Aku menatap jarum jam di dashboard mobil yang menunjukkan pukul tujuh malam. Lampu jalanan sudah mulai menyala, satu demi satu, berakhirnya perjalanan pulangku melewati jalan-jalan di Jakarta Selatan yang tidak pernah sepi dari kendaraan. Di kursi penumpang di sebelahku duduk sekuntum mawar merah yang kupesan dari toko bunga langganan di dekat kantor, dibungkus kertas kresek hitam dengan pita emas yang melingkar di batangnya. Di tempatnya, sebuah kotak kado kecil berwarna ungu dengan pita satin merah muda.
2170Please respect copyright.PENANAba8gW78ZSt
Hari ini genap dua tahun aku dan Amira menyandang status suami istri. Dua tahun. Terasa begitu cepat, tapi juga terasa begitu berarti. Aku menggeser tuas persneling, memasuki jalan kecil yang menuju ke rumah kami. Pohon mangga di pekarangan rumah tetangga sudah mulai berbuah, cabang-cabangnya menjuntai rendah seolah menyapa setiap kendaraan yang lewat.
2170Please respect copyright.PENANA5nTG65caK3
Rumah kami berdiri di ujung gang komplek, sebuah rumah sederhana tipe 72 meter persegi yang saya beli segera setelah menikah dua tahun lalu. Cat putihnya masih terlihat bersih, meski sudah mulai ada retakan kecil di beberapa bagian dinding teras.
2170Please respect copyright.PENANAuudHAf69C1
Lampu-lampu rumah sudah menyala terang, menyambut rona keunguan yang mulai menarik gelapnya malam. Aku Parkir mobilku ke garasi rumah dan menutup kembali pagar.
2170Please respect copyright.PENANA2d8NrnVn0s
Mawar dan kotak kado itu aku ambil dengan hati-hati. Langkahku menuju pintu depan terasa lebih ringan dari biasanya. Ada semacam kegirangan yang sulit kujelaskan semacam antusiasme yang mungkin terdengar konyol untuk seorang pria berusia 32 tahun, tapi aku tidak peduli. Malam ini adalah malam yang seharusnya istimewa.
2170Please respect copyright.PENANAxXunuLHbJt
Pintu depan tidak terkunci. Aku memutarnya dan langsung disambut oleh aroma wangi pelembut pakaian yang biasa Amira gunakan untuk mencuci gorden ruang tamu. Ruangan terasa hangat, penerangan lampu tengah menciptakan bayangan lembut di sudut-sudut ruangan.
2170Please respect copyright.PENANAYufAUY8T1V
“Assalamualaikum..” salam kuucapkan seperti biasa sebagai tanda bahwa aku sudah pulang.
2170Please respect copyright.PENANAwJudRuIlEX
“Waalaikumsalam, mas sudah pulang? Tumben” Amira membongkar menyambut ku, di ambilnya tangan kananku dan diciumnya dengan lembut.
2170Please respect copyright.PENANArM67jzfjyl
“Iya, semua kerjaan sudah beres, mi”
2170Please respect copyright.PENANAwdmN95utfi
Meski sudah menikah dan tinggal bersama, aku selalu kagum akan kecantikan Amira istriku. Dibalut dengan gamis yang menutupi aurat dan hijab yang memastikan lekuk tubuhnya tidak terlihat oleh siapa pun.
2170Please respect copyright.PENANADxRb0LAE65
2170Please respect copyright.PENANA9ZVqHfnV5V
2170Please respect copyright.PENANAV5oWKi0V7M
"Apa ini mas? Kado?" tanyanya saat mata yang besar berwarna coklat jernih itu didengar pada mawar dan kotak kado.
2170Please respect copyright.PENANAKHetDijpwq
"Hari ini kan Ulang tahun pernikahan kita, Sayang. Sudah Dua tahun kita menikah." Aku menyodorkan mawar itu kepadanya dengan ekspresi bahagia di wajah.
2170Please respect copyright.PENANAeAmK4paFGr
Amira menerima mawar itu dengan kedua tangannya, jari-jarinya yang ramping memegang batang bunga dengan hati-hati. Ia mencium hidungnya ke kelopak mawar, menarik napas pendek. "Wanginya enak mas. Terima kasih."
2170Please respect copyright.PENANA3waiWiSU17
"Ini juga." Aku memberikan kotak kado ungu itu.
2170Please respect copyright.PENANAHChJ5gYzzm
"Apa ini ya? Boleh aku buka sekarang?." Tanya dengan nada lembut.
2170Please respect copyright.PENANAsdF87XInhw
“Boleh dong, justru aku mau kamu buka hadiahnya sekarang juga.”
2170Please respect copyright.PENANA12xHanlY7X
Amira memandang dengan pandangan bertanya, lalu menarik pita satin yang mengikat kotak itu. Aku memperhatikan wajahnya, menunggu reaksi yang kuharapkan. Kotak itu terbuka, dan di dalamnya sepotong kain—sebuah pakaian dalam berwarna merah marun dengan renda hitam di bagian dada dan aksen terbuka di bagian perut.
2170Please respect copyright.PENANAibuyqB86x4
Amira menjawab. Tangannya yang memegangi kotak kado itu berhenti bergerak. Matanya menatap isi kotak dengan ekspresi yang tidak bisa langsung kubaca.
2170Please respect copyright.PENANALh5qRji4Ht
"Kenakan untuk malam ini, ya," ujarku, mencoba terdengar santai. "Aku pikir... ini bisa menjadi sesuatu yang berbeda untuk kita."
2170Please respect copyright.PENANAfP2831MKrW
Lambat laun, ekspresi Amira berubah. Alisnya yang rapi itu sedikit berkedut, dan bibirnya yang biasanya menampilkan senyum hangat kini terlihat kaku. Ia menutup kotak itu dengan cepat, seolah-olah isi di dalamnya adalah sesuatu yang tidak seharusnya dilihat.
2170Please respect copyright.PENANA7erOOSDsOZ
“Mas membelikan ini untukku?” suaranya berubah, lebih rendah dari biasanya.
2170Please respect copyright.PENANADfIc37NqcD
"Iya. Kenapa?"
2170Please respect copyright.PENANABe1PQ2f6iF
Amira menggelengkan kepalanya. Tangannya menggenggam kotak kado itu lebih erat. “Ini… ini tidak pantas, Mas.”
2170Please respect copyright.PENANAdv1mD5jLgn
"Apa yang tidak pantas? Itu hanya untuk di rumah, hanya untukku." Aku mencoba mengambil tangannya, tapi dia menariknya ke belakang.
2170Please respect copyright.PENANAVOlcvK8NzE
“Pakaian seperti ini…” Amira menarik napas, dadanya yang tertutup gamis longgar itu naik turun dengan tidak teratur. "Ini pakaian haram, Mas. Pakaian seperti... seperti pelacur!"
2170Please respect copyright.PENANAfkYoDjaIWL
Kata itu mendarat di telingaku seperti sebuah penandatanganan. Saya mendengarkan, tidak bisa langsung menemukan kata-kata untuk merespons.
2170Please respect copyright.PENANAIfSWVWvAP4
"Amira—"
2170Please respect copyright.PENANAWLUDH4KM5R
“Tidak, Mas.” Amira mengucapkan ucapanku. Suaranya mulai meninggi, sesuatu yang sangat jarang terjadi. "Aku tidak bisa memakai ini. Aku tidak mau. Ini... ini sangat tidak sopan. Bagaimana Mas bisa membelikan sesuatu seperti ini?"
2170Please respect copyright.PENANAgZmS4Cbbka
Ia berbalik, dan sebelum aku bisa berkata apa-apa, kotak kado itu sudah terlempar ke lantai. Isinya bergulir keluar—kain merah marun dengan renda hitam tergeletak di ubin ruang tamu, terlihat mencolok di antara warna netral sofa dan karpet.
2170Please respect copyright.PENANAdY6WTrFZGN
Aku menatap pakaian dalam itu, lalu menatap Amira yang kini berdiri dengan kedua tangan meremas kerudungnya. Wajahnya yang biasanya tenang kini memerah, matanya berkilat oleh sesuatu yang tidak bisa kusebut sebagai marah—mungkin lebih dari itu. Kecewa? Tidak, itu tidak mengecewakan. Sesuatu yang lebih dalam.
2170Please respect copyright.PENANA1756KYEBNQ
"Amira, dengarkan dulu—"
2170Please respect copyright.PENANABJZ6ta5YBB
“Tidak ada yang perlu didengarkan, Mas.” Suaranya pecah. "Aku istri Mas. Bukan... bukan wanita semacam itu. Aku tidak mengerti kenapa Mas bisa memikirkan hal seperti ini."
2170Please respect copyright.PENANAo0cDzeE9AY
Aku mengambil langkah ke arah, tapi ia mengambil langkah ke belakang. Jarak di antara kami terasa seperti sebuah jurang yang tiba-tiba terbentang.
2170Please respect copyright.PENANAy3vkuM8bGT
"Selama ini aku mencoba menjadi istri yang baik untuk Mas. Aku menjalankan kewajibanku. Aku menjaga penampilanku sesuai dengan yang diajarkan agama. Dan Mas membelikanku... ini?" Amira menunjuk ke arah pakaian dalam yang diletakkan di lantai dengan jari yang bergetar.
2170Please respect copyright.PENANA1LHz1ar4BY
Aku menarik napas. Sebuah rasa sesuatu yang tidak bisa kusebut namanya mulai menggenang di dada. Malam yang kurencanakan dengan begitu baik—mawar, kado, mungkin makan malam yang sudah ia siapkan—tiba-tiba terasa seperti sebuah kenangan yang tidak akan pernah terjadi.
2170Please respect copyright.PENANA3sS5kJ2KR0
"Baiklah." Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. "Kalau itu yang kamu mau."
2170Please respect copyright.PENANAYHjkzYoxN3
Aku memutar tanpa menunggu responnya. Langkahku menuju pintu depan terasa berat, tapi aku terus melangkah. Di belakangku, aku bisa mendengar suara napas Amira yang tidak teratur, tapi aku tidak menoleh.
2170Please respect copyright.PENANAzQh12Lo7zw
"Mau ke mana?" suara terdengar dari belakang.
2170Please respect copyright.PENANA4KaXhFhILo
Aku tidak menjawab. Pintu depan kubuka, dan udara malam yang hangat langsung menyapu wajahku. Di teras, aku berhenti sejenak, menatap langit yang sudah gelap dengan beberapa bintang yang mulai terlihat di antara celah-celah awan.
2170Please respect copyright.PENANAn36CrR8koH
Mawar merah yang tadi ia terima diletakkan di meja kecil di sudut ruang tamu. Aku tidak membawanya. Aku juga tidak membawa pakaian dalam yang tergeletak di lantai. Yang kubawa hanyalah sesuatu yang tidak terlihat—sebuah kekecewaan yang tidak bisa kusebut namanya, dan kekosongan di mana seharusnya ada perayaan.
2170Please respect copyright.PENANAISBrRveIzY
Mobil kuhidupkan lagi. Mesin menderu, memecah keheningan malam. Aku tidak tahu harus kemana, tapi senang sudah mengarahkan mobil ke suatu tempat—rumah Budi, temanku sejak kuliah. Tempat di mana aku bisa duduk, minum kopi, dan melupakan malam ini. Setidaknya untuk beberapa jam.
2170Please respect copyright.PENANAEHqn2GxlIP
2170Please respect copyright.PENANAr91VJNHMOd
2170Please respect copyright.PENANAPk29c2Fyr9


