Saya bernama Rafi, 28 tahun, seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan barang konsumen di kawasan Sudirman, Jakarta. Standar pekerjaanku: masuk pukul delapan pagi, duduk di depan komputer selama delapan jam, rapat sesekali, lalu pulang saat macet sudah mulai padat. Hidupku monoton. Pagi-pagi sudah stress karena kemacetan Jakarta yang tak pernah ampun, siang makan siang cepat di food court, malam pulang ke kosan kecil di Tebet, mandi, makan mie instan, lalu tidur. Teman-teman kantor kebanyakan suka ngajak nongkrong ke kafe atau bar setelah kerja, tapi aku jarang ikut. Lebih sering rebahan sambil scroll HP atau main game sampai larut.
6497Please respect copyright.PENANAU2f9L5b72a
Di antara semua rekan kerja, ada satu orang yang sangat berbeda: Farhan.
6497Please respect copyright.PENANAP1luvXTJvG
Farhan adalah tipe pria yang langsung terlihat beda. Usianya 30 tahun, sudah menikah dan punya satu anak kecil. Janggutnya panjang, rapi, dan selalu terawat. Dia tidak pernah memakai baju kantor biasa seperti kemeja lengan pendek dan celana chino. Farhan selalu hadir dengan gamis panjang berwarna putih atau abu-abu polos, terkadang dipadukan dengan peci hitam. Bau minyak wangi khas masjid sering menempel di bajunya. Di kantor dia dikenal sebagai orang yang paling rajin sholat. Setiap waktu sholat tiba, dia langsung bangun, ambil wudu di toilet, lalu sholat di musholla kantor kecil. Bahkan di jam istirahat siang, dia sering ikut kajian online atau membaca buku agama di kubikelnya.
6497Please respect copyright.PENANAb8NMQECcf5
Aku dan Farhan sering kerja sama di tim yang sama. Dia orangnya ramah, tapi tegas dalam hal prinsip. Hampir setiap minggu dia mengajakku ikut kajian.
6497Please respect copyright.PENANA6PPOf9tmo9
“Rafi, malam ini ada kajian di rumah Ustadz Abdullah di Ciputat. Topiknya tentang sabar dan akhlak mulia. Ikut yuk gan. Bisa refreshing dari rutinitas kantor,” katanya suatu sore sambil merapikan berkas di meja.
6497Please respect copyright.PENANAcHeQSTXbEH
Aku hanya tersenyum tipis sambil mengetik laporan. “Ah, capek banget, Han. Hari ini rapat sampai sore, pulangnya macet. Besok aja deh.”
6497Please respect copyright.PENANAPe6pNKGLdO
Farhan tidak pernah marah. Dia hanya mengangguk pelan dan tersenyum. “Ya sudah. Tapi ingat ya, ilmu itu lebih penting daripada capek. Kalau kapan-kapan mau ikut, bilang aja.”
6497Please respect copyright.PENANAnRKx43EDnR
Saya sudah mendengar ajakan itu puluhan kali dalam setahun terakhir. Selalu kutolak dengan alasan yang sama: capek, ada kerjaan, mau istirahat, atau mau nemenin temen lain. Sebenarnya bukan karena aku anti agama. Aku masih sholat lima waktu, puasa Ramadhan, tapi hidupku terlalu sibuk dengan hal-hal duniawi. Kajian terasa terlalu “berat” untukku saat itu.
6497Please respect copyright.PENANAXKauZg2GnN
Tapi sakit itu, entah kenapa, ada sesuatu yang berbeda.
6497Please respect copyright.PENANAhpr0MPCY8L
Hari itu Kamis. Cuaca Jakarta panas sekali, AC kantor pun terasa kurang dingin. Aku baru saja menyelesaikan presentasi yang melelahkan di depan atasan. Badanku pegal, kepala pusing, dan pikiranku kosong. Saat Farhan lagi-lagi mengajak dengan nada yang sama seperti biasa, aku diam sejenak. Biasanya langsung menjawab “tidak”, tapi kali ini lidahku terasa berat.
6497Please respect copyright.PENANAq6SSxn0S31
Aku menatap Farhan yang sedang memakai pecinya. Janggutnya yang panjang membuat wajahnya terlihat lebih dewasa dan tenang. Ada sesuatu di matanya — ketenangan yang tidak pernah saya miliki. Hidupku penuh kekhawatiran kecil: target kerja, cicilan motor, tagihan kos, dan rasa sepi di malam hari. Mungkin aku membutuhkan sesuatu yang berbeda.
6497Please respect copyright.PENANAUMyju0dpe5
“Oke,” kataku tiba-tiba.
6497Please respect copyright.PENANAuyIWlaULN3
Farhan langsung berhenti merapikan tasnya. Matanya membulat kaget. "Hah? Oke, apa?"
6497Please respect copyright.PENANAUKxKLYc7l4
“Aku kajian ikut malam ini,” jawabku sambil tersenyum kecil. "Tapi cuma sekali ya. Kalau tidak cocok, jangan ajak lagi."
6497Please respect copyright.PENANAOMLKF9vsWa
Farhan langsung tersenyum lebar, sepertinya terlihat. "Alhamdulillah! Serius, Rafi? Jangan bohong ya. Ini berkah besar."
6497Please respect copyright.PENANA1IhpGE7mfd
Aku mengangguk. "Serius. Jam berapa dan di mana?"
6497Please respect copyright.PENANAhM6vvUyHoP
"Jam tujuh malam di rumah Ustadz Abdullah, daerah Sawah Baru, Ciputat. Aku jemput kamu di kosan jam setengah tujuh ya? Biar bareng motor."
6497Please respect copyright.PENANAMYiIGk3uDM
"Kesepakatan."
6497Please respect copyright.PENANA5cUfEKsmuf
Sepanjang sore aku merasa aneh dengan keputusan sendiri. Kenapa tiba-tiba mau ikut? Aku bukan tipe orang yang suka kajian. Tapi ada rasa penasaran yang muncul entah dari mana. Mungkin karena bosan dengan hidup yang itu-itu saja. Atau mungkin karena saya ingin melihat bagaimana orang seperti Farhan hidup.
6497Please respect copyright.PENANAHudg1i7qMs
Jam setengah tujuh tepat, Farhan sudah menunggu di depan kosanku dengan motor maticnya. Aku naik ke belakang, pakai jaket hitam biasa. Perjalanan ke Ciputat memakan waktu hampir satu jam karena macet parah. Kami menikmati ringan di jalan. Farhan cerita tentang ustadz yang akan mengisi kajian malam ini — seorang alumni Timur Tengah yang pengajarannya tegas tapi lembut.
6497Please respect copyright.PENANAz6Oa0iPXED
Saat tiba di lokasi, saya langsung merasa masuk ke dunia yang berbeda.
6497Please respect copyright.PENANAndeethObEM
Rumah Ustadz Abdullah cukup besar untuk ukuran pinggiran Jakarta. Halamannya luas, ada beberapa mobil dan motor parkir rapi. Begitu masuk pintu utama, aroma minyak attar dan kopi arabika langsung menyambut. Ruang tamu yang luas sudah dipenuhi karpet hijau tebal. Di bagian depan ada mimbar kecil dari kayu sederhana. Para ikhwan sudah banyak duduk bersila, hampir semuanya berjenggot panjang, memakai gamis atau baju koko putih, peci hitam atau sorban. Suasana sangat khusyuk. Tidak ada dialog keras, hanya bisik-bisik pelan dan salam salam.
6497Please respect copyright.PENANAKS3kh3sTbN
Aku duduk di belakang Farhan, agak gugup. Badanku terasa tidak pas dengan baju kaos dan celana jeans yang kukenakan. Beberapa orang melirikku sekilas, tapi tidak ada yang berkomentar. Farhan memperkenalkanku pada dua-tiga orang di sebelah kami. “Ini Rafi, teman kantor. Baru pertama kali ikut.”
6497Please respect copyright.PENANAVdpQco6BJE
“Waalaikumsalam, selamat datang, Akhi,” kata salah satu dari mereka ramah.
6497Please respect copyright.PENANAsV38etcQ2T
Lalu aku melihat bagian belakang ruangan.
6497Please respect copyright.PENANAc7FCEUq4N5
Di sana, terpisah oleh tirai tipis dan jarak yang cukup jauh, duduk untuk akhwat. Hampir semua orang memakai hijab lebar yang menutupi dada dan bahu, rok panjang sampai mata kaki, dan gamis longgar. Beberapa bahkan memakai cadar hitam pekat, hanya menyisakan sepasang mata. Suasana di bagian mereka sangat tertutup dan tenang. Aku tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas, tapi postur tubuh beberapa di antaranya langsung menarik perhatianku.
6497Please respect copyright.PENANAHBZ5zphBPR
Salah satunya adalah seorang akhwat yang duduk agak ke samping. Meski memakai abaya hitam longgar dan cadar, tubuhnya tetap menonjol. Dadanya terlihat penuh dan montok, kain abaya tidak mampu menyembunyikan lekukannya yang besar dan padat. Setiap kali dia sedikit membungkuk untuk mencatat, kain itu menempel sebentar di tubuhnya, menampilkan siluet payudara yang berat dan sempurna. Aku langsung menunduk, merasa bersalah karena mencuri pandang. Tapi mata itu sulit dialihkan.
6497Please respect copyright.PENANAG5sXik8sSP
Kajian dimulai tepat jam tujuh lewat lima belas menit.
6497Please respect copyright.PENANAh0ZbwLSIal
Ustadz Abdullah naik mimbar. Suaranya tenang tapi tegas. Topik malam itu tentang “Menjaga Hati dari Godaan Dunia Modern”. Beliau berbicara tentang pentingnya ilmu, kesabaran, dan menjauhi hal-hal yang bisa merusak akhlak. Aku mendengarkan dengan saksama. Banyak hal yang beliau sampaikan ternyata menyentuh kehidupanku: rutinitas kerja yang membuat lupa akhirat, kebiasaan menggulir media sosial yang sia-sia, dan rasa sepi yang sebenarnya bisa terisi dengan mendekatkan diri kepada Allah.
6497Please respect copyright.PENANA6f9mQOu89G
Waktu berlalu cepat. Kajian berlangsung hampir dua jam. Di akhir, ada sesi tanya jawab singkat. Beberapa ikhwan bertanya, termasuk Farhan yang mengajukan pertanyaan tentang bagaimana mengajak teman kantor yang masih jauh dari agama.
6497Please respect copyright.PENANADc1OYbKlFD
Setelah kajian selesai, para jamaah bubar secara tertib. Ada yang langsung pulang, ada yang ngobrol sebentar di teras sambil minum teh hangat yang disediakan. Farhan mengajakku ke depan untuk bersalaman dengan ustadz.
6497Please respect copyright.PENANA67GnNgfZlk
“Alhamdulillah Akhi Rafi ikut malam ini. Semoga bermanfaat,” kata Ustadz Abdullah sambil dikirimkan erat.
6497Please respect copyright.PENANAyfOzaiBviH
“Iya Ustadz, sangat bermanfaat. Saya baru sadar banyak hal yang selama ini terlewat,” jawabku jujur.
6497Please respect copyright.PENANAd0P3lt78tz
Farhan tersenyum bangga di sebelahku.
6497Please respect copyright.PENANA836yCu18kA
Saat kami hendak pulang, aku tidak sengaja melihat lagi ke arah akhwat yang tadi menarik perhatianku. Dia sedang berdiri di dekat pintu keluar bagian wanita, perlahan berbicara dengan seorang akhwat lain. Cadarnya masih terpasang rapat, tapi matanya — hitam pekat dengan bulu mata lentik — sebentar menatap ke arah kami. Hanya sekilas, tapi cukup membuat hatiku berdegup sedikit lebih cepat.
6497Please respect copyright.PENANA2SBnq5KQEC
Dalam perjalanan pulang, Farhan bertanya dengan antusias, "Gimana, Rafi? Mau ikut lagi minggu depan?"
6497Please respect copyright.PENANAtgHDq3wMhd
Aku diam sejenak, menatap lampu-lampu jalan yang lewat. Malam ini terasa berbeda. Bukan hanya karena kajiannya, tapi ada sesuatu yang baru muncul di dalam diriku. Rasa penasaran. Rasa ingin tahu lebih banyak tentang dunia yang selama ini aku hindari.
6497Please respect copyright.PENANAonBvlqgcby
“Mungkin iya,” jawabku pelan. “Kita lihat minggu depan.”
6497Please respect copyright.PENANATDrcXr8PZ2
Farhan tertawa kecil. "Alhamdulillah. Ini awal yang bagus mas."
6497Please respect copyright.PENANAstTso2gHeH
Malam itu, saat sudah sampai di kosan dan berbaring di kasur, aku tidak langsung tidur. Pikiranku melayang ke ruangan kajian itu. Ke janggut-jenggot panjang, suara ustadz yang tenang, dan terutama sosok akhwat yang bercadar dengan dada montok yang tidak bisa disembunyikan oleh kain longgar itu.
6497Please respect copyright.PENANA4GH3pRNg6N
Aku tidak tahu nama dia. Aku bahkan belum pernah berbicara dengannya.
6497Please respect copyright.PENANAIgZpSmekzL
Tapi entah kenapa, aku sudah merasa ingin kembali ke majelis itu lagi.
6497Please respect copyright.PENANAa1AUu759S8
Dan kali ini, bukan hanya karena kajiannya.
6497Please respect copyright.PENANA7itLIVmXCp
6497Please respect copyright.PENANAKGQVkUSM3L


