan menarik tubuhnya mendekat. Aroma sabun mandi bercampur keringat samar masih menempel di lehernya. Payudaranya yang bebas bra menyentuh lengan bawahku, kenyal dan hangat.
3224Please respect copyright.PENANAvO5bG7uRvB
3224Please respect copyright.PENANA5mG7y4ORkM
3224Please respect copyright.PENANAZVEjkZon6E
“Mas... aku lagi liat chat kerja,” katanya sambil menghela napas pelan. Bukan marah, tapi jelas ada nada kesal yang tersembunyi. Dia manyun tipis, alisnya sedikit berkerut.
3224Please respect copyright.PENANAZkWNmHUGIK
3224Please respect copyright.PENANAtwL06u6h3e
3224Please respect copyright.PENANA4914kgEYP7
Aku menarik tangan, pura-pura fokus ke TV. Tapi dalam hati, ada gelombang kecil yang naik. Kenapa dia lebih sibuk dengan HP daripada aku? Kenapa senyumnya muncul saat baca chat Genjor, tapi ke aku malah manyun?
3224Please respect copyright.PENANAYBb0bvp3SR
3224Please respect copyright.PENANAu8eGaM29pZ
3224Please respect copyright.PENANA2Ic0reSOq9
Kami masuk kamar jam setengah sepuluh. AC sudah dinyalakan, ruangan mulai dingin. Qila langsung naik ke kasur, memakai selimut sampai pinggang. Aku mandi cepat, lalu bergabung di sampingnya. Tubuhku masih agak basah, kontol sudah setengah keras sejak tadi di sofa.
3224Please respect copyright.PENANA3dFyoUKpb0
3224Please respect copyright.PENANAgNMutjJSrP
3224Please respect copyright.PENANA9cRRrgvM0R
Aku mendekat dari belakang, memeluknya erat. Tangan kananku merayap ke depan, meremas payudaranya pelan melalui kaos tipis. Putingnya bereaksi sedikit, mengeras di telapak tanganku. Aku cium tengkuknya, lidahku menjilat pelan kulit yang asin-manis.
3224Please respect copyright.PENANAIpuwxrjXuH
3224Please respect copyright.PENANAcZd4qZtsKI
3224Please respect copyright.PENANAppBGUBlMAs
“Qila... aku kangen,” bisikku di telinganya sambil menggesekkan kontol yang sudah mengeras ke bokongnya yang montok.
3224Please respect copyright.PENANAFLDXKQORE4
3224Please respect copyright.PENANAKSpr8y9NXx
3224Please respect copyright.PENANAlMUuyuXtLQ
Dia mendesah pelan, tapi bukan desahan nikmat. Lebih seperti pasrah. Tubuhnya diam saja saat tanganku turun ke celana pendeknya, meraba memek dari luar kain. Sudah agak lembab, tapi tidak banjir seperti dulu.
3224Please respect copyright.PENANAHbQYDmCnt1
3224Please respect copyright.PENANA1fcqoBUk1Y
3224Please respect copyright.PENANANpB1YnXnjB
Aku melepas celananya pelan, jemariku membuka bibir memeknya yang hangat. Aku gosok klitorisnya perlahan dengan ibu jari, berusaha membangkitkan gairahnya. Qila menggeliat sedikit, napasnya agak berubah, tapi kemudian dia memegang tanganku pelan.
3224Please respect copyright.PENANA1YNaQJ5xoF
3224Please respect copyright.PENANALsswG4wW8T
3224Please respect copyright.PENANAHGaLcJJxBF
“Mas... capek banget hari ini,” katanya pelan, suaranya lelah. “Banyak angkat-angkat galon, bolak-balik belakang rumah. Besok aja ya?”
3224Please respect copyright.PENANAwuHNV0NicD
3224Please respect copyright.PENANA1IFoTIwo8h
3224Please respect copyright.PENANAorVC5IK9Ix
Aku berhenti. Ada rasa kecewa yang menusuk. “Cuma sebentar kok... aku juga cepet.”
3224Please respect copyright.PENANAFVERLCVCdv
3224Please respect copyright.PENANAGAD7glVrWN
3224Please respect copyright.PENANANSrEyxJxcX
Qila membalik badan menghadapku. Wajahnya manyun jelas sekarang, bibirnya ditekan, mata agak menghindar. “Besok aja, Mas. Aku beneran capek. Genjor sama Bang Dayat juga bantu banyak hari ini, tapi tetap aja badanku pegel semua.”
3224Please respect copyright.PENANAHCczp8LVpa
3224Please respect copyright.PENANAQOb2mW0k4v
3224Please respect copyright.PENANAatfYIU7xI8
Lagi. Nama mereka muncul di saat seperti ini.
3224Please respect copyright.PENANAZdYhrLwIhQ
3224Please respect copyright.PENANATsoeJetg4u
3224Please respect copyright.PENANAT5KyDLiwKi
Aku mencoba mencium bibirnya, tapi dia hanya memberi kecupan singkat sebelum membalik badan lagi, membelakangiku. Bokongnya yang montok menyentuh perutku, tapi jelas ada jarak emosional yang lebar.
3224Please respect copyright.PENANAuWco1NAZLR
3224Please respect copyright.PENANAjVhNshn9IJ
3224Please respect copyright.PENANAvtoBh0qWA6
Aku menghela napas panjang. Nafsu masih ada, tapi aku menahannya. Kontolku perlahan melunak, meninggalkan rasa tidak nyaman di selangkangan. Aku memeluknya dari belakang, tapi tanganku tidak berani meraba lagi.
3224Please respect copyright.PENANACoNrcUH9aO
3224Please respect copyright.PENANAFf6lIs3ZRa
3224Please respect copyright.PENANA8vtC7uBQMR
“Ya sudah,” kataku pelan, mencoba menyembunyikan kekecewaan.
3224Please respect copyright.PENANAu3Ntj4fzxb
3224Please respect copyright.PENANAJG9jIPVjJQ
3224Please respect copyright.PENANAGsGll8UeMN
Qila tidak menjawab. Hanya tarikan selimut lebih tinggi, seolah ingin segera tidur.
3224Please respect copyright.PENANAvmJ3DtAAtL
3224Please respect copyright.PENANAcUqlLTvDhn
3224Please respect copyright.PENANAhVkmsCB6X1
Malam semakin larut. Qila sudah tidur pulas, napasnya teratur. Aku terbaring telentang, mata terbuka menatap langit-langit kamar yang gelap. Cahaya samar dari luar masuk lewat celah gorden, menerangi sedikit bentuk tubuh Qila di sampingku.
3224Please respect copyright.PENANAwpunurzZB6
3224Please respect copyright.PENANAKsQndyrgBF
3224Please respect copyright.PENANA7NzkGFgoWh
Pikiranku berputar-putar. Cerita hari ini lebih panjang, lebih detail dari biasanya. Cara Qila menggambarkan Genjor yang basah kuyup, bajunya menempel, ototnya kelihatan. Cara dia tersenyum saat cerita tentang Bang Dayat yang curhat kesepian di belakang rumah. Senyum kecilnya saat membaca chat di HP. Sikap manyun-nya saat aku disentuh.
3224Please respect copyright.PENANAh8DixRTeRI
3224Please respect copyright.PENANAANJf4oOrR7
3224Please respect copyright.PENANAyu4ve0ar2q
Kenapa aku tidak marah? Harusnya aku larang dia terlalu dekat dengan mereka. Tapi malah... ada rasa panas yang aneh di dada setiap kali dia cerita. Seperti ada sesuatu yang terlarang tapi menggoda. Aku membayangkan Genjor mengangkat galon di depan Qila, keringat mengalir di tubuhnya yang muda. Bang Dayat yang gemuk berdiri dekat, mungkin napasnya menyentuh leher Qila saat mengangkat barang.
3224Please respect copyright.PENANAcYFw7xpZj1
3224Please respect copyright.PENANARIqIdKWwFn
3224Please respect copyright.PENANA9Q3V7jknFY
Kontolku bergerak lagi pelan di balik celana pendek. Aku merasa jijik dengan diriku sendiri, tapi juga tidak bisa berhenti membayangkan.
3224Please respect copyright.PENANAVlaV0DVUqE
3224Please respect copyright.PENANAqTSakOsvK6
3224Please respect copyright.PENANA6kCEpy0pg5
Lima tahun pernikahan. Dulu Qila selalu agresif, suka naik ke atas, mendesah keras saat aku masuk. Sekarang? Dia semakin sering pasrah, semakin sering manyun, semakin sering bilang capek. Dan cerita tentang karyawan semakin sering muncul di malam hari.
3224Please respect copyright.PENANA9Ryu8lCokp
3224Please respect copyright.PENANAC4Zeju8KjZ
3224Please respect copyright.PENANARK4B6rGCk4
Aku menoleh ke Qila. Rambutnya acak-acakan di bantal, sedikit terbuka. Tubuh yang setiap hari berada di antara tiga pria di depot. Tubuh yang aku sendiri jarang puaskan.
3224Please respect copyright.PENANAnca5K25Bf6
3224Please respect copyright.PENANA2jgYNhI6dR
3224Please respect copyright.PENANA9cUJpib9PV
Aku *menghela napas*.
3224Please respect copyright.PENANAnbiBfIubZ6
3224Please respect copyright.PENANArsplRDI0bx
3224Please respect copyright.PENANAdidl63uLLd
“Mungkin ini cuma fase biasa,” kataku dalam hati. “Besok pastinya lebih enak.”
3224Please respect copyright.PENANAOQxDRl1v7M
3224Please respect copyright.PENANAbkmWBMD4Ur
3224Please respect copyright.PENANAJaAm1v6WmE
Tapi di dalam, ada suara kecil yang mulai berbisik:
3224Please respect copyright.PENANAm0KZMPCWoB
Apa benar hanya itu?
3224Please respect copyright.PENANAVgYoNNrYuq
3224Please respect copyright.PENANAxEQb8oAorc
3224Please respect copyright.PENANAiGykGTd6OB
Malam itu aku tidur dengan nyaman. Dada panas, pikiran penuh tanda tanya, dan sensasi aneh yang pelan-pelan semakin kuat.3224Please respect copyright.PENANAuFW5p3Tcwz


