Lantai marmer ini begitu bening sampai aku bisa melihat pantulan wajahku yang kuyu. Aku menekan alat pel dengan seluruh tenaga, memastikan tidak ada satupun bercak yang tersisa di ruang keluarga ini. Di rumah ini, aku belajar satu hal dengan cepat: kerja keras adalah satu-satunya pelindungku. Kalau aku terlihat sibuk, mungkin Rajesh atau mata-mata lainnya tidak akan punya alasan untuk mendekat.
4183Please respect copyright.PENANAZG9DbQOlD6
"Putri, sini sebentar. Istirahatlah, jangan terlalu kaku begitu."
4183Please respect copyright.PENANABoK9hRI2Qx
Suara itu lembut, kontras dengan hawa dingin AC yang menusuk. Aku menoleh dan melihat Nyonya Dana, istri kedua Tuan Fahd, sedang bersandar santai di sofa beludru sambil menatap layar TV besar. Dia cantik sekali, dengan riasan tipis dan piyama sutra yang harganya mungkin setara gajiku setahun.
4183Please respect copyright.PENANAfvijMFtQ3W
"Eh, iya Nyonya. Maaf, saya selesaikan sudut ini dulu," jawabku sopan sambil tetap menunduk.
4183Please respect copyright.PENANAwbEbp7D71S
"Sudahlah, duduk di karpet bawah sini. Ceritakan padaku, apa benar di Indonesia itu selalu hijau? Aku bosan melihat pasir setiap kali ke luar rumah," dia terkekeh, melambaikan tangan menyuruhku mendekat.
4183Please respect copyright.PENANAmRD4C6B4ec
Aku memberanikan diri mendekat, tetap dalam posisi berlutut sambil memegang kain lap.
4183Please respect copyright.PENANAYBXM9WtOMG
Kami mengobrol ringan. Dia bertanya tentang anak-anakku, dan aku menjawab seadanya dengan bumbu pujian tentang betapa baiknya keluarga ini menerimaku. Aku pikir, akrab dengan Nyonya adalah cara terbaik untuk merasa aman.
4183Please respect copyright.PENANAoSgDgf5zxi
Tiba-tiba, langkah kaki yang berat terdengar. Tuan Fahd muncul dengan jubah hitam yang gagah. Ia tidak melirikku sama sekali, seolah aku hanyalah bagian dari furnitur ruangan.
4183Please respect copyright.PENANANeKWlsdHud
"Dana, ayo berangkat. Kita sudah terlambat untuk jamuan di kedutaan," ucapnya dingin.
4183Please respect copyright.PENANAV4jfKLaQHM
Nyonya Dana langsung berdiri, memberikan senyum kecil padaku sebelum merangkul lengan suaminya. Mereka pergi begitu saja, meninggalkan aroma parfum mahal yang menyesakkan dada. Begitu pintu besar itu tertutup, suasana hangat tadi menguap, digantikan oleh hawa dingin yang lain.
4183Please respect copyright.PENANA2IPHq4Q742
"Heh! Kamu pikir kamu siapa, hah?"
4183Please respect copyright.PENANAGYclipmiSm
Suara melengking itu membuatku tersentak. Fatima Santos, pelayan asal Filipina itu, berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap. Wajahnya yang biasanya datar kini tampak merah padam.
4183Please respect copyright.PENANAiHwel1rAt8
"Kenapa, Fatima?" tanyaku bingung.
4183Please respect copyright.PENANA28AtlEDkmo
"Tidak usah sok akrab dengan Nyonya Dana! Kamu itu cuma pembantu baru, jangan coba-coba cari muka supaya dapat bonus lebih besar!" hardiknya sambil melangkah maju, telunjuknya hampir mengenai hidungku.
4183Please respect copyright.PENANA7Qln1p3Ozf
"Tunggu dulu, Fatima. Nyonya yang mengajakku bicara, aku hanya menjawab—"
4183Please respect copyright.PENANA0C1VTJ0AU8
"Alasan! Perempuan seperti kamu biasanya memang suka merayu dengan wajah polos begitu!"
4183Please respect copyright.PENANAJSXXiKXvzd
“Hei hei hei, kenapa kok ramai-ramai ini hmm?”
4183Please respect copyright.PENANApVZ6z79fyB
Sebuah suara bariton yang berat memotong makian Fatima. Ramesh Rao, pria Tamil dengan tubuh tegap dan kumis tebal, muncul dari balik pilar. Dia menatap Fatima dengan seringai mengejek, lalu matanya beralih padaku—menelusuri tubuhku dengan cara yang membuatku merasa telanjang.
4183Please respect copyright.PENANAF9RDxWd04z
"Kenapa kamu? Cemburu sama pembantu baru ini?"
4183Please respect copyright.PENANACv56cd7yQ5
"Diam kamu, Ramesh! Urus saja pekerjaanmu!" teriak Fatima, tapi suaranya bergetar.
4183Please respect copyright.PENANARm2M2LTKm7
Ramesh tertawa kecil, melangkah mendekat dan merangkul pinggang Fatima dengan kasar, sebuah gerakan yang sangat intim namun terlihat penuh paksaan. "Lihat dia, Fatima. Putri ini masih segar, wajar kalau Nyonya atau siapapun suka melihatnya. Kamu jangan takut posisimu sebagai kesayanganku digeser, hah?"
4183Please respect copyright.PENANAPPclW1AsUq
Ramesh mencubit pipi Fatima dengan keras sampai wanita itu meringis. Mereka berdua malah mulai saling menggoda dan berdebat dalam bahasa yang tidak kupahami, lalu berjalan pergi sambil tertawa-tawa sinis, meninggalkanku yang masih berlutut di lantai marmer.
4183Please respect copyright.PENANAFc5fTf0yHo
Aku tertegun, mencengkeram kain pelku erat-erat. Di rumah ini, bukan hanya Rajesh yang harus kuwaspadai. Fatima yang penuh dengki dan Ramesh yang matanya tidak bisa diam... mereka semua punya permainan sendiri.
4183Please respect copyright.PENANAioVLjNzhXj
Ponselku di saku bergetar. Satu pesan singkat dari Mas Juned masuk: "Ibuk, sehat kan di sana? Bapak kangen..."
4183Please respect copyright.PENANAuGMvERQ2dD
Air mataku hampir jatuh, tapi aku segera menghapusnya. Aku tidak boleh cengeng. Aku harus bertahan, meski aku tahu, di balik kemewahan ini, ada mata-mata yang terus mengintai setiap gerak-gerikku, menunggu saat aku lengah.
4183Please respect copyright.PENANAodpj7sVsCN
Terutama Rajesh, yang sedari tadi kulihat berdiri di kegelapan koridor, menyaksikan drama tadi dengan senyum yang tidak pernah mencapai matanya.
4183Please respect copyright.PENANAxMmW1kZv3N
Selesai membersihkan ruang tamu, tugas selanjutnya adalah masak untuk makan siang.
4183Please respect copyright.PENANAS110E4H9Gk
Ditemani oleh mbak Siti ia mengajariku banyak hal di dapur belakang. Dapur ini sangat luas, mungkin lebih luas dari seluruh rumah kontrakanku di Jakarta. Harum terasi dan cabai goreng memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang sedikit mengingatkanku pada rumah, meski marmer dingin di bawah kakiku terus berbisik bahwa aku sedang berada di negeri orang.
4183Please respect copyright.PENANASZqKseTO2M
"Mbak Putri aslinya mana? Betah di sini?" tanya Siti Nur sambil memotong terong. Meski dia lebih muda, pengalamannya di sini membuatku menaruh hormat padanya.
4183Please respect copyright.PENANAQdryCeszSJ
"Asli Jakarta, Nur. Biasa hiruk-pikuk, jadi di sini agak kaget dengan sunyinya," jawabku sambil terus mengulek sambal. Tanganku bergerak mantap, membuat otot lenganku sedikit menegang.
4183Please respect copyright.PENANArnZkkAYIWm
4183Please respect copyright.PENANAkYqpIbkNRg
"Di sini sejauh mata memandang cuma ada tembok tinggi dan pasir."
4183Please respect copyright.PENANAONKobM3A0I
Siti terkekeh, meski matanya tetap fokus pada pekerjaannya. "Tapi Mbak Putri hebat. Mau merantau jauh-jauh ke Arab demi anak dan keluarga Mbak. Berhubung Tuan Fahd lumayan suka masakan Indonesia, kita harus pintar-pintar ambil hatinya lewat perut."
4183Please respect copyright.PENANAzd5Klmo8yb
"Aku cuma mau kerja tenang, Nur. Nggak muluk-muluk," jawabku sambil mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan.
4183Please respect copyright.PENANAxxpxElRdvG
Tap. Tap. Tap.
4183Please respect copyright.PENANAyloM7r9Es5
Suara langkah kaki yang berat masuk ke area dapur. Rajesh. Dia nyelonong masuk tanpa permisi, seolah-olah dia sedang menginspeksi wilayah kekuasaannya.
4183Please respect copyright.PENANAWGQze7440E
"Wangi apa ini? Tajam sekali sampai ke hidungku," Rajesh bersuara, aksen Indianya terdengar kasar namun penuh otoritas.
4183Please respect copyright.PENANAnBOvO1Gur6
"Ini sambal buat Tuan, Rajesh," Siti menjawab cepat, nadanya mendadak kaku. Dia langsung menunduk, seolah berusaha menjadi tidak terlihat.
4183Please respect copyright.PENANAW7DG9Uq02a
Rajesh tidak memedulikan Siti. Matanya langsung mengunci padaku. Dia berjalan memutar, sangat pelan, mengitari meja marmer hingga berdiri tepat di sampingku. Jaraknya sangat dekat, sampai aku bisa mencium aroma parfumnya yang kuat bercampur bau keringat maskulin.
4183Please respect copyright.PENANA3k5atD4Lhf
"Putri dari Jakarta," dia menyebut namaku dengan cara yang membuat bulu kudukku meremang. "Katanya wanita Jakarta itu... spesial. Apa masakanmu juga sespesial orangnya?"
4183Please respect copyright.PENANAxT0ynJFrOq
Aku berusaha tetap tenang dan memberikan senyum ramah. "Silakan dicoba, Rajesh. Tapi ini pedas sekali."
4183Please respect copyright.PENANAee9C7BbpIv
Rajesh tidak mengambil sendok. Dia justru menumpukan kedua tangannya di meja marmer, mengurungku di antara tubuhnya yang tegap dan meja dapur. Matanya yang tajam tidak melihat ke sambal, melainkan menatap lekat ke arah dadaku yang naik-turun karena napas yang mulai tak beraturan.
4183Please respect copyright.PENANAomEFNkk0x4
"Aku suka yang pedas," bisiknya, suaranya rendah dan serak tepat di samping telingaku.
4183Please respect copyright.PENANA9NB9V7oQAf
"Apalagi kalau yang menguleknya punya tangan seputih ini."
4183Please respect copyright.PENANA6hOIM1FuGV
Dia mengulurkan jari telunjuknya, perlahan menyentuh pinggiran cobek, tapi matanya tetap terkunci pada wajahku. Ibu jarinya sengaja menyentuh punggung tanganku yang masih memegang ulekan. Kasar dan panas.
4183Please respect copyright.PENANACxUTtesyMb
"Rajesh, nanti Tuan lihat..." bisik Siti Nur dengan nada memperingatkan, tapi dia sendiri tidak berani menatap Rajesh.
4183Please respect copyright.PENANAaYdBxDBWu1
Rajesh justru menyeringai. Dia mengambil sedikit sambal dengan ujung jarinya, lalu menjilatnya pelan sambil tetap menatap mataku dengan tatapan lapar yang tidak disembunyikan.
4183Please respect copyright.PENANAonotNxh4g8
"Pedas. Tapi aku mau lagi," ucapnya, tangannya kini bergeser, dengan berani menyentuh pinggangku yang terbungkus daster ketat. "Malam ini, antar kopi ke ruanganku jam sepuluh. Ada jadwal kerja yang harus kita bicarakan, Putri."
4183Please respect copyright.PENANAPhek31vnFQ
Dia menekan jemarinya di pinggangku sejenak sebuah penegasan kekuasaan sebelum akhirnya melangkah pergi sambil tertawa kecil. Aku mematung, ulekan di tanganku terasa sangat berat. Siti Nur mendongak, wajahnya pucat pasi.
4183Please respect copyright.PENANAoRoklgMGha
"Mbak... tolong jangan pergi ke ruangannya sendirian," bisik Siti lirih, suaranya bergetar.
4183Please respect copyright.PENANASbo5fSUkmB
Aku tidak menjawab. Jantungku berdegup kencang, menatap pintu dapur yang kini terasa seperti pintu menuju neraka. Di Riyadh, ternyata bukan cuma matahari yang bisa membakar kulitku, tapi juga tatapan pria yang memegang kunci kamarku.
4183Please respect copyright.PENANASpwbKrP0Gf
Baca kelanjutan ceritanya di https://victie.com/novels/istriku-milik-bull-india4183Please respect copyright.PENANAh8ZZ62uqzn


