Sore itu, Adam bergegas meninggalkan kantor.
Langkahnya cepat, seolah ada sesuatu yang mengejarnya dari belakang. Di layar ponselnya, sebuah pesan baru dari tunangannya muncul singkat.
5465Please respect copyright.PENANAJ4cqMsoj4n
“Jangan lupa bawa martabak, ya.”
5465Please respect copyright.PENANAX3GCnRwDVv
Ia hanya membaca sekilas, lalu memasukkan ponsel ke saku tanpa banyak berpikir. Setelah memastikan semua barangnya aman, ia berlari kecil menuju parkiran.
5465Please respect copyright.PENANAPiEUo0tJSj
Sebelum masuk ke mobil, Adam sempat mendongak.
Langit tampak mulai menggelap.
5465Please respect copyright.PENANAYq7WECJfFb
“Sepertinya akan hujan,” gumamnya pelan.
5465Please respect copyright.PENANAUNS3j61Vak
Di perjalanan, pikirannya tak benar-benar tenang.
Hari Sabtu seharusnya menjadi hari istirahat, tapi ia masih harus membagi waktu—antara dirinya sendiri, pekerjaannya, dan Siska…
tunangannya yang terlalu sering ingin segalanya berjalan sesuai keinginannya.
5465Please respect copyright.PENANAyfexqnjmhw
Kadang Adam berpikir untuk mengakhiri semuanya.
Namun selalu ada sesuatu yang menahannya. Entah karena kebiasaan, atau karena terlalu lama terjebak dalam hubungan yang sudah terlanjur dibangun bertahun-tahun. Pertunangan itu bukan hal kecil—ada janji, ada rencana pernikahan yang sudah mulai disusun.
Dan Adam… belum benar-benar berani menghancurkannya.
5465Please respect copyright.PENANAvz3TvQ06Ci
Rumah Siska berdiri di kawasan perumahan yang tenang dan cukup elit di pinggiran kota.
5465Please respect copyright.PENANAZuUN4KvNkq
Tok. Tok. Tok.
Pintu dibuka oleh seorang wanita paruh baya dengan daster longgar dan wajah yang sudah sangat familiar baginya.
5465Please respect copyright.PENANAEKG74gzCLL
“Eh, Adam. Masuk.”
5465Please respect copyright.PENANAgB1w4aNDop
“Siska minta martabak, Tante. Ini aku bawakan,” ucap Adam sambil menyerahkan bungkusan di tangannya.
Wanita itu tersenyum kecil, setengah mengeluh.
5465Please respect copyright.PENANA0Cz1T0BFDG
“Dia itu memang suka seenaknya. Masuk dulu saja.”
5465Please respect copyright.PENANA3eXyvLQthb
“Iya, Tante.”
5465Please respect copyright.PENANAFaQbB6wNiA
Adam melangkah masuk.
Rumah itu terasa luas, terlalu luas untuk hanya dihuni dua perempuan. Sunyi yang tertata rapi, seolah setiap sudutnya menyimpan rutinitas yang sama setiap hari.
5465Please respect copyright.PENANAqfsrH1kr6h
Maya, ibu Siska, sudah lama hidup sendiri sejak kepergian suaminya tiga tahun lalu. Kecelakaan yang merenggutnya perlahan, setelah tiga bulan terbaring tanpa sadar.
Sejak itu, hidup mereka berjalan dengan cara yang berbeda—lebih sunyi, tapi tetap bertahan.
5465Please respect copyright.PENANAQxuGGgVXnG
Tak lama, suara langkah terdengar dari arah tangga.
Siska muncul dengan rambut basah yang dibungkus handuk, pakaian santai menempel di tubuhnya setelah mandi.
5465Please respect copyright.PENANAMUsGmOVdnh
“Habis mandi?” Adam membuka percakapan ringan.
5465Please respect copyright.PENANArC2cRjPztE
“Iya. Gerah banget habis olahraga,” jawab Siska santai.
5465Please respect copyright.PENANAIvkLZpZTFF
Maya yang baru saja kembali ke ruang tamu langsung menyela.
5465Please respect copyright.PENANAufarYftlNJ
“Siska, martabaknya dibawa Adam tuh.”
5465Please respect copyright.PENANA7FjpuOgpXi
“Aku tahu, Ma. Aku yang suruh dia beli.”
5465Please respect copyright.PENANAdrlos2DleQ
Maya menghela napas pelan, menggeleng kecil.
“Kamu itu ya… lain kali jangan terlalu menyuruh Adam macam-macam.”
Lalu ia pergi ke dapur, meninggalkan keduanya.
Adam dan Siska hanya saling pandang dan tertawa kecil, tidak terlalu memikirkan omelan itu.
5465Please respect copyright.PENANACS5ytSU9Wu
“Hujannya makin deras…” Siska menatap ke luar jendela. “Malam ini kamu menginap saja, ya.”
Adam ragu sejenak. “Aku masih bisa pulang.”
5465Please respect copyright.PENANA0oQ1aHOFoy
Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, suara petir menggelegar di luar.
DDAAARRR!
5465Please respect copyright.PENANAkrLWzeq022
Siska tersenyum tipis. “Nah.”
5465Please respect copyright.PENANAaVr4T7ATsh
Adam menghela napas, menyerah.
“Sepertinya aku memang harus bermalam.”
5465Please respect copyright.PENANAux74YPDFdl
Malam turun perlahan.
Lampu ruang tamu diredupkan. Suara hujan di luar menjadi latar yang konstan, seperti detak waktu yang berjalan lambat.
Adam berbaring di sofa dengan selimut dan bantal dari Siska. Sesekali ia menatap ponselnya, namun tidak ada yang benar-benar menarik perhatiannya… sampai satu pesan tanpa nama muncul.
5465Please respect copyright.PENANATEk35O9qlY
“Dia sudah tidur?”
5465Please respect copyright.PENANAuRgyxMiaiD
“Sepertinya…” balas Adam singkat.
5465Please respect copyright.PENANAS6K0IXCLkh
“Kamu ingin bermain?”
5465Please respect copyright.PENANAlZClSvU3Fq
Jeda kecil.
5465Please respect copyright.PENANAowS51F1Ux1
“Masuk ke kamar. Aku menunggumu.”
5465Please respect copyright.PENANA4E4k2B2uo2
Adam menghela napas pelan.
Senyumnya muncul tanpa ia sadari.
Seperti ada sisi dirinya yang selama ini selalu menunggu pesan seperti itu.
5465Please respect copyright.PENANAxVuftjVWqq
Dengan hati-hati, ia bangkit dari sofa. Rumah sudah sunyi. Hanya jam dinding yang berdetak pelan, dan suara hujan yang semakin rapat.
Ia berjalan menuju dapur.
Di sampingnya, pintu kamar lama yang kini kosong berdiri diam.
5465Please respect copyright.PENANA9FscphUgjx
Adam ragu sejenak, lalu mengetuk pelan.
5465Please respect copyright.PENANA22vNdFXs7m
Tok...
5465Please respect copyright.PENANAqiSlRT5xE3
Tok...
5465Please respect copyright.PENANAzMs9TSYSnT
Pintu terbuka perlahan.
Dan di sana, berdiri seorang wanita dewasa dengan pakaian yang menggoda dalam kesederhanaannya—seolah malam itu memang diciptakan hanya untuk mereka berdua.
5465Please respect copyright.PENANAf7WU72BvLc
“Masuklah, sayang,” ucap Maya pelan.
Suaranya lembut, tapi cukup untuk membuat batas antara “seharusnya” dan “tidak seharusnya” perlahan runtuh.
5465Please respect copyright.PENANAU8Y245YMLC
BERSAMBUNG...
Kisah lengkapnya: https://lynk.id/shark95
5465Please respect copyright.PENANAZKZrPC4XXk


