Hahahaha, kamu kualat ke aku sampai kamu jatuh begitu." Nyai Jamilah tertawa keras membuatku khawatir akan ada yang mendengar dan melihat kami berduaan di tempat gelap.
"Ja jangan berisik Nyai, nanti ada yang dengar dan melihat kita." kataku panik mendengar Nyai Jamilah tertawa terpingkal pingkal.
"Nggak akan ada yang berani ke sini, semua santri sedang belajar. Cuma kamu yang berani ke sini, Resudivis yang menganggap pondok sebagai tempat persembunyian." jawab Nyai Jamilah mengulurkan tangan untuk membantu ku berdiri. Tanpa sadar aku menyambut uluran tangan Nyai Jamilah yang sangat halus karena tidak pernah bekerja kasar, bahkan apa bila dibandingkan tangan Dewi, masih lebih halus tangan Nyai Jamilah.
"Nyai, tidak takut saya perkosa?" tanyaku kembali duduk berdampingan dengan Nyai Jamilah, sekarang aku tidak berusaha menjaga jarak, kubiarkan Nyai Jamilah duduk rapat denganku. Kalau ada yang melihat pasti menyangka kami sedang pacaran.
"Mana berani kamu merkosa aku, istri Mbah Kholil. Kamu beraninya cuma sama Shinta, santriwati bau kencur." jawab Nyai Jamilah tertawa kecil.
"Kata siapa aku nggak berani, jangan nantang." jawabku gelisah. Kenapa aku dihadapkan masalah ini, aku melihat sisi gelap Nyai Jamilah yang liar mengingatkanku dengan Dewi. Astaghfirullah, kenapa aku berpikir seperti ini.
"Aku lelah, Zak...!" gumam Nyai Jamilah lirih.
"Lelah kenapa?" tanya ku heran, seorang Nyai bisa mengsluh di hadapan pria yang bukan muhrimnya, berduaan di tempat gelap.
"Aku lelah dengan hidupku, dulu aku mondok agar bisa mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Tapi semuanya tidak seindah seperti yang aku bayangkan, aku gagal sebagai seorang manusia, gagal menjalankan semua pengetahuan agama yang kupelajari sejak berusia sepuluh tahu." jawab Nyai Jamilah membuatku penasaran, apa yang membuatnya merasa gagal dalam kehidupannya.
"Maksud Nyai, bagaimana?" tanyaku pelan, berusaha menjadi pendengar yang baik.
"Aku mondok dengan harapan akan menemukan pria yang bisa menjadi iman dan menuntunku mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat tapi pada kenyataannya aku malah dipsrtemukan dengan seorang tua yang lebih asyik dengan dunianya, dunia asing yang tidak pernah aku pahami. Dia lebih asyik dengan cinta kepada Tuhannya sehingga dia lupa ada seorang istri yang membutuhkan perhatian lebih, yang ingin dimanja, dicumbu. Tapi pada kenyataannya, dia lebih menganggapku sebagai perhiasan duniawi, sebagai fitnah yang akan menjerumuskannya ke dasar neraka." kata Nyai Jamilah, aku tidak begutu mengerti masalah ilmu tasawuf, tapi aku tidak buta sama sekali sehingga aku bisa mencerna apa yang terucap dari bibir tipis Nyai Jamilah.
"Maaf, kenapa Nyai bisa menikah dengan Mbah Kholil?" tanyaku penasaran, melihat perbedaan umur mereka yang terlalu jauh.
"Karena permintaan almarhumah istri pertama Mbah Kholil, beliau adalah guru panutanku. Aku yang merawat Almarhum hingga beliau wafat, sebelum wafat beliau memintaku untuk menikah dengan Mbah." kata Nyai Jamilah diakhiri menarik nafas panjang.
"Kenapa Nyai mau, kalau pada akhirnya menyesal." tanyaku heran, wanita muda secantik Nyai Jamilah menikah dengan Mbah Kholil yang sudah renta.
"Aku juga heran kenapa pada saat itu menyanggupi permintaan almarhumah, niatku waktu itu hanya untuk menyenangkan hati Almarhumah yang sedang sakit parah dengan harapan beliau bisa kembali sehat, waktu itu aku berjanji bersedia menikah dengan Mbah Kholil menggantikan posisi beliau kalau sudah tiada. Tapi ternyata nasib berkata lain. Beliau meninggal setelah mendengar janjiku. Janji yang terucap tidak bisa aku tarik kembali hingga akhirnya kami menikah." kata Nyai, suaranya kembali hilang di tengah suara binatang malam yang riuh berbunyi.
Aku tersentak kaget, saat Nyai Jamilah tiba tiba memelukku dan menangis di dada bidangku. Apa yang harus kulakukan, ragu aku membelai rambutnya yang terbungkus jilbab. Tercium bau shampo yang digunakannya.
"Nyai jangan begini, nanti ada yang lihat." kataku berusaha mengingatkan Nyai Jamilah, kehormatannya sedang dipertaruhkan. Resiko yang sangat tidak sepadan.
"Aku kadang iri dengan cerita Dewi, dia bisa bebas melakukan apapun yang dia mau, bercumbu dengan pria yang dicintainya kapanpun dia mau. Setiap pria bebas memberinya kehangatan tanpa takut dengan norma norma agama yang terlalu membelenggu." kata Nyai Jamilah, air matanya membasahi baju kokoku, tanpa sadar aku membelai pipinya untuk mengahapus air mata yang membasahi pipinya.
"Nyai Istighfar..!" kayaku mengingatkan bahwa yang baru sja diucapkannya tidaklah pantas. Hatiku miris, bagaimana mungkin Nyai Jamilah merasa iri dengan kehidupan Dewi, kehidupan seorang pelacur.
"Aku hanyalah perhiasan dan sekaligus fitnah yang akan menghalangi Mbah Kholil bertemu dengan kekasihnya, kenapa harus aku yang dikorbankan setelah lebih dari separuh hidupku dihabiskan untuk beribadah, mempelajari agama yang katanya akan mengantarkanku pada surga di akhirat kelak kalau dalam kehidupanku belum merasakan bagaimana bahagia, seperti apa rasanya." kata Nyai Jamilah, tangisannya tidak juga berhenti.
"Nyai, nanti ada yang lihat kita seperti ini." kataku kembali memperingatkan keadaan kami yang penuh bahaya. Peringatan yang terasa sia sia saat Nyai Jamilah meraba selangkanganku dan mendapatkan sebuah benda yang tegang sempurna.
"Ich, gede amat....!" kata Nyai Jamilah, tangannya tidak mau terlepas dari benda yang menjulang seperti tugu monas membuatku menggelinjang nikmat, tapi aku masih bisa mengendalikan kesadaranku untuk tidak terbawa suasana dan kembali mengulang kebodohanku dengan Shinta.
"Istigfar Nyai, ini tidak boleh dipakukan." kataku tetap berusaha mengingatkan Nyai Jamilah, resikonya terlalu besar.
"Aku ingin menjadi pelacur agar bisa menemukan kebahagiaan seperti Dewi yang selalu mendapatkan perhatian dan perlakuan istimewa dari para pelanggannya yang datang sehingga mereka melupakan anak dan istrinya di rumah, aku ingin menjadi pusat perhatian tanpa takut dengan dosa yang akan menjerumuskannku ke neraka jahanam. Ajari aku menjadi pelacur, sentuh tubuhku yang selama ini belum tersentuh oleh suamiku yang lebih asyik dengan dunianya dan sebagai perhiasan dan fitnah yang menghalanginya untuk bertemu dengan kekasihnya." kata Nyai Jamilah membuatku terkejut, wanita sealim dia berkata seperti itu.
"Jangan, Nyai...!" kataku masih berusaha memberinya peringatan yang sia sia, syetan lebih berkuasa mengotori kesucian hati Nyai Jamilah yang tiba tiba berjongkok di hadapanku dan menyibakkan sarung yang kupakai sehingga dia bisa melihat kontolku yang tidak tertutup CD.
"Nyaiiiiii...!" mataku terbelalak tidak percaya melihat apa yang dilakukan Nyai Jamilah yang tiba tiba melumat kontolku tanpa merasa jijik, lidahnya bergerak lincah menjilati kepala kontolku dengan liar. Tuhan, apa yang sedang dilakukan wanita alim ini, bibir dan lisannya yang selalu melantunkan ayat ayat suci kini ternoda oleh syahwat yang tidak bisa dikendalikannya lagi.
Nyai Jamilah terus mengulum dan menghisap kontolku dengan gerakkannya yang kaku sehingga beberapa kali giginya mengenai kontolku, tapi adakah sensasi yang lebih hebat dari pada yang sedang aku rasakan saat ini, seorang wanita terhormat istri dari pimpinan pondok pesantren yang rela menghinakan dirinya menyepong kontolku.
"Hahaha, akhirnya aku bisa merasakan bagaimana rasanya nyepong kontol seperti yang sering aku lihat di video, hebat ini benar benar hebat. Jadikan aku pelacur seperti yang kamu lakukan ke Dewi." kata Nyai Jamilah, matanya berbinar indah di bawah cahaya bulan purnama.
"Jangan hinakan diri Nyai seperti ini, tolong...!" kataku putus asa dengan gairah yang menguasai jiwaku, gairah yang melebihi apa yang selama ini aku rasakan.
"Apa bedanya aku dengan Shinta?" tanya Nyai Jamilah terus mengocok kontolku yang basah oleh air liurnya.
"Iiiituuu...!" aku tidak bisa menjawab pertanyaan Nyai Jamilah, karena jawabnku sudah tidak lagi diperlukan.
"Aku tahu ini salah, aku hanya ingin merasa dihargai dan diperlakukan sebagai wanita normal, dicintai dan dicumbu. Jadikan aku pelacur, Zak. Nikmati tubuhku malam ini." kata Nyai Jamilah kembali melumat kontolku dengan gerakkan kaku, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ragu ragu aku memegang kepalanya dan menggerakkannya maju mundur mengocok kontolku yang semakin tidak mampu untuk bertahan lebih lama lagi. Semakin berusaha aku menahan pejuhku agar tidak mengotori mulut suci Nyai Jamilah, kenikmatan yang kurasakan semakin dahsyat.
"Suddddah Nyaiiii akkkku mauuuu kelllluar...!" kataku berusaha mengingatkan Nyai Jamilah, tapi tangannku justru semakin cepat menggerakkan kepala Nyai Jamilah mengocok kontolku hingga akhirnya bendunganku jebol. Kontolku berkedut memuntahkan pejuh yang tersimpan selama beberapa hari.
"Maaf Nyaii..!" kataku terkejut setelah menyadari perbuatanku yang sangat keterlaluan.
Nyai Jamilah meludahkan pejuhku yang cukup banyak ke telapak tangannya, dia memandang takjub dan mencium pejuh yang bercampur dengan air liurnya yang berkilat terkena pantulan cahaya bulan purnama. Nyai Jamilah meminum pejuh yang berada di telapak tangannya, seolah itu adalah benda nikmat yang tidak boleh terbuang percuma. Nyai Jamilah menjilati terlapak tangannya, memastikan tidak ada cairan pejuh yang tersusa.
"Ennak sekali, Zak. Senikmat inikah rasanya dosa." kata Nyai Jamilah berdiri, matanya menatapku tajam, tatapan mata yang membuatku merinding. Tatapan mata yang selama ini terjaga dari maksiat kini terlihat liar.
"Nyai..." hanya itu yang bisa aku ucapkan sejak tadi, tidak percaya dengan pengalaman dahsyat yang terjadi di bawah pohon mangga yang diterangi oleh cahaya bulan. Perlahan aku meraba payudaranya yang terlihat membusung, seberuntung inikah aku bisa meraba payudara yang rapat tertutup pakaiannya.
"Jqngan diremas, nanti baju Nyai kusut dan mengundang kecurigaan orang yang melihatnya." kata Nyai Jamilah menyadarkan perbuatan bodohku.
"Maaf, Nyai.." kataku yang tiba tiba menjadi bodoh, kharisma Nyai Jamilah membuatku seperti pemula yang tidak tahu apa yang harus kulakukan, pengalmanku berhuubungan sex dengan para pelacur tiba tiba hilang tidak berbekas di hadapan pesona Nyai Jamilah. Ya, kurasa wajar karena inilah pengalaman pertamaku bersentuhan dengan seorang wanita yang berpredikat Nyai, wanita yang sangat dihormati.
Nyai Jamilah mengangkat bajunya hingga atas payudarnya yang samar samar terlihat indah terlindung di balik BH yang dikenakannya, kulitnya putih berkilau terkena sinar bulan purnama yang menerobos di sela sepa daun pohon mangga. Tanganku gemetar saat menyentuh payudara Nyai Jamilah yang dikeluarkan dari penampungannya tanpa membuka BHnya, sempurna.
"Isap payudara Nyai, jadikan aku pelacurmu...." bisik Nyai Jamilah menarik kepalaku agar terbenam di payudaranya yang harum membuatku kehilangan kendali, kecanggunganku sirna dan tanpa sungkan aku meremas payudara Nyai Jamilah sambil menciumi permukaaan payudara yang sangat halu, bahkan semutpun akan tergelincir jatuh saat berjalan di atas permukaannya.
"Och, ini gila. Ini dosa ataukah surga." kata Nyai Jamilah lirih saat aku mempermainkan puting payudaranya, tangan kiriku memelintir puting payudara kanan sementara mulutku menghisap puting payudara kanannya dengan rakus.
"Cukup, Zak. Nanti ada yang lihat kita, entot aku sebelum ada yang datang." kata Nyai Jamilah menjauhkan payudaranya dari jangkauanku. Aku sadar dengan tempat kami di alam terbuka, setiap saat orang bisa melihat perbuatan bejad kami dan itu artinya kiamat buat kami.
Nyai Jamilah mengangkat rok lebarnya hingga pinggang dan membuka CDnya yang berwrna putih. Dengan bertumpu pada kursi bambu panjang, Nyai Jamilah menungging di sisiku.
"Entot akuuuu, Zakkk..., jadikan aku pelacur agar terbebas dari penderitaan ini.!" kata Nyai Jamilah memohon sambil menepuk nepuk pantatnya yang besar berisi.
"Nyai seriusss?" tanyaku takjub, seorang wanita sholehah berubah menjadi binal, terperosok dalam lembah nista dalam sekejap.
"Entooot aku sebelum ada yang lihat..." kata Nyai Jamilah menunjukkan tekadnya yang bulat. Aku segera berdiri di belakangnya, memandang takjub pantatnya yang besar, kulitnya halus sekali.
"Zakaria, masukin kontol kamu ke memek Nyai, jangan siksa memek Nyai." kata Nyai Jamilah menyadarkanku dari pesona keindahan pinggulnya yang indah, beruntung kontolku bereaksi cepat. Reaksi yang membuat Dewi tergila gila pada kontolku yang tidak perlu waktu lama untuk kembali tegak sehingga dia bisa mendapatkan layanan maksimal dari kontolku.
"Iya, siap...!" kataku memegang kontoi, menuntunnya agar tepat dpada lobang yang harus dimasukinya. Agak sulit karena posisi pantat Nyai Jamilah yang kurang menungging. Aku membenarkan posisi pantat Nyai Jamilah agar posisinya bisa mempermudah kontolku masuk ke memeknya yang sudah cukup basah.
"Lobangnya yang ini, Zak..!" kata Nyai Jamilah meraih kontolku agar yepat pada lobang memeknya. "Tusuk, Zakk...!" seru Nyai Jamilah setelah kontolku tepat pada pintu masuk memeknya.
"Iyaa Nyai, terima kontolku..!" seruku mendorong kontolku dengan bertenaga hingga amblas seluruhnya sehingga tubuh Nyai Jamilah agak terdorong ke depan akibat hentakanku yang keras.
"Aduhhhh Zakk, pelan pelan. Sakittt...!" seru Nyai Jamilah berteriak kesakitan, tangaanya yang memegang CD terulur mengelus memeknya yang tertembus kontolku.
"Ma maaf Nyai..!" kataku merasa bersalah, aku lupa dengan ukuran kontolku yang besar sehingga banyak pelacur yang menolak saat aku booking, dengan alasan sakit.
"Sudah, pelan pelan Zak.." kata Nyai Jamilah begitu tabah menerima kehadiran kontolku yang mulai bergerak pelan memompa memeknya.
"Iya begitu, pelan pelan...!" kata Nyai Jamilah membuatku sedikit lega, aku tidak boleh memperpakukan Nyai Jamilah seperti aku memperlakukan seorang pelacur. Sepertinya hanya Dewi yang suka dengan permainan kasarku.
"Masih sakit, Nyai?" tanyaku setelah kontolku mulai lancar memompa memeknya.
"Sedikit, mulai ennnnak.. Och och. Pelan pelan aja." kata Nyai Jamilah.
Aku meremas pantat Nyai Jamilah, masih tidak percaya dengan apa yang sedang aku alami, kontolku bisa menikmati memek sempit nya yang menjepit kontolku. Gila, ini mimpi yang tidak pernah kubayangkan.
"Ochhhhh dosa, och surga, aku bisa merasakan surga." kata Nyai Jamilah menggerakkan pinggulnya menyambut kontolku yang bergerak menusuk hingga bagian terdalam.
"Iyya Nyai, letak surga ada di sini, surga dunia terindah." kataku semakin bersemangat memompa memek Nyai Jamilah diiringi nyanyian binatang malam yang menjadi saksi perbuatan bejad kami.
"Zakaaaaaa, akkkku kenapaaaaa.....!" kata Nyai Jamilah takjub dengan apa yang sedang dirasakannya.
"Nyai kenapaa...?" tanyaku heran, kontolku sepertinya tidak akan ampu bertahan lebih lama lagu, jepitan memek Nyai Jamilah terlalu nikmat untuk membuatku bisa bertahan lama.
"Ngggak tahuuuuu ennnnnnak, memekku keduy kedut, akkkku kencinggggg....!" teriak Nyai Jamilah membuatku hawatir jeritannya terdengar orang
"Akkkku kelllluar, Nyai....!" kataku lupa dengan rasa takut yang kualami, aku mencapai puncak orgasme yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Pejuhku membanjiri memek Nyai Jamilah.
Aku terdiam dengan kontol masih terbenam di dalam memek Nyai Jamilah, aku masih tidak rela melepaskan jepitan memeknya yang dahsyat. Momen ini terlalu singkat, terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja.
"Zak, senikmat inikah ngentot sehingga istri Nabi Luth mengingkari suaminya. Senikmat inilah surga dunia." kata Nyai Jamilah tetap menungging, sama seperti aku yang tidak mau melewati momen ini berlalu begitu saja.
"Iya, Nyai." kataku menarik kontol ku dari memeknya. Aku takut akan ada yang melihat perbuatan kami.
"Zak, kenapa dicabut?" tanya Nyai Jamilah menoleh ke arahku.
"Takut ada yang lihat, Nyai." jawabku mengungatkan situasi yang sedang kami hadapi.
"Iya, maaf." jawab Nyai Jamilah segera membenarkan bajunya tanpa memakai kembali celana dalam yang sedang dipegangnya. Dia tidak melap memeknya yang banjir oleh pejuhku.
"Aku harus pulang sebelum kajian kitab selesai. Ini buatmu, simpan baik baik ada darah perawanku di situ." kata Nyai Jamilah meninggalkanku setelah Celana Dalamnya berpindah ke tanganku.
Aku menatap kepergian Nyai Jamilah, tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya. Aku menatap celana dalam Nyai Jamilah yang berwarna putih dipenuhi bercak merah yang terlihat samar, untuk memastikan warna merah di CD, aku menyalakan senter kecil yang ada di korek api gasku.
ns216.73.216.134da2


