Aku berjalan meninggalkan tempat yang tidak akan pernah kulapakan seumur hidup. Tempat di mana aku bisa menikmati memek Nyai Jamilah, tanganku meraba tonjolan lipatan kain sarun di mana di dalamnya tersembunyi CD Nyai Jamilah yang akan kusimpan sebagai kenang kenangan.
Sampai di tikungan dekat kamar mandi, aku melihat bayangan yang sedang mengendap endap seperti mengikutiku. Kewaspadaanku langsung meningkat, apa orang ini melihat apa yang kulakukan dengan Nyai Jamilah? Kalau benar, artinya sangat berbahaya. Masa depanku di sini dan nama baik Nyai Jamilah dalam sekejap akan hancur.
"Mas Zaka..!" kata bayangan yang mengendap endap itu memanggilku pelan, nyaris berbisik.
"Kamu Rahmat?" tanyaku heran karena mengenali suaranya yang khas.
"Jangan berisik, sini!" kata orang itu melambaikan tangannya dari balik pohon agar tidak terlihat orang lain.
Mencurigakan, apa yang sedang dilakukan Rahmat, apa dia melihat apa yang sudah kulakukan dengan Nyai Jamilah? Sungguh sangat berbahaya, aku segera menghampirinya setelah melihat sekelilingku aman dan tidak ada orang yang melihat.
"Ada apa, Mat?" tanyaku berbisik, ikut berjongkok di sampingnya. Jantungku berdegup kencang, menunggu apa yang akan dikatakannya.
"Mau ngintip Nur mandi, nggak?" tanya Rahmat membuatku hampir tidak bisa menahan tawa, kecurigaanku ternyata salah. Dasar otak mesum, membuat jantungku hampir copot.
==============
"Mas, ternyata kamu pinter mijit. Kakiku sudah tidak sesakit kemarin." kata Farhan sambil menggerak gerakkan kakinya yang baru saja selesai aku pijit walau pada awalnya aku ragu untuk memijat kakinya karena merasa aku tidak mempunyai kemampuan memijat, tali Farhan tetap memaksa karena melihatku menyembuhkan kaki Nabila yang terkilir waktu di hutan.
"Alhamdulillah, ya sudah aku mau mencari kayu bakar dulu.,
" kataku tidak menunggu jawaban Farhan, aku keluar kamar. Di depan kamar aku melihat Rahmat berlari lari kecil menghampiriku dengan memakai celana trening yang kumal dan kaos yang juga sudah kumal, di pinggangnya terswlip golok.
"Mas, aku bantu nyari kayu bakar, ya!" kata Rahmat memandangku penuh harap, tangannya memegang gagang goloknya.
"Ini hukumanku." jawabku berpura pura menolak kebaikannya. Siapa juga yang akan menolak bantuan Rahmat, dia sudah terbiasa mencari kayu bakar dibandingkan aku. Dengan bantuannya akan meringankan bebanku, beban yang terasa berat.
"Nggak apa apa, Mas. Biasanya aku dan Farhan yang mencari kayu bakar biar bisa makan gratis, jadi bekal dari orang tua bisa kami gunakan untuk kebutuhan lain." kata Rahmat memaksa.
"Och, tapi kalau ada yang tahu aku dibantu kamu bagaimana?" tanyaku segan, aku tidak mau berbuat kesalahan lagi karena tidak menjalani hukumanku. Urusannya akan semakin panjang, sepertinya Kyai Amir orang yang tegas dan tidak segan menjatuhkan hukuman untuk membuat para santri jera.
"Aku sudah minta ijin Mas Ahmad, dia ngasih ijin." jawab Rahmat membuatku lega karrna mendapatkan bantuan yang sangat berharga. Ahmad, dia juga memegang peranan penting di pesantren ini, sama pentingnya dengan Kyai Ahmad bahkan bisa dikatakan tangan kanan Kyai Amir.
Aku berjalan mengikuti Rahmat, tidak seperti kemarin aku mencari kayu bakar di kebun mangga sehingga kayu bakar yang kudapatkan sangat sedikit karena mengandalkan ranting kering dan pelepah pohon kelapa yang harus dibelah kecil kecil dan tidak bisa langsung dipakai karena harus dijemur lebih dahulu agar benar benar kering. Proses penjemuran agar benar benar kering juga cukup lama, bisa berhari hari tergantung cuaca.
"Kita mencari kayu bakar di mana, Mat?" tanyaku setelah berjalan memasuki hutan dan tidak ada tanda tanda Rahmat berhenti, padahal di kiri kanan kami banyak pohon yang dahannya bisa kami tebang dan dijadikan kayu bakar
"Kita ke gubuk yang kemarin Mas berteduh." jawab Rahmat membuatku merasa heran, kenapa harus ke tempat itu. Apa du sana banyak dahan dan ranting kering yang bisa kami jadikan kayu bakar
"Emang di sana banyak kayu bakarnya?" tanyaku penasaran. Aku percaya, Rahmat pasti tahu di mana ada banyak kayu bakar yang bisa kami bawa pulang.
Rahmat tidak menjawab, di berjalan dengan lincah di jalan setapak yang basah oleh sisa sisa hujan tadi malam. Aku yang tidak terbiasa, berkali kali menginjak tempat yang salah sehingga kakiku menjadi kotor tidak karuan.
"Sst..!" Rahmat menempelkan jari telunjuknya di bibir, memberiku isyarat. Perlahan Rahmat berjalan dengan tubuh agak membungkuk, mengendap endap bagaikan maling. Perbuatan yang terpaksa aku tiru untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Sur, kamu sudah dengar cerita Santri Mbah Kholil yang cantik berduan di gubuk ini, belum?" tanya seorang wanita membuatku berdebar, pasti yang mereka maksud adalah aku, Shinta dan Nabila.
Kami semakin mendekati gubuk, Rahmat mengajakku berjalan melingkar menerobos semak semak agar tidak diketahui orang yang sedang mengobrol di gubuk. Persis seperti dalam film film perang saat akan menyergap musuh, aku harus berjuang keras mengikuti Rahmat, terlebih aku harus menjaga gerakkanku agar tidak menginjak tempat yang salah, bagaimana kalau aku menginjak ular? Bulu kudukku berdiri, aku pasti mati konyol kalau sampai digigit ular.
"Sudah, Mbok. Masa aku ndak dengar berita hangat ini, satriwati itu namanya Shinta dan Nabila, sedangkan satri cowoknya baru datang beberapa hari di sini. Katanya sich masih kerabatnya, Nyai Jamilah dari Bogor, ganteng. Kok bisa ya, santri berbuat mesum di tempat ini, kasian orang tua yang sudah bersusah payah membiayai mereka." jawab wanita yang lebih muda.
Mereka sedang membicarakanku, pasntas saja Shinta memaksaku bertanggung jawab, ternyata ini alasannya. Stigma dari masyarakat sangatlah kejam. Itu adalah momok paling menakutkan, apa pagi kalau sampai berita ini terdengar ke orang tuanya. Masyarakat tidak akan berusaha mencari kebenaran berita yang mereka dengar, karena mereka lebih suka melihat sisi negatif sebuah berita. Sisi negatif itulah yang akan beredar dan ditambahi dengan bumbu yang semakin mendramatisir situasi.
"Santriwati cantik kok kelakuannya seperti itu ya, Mbok, gatel. Kalau aku yang gatel wajar, suamiku pulangnya beberapa bulan sekali." kata Surti tertawa kecil membuatku sangat ingin melihat wajahnya. Tapi tangan Rahmat menahanku agar tetap diam. Benar, aku harus bersabar mendengar gosip murahan mereka agar aku semakin tahu dengan situasi di tempatku yang baru. Suatu saat pengetahuan ini akan bermanfaat buatku.
"Hus, kamu ini ngomong apa, Sur !" kata wanita yang dipanggil si Mbok.
"Iyalah Mbok, jenengan tahu sendiri Mas Parto pulangnya tiga bulan sekali, kadang lebih. Jadi mpempekku jarang dipake. Masa aku harus pake timun tiap malam, Mbok" kata Surti vulgar, membuatku semakin penasaran untuk melihat wajah ke dua wanita pencari kayu bakar yang sedang beristirahat di gubuk. Terlebih aku ingin tahu wajah Surti.
"Iya, bukan berarti kamu harus selingkuh dengan santri, siapa namanya selingkuhanmu itu?" tanya wanita yang dipanggil Mbok membuatku kaget, siapa Santri yang dimaksud. Aku melirik ke arah Rahmat yang pura pura melihat ke arah gubuk, kami hanya bisa melihat bagian belakang gubuk sehingga kami tidak bisa melihat ke dua wanita yang sedang mengobrol.
"Oalah Mbok, aku nggak selingkuh cuma berteman. Namanya Rahmat dan Farhan, nggak mungkin aku selingkuh dengan dua pria sekaligus." jawab Surti membuatku menatap wajah Rahmat, memastikan itu benar atau tidak. Rahmat tidak berani menatap wajahku sehingga aku mengambil kesimpulan, pasti ada rahasia diantara mereka dan apa yang dikatakan si Mbok itu benar.
"Aku tahu karena aku mengalami masa muda, buat apa kamu setiap kali ke sini menaruh beras, kopi dan ikan asin kalau tidak terjadi apa apa diantara kalian. Inikan gubuk yang mereka buat untuk menyimpan kayu bakar dan beristirahat mereka." kata si Mbok membuatku tahu kenapa ada beras, ikan asin dan kopi, ternyata itu semua dibawa oleh Surti.
"Sudah Mbok, kita pulang." ajak Surti merasa tidak mampu lagi mengelak dari tuduhan si Mbok.
"Kasian suami kamu banting tulang nyari uang, kamu malah selingkuh." kata si Mbok tidak mau mengakhiri percakapan mereka.
"Belum tentu juga Mas Parto ndak selingkuh, mana ada lelaki yang tahan ndak kentu. Apa lagi di kota, ceweknya cantik cantik, asal punya uang ya gampang. Mas Parto itu kalau ngasih uang ndak pernah banyak, sisanya pasti habis buat cewek kota." kata Surti membuatku menggelengkan kepala, ada wanita seperti itu di swbuah desa terpencil.
"Iya juga sich, dulu juga bapakmu begitu. Tapi kok bisa kamu selingkuh dengan dua santrj sekaligus?" tanya si Mbok yang menurut dugaanku adalah ibunya Surti, itu sebabnya dia berani mengakui perbuatannya.
"Kalau maen dengan dua cowok sekaligus lebih enak Mbok, satu metu, masih ada satu batang lagi. Jadi aku bisa puas." jawab Surti membuatku melotot ke arah Rahmat yang langsung batuk karena kaget dengan jawaban Surti.
"Siapa itu !" bentak Surti berlari ke arah kami dengan membawa sebuah parang yang digunakannya untuk mencari kayu bakar.
"Aku, Mbak..!" jawab Rahmat keluar dari tempat persembunyian kami, aku segera mengikutinya. Tidak ada gunanya bersembunyi, keberadaan kami sudah diketahui.
"Oalah Mas Rahmat, tak kira siapa yang ngintip." kata Surti tersenyum melihat kehadiran kami, rasa terkejutnha langsung sirna.
"Siapa Sur?" tanya si Mbok menghampiri kami. Bibirnya langsung tersenyum melihat Rahmat.
"Kamu ypch, Mat. Yuk Sur, kita pulang." kata Mbok mengajak Surti yang tersenyum genit ke arahku.
"Aku pamit dulu ya, Mas." kata Surti mengambil kayu bakar yang cukup banyak, dia berlalu menknggalkan kami mengikiti si Mbok yang sudah berjalan lebih dahulu.
Kami memandang kepergian dua wanita beda generasi menyusuri jalan setapak hingga akhirnya hilang di balik rimbunan pohon. Aku memandang Rahmat tidak percaya, ternyata bukan hanya aku santri yang pernah selingkuh dengan wanita desa tempat kami mondok.
"Jangan bilang bilang ya, Mas. Tolong, kami tidak mau meninggalkan pondok sebelum kami dinyatakan lulus." kata Rahmat dengan wajah memelas. Aku memandangnya, memasang wajah menyeramkan penuh ancaman. Mulai sekarang aku bisa mengendalikan Rahmat dan Farhan karena rahasia terbesar mereka ada di tanganku. Kedudukanku akan semakin kuat di pondok, akan ada dua orang yang bisa kusuruh sesuka hatiku.
===============
"Kita harus bicar, tidak bisa begini terus." kata Shinta melihat kedatanganku dengan seikat kayu bakar yang sudah kering.
"Ada apa lagi. Shin?" tanyaku heran saat meletakkan kayu bakar di samping tungku.
"Tadi aku dipanggil Kyai Amir dan Nyai Nur, mereka menyakan semua kronologi kenapa kita bisa tersesat di hutan." jawab Shinta menoleh ke arah pintu keluar untuk memaatikan tidak ada orang yang akan mendengar percakapan kami.
Celaka, kenapa urusannya menjadi panjang. Dari cerita Rahmat, selama masalah masih ditangani oleh Ahmad, kita tidak perlu khawatir karena ada rahasia Ahmad yang diketahui oleh Rahmat dan Farhan sehingga mereka bisa menanggulangi Ahmad. Tapi apa bila masalah ini sampai ke tangan Kyai Amir dan istrinya Nyai Nur, maka masalah sudah sangat genting. Tidak akan ada yang bisa menolong. Jangan harap Mbah Kholil yang sedang mabuk Tuhan akan menolong
"Kok bisa?" tanyaku gelisah, sepertinya aku harus meninggalkan pondok sebelum Kyai Amir mengetahuiku yang sebenarnya.
"Iya bisa, ceritanya sudah tersebar hingga ke penduduk desa. Hampir semua orang menggunjingkan kita." kata Shinta pelan, air mata membashi pipinya yang halus. Aku sudah menarik gadis cantik ini ke dalam masalah besar, lalu apa yang harus kulakukan atau lebih tepatnya, keputusan apa yang akan diambil oleh Kyai Amir dan Nyai Nur.
"Kamu menjawab apa?" tanyaku gelisah. Ternyata aku tudak bisa bersembunyi dengan tenang di tempat ini.
"Aku sudah menjelaskan semuanya dan Kyai Amir ingin bertemu kamu langsung." jawab Shinta gelisah.
"Kamu juga menceritakan apa yang sudah kulakukan kepadamu?" tanyaku kaget, kiamat kecil sudah berada di depan mataku sekarang.
"Gila apa aku cerita tentang hal itu." jawab Shinta bertepatan dengan kedatangan Ahmad.
"Ada apa, kenapa kalian ribut?" tanya Ahmad heran melihat kehadiranku.
"Nggak ada apa apa, Mas...!" jawabku bergegas meninggalkan dapur sebelum urusannya menjadi semakin panjang.
"Zaka, kamu dipanggil Kyai Amir." kata Ahmad menghentikan langkahku di ambang pintu.
"Sekarang Mas?" tanyaku gelisah. Aku merasa nasibku sedang diujung tanduk. Tidak ada lagi tempat aman untukku bersembunyi.
"Ya, sekarang." jawab Ahmad menatapku curiga, tatapannya terasa aneh.
Baru beberapa meter aku meninggalkan dapur, aku menoleh ke belakang. Aneh kenapa Ahmad tidak ke luar dari dapur, seharusnya dia tahu aturan di pomdok, satri pria tidak boleh berduan dengan satnri wanita. Perlahan aku kembali ke dapur untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, mungkin bermanfaat buatku. Aku ingin mendengar apa yang sedang mereka bicarakan di dapur.
"Sebenarnya, apa yang kalian lakukan di hutan?" tanya Ahmad pelan, sehingga aku harus menempelkan telingaku ke dinding kayu agar bisa mendengar jelas.
"Tidak ada apa apa." jawab Shinta, suaranya bergetar ketakutan.
"Jangan bohong, kamu. Pasti ada sesuatu yang sudah terjadi. Aku tadi sempat dengar." jawab Ahmad, nada suaranya mulai meninggi. Semoga Shinta tidak keceplosan mengatakan apa yang sudah kulakuka. Kataku berdoa di dalam hati, inilah harapan terakhirku. Berdoa setelah sekian tahun lupa.
"Zaka, apa yang kamu lakukan di situ? Tidak baik menguping pembicaraan orang." kata Mbah Kholil yang tiba tiba menepuk pundakku dari belakang membuat jantungku nyaris terlepas.
ns216.73.216.204da2


