1451Please respect copyright.PENANAPw0yeFRkABCHAPTER 1 : IKUT DINAS SUAMI
1451Please respect copyright.PENANAc77B5LBjaZ
Namaku Tyas Kurnia, seorang istri yang sibuk mengurusi pekerjaan rumah dan melayani suamiku yang sibuk bekerja sebagai satpam di perumahan elite.
Seperti ibu-ibu di kabupaten umumnya, keseharianku menggunakan pakaian sopan, seperti gamis longgar dan kerudung panjang.
Rudi Hermawan atau yang aku sapa "Mas Rudi" adalah nama suamiku. Pria baik, ramah, selalu sopan kepada siapa pun, walau sedikit cuek dan pendiam kepribadianya, bahkan ke istrinya sendiri.
1451Please respect copyright.PENANACrlXnXos3v
Saat ini Mas Rudi bekerja sebagai satpam di perumahan mewah di kabupaten, gajinya lumayan dan cukup untuk kami berdua. Kehidupan kami cukup tenang dan tenteram walau masih belum memiliki anak.
1451Please respect copyright.PENANAM8fNwnb0PT
Keseharianku hanya memasak, mencuci, setrika, bersih-bersih rumah, bahkan memijat kakinya yang pegal setelah shift malam, aku keluar hanya bermain ke tetangga dan belanja ke tukang sayur depan gang.
1451Please respect copyright.PENANAg24Q8Gcig9
Namun, malam-malam kami dulu penuh gairah saat awal menikah, belakangan terakhir ini… semuanya berubah. Mas Rudi semakin cuek, semakin sibuk. Lembur terus-menerus. Pulang larut. Aku tak pernah menuntut. Aku hanya menyiapkan sarapan pagi, bekal makan siang, dan makan malam hangat di meja kecil. Senyumku tetap ada, meski di dalam dada ada api yang perlahan padam, meninggalkan bara panas yang tak tertahankan.
1451Please respect copyright.PENANADDNMHtJ3Vv
Lalu tiba-tiba, semuanya berubah lagi.
1451Please respect copyright.PENANASuornHes2n
“Dek, pekan depan kita pindah ke Surabaya,” kata Mas Rudi suatu malam, sambil memegang surat tugas dari instansinya. Matanya tak berani menatapku lama. “Ada pos baru di Pasar Pabean. Gajinya lebih baik.”
1451Please respect copyright.PENANAo6fGpgVFE7
Aku hanya mengangguk pelan. Dalam hati aku penasaran sekali. Kenapa mendadak? Aku bingung, padahal Mas Rudi tidak pernah mempermasalahkan gaji, karena gajinya saat ini cukup lumayan, tapi kenapa dia memilih jadi satpam di pasar dan dia dulu juga selalu bilang tak suka kota besar, terlalu ramai dan tidak tenang, tidak sesuai dengan kepribadiannnya.
1451Please respect copyright.PENANAgmdggGHUvd
Tapi aku tak bertanya banyak, sebagai istri yang baik, aku akan mengikuti keputusan suamiku selama hal itu baik untuk keluarga, toh gaji lebih besar juga kembalinya ke diriku sendiri.
1451Please respect copyright.PENANADeYUUkcTku
Sepekan kemudian, kami membereskan baju-baju kami ke dalam dua koper besar, berpamitan dengan keluarga di kampung, dan aku mengikuti suamiku ke kota yang belum pernah kukunjungi.
1451Please respect copyright.PENANAfzcsNnIq0k
Surabaya, kota metropolitan itu menyambut kami dengan suara klakson yang tak pernah berhenti, bau asap kendaraan yang menusuk hidung, dan panas yang membuat gamisku menempel di kulit.
1451Please respect copyright.PENANA7ZOkFkv5Bb
Suamiku mencari tempat tinggal yang paling dekat dengan pasar tempatnya bekerja, namun yang tersisanya hanya sebuah kontrakan kecil, dengan satu kamar tidur, ruang tamu sempit yang menyatu dengan dapur, dan kamar mandi yang temboknya sudah mengelupas. Tapi letaknya cukup strategis tepat di gang belakang Pasar Pabean, hanya lima menit jalan kaki ke pos satpam Mas Rudi.
“Agar aku bisa pulang-pergi lebih cepat, Dek,” katanya sambil menenangkanku.
Pada hari pertama kami tiba, dari pagi hingga sore kami bersih-bersih bersama. Aku menyapu dan mengepel lantai keramik yang berdebu, Mas Rudi memindahkan sampah-sampah dan perabotan tidak terpakai ke gudang samping.
1451Please respect copyright.PENANANutLTI1ZWu
Cuaca Surabaya cukup panas, keringat membasahi kerudung dan gamisku, ingin rasanya ganti daster yang lebih pendek yang biasa kupakai jik di kamar, tapi tetangga sedang lalu lalang melihat kami bersih-bersih rumah. Jadi aku hanya perlu menyelesaikannya dan segera mandi.
1451Please respect copyright.PENANAWo3OdVowQ3
Malam harinya, rumah sudah cukup rapi, tiba-tiba pintu kontrakan diketuk pelan diiringi suara salam.
"Assalamualaikum.."
Karena Mas Rudi baru selesai mandi dan sedang ganti baju di kamar, aku bergegas ke ruang depan membuka pintu dan menjawabnya.
"Wa'alaikumussalam.."
Seorang pria paruh baya dengan suara serak khas berdiri di sana, membawa map dokumen.
“Selamat datang, Pak Rudi, Bu Tyas. Saya Pak RT kompleks ini. Boleh minta salinan KTP dan surat kontrak sebentar?”
Mas Rudi keluar dari kamar tersenyum ramah. “Silakan masuk, Pak. siapkan kopi ya, Dek.”
Aku mengangguk sopan, bergegas ke dapur yang masih menyambung dengan ruang tamu. Air panas sudah ada di termos. Aku menyajikan kopi hitam itu dengan cepat, lalu mengantarnya ke meja, tapi saat aku meletakkan cangkir, Pak RT mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnnya dan menyalakannya begitu saja. Bau asap tebal langsung memenuhi ruangan. Hidungku langsung terasa aneh. Aku tidak suka rokok sejak dulu, bau itu selalu membuatku batuk dan mual.
“Maaf, Pak…” kataku pelan, suaraku sopan tapi tegas. “Saya alergi asap rokok.”
Mas Rudi langsung memegang tanganku lembut, meminta pemakluman. “Maaf ya, Pak. Istri saya memang sensitif soal rokok. Bisa dimatikan dulu?”
Pak RT tertawa kecil, mematikan rokoknya di alas cangkir kopi yang kusediakan karena tidak ada asbak.
"Oh, maaf-maaf, Bu. Pantes kok meja tamunya gak ada asbak ini"
Saat aku duduk di kursi tamu, tiba-tiba aku terkejut dengan ucapan Pak RT.
"Wah ibu ini istri yang baik sekali ya, Pak Rudi. Beruntung sekali Anda punya istri seperti ini. Sopan, rapi, pakaiannya juga tertutup rapat. Jarang-jarang di kota besar ada yang masih seperti ini.”
Dia memuji dengan nada ramah, tapi saat matanya melirikku sekilas, dari kerudung panjangku turun ke lekuk gamis yang longgar, ada tatapan aneh yang membuat bulu kudukku berdiri. Tatapan yang tak seharusnya dari seorang tetangga tua. Aku menunduk lebih dalam, merasa tak nyaman, tapi tak berani berkata apa-apa.
" Gimana kondisi rumah-nya mas? Aman?" Tanya Pak RT serius mengalihkan topik.
" Aman, Pak. Aslinya mau cari yang lebih bagus saya, Pak." Jawab suamiku.
"Nah itu mas, kalau deket pasar ya sisa ini saja."
Aku berbisik ke suami izin mau masuk kamar, tapi aku ditanganku dipegang karena sungkan Pak RT. Walau sebenarnya aku agak risih dengan tatapannya tadi saat aku menyuruhnya mematikan rokok.
Setelah ngobrol basa basi sekitar 20 menitan, kopi di meja sudah hampir habis, Mas Rudi menyerahkan foto kopi KTP, lalu Pak RT pun pulang.
1451Please respect copyright.PENANAO7ep1lTrMN
Setelah itu, aku mencuci gelas dan membersihkan dengan banyak sabun di alas cangkir yang dibuat Pak RT jadi asbak dadakan tadi agar bau tembakaunya tidak nempel.
1451Please respect copyright.PENANADVwn7HN3po
Beberapa saat kemudian, kami berdua rebahan di kasur tipis. Badan kami sama-sama capek setelah seharian bersih-bersih. Mas Rudi memelukku dari belakang, napasnya teratur. Aku menutup mata, tapi di dalam hati, aku sebenarnya menginginkan malam itu. Tubuhku haus sentuhan setelah sekian lama. Tapi aku tak berani meminta. Aku hanya berbaring diam, mendengarkan dengkurnya yang pelan, sementara bara di perut bawahku semakin panas dan tak tertahankan.
Pagi berikutnya adalah hari pertama Mas Rudi kerja di pos baru. Aku bangun lebih dulu, memakai gamis longgar dan kerudung panjang seperti biasa. Aku khawatir ada tetangga yang melihat dari jendela kecil atau tiba-tiba masuk, kontrakan ini memang tak terlalu besar, dindingnya juga lumayan tipis.
Pagi itu, belanja di tukang sayur yang lewat, lalu memasak nasi goreng sederhana dengan telur mata sapi dan menyeduh teh hangat. Saat Mas Rudi selesai mandi, semua hidangan sudah siap.
“Mas Rudi… makan dulu ya,” kataku sambil tersenyum.
Dia mencium pipiku sekilas. “Terima kasih, Dek. Doakan yang terbaik ya hari ini.”
“Iya, Mas. Ohiya mas, nanti siang aku ke pasar naik angkot antar bekal ya. Dekat kok, cuma tiga menit satu jalur naik angkot kata tetangga, aku juga penasaran tempat kerja Mas Rudi" Pintaku setelah tadi saat ngobrol dengan tetangga saat belanja, ternyata naik angkot bisa tiga menit lebih cepat dari jalan kaki.
“Eh gak usah loh dek. Merepotkan kamu.” Mas Rudi menggeleng pelan, tapi senyumnya terlihat senang meski sedikit cuek.
“Enggak repot, Mas. Aku senang kok bisa masakin mas”
Setelah makan, Mas Rudi berangkat dengan langkah ringan. Aku menatap punggungnya sampai hilang dari depan pintu.
Siang harinya, setelah mencuci pakaian kotor kemarin, aku bersiap denhan memakai baju sopan yang sama, gamis longgar dan kerudung panjang, lalu keluar rumah menuju jalan raya, dan naik angkot yang penuh sesak, tapi hanya sebentar.
Sesampainya di depan gerbang pasar, sebelum masuk, pandanganku tertuju ke ujung jalan di pojok pasar, di sana banyak motor terparkir rapi, beberapa mobil mewah juga. Bangunan tingkat dua yang kumuh tapi dipenuhi lampu kelap-kelip warna-warni, meski siang hari masih menyala terang.
1451Please respect copyright.PENANAYTGGGFcNDA
Aku penasaran. Bangunan apa itu? Semakin dekat, aku sadar itu seperti warung atau kafe.
1451Please respect copyright.PENANAmrrgVVjCvK
Yang membuat pikiranku langsung kacau adalah pemandangan di depannya: beberapa pria berpenampilan preman badan kekar, tattoo mencolok di lengan, kulit sawo matang gelap, cangkruk santai sambil merokok.
1451Please respect copyright.PENANAReLO8LcxBG
Lalu dua pria keluar dari bangunan itu, diantar dua wanita cantik berpakaian sangat seksi rok pendek, baju ketat yang memperlihatkan belahan dada, rambut tergerai. Mereka cipika-cipiki, tertawa mesra, lalu… saling ciuman bibir di depan umum. Terang-terangan. Tanpa malu.
1451Please respect copyright.PENANA9DgZl420cc
Aku langsung merasa wajahku panas. Pikiranku tidak karuan. Adegan mesum seperti itu di tempat umum? Di pasar yang ramai? Aku buru-buru mengalihkan pandangan, jantung berdegup kencang, dan berjalan gugup menuju pos satpam Mas Rudi.
1451Please respect copyright.PENANAELd75D3KZh
“Mas… ini bekalnya,” kataku sambil menyerahkan kotak plastik, suaraku masih sedikit tergagap.
1451Please respect copyright.PENANAwyyLlFAjSQ
Mas Rudi tersenyum lelah. “Terima kasih, Dek.”
1451Please respect copyright.PENANAbPXzpWhc0w
Dengan polosnya aku bertanya, sambil menunjuk bangunan itu yang terpampang jelas dari posnya, “Mas… itu bangunan apa sih? Kok rame banget?”
1451Please respect copyright.PENANAy092kNJyQj
Rudi melirik sekilas, wajahnya langsung serius. “Itu cafe dan warung remang-remang, Dek. Sebaiknya kamu tidak mendekati dan tidak usah penasaran.”
1451Please respect copyright.PENANAixP2P80aVK
Aku mengangguk, tapi rasa penasaran tak hilang. “Kok bisa diizinkan, Mas? Di pasar umum gini…”
1451Please respect copyright.PENANAoKrfkCrzm9
Dia menghela napas. “Pengelola pasar sudah kasih izin. Bahkan dengan aparat juga. Para pembeli di pasar cuek saja, kayak bangunan itu nggak ada. Anggap aja warung nongkrong biasa.”
1451Please respect copyright.PENANAKuIi8XzFSy
Aku hanya bisa meneguk ludah. Dada terasa sesak. Kota besar ini… begitu asing, begitu penuh hal-hal yang tak pernah kulihat di desa.
1451Please respect copyright.PENANAvtKxibJTjw
Lalu, dengan wajah serius yang jarang dia tunjukkan, Mas Rudi memberikan perintah. “Setelah ini, nggak perlu antar bekal lagi ya, Dek. Gak usah repot-repot. Nanti Mas dapat jatah makan siang sendiri di sini. Kamu cukup siapin sarapan dan makan malam aja.”
1451Please respect copyright.PENANAMTCTmNI8uQ
Aku mengangguk polos. “Iya, Mas.”
1451Please respect copyright.PENANAxFTDso22eD
Baru kali ini Mas Rudi memberi arahan seserius itu. Biasanya cuek. Tapi kali ini… ada nada aneh di suaranya. Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan, tapi aku mencoba menepisnya dalam hati. Ini pasti demi kebaikan kami. Demi masa depan kami di kota besar ini.
1451Please respect copyright.PENANAlZe1OP4bnp
Aku pulang dengan angkot yang sama, tapi pikiranku tak tenang. Rasa penasaran dengan arahan tiba-tiba dari Mas Rudi, lalu gambar wanita-wanita seksi itu, ciuman di depan umum, pria-pria preman yang tatapannya tajam… semuanya bergayut di benakku. Dan entah kenapa, di balik rasa takut dan keterkejutan, ada getaran kecil yang aneh di dada, sebuah rasa penasaran yang tak seharusnya muncul pada perempuan polos seperti aku.
1451Please respect copyright.PENANAdOc3zzDaAY
Sesampainya di kontrakan, aku langsung membersihkan diri. Aku mandi dengan air dingin yang mengguyur tubuhku, berharap bisa membersihkan juga pikiran yang kacau.
1451Please respect copyright.PENANAi2EsSeQhxH
Gamis longgar yang sudah terkena aroma pasar kuganti dengan gamis rumah yang lain, tapi tetap kupakai kerudung karena takut ada tetangga yang tiba-tiba lewat di depan jendela kecil.
Sore harinya aku mulai menyiapkan makan malam. Nasi putih hangat, sayur asem yang kumasak dengan bumbu sederhana, ikan asin goreng, dan sambal terasi kesukaan Mas Rudi.
1451Please respect copyright.PENANAtmyzEszrXy
Malam pun tiba, Mas Rudi pulang lebih larut dari yang kuharapkan. Wajahnya tampak lelah, seragam satpamnya sedikit kusut, dan bau keringat dan aroma pasar bercampur asap kendaraan menempel di tubuhnya.
1451Please respect copyright.PENANAvUuEKXxlkP
Aku menyambutnya dengan senyum lembut seperti biasa, mengambil tasnya, dan menyajikan makan malam di meja makan.
1451Please respect copyright.PENANAYYVrrR6vpw
“Mas… capek ya hari ini?” tanyaku pelan sambil menuang air putih ke gelasnya.
1451Please respect copyright.PENANAyuBEoGujaQ
“Iya, Dek. Pasar ramai sekali. Dihari pertama mas perlu melakukan observasi perkenalan untuk wilayah pasar ini". Jawabnya singkat, lalu mulai makan tanpa banyak bicara.
1451Please respect copyright.PENANA0jW6ZjrF9S
Aku duduk di hadapannya, mengamati wajah suamiku. Biasanya dia akan bercerita sedikit tentang hariannya, tapi malam ini dia lebih cuek dari biasanya. Hanya suara sendok garpu yang terdengar. Aku ingin bertanya lagi tentang kafe remang-remang itu, tapi melihat ekspresinya yang lelah, aku menahan diri. Sebagai istri yang baik, aku tak boleh membebani suamiku.
1451Please respect copyright.PENANArckwb0yFGC
Setelah makan, Mas Rudi mandi sebentar lalu langsung rebahan di kasur. Aku membersihkan meja dan mencuci piring dengan hati-hati, berusaha tak membuat suara berisik. Saat aku masuk ke kamar, Mas Rudi sudah berbaring miring, punggungnya menghadapku. Aku berbaring di sisinya, menarik selimut tipis hingga dada. Malam ini tubuhku lagi-lagi terasa hangat, ada keinginan yang samar-samar muncul setelah sekian lama tak tersentuh dengan penuh gairah.
1451Please respect copyright.PENANAvATABrhQZn
Aku mendekat pelan, tanganku menyentuh punggungnya dengan lembut.
1451Please respect copyright.PENANAhGgIUvzDg1
“Mas…” bisikku pelan.
1451Please respect copyright.PENANAHMkx17gUNT
“Hmm?” jawabnya tanpa menoleh.
1451Please respect copyright.PENANAs45Ju27XGz
Aku ragu sejenak, lalu memberanikan diri. “Malam ini… boleh kita…?”
1451Please respect copyright.PENANAvRS06gWOFg
Mas Rudi menghela napas panjang. “Dek, aku capek banget hari ini. Besok pagi shift pagi lagi. Tidur ya.”
1451Please respect copyright.PENANAUQchWt1Wx8
Kata-kata itu seperti air dingin yang menyiram bara di dadaku. Aku menarik selimut, menatap langit-langit yang gelap. Air mata menggenang di pelupuk, tapi aku cepat-cepat menahannya. Aku tak boleh egois. Suamiku bekerja keras untuk kami. Aku harus mengerti, hingga aku pun ikut tertidur karena juga lelah.
1451Please respect copyright.PENANAMJsxOeUzdG
Hari-hari berikutnya berlalu dengan rutinitas yang mulai kubiasakan di kota besar ini. Setiap pagi, aku bangun lebih awal. Selalu memakai gamis longgar dan kerudung panjang seperti biasa, meski hanya di dalam rumah.
Aku menyiapkan sarapan untuk Mas Rudi dengan berbagai menu yang berbeda tiap harinya, karena memasak memang keahliaku sejak remaja, aku ingin menyiapkan bekal meski dia sudah melarangku mengantar ke pos satpam, namun sayang jika jatah makan siang di pos satpam mubazir. Sepanjang hari aku membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyetrika seragam satpamnya, dan menyiapkan makan malam yang hangat untuk saat dia pulang, biasanya larut malam.
1451Please respect copyright.PENANAxXnjc4bOgB
Meski Mas Rudi semakin cuek, aku tetap tersenyum saat melayaninya. Aku memijat kakinya yang pegal jika dia meminta, meski jarang. Malam-malam kami semakin sepi. Dia sering langsung tidur setelah makan, meninggalkanku dengan bara yang semakin membara di dada. Tubuhku haus sentuhan, tapi aku tak berani mengeluh. Aku hanya berbaring di sisinya, menahan getaran aneh di perut bawah yang semakin sering muncul sejak kami tiba di Surabaya.
1451Please respect copyright.PENANAu5siITLyn5
Sudah satu pekan kami tinggal di kontrakan ini. Aku mulai terbiasa dengan suara pasar yang ramai di kejauhan, bau ikan asin yang menyusup lewat jendela saat diantar ke pasar, dan klakson kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti. Aku tak lagi pergi ke pos satpam Mas Rudi, menuruti perintahnya. Meski kadang aku merasa ada yang aneh, aku berusaha menepisnya. Mungkin dia hanya ingin aku istirahat di rumah.
1451Please respect copyright.PENANAXNbHY6PIbS
Malam itu, seperti biasa, aku sedang memasak makan malam di dapur kecil. Bau rendang ayam yang kumasak dengan santan kental mulai memenuhi ruangan. Aku mengenakan gamis longgar warna abu-abu muda dan kerudung panjang yang sudah kusemat rapi. Keringat tipis membasahi leherku karena panas kompor. Aku mengaduk pelan, pikiran melayang ke Mas Rudi yang pasti pulang lelah nanti.
1451Please respect copyright.PENANAZqs6twaxfD
Tiba-tiba, pintu kontrakan diketuk. Bukan ketukan biasa seperti Pak RT. Ketukan ini lebih keras, lebih mendesak.
1451Please respect copyright.PENANA11e8HDfYH4
Aku tersentak. Ini tamu kedua setelah Pak RT sejak kami tiba di Surabaya. Siapa yang datang di jam seperti ini?
1451Please respect copyright.PENANAHUW4t1LPN0
Aku mengusap tangan di gamisku, berjalan ke depan dengan hati-hati. Saat membuka pintu sedikit, aku langsung terkejut.
1451Please respect copyright.PENANA2iuCyHRt1C
Di depanku berdiri seorang pria tinggi dan kekar. Jas hitam rapi membalut tubuhnya yang bidang, dasi putih kontras dengan kulit sawo matang gelapnya. Di tangan kanannya ada koper hitam besar. Tapi yang langsung membuatku mundur selangkah adalah bau rokok kuat yang mengepul dari mulutnya, serta sebatang rokok yang masih menyala di sela jari-jarinya yang tebal. Di jari tengah tangan kirinya terlihat tato hitam buram, gambar ular melingkar. Matanya tajam, bibirnya melengkung tipis dalam senyum yang tak sepenuhnya ramah.
1451Please respect copyright.PENANAncittPEv1M
“Selamat malam, Bu" katanya dengan suara berat dan dalam. “Perkenalkan namanya Saya.. Panggil saja Pak Gatot. Bisa izin masuk sebentar?”
1451Please respect copyright.PENANAPFNBDYJAmg
Aku langsung menggenggam daun pintu lebih erat. Jantungku berdegup kencang. Pria itu ragu dengan namanya sendiri saat memperkenalkan diri, pakaiannya memang rapi, tapi aura pria ini terasa sangat berbahaya. Bau rokok yang pekat membuat hidungku mual, dan tatapannya yang menelusuri kerudung serta gamisku membuat bulu kudukku berdiri.
1451Please respect copyright.PENANAPs06S1iWWn
“Maaf, Pak… suami saya tidak ada di rumah,” kataku cepat, suaraku gemetar. “Kalau ada perlu, silakan datang lagi nanti saja.”
1451Please respect copyright.PENANA106j46RaWf
Aku hendak menutup pintu, tapi tangan besarnya langsung menahan daun pintu dengan mudah. Tubuhku menegang.
1451Please respect copyright.PENANAIIjUXT8WxQ
“Bu..." katanya pelan, tapi nada suaranya penuh tekanan yang membuat darahku membeku. “Suamimu… dalam bahaya besar.”
1451Please respect copyright.PENANAiEINfoBAgb
Kata-kata itu bagaikan petir menyambar di telingaku. Aku membeku di tempat. Napasku tersengal. “Apa… maksud Bapak?”
1451Please respect copyright.PENANA3ljYu5hrnT
Gatot tersenyum tipis. Dia masih memegang rokok yang menyala di jarinya, asapnya mengepul pelan ke arahku. Matanya menatapku dalam-dalam, seolah bisa melihat segala ketakutan yang sedang bergejolak di dada.
1451Please respect copyright.PENANA3qfMzXNolZ
Aku berdiri di ambang pintu, tangan gemetar, sementara pria asing bernama Gatot itu masih menahan pintu dengan kuat. Kata-katanya tentang bahaya yang mengancam Mas Rudi menggantung di udara seperti ancaman yang belum terucap sepenuhnya.
1451Please respect copyright.PENANAkaYY9vfyCW
1451Please respect copyright.PENANAHu9XxXVTHw


