Reflek aku mencabut kontolku dari memek Nyai Jamilah, aku bergerak cepat menghampiri semak semak di pinggir gubuk. Aneh, tidak ada tanda tanda kehadiran orang lain. Penasaran. Aku mencari jejak keberadaan orang itu di dalam semak semak yang sebagian rebah tertimpa dahan pohon kering yang cukup besar, ternyata inilah asal suara yang mengagetkanku, ujung dahannya menimpa atap gubuk.
"Zaka...!" seru Nyai Jamilah pelan memanggilku.
"Nggak ada siapa siapa Nyai, ternyata dahan kering yang jatuh." jawabku menarik nafas lega, rasa kaget membuat kontolku agak layu.
"Alhamdulillah..!" seru Nyai Jamilah dan Nabila berbarengan.
"Kirain aku ada apa." kataku menghampiri Nyai Jamilah, wajahnya masih terlihat pucat, begitu pula dengan Nabila. Pakaian mereka sudah terlihat rapi.
"Mau dilanjut nggak. nyai?" tanyaku yang kembali terangsang melihat kecantikan alami Nyai Jamilah, kontolku yang mulai layu dalam sekejap kembali mengeras.
"Lain kali saja Zak, aku masih terkejut." jawab Nyai Jamilah berusaha menghindari ciumanku yang sangat bernafsu.
"Aku belum keluar, Nyai." jawabku tidak peduli dengan penolakan Nyai Jamilah, aku mendorongnya rebah ke bale bale bambu, dengan sigap aku menyibakkan rok lebarnya sebelum Nyai Jamilah siap.
"Sudah Zak, nanti ada orang..!" Nyai Jamilah mengangkat pinggulnya saat aku menarik celana dalamnya lepas.
"Katanya sudah..!" godaku melihat tidak ada penolakan sedikitpun dari Nyai Jamilah yang melebarkan pahanya setelah celana dalamnya terlepas. Aku meraba memek Nyai Jamilah, menggoda birahinya yang kembali terusik.
"Iya Zak, lain kali saja ya..!" jawab Nyai Jamilah memegang pergelangan tanganku yang sedang mengobel memeknya. Matanya menatapku sayu.
"Mau di kobel pake jari, apa ditusuk kontol.?" tanyaku semakin menggodanya, jari telunjukku bergerak memutar di dalam memeknya yang sangat basah.
"Kontollll...!" seru Nyai Jamilah lirih.
"Katanya takut ada orang,." jawabku menggoda Nyai Jamilah yang semakin terangsang.
"Buruan Zak...!" jawab Nyai Jamilah lirih, birahi sudah menguasai jiwanya yang selama ini berusaha dijaganya.
"Iya Mas, buruan." kata Nabila membatu Nyai Jamilah, menyuruhku segera menuntaskan semuanya selagi sempat.
Tanpa memperdulikan kekhawatiran Nyai Jamilah dan Nabila, aku berjongkok dan membenamkan memekku di selangkangan Nyai Jamilah, aku menikmati cairan lendir memeknya yang sangat menggoda.
[IMG]
"Zakaaa ampunnn memekku ennnak banget...!" teriak Nyai Jamilah tidak bisa lagi menahan suaranya agar tidak melengking tinggi saat lidahku bergerak liar mempermainkan itilnya. Aku benar benar ingin selama mungkin menikmati memek Nyai Jamilah selagi bisa, kapan lagi aku bisa menikmati memek wanita alami. Kesempatan yang harus aku manfaatkan sebaik mungkin.
"Nyai, jangan berisik, nanti ada yang mendengar." kata Nabila khawatir.
"Ennnnak banget, Billllllllaaaaa... Sudah Zakkkkka, entot aku pake kontol gedemu...!" rintih Nyai Jamilah yang terus bergerak menggeliat sehingga menyebabkan bale bale tempat kami ikut bergoyang dan berbunyi nyaring membuatku merasa sangat khawatir.
"Pelan pelan teriaknya nanti ada yang datang." kataku tidak bisa lagi mengabaikan rasa khawatirku.
"Makanya buruan kamu entot Nyai Jamilah biar cepat selesai." kata Nabila ketus. Wajahnya terlihat gelisah memperhatikan sekeliling kami yang setiap saat bisa didatangi orang.
Aku memposisikan diri di selangkangan Nyai Jamilah siap menunaikan tugas mulia idaman para pria. Memek Nyai Jamilah sudah basah, tanpa ragu kontolku menerobos memek Nyai Jamilah dengan cepat terhujam hingga dasarnya.
[IMG]
"Aduhhhh pelan pelan Zak. Kebiasaan kamu, kontol kamu itu gede..?" gerutu Nyai Jamilah mengusap memknya yang mungkin terasa ngilu.
"Maaf, Nyai..!" kataku sekedar basa basi, aku mulai memompa meemk Nyai Jamilah pelan agar dia tidak. Ngomel.
"Iyya Zakk, pelan pelan lebih kerasa.....?" kata Nyai Jamilah menikmati gerakan kontolku di dalam memeknya yang yang rapet.
"Uhh sssssssh, gila nich memek ennnnak banget....!" kataku memejamkan mata menikmati setiap gesekan yang akan membawaku ke surga.
Suara serangga sore semakin kencang berbunyi menjadi saksi bisu persetubuhan tabu kami, persetubuhan yang dilaknat oleh agama. Derit bale bale bambu mengimbangi bunyi serangga, saling bersahutan seperti sebuah irama musik yang janggal namun merdu.
"Awwwwww , kontol kamuuu gedddddde....terussss entot akuuuu...." kqta Nyai Jamilah belingsatan menerima sodokan demi sodokanku yang stabil.
"Buruan Nyai keluarin, sebentar lagi mau Maghrib." kata Nabila semakin gelisah.
"Sebentar lagiiji akku mau kellluar...!" kata Nyai Jamilah, dia terlalu asyik menikmati sodokanku dibandingkan berpikir matahari semakin tenggelam di ufuk barat.
Aku semakin mempercepat kocokan kontolku membuat tubuh Nyai Jamilah berguncang keras menerima sehingga bale bale bambu yang kokoh ikut terguncang. Memek Nyai sudah sangat licin dan basah sehingga aku tidak perlu khawatir Nyai Jamilah akan kesakitan menerima hujaman kontolku yang semakin cepat.
"Iyya terussss akkkku ngggak tahannnn...akkkku kelllluar....!" Nyai Jamilah berteriak sehingga membuat seekor belalang yang sedang hinggap di dinding terbang ketakutan, tapi bagiku suara jeritan Nyai Jamilah adalah senandung indah yang membuatku mencapai prgasme yang sempat tertunda.
"Akkku jugaaa kelllluar Nyaiiii...!" kontolku berkedut keras menembakkan pejuh yang teramat banyak ke dalam memek Nyai Jamilah yang terpejam menikmati orgasmenya.
"Jangan dicabut dulu, Zak....!" kata Nyai Jamilah menahan pinggangku saat aku akan mencabut kontolku dari memeknya.
"Iya, Nyai...!" jawabku memeluk Nyai Jamilah dan melumat bibirnya yang sensual.
"Mas, kamu ngecrot di memek Nyai? Nanti kalau Nyai hamil bagaimana?" tanya Nabila takjub melihatku orgasme di dalam memek Nyai Jamilah.
"Emang pamanmu tidak pernah ngecrot di memk kamu?" tanyaku menggoda Nabila, aku meremas payudara Nabila yang mendekat ke arah kami yang sedang berpelukan.
"Nggak pernah, Nyai nggak takut hamil?" tanya Nabila membiarkan tanganku meremas payudaranya yang cukup besar.
"Nggak apa apa aku hamil, kan aku punya suami." jawab Nyai Jamilah tertawa kecil, apa penglihatanku salah melihat rona bahagia di wajah Nyai Jamilah.
"Nyai,pulang yuk...!" ajak Nabila menyadarkanku, mereka harus segera pulang ke pondok. Tanpa meminta ijin aku mencabut kontolku dari memek Nyai Jamilah.
"Ochhhhh Zak, ennak...!" rintih Nyai Jamilah saat kontolku keluar dari memeknya. Matanya menatapku sayu, bibirnya tersenyum tipis menggambarkan apa yg sedang dirasakannya.
"Iya, yuk kita pulang...!" jawab Nyai Jamilah buru buru memakai celana dalamnya, tanpa mencuci memeknya yang banjir oleh pejuhku.
"Nyai, nggak cebok dulu?" tanya Nabila heran karena melihat pejuhku jatuh dari memk Nyai Jamilah menodai celana dalamnya.
"Nggak usah, Zak, kami pulang duluan biar tidak ada yang curiga. Kamu nanti saja setelah kami sampai rumah." kata Nyai Jamilah menuntun tangan Nabila meninggalkanku di gubuk sendirian.
"Iya Nyai, hati hati." jawabku sekedar berbasa basi.
Aku menatap kepergian mereka dengan berbagai macam pikiran yang berkecamuk, di tempat seperti ini aku masih bisa menikmati jepitan memek wanita cantik secara cuma cuma, keberuntungan yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.
Sepeninggal Nyai Jamilah dan Nabila, aku merebahkan tubuhku yang lelah di atas bale bale sambil menikmati suara serangga sore yang berbunyi nyaring, hampir saja aku tertidur kalau saja tidak ada suara ranting patah yang terinjak seseorang.
"Siapa itu?" tanyaku waspada, aku yakin ada orang lain di tempat ini.
"Aku, Mas...!" jawaban seorang wanita yang tiba tiba sudah berada di hadapanku.
"Siapa kamj?" tanyaku heran melihat seorang wanita cantik berdiri di hadapanku, pakaiannya layaknya para santriwati. Tapi sepertinya aku masih terasa asing dengan wajah wanita yang berdiri di hadapanku ini.
"Sisiapa, kamu?" tanyaku heran, apa dia melihat perbuatanku dengan Nyai Jamilah dan Nabila?
"Masnya sombing, masa lupa sama Surti, kita pernah ketemu di hutan." kata wanita itu genit, berlenggak lenggok menggodaku. Wanita yang agresif.
"Surti, di hutan?" gumamku teringat dengan seorang wanita pencari kayu bakar, aku memandangnya tidak percaya, apa benar ini Surti? Cantik, berbeda jauh dengan penampilannya yang lusuh saat sedang mencari kayu bakar.
"Kamu cantik sekali, beda saat mencari kayu bakar." kataku takjub.
"Ich. Mas bisa saja. Mas juga ganteng." jawab Surti duduk di sampingku tanpa kupersilahkan.
"Kamu ngapain di sini? Nggak takut ada yang merkosa? Tanyaku heran. Sebenarnya aku ingin bertanya, apa dia melihat perbuatanku dengan Nyai Jamilah dan Nabila tadi. Tapi aku tidak berani menanyakannya.
"Mau banget kaalu kamu yang merkosa, Nyai Jamilah saja sampai teriak teriak keenakan begitu." jawab Surti tidak membuatku terkejut, aku sudah menduganya.
"Kamu lihat?" tanyaku berpikir bagaimana caranya menyumpal mulut Surti biar tidak bocor.
"Iya... Jadi pengen ngerasain kontol kamu..!" jawab Surti tanpa tedeng aling aling, ternyata benar percakapannya di hutan, wanita ini hiper dan bisa dengan mudah diajak selingkuh.
"Nggak ah, kamu sudah punya suami." jawabku berusaha acuh, aku harus berhati hati dengan wanita seperti ini. Dia akan dengan mudah menghianatiku, kesetiaannya tidak bisa diandalkan.
"Beneran nggak mau nyobain memek, Surti?" kata Surti berdiri dihadapanku mengangkat roknya ke atas perut sehingga aku bisa melihat celana dalamnya yang putih dan pahanya yang gempal walau kulitnya sawo matang, namun tidak mengurangi pesonanya.
"Nggak...!" jawabku berusaha menyembunyikan gairahku yang kembali bangkit melihat memk Surti yang bisa kunikmati seacra cuma cuma.
"Ya sudah, jangan salahkan aku kalau berita kalian berbuat mesum tersebar di desa." jawab Surti ketus, dia kembali menurunkan roknya dan berjalan meninggalkanku.
Aku berusaha menahan diri untuk tidak mencegah Surti pergi, wanita ini bisa sangat berbahaya. Mengikuti kemauannya begitu saja hanya akan membuat posisiku semakin sulit, menolaknya pun bukanlah pilihan karena rahasia persetubuhanku dengan Nyai Jamilah dan Nabila akan tersebar luas.
"Aku nggak mau ngentot kamu di sini, nggak bebas. Aku mau ngentotin kamu semalaman dengan bebas tanpa takut ketahuan orang lain." jawabku menghentikan langkah Surti.
"Maksud kamu?" tanya Surti kembali menghampiriku.
"Kita nyari penginapan di kota, biar aku bebas menikmati tubuh indah kamu, biar semalaman aku menikmati memek kamu." jawabku meremas payudara Surti untuk memastikan ukurannya.
"Ich, kamu genit... Hihihi..!" kata Surti tertawa membiarkanku meremas payudaranya yang sekal. Keras, mungkin karena terbiasa bekerja membuat payudara Surti tetap kenyal bahkan mengalahkan kekenyalan payudara Dewi.
"Mau nggak?" tanyaku semakin keras meremas payudaranya sementara tanganku yang lain menyentuh memeknya yang tersembunyi di balik rok dan celana dalamnya. Memeknya sudah sangat basah, mungkin karena terangsang melihatku ngentot dengan Nyai Jamilah dan Nabila.
"Aku nggak punya uang buat nyewa penginapan, gimana kalau kita ke gubuk di tengah hutan?" tanya Surti, matanya setengah terpejam menikmati remasan pada payudaranya. "Mau yak kita ngentot di gubuk, lebih aman dan nggak usah bayar penginapan." bujuk Surti.
"Aku yang bayar, semuanya aku yang nanggung, pulangnya aku kasih kamu uang, mau nggak?" kataku sambil terus mengorek ngorek memeknya yang semakin basah oleh lendir birahi membuat Surti menggelinjang nikmat.
"Ohhhh, sekarang saja, aku sudah nggak tahan nih...!" jawab Surti mendesis lirih saat jemariku semakin liar mengorek memeknya, mencari bulatan yang berada di dalamnya, konon bulatan di dalam memek bisa membuat wanita mengalami multi orgasme hingga terkencing kencing.
"Nanti, besok kita ketemuan di kota. Kita nginep, ya." kataku melepaskan memek dan payudaranya. Kemauan Surti harus aku tunda, ini cara untuk menaklukannya sehingga rahasiaku bisa aman. Lagi pula aku harus ke kota untuk mengetahui kabar dari Dewi, apakah aku masih tetap menjadi DPO atau dianggap sudah mati.
"Kenapa nggak sekarang?" tanya Surti kecewa dengan keputusanku.
"Karena kalau sekarang, aku harus ngaji. Lagi pula ada syaratnya kalau kamu mau ngerasain enaknya kontolku yang besar. jawabku sambil memperlihatkan kontolku yang sudah ngceng sempurna.
"Gila, ini kontol apa pentungan hansip, bisa klenger aku dientot kontol segede ini." kata Surti. Aku menepiskan tangan Surti yang akan memegang kontolku.
"Nanti dulu, kamu nggak boleh cerita apa yang kulakukan dengan Nyai Jamilah." jawabku sengaja mengulur waktu.
"Iya, aku janji asal kamu mau ngentotin aku sampai puas." jawab Surti kembali mau menyentuh kontolku, kali ini aku biarkan saja. Anggap saja ini sebagai panjer.
"Besok kita ketemuan di kota, ingat mulutmu jangan ember." kataku menepiskan tangan Surti yang sedang memegang kontolku.
"Aku mau sekarang." jawab Surti berjongkok di hadapanku dan tanpa meminta izin dia mencaplok kontolku dengan bernafsu. Gial, dia mau memperkosaoku.
"Aku bilang besok, jangan sekarang." kataku mendesah nikmat. Aku berusaha mengendalikan diri agar tidak terbuai oleh kenikmatan yang ditawarkan Surti. Kalau sampai aku tidak bisa memuaskan Surti malam ini, rahasia perbuatanku dengan Nyai Jamilah dan Nabila akan tersebar luas. Beda masalahnya kalau kami melakukannya besok, aku bisa mekonsumsi obat kuat kalau keadaan mendesak.
Tapi Surti tidak peduli dengan protesku, dia terus mengulum kontolku dengan bernafsu. Dia sudah sangat ahli menyepong sehingga giginya tidak menyentuh kontolku.
"Sur.... Sudah jangan begini." kataku berusaha mencegah Surti memperkosa kontolku. Surti justru semakin bernafsu mengulum kontolku membuatku merinding menikmatinya. Kemampuan Surti menyepong kontol sama dengan kemampuan Dewi.
Aku menyerah, membiarkan Surti terus memanjakan kontolku, samar samar aku mendengar suara Adzan Maghrib dari masjid. Suara Adzan membuat Surti semakin kesetanan menyepong kontolku hingga akhirnya aku tidak mampu bertahan lebih lama.
"Sur....akkku kelllluar...!" kataku memegang kepala Surti saat kontolku menembakkan pejuh ke dalam mulutnya. Gila, Surti malah menghisap kontolku seakan ingin menguras pejuhku hingga tidak ada yang tersisa.
"Surti, kamu sudah datang belum?" tanya sebuah suara yang sangat aku kenal. Suara Rahmat, rupanya Surti memang sudah janji bertemu di sini.
ns216.73.216.204da2


