CHAPTER 2 : KEDATANGAN PRIA ASING
1371Please respect copyright.PENANAh6ZiTu4Mml
Aku berdiri membeku di ambang pintu, tangan masih menggenggam daun pintu yang setengah terbuka. Kata-kata Pak Gatot tentang “suamimu dalam bahaya besar” masih bergema di telingaku seperti guntur di siang bolong. Jantungku berdegup begitu keras hingga aku merasa gamis longgarku ikut bergetar.
1371Please respect copyright.PENANAtNcUHg54bp
Pak Gatot menatapku dengan mata tajam yang tak berkedip. Dia mengeluarkan ponsel dari saku jas hitamnya, menekan layar beberapa kali, lalu memutar sebuah video call langsung. Dia mendekatkan layar itu ke wajahku.
1371Please respect copyright.PENANAy75gQBGjTI
Di layar terlihat jelas pos satpam Mas Rudi di Pasar Pabean. Suamiku sedang berdiri di sana, seragam satpamnya lengkap, tangannya memegang tongkat. Tapi yang membuat darahku membeku adalah bayangan dari dalam sebuah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari pos. Kaca mobil sedikit terbuka, dan dari celah itu terlihat jelas moncong pistol rakitan yang diarahkan langsung ke arah Mas Rudi.
1371Please respect copyright.PENANAr0OA5vpSXX
“Kalau kamu ingin menyelamatkan suamimu,” kata Pak Gatot dengan suara rendah dan tenang, tapi penuh ancaman, “izinkan saya masuk sekarang. Kalau tidak… suamimu pulang malam ini tinggal nama.”
1371Please respect copyright.PENANAbnL09XidoM
Napasku tersengal. Lututku lemas. Aku ingin berteriak. Ingin memanggil Pak RT atau siapa saja di gang sebelah. Mulutku sudah terbuka, suara hampir keluar dari tenggorokan.
1371Please respect copyright.PENANAHPeBS4LaIb
Tapi Pak Gatot seolah membaca pikiranku. Dia menggeleng pelan, satu kali saja, tapi cukup membuat darahku membeku total.
1371Please respect copyright.PENANAGCA5lzUQU3
“Jangan coba-coba berteriak atau lapor polisi, Bu Tyas,” bisiknya dingin. “Kalau tetangga datang, kalau polisi datang… pistol itu akan langsung berbunyi. Dan suamimu tidak akan pulang dalam keadaan hidup. Aku tidak main-main.”
1371Please respect copyright.PENANA6RTrZKbaJv
Air mataku langsung menggenang. Aku tak bisa berpikir jernih. Hanya ada satu bayangan di kepalaku: Mas Rudi yang baik, yang selama ini kujaga dengan segenap hati, tergeletak di pos satpam dengan darah mengalir. Tanpa berpikir panjang lagi, tanganku gemetar membuka pintu lebar-lebar.
1371Please respect copyright.PENANAKu9PaKwLq7
“Ma.. Masuklah…” kataku parau, suaraku hampir hilang.
1371Please respect copyright.PENANApvLoBy5hqK
Ini pertama kalinya dalam hidupku, sebagai istri orang yang selalu sopan dan menjaga diri, aku mengizinkan seorang pria asing masuk ke rumahku tanpa kehadiran suamiku.
1371Please respect copyright.PENANAyc7EfNbSk9
Pak Gatot melangkah masuk dengan tenang. Tubuh kekarnya yang tinggi langsung mengisi ruang tamu kecil kami. Dia bahkan tidak melepas sepatu boots hitamnya. Sol sepatunya meninggalkan jejak samar di lantai keramik yang baru kugosok pagi tadi. Dia langsung duduk di sofa kain cokelat tua, tempat biasanya Mas Rudi duduk setelah pulang kerja. Kakinya disilangkan santai, seolah dia adalah pemilik rumah ini. Aku mundur selangkah hingga punggungku menyentuh dinding, benar-benar ketakutan.
1371Please respect copyright.PENANAX6aCLe3OHm
Tiba-tiba ingatanku melayang ke dua malam lalu. Mas Rudi pulang larut, wajahnya tegang dan lelah. Saat menjelanh tidur, sambil mengantuk, dia sempat bercerita dengan suara pelan yang hampir tak jelas.
1371Please respect copyright.PENANA37mcQUGLtW
“Dek… tadi aku cekcok sama preman di kafe remang-remang ujung pasar itu. Mereka… ada yang nggak beres di sana.”
1371Please respect copyright.PENANADbCvGCwwH8
Aku hendak bertanya lebih lanjut, tapi dia sudah tertidur pulas. Saat itu aku tak berani membangunkannya. Tapi sekarang… melihat pria di depanku ini, dengan jas hitam rapi, tato di jarinya, dan aura yang begitu gelap, aku mulai menghubungkan semuanya. Apakah Pak Gatot ini ada hubungannya dengan preman di kafe itu?
1371Please respect copyright.PENANAEfw2MvZivU
Pak Gatot mengeluarkan sebungkus rokok dari saku dalam jasnya. Dengan gerakan lambat yang sengaja, dia menyalakan sebatang baru. Api korek menyala, menerangi wajah kerasnya. Asap tebal langsung mengepul, memenuhi ruangan kecil.
1371Please respect copyright.PENANAC0aoXyBBQo
“Jangan… jangan merokok di sini, Pak,” kataku cepat, suaraku gemetar. “Saya tidak suka sap. Dan… Mas Rudi juga tidak suka kalau rumah bau rokok. Nanti dia tahu…”
1371Please respect copyright.PENANAJZKqeihAfd
Pak Gatot menatapku tajam. Matanya menyipit. Tiba-tiba suaranya membentak, keras dan dingin.
1371Please respect copyright.PENANA0kxmjVUrq6
“Buatkan kopi. Sekarang. Cepat.”
1371Please respect copyright.PENANAaiVvmoq73k
Aku tersentak. Tubuhku bergetar hebat. Tanpa sadar kakiku sudah bergerak menuju dapur kecil. Air panas memang sudah ada di termos, kebiasaanku menyiapkan untuk Mas Rudi. Tanganku gemetar saat menuang kopi instan ke dalam cangkir putih sederhana. Aku tak berani menoleh ke belakang.
1371Please respect copyright.PENANAJ0qJFQcdfe
Setelah kopi siap, aku membawanya ke ruang tamu. Pak Gatot masih duduk santai, ponselnya di tangan, memutar ulang video call tadi. Suara bisik ancaman di rekaman itu terdengar samar, membuat bulu kudukku berdiri lagi.
1371Please respect copyright.PENANAcyZVXjqWAJ
Aku meletakkan cangkir di meja kecil di depannya, lalu buru-buru berbalik hendak kembali ke dapur, tempat yang terasa lebih aman. Saat beberapa langkah, tiba-tiba suara perintah tegas menggema.
1371Please respect copyright.PENANATOch5G6C2f
“Balik!”
1371Please respect copyright.PENANAOui7LUsU3S
Suara itu tajam seperti cambuk.
1371Please respect copyright.PENANAuo7Puj2llH
Aku berhenti mendadak.
1371Please respect copyright.PENANAr7hxHhUIJh
“Duduk,” lanjutnya, menunjuk tempat di sofa tepat di hadapannya. “Di sini. Hadap aku.”
1371Please respect copyright.PENANAuHnMvslSN0
Aku ingin menolak. Ingin lari. Tapi ancaman pistol di video tadi masih terbayang jelas. Aku melangkah pelan, duduk di ujung sofa, lututku rapat, tangan mengepal di atas paha. Gamisku terasa terlalu tipis sekarang, meski longgar.
1371Please respect copyright.PENANAPzZ4yfRbqN
Pak Gatot mengambil cangkir kopi itu, menyesap pelan. Lalu dia mendorong cangkir yang sama ke arahku.
1371Please respect copyright.PENANAduAfOXChzo
“Cicipi.”
1371Please respect copyright.PENANA2YX5kQXO2w
Aku menggeleng cepat. “Tidak… tidak perlu, Pak. Itu untuk Bapak.”
1371Please respect copyright.PENANAzMlrarDVpD
“Cicipi,” ulangnya, nada suaranya tak bisa dibantah.
1371Please respect copyright.PENANA6fWWmGAxN1
Dengan tangan gemetar, aku mengambil cangkir itu. Aku mendekatkannya ke bibir dan meneguk sedikit.
1371Please respect copyright.PENANAAcIjn7dvC7
Dan dunia seketika berubah.
1371Please respect copyright.PENANAkXIte6cx6k
Rasa kopi yang seharusnya pahit biasa… tiba-tiba berubah menjadi manis lembut, seperti vanila yang meleleh hangat di lidah. Rasa itu misterius, terlalu enak, terlalu memabukkan. Aku yakin tadi hanya menuang kopi instan biasa tanpa gula berlebih. Tapi sekarang…
1371Please respect copyright.PENANA9tms5ufI0U
Kepalaku terasa ringan. Pandanganku kabur di pinggir. Napasku menjadi lebih cepat, lebih pendek. Tiba-tiba putingku mengeras di balik bra sederhana yang tersembunyi di bawah gamis. Keras sekali, sampai terasa sakit dan nikmat sekaligus. Aku menekan paha rapat-rapat, tapi sia-sia. Di antara kakiku, ada kehangatan yang tiba-tiba muncul, lalu berubah menjadi basah. Sangat basah. Cairan hangat itu merembes pelan, membasahi celana dalamku.
1371Please respect copyright.PENANAG4idLha8SE
Aku menatap Pak Gatot dengan mata melebar, napas terengah-engah.
1371Please respect copyright.PENANAj7tqvM0Lef
Dia tersenyum. Senyum tipis, misterius, dan licik. Matanya menelusuri wajahku yang memerah, turun ke dada yang naik-turun tak beraturan, lalu ke pangkal pahaku yang tanpa sadar aku tekan erat-erat.
1371Please respect copyright.PENANAQuG62pURIg
Aku tahu, dari senyumnya itu, dia tahu persis apa yang sedang terjadi di dalam tubuhku.
1371Please respect copyright.PENANAKScHAQWQie
Aku duduk lemas di ujung sofa, tangan masih memegang cangkir yang tadi kuminum seteguk kecil. Tubuhku terasa asing. Panas. Berat. Ringan sekaligus. Napasku tersengal-sengal, dada naik-turun terlalu cepat hingga gamis longgarku menempel di kulit yang mulai berkeringat. Pak Gatot masih menatapku dengan senyum tipis yang licik, seolah dia bisa melihat segala yang kusembunyikan di balik kerudung panjang dan senyum sopan yang selalu kuberikan pada dunia.
1371Please respect copyright.PENANAExyeLEq914
Tiba-tiba dia tertawa kecil, suara rendah yang membuat bulu kudukku berdiri.
1371Please respect copyright.PENANApSbfhvlNTd
“Suamimu itu… satpam biasa ya?” katanya dengan nada penuh ejekan. “Kerja lembur tiap malam, pulang capek, langsung tidur. Jarang sekali menyentuh istrinya, kan? Saya bisa bayangkan… kamu tidur di sampingnya, badan panas, tapi dia cuma mendengkur. Kasihan sekali, Bu Tyas. Sudah berapa lama menahan diri seperti ini?”
1371Please respect copyright.PENANAgLHorM3TvN
Kata-katanya seperti pisau tajam yang menusuk tepat ke tempat paling sakit di hatiku. Aku merasa wajahku memanas, bukan hanya karena efek kopi yang aneh itu, tapi karena malu yang mendalam. Karena marah. Karena… benar.
1371Please respect copyright.PENANAUh37hPMxAN
“Jangan bicara sembarangan tentang suami saya!” bentakku, suaraku pecah dan gemetar. “Mas Rudi baik. Dia bekerja keras untuk kami. Dia… dia mencintaiku.”
1371Please respect copyright.PENANABHKsC2EGGB
Pak Gatot mengangkat alisnya. Matanya menyipit, seolah membaca setiap keraguan yang pernah kulewati di malam-malam sepi.
1371Please respect copyright.PENANA5ll1CaMj0Y
“Benarkah?” tanyanya pelan, suaranya penuh sindiran. “Kalau begitu kenapa badanmu bereaksi begini hanya karena satu teguk kopi yang kucampur sedikit… sesuatu? Kamu bahkan belum kusentuh, tapi putingmu sudah keras. Di bawah gamis itu, kamu sudah basah, kan? Aku bisa mencium baunya dari sini.”
1371Please respect copyright.PENANATlRQ7gNzny
Aku tersentak keras. Tubuhku menegang. Bagaimana dia bisa tahu? Bagaimana dia bisa melihat apa yang kusembunyikan? Aku menunduk, tangan mengepal erat di atas paha. Aku ingin membantah, ingin berteriak bahwa dia bohong. Tapi kata-kata itu tak keluar dari mulutku. Karena… dia benar. Dan itu membuatku semakin sakit hati.
1371Please respect copyright.PENANA7s8rURUCA2
Pak Gatot menarik napas dalam-dalam dari rokoknya, lalu tiba-tiba menyemprotkan asap tebal langsung ke wajahku. Asap itu panas, pekat, menyengat hidung dan mata. Aku batuk kecil, mata langsung berair. Bau rokok yang kuat itu bercampur dengan aroma vanila misterius dari kopi tadi, membuat kepalaku semakin pusing dan ringan.
1371Please respect copyright.PENANANa3DlVsBDZ
Dia berdiri. Tubuhnya yang tinggi dan kekar mendadak menjulang di depanku. Tanpa peringatan, tangan besarnya meraih daguku, memaksa wajahku mendongak. Cangkir kopi yang masih setengah penuh diambilnya dari tanganku. Dengan gerakan kasar tapi terkontrol, dia mendekatkan cangkir itu ke bibirku.
1371Please respect copyright.PENANA1wuXNdKT7V
“Minum lagi,” perintahnya. “Sampai habis.”
1371Please respect copyright.PENANAi03HKY3ixa
Aku menggeleng lemah. “Tidak… cukup, Pak…”
1371Please respect copyright.PENANAubmNix9Z7J
Tapi tangannya tak memberi kesempatan. Dia memiringkan cangkir. Kopi hangat itu mengalir ke mulutku, sebagian tertelan, sebagian lagi tumpah ke dagu, ke leher, lalu merembes ke kerudung lebar yang menutupi dadaku.
1371Please respect copyright.PENANAyHLbWw4aYu
Dan saat itulah… untuk pertama kalinya dalam hidupku, seorang pria yang bukan suamiku menyentuhku.
1371Please respect copyright.PENANAM6TbrCGpOs
Jari-jarinya yang kasar menyeka tetesan kopi di daguku dengan gerakan lambat. Sentuhan itu ringan, tapi terasa seperti listrik yang menyengat seluruh tubuhku. Aku tersentak, tapi tubuhku tak bisa bergerak. Lemas. Panas. Basah. Semuanya bercampur jadi satu.
1371Please respect copyright.PENANAxqlz0sD6qO
Pak Gatot meletakkan cangkir kosong di meja, lalu duduk tepat di sampingku. Sofa kecil itu tiba-tiba terasa sangat sempit. Bahunya menyentuh bahuku. Aku berusaha bergeser ke samping, tapi kakiku tak patuh. Tubuhku seperti lumpuh oleh campuran rasa takut, malu, dan hasrat yang tak bisa kuhentikan.
1371Please respect copyright.PENANAFntajrmiZE
Tiba-tiba lengannya melingkari pinggangku. Kuat. Tak bisa ditolak. Kepalaku ditarik mendekat dengan tangan yang lain, jari-jarinya menyelip di bawah kerudung, menyentuh rambutku yang terikat rapi. Aku mencium bau rokok lagi, lebih kuat, lebih dekat. Napasnya panas di wajahku, bercampur aroma kopi dan sesuatu yang maskulin, liar.
1371Please respect copyright.PENANA9JrCy1468L
Lalu bibirnya menempel di bibirku.
1371Please respect copyright.PENANAyhlK39nRrL
Pertama kali setelah sekian lama, aku dicium seorang pria. Tapi bukan Mas Rudi, bukan suamiku! Bukan ciuman lembut dan penuh kasih sayang yang biasa kuterima di malam-malam dulu. Ini ciuman yang ganas. Dominan. Bibirnya tebal, kasar, berbau rokok dan kopi yang pahit-manis. Lidahnya memaksa masuk, menjelajah mulutku tanpa ampun. Aku mencoba menutup mulut, mencoba mendorong dada bidangnya dengan tangan yang gemetar, tapi tenagaku hilang. Malah… tubuhku bereaksi sebaliknya.
1371Please respect copyright.PENANA5pk6ozYTwR
Dadaku naik-turun lebih cepat. Putingku sakit karena mengeras terlalu lama. Di antara kakiku, kebasahan itu semakin deras, membasahi celana dalam hingga terasa lengket dan panas. Aku merasa bersalah. Sangat bersalah. Ini salah. Tapi ada apa dengan tubuhku??
1371Please respect copyright.PENANAzeLv6Ufs3m
Aku berusaha menghindar, memalingkan wajah, tapi tangannya menahan kepalaku lebih kuat. Ciumannya semakin dalam, semakin rakus. Lidahnya bermain dengan lidahku, mengajak, memaksa, dan tanpa sadar… aku membalas sedikit. Hanya sedetik. Hanya sedikit. Tapi itu cukup membuatku menangis dalam hati.
1371Please respect copyright.PENANA5nHVr1o3ap
Aku menikmatinya.
Sedikit saja.
Tapi cukup untuk membuatku merasa seperti perempuan paling kotor di dunia ini. Saat di atas meja terpampang live video call suamiku sedang dibidik, aku sedang ciuman dengan pria lain.
1371Please respect copyright.PENANAPtgS3bS4Kw
Saat akhirnya dia melepaskan bibirku, aku terengah-engah. Air mata mengalir di pipiku. Bibirku bengkak, basah oleh air liurnya yang bercampur kopi dan rokok. Pak Gatot menatapku dengan mata gelap penuh kepuasan.
1371Please respect copyright.PENANALIaFHAUqmX
“Kamu suka, ya?” bisiknya, jempolnya menyeka air mata di pipiku dengan lembut yang justru terasa mengejek. “Jangan bohong pada dirimu sendiri, Bu Tyas. Badanmu lebih jujur daripada mulutmu.”
1371Please respect copyright.PENANAIpoXhCOcwC
Aku tak bisa bicara. Hanya bisa menunduk, menahan isak yang tertahan di dada. Di balik rasa bersalah yang membakar, ada bara yang semakin membesar. Bara yang tak pernah kurasakan bersama Mas Rudi selama ini.
1371Please respect copyright.PENANAbGv0D4zR19
Dan Pak Gatot… tahu itu.
Dia tahu persis apa yang sedang terjadi di dalam diriku yang selama ini selalu kututup rapat dengan gamis longgar dan kerudung panjang.
1371Please respect copyright.PENANAiYvNTwtCMy
Tiba-tiba, aku merasakan jari-jarinya bergerak ke belakang kepalaku. Jarum peniti kerudungku yang kusemat rapi setiap pagi, jarum yang selama ini menjaga rambutku dengan kain dari pandangan siapa pun selain Mas Rudi, ditarik perlahan. Aku syok. Mataku melebar lebar. Tanganku langsung menahannya dengan keras, menjepit kain kerudung yang mulai longgar.
1371Please respect copyright.PENANAWnJj1a7J1L
“Jangan… Pak!” jeritku pelan di sela ciuman, suaraku pecah.
1371Please respect copyright.PENANAtRcI7fbPJs
Tapi tangan Pak Gatot jauh lebih kuat. Dengan satu tarikan mantap, jarum itu lepas. Kerudungku melorot ke belakang, dan rambut keritingku yang panjang, yang selama ini selalu kubiarkan terikat karena tak pernah sempat ke salon terurai begitu saja. Ikatan karet sederhana yang kupakai setiap hari ikut terlepas. Rambut hitam kusut itu jatuh menjuntai hingga punggung. Aku merasa telanjang. Bukan karena baju, tapi karena sesuatu yang lebih intim: rambutku yang tak pernah dilihat pria lain selain suamiku.
1371Please respect copyright.PENANAqvbZlj696C
Pak Gatot menarik kepalaku mundur sedikit, memandang rambutku dengan mata yang gelap. Bibirnya melengkung sinis.
1371Please respect copyright.PENANA9p0t0OaxMT
“Lihat ini,” katanya sambil menyisir rambutku dengan jari-jarinya yang kasar. “Rambut istrinya sampai kucel begini. Keriting tak terurus, tak pernah dirawat di salon, tak pernah dikasih masker rambut. Suamimu itu memang tak tahu cara merawat perempuan. Kalau dia benar-benar mencintaimu, masa rambut secantik ini dibiarkan begini saja?”
1371Please respect copyright.PENANAKfZSozQEph
Kata-katanya menusuk lagi. Lebih dalam dari sebelumnya. Aku merasa air mata panas menggenang di pelupuk mata. Aku tahu rambutku memang tak terawat, tak ada jatah uang dari Mas Rudi untuk ke salon. Tapi mendengarnya diucapkan begitu kasar oleh orang asing… sakit. Sangat sakit. Tapi di saat yang sama, untuk pertama kalinya, rambutku tergerai bebas di hadapan pria lain. Dan entah kenapa, tatapan Pak Gatot yang penuh nafsu itu membuat dadaiku berdegup lebih kencang.
1371Please respect copyright.PENANAnwRgDQ9IK8
Ciumannya kembali datang, kali ini lebih liar. Bibirnya menekan bibirku dengan rakus, giginya menggigit pelan bibir bawahku hingga aku mendesis. Rambutku yang terurai membuatnya semakin bergairah, aku bisa merasakannya dari napasnya yang semakin berat, dari tangannya yang gemetar sedikit saat menyentuh punggungku.
1371Please respect copyright.PENANAyJ2aStRQxx
Tiba-tiba, aku mendengar suara resleting. Resleting gamis di belakangku ditarik turun dengan cepat. Aku tersentak, tanganku langsung meraih ke belakang mencoba menahannya.
1371Please respect copyright.PENANAbuDAaFTc7S
“Tidak! Jangan, Pak!” kataku panik, suaraku hampir hilang.
1371Please respect copyright.PENANAgL6U1UfFwc
Tapi tangan Pak Gatot lebih cepat. Resleting itu sudah terbuka hingga pinggang. Kain gamis longgarku terbelah, bahuku yang mulus terpapar udara malam yang sejuk. Belahan dadaku yang tersembunyi di balik bra polos putih sederhana, bra yang tak pernah kubeli yang bagus karena tak pernah kupikirkan, kini terlihat jelas di depan matanya.
1371Please respect copyright.PENANAXU47jipmj7
Aku langsung menutupi dada dengan kedua tangan, menekan kain gamis yang masih menempel di tubuh. Wajahku panas. Malu. Takut. Tapi juga… anehnya, ada getaran panas yang semakin kuat di bawah perut.
1371Please respect copyright.PENANAlKu3o7Bk8P
Pak Gatot mengumpat pelan, suaranya serak.
1371Please respect copyright.PENANAOcLE08euQA
“Brengsek… lihat ini. Dada segede ini, putingnya sudah keras begini, tapi disembunyikan di balik bra murahan. Cocok banget dipamerin, Bu Tyas. Sayang sekali disembunyikan.”
1371Please respect copyright.PENANAdD9VguJWrp
Kata-katanya kotor. Tapi anehnya… mendengarnya membuat tubuhku bereaksi lebih hebat. Mungkin karena sesuatu di kopi tadi, mungkin karena aku sudah terlalu lama tak disentuh, atau mungkin karena ada bagian diriku yang selama ini terkubur dalam-dalam. Dadaku terasa berat, putingku sakit karena mengeras terlalu lama, dan di antara kakiku… semakin basah.
1371Please respect copyright.PENANAUSjzxHr4yf
Pak Gatot tak memberi kesempatan. Tangannya meraih pergelangan tanganku yang menutupi dada, membuangnya ke belakang dengan kasar. Lalu, tanpa ampun, kedua telapak tangannya meremas dadaku dari luar bra. Remasan itu kuat, kasar, tapi tepat di tempat yang membuatku tersentak.
1371Please respect copyright.PENANAJsLVKaaxI8
“Ahh…”
1371Please respect copyright.PENANAFsqFkaN7La
Desahan kecil keluar dari mulutku tanpa bisa kutahan. Desahan pertama yang bukan karena Mas Rudi. Bahkan aku sendiri tak pernah menyentuh diriku sendiri seperti ini. Tubuhku gemetar hebat. Panas. Nikmat. Bersalah.
1371Please respect copyright.PENANAH8HUMn2tRV
Pak Gatot mencium leherku, bibirnya panas dan basah, meninggalkan jejak gigitan kecil. Tangannya meremas lebih dalam, jari-jarinya menyelinap ke dalam bra, menyentuh langsung kulit sensitifku. Putingku dipilin pelan, lalu diremas kuat. Aku mendesah lagi, lebih keras. Kepalaku terdongak ke belakang, rambut keritingku bergoyang.
1371Please respect copyright.PENANA3SujVe8DAc
Gamis longgarku sudah mudah sekali dipelorotkan oleh tangannya yang lincah. Kain itu melorot hingga pinggang, menyisakan celana kain rumahan tipis yang biasa kupakai di rumah, celana yang tak pernah kupikirkan akan dilihat orang lain. Aku ingin bicara, ingin menolak, ingin berteriak bahwa ini salah.
1371Please respect copyright.PENANAi1pX4b1pca
Tapi bibirnya langsung melumat bibirku lagi. Ciuman yang mematikan segala kata. Lidahnya menari ganas, membuatku tak bisa bernapas dengan benar.
1371Please respect copyright.PENANAAY1sx99C3b
Lalu, tiba-tiba, dia memeluk pinggangku erat. Tubuh kami terangkat bersama. Dia membuatku berdiri, masih dalam pelukannya yang kuat. Kami berciuman panas sambil berdiri di tengah ruang tamu kecil itu. Tubuhku menempel rapat padanya, dadaku yang setengah telanjang bergesekan dengan jas hitamnya yang kasar.
1371Please respect copyright.PENANAmj7QrelODr
Dan di saat itulah aku sadar, dia sengaja membuatku berdiri. Matanya turun, memelototi celana kain rumahanku yang tipis. Dengan satu tarikan cepat, celana itu ikut melorot hingga ke pergelangan kaki. Kini aku hanya menyisakan celana dalam putih sederhana yang sudah basah kuyup di bagian tengah.
1371Please respect copyright.PENANAFK1mJ5iCZ2
Pak Gatot mengumpat kasar, suaranya serak penuh nafsu.
1371Please respect copyright.PENANAD3AeW1odIW
“Brengsek… lihat ini. Celana dalamnya sudah banjir begini. Kamu memang sudah lama kelaparan, ya, Bu Tyas?”
1371Please respect copyright.PENANAGk0COZi36G
Tanpa menunggu jawaban, tangan kasarnya yang besar itu langsung bergerak. Jari telunjuk dan tengahnya kasarnya menyelinap ke balik pinggiran celana dalamku, langsung menyentuh bagian paling sensitif yang selama ini tak pernah disentuh siapa pun, bahkan diriku sendiri tak pernah berani. Saat jarinya memasuki, aku menggeliat keras. Campuran kenikmatan dan kesakitan yang menusuk. Tubuhku yang sudah lama kering tiba-tiba dibanjiri sensasi yang terlalu kuat. Aku mendesis, punggung melengkung, tangan mencengkeram kain sofa hingga jari-jariku memutih.
1371Please respect copyright.PENANAkxtzkX0bG4
“Ahh… sakit… tapi…”
1371Please respect copyright.PENANAyWrrvd1VXd
Aku tak bisa menyelesaikan kalimat. Pak Gatot mulai menggerakkan jarinya pelan dulu, lalu semakin cepat, semakin dalam. Cairan hangat itu semakin deras keluar, membasahi telapak tangannya. Aku menggigit bibir bawahku keras, mencoba menahan desahan, tapi sia-sia. Suara basah dari gerakan jarinya terdengar jelas di ruangan yang sunyi ini.
1371Please respect copyright.PENANAYYd9J19x3l
Dia menarik jarinya tiba-tiba. Jari-jarinya yang basah kini berkilau oleh cairanku sendiri. Dia mengangkat tangan itu ke depan wajahku, menunjukkan cairan bening yang menetes perlahan.
1371Please respect copyright.PENANARsxHdQ9Xjl
“Lihat ini,” katanya sambil tersenyum jahat. “Ini yang selama ini kamu tahan sendiri, ya? Tampak lezat sekali.”
1371Please respect copyright.PENANAL6o9JBKNn5
Sebelum aku sempat menolak, jari itu dimasukkan ke mulutku. Rasa asin, pahit tembakau dari rokoknya, dan cairan beningku sendiri memenuhi lidahku. Aku tersedak kecil, tapi tangannya menahan kepalaku agar tak bisa menghindar. Aku terpaksa menelan, dan anehnya… rasa itu membuat kepalaku semakin melayang.
1371Please respect copyright.PENANAPUgjxR6yZw
Jari yang sudah basah oleh liurku itu kembali dimasukkan ke dalam vaginaku. Kali ini lebih dalam, lebih cepat. Gerakannya seperti memompa, menekan titik yang membuatku kehilangan kendali. Putingku mengeras sampai sakit, dada naik-turun tak beraturan. Pikiranku melayang jauh ke Mas Rudi, tentang yang sedang kulakukan, ke rasa bersalah yang seharusnya menghentikanku. Tapi tubuhku malah semakin liar. Aku merasa seperti perempuan binal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
1371Please respect copyright.PENANAqjgKq9lhkg
“Dasar jalang…lihat, kamu basah banget,” umpat Pak Gatot lagi, suaranya semakin kasar. “Suamimu pasti tak pernah bikin kamu begini. Dia cuma bisa tidur, sementara istrinya di sini menggelinjang kayak gini.”
Umpatan demi umpatan keluar dari mulutnya, setiap kata seperti cambuk yang justru membuatku semakin terbakar. Gerakan jarinya semakin ganas, menekan, memilin, mengaduk. Aku tak tahan lagi. Tubuhku menegang hebat. Otot-otot di perut bawahku berkontraksi kuat. Lalu… ledakan.
1371Please respect copyright.PENANAHJ6XwN2ImP
Aku squirt. Cairan hangat menyembur deras, membasahi tangan Pak Gatot, sofa, bahkan lantai di depanku. Tubuhku kejang-kejang, kepala terdongak ke belakang, mulut terbuka lebar mengeluarkan desahan panjang yang tak bisa kutahan.
1371Please respect copyright.PENANALypFTvmKFO
“Aaahhh…!”
1371Please respect copyright.PENANA9BMXt3UM0u
Aku tergeletak lemas di sofa, tubuhku basah oleh keringat dan cairan yang tak bisa kusebutkan lagi. Bra putih polos yang sudah kusut menempel di dada, celana dalam putih yang basah kuyup menempel lengket di selangkanganku.
Pak Gatot menatapku dengan mata gelap penuh kepuasan, senyum licik masih terukir di bibirnya.
1371Please respect copyright.PENANAgqzZep529H
1371Please respect copyright.PENANAdbxgipLxn1
1371Please respect copyright.PENANASWXw6ad72n
Tiba-tiba mataku melotot lebar.
1371Please respect copyright.PENANA2Ni7wUMZCR
Pak Gatot berdiri di depanku, tangannya membuka resleting celana panjang-nya dengan gerakan santai.
Disitulah aku terkejut!
Perlahan dari batang ujung penisnya yang hitam, berurat tebal, dan sudah tegang sempurna keluar begitu saja. Besar. Sangat besar. Lebih besar dari yang pernah kulihat dari Mas Rudi. Aku merinding hebat. Syok yang luar biasa!
1371Please respect copyright.PENANAg8a7giCmcH
Tanganku sampai reflek langsung menutup mulut, mata melebar penuh ketakutan dan rasa tidak percaya.
1371Please respect copyright.PENANArEMXQiPVqZ
Ini pertama kalinya aku melihat penis pria lain begitu dekat, begitu jelas, tepat di depan wajahku.
1371Please respect copyright.PENANAM6P96JZPjs
Pak Gatot mendekatkan batang tegang itu ke mulutku. Bau maskulin yang kuat, campur keringat dan sesuatu yang liar, langsung menyengat hidungku. Saat ujungnya hanya tinggal beberapa senti dari bibirku yang ditutup, aku gelagapan. Aku ingin mundur, tapi tubuhku terlalu lemas.
Saat Pak Gatot ingin mengingkirkan tanganku..
Tiba-tiba… dering HP yang lain dari saku celana-nya memecah keheningan.
Bunyi itu datang dari saku celana hitam Pak Gatot, bukan ponsel yang tadi digunakan untuk video call, melainkan HP kecil lain yang khusus untuk telepon. Sekilas aku melihat, di layar tertulis nama panggilan: “Big Bos”.
1371Please respect copyright.PENANAubleEB5T7z
Pak Gatot yang tadinya begitu dominan, begitu menguasai, tiba-tiba wajahnya berubah. Dia langsung meraih ponsel itu, menekan tombol jawab dengan cepat. Sikapnya berubah total, penuh hormat, hampir tunduk.
1371Please respect copyright.PENANAvl9vQmdq5l
“Sudah, Bos. Siap, Bos. Segera!” Jawabnya penuh hormat seperti ke komandan.
1371Please respect copyright.PENANALX2VTVrcsz
Suara penelpon tak terdengar jelas olehku yang masih lemas dan kepala melayang. Tapi aku menangkap samar-samar, dia tak dipanggil “Gatot”. Ada nama samaran lain yang terdengar samar di telingaku.
1371Please respect copyright.PENANAf6cVX0JyJc
Pak Gatot mematikan telepon. Dia menatapku sebentar, lalu dengan gerakan cepat menutup kembali resleting celananya. Penis itu menghilang lagi ke balik kain.
1371Please respect copyright.PENANA0egUqvbbYS
Disaat yang sama, aku menyadari live video call suamiku sudah diakhiri panggilannya.
1371Please respect copyright.PENANAiCivN9ORql
Aku… lega. Sangat lega. Napasku terhela panjang. Mungkin ini berakhir. Mungkin dia pergi.
1371Please respect copyright.PENANAPR1BsC9lQZ
Tapi harapanku hancur seketika.
1371Please respect copyright.PENANANraiFvAtqE
Pak Gatot berjalan ke koper hitam yang tadi dia bawa. Ternyata di ujung koper ada sebuah kamera, kamera digital mungil dengan lensa yang tampak mini tak kusadari, dia lalu seperti mengkoneksikannya dengan HP yang dia bawa, lalu menekan tombol play, dan layar HP itu menyala.
1371Please respect copyright.PENANArFB5qUXpkE
Betapa kagetnya aku, itu videoku! Suara desahanku sendiri terdengar keras dari speakernya. Video itu… tubuhku yang setengah telanjang, geliatanku, squirtku… sedang dalam pelukan pria asing, dicium dan diremas, ditelanjangi, semuanya terekam jelas.
1371Please respect copyright.PENANAa6h2gMIgDi
Aku kaget bukan main. Tubuhku langsung duduk tegak meski lemas.
1371Please respect copyright.PENANAlGq6WF03rN
“Itu… hapus! Hapus sekarang, Pak!” jeritku pelan, suaraku pecah. Air mata langsung mengalir lagi.
1371Please respect copyright.PENANAQKATGfN1tO
Pak Gatot malah membentak, suaranya dingin dan tegas.
1371Please respect copyright.PENANAOczozPuJIn
“Diam! Kamu beruntung malam ini cuma foreplay. Setelah ini akan lebih ganas lagi. Kalau kamu menolak, kalau kamu lapor polisi, kalau kamu cerita ke siapa pun… rekaman ini akan jadi jaminan. Bahkan ancaman kematian suamimu belum selesai! Kalau kamu berani macam-macam, lihat saja!" Bentak Pak Gatot dengan penuh ancaman membuatku syok tak bisa bisa berkata apa-apa.
1371Please respect copyright.PENANADH53RwaDBm
Dia menyimpan kamera itu kembali ke dalam koper, lalu menatapku dengan mata gelap.
1371Please respect copyright.PENANA3VTc0JgTrt
“Besok malam aku datang lagi. Dan kali ini… saya tak akan berhenti di sini.”
1371Please respect copyright.PENANAGnsuVRwrPu
Saat Pak Gatot bergegas membereskan barang-barangnya, HP-ku berdering nyaring dari lemari kecil di ruang tengah. Aku melirik jam di dinding, betapa kagetnya aku, ini jam Mas Rudi pulang.
1371Please respect copyright.PENANADYMJpkQdrG
Aku langsung bangkit dengan susah payah, tubuhku hanya mengenakan bra dan celana dalam yang basah. Kaki gemetar, aku bergegas ke lemari, mengambil HP dengan tangan yang masih lengket. Dan benar, layar menunjukkan nama: “Mas Rudi Suamiku”.
1371Please respect copyright.PENANAgHVGKs7UjO
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan suara yang pasti akan terdengar parau. Aku menekan tombol jawab.
1371Please respect copyright.PENANAMv1X91iGfV
“Halo… Mas?”
1371Please respect copyright.PENANATniF447bkH
“Dek, aku lagi di jalan pulang nih. Udah deket kontrakan. Siapin makan malam seperti biasa ya, aku laper banget hari ini.”
1371Please respect copyright.PENANAUPFL4FVmk9
Suara Mas Rudi terdengar lelah tapi hangat, seperti biasa. Jam di dinding menunjukkan pukul 20:27. Sudah setengah sembilan malam. Aku tak sadar waktu berlalu begitu cepat.
1371Please respect copyright.PENANAslAAqBCSvF
“I-iya Mas.." jawabku dengan suara yang kucoba buat selembut mungkin. Tapi tenggorokanku terasa kering, bibirku masih bengkak karena ciuman tadi.
1371Please respect copyright.PENANAIeSwDCD8vY
Di belakangku, Pak Gatot tiba-tiba bergerak. Dia mengeluarkan HP-nya lagi lalu menyalakan video itu, dan memutar rekaman tadi, tanpa suara, tapi gambarnya jelas sekali. Dia mendekatkan layar ke arahku, tepat di depan mataku, sementara aku masih memegang HP di telinga.
1371Please respect copyright.PENANAGEFxAAfl88
Aku melihat diriku sendiri di layar itu.
1371Please respect copyright.PENANAjqGXwReR5F
Tubuhku tiba-tiba masih yang menggeliat, aku melihat diriku dengan mulut terbuka mengeluarkan desahan tanpa suara, pinggul terangkat saat jari Pak Gatot bergerak di dalamku, lalu squirt yang menyembur deras. Wajahku… wajah yang kukenal sebagai wajah polos dan sopan… terlihat begitu binal. Begitu menikmati. Tak ada tanda-tanda perlawanan. Tak ada tangisan paksaan. Hanya kenikmatan murni yang terpancar dari ekspresiku.
1371Please respect copyright.PENANAMyy2WBE6Nv
Aku menutup mata sejenak, tapi gambar itu tetap terpampang di pikiranku. Aku merasa mual. Itu bukan pemerkosaan di mata orang lain. Itu… seperti persetujuan.
1371Please respect copyright.PENANAO12zG7nxbM
“Dek? Kamu kenapa? Suaranya kok aneh?” tanya Mas Rudi di seberang sana.
1371Please respect copyright.PENANAkkPFxfbWoM
Aku tersentak. Buru-buru membuka mata.
1371Please respect copyright.PENANA7DIsYAGqMg
“Enggak apa-apa, Mas. Cuma… capek sedikit, Sudah, Mas cepat pulang ya. Aku tunggu.”
1371Please respect copyright.PENANACVogOZhE4C
“Iya, Dek. Sebentar lagi sampai. Aku kangen kamu.”
1371Please respect copyright.PENANA068cVvEcmx
Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk lebih dalam. Aku mematikan telepon dengan tangan gemetar. Air mata langsung mengalir lagi.
1371Please respect copyright.PENANA165l97FwGX
Pak Gatot tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya menggema di ruangan kecil ini, kasar dan penuh ejekan.
1371Please respect copyright.PENANA76vJ6dcvfT
“Hahaha! Lihat tuh, istri setia yang baik hati. Suaminya telepon, dia bohong dengan mulus. Padahal lagi telanjang separuh badan, baru aja disquirting sama orang lain. Kamu hebat juga, Bu Tyas. Bisa akting polos begitu.”
1371Please respect copyright.PENANA2pCneGADz0
Aku tak bisa menjawab. Aku hanya terduduk di lantai, memeluk HP di dada seperti pelindung terakhir, dan menangis tanpa suara. Bahuku berguncang hebat. Air mata jatuh ke lantai keramik yang dingin.
1371Please respect copyright.PENANABBNdCWmz9f
Pak Gatot berhenti tertawa. Dia menatapku sebentar, lalu mengangkat koper hitamnya.
1371Please respect copyright.PENANAdA0RVBJc6Z
“Aku tadi di telepon orang yang di mobil. Suamimu mau pulang. Jadi, aku pergi dulu. Besok aku balik lagi. Jangan lupa… rekaman itu aman di tanganku.”
Sebelum benar-benar melangkah keluar, Pak Gatot berhenti sejenak di ambang pintu. Dari saku jas hitamnya, dia mengeluarkan selembar kertas kecil yang sudah dilipat rapi, selembar nota belanja tua yang dibalik, di mana sebuah nomor telepon ditulis dengan tinta biru tebal dan huruf besar.
“Ini nomorku,” katanya tanpa menoleh. “Malam ini juga hubungi saya. Segera. Jangan sampai lupa, atau lihat sendiri akibatnya”
Dia meletakkan kertas itu di atas meja, tepat di samping cangkir kopi.
1371Please respect copyright.PENANAIHxhuwWs3R
Lali dia langsung bergegas dan membuka pintu, melangkah keluar, dan menutupnya pelan. Suara langkah sepatunya menghilang di gang sempit.
1371Please respect copyright.PENANAAJrFM0w5GH
Aku tak punya waktu untuk meratapi diri. Mas Rudi sebentar lagi sampai.
1371Please respect copyright.PENANANvYdtYEktY
Dengan sisa tenaga yang ada, aku bangkit. Tubuhku masih lemas, tapi ketakutan lebih kuat dari lelah. Aku buru-buru melepas bra dan celana dalam yang basah itu, melemparkannya ke keranjang cucian kotor. Gamis dan kerudung yang tadi kusut dan berbau rokok serta keringat kulempar juga ke mesin cuci. Aku menyalakan mesin cuci dengan mode cepat, berharap baunya hilang sebelum Mas Rudi pulang.
Saat mencuci mulut, aku melirik jam dinding. Ternyata Mas Rudi pasti sudah sangat dekat. Tanpa berfikir panjang, aku teringat ada stok mie instan, aku langsung merebus air dengan api kompor yang besar, mie instan dituang ke mangkuk, bumbu ditambahkan, polos tanpa toping. Tapi, bau mie instan yang biasa itu langsung memenuhi ruangan, menutupi sisa aroma rokok dan keringat yang masih samar.
Aku berlari ke kamar, mengambil gamis baru berwarna abu-abu muda yang masih rapi, kerudung panjang warna senada, dan bra serta celana dalam cadangan. Aku mengenakannya dengan cepat, tangan gemetar saat menyemat jarum peniti kerudung. Rambut keritingku kukat rapi lagi, kusisir sekilas, lalu kubiarkan terikat ketat seperti biasa.
1371Please respect copyright.PENANAxBIwl3houK
Kembali ke ruang tamu. Aku mengambil lap basah, membersihkan sofa yang basah oleh cairanku sendiri. Aku menggosok lantai di depan sofa, menghapus jejak-jejak itu sebisaku. Bau rokok masih samar-samar, jadi aku membuka jendela kecil, membiarkan angin malam masuk. Aku menyemprotkan pewangi ruangan yang biasa kupakai, berharap menutupi semuanya. Aku langsung menyimpan kertas berisi nomer itu, lalu membawa cangkir kopi itu dan langsung mencucinya, aku juga berkumur-kumur di westafel agar bau mulut Pak Gatot dimulutku hilang.
Dan, suara ketukan pintu terdengar.
1371Please respect copyright.PENANApoPCsCHLpb
“Dek, Mas pulang!”
1371Please respect copyright.PENANA27Yq9fWNiB
Aku langsung bergegas membuka pintu dengan senyum yang sudah kupasang rapi. Mas Rudi masuk, melepas sepatu, lalu mencium keningku seperti biasa. Dia tidak curiga, baunya sudah hilang.
Tapi yang paling penting adalah, Mas Rudi pulang dalam keadaan selamat, dan aku langsung memeluknya.
"Wah, kangen banget nih ya" Ucapnya polos.
Tiba-tiba suara hidungnya mengendus-endus.
“Wah, wanginya kuat banget nih ruangannya, ada wangi mie goreng juga ini”
Aku tertawa kecil, berusaha terdengar biasa.
1371Please respect copyright.PENANANiOHP1b6KD
“Iya, Mas. Tadi sibuk cuci baju sama bersih-bersih rumah. Baru sempet masak mie instan, lupa jam. Maaf ya, nggak sempet masak yang lebih enak.”
1371Please respect copyright.PENANAXLK3BiNolN
Dia menggeleng, tersenyum lelah.
1371Please respect copyright.PENANAX2ORBMIkly
“Enggak apa-apa, Dek. Mie instan aja udah enak kalau kamu yang masakin.”
1371Please respect copyright.PENANAgXh5H5xiuZ
Kami duduk di meja makan, seperti biasa.
"Loh telor sama sawinya mana, Dek?" Tanya Mas Rudi penasaran sambil memandangi mie di atas meja.
Aku pun baru menyadarinya, aku lupa toping kesukaan Mas Rudi!
1371Please respect copyright.PENANAFk1AdhctMd
"Ma-maaf mas.. Mau aku buatin sekarang??" Tanyaku gugup.
1371Please respect copyright.PENANAvQtCOecamP
"Ah gak usah, Dek" Jawab Mas Rudi langsung melahapnya.
Suamiku tampak lapar, tapi aku malah tidak maksimal menyiapkan makan malamnya..
Setelah makan dan beres-beres dapur saat Mas Rudi mandi, selanjutnya adalah aku yang mandi, tidak jam normal bagiku mandi jam segini.
Mas Rudi sempat tanya kok belum mandi, tapi aku menjawab karena cuci baju tadi. Dan Mas Rudi memaklumi tanpa curiga.
Di kamar mandi, air dingin mengguyur tubuhku yang masih panas. Aku membersihkan setiap inci kulit, terutama di antara kakiku. Jari-jariku menyentuh bagian yang tadi dimasuki jari Pak Gatot , masih sensitif, masih basah meski sudah dibersihkan.
1371Please respect copyright.PENANAbpvSfhDs4A
Saat aku menyentuhnya, ingatan itu muncul lagi: gerakan jarinya yang kasar, desahanku sendiri, squirt yang tak terkendali. Aku menangis pelan di bawah pancuran.
1371Please respect copyright.PENANAZOt39aQToP
Lalu aku melihatnya di cermin kecil kamar mandi, ads tanda merah kecil di samping leherku. Gigitan kecil yang samar, tapi jelas. Aku bingung. Bagaimana menutupinya? Kalau Mas Rudi bertanya, mungkin aku akan bilang digigit nyamuk. Tanda itu cukup kecil, mudah disembunyikan dengan rambut atau kerudung.
1371Please respect copyright.PENANARHnDNvOPL2
Aku mengenakan daster tidur tipis berwarna biru navy, dan keluar dari kamar mandi.
1371Please respect copyright.PENANAn94CWnlS10
Malam itu kami berdua di kamar tidur. Aku sengaja menutup sisi leherku dengan rambut keriting yang sengaja kubiarkan terurai sedikit. Mas Rudi berbaring di sampingku, napasnya mulai teratur, lalu mendengkur pelan. Dia tidur tanpa curiga sedikit pun.
1371Please respect copyright.PENANAcybf57cAe9
Aku ingin bertanya tentang percekcokan yang pernah dia ceritakan dua malam lalu, tentang preman di kafe remang-remang itu. Tapi Mas Rudi sudah mengorok. Aku tak berani membangunkannya.
1371Please respect copyright.PENANAwaN2BqiKzn
Padahal, tubuhku masih terangsang. Sangat terangsang. Seperti ada rongga kosong di dalam vaginaku yang menunggu sesuatu untuk mengisinya. Efek sesuatu dari kopi tadi masih bekerja, membuatku gelisah tanpa henti. Di antara kakiku terasa basah lagi, putingku mengeras di balik daster tipis. Aku menekan paha rapat-rapat, berusaha menahan gelombang aneh yang terus datang.
1371Please respect copyright.PENANAwLzADaqRQV
Aku meringkuk di samping Mas Rudi yang sudah mendengkur pelan, tapi pikiranku tak bisa tenang. Kata-kata Pak Gatot tadi masih bergema terus di kepalaku: “Malam ini juga hubungi saya, Segera.”
1371Please respect copyright.PENANAy31blmrHoE
Aku menunggu sampai napas Mas Rudi benar-benar teratur. Dengan hati-hati, aku meraih HP-ku yang berada di bawah bantal. Tangan gemetar. Aku menyimpan nomor itu ke kontak, memberi nama “Tukang Galon”, nama yang aman, nama yang tak akan dicurigai Mas Rudi kalau suatu saat melihat.
1371Please respect copyright.PENANAnRH3PSSL1E
Aku membuka WhatsApp dan mengetik pesan singkat dengan jari yang hampir tak bisa dikendalikan.
1371Please respect copyright.PENANA5j0pbZGIS8
“Halo… ini Tyas.”
1371Please respect copyright.PENANAIVYL147RCl
Balasan datang sangat cepat, hampir langsung.
1371Please respect copyright.PENANAbyFUliBonk
“Lama banget kamu chatnya, Lonte. Sudah sange nunggu ya?”
1371Please respect copyright.PENANABqxqN8lRHn
Aku tersentak. HP hampir jatuh dari tanganku. Kata “Lonte” itu seperti tamparan keras di wajah. Aku yang selama ini selalu dipanggil “Dek” dengan lembut oleh suamiku, kini disebut lonte oleh pria asing. Syok membuat dadaku sesak.
1371Please respect copyright.PENANAMvbZ61FDPQ
“Maaf… tadi Mas Rudi pulang. Baru bisa sekarang,” balasku cepat, jari gemetar.
1371Please respect copyright.PENANAOtOYmFlOi1
Pesan berikutnya datang lagi, lebih kasar.
1371Please respect copyright.PENANAWTCUJKJcaL
“Suamimu lagi ngorok di sebelah kamu, ya? Istrinya sange berat malah ditinggal tidur. Kasian amat hidup kamu.”
1371Please respect copyright.PENANA3D4ajQ7a89
Aku menatap layar dengan mata berkaca-kaca. Kata-kata itu menyakitkan, tapi entah kenapa juga membuat perut bawahku berdenyut lagi. Aku kaget membacanya.
1371Please respect copyright.PENANA2xP7GG0KbT
Lalu sebuah video tadi dikirim. Durasi nyahampir dua puluh menit. Aku tak berani membukanya di sini, di samping Mas Rudi yang sedang tidur. Tapi aku tahu isinya: video mesum diriku sendiri!
1371Please respect copyright.PENANAb8TmrHvVHt
Dan..pesan berikutnya dari Pak Gatot membuatku membeku.
1371Please respect copyright.PENANAgHgHEipHrQ
"Colmek sekarang, Lonte. Sambil lihat video itu. Kirim foto buktinya juga"1371Please respect copyright.PENANAoNKK2zasFV


