Panas itu menghantam wajahku begitu aku melangkah keluar dari pintu pesawat di Bandara King Khalid. Bukan panas yang lembab seperti di Jakarta, melainkan panas yang kering, tajam, dan seolah menghisap cairan dari pori-pori kulitku. Di sinilah aku, ribuan kilometer dari Mas Juned dan anak-anak, demi sebuah janji masa depan yang lebih baik.
4486Please respect copyright.PENANAcUo9HhO64h
"Jangan melamun, Putri. Ayo, ikuti saya," tegur Zulaikha, perwakilan agensi di sini.
4486Please respect copyright.PENANAa035aR0nbF
Zulaikha adalah wanita yang baik. Sejak menjemputku, ia banyak memberi nasihat tentang cara bersikap. "Kamu beruntung, keluarga Al-Harbi itu salah satu yang terkaya.
Asal kamu rajin dan tidak banyak tingkah, kamu akan betah," bisiknya menenangkan.
4486Please respect copyright.PENANAvr8lNOh5ku
Namun, ketenanganku goyah saat mobil mewah yang membawaku berhenti di depan sebuah gerbang raksasa. Ini bukan rumah, ini adalah istana. Dindingnya tinggi dengan warna krem pasir, dihiasi ukiran-ukiran rumit yang memancarkan kemewahan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
4486Please respect copyright.PENANAC2d9fvoCbn
Saat pintu besar itu terbuka, aku disambut oleh barisan staf. Di sinilah culture shock itu benar-benar dimulai.
4486Please respect copyright.PENANA1mtGCBaMmm
"Selamat datang, ini adalah staf di kediaman Tuan Fahd," Zulaikha memperkenalkan mereka satu per satu.
4486Please respect copyright.PENANA0RnvqVIv2N
Pandanganku tertuju pada seorang pria yang berdiri paling depan. Tingginya mencolok, sekitar 178 cm, dengan kulit gelap yang kontras dengan seragam putihnya yang bersih.
4486Please respect copyright.PENANAoEUSheoPYw
"Ini Rajesh, kepala rumah tangga di sini," ujar Zulaikha.
4486Please respect copyright.PENANAuCai3ffGMw
Rajesh menatapku. Matanya tajam, sangat dominan, seolah sedang memindai setiap jengkal tubuhku dari balik pakaian batikku yang longgar. Ia tidak tersenyum, hanya mengangguk kecil dengan aura 'Alpha' yang sangat kental. Di belakangnya ada Ramesh Rao dan Joseph Mathew—keduanya dari India dengan perawakan yang tegap dan kokoh. Melihat mereka, aku merasa sangat kecil dan rapuh.
4486Please respect copyright.PENANA6Szx4Iur5u
"Halo, Mbak Putri... akhirnya ada teman dari Jawa juga," sebuah bisikan lirih datang dari Siti Nur, wanita asal Jawa Timur yang tampak ramah namun matanya menyiratkan kelelahan. Di sampingnya ada Fatima Santos dari Filipina yang tersenyum sopan.
4486Please respect copyright.PENANAS5U6SDOjYe
Aku baru saja hendak menyapa Siti, ketika suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah tangga marmer.
4486Please respect copyright.PENANAq1n4ETNffO
Tuan Fahd bin Rashid Al-Harbi muncul dengan jubah putih yang sangat rapi. Di belakangnya, dua sosok wanita cantik mengikuti. Nyonya Layla, sang istri utama, tampak anggun dan berwibawa. Sementara Nyonya Dana, istri kedua yang jauh lebih muda, terlihat glamor dengan perhiasan yang berkilau meski hanya berada di dalam rumah.
4486Please respect copyright.PENANAVjYtznV4PW
"Jadi, ini orangnya?" suara Tuan Fahd berat dan berwibawa.
4486Please respect copyright.PENANAaQMMjrKYFW
"Iya, Tuan. Ini Putri Inayah," jawab Zulaikha hormat.
4486Please respect copyright.PENANAuLeap6EFIN
Tuan Fahd mengangguk, lalu menoleh pada Rajesh. "Rajesh, berikan dia arahan. Pastikan dia tahu tugasnya di paviliun utama."
4486Please respect copyright.PENANAyQci7H6thC
"Baik, Tuan," jawab Rajesh dengan suara dalam yang membuat bulu kudukku meremang.
4486Please respect copyright.PENANAFIAuNysAbB
Zulaikha berpamitan setelah urusan administrasinya selesai. Kini, aku benar-benar sendiri di bangunan raksasa ini. Saat aku hendak mengangkat koper besarku, sebuah tangan besar berkulit gelap mendahuluiku.
Itu Rajesh. Tangannya yang berurat dan kuat mencengkeram gagang koperku dengan mudah.
4486Please respect copyright.PENANAK5ml8HtRGn
"Ikuti saya, Putri," ucapnya dalam bahasa Inggris yang patah-patah namun tegas.
4486Please respect copyright.PENANAEp8q4aIwnj
Aku berjalan di belakangnya, memperhatikan punggungnya yang lebar. Rumah ini begitu luas, begitu megah, namun entah mengapa, aku merasa seperti baru saja masuk ke dalam sebuah sangkar yang sangat sempit. Aroma parfum gaharu yang kuat di lorong ini mulai membuat kepalaku pening, berbaur dengan rasa cemas yang perlahan merayap di dadaku.
4486Please respect copyright.PENANAX8DgfFGiXV
Aku teringat Mas Juned. Di sini, di antara pria-pria asing yang badannya jauh lebih besar dariku, aku mulai menyadari bahwa perjuanganku bukan hanya soal membersihkan lantai marmer ini.
4486Please respect copyright.PENANANdetlEf2uW
Kamar ini lebih luas dari seluruh rumah kontrakanku di Indonesia. Tapi, AC yang menderu dingin di sini tidak mampu menghalau keringat dingin yang membasahi tengkukku. Aku baru saja meletakkan koper ketika sebuah ketukan pelan terdengar di pintu.
4486Please respect copyright.PENANAs17apiWv7r
"Mbak Putri? Saya Siti. Ayo, jangan kelamaan bengong, jadwal di sini ketat."
4486Please respect copyright.PENANAW9zgK7bN6g
Aku membuka pintu dan mendapati Siti Nur berdiri dengan wajah kaku. Tidak ada sapaan hangat khas orang Jawa yang biasa kutemui di pasar. Di sini, wajahnya seperti robot yang sudah diprogram.
4486Please respect copyright.PENANA4bLmTWc90B
"Ikuti saya. Saya tunjukkan bagian mana yang boleh kamu sentuh dan mana yang haram kamu injak," bisik Siti tanpa menoleh, langsung berbalik menyusuri koridor yang lantainya mengkilap seperti cermin.
4486Please respect copyright.PENANAgaxiw8lyx9
Aku berjalan di belakangnya, berusaha menghafal setiap belokan di rumah yang lebih mirip labirin ini. Siti menjelaskan dengan cepat tentang jadwal makan Tuan Fahd, jenis pembersih untuk meja marmer, hingga aturan dilarang berbicara kecuali ditanya.
4486Please respect copyright.PENANAEysng5BHth
Namun, fokusku buyar. Di ujung koridor yang luas, dekat pilar raksasa menuju ruang makan, sesosok pria berdiri mematung.
4486Please respect copyright.PENANAN6eaI7Oh7P
Rajesh.
4486Please respect copyright.PENANAZL40Mf2RPt
Kepala pelayan asal India itu sedang bersedekap. Seragam putihnya yang ketat menonjolkan otot lengannya yang gelap dan keras. Ia tidak sedang melakukan apa pun, hanya berdiri di sana. Tapi matanya... matanya seperti mata elang yang baru saja menemukan mangsa baru di tengah padang pasir.
4486Please respect copyright.PENANAXHIuZ6toK6
Aku menunduk, mencoba mempercepat langkah, tapi aku bisa merasakan tatapannya mengikuti setiap gerak pinggulku. Ada rasa panas yang menjalar di punggungku—rasa yang sama saat pria-pria di gang rumah sering menggodaku, tapi kali ini jauh lebih menindas.
4486Please respect copyright.PENANAC4OPnRwZrz
"Mbak, fokus!" tegur Siti lirih sambil menarik lenganku masuk ke area dapur yang luasnya gila-gilaan.
4486Please respect copyright.PENANAMww73FIUtn
"Maaf, Mbak... pria India itu, dia memang selalu berdiri di situ?" tanyaku dengan suara bergetar.
4486Please respect copyright.PENANA58Ch9s5nis
Siti berhenti mendadak. Ia mengecek sekitar, memastikan Joseph atau Ramesh tidak berada di dekat kami. Ia mendekat, aroma bumbu dapur dan sabun pembersih menguar dari tubuhnya.
4486Please respect copyright.PENANA3ZBmGqffmo
"Dengarkan saya, Putri," suaranya hampir tidak terdengar. "Di rumah ini, Tuan Fahd adalah raja. Tapi di wilayah pelayan, Rajesh adalah penguasanya. Dia yang mengatur siapa yang boleh tidur tenang dan siapa yang tidak."
4486Please respect copyright.PENANA5ssWXEn4X0
Jantungku berdegup kencang. "Maksud Mbak?"
4486Please respect copyright.PENANA33Rr3fxSNl
Siti menatapku dengan tatapan iba yang membuatku mendadak ingin menangis dan pulang saat itu juga.
4486Please respect copyright.PENANAomjQ9GwwAk
"Kamu cantik, Putri. Terlalu matang untuk ukuran pembantu baru," Siti menjeda kalimatnya, matanya melirik ke arah pintu dapur di mana bayangan Rajesh terlihat melintas perlahan.
4486Please respect copyright.PENANAntOIAGHr8n
"Jangan pernah berurusan sendirian dengan Rajesh di gudang atau ruang cuci. Kalau dia memanggilmu malam-malam... pura-puralah sakit atau jangan pernah keluar kamar."
4486Please respect copyright.PENANAKehQWt6ruZ
"Kenapa, Mbak? Dia kan cuma kepala pembantu?"
4486Please respect copyright.PENANAIEJaRdMASd
Siti memegang bahuku, remasannya kuat sekali. "Karena di rumah ini, kalau sesuatu terjadi padamu di tangan Rajesh, Nyonya tidak akan peduli, dan Tuan tidak akan mau tahu.
Kamu cuma angka di sini, Putri. Dan Rajesh... dia punya cara sendiri untuk 'menyambut' setiap pelayan baru yang dia sukai."
4486Please respect copyright.PENANAE30nB7h4mY
"Jangan pernah melamun di depan Rajesh," desis Siti Nur sambil menarik lenganku menjauh dari koridor utama. "Di sini, mata punya telinga, dan tembok punya nyawa."
4486Please respect copyright.PENANAeBEiRUINne
Aku hanya bisa menelan ludah. Kamar yang disediakan untukku memang mewah, jauh lebih bagus dari kontrakan petakku di Jakarta, tapi entah kenapa udaranya terasa mencekik. Belum ada satu jam aku di sini, tapi bulu kudukku tidak bisa diajak kompromi.
4486Please respect copyright.PENANA1WIqoMXUsO
"Ikut aku ke dapur belakang. Kamu harus tahu bedanya alat makan untuk Tuan, Nyonya, dan... kita," Siti melangkah cepat.
4486Please respect copyright.PENANAOLraPDuDM5
Saat kami melewati lorong sempit menuju area servis, langkahku mendadak terkunci. Di sana, bersandar di pilar marmer yang dingin, Rajesh berdiri menghalangi jalan. Dia tidak sedang bekerja. Dia hanya diam, memutar-mutar sebuah kunci di jarinya sambil menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala.
4486Please respect copyright.PENANA9wWYhxRosT
Tatapan itu tidak seperti tatapan majikan ke pelayan. Itu tatapan seorang pria yang sedang menilai barang dagangan.
4486Please respect copyright.PENANAy2jGavVrSl
"Siti," suara Rajesh berat, serak, dan penuh otoritas.
4486Please respect copyright.PENANA1xjmJe1VKY
Siti tertunduk dalam, langkahnya terhenti. "Iya, Rajesh?"
4486Please respect copyright.PENANAc7HkBYtdgW
"Biarkan dia yang membawa nampan kopi ke ruang kerja Tuan nanti malam. Kamu urus cucian di paviliun bawah," perintahnya dalam bahasa Inggris yang kaku tapi sangat jelas maksudnya.
4486Please respect copyright.PENANAAj748Iox91
"Tapi Rajesh, dia baru sampai. Dia belum tahu seler—"
4486Please respect copyright.PENANAavR8jIYqxZ
"Aku yang akan mengajarinya," potong Rajesh cepat. Dia melangkah maju satu tindak. Aroma rempah tajam dan parfum maskulin yang menyengat langsung menyerbu indra penciumanku.
4486Please respect copyright.PENANA4kUdOFcTDg
Rajesh berhenti tepat di depanku. Tubuhnya yang setinggi 178 cm membuatku harus mendongak. Dia sengaja berdiri terlalu dekat, melanggar batas ruang pribadiku hingga aku bisa merasakan hawa panas dari napasnya.
4486Please respect copyright.PENANAwcdAum8ISv
Tangannya yang besar dan gelap perlahan terangkat. Aku mengkeret, mengira dia akan memukulku. Namun, jarinya hanya menyentuh ujung kerudungku, merapikannya dengan gerakan yang sangat pelan—terlalu pelan hingga terasa seperti belaian.
4486Please respect copyright.PENANAS42wyIpZKk
"Putri..." dia menyebut namaku dengan aksen India yang kental. "Selamat datang di rumah Tuan Fahd. Di sini, kalau kamu pintar mengikuti aturanku, hidupmu akan sangat mudah."
4486Please respect copyright.PENANAgVeAsu9PcO
Dia menyeringai tipis, memperlihatkan deretan gigi yang rapi namun tatapannya tetap sedingin es. Setelah itu, dia berlalu begitu saja, sengaja menyenggol bahuku hingga aku sedikit terhuyung.
4486Please respect copyright.PENANABNfIx6fYPH
Aku berdiri mematung. Jantungku berpacu gila.
4486Please respect copyright.PENANAIcCVcCMJYh
"Mbak Siti..." suaraku bergetar, nyaris hilang.
4486Please respect copyright.PENANA1qDLgO1Epy
"Tadi itu... apa maksudnya dia mau mengajariku?"
4486Please respect copyright.PENANAEe7hWALOFS
Siti Nur tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan ketakutan yang mendalam. Dia merogoh saku celemeknya, mengeluarkan sebuah anak kunci kecil yang sudah karatan dan menyisipkannya ke tanganku secara sembunyi-sembunyi.
4486Please respect copyright.PENANAkQljN7jSBf
"Simpan ini. Ini kunci cadangan lemari kayu di kamarmu. Geser lemarinya ke depan pintu kalau kamu mau tidur malam ini," bisik Siti tanpa berani menatap mataku.
4486Please respect copyright.PENANAxNeieGC4SO
"Kenapa? Pintunya kan sudah ada kunci?" tanyaku bingung.
4486Please respect copyright.PENANAByxEYCRnXH
Siti menoleh ke arah Rajesh menghilang, lalu berbisik tepat di telingaku, "Rajesh pemegang semua kunci di rumah ini, Putri. Termasuk kunci kamarmu."
4486Please respect copyright.PENANASvFqDJw9Cl
Darahku mendadak terasa membeku. Aku meremas anak kunci kecil itu sampai telapak tanganku sakit, menyadari bahwa malam pertamaku di Riyadh mungkin akan menjadi malam yang paling panjang dalam hidupku.
4486Please respect copyright.PENANAgMBdIOXmOw
4486Please respect copyright.PENANA7gsUV53thq
4486Please respect copyright.PENANA8hxsKX3ZOX


