8956Please respect copyright.PENANAHHbgimEsUmMasih di hari yang sama, hari Senin. Menjelang sore aku mulai bersiap untuk berangkat jualan seperti biasa.
Di kontrakan itu, hampir semua pedagang memang mulai aktif sekitar jam segitu. Gang kecil di depan deretan kamar kontrakan mulai ramai dengan aktivitas masing-masing penghuni.
Ada yang sedang menyiapkan gerobak ketoprak, ada juga yang mulai membersihkan meja dagangan pecel lele untuk dipakai nanti malam. Suara piring, wajan, dan obrolan kecil antar tetangga bercampur jadi satu.
Di depan kamar kontrakanku sendiri, aku sudah menyiapkan wajan besar untuk menggoreng tahu crispy. Biasanya sebelum berangkat keliling, aku selalu menggoreng beberapa dulu supaya kalau di jalan ada pembeli, sudah ada tahu yang matang.
Minyak di wajan mulai panas.
“Cesss…”
Suara tahu yang masuk ke minyak panas langsung terdengar. Aroma tahu goreng pelan-pelan menyebar di sekitar kontrakan.
Posisiku memang tepat di depan kamar, dan otomatis juga dekat dengan kontrakan Mba Arum yang berada persis di sebelah.
Seperti biasa, sambil menggoreng aku juga minum kopi yang tadi kubeli dari warung kecilnya.
Beberapa anak sekolah yang lewat sempat melirik ke arah wajan.
“Wangi banget, Bang,” kata salah satu dari mereka.
Aku hanya tersenyum sambil terus mengaduk tahu di minyak.
Setelah beberapa kali gorengan, tahu yang kubutuhkan untuk jualan sudah cukup. Aku mematikan kompor lalu meniriskan tahu ke dalam wadah dagangan.
Kopi di gelas juga sudah hampir habis.
Aku mengambil gelas itu lalu berjalan ke arah meja warung Mba Arum.
“Nih gelasnya, Mba,” kataku sambil menyerahkannya.
Arum yang sedang merapikan jajanan menoleh.
“Oh iya.”
Lalu ia bertanya,
“Wan, kunci kamar kamu di mana?”
Aku sedikit heran.
“Kenapa, Mba?”
“Ini cucian baju kamu yang tadi aku cuci sudah kering. Mau aku taruh di kamar kamu saja.”
Aku menjawab sambil menunjuk ke arah pintu kontrakanku.
“Di ventilasi atas pintu, Mba. Biasanya aku selipin di situ.”
Arum mengangguk.
“Oh, ya sudah.”
Aku mengambil gerobak kecilku lalu bersiap berangkat.
“Ya sudah, aku jalan dulu ya, Mba,” kataku.
“Hati-hati di jalan,” jawab Arum.
Aku mendorong gerobak keluar dari gang kontrakan menuju jalan utama, memulai rutinitas jualan sore itu seperti biasa...
Jam demi jam berlalu. Tanpa terasa sudah masuk pukul delapan malam. Daganganku juga tinggal sedikit, jadi aku memutuskan pulang saja. Biasanya kalau pulang pun masih ada kemungkinan ada orang yang membeli di jalan.
Benar saja. Di jalan pulang ada seorang ibu-ibu yang membeli. Ternyata sisa daganganku tinggal Rp10.000, jadi langsung habis.
Aku sampai di kontrakan. Suasananya cukup sepi. Hanya sesekali ada motor lewat di gang.
Aku berniat mengambil kunci kontrakan di ventilasi seperti biasa. Tapi waktu kucek, kuncinya tidak ada.
Akhirnya aku coba membuka pintunya, ternyata pintu terkunci.
Baru aku ingat, tadi siang Mba Arum sempat menanyakan kunci kontrakanku untuk menaruh cucian.
Aku pun berjalan ke depan kontrakan Mba Arum lalu mengetuk pintunya.
Tok… tok…
Yang membuka pintu ternyata anak pertamanya, Diaz.
“Bunda lagi keluar belanja,” kata Diaz.
Aku sebenarnya agak kesal juga. Dalam hati aku berpikir, kenapa Mba Arum tidak menaruh lagi kunci itu di tempatnya.
Akhirnya aku duduk di depan kontrakan sambil main HP menunggu.
Sekitar 15 menit kemudian, Mba Arum datang dari ujung gang.
Begitu melihatku, dia tersenyum sambil meminta maaf.
“Maaf ya, Wan,” katanya sambil menyerahkan kunci kontrakan kepadaku.
Aku menerima kunci itu, tapi langsung merasa ada yang aneh.
Gantungan kuncinya berbeda. Bahkan di kuncinya juga tidak ada tulisan merek seperti biasanya.
Aku sempat heran.
Lalu Mba Arum berkata,
“Coba Wan, kuncinya bisa nggak?”
Karena aku juga sudah capek, aku tidak banyak bertanya. Aku langsung mencoba membuka pintu kontrakan.
Ternyata bisa terbuka.
Dari belakang Mba Arum terdengar seperti agak senang.
“Oh bisa ya kuncinya,” katanya.
Aku malah semakin heran. Dalam pikiranku, memang itu kuncinya kan.
Tapi aku tidak terlalu memikirkannya.
Aku langsung masuk ke kamar kontrakan dan mulai membereskan peralatan jualan.
Setelah selesai, aku berniat mandi.
Saat mau mengambil handuk di dekat kasur lantai, aku melihat baju-bajuku yang tadi dicuci oleh Mba Arum sudah dilipat rapi.
Aku sempat tersenyum sendiri.
Memang beda hasil cucian perempuan. Bajunya terlihat lebih bersih dan wangi.
Tapi yang membuatku sedikit malu, di situ juga ada tiga celana dalam milikku yang sudah dicuci.
Artinya Mba Arum tahu juga warna-warna celana dalamku.
Aku sempat merasa agak canggung, tapi akhirnya kupikir tidak apa-apa. Aku berniat memasukkan semua pakaian itu ke dalam lemari plastik milikku.
Aku membuka lemari plastik yang berbentuk laci itu.
Tapi begitu lacinya terbuka, aku langsung kaget.
Di dalamnya ada beberapa daster perempuan, dan beberapa di antaranya aku yakin milik Mba Arum, karena aku pernah melihat dia memakainya.
Tidak hanya daster.
Di dalam laci itu juga ada bra dan celana dalam perempuan.
Aku benar-benar heran.
Dalam pikiranku hanya satu:
Apa Mba Arum lupa, atau bagaimana sampai barang-barang itu bisa ditaruh di lemari kontrakanku...
---
Selesai mandi, seperti biasa aku pesan kopi ke mba Arum, karena kontrakannya sebelahan sama aku.
Aku keluar dari kontrakan. Suasana kontrakan malam itu lumayan sepi. Lampu-lampu teras beberapa kontrakan nyala redup warna kuning. Dari kejauhan kadang terdengar suara motor lewat di jalan depan gang, terus suara TV dari salah satu kontrakan. Angin malam juga lumayan adem, bikin suasana agak tenang.
Aku jalan beberapa langkah ke depan pintu kontrakan mba Arum, lalu aku ketok pintunya.
Tok tok tok.
Beberapa detik kemudian pintunya kebuka.
Mba Arum yang buka pintu. Malam ini dia pakai daster tanpa lengan, panjangnya cuma sampai sepaha, dan dia juga kelihatan pakai makeup. Aku sempat heran juga, dia makeup buat siapa kan mas Anton juga gak pulang.
Tapi ya udah, gak aku pikirin terlalu jauh. Aku langsung pesen kopi.
Aku:
“Mba, pesen kopi satu ya, yang biasa.”
Mba Arum:
“Iya wan, tunggu bentar ya.”
Aku nunggu di depan pintu sambil berdiri santai. Dari dalam kontrakannya kedengeran suara sendok kena gelas sama bunyi air dari termos.
Beberapa menit kemudian dia keluar bawa gelas kopi.
Dia kasih ke aku.
Mba Arum:
“Nih wan kopinya.”
Aku terima gelasnya.
Aku:
“Makasih mba.”
Terus sebelum aku balik, mba Arum ngomong lagi.
Mba Arum:
“Wan, nanti malam jangan kunci pintu pakai engsel ya… pakai kunci aja.”
Aku agak heran dia ngomong gitu.
Aku:
“Loh kenapa mba?”
Mba Arum cuma senyum sedikit.
Mba Arum:
“Udah, pakai kunci aja pokoknya.”
Aku masih agak bingung sih, tapi ya udah aku gak banyak nanya.
Aku:
“Oh ya udah mba.”
Selesai nerima kopi, aku langsung balik ke kamar kontrakan aku sambil bawa gelas kopi itu. Suasana kontrakan masih sama, sepi, cuma suara jangkrik sama kadang motor lewat di jalan depan...
8956Please respect copyright.PENANA6TZANPh8yq
Di dalam kamar aktivitas aku ya biasa aja.
Aku duduk di lantai sambil ngopi, pegang HP, terus main Mobile Legends. Lampu kamar cuma satu yang nyala, kipas angin muter pelan, bikin suasana kamar agak dingin. Dari luar kadang masih kedengeran suara TV kontrakan lain atau orang ngobrol pelan.
Aku terlalu fokus main game.
Rank lagi seru, satu match lanjut match lagi.
Pas selesai satu game dan lihat jam di HP, aku baru sadar.
Udah jam 11 malam.
Mata juga mulai berat. Kopi di gelas udah tinggal sedikit. Aku matiin game, taruh HP di samping bantal, terus niatnya mau tidur.
Aku rebahan, baru mau merem…
TIK…
Aku langsung buka mata.
Kedengeran suara kunci di pintu kontrakan.
Di kepala aku langsung kepikiran macam-macam.
“Siapa itu? maling? atau orang salah kamar?”
Aku belum sempat bangun, tiba-tiba…
Klik.
Pintunya kebuka pelan.
Aku langsung duduk kaget.
Ternyata yang masuk mba Arum.
Dia masuk sambil nutup pintu pelan. Malam itu dia kelihatan beda. Dia pakai daster warna pink tanpa lengan, panjangnya cuma sampai sepaha. Rambutnya rapi, wajahnya masih kelihatan makeup tipis.
Aku malah makin bingung.
Yang bikin aku heran… dia bisa buka pintu pakai kunci.
Padahal tadi aku ngunci dari dalam dan kuncinya aku gantung di paku tembok.
Dia jalan masuk beberapa langkah ke dalam kamar. Terus ngomong dengan suara pelan, hampir berbisik.
Mba Arum:
“Wan… jangan kaget.”
Aku masih bengong lihat dia.
Aku:
“Loh mba… kok bisa masuk? Kuncinya dari mana?”
Mba Arum cuma senyum kecil, terus jawab pelan.
Mba Arum:
“Aku bawa kunci cadangan.”
Aku makin bingung, tapi dia langsung lanjut ngomong.
Mba Arum (pelan):
“Malam ini aku nginep sini lagi ya.”
Aku langsung diam beberapa detik. Di kepala aku campur aduk. Mau nolak rasanya gak enak, soalnya mba Arum selama ini baik sama aku.
Aku akhirnya jawab ragu.
Aku:
“Nginep… sini lagi mba?”
Dia ngangguk pelan.
Mba Arum:
“Iya. Jangan keras-keras ngomongnya… nanti kedengeran tetangga.”
Dia sambil lihat ke arah pintu seolah takut ada yang dengar.
Aku garuk kepala sebentar.
Aku:
“Tapi mba… kalau ada yang tahu gimana?”
Mba Arum mendekat sedikit sambil masih bicara pelan.
Mba Arum:
“Gak bakal ada yang tahu. Pintu juga aku tutup.”
Aku masih ragu.
Aku:
“Ya… kalau mba mau… ya udah gak apa-apa.”
Dia langsung kelihatan agak lega.
Mba Arum:
“Makasih ya wan."
Aku cuma jawab singkat.
Aku:
“Iya mba…sama sama.”
Setelah itu mba Arum malah langsung bergerak di dalam kontrakan aku. Bukannya langsung duduk atau tidur, dia malah lihat-lihat sekitar kamar.
Dia ambil sapu yang di pojok kamar.
Srek… srek…
Dia nyapu lantai kontrakan aku pelan-pelan. Debu yang ada di sudut kamar dia kumpulin, terus dia buang ke tempat sampah kecil dekat pintu.
Aku cuma tiduran di kasur sambil ngeliatin dia, masih bingung sebenarnya dia lagi ngapain.
Belum selesai sampai situ.
Dia lihat piring bekas makan aku siang tadi yang masih ada di dekat ember.
Tanpa banyak ngomong dia ambil piring itu terus dibawa ke kamar mandi kecil di belakang kontrakan aku.
Kresek… suara air.
Dia nyuci piring, gelas, sama sendok yang tadi aku pakai. Aku dari dalam kamar cuma bisa dengar suara air sama bunyi piring kena ember.
Beberapa menit kemudian dia keluar lagi.
Kontrakan aku yang tadinya agak berantakan sekarang malah jadi lebih rapi.
Dia taruh lagi peralatan makan yang udah dicuci, terus dia tepuk-tepuk tangannya kecil seolah habis selesai kerja.
Baru setelah itu dia jalan ke arah kasur.
Dia langsung rebahan di samping aku.
Aku otomatis geser sedikit karena masih heran sama semuanya.
Mba Arum malah ngeliatin muka aku dari dekat, sambil senyum kecil.
Aku makin gak ngerti.
Terus dia ngomong santai, tapi suaranya tetap pelan.
Mba Arum:
“Wan… bajuku yang tadi siang aku taro di lemari kamu ya.”
Aku langsung nengok ke arah dia.
Aku:
“Hah? Iya… kenapa mba?”
Dia jawab santai banget.
Mba Arum:
“Aku titip aja di situ.”
Aku masih belum paham.
Aku:
“Titip… buat apa?”
Dia masih liatin aku, terus bilang pelan.
Mba Arum:
“Biar kalau aku mandi di sini… gak perlu balik dulu ke kontrakan.”
Aku langsung bengong.
Otak aku langsung mikir macam-macam.
Aku:
“Hah?”
Aku sampai duduk sedikit.
Aku:
“Maksud mba Arum gimana?”...
Mba Arum cuma senyum lihat muka aku yang masih bingung.
Mba Arum:
“Udah wan… gak usah mikir heran gitu.”
Aku masih diam, belum ngerti maksud dia sebenarnya apa.
Beberapa detik kemudian dia malah mulai cerita pelan. Suaranya tetap dijaga kecil, mungkin takut kedengeran tetangga.
Mba Arum:
“Wan… sebenarnya aku cuma lagi pengen cerita aja.”
Aku nengok ke dia.
Aku:
“Cerita apa mba?”
Dia tarik napas pelan, matanya sempat lihat ke langit-langit kamar.
Mba Arum:
“Aku tuh… kadang kangen ada laki-laki di samping aku pas tidur.”
Aku langsung kepikiran sesuatu.
Aku:
“Loh… tapi kan ada mas Anton mba.”
Dia senyum kecil, tapi kelihatan agak sedih.
Mba Arum:
“Iya… tapi kan dia jarang pulang.”
Aku jadi kepikiran anak-anaknya.
Aku:
“Terus anak mba di kontrakan gimana?”
Mba Arum jawab santai.
Mba Arum:
“Tenang aja… mereka udah pules tidurnya.”
Dia balik lagi lihat ke arah aku.
Mba Arum:
“Aku cuma kangen aja rasanya ada orang di samping… buat ngobrol, buat nemenin.”
Aku cuma diam dengerin dia curhat. Suasana kamar jadi agak hening, cuma suara kipas angin yang muter.
Dari situ obrolan kami pelan-pelan lanjut. Dia cerita soal suaminya yang sering kerja jauh, soal capek ngurus anak, dan soal rumah tangganya yang kadang bikin dia merasa sendirian.
Sementara aku di situ cuma dengerin.
Jujur… dari situ aku mulai ngerasa ada sesuatu yang beda di dalam hati aku.
Aku mulai punya perasaan sama mba Arum.
Mungkin karena dia cantik, kulitnya putih, dan malam itu dia kelihatan beda. Daster pink yang dia pakai juga bikin dia kelihatan makin menarik.
Apalagi dia lagi rebahan dekat aku sambil cerita pelan seperti itu.
Aku sendiri jadi bingung sama perasaan aku...
Lagi asik cerita, tiba-tiba mba Arum bangun dari kasur.
Aku lihat dia jalan ke arah lemari plastik yang ada di pojok kamar aku. Dia buka laci yang tadi sempat bikin aku kaget waktu lihat isinya.
Dia buka pelan, terus mulai ngeluarin beberapa pakaian dari dalamnya.
Yang dia keluarin itu BRA sama CD miliknya.
Aku langsung bengong.
Dia keluarkan 3 bra dan 3 cd, lalu dia pegang satu-satu sambil berdiri di dekat lemari. Terus dia malah nunjukin itu ke aku.
Aku makin bingung.
Yang bikin aku lebih kaget lagi, dia malah nanya ke aku.
Mba Arum (pelan):
“Wan… menurut kamu aku cocok pakai warna apa?”
Aku sempat diam beberapa detik. Otak aku rasanya agak kosong karena gak nyangka dia bakal nanya hal kayak gitu ke aku.
Di satu sisi aku heran kenapa dia nanya pendapat aku. Tapi sebagai laki-laki normal, jujur ada juga perasaan aneh yang muncul di dalam diri aku.
Akhirnya dengan sedikit ragu aku jawab.
Aku:
“Hmm… mungkin… yang biru muda mba.”
Mba Arum lihat bra warna biru muda yang dia pegang, terus dia senyum kecil.
Tapi yang bikin aku makin kaget, dia malah ngomong lagi.
Mba Arum:
“Perlu aku pakai sekarang, wan?”
Aku langsung lihat ke arah dia lagi.
Aku bener-bener gak nyangka dia bakal ngomong begitu.
Aku jadi makin bingung kenapa dia sampai minta pendapat aku sejauh itu. Tapi entah kenapa, tanpa aku sadar, aku cuma nganggukin kepala...
Mba Arum senyum lihat aku yang masih kelihatan bingung.
Terus dia nanya lagi pelan.
Mba Arum:
“Wan… kontak lampunya di mana?”
Aku langsung nunjuk ke arah dinding dekat pintu.
Aku:
“Itu mba… yang di samping pintu.”
Dia jalan ke sana beberapa langkah, lalu klik… lampu kamar langsung mati.
Kamar aku langsung gelap. Cuma ada sedikit cahaya dari luar yang masuk lewat ventilasi atas pintu.
Jantung aku langsung deg-degan.
Aku sadar dia bakal ganti pakaian dalam di kamar ini.
Aku cuma rebahan di kasur, diam, bahkan agak tegang. Nafas aku juga terasa agak berat.
Walaupun gelap, masih kelihatan siluet gerakan tubuhnya dari cahaya samar yang masuk dari luar.
Aku lihat bayangan dia melepas dasternya, lalu bergerak pelan mengganti pakaian dalam yang tadi dia pilih.
Aku sendiri cuma bengong di tempat, jantung rasanya makin kencang. Jujur aja di dalam diri aku juga mulai muncul rasa nafsu, walaupun aku juga masih bingung dengan situasi ini.
Suasana kamar jadi hening, cuma ada suara kipas angin sama gerakan pelan dari mba Arum yang lagi ganti pakaian.
Beberapa menit kemudian gerakannya berhenti.
Lalu terdengar langkah kecil ke arah dinding.
Klik.
Lampu kamar nyala lagi...
Setelah lampu nyala lagi, mba Arum berdiri sebentar sambil lihat ke arah aku.
Dia senyum kecil.
dia sudah selesai ganti pakaian dalam.
Beberapa detik kemudian dia kembali ke kasur dan rebahan lagi di samping aku.
Aku masih rebahan setengah bersandar, jantung masih agak deg-degan karena kejadian barusan.
Terus aku lihat sesuatu di tengah kasur.
BRA sama CD yang tadi dia pakai sebelum ganti… dia letakin di tengah-tengah, tepat di antara posisi tidur aku dan dia.
Aku langsung bingung.
Di kepala aku cuma mikir, kenapa mba Arum taruh itu di sini?
Aku belum sempat nanya, dia sudah miring menghadap ke arah aku.
Pas aku lihat lagi ke arah dia, aku malah sadar sesuatu.
Di bagian atas dasternya ada tiga kancing yang gak dipasang.
Aku makin heran.
Mba Arum lihat muka aku yang kelihatan masih penuh tanda tanya. Dia cuma senyum seperti ngerti aku lagi bingung.
Terus dia ngomong pelan.
Mba Arum:
“Wan… kamu gak usah gugup gitu.”
Aku cuma diam lihat dia.
Dia lanjut ngomong lagi.
Mba Arum:
“Anggap aja aku pacar kamu… atau anggap aja aku istri kamu.”
Aku langsung makin kaget.
Aku:
“Hah… mba?”
Jantung aku makin terasa cepat. Aku benar-benar gak nyangka dia bakal ngomong seperti itu.
Aku cuma bisa bengong sambil lihat dia, antara deg-degan dan heran dengan apa yang sebenarnya lagi terjadi malam itu...
Kami ngobrol sebentar lagi, tapi gak lama. Suasana kamar sudah makin sepi dan malam juga sudah larut.
Mba Arum akhirnya bilang pelan.
Mba Arum:
“Udah wan… tidur aja yuk. Udah malam.”
Aku yang dari tadi memang sudah ngantuk akhirnya ngangguk setuju.
Aku:
“Iya mba… aku juga udah ngantuk.”
Tapi tiba-tiba mba Arum bilang lagi.
Mba Arum:
“Gerah ya rasanya.”
Aku langsung jawab saja.
Aku:
“Ya udah gedein aja kipasnya mba.”
Kipas angin memang ada di pojok kamar, agak dekat dengan kaki kasur.
Mba Arum langsung beranjak dari kasur menuju ke arah kipas angin itu. Dia mendekat lalu menekan tombol pengatur kecepatannya.
Yang bikin aku agak kaget… dia mencet tombol kipas itu tanpa berdiri, jadi posisinya agak menungging di depan kipas.
Dari posisi aku di kasur, gerakan itu kelihatan jelas.
Aku cuma diam sambil lihat, dan jujur saja jantung aku makin deg-degan dibuatnya.
Kipas angin mulai berputar lebih kencang, suara baling-balingnya terdengar memenuhi kamar yang malam itu terasa makin sunyi...
Aku sama mba Arum akhirnya benar-benar tidur.
Kamar jadi hening. Cuma suara kipas angin yang berputar kencang dan sesekali suara motor lewat jauh di jalan depan kontrakan.
Entah sudah jam berapa, aku tiba-tiba kebangun.
Rasanya dingin sekali.
Aku langsung sadar ternyata kipas anginnya terlalu kencang. Badan aku sampai agak menggigil.
Aku sempat mau bangun untuk ngecilin atau matiin kipasnya.
Tapi pas aku mau bergerak, aku ingat… mba Arum lagi nginep di sini.
Kalau aku kecilin kipasnya, bisa saja dia malah kebangun karena gerah.
Akhirnya aku batalin niat itu.
Aku cuma rebahan lagi sambil menarik selimut tipis.
Terus tanpa sengaja aku melirik ke arah mba Arum yang tidur di samping aku.
Dia tidur miring, kelihatan benar-benar pulas.
Tapi aku langsung sadar sesuatu.
Daster yang dia pakai agak terangkat, sampai ke bagian perutnya.
Otomatis CD warna biru muda yang tadi dia pakai jadi kelihatan.
Aku langsung menahan napas sebentar.
Sebagai laki-laki normal, apalagi aku juga duda, jujur saja ada rasa terangsang melihat pemandangan seperti itu.
Tapi di sisi lain aku juga langsung menahan diri.
Di kepala aku cuma kepikiran satu hal.
Mba Arum itu orang baik.
Dan dia juga istri mas Anton.
Jadi walaupun perasaan dan pikiran aku mulai aneh-aneh, aku tetap gak berani macam-macam.
Aku cuma memalingkan wajah sedikit, mencoba menenangkan diri sambil berharap bisa tidur lagi...
Aku sebenarnya belum benar-benar tidur lagi. Mata cuma terpejam, tapi badan masih terasa dingin karena kipas yang terlalu kencang.
Tiba-tiba mba Arum ngomong pelan.
Mba Arum:
“Dingin ya wan… pelukan aja.”
Aku langsung buka mata sedikit dan nengok ke arah dia. Tapi matanya masih merem.
Aku pikir dia cuma ngigau.
Jadi aku mau lanjut merem lagi.
Tapi beberapa detik kemudian dia ngomong lagi.
Mba Arum (pelan):
“Wan… ngadep sini. Peluk mba… mba kedinginan.”
Aku langsung nengok lagi ke arah dia.
Kali ini aku lihat dia sudah kebangun, walaupun matanya masih setengah terpejam.
Aku agak heran.
Dia ngomong lagi dengan suara pelan.
Mba Arum:
“Peluk wan…”
Aku sempat diam beberapa detik. Di dalam hati aku ragu, tapi di sisi lain juga ada rasa senang karena dia sendiri yang minta.
Akhirnya aku pelan-pelan mendekat dan memeluk dia, niatnya cuma supaya dia gak kedinginan.
Badan kami jadi saling dekat.
Beberapa detik kemudian kakinya naik ke pinggang aku, jadi posisi kami makin rapat.
Otomatis bagian bawah badan aku dan mba Arum saling menempel.
Aku langsung sadar posisi itu, dan jantung aku kembali deg-degan di tengah kamar yang masih sunyi dengan suara kipas angin yang berputar...
Jujur saat itu jantung aku deg-degan sekali. Nafas aku sama mba Arum juga terasa berat, seperti habis lari jauh.
Kami masih dalam posisi saling peluk di kasur. Suasana kamar hening, cuma suara kipas angin yang berputar.
Di dalam hati aku mulai kepikiran macam-macam.
Aku sempat berpikir, kenapa mba Arum gak benerin dasternya yang dari tadi agak tersingkap, sampai celana dalamnya kelihatan. Aku juga heran kenapa kakinya masih naik di pinggang aku, padahal dia sudah bilang cuma kedinginan.
Pelan-pelan bola mata aku melirik ke arah dia.
Dan di situ aku baru sadar sesuatu lagi.
Bagian dada mba Arum terbuka cukup lebar, karena beberapa kancing dasternya memang tidak dipasang dari tadi.
Lampu kamar masih menyala redup, jadi aku bisa melihat dengan jelas.
Jujur saja, melihat keadaan seperti itu bikin aku makin terangsang. Apalagi posisi kami juga sangat dekat.
Tapi di dalam hati aku tetap menahan diri.
Aku gak berani macam-macam. Aku terus mencoba menenangkan pikiran aku sendiri.
Akhirnya aku cuma diam dan menahan perasaan itu, sampai perlahan rasa kantuk datang lagi.
Tidak lama kemudian aku akhirnya terlelap tidur...8956Please respect copyright.PENANAmRvE2ekzJ1


