Dia meletakkan HP, tangannya turun perlahan ke antara paha. Jari menyentuh durian kecil yang licin, melingkar perlahan sambil membayangkan malam besok. “Ahh… gue bakal ketemu dia…” desahnya pelan. Plug di belakang sedikit bergeser setiap kali pinggulnya bergoyang, menambah sensasi penuh yang membuat napasnya semakin cepat. Dia tidak berani orgasme malam itu—takut kelelahan besok—tapi penyangkalan itu malah membuat tubuhnya semakin panas, vaginanya membengkak hingga terasa berdenyut seperti detak jantung kedua.
1879Please respect copyright.PENANAkpywHCmK0d
Pagi Sabtu, paket baru tiba tepat jam 08.00. Kotak hitam elegan dengan pita merah. Di dalamnya: dress hitam mini berbahan satin lembut, panjangnya hanya sampai tengah paha, bagian dada dalam sampai hampir pusar, punggung terbuka lebar sampai garis pinggang. Ada juga stoking jala hitam tipis dan sepatu hak tinggi 10 cm berwarna merah darah.
1879Please respect copyright.PENANADkAMfWTHJQ
Nadya mencobanya di depan cermin. Gaun itu menempel sempurna di tubuh atletisnya—lekuk pinggang ramping, payudara kencang terdorong ke atas oleh bra push-up hitam, bagian dada dalam menampilkan garis kulit sawo matang yang menggoda. Punggung terbuka membuat pir terasa lebih terpapar, meski tak terlihat dari luar. Saat dia berputar, rok gaunnya terungkap sedikit, menampilkan garis G-string yang hampir tak ada. Dia merasa seperti boneka binatang hidup—malu, tapi juga kuat dalam cara yang aneh.
1879Please respect copyright.PENANAgTxKAGoo9Q
Malam harinya, jam 19.30, Nadya berdiri di depan cermin terakhir kali. Riasan tipis: lipstik merah gelap, eyeliner smokey yang membuat mata cokelatnya semakin memikat. Rambut panjang hitamnya dibiarkan tergerai, bergoyang setiap langkah. Pasang pir masih di dalam—dia masukkan lagi setelah mandi, oles lotion banyak supaya tetap nyaman. Setiap gerakan, permata merah itu bergesek pelan di antara bokong, membuat vaginanya basah sejak pagi.
1879Please respect copyright.PENANAwmnoaLESkI
Dia naik taksi ke alamat yang diberikan: rumah mewah di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Musik EDM samar terdengar dari dalam saat dia tiba. Pintu dibuka oleh cowok asing—tinggi, berotot, senyum lebar. "Lo Nadya ya? Masuk, lagi rame nih."
1879Please respect copyright.PENANA8QFltUmmg8
Di dalam, sekitar 20–25 orang—banyak pria dan beberapa cewek, suasana pesta kampus tapi lebih intim, lampu redup, minuman beralkohol mengalir. Nadya langsung mencari-cari wajah familiar. Dan dia melihatnya: Andi, berdiri di dekat bar mini, memegang gelas wiski, senyum menawan seperti biasa. Tapi malam ini matanya berbeda—lebih gelap, lebih lapar.
1879Please respect copyright.PENANA58G8cgpavO
Jantung Nadya hampir berhenti. “Andi…?”
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
1879Please respect copyright.PENANAcGeNp3QcRC


