Plak, plak, plak.
45292Please respect copyright.PENANA9iCNuneh3H
Suara kulit yang beradu di antara pangkal pahaku dan pinggulnya menggema di kamar yang remang. Aku menggenggam sprei kuat-kuat, membiarkan tubuhku tersentak mengikuti irama dorongannya dalam posisi misionaris ini.
45292Please respect copyright.PENANA4TXkjP58pj
"Abi... ahh, Abi..." rintihku pelan, ditemukan dengan suara parau yang tertahan di tenggorokan.
45292Please respect copyright.PENANAVZXeRPstyS
Saya mencoba mencari sinkronisasi, menyesuaikan lengkungan punggungku agar setiap perbaikannya terasa lebih dalam. Namun, hanya dalam hitungan menit, saya merasakan otot-otot tubuhnya menegangkan. Napasnya memberat, berburu tepat di ceruk leherku.
45292Please respect copyright.PENANAKnJGVC4ppW
"Nghhh... j-sedikit lagi... sssh... ahh!"
45292Please respect copyright.PENANA3NVnA6S80G
Dia mengerang panjang, memberikan satu hentakan keras yang menghujam dalam sebelum akhirnya tubuhnya lemas menimpaku. Aku merasakan miliknya yang berukuran tujuh sentimeter itu berdenyut sejenak di sana, sebelum akhirnya perlahan melonggar dan keluar dengan bunyi basah yang halus.
45292Please respect copyright.PENANAmT5956LZQr
“Hah… hah… maaf,” bisiknya sambil mengembuskan napas panjang di telingaku.
45292Please respect copyright.PENANAJV8skwDjL3
Aku hanya bisa membalas dengan desahan pelan, sebuah lenguhan kecil yang lebih berfungsi sebagai penutup sandiwara daripada ekspresi kepuasan. “Hmm…iya, Abi.”
45292Please respect copyright.PENANAPfYMioOtH7
Aku berbaring diam, menatap langit-langit kamar sementara dia mulai menghilang dari tubuhnya. Rasa kecewa itu kembali, dingin dan menyesakkan. Ini bukan yang pertama untuk selamanya. Selama dua tahun pernikahan kami, momen-momen seperti ini selalu berakhir sebelum aku bahkan sempat memulai. Aku tetap terjebak di titik yang sama, menyimpan hasrat yang tak pernah tuntas di balik senyum yang kupaksakan.
45292Please respect copyright.PENANAMPHllzRWU3
****
45292Please respect copyright.PENANAv2m9ATe4Bm
Itulah kenyataan pahit yang harus kutelan selama dua tahun terakhir. Aku menghela napas panjang, menyandarkan punggung di sofa ruang tamu yang terasa dingin. Pikiranku berkelana pada sosok suamiku dengan tubuh yang kecil dengan tinggi 160 cm dan bobot hanya 45 kg seolah mewakili stamina dan durasi ejakulasinya yang selalu mengecewakan. Ada pelarian yang terus menganga di dalam diriku, sebuah rasa lapar fisik yang tak pernah ia tuntaskan.
45292Please respect copyright.PENANAbaBUEfaD7g
Drrrtt... Drrrtt...
45292Please respect copyright.PENANA76gO7kb3uK
Suara getar ponsel di atas meja kayu mengejutkanku dari lamunan kelam itu. Aku meraihnya, melihat nama Sandra terpampang di layar.
45292Please respect copyright.PENANAJZNgsUbQOz
“Assalamu’alaikum, Putri,” suara Sandra terdengar renyah di seberang sana.
45292Please respect copyright.PENANAmSCUcSoADV
"Wa'alaikumussalam, San. Ada apa?" jawabku, berusaha menormalkan nada suaraku yang sempat serak.
45292Please respect copyright.PENANApFR08BATOp
"Jangan lupa ya, sore ini ada jadwal liqo setelah Ashar. Kamu bisa ikut kan? Kita berangkat bareng kalau mau."
45292Please respect copyright.PENANAQ8c8rcAbu9
Aku teringat sekilas, melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 14:57. Mungkin ini yang kubutuhkan, keluar dari rumah ini dan menjernihkan pikiran. "Ah, iya! Terima kasih sudah diingatkan, San. Aku ikut, aku akan bersiap sekarang."
45292Please respect copyright.PENANAhVAj6r555G
Setelah menutup telepon, aku segera bangkit. Ketuk, ketuk, ketuk. Langkah kakiku terburu-buru menuju kamar mandi. Aku perlu membasuh sisa-sisa rasa kecewa yang masih menempel di kulitku.
45292Please respect copyright.PENANAz25PMraT5n
Di bawah kucuran air, aku memejamkan mata, membiarkan udara dingin membasahi lekuk tubuhku, mencoba menyentuh denyut tak tuntas yang tadi pagi kurasakan. Selesai mandi, aku berdiri di depan lemari, jemariku menelusuri deretan kain, memilih pakaian yang paling pantas untuk menutupi gejolak batin yang sedang kupendam rapat-rapat.
45292Please respect copyright.PENANAdxeeibAKGu
Aku berdiri di depan lemari yang terbuka lebar, memilah pakaian dengan saksama. Jemariku menarik sehelai bra renda dan celana dalam katun yang nyaman sebagai dasar. Untuk luaran, aku menjatuhkan pilihan pada gamis berbahan shimmer silk berwarna hijau zamrud, kainnya jatuh dengan anggun, memberikan kesan mewah namun tetap santun.
45292Please respect copyright.PENANA3Bh4KTJJEH
Aku menyampirkan khimar kain ceruti baby doll dua lapis berwarna hitam pekat yang menutup dada dengan sempurna. Sebagai sentuhan akhir, aku mengikat cadar tali bahan sifon sutra berwarna abu-abu muda. Bahannya yang lembut terasa ringan saat bersentuhan dengan kulit wajahku, hanya menyisakan sedikit mataku yang terlihat.
45292Please respect copyright.PENANAS1EzXTcUK0
Sret... sret...
45292Please respect copyright.PENANACxTN4woeaA
Aku menarik kaus kaki nilon berwarna kulit hingga sebatas betis, menutupi celana panjang celamis yang sudah kupakai sebelumnya. Setelah memastikan semuanya rapi, aku rapatkan tali sepatu sneakers putihku. Aku bercermin sejenak, merasakan perpaduan warna ini sudah sangat pas.
45292Please respect copyright.PENANAJIBbQz4zOm
Segera, saya memesan ojek online melalui aplikasi. Tidak butuh waktu lama, sebuah motor berhenti di depan gerbang. Pengemudinya seorang pemuda, tampak masih sangat muda dengan jaket hijaunya yang bersih.
45292Please respect copyright.PENANASS3VqRFaUa
Derajat.
45292Please respect copyright.PENANAz9ud5UtMmy
Saat aku melangkah keluar, aku teringat. Mata bergerak perlahan, memperhatikanku dari ujung jilbab hitamku, turun ke gamis hijau yang tertiup angin, hingga ke ujung sepatuku. tatapan yang intens, seolah-olah sedang menstimulasi apa yang ada di balik tumpukan kain ini. Aku sudah terbiasa dengan seperti itu, perpaduan antara rasa penasaran dan kekaguman yang tersembunyi.
45292Please respect copyright.PENANACoQcZb5HRT
“Dengan Mbak Putri?” tanyanya memastikan, suaranya agak berat.
45292Please respect copyright.PENANArfdnTj1bUI
“Iya, betul,” jawabku singkat sambil menaiki boncengan motornya.
45292Please respect copyright.PENANAXnn8BHaIdj
Motor melaju melintasi jalanan kota yang mulai padat. Angin perih menerpa cadar abu-abu, membuatnya sesekali menempel erat di bentuk hidung dan bibirku. Di tengah perjalanan, ia melirik spion, mencoba mencari celah untuk berbincang.
45292Please respect copyright.PENANA7tO6afRih2
"Maaf Mbak, mau ada acara apa ke sana?" tanyanya ramah, mencoba mencairkan suasana.
45292Please respect copyright.PENANAJiQiXIosmm
"Mau liqo', Mas," jawabku datar di balik cadar.
45292Please respect copyright.PENANAzM0ATR4y7g
"Oh... buat liqo' ya," responnya pendek. Ia mengangguk-angguk, namun matanya sekali lagi tertangkap kamera spion sedang memperhatikanku sebelum ia kembali fokus menarik gas motornya.
45292Please respect copyright.PENANARZcjZk2W8v
45292Please respect copyright.PENANAJOQO3TJwgr
Sesampainya di lokasi, saya merogoh ponsel dari saku gamis. Klik, klik. Jemariku dengan lincah menekan layar untuk membayar melalui metode transfer. “Sudah masuk ya Mas,” ucapku singkat sambil turun dari motor. Pemuda itu mengangguk, namun matanya sempat melirik sekali lagi sebelum akhirnya berlalu.
45292Please respect copyright.PENANAQZAkoR63ly
Aku melangkah masuk ke dalam ruangan yang sudah dipenuhi oleh teman-teman liqo. Bau harum kayu cendana dan aroma teh hangat menyambutku. Kami duduk melingkar di atas karpet beludru yang empuk. Di depan kami, Ustazah Hanum sudah duduk dengan tenang, membawa aura yang menyejukkan.
45292Please respect copyright.PENANA5We74Y1r6o
Proses liqo berjalan dengan khidmat. Ustazah Hanum mulai membacakan ayat-ayat suci, suaranya yang lembut namun tegas menggema di ruangan itu. Kami bergantian menyetorkan hafalan dan membahas tafsir mengenai kewajiban istri dalam menjaga kehormatan rumah tangga. Tanganku sibuk mencatat, namun pikiranku justru melayang pada kejadian di kamar pagi tadi. Bayangan tubuh suamiku yang kecil dan durasi yang singkat itu terus menghantui, membuat catatan di buku agendaku sedikit berantakan.
45292Please respect copyright.PENANAFibL4r8k45
Menjelang akhir sesi, Ustazah Hanum membuka sesi tanya jawab. Jantungku berdegup kencang, ada sesuatu yang menyumbat di tenggorokan yang harus dikeluarkan.
45292Please respect copyright.PENANAg8Mgtgh2am
Aku mengangkat tangan perlahan. "Ustazah... saya ingin bertanya," suaraku sedikit bergetar di balik cadar abu-abuku.
45292Please respect copyright.PENANAeN2TKYQ58A
"Silakan, Putri. Apa yang ingin kamu tanyakan?" jawab Ustazah Hanum dengan senyum tulus.
45292Please respect copyright.PENANAEvhmtZXDOu
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. "Mengenai nafkah... sebenarnya, batasan nafkah batin itu seperti apa? Apakah hanya sebatas terpenuhinya hubungan, atau ada standar kepuasan yang harus dicapai agar tidak menjadi dosa bagi suami?"
45292Please respect copyright.PENANAq3btyevfP7
Seketika, suasana ruangan yang tadinya hening berubah riuh. Kasak-kusuk terdengar di sekelilingku. Teman-teman liqo-ku menoleh dengan tenang, menatap dengan mata yang membelalak rasa penasaran. Ada yang menutupi mulutnya sambil berbisik, bahkan beberapa di antaranya tertawa kecil, mungkin menganggap pertanyaanku terlalu berani atau "tabu" untuk dibahas di forum ini.
45292Please respect copyright.PENANAq3E4BlZOen
Aku meremas jemariku sendiri di bawah meja kecil, merasakan wajahku memanas di balik kain cadar. Aku tidak peduli mereka menganggapku aneh, aku hanya butuh jawaban atas rasa lapar yang tak kunjung terpuaskan selama dua tahun ini.
45292Please respect copyright.PENANAavJvWy5XIg
Ustazah Hanum teringat sejenak, senyumannya tidak pudar, namun sorot matanya berubah menjadi lebih serius dan teduh. Ia membetulkan posisi duduknya, tatapan dengan penuh empati seolah bisa membaca kegelisahan yang tersembunyi di balik cadarku.
45292Please respect copyright.PENANAtDSpujLAX5
“Nafkah batin itu luas, Putri,” jawab Ustazah Hanum dengan suara tenang yang seketika membungkam tawa kecil di sudut ruangan. "Bukan hanyalah hubungan fisik, tapi tentang ketenangan jiwa, rasa aman, kasih sayang, dan saling rida. Suami berkewajiban menjaga perasaan istrinya agar tetap iffah (menjaga kehormatan), dan itu termasuk memastikan istri merasa tercukupi secara batiniah."
45292Please respect copyright.PENANAE1ML5S1OiM
Aku menunduk sejenak, meremas pinggiran gamis Shimmer-ku. Pertanyaan yang lebih mendesak di kerongkongan, menuntut jawaban yang lebih jujur.
45292Please respect copyright.PENANAJmfSYoHj4a
“Lalu… bagaimana dengan kepuasan dalam hubungan intim, Ustazah?” suaraku memelan, berbisik hingga aku harus sedikit condong ke depan. "Sejujurnya, hal itu belum terpenuhi olehku dari suamiku. Selama ini, aku merasa... tertahan."
45292Please respect copyright.PENANAPlE0IScoV2
Keheningan yang mencekam tiba-tiba mengacaukan ruangan. Teman-teman yang tadi berbisik kini terdiam kaku. Aku bisa merasakan detak jantungku sendiri yang berpacu di balik dada.
45292Please respect copyright.PENANAbg6rpnjBcJ
"Apa yang harus kulakukan, Ustazah? Apakah aku berdosa jika terus merasa kecewa?" tanyaku lagi, kali ini dengan nada yang lebih berat oleh beban emosional.
45292Please respect copyright.PENANAKhbs73XfM1
Ustazah Hanum menghela nafas lembut, ia memberi isyarat agar aku tidak perlu merasa malu. Putri, dalam Islam, kepuasan seksual dalam pernikahan adalah hak kedua belah pihak, bukan hanya suami. Jika ada kendala fisik atau stamina, hal pertama yang harus dilakukan adalah komunikasi yang jujur namun tetap santun. Suami mungkin tidak menyadari kekurangannya jika kamu hanya diam.
45292Please respect copyright.PENANATjJpxjBf7V
Beliau melanjutkan, "Kedua, ikhtiar medis atau terapi sangat dianjurkan jika masalah ada pada durasi atau kesehatan fisik. Suami wajib berusaha mencari solusi jika istri tidak mencapai rida. Jangan dipendam sendiri, karena mengecewakan yang menumpuk bisa menjadi celah bagi setan untuk masuk ke dalam hati. Bicarakanlah dengan hati ke hati saat suasana tenang, sampaikan bahwa ini adalah kebutuhanmu agar kamu bisa lebih khusyuk dalam menyampaikan sebagai istri."
45292Please respect copyright.PENANA758OwNsAdz
Aku tertegun. Kata-kata 'hak istri' dan 'ikhtiar' berputar di kepalaku. Di balik cadar, bibirku kelu. Membayangkan harus berbicara jujur pada suamiku yang bertubuh mungil itu tentang durasinya yang hanya hitungan menit terasa seperti tugas yang sangat berat.
45292Please respect copyright.PENANAO1tjea3KV1
"Kami sudah mencoba jalur medis, Ustazah. Sudah berobat, tapi hasilnya tetap sama," jawabku dengan suara yang semakin berat. Ada nada putus asa yang tidak bisa disembunyikan lagi.
45292Please respect copyright.PENANAkCzZMlCAzl
Aku merasakan atmosfer ruangan kembali menegangkan. Menatap teman-teman liqo di sekelilingku terasa semakin menusuk. Aku tidak tahu apakah mereka merasa kasihan, atau justru menghakimi dan mengejekku di dalam hati mereka. Rasa malu dan bingung bercampur aduk, membuat napas di balik cadarku terasa sesak.
45292Please respect copyright.PENANAQhmhbg9BoE
Ustazah Hanum segera mengangkat tangannya, memberikan isyarat agar semua tetap tenang. "Sudah, jangan ada yang berbisik. Setiap rumah tangga punya ujiannya masing-masing, dan Putri sedang berjihad dalam ujiannya," ucapnya dengan tegas namun lembut, seketika meredam kegaduhan kecil itu.
45292Please respect copyright.PENANAFtpXuOgXzW
Setelah doa penutup dibacakan, satu per satu teman-temanku mulai meninggalkan ruangan. Aku sengaja memperlambat gerakanku, merapikan catatan dengan tangan yang sedikit gemetar. Saat ruangan mulai sepi, Ustazah Hanum menghampiriku.
45292Please respect copyright.PENANAb9O0T3WrHd
Beliau berdiri tepat di hadapanku. Aku menyadari tinggi kami hampir sama, sekitar 155 cm dengan perawakan yang juga serupa dengan aku dengan berat 47 kg dan beliau yang tampak anggun meski terpaut usia sepuluh tahun dariku. Di usiaku yang baru 25 tahun ini, rasanya beban yang kupikul terlalu besar, namun kehadiran Ustazah membuatku merasa sedang berbicara dengan kakaknya sendiri.
45292Please respect copyright.PENANAupEwh0Sc9f
Sret...
45292Please respect copyright.PENANAuwmKalRNpG
Ustazah Hanum menyentuh bahuku, meremasnya perlahan sebagai bentuk dukungan yang nyata. Tangan yang hangat seolah-olah menyampaikan kekuatan ke dalam tubuhku yang lemas.
45292Please respect copyright.PENANAyvwaNXC5T7
"Putri, sabar itu tidak ada batasnya, tapi ikhtiar juga tidak boleh berhenti. Jangan biarkan hatimu meminum karena kecewa. Teruslah berdoa agar Allah melembutkan hati suamimu untuk mau berusaha lebih keras lagi demi kamu," bisiknya menyemangatiku.
45292Please respect copyright.PENANALAXIJ0OBZD
Aku menatap matanya yang teduh, merasakan ketulusan itu. “Terima kasih, Ustazah,” jawabku lirih.
45292Please respect copyright.PENANA6mYLiF4jLf
Aku berpamitan dan melangkah keluar dari ruangan itu. Di bawah langit sore yang mulai menguning, aku berjalan perlahan menuju gerbang, memikirkan kembali setiap kata- katanya sementara rasa lapar yang tak kasatmata itu masih terus berputar di dalam sana.
45292Please respect copyright.PENANAGo0LAL38v3
Jam digital di ponselku menunjukkan pukul 17:56. Langit sudah mulai berubah jingga pekat, hampir mendekati Maghrib. Begitu aku keluar dari gerbang, ternyata Sandra masih menungguku. Ia berdiri menyandar di pilar, wajahnya menunjukkan simpati yang tulus, meski aku bisa menangkap kilatan rasa ingin tahu di matanya.
45292Please respect copyright.PENANANq6M0p7E5r
“Putri…” ia mendekatiku, merangkul bahuku pelan untuk menenangkan gejolak yang mungkin masih terlihat dari sorot mataku. "Kamu yang sabar ya. Aku tahu itu tidak mudah."
45292Please respect copyright.PENANAP865jPuyMu
Kami berjalan pelan menuju pinggir jalan. Namun, rasa penasaran Sandra sepertinya tak terbendung lagi. Ia sedikit mendekat, berbisik dengan nada ragu namun mendesak. "Sebenarnya... masalahnya di mana, Put? Apa karena... ukurannya? Atau memang daya tahannya yang kurang?"
45292Please respect copyright.PENANAK0gTP3Vxq7
Aku setuju, lidahku kelu untuk menjawab hal sevulgar itu di tempat umum. Namun, di dalam hati, aku berteriak mengiyakan. Keduanya, San. Ukurannya yang hanya Tujuh sentimeter dan durasinya yang hanya hitungan menit.
45292Please respect copyright.PENANANUH1oNfiIv
Aku hanya memaksakan tawa kecil, mencoba mencairkan suasana yang terlalu serius. "Ah, kamu ini. Malah jadi bahas itu. Sudah ah, nanti malah jadi ghibah," candaku sambil menyenggol lengan. Sandra ikut tertawa, meski aku tahu dia belum puas dengan jawabanku.
45292Please respect copyright.PENANA9mbNtmTcAA
Aku segera membuka aplikasi ojek online. Tak disangka, layar ponsel menampilkan foto pengemudi yang sama. Tak butuh waktu lama, motor itu berhenti di depan kami. Pemuda tadi mengantarku kembali muncul dengan senyum ramah yang sedikit lebih lebar dari sebelumnya.
45292Please respect copyright.PENANAQ1g7d3EkTe
“Eh, ketemu lagi, Mbak Putri,” sapanya. Matanya kembali menyapu penampilanku gamis hijau dan cadar abu-abu dengan menggandakan yang seolah ingin menembus setiap lapis kain yang kukenakan.
45292Please respect copyright.PENANADCuET5uWw8
Aku berpamitan pada Sandra dan menaiki motor. Perjalanan pulang terasa lebih sunyi, hanya deru mesin dan angin malam yang mulai dingin menusuk pori-pori. Sesekali aku merasakan guncangan motor yang membuat tubuhku tanpa sengaja bersinggungan dengan punggung pengemudi itu, menciptakan sensasi aneh yang segera kutepis.
45292Please respect copyright.PENANAq16hxEArMe
Begitu sampai di depan pagar rumah, motor berhenti. Aku turun dan membayar dengan gerakan cepat. Saat aku berbalik, pintu rumah sudah terbuka. Di sana, suamiku berdiri menyambutku dengan tubuh kecilnya yang dibalut kaos longgar.
45292Please respect copyright.PENANALsZLrsu9Hg
“Baru pulang, Mi?” tanyanya lembut.
45292Please respect copyright.PENANANr8NxlGPJm
Aku melihatnya sekilas, melihat sosok pria yang baru saja menjadi topik hangat di forum liqo tadi. Ada rasa sesak yang kembali muncul saat melihat wajahnya yang polos tanpa dosa, sementara aku di sini sedang berjuang melawan rasa lapar yang ia ciptakan sendiri. “Iya, Bi,” jawabku pelan, melangkah masuk melewati ambang pintu menuju rumah yang terasa kian sempit bagi hasratku.45292Please respect copyright.PENANAL4V2Z5aFiD


