Semburat fajar baru saja pecah, menyisakan hawa dingin yang menusuk pori-pori. Aku berdiri di ambang pintu, masih mengenakan setelan katun maroon semalam yang terasa lembut di kulitku, namun kini aku telah mengenakan jilbab instan dan cadar abu-abu untuk menutupi wajahku dari pandangan luar.
40663Please respect copyright.PENANAOLZyNshKJQ
Suamiku berdiri di hadapanku, merapikan kerah kemejanya yang sedikit miring. "Mi, Abi berangkat ya. Mungkin seminggu ini Abi tidak pulang, ada urusan kantor mendadak di luar kota yang harus diselesaikan," ucapnya sembari memegang kedua bahuku.
40663Please respect copyright.PENANABzHfxEaH0C
Ia lalu mengecup keningku dengan lembut. Cup. Kecupan yang singkat, namun terasa tulus. "Hati-hati di rumah, kunci pintu kalau malam. Kalau ada apa-apa, langsung telepon Abi, ya?"
40663Please respect copyright.PENANAhplxmdTvso
"Iya, Bi. Abi juga hati-hati di jalan. Jangan lupa makan dan jaga kesehatan," jawabku pelan. Ada sedikit rasa hampa membayangkan rumah ini akan sesunyi kuburan selama seminggu ke depan, namun aku berusaha menyunggingkan senyum di balik cadar.
40663Please respect copyright.PENANAOxkFx6Ani1
"Assalamu’alaikum," ucapnya sebelum memasuki mobil.
40663Please respect copyright.PENANApeIRxQLndG
"Wa’alaikumussalam... hati-hati, Bi!" seruku sembari melambaikan tangan saat mobilnya perlahan menjauh dari halaman rumah. Vroom... suara mesin mobil itu perlahan menghilang di tikungan jalan.
40663Please respect copyright.PENANAya2bTqb4sp
Baru saja aku hendak berbalik masuk, suara nyaring khas ibu-ibu kompleks menghentikan langkahku. "Eh, Mbak Putri! Baru mengantar suami berangkat ya?" sapa Bu RT yang baru saja pulang dari tukang sayur, menenteng kantong plastik penuh berisi sawi dan tempe.
40663Please respect copyright.PENANATcOUV7rGar
Aku menoleh dan menghampirinya di tepi pagar. "Iya, Bu. Ada tugas mendadak ke luar kota," jawabku ramah, berusaha menjaga intonasi suaraku agar tetap sopan.
40663Please respect copyright.PENANADSvxAsB5A6
"Oalah, ditinggal sendirian dong seminggu? Wah, bakal sepi ya rumahnya," selorohnya sambil tertawa kecil. Kami pun terlibat obrolan ringan mengenai kesibukan perumahan, mulai dari rencana kerja bakti hingga gosip ringan tentang tukang gorengan baru di depan kompleks.
40663Please respect copyright.PENANALq5jmAMuqz
Sesekali kami tertawa, memecah kesunyian pagi. "Ibu ini bisa saja, ya begitulah Bu kalau kerja di kantor," kataku di sela candaan.
40663Please respect copyright.PENANA55o87GlGmf
Setelah beberapa menit berbincang, aku mulai merasakan hawa dingin pagi menembus kain katun maroon-ku yang tipis tanpa dalaman. "Bu, mohon izin saya masuk duluan ya, mau beres-beres rumah sebelum matahari makin tinggi," pamitku dengan sopan.
40663Please respect copyright.PENANAegz2Hledoa
"Oh, silakan Mbak Putri. Mari, mari!"
40663Please respect copyright.PENANAkOrnbypSaN
Aku berbalik dan menutup pagar besi yang berbunyi kriet... blek. Begitu masuk ke dalam rumah, aku mengunci pintu rapat-rapat. Keheningan seketika menyergap. Aku menyandarkan punggung di balik pintu, menarik napas panjang. Seminggu tanpa suamiku berarti seminggu tanpa gesekan fisik yang tak tuntas itu, namun juga berarti seminggu dalam kesepian yang mencekam.
40663Please respect copyright.PENANAevPLXSNvxV
Aku segera menuju dapur untuk sarapan seadanya. Aroma nasi goreng semalam masih tercium samar, namun aku hanya mengambil sepotong roti dan segelas susu hangat. Guk, guk. Rasa hambar di tenggorokanku seolah mewakili perasaanku pagi ini. Setelah selesai, aku memutuskan untuk tidak mandi lagi, toh aku sedang sendirian di rumah, dan kurasa banyak wanita juga melakukan hal yang sama saat sedang santai.
40663Please respect copyright.PENANALEvzPOvGl3
Aku melangkah gulai ke kamar. Kriyet... pintu tertutup rapat. Aku menjatuhkan tubuhku di atas ranjang, bersandar pada headboard kayu yang dingin. Suasana sunyi ini mulai terasa menyesakkan. Suntuk, aku meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal.
40663Please respect copyright.PENANA36tuIaL9ls
Entah dorongan dari mana, atau mungkin karena rasa lapar batin yang kupendam selama dua tahun ini mulai mencapai puncaknya, jariku gemetar saat membuka browser. Aku yang biasanya hanya mencari resep masakan atau jadwal kajian, tiba-tiba merasa sangat penasaran.
40663Please respect copyright.PENANAL9Ecz6qY4Z
Tap, tap, tap. Bunyi ketukan jariku di layar ponsel terasa begitu keras di telingaku yang sedang waspada.
40663Please respect copyright.PENANAtsniHSYbq9
Aku mengetikkan kata kunci yang belum pernah terbayangkan sebelumnya: "Ukuran alat kelamin laki-laki terbesar dan terpanjang di dunia".
40663Please respect copyright.PENANADvssnqsM0u
Jantungku berdegup kencang, deg, deg, deg, seolah-olah aku sedang melakukan sebuah pelanggaran besar. Begitu aku menekan tombol cari, layar ponselku seketika dipenuhi dengan berbagai artikel dan data statistik.
40663Please respect copyright.PENANA483moyg0xC
Aku mengklik salah satu situs yang tampak kredibel. Di sana, dideskripsikan secara mendetail mengenai rata-rata ukuran di tiap negara. Mataku menyisir barisan angka dan grafik warna-warni itu dengan saksama. Mulai dari negara-negara dengan rata-rata terkecil hingga negara-negara di Afrika dan Amerika Latin yang menempati urutan teratas dengan ukuran yang fantastis.
40663Please respect copyright.PENANAjW8qWn766B
Aku membaca deskripsi tentang anatomi tersebut, bagaimana panjang belasan hingga puluhan sentimeter itu digambarkan. Pikiranku mulai membandingkan angka-angka di layar dengan angka 7 sentimeter milik suamiku. Perbedaan yang sangat kontras itu membuat perutku mendadak terasa mulas, ada campuran antara rasa ngeri dan rasa penasaran yang semakin liar bergejolak di balik pakaian katun maroon-ku. Di kamar yang terkunci ini, aku membiarkan diriku tenggelam dalam informasi yang selama ini kutabukan.
40663Please respect copyright.PENANAiK6BnITlB5
Aku duduk bersandar di sandaran ranjang, memeluk bantal sambil menatap layar ponsel yang cahayanya berpendar di wajahku. Rasa sepi yang ditinggalkan suamiku pagi ini berubah menjadi rasa ingin tahu yang tak terbendung. Jariku yang sedikit gemetar mulai menggulir layar, membaca baris demi baris artikel yang baru saja terbuka.
40663Please respect copyright.PENANA3Fwqde6SjQ
Situs itu memuat tabel statistik dunia yang sangat rinci. Mataku terpaku pada deretan angka yang dikelompokkan berdasarkan wilayah geografis:
40663Please respect copyright.PENANADAq3dCsMWI
Wilayah Afrika dan Amerika Latin: Di sana tertulis rata-rata panjang saat ereksi mencapai 16 hingga 17,5 sentimeter. Deskripsinya begitu gamblang, menyebutkan tentang ketebalan otot dan jaringan ereksi yang masif.
Wilayah Eropa dan Amerika Utara: Rata-ratanya berada di angka 14 hingga 15,5 sentimeter.
Wilayah Asia Tenggara: Di sinilah mataku tertuju cukup lama. Rata-ratanya berada di kisaran 11 hingga 12,5 sentimeter.
40663Please respect copyright.PENANAvJ1z0uLtF9
"Tujuh sentimeter..." gumamku lirih di balik cadar yang masih kupakai. Itu adalah angka milik suamiku. Angka yang selama dua tahun ini menjadi satu-satunya standar yang kukenal.
40663Please respect copyright.PENANAdB1NQu8D9X
Aku mengklik salah satu sub-artikel yang membahas tentang "Rekor Dunia". Di sana, dideskripsikan secara anatomis tentang ukuran ekstrem yang pernah tercatat angka yang menembus 30 sentimeter. Pikiranku mulai liar membayangkan bagaimana jaringan kulit dan pembuluh darah bisa meregang hingga sepanjang itu. Artikel itu juga menjelaskan tentang diameter atau lingkar (girth), menggambarkan betapa besarnya perbedaan volume antara rata-rata pria Asia dengan pria dari belahan dunia lain.
40663Please respect copyright.PENANAokhuqxKev4
Deg, deg, deg.
40663Please respect copyright.PENANAQHgZLSQQOp
Jantungku berdegup kencang saat melihat ilustrasi perbandingan skala dalam bentuk grafik batang. Ada rasa ngeri yang menjalar, namun di saat yang sama, ada sensasi panas yang aneh di perut bawahku. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika tubuh mungilku yang hanya 155 sentimeter ini harus menampung ukuran yang jauh di atas rata-rata itu.
40663Please respect copyright.PENANA8rpwb0IT2g
Sentuhan kain katun maroon di kulit paha dan area pribadiku terasa semakin sensitif saat imajinasiku mulai memvisualisasikan detail gerakan anatomi yang dijelaskan di sana tentang bagaimana kedalaman penetrasi bisa menyentuh bagian terdalam rahim jika ukurannya melebihi 18 sentimeter.
40663Please respect copyright.PENANAXbJBDWdmnn
Aku menghela napas panjang, mematikan layar ponsel sejenak hanya untuk menyadari bahwa napasku sudah mulai memburu. Rasa lapar batin yang selama ini kusembunyikan di balik ketaatan, kini terasa meledak-ledak hanya karena deretan angka di layar ponsel.
40663Please respect copyright.PENANAxbYgnXYQei
Sensasi panas yang sedari tadi menjalar di perut bawahku mendadak memuncak. Di balik kain katun maroon yang lembut, aku merasakan kelembapan. Cairan bening dan licin mulai merembes, membasahi area sensitifku.
40663Please respect copyright.PENANAPEfaRFnYCk
Aku menyentuh permukaan celana selangkanganku. Sret... Jemariku merasakan kain itu sudah basah. Teksturnya yang kental dan berselendir menandakan tubuhku sedang bereaksi hebat terhadap imajinasi liar yang baru saja kupancing.
40663Please respect copyright.PENANASt3eMgckUa
"Astagfirullah..." bisikku parau, namun jariku tetap diam di sana, merasakan denyut halus di area kewanitaanku.
40663Please respect copyright.PENANA8vFaru722U
Pikiranku kembali melayang pada angka-angka di layar ponsel. Lima belas sentimeter. Bayangan ukuran itu tiga sentimeter lebih panjang dari milik suamiku terbayang begitu nyata. Aku membayangkan bagaimana ukuran itu akan mengisi ruang kosong di dalam diriku, menekan dinding rahimku dengan mantap, dan memberikan tekanan yang selama ini hanya bisa kudambakan.
40663Please respect copyright.PENANATb1ub2Fp9L
"Kalau lima belas sentimeter saja... mungkin akan terasa sangat nikmat ya?" gumamku lirih. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, penuh dengan nada lapar yang putus asa.
40663Please respect copyright.PENANAkWrc9rM2v5
Nghhh...
40663Please respect copyright.PENANAHVuCMjOowk
Aku melenguh pelan saat membayangkan gerakan anatomis yang lebih dalam, gesekan yang lebih padat, dan durasi yang lebih lama dari sekadar hitungan menit. Bayangan itu membuat otot-otot di bagian bawahku berdenyut kencang, menuntut sesuatu yang nyata untuk memuaskannya.
40663Please respect copyright.PENANAyFRdPaWfLr
Seketika, kesadaranku kembali menghantam. Aku tersentak, segera menarik tanganku dari selangkangan yang basah itu. Jantungku berdegup kencang karena rasa bersalah yang tiba-tiba menyeruak.
40663Please respect copyright.PENANATUVwEzejZr
"Astagfirullahaladzim... Astagfirullahaladzim..."
40663Please respect copyright.PENANALSqxcteq9T
Aku meremas bantal, mencoba mengusir bayangan-bayangan tabu itu. Bagaimana bisa aku, seorang lulusan pondok pesantren yang selalu menjaga iffah, bisa berpikiran sevulgar ini tentang ukuran pria lain di saat suamiku sedang berjuang mencari nafkah di luar sana? Aku terus beristighfar, mencoba menenangkan gejolak di bawah sana yang masih terasa berdenyut dan basah berselendir.
40663Please respect copyright.PENANAK4Q7OtIP4C
Aku meletakkan ponsel sejenak, mencoba mengatur napas yang masih sedikit memburu akibat rasa bersalah tadi. Namun, jemariku seolah punya kehendaknya sendiri; aku kembali meraih benda pipih itu dan membuka aplikasi Messenger Facebook.
40663Please respect copyright.PENANA3iCkILdg1q
Ting, ting, ting!
40663Please respect copyright.PENANAxDTBcHiB3H
Notifikasi merah berderet di kolom permintaan pesan. Aku mengerutkan dahi di balik cadarku. Padahal, di profilku terpampang jelas status "Menikah". Foto-foto yang kuunggah pun hanyalah potret diriku dengan gamis syari yang stylish, jilbab lebar yang menjuntai, dan cadar yang menutupi wajah. Aku hanya ingin berbagi inspirasi berpakaian akhwat yang anggun, bukan untuk memancing mata lelaki.
40663Please respect copyright.PENANAPVKdGyxrSM
Namun, saat kubuka satu per satu pesan itu, dadaku sesak oleh rasa muak.
40663Please respect copyright.PENANAyT7Krbx0WW
"Assalamualaikum, Ukhti. Manis sekali matanya, boleh kenalan?" tulis salah satu akun.
40663Please respect copyright.PENANAiUATyRwTjO
Aku menggulir lebih bawah, dan mataku terbelalak. Ada beberapa akun anonim yang tanpa malu mengirimkan foto dan video tak senonoh menunjukkan bagian intim mereka dengan narasi yang menjijikkan.
40663Please respect copyright.PENANAxsnZpL9zFL
Deg!
40663Please respect copyright.PENANAj6PMbqZ5iL
Jantungku berdegup kencang. Mereka seolah sedang menelanjangiku lewat kata-kata. Deskripsi mereka tentang bagaimana mereka membayangkan tubuh di balik gamis longgarku membuatku merasa kotor.
40663Please respect copyright.PENANAUJrR331OMP
"Kenapa?" bisikku lirih pada kesunyian kamar. "Kenapa mereka justru lebih bernafsu pada wanita yang tertutup rapat seperti ini?"
40663Please respect copyright.PENANAd7cY318WBL
Pikiranku berkecamuk. Di luar sana, ribuan wanita berpakaian seksi dan terbuka bertebaran di beranda Facebook, memperlihatkan lekuk tubuh secara gamblang. Namun, pria-pria ini justru merasa tertantang oleh misteri di balik kain yang kukenakan. Mereka seolah memiliki fantasi sakit tentang apa yang tersembunyi di balik cadar dan gamis maroon-ku ini.
40663Please respect copyright.PENANAKrx8P0jWAz
Aku merasakan sensasi dingin menjalar di punggungku. Ada paradoks yang mengerikan; semakin aku menutup diri untuk menjaga kehormatan, semakin liar imajinasi mereka liar mencoba menembus lapis demi lapis kainku.
40663Please respect copyright.PENANA5XdEq1zZtv
Aku menatap layar ponsel dengan nanar. Rasa basah di selangkanganku yang tadi sempat membuatku beristighfar, kini terasa seperti pengkhianatan ganda. Di satu sisi aku merasa dilecehkan oleh orang asing, namun di sisi lain, batin kelaparanku seolah dipaksa menyaksikan realita bahwa dunia pria begitu penuh dengan hasrat yang meledak-ledak hal yang tak pernah kurasakan secara tuntas dari suamiku sendiri.
40663Please respect copyright.PENANAO9cTKsxv2b
Notifikasi di layar ponselku terus berkedip, ting, ting, ting! Seolah-olah mereka tahu aku sedang sendirian dan haus akan perhatian. Di antara puluhan pesan yang masuk, jemariku berhenti pada satu nama akun yang fotonya hanya berupa siluet gelap. Entah dorongan setan apa, aku merasa iseng dan membuka pesan darinya.
40663Please respect copyright.PENANAIakqFIWY6O
"Assalamualaikum, Ukhti manis," tulisnya di baris pertama.
40663Please respect copyright.PENANA1oGePGudLa
Namun, kalimat berikutnya membuat jantungku seolah berhenti berdetak sesaat. Tanpa basa-basi, ia langsung menawarkan sesuatu yang sangat vulgar namun menghunjam tepat di titik terlemahku saat ini.
40663Please respect copyright.PENANALJi9igMoDg
"Mau coba servis memuaskan? Ukuran panjang maksimal, durasi dijamin lama. Sesuai request dan kemauan Ukhti. Saya sudah terbiasa servis wanita yang butuh kepuasan lebih."
40663Please respect copyright.PENANAYJEFgO6eZt
Deg!
40663Please respect copyright.PENANAaolGwfq6SE
Membaca kata 'panjang maksimal' dan 'durasi lama', perutku mendadak mulas. Sensasi panas di area kewanitaanku kembali berdenyut hebat. Cairan bening yang tadi sempat mengering kini terasa merembes lagi, membasahi kain katun maroon-ku yang tipis. Vaginaku berdenyut, seolah merespons tawaran terlarang itu dengan haus.
40663Please respect copyright.PENANAadUEUNdvVm
Belum sempat aku membalas, sebuah pesan masuk lagi.
40663Please respect copyright.PENANAXUy7vq89Qb
"Jangan hanya dibaca, Ukhti. Nanti basah loh," tulisnya seolah bisa melihat apa yang sedang terjadi pada tubuhku saat ini.
40663Please respect copyright.PENANAD5Y8UL7R6x
Aku menelan ludah. Napasku mulai pendek-pendek. Ia kemudian mengirimkan deskripsi fisiknya: "Tinggi badan 180 cm."
40663Please respect copyright.PENANAzfg6oOW3rY
Angka itu membuatku membayangkan perbandingan tinggi kami, aku yang hanya 155 cm pasti akan tenggelam dalam pelukannya. Ia tidak mengirimkan foto organ intim yang menjijikkan seperti pria-pria lain. Sebaliknya, ia mengirimkan sebuah foto mirror selfie yang memperlihatkan tubuh bagian atasnya tanpa baju.
40663Please respect copyright.PENANATPZLu0UfoD
Mataku terpaku pada layar. Perutnya sixpack, kotak-kotak ototnya terlihat keras dan tegas, kontras dengan kulitnya yang tampak bersih. Garis otot di pinggangnya yang membentuk huruf V terlihat sangat maskulin. Aku terpesona, membandingkan secara otomatis dengan tubuh suamiku yang ringkih dan tanpa otot.
40663Please respect copyright.PENANAlsclmZ7Qw5
Gemetar, aku mengetikkan balasan. "Waalaikumsalam. Itu... itu benar tubuhmu? Kamu terlihat masih sangat muda. Berapa umurmu?"
40663Please respect copyright.PENANAXRoh5CrmM8
Drrrtt... Ponselku bergetar seketika.
40663Please respect copyright.PENANARGmLT0TGfe
"Baru 19 tahun, Ukhti. Sangat bertenaga untuk memuaskan wanita seperti kamu."
40663Please respect copyright.PENANAucHIolbNu4
Aku tersentak, menutup mulutku di balik cadar. Sembilan belas tahun? Dia enam tahun lebih muda dariku. Seorang brondong dengan fisik atletis dan tawaran durasi lama. Pikiranku yang semula tertutup rapat oleh tembok pesantren kini mulai retak, membayangkan bagaimana tenaga anak muda berumur 19 tahun itu jika berada di atasku, menggantikan ritme pendek yang selama ini kuterima dari suamiku.
40663Please respect copyright.PENANA9ya631xvlq
Dinding kamar yang sunyi seolah ikut menatapku dengan penghakiman. Aku menatap layar ponsel, membaca baris demi baris pesannya yang begitu lugas.
40663Please respect copyright.PENANAabaHCYGsuD
"Kalau mau, aku bisa datang ke rumah sekarang. Privasi aman, Ukhti. Katakan saja pada tetangga kalau aku keponakanmu atau adikmu dari desa yang sedang mampir. Kirim alamatmu kalau berminat."
40663Please respect copyright.PENANASLs34iEqz1
Deg, deg, deg.
40663Please respect copyright.PENANAMi3f5ySGMt
Jantungku berpacu gila. Aku berdiri dari ranjang, mondar-mandir di atas karpet bulu dengan langkah yang tak tentu arah. Kain katun maroon-ku berkibar pelan mengikuti gerakan kakiku yang gelisah. Separuh jiwaku berteriak tentang dosa, tentang pengkhianatan pada suami yang baru saja mengecup keningku tadi pagi. Namun, separuh jiwaku yang lain yang lapar, yang selama dua tahun ini hanya diberi 'makan' selama beberapa menit saja meronta menuntut haknya untuk dipuaskan.
40663Please respect copyright.PENANAfS2t3WUDIS
Aku membayangkan tinggi 180 cm itu berdiri di depanku. Membayangkan tenaga anak muda 19 tahun dengan perut sixpack itu menindih tubuh mungilku, memberikan durasi yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
40663Please respect copyright.PENANA9ilm9ukUiQ
"Sedikit saja... aku hanya butuh sedikit kepuasan," bisikku pada diri sendiri, mencoba mencari pembenaran.
40663Please respect copyright.PENANAt4nfadbGlb
Dengan jemari yang gemetar hebat hingga hampir menjatuhkan ponsel, aku mengetikkan sederet kalimat yang akan mengubah hidupku hari ini.
40663Please respect copyright.PENANANpSpKhdPye
"Perumahan Daun Hijau, Blok C no. 69," balasku.
40663Please respect copyright.PENANAwfQPxW5yPn
Klik. Terkirim.
40663Please respect copyright.PENANA2pPGDCod9Y
Seketika rasa panik luar biasa menyerangku. Aku melempar ponsel ke atas kasur seolah benda itu baru saja membakar tanganku. Aku meremas jilbab instan abu-abuku, menarik napas dalam-dalam yang terasa sesak. "Apa yang sudah kulakukan? Bagaimana kalau tetangga curiga? Bagaimana kalau suamiku tahu?"
40663Please respect copyright.PENANAENm4c1i4a7
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar seperti badai di kepalaku. Namun, di tengah kegusaran itu, ada denyut aneh di area kewanitaanku yang semakin basah berselendir. Rasa takut itu perlahan kalah oleh rasa penasaran yang gelap.
40663Please respect copyright.PENANAK5iCVFrcre
Drrrtt... Ponselku bergetar lagi di atas kasur. Aku menyambarnya dengan cepat.
40663Please respect copyright.PENANAW54CmJ0KGP
"Oke, Ukhti cantik. Tunggu aku. Satu jam lagi aku sampai di depan rumahmu. Siapkan dirimu."
40663Please respect copyright.PENANAoDAYQ0IVLI
Satu jam. Hanya enam puluh menit tersisa sebelum seorang asing berumur 19 tahun masuk ke dalam rumahku, ke dalam wilayah pribadiku yang selama ini hanya dihuni oleh suamiku yang ringkih. Aku menatap cermin, melihat sosok wanita bercadar dengan pakaian tidur maroon yang pas di tubuh, menyadari bahwa sebentar lagi, semua aturan yang kujaga selama ini mungkin akan runtuh demi sebuah kepuasan durasi lama.40663Please respect copyright.PENANAUWIGElZP4A


