Udara pagi di kontrakan petak itu terasa lebih berat dari biasanya. Bau apek dari dinding yang lembab beradu dengan aroma parfum melati murahan yang biasa dipakai Putri Inayah. Di atas ranjang kayu yang berderit setiap kali ada gerakan, Inayah sibuk menata tumpukan map plastik berisi paspor, visa, dan surat kontrak kerja.
5148Please respect copyright.PENANA5HgfGHSws4
"Jadi kamu benar-benar mau berangkat, Buk?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, hambar dan getir. Aku menyandarkan bahu di kusen pintu yang catnya sudah mengelupas, memandangi punggung istriku.
5148Please respect copyright.PENANAvdrfDYDNIN
Di usia empat puluh tahun, tubuh Inayah justru sedang mekar-mekarnya; berisi, matang, dan selalu mengundang mata pria untuk sekadar melirik jika ia sedang belanja di tukang sayur depan gang.
5148Please respect copyright.PENANAObWly7F0XI
Inayah menghentikan gerakannya. Ia berbalik, menatapku dengan bibir yang mengerucut—sebuah ekspresi yang biasanya tampak manja, namun kali ini terasa seperti hantaman godam bagi harga diriku.
5148Please respect copyright.PENANAfnLikiGhVM
"Ya mau gimana lagi, Mas," suaranya serak, ada nada lelah yang dipendam bertahun-tahun di sana. "Adek sudah sabar menunggu Mas Juned sukses dengan bisnis dan usaha Mas.
5148Please respect copyright.PENANAIbPSF0glcD
Tapi sampai sekarang? Jangankan mobil, rumah pun kita masih ngontrak, Mas. Adek cuma pengen kita punya atap sendiri, yang nggak bocor tiap kali hujan besar."
5148Please respect copyright.PENANAIcE3w4pvPg
Aku terdiam. Lidahku kelu, seolah terkunci oleh bayang-bayang kegagalan yang berbaris rapi di ingatanku. Wajah-wajah penagih hutang saat bisnis kerupuk ku gulung tikar, tumpukan mainan plastik yang berdebu di gudang, hingga bau amis susu sapi yang membusuk karena mesin pendingin rusak—semuanya adalah monumen kekalahanku sebagai laki-laki.
5148Please respect copyright.PENANACoNE3zNavD
“Bagaimana dengan anak-anak? Dimas dan Shinta?” Tanyaku dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata.
5148Please respect copyright.PENANAElK4YIoDlE
“Kan ada kamu mas, lagian Dimas dan Shinta sudah beranjak dewasa, dulu ibuk seusia mereka sudah mandiri ikut bantu-bantu jualan nasi bungkus di pasar, ibu yakin kedua anak ibu juga mewarisi semangat yang sama”
5148Please respect copyright.PENANAjSPGHVbyeI
Inayah kembali merapikan berkas-berkasnya. Gerakannya gesit, seolah ia sudah tak sabar ingin bekerja di luar negeri.
5148Please respect copyright.PENANAAVA0aKsGp6
"Kata Bu Fatimah, di usia Adek yang sekarang, ini kesempatan terakhir buat berangkat. Apalagi sekarang gajinya tinggi di Arab sana, Mas. Adek bisa dapat lebih dari sepuluh juta rupiah sebulan. Bersih." Ia menoleh padaku, matanya berbinar oleh harapan yang menyakitkan. "Nanti Mas bisa ambil KPR, kan? Buat masa depan kita juga, Mas... buat harga diri kita di depan tetangga."
5148Please respect copyright.PENANAerAaGbrQEr
“Mas kan masih ada sisa tanah warisan bapak, masih bisa kok kalau sekedar beli rumah subsidi atau buat kuliahkan anak-anak”
5148Please respect copyright.PENANAQRBbxdusxf
Inayah menggelengkan kepalanya. “Jangan mas, itu kan masih ada jatah sama adik-adiknya mas Juned, nggak baik terlalu mengandalkan tanah warisan bapak”
5148Please respect copyright.PENANASpYy5j1RgQ
“Sepertinya bapak sudah nggak bisa ya mencegah keberangkatan ibuk ke Arab?”
5148Please respect copyright.PENANA6s3G6QFf05
“Maaf ya pak, sebenarnya pergi ke luar negeri itu cita-cita ibuk sejak masih muda. Nanti kalau keburu tua, malah penyakitan yang ada”
5148Please respect copyright.PENANAFU4ZY3J1Yo
“Lagian, kemarin kan bapak sudah ijinin ibuk buat berangkat kerja ke Arab?” Nadanya seolah memojokkan ku.
5148Please respect copyright.PENANAuiJNJ49aV8
Ingatanku ditarik kembali ke masa lalu, saat kami sedang bersantai di kamar ini. Saat itu aku kira itu hanyalah wacana semata dari istriku. Tak terpikirkan akan keseriusannya untuk pergi ke sana, seperti rencana lainnya yang sudah-sudah.
5148Please respect copyright.PENANAwv1ckiRzhl
Yang berakhir menjadi sekedar wacana tanpa ada realisasi nyata.
5148Please respect copyright.PENANACNxAFjbhh5
_____________________________
5148Please respect copyright.PENANANgn61A0ms8
Suasana Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pagi itu riuh oleh isak tangis dan pelukan formalitas. Inayah berdiri di sana, mengenakan seragam batik dari agen penyalur tenaga kerja. Kerudungnya yang rapi membingkai wajahnya yang tampak jauh lebih muda dan segar dibandingkan aku yang terlihat kusam dimakan beban pikiran.
5148Please respect copyright.PENANAudjiILml9b
Di sisi kanan dan kirinya, kedua anak kami bergelayut seolah tak ingin melepaskan sang ibu. Dimas, putra sulungku yang berusia 16 tahun, berusaha tampak tegar namun matanya merah dan sembab. Sementara Shinta, adiknya yang baru berusia 15 tahun, benar-benar hancur. Ia merengek manja, memeluk pinggang ibunya dengan erat sambil menyembunyikan wajahnya di dada Inayah.
5148Please respect copyright.PENANA5kBdMuSE63
"Ibu...jangan lama-lama di sana. Shinta nggak mau Ibu pergi," isak Shinta, suaranya teredam oleh kain batik seragam Inayah. Tangannya menggenggam kuat, seolah takut jika pegangannya lepas, ibunya akan hilang selamanya.
5148Please respect copyright.PENANANCWnL6t0Nc
Inayah mengusap rambut Shinta dengan lembut, lalu beralih menampar bahu Dimas.
5148Please respect copyright.PENANAFf1sqSzP0P
"Dimas, kamu sudah besar, Nak. Jaga Adik ya, jaga Bapak juga. Ibu pergi sebentar saja, supaya nanti kalian bisa sekolah tinggi, supaya kita punya rumah sendiri," bisik Inayah dengan suara yang bergetar menahan tangis.
5148Please respect copyright.PENANAdnZSMbCCiP
"Mas... jaga anak-anak," ucapnya lirih aku saat namanya dipanggil lewat pengerasan suara.
5148Please respect copyright.PENANAczFLpQxGGK
Aku menariknya ke dalam pelukan singkat, berbagi ruang dengan kedua anak kami yang masih enggan melepas. Ada rasa posesif yang tiba-tiba membuncah saat aku menghirup aromanya untuk kali terakhir.
5148Please respect copyright.PENANA6fnyGR5kas
Aku menyadari bahwa setelah ini, kehangatan tubuh yang matang ini akan berada ribuan kilometer jauhnya, di bawah atap pria asing yang tidak aku kenal.
5148Please respect copyright.PENANA0pZMZF5cBR
"Aku akan mencari kerja tetap, Nay. Aku janji," bisikku, meski aku sendiri ragu pada suaraku di tengah isakan Shinta yang semakin menguatkan.
5148Please respect copyright.PENANAVDScX82WBv
Inayah melepaskan pelukan itu perlahan. Ia mencium kening Dimas dan Shinta bergantian, lalu melihatnya dengan datangnya yang sulit diartikan—campuran antara harapan dan kepasrahan. Ia menyeret pembeli besarnya, berjalan menjauh dari pintu keberangkatan internasional.
5148Please respect copyright.PENANA8sWuGJmt3S
Kami bertiga berdiri mematung di balik pagar pembatas. Shinta masih sesenggukan di sampingku, sementara Dimas menatap kosong ke depan. Melihat pinggul Inayah yang bergoyang seiring langkah kaki yang mantap, aku merasakan perasaan aneh.
5148Please respect copyright.PENANAK8umk2Oo9A
Di sana, di negeri gurun yang keras, istriku yang cantik dan montok ini akan berjuang sendirian. Atau mungkin, dia tidak akan benar-benar sendirian.
5148Please respect copyright.PENANAZo2xkA931o
Ponselku bergetar di saku celana. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal:
5148Please respect copyright.PENANAKrD4lp4Rxr
"Istrimu cantik, Juned. Semoga dia beta melayani tuan barunya di sana."
5148Please respect copyright.PENANAjAlysixhmP
Jantungku berdegup kencang. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling terminal yang luas, namun hanya melihat kepadatan orang asing. Di tengah suasana, sosok Inayah menghilang di balik pintu kaca, meninggalkan aku dan kedua anakku dengan rasa cemas yang mulai menggerogoti hati nurani.
5148Please respect copyright.PENANAg1b9m0uBwk
5148Please respect copyright.PENANAJx6UENfqVF
5148Please respect copyright.PENANAkDmQQCTBtl


