Bab 4: Eskalasi Perintah
1780Please respect copyright.PENANAreLfDlduX6
Hari keempat sejak ancaman pertama itu terasa seperti mimpi buruk yang manis bagi Nadya. Tubuhnya sudah mulai terbiasa dengan sensasi tanpa pelindung di bawah seragam—tanpa BH, tanpa celana dalam, hanya pakaian dalam hitam tipis yang mendorong payudaranya ke atas dan vibrator titit melengkung yang terkadang masih tersisa di dalam vaginanya sepanjang malam. Pagi itu, jam 06.45, dia bangun dengan keringat dingin menempel di kulit sawo matangnya. Vibrator sudah dilepas semalam setelah orgasme paksa di kamar mandi kosan, tapi vaginanya masih bengkak, sensitif sekali setiap kali dia bergerak.
1780Please respect copyright.PENANA7OvWN3uyHL
HP bergetar di meja samping kasur. Pesan baru dari nomor anonim.
1780Please respect copyright.PENANAvRoVIMqWXh
Selamat pagi, budak kecil.Hari ini perintahnya lebih menantang.
1. Pakai rok paling pendek yang lo punya—yang panjangnya cuma 10 cm di atas lutut.
2. Di perpustakaan sekolah jam 10.00–10.30: duduk di rak buku paling belakang lantai 3, buka kaki lebar, sentuh durian kecilmu selama 15 menit penuh. Biarkan orang lewat kalau ada. Rekam suara desah lo dan kirim. Jangan keluar kalau belum izin.
3. Siang ini, pas istirahat makan siang: cari tempat sepi di belakang gedung olahraga, cambuk paha lo sendiri 10 kali pakai tangan. keras. Kirimkan suara menariknya.
4. Malam ini: saya kirim paket baru. Pakai itu sebelum tidur. Lo bakal butuh latihan.”
1780Please respect copyright.PENANAJ1HUxWx4to
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
1780Please respect copyright.PENANAmw3d0LWh4H
Nadya membaca pesan itu sambil duduk di tepi kasur, tangan menekan dada yang naik turun dengan cepat. “Perpustakaan… di sekolah… orang bisa liat…” Pikiran itu bikin dia merinding, tapi vaginanya langsung bereaksi—lembab pelan menetes ke sprei. Dia benci betapa tubuhnya sudah terprogram untuk bersemangat setiap ada perintah baru.
1780Please respect copyright.PENANAjhiD0356Ty
Dia berdiri, buka lemari. Rok pendek yang dimaksud adalah rok hitam mini yang biasa dia pakai ke pesta kampus, bukan seragam. Tapi perintahnya jelas: pakai rok paling pendek. Dia mengganti seragam di atasnya dengan kemeja putih biasa, tapi rok seragam diganti rok mini hitam itu. Panjangnya memang hanya sampai pertengahan paha—kalau duduk, hampir nggak nutupin apa-apa. Dia memakai pakaian dalam hitam lagi, bra push-up dan G-string tipis. Vibrator titit dia masukkan lagi, getar rendah, biar tetap “siap” sepanjang pagi.
1780Please respect copyright.PENANA4A63wDYhoB
Perjalanan ke sekolah terasa lebih panjang dari biasanya. Naik angkot, setiap guncangan bikin vibrator bergeser, tekan titik sensitif di dalam. Dia gigit bibir bawah keras, tangan menekan rok supaya tidak tersingkap. Beberapa penumpang pria curi melihat ke pahanya yang terbuka lebar. Nadya pura-pura lihat ke luar jendela, tapi dalam hati dia malu sekaligus terangsang.
1780Please respect copyright.PENANAHJYOq17qSo
Sampai jam sekolah 07.40. Lisa menunggu di gerbang seperti biasa. "Nad! Wah, rok lo beda hari ini. Hot banget, tapi… lo yakin boleh pakai gini ke sekolah? BK bisa marah."
1780Please respect copyright.PENANAoMOo7EYlTe
Nadya tersenyum kaku. “Cuma hari ini aja, Lis.Bosan seragam rok abu-abu.” Lisa cuma geleng-geleng kepala, tapi matanya memperhatikan cara Nadya jalan—kaki rapat, langkah kecil, seperti orang lagi menahan sesuatu.
1780Please respect copyright.PENANADd8QSFQ2Bw
Kelas pagi berlalu dengan lambat. Nadya duduk di baris belakang, vibrator masih rendah. Setiap guru bertanya, dia mengangkat tangan pelan, suaranya bergetar. Lisa yang duduk di sebelah mulai curiga. “Lo kenapa sih hari ini? Keliatan direkomendasikan banget.”
1780Please respect copyright.PENANABVIctFqwI7
“Nggak apa-apa… cuma lagi PMS,” bohong Nadya. Tapi saat jam menunjukkan pukul 09.55, dia mengangkat tangan. “Bu, izin ke perpustakaan buat cari referensi tugas.” Guru mengangguk.
1780Please respect copyright.PENANAgC7ReIkIkW
Perpustakaan lantai 3 SMA Elit Harmoni jarang ramai di jam itu. Hanya beberapa siswa yang lagi belajar kelompok di lantai bawah. Nadya naik tangga pelan, vibrator bergoyang di dalam setiap langkah. Dia masuk ke bagian paling belakang—rak buku tua tentang sejarah Indonesia, tempat yang jarang dilirik orang. Bau buku lama mencampur aroma tubuhnya sendiri yang mulai berkeringat.
1780Please respect copyright.PENANA8McDdYiJ3P
Dia memilih rak paling ujung, duduk di lantai dengan punggung bersandar ke rak. Rok mini tersingkap tinggi, hampir gak nutupin vaginanya. Dia buka kaki lebar seperti diperintah—lutut ditekuk, telapak kaki rata di lantai, vagina terbuka lebar di udara dingin perpustakaan. Durian kecilnya sudah membengkak, merah muda dan licin.
1780Please respect copyright.PENANAg9sIFt8ZHu
Dia mulai menyentuh. Jari tengah melingkari pelan di durian kecil, getaran vibrator menambah intensitas. “Mmm…” desah kecil keluar. Dia merekam dengan HP di tangan kiri, suara napasnya cepat. “Ahh… gue… gue lagi sentuh…” bisiknya pelan. Jari masuk ke dalam, ikut vibrator, suara lembab “Squish… squish…” menggema pelan di antara rak buku.
1780Please respect copyright.PENANAYMDBXyKK8V
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
1780Please respect copyright.PENANAreSzRn7i4K
Beberapa menit kemudian, ada langkah kaki mendekat. Nadya panik, tapi jangan berhenti. Seorang cowok kelas 3 lewat, matanya melebar saat liat Nadya duduk dengan kaki terbuka, jari di vagina. Dia berhenti sejenak, meletusnya lapar. Nadya menatap balik, malu tapi tidak nutup kaki. Cowok itu buru-buru pergi, tapi Nadya tahu dia bakal cerita ke temen-temennya.
1780Please respect copyright.PENANAJAKHwU9xUi
Sensasi dilihat orang asing bikin orgasme mendekat dengan cepat. “Aaaah… ya Tuhan…” Tubuhnya kejang kecil, cairan bening menetes ke lantai kayu. Suara “Tetes…tetes…” pelan. Dia tahan supaya tidak terlalu keras, tapi desahnya tetap keluar. Video 15 menit penuh dikirim.
1780Please respect copyright.PENANAboYPQOA8S5


