Ayunda mencengkram punggung pria tersebut erat. Ia seperti tak ingin melepaskannya ketika menerima sod0kan yang begitu keras dan cepat.
479Please respect copyright.PENANAo4jlUDmh6m
Suara erangannya memenuhi ruang kamar tersebut dan sesekali merancau sembari mengumpat. Ia menikmati permainan yang diberikan sang pria tanpa menyadari bahwa kelakuannya telah diketahui oleh anaknya sendiri.
479Please respect copyright.PENANAA4yx1b4VDP
Sementara itu, Dinda masih berlari menjauh dari rumah itu. ia seperti tak memiliki tujuan selain tak ingin percaya bahwa ibunya tega menghianati ayahnya bahkan keluarganya. Dinda tak tahu dengan siapa ibunya bercinta, namun yang pasti dia yakin bahwa lelaki tersebut bukanlah ayahnya.
479Please respect copyright.PENANAhp6ri4CU89
Larinya kemudian terhenti setelah menemukan gedung terbengkalai di sisi kota yang tak berpenghuni. Tempat itu terlihat sunyi yang hanya dikelilingi ilalang liar, menambah kesan mistis disekitarnya.
479Please respect copyright.PENANAXn5JKT4wbQ
Dinda tak mempedulikan itu semua. Yang ia rasakan hanya kesedihan dan kemarahan terhadap ibunya. Ia pun meringkuk dalam tangisnya sembari kedinginan akibat hujan yang telah mengguyur deras.
479Please respect copyright.PENANAbru4ZUzMlg
Dalam suara hujan, des∆han Ayunda semakin menjadi-jadi. Tak ada orang lain dirumah itu selain dirinya dan selingkuhannya. Kini ia mulai bercinta∆ diruang dapur, kamar mandi dan juga ruang tamu. Entah sudah berapa ronde yang ia lewati, selangkangannya mulai berair dan memerah akibat hentakan dari kel∆min pria tersebut. Dirinya kini berposisi menungg1ng, siap menerima s0d0kan melalui dubu7nya
479Please respect copyright.PENANAWRpq9kkiZZ
"Pelan-pelan aja, aku tidak terbiasa" pinta Ayunda sembari menerima pelukan dari belakang.
479Please respect copyright.PENANAFLUoE7uMRZ
"Iya sayang... Rasakan ini" Pria tersebut mulai memasukannya, benda panj4ng tersebut seakan memaks4 masuk, menyesakkan lubang kecil itu yang telah memerah.
479Please respect copyright.PENANAM1bjEmNsNm
"Sakiiit" ringis Ayunda.
479Please respect copyright.PENANA1qzWFs80Tv
"Tapi kamu suka kan?"
479Please respect copyright.PENANAdvtyS024Kr
Ayunda hanya mengangguk tersenyum genit.
479Please respect copyright.PENANAVEsJ0h6hu1
Bima yang telah selesai dari pekerjaannya merasa bahwa hari ini kepulangannya begitu cepat. Ia melihat hujan yang semakin deras, pikirannya pun teralihkan akan hari jadi Dinda yang ke 15 tahun. Ia kemudian berlalu menuju mobilnya, berniat menjemput anaknya di sekolah.
479Please respect copyright.PENANAG7XFlRbOn9
Sesampainya disekolah, ia tak menemukan Dinda yang biasanya duduk didekat pagar sekolah itu, ia mencarinya kemanapun dan bertanya kepada satpam. Lelaki kurus; penjaga sekolah itu berkata bahwa anak-anak telah pulang beberapa jam yang lalu.
479Please respect copyright.PENANAyMLdij4THW
perasaan panik mulai menghantui Bima, ia kemudian menyetir pulang kerumah sembari tetap mengawasi sekitar jalan, berharap menemukan Dinda.
479Please respect copyright.PENANAkesJ6vOLPm
Sesampainya dirumah, ia lantas bergegas sambil memanggil nama Dinda. Dibukanya pintu rumah itu dan menampakkan isterinya yang sedang di gerayangi oleh pria lain.
479Please respect copyright.PENANANEDebG5400
Kedua insan tersebut seketika terkejut bukan main. Ayunda mendorong pasanganya dan berlari menuju Bima. Bima yang terpukul hanya bisa terdiam tanpa berkata apapun. Namun kepanikan akan kehilangan sosok Dinda tak membuatnya goyah, ia tetap mencari keberadaan Dinda sembari diikuti oleh Ayunda yang masih bertelanjang bulat.
479Please respect copyright.PENANAwyAqEEuVqA
Bima memasuki kamar anaknya, tak ada dia disana, bahkan diruang gudang pun Bima cari tapi tak ada tanda-tanda keberadaan Dinda.
479Please respect copyright.PENANAlsXjxaBLei
"Dinda kemana? anak kita kemana?!" pekik Ayunda.
479Please respect copyright.PENANA1Iq22FQDHm
"Jangan sebut Dinda anakmu. Dasar pel∆cur!" Bima melampiaskan kemarahannya lantas berlalu menuju mobil dan meninggalkan isterinya yang tengah menangis histeris.
479Please respect copyright.PENANA4HSzOL73at
Dijalan, Bima menoleh kekiri dan kanan, memastikan bahwa Dinda berada disuatu tempat. Sampai ketika pencariannya membawa dirinya ke ujung jalan lenggang yang terdapat sebuah bangunan terbengkalai. Ditengah pencariannya, ia akhirnya menemuka Dinda yang sedang meringkuk kedinginan. Dengan terburu-buru ia turun dari mobil kemudian berlari memeluk anaknya dan disambut oleh Dinda sembari menangis.
479Please respect copyright.PENANAye0OgIfm7k
Bima menyeka air mata itu, ia kemudian melepas jaketnya dan mengenakannya ke Dinda. Kehangatan dari perlakuan Bima membuat Dinda semakin mencintai ayah tirinya itu.
479Please respect copyright.PENANAQMkeLmid56
"Kenapa kamu disini?" Bima bertanya sembari memeluk Dinda, memastikan anak tirinya tetap hangat dalam dekapannya.
479Please respect copyright.PENANAyaSLAphaAT
Mendengar pertanyaan dari sang ayah, Dinda tak menjawab, dia diam tapi dengan suara terseduh seakan menyembunyikan sesuatu.
479Please respect copyright.PENANAxun4gJYtLo
Tak usah menangis, Ayah tahu semuanya.
479Please respect copyright.PENANAvqeamDxkA8
Seketika tangis Dinda pecah, ia semakin mendekap ayahnya. "Mengapa Ibu berubah? apakah ia tak menyayangi kita lagi?"
479Please respect copyright.PENANAJpOkkX4eRS
"Dia sayang dengan kita" Bima mulai meneteskan air mata.
479Please respect copyright.PENANAj595rV5dMC
"Ayah bohong!"
479Please respect copyright.PENANACEaAgjf0gk
Bima terdiam, matanya tak bisa menyembunyikan kekecewaan.
479Please respect copyright.PENANAsFztYldNax
"Jika Ibuku tak bisa membuatmu bahagia, aku yang akan menggantikannya" Dinda meraih wajah sedih ayah tirinya, kemudian mengecup bibirnya lembut.
479Please respect copyright.PENANAfOU0q4jAd7
Mendapat perlakuan tersebut, Bima terkejut sekilas. Dirinya sempat menghindar hingga akhirnya terbawa suasana dan mulai kembali membalas ciuman Dinda dengan penuh cinta.
479Please respect copyright.PENANA02DCffx73S
Dihujan yang semakin deras, dua insan itu kini mulai terbuai perasaan. Bima membopong tubuh kecil Dinda, disandarkannya ke tembok dan mulai merasakan jenjang leher putih bersih itu yang basah dengan kecupannya. Merasakan n4fsu ayahnya yang kian memanas, Dinda kini berusaha mengimbangi. Ia mencengkram punggung Bima dengan tangan kecilnya, berusaha meraih kemeja itu, melepaskan kancingnya dan menampakkan dada ayahnya yang bidang.
479Please respect copyright.PENANATNYAv7aAtm
Bima kini menelusuri bu4h d4d4 Dinda yang mulai tumbuh. Dalam balutan kut4ng remaja bermotif bunga, ia terpaku. Baru kali ini ia melihat anak tirinya itu setengah telanj4ng. Dirabanya dalam genggaman yang terasa tercengkram semua, memanglah tak sebesar milik Ayunda-Ibunya, tapi sensasi akan menjamah anak tiri sendiri seperti sesuatu yang berbeda dan tak bisa dijelaskan.
479Please respect copyright.PENANAD5RF7IeWjh
Bima telah larut dalam permainan naf5u sesaat. Dirinya kini telah menjamah anaknya sendiri dengan kecupan di kedua dada Dinda. Dinda yang menerima perlakuan tersebut seakan tak bisa menolak dan memilih untuk diam dan menikmati.
479Please respect copyright.PENANAqN5yrUGDBU
"Apakah sakit?" Bima melepaskan kecupan tersebut dan melihat mata Dinda dalam-dalam.
479Please respect copyright.PENANAoMIO9aggNe
"Tidak... Ayah suka, aku juga suka" keduanya tersenyum dan melanjutkan keharmonisan itu.
479Please respect copyright.PENANAbIHzKLtRB8
Dalam badai, kini mereka saling menikmati tubuh. Dengan masih mengenakan seragam sekolahnya, kini Dinda menjongkok dihadapan Bima, menarik resleting cel4na Ayahnya dan mulai mengeluarkan bendap4njang nan tumpul itu. Dinda seperti kagum akan ukuran yang dimiliki ayah tirinya. dengan jemari kecil, ia berusaha menggenggamnya, meng0coknya dan akhirnya mengulumnya sekuat tenaga.
479Please respect copyright.PENANAzFZm871jhf
Ia menikmati, meski ukuran tersebut tak cukup muat untuk masuk ke seluruh mulutnya. Bima menggenggam rambut kepang anaknya, seperti memaju mundurkan agar seluruh miliknya bisa masuk ke dalam mulut mungil Dinda. Tetesan liur mulai jatuh membasahi dada Dinda yang memang telah basah akan air hujan dan keringat dingin. Sesekali ia tersedak dan mengeluarkan benda panjang itu yang tak lama kemudian dimasukkannya lagi.
479Please respect copyright.PENANAXLpKnXCdyM
"jangan dipaksa sayang... nanti kamu tersedak" Dinda kemudian bangkit, berbisik lembut ditelinga ayahnya, "Ayah... aku sudah ingin" sembari mengangkat roknya, ia menunjukkan selangk4ngannya dan dibalik celana dalamnya yang sudah basah.
479Please respect copyright.PENANAEIbRUgSW9p
Mereka kemudian berlari menerobos hujan menuju mobil, Bima memarkirkan mobil sedikit tersembunyi dari jalan itu. Seakan terburu-buru, ia menanggalkan pakaiannya dan juga seragam sekolah Dinda. Di k3cupnya tubuh anaknya itu tanpa melewati sejengkal pun. dibaringkannya Dinda di jok mobil yang sudah disetel agar bisa disandari. B4tang panjangnya sudah meneg4ng, siap menerobos keperaw4nan anak tirinya sendiri.
479Please respect copyright.PENANAcWOJlYrVoI
Dinda mengangkang sedikit malu, tangannya sesekali menutup area itu dan wajahnya memerah merona. "Ayah aku malu" desirnya menutup wajah. Bima kemudian kembali mencium Dinda, memastikan bahwa anak tirinya itu aman dalam dekapannya. Perlahan ia menyentukan bat4ngnya ke bibir k3lamin Dinda yang ditumbuhi bulu halus, tak rimbun namun dan tersusun rapi di atas belahannya.
479Please respect copyright.PENANAOoKgPYPDrZ
Pelan, batang panjangnya membelah memasuki lubang kecil itu. Dinda hanya meringis sembari menggit bibir bawahnya. Terasa sesak namun nikmat. Kesakitan yang awalnya ia rasakan kini mulai berubah menjadi kenikmatan disaat Bima memaju mundurkan bat4ngnya dengan pelan. Dengan tempo teratur, pinggul Bima seakan ikut membantu menerobos keperawanan anat tirinya itu.
479Please respect copyright.PENANAgm3urq3vDQ
Suara badai hujan yang menghantam kaca mobil seakan mensamarkan desahan dan erangan kedua insan yang dimabuk asmara itu. Dinda mulai terbawa arus dalam permainan, ia seakan menikmati s0dokan demi sod0kan dari ayahnya. Beberapa kali mereka berganti gaya di dalam mobil yang sempit itu; mulai dari Dinda yang terlihat menungging, atau bahkan ia menimpa ayahnya untuk dipangku dan menerima so0dokan dari bawah.
479Please respect copyright.PENANAKnsL2RHxBk
Setelah kurang lebih sejam mereka memuaskan birah1, akhirnya Bima menumpahkan cair4n putihnya di perut anak tirinya itu, sebagian menetes menuju pinggang dan beberapa lagi mengendap di lubang pusar Dinda. keduanya rebah sembari berpeluh keringat di jok belakang. Mereka berpelukan sembari berciuman penuh kemesraan.
479Please respect copyright.PENANAFK7H3MbDgO
Keduanya telah memutuskan ikatan ayah dan anak dan beralih ke hubungan cinta layaknya kekasih.
479Please respect copyright.PENANAImoinmhBQJ
"Selamat ulang tahun sayang.." ucap Bima sembari memeluk anak tirinya.
479Please respect copyright.PENANAHtkmUQ6B8A
"Ini adalah kado terbaik, ayah.." ucap Dinda sembari mengatur nafas.
479Please respect copyright.PENANAVTGfz0sihj
Seisi rumah terlihat berantakan, serpihan kaca berserakan dilantai bersama dengan porselen yang sudah pecah terhambur terpisah dengan bunga yang entah kemana lagi. Ayunda duduk termenung dengan nafas tersengal-sengal akibat melampiaskan kemarahan terhadap seisi rumah. Beberapa kali ia menelpon Bima namun tak ada jawaban dari suaminya itu. lelah akan kemarahannya, ia pun menangis tersedu dalam penyesalan.
479Please respect copyright.PENANAmePZQhrpWY
Disisi lain, Bima yang kini berkendara entah kemana seakan berpikir 'Apakah yang barusan terjadi dengan Dinda hanyalah ilusi belaka?' Ia tak percaya bahwa dirinya barus saja bercinta dengan anak tirinya, terlebih lagi Dinda masih berumur 15 Tahun, tepat pada hari itu.
479Please respect copyright.PENANAZuaFQdsnwC
"Ayah kita mau kemana?" tanya Dinda memecah kesunyian.
479Please respect copyright.PENANAdI4B101AB3
"Entahlah... Aku masih berpikir. Apakah kita sebaiknya pulang? Ibu pasti sudah menunggu"
479Please respect copyright.PENANAFy8x8Yd38H
"Tidak! Aku tak mau bertemu Ibu" tolak Dinda dengan wajah kesal.
479Please respect copyright.PENANAYqRrhp52mo
Bima yang seperti nurut akan penolakan anaknya hanya bisa menyetir tanpa tujuan yang pasti, hingga ia kemudian berpikir untuk sementara menuju penginapan terdekat, memastikan bahwa mereka bisa beristirahat untuk sementara di tengah hujan badai yang semakin deras.
479Please respect copyright.PENANA1HmiXbrplK
Mereka memasuki salah satu penginapan di pinggiran kota itu setelah memarkirkan mobil. Para resepsionis sejenak menanyakan hubungan antara keduanya, seakan mencurigai bahwa Bima adalah lelaki hidung belang yang suka menikmati tubuh anak remaja yang baru tumbuh atau bahkan mereka mungkin saja mengira bahwa Bima adalah penculik anak sekolah di tengah badai.
479Please respect copyright.PENANA1dq6wDv52z
Namun kecurigaan mereka seketika sirna setelah Bima menjelaskan bahwa Dinda adalah anaknya, Dinda pun menambah keyakinan mereka bahwa lelaki bersamanya adalah ayahnya. Mereka kini mendapat kunci kamar, dan berjalan menuju lantai dua dengan sedikit basah akibat badai.
479Please respect copyright.PENANAYVNzS5Ndni
Keduanya pun memasuki kamar itu; nuansa putih dengan lampu sayup, dua ranjang berseberangan dan kaca rias menghiasi kamar. Keduanya duduk di masing-masing ranjang, seakan menjaga jarak dan terasa canggung. Bima menoleh ke sisi Dinda yang tengah sibuk dengan rambutnya yang basah, ia masih tak percaya bahwa dirinya telah melihat semua isi tubuh kecil itu, bahkan telah memasukkan b4tangnya ke lub4ng anak tirinya sendiri yang masih berusia belasan tahun. Ia menelan ludah, ketika rok pendek Dinda tersingkap menampilkan pahanya yang putih mulus basah.
479Please respect copyright.PENANAnhPxNSSjYo
Belahan dadanya pun sedikit terlihat akibat kemeja yang tak terkancing penuh, dibalik bra pinknya terselip gundukan kecil dengan put1ng berwarna merah jambu. Ia telah meny1cipi semua itu, namun sepertinya Bima menginginkannya lagi. Ia melihat anak tirinya bukan lagi sebagai anak kecil, melainkan seorang wanita yang telah merenggut hatinya dalam cinta dan juga nafsu.
479Please respect copyright.PENANA1L0KXikvh6
Menyadari perhatian tersebut, Dinda kemudian menyadarkan Bima dengan berkata, "Ayah aku ingin kekamar mandi dulu"
479Please respect copyright.PENANANt1VNNsASQ
"Oh ya! masuklah, panggil aku jika kamu butuh sesuatu"
479Please respect copyright.PENANAltPmCG5dGo
Dinda mengangguk dan berlalu sambil mengambil handuk yang terlipat di meja rias.
479Please respect copyright.PENANAGPaVZ5uk4u
Suara desir air mengalir di kamar mandi itu, Bima seakan tak hentinya membayangkan tubuh Dinda yang begitu mulus dan kecil. Ia seperti tersihir akan kenikmatan yang telah ia rasakan, seperti candu namun takut akan penyimpangan itu. Ia kini merasa bersalah, dan berharap dosa yang ia lakukan bisa terampuni oleh tuhan.
479Please respect copyright.PENANAKwjAAwNiqH
Ditengah rasa bersalah itu, Dinda kemudian keluar dengan tubuh basah dan hanya terbalut handuk putih. Ia berjalan menuju Bima, harum tubuhnya seakan kembali membangkitkan nafsu ayahnya yang baru saja bertobat. "Ayah ingin menggunakan kamar mandi" tanya Dinda memastikan.
479Please respect copyright.PENANAO30JKG42HE
Bima menatap kagum Dinda, ia lantas menarik lengan anak tirinya itu menuju pangkuannya. "Aku ingin menggunakanmu, sayang"
479Please respect copyright.PENANAAwh5BI2J2U
Ia melum4t bibir mungil itu penuh nafsu dan dibalas oleh Dinda dengan penuh kasih. Mereka pun kembali bercinta dimalam yang dingin itu.
479Please respect copyright.PENANACKRHsHiwlU
BERSAMBUNG..479Please respect copyright.PENANA0DNIrHIwQf
Selengkapnya disini: https://lynk.id/shark95
ns216.73.217.39da2


