Hujan Pontianak malam itu seperti tirai tebal yang tak mau berhenti. Air mengalir deras di selokan Jalan Gajah Mada, membawa sampah plastik dan daun-daun basah yang tersangkut di trotoar. Lampu neon dari kedai kopi dan warung makan malam memantul di genangan air, menciptakan kilauan warna-warni yang hampir indah kalau bukan karena dingin yang menusuk tulang. Azula berjalan cepat di bawah payung hitam kecil yang hampir tak berguna—air tetap merembes ke jaket bomber hitamnya, membuat crop top di bawahnya menempel dingin ke kulit.
Dia tiba di Kopi Nusantara sekitar pukul sepuluh lewat lima belas menit. Tempat itu ramai seperti biasa: mahasiswa Untan nongkrong di meja-meja kayu, pasangan muda berfoto di depan mural neon, dan beberapa turis asing yang salah masuk mencari kopi susu gula aren. Azula memilih meja pojok dekat jendela, pesan latte panas, dan pura-pura main HP sambil mengamati sekitar. Matanya tajam menyapu ruangan—mencari wajah yang cocok dengan bayangan samar dari vision kemarin: pria bertopi hitam, postur sedang, gerakan hati-hati.
Di telinga kirinya, earpiece kecil yang Ranham pasang tadi sore bergetar pelan. Suara Ranham keluar datar, seperti orang lagi ngobrol santai sambil makan mie.
“Lo udah di dalam? CCTV depan nunjukin lo masuk dua menit lalu. Motor hitam yang lo bilang kemarin gak keliatan di rekaman malam Lina hilang. Tapi ada satu motor sama yang lewat tiga kali di gang sebelah. Platnya buram, tapi gue zoom-in lagi nanti.”
Azula menjawab pelan, bibir hampir tak bergerak. “Bagus. Gue coba tanya barista dulu. Lo pantau aja.”
Dia bangun, mendekati counter. Barista cewek muda dengan apron hijau tersenyum ramah. “Mbak pesen apa lagi?”
Azula menyandarkan siku ke counter, pura-pura santai. “Eh, kemarin malam ada cewek hoodie abu-abu masuk gak? Rambut panjang, bawa tas selempang kecil. Dia temen gue, katanya mau ketemu di sini tapi gak dateng-dateng.”
Barista mengerutkan kening, berpikir. “Kemarin malam ya? Ramai banget sih. Tapi kayaknya ada yang mirip. Dia duduk di meja deket pintu belakang, terus keluar cepet-cepet pas hujan lagi deras. Ada cowok yang ngikutin dari belakang, tapi gue gak perhatiin detail. Kenapa, Mbak? Hilang?”
Azula mengangguk pelan. “Iya. Kalau ada yang nanya-nanya soal dia, tolong kasih tahu ya. Ini nomor gue.”
Dia menyerahkan kartu nama DD—sederhana, hanya nama “Azula” dan nomor HP. Barista mengangguk, lalu kembali ke mesin kopi.
Azula kembali ke meja, tapi belum sempat duduk, seorang pria mendekat. Umur sekitar akhir dua puluhan, rambut pendek rapi, jaket denim gelap, senyum ramah yang terlalu sempurna. Dia membawa dua gelas kopi panas.
“Permisi, Mbak. Maaf ganggu. Gue dengar tadi Mbak nanya soal cewek hoodie abu-abu. Lina, kan? Gue temen kuliahnya. Namanya Andi.”
Azula menatapnya tajam, tapi ekspresi tetap netral. “Oh ya? Duduk aja.”
Andi duduk di depannya, mendorong satu gelas kopi ke arah Azula. “Ini gue pesenin buat Mbak. Dingin banget malam ini. Lina emang sering ke sini, tapi kemarin dia bilang mau ketemu gue. Tapi pas gue dateng, dia udah gak ada. Gue khawatir banget.”
Azula mengambil gelas itu, mencium baunya—aroma kopi biasa, tapi ada sedikit rasa aneh di ujung hidung. Dia tidak minum, hanya memegang gelas sambil mengamati Andi. Matanya menyipit sedikit.
“Lo tahu Lina dari mana? Jurusan yang sama?”
Andi mengangguk cepat. “Sastra juga. Kita satu kelompok tugas. Dia bilang lagi ada masalah sama mantan, makanya gue khawatir kalau dia kabur atau apa gitu.”
Azula mengangguk pura-pura percaya. Di telinga, Ranham berbisik lagi. “Gue cek nama Andi di database kampus. Ada mahasiswa Untan nama Andi Pratama, umur 28, semester akhir. Tapi… dia sering bolos kelas akhir-akhir ini. Dan ada laporan polisi kecil soal stalking cewek lain dua tahun lalu, tapi gak dilanjut.”
Azula menahan senyum sarkas. “Menarik.”
Dia pura-pura menyesap kopi—hanya basahi bibir. Rasa aneh itu lebih kuat sekarang. Obat. Pasti. Dia meletakkan gelas pelan, tangan kirinya meraba holster pisau di bawah jaket bomber.
“Lo tahu dia ke mana setelah dari sini?” tanya Azula.
Andi menggeleng. “Gak tahu. Tapi gue punya ide. Gue punya temen yang kerja di pinggir sungai, mungkin Lina ke sana kalau lagi stres. Mau gue anter? Motor gue di depan.”
Azula pura-pura ragu, lalu mengangguk. “Oke. Tapi gue bawa motor sendiri.”
Andi tersenyum lebar. “Gak usah. Hujan deras, Mbak. Naik aja sama gue. Lebih aman.”
Azula bangun, tapi kepala mulai terasa ringan. Kopi itu… bahkan uapnya sudah cukup. Dia sempat berpikir untuk tarik pisau, tapi tubuhnya lambat. Dunia berputar pelan. Andi memegang lengannya, seolah menyangga.
“Wah, Mbak pusing ya? Tenang, gue anter ke tempat aman.”
Itu kata terakhir yang Azula dengar jelas sebelum gelap menelan semuanya.
…
Ketika sadar, dingin pertama yang terasa adalah lantai kayu basah di bawah punggungnya. Bau lembab, air sungai, dan kayu lapuk memenuhi hidung. Suara gemuruh Kapuas terdengar dekat, seperti detak jantung kota yang marah. Azula membuka mata perlahan—kepala masih berat, mulut kering, tapi kesadarannya kembali cepat.
Tangan kanan dan kirinya terikat ke belakang dengan tali paracord kasar, simpulnya ketat tapi tidak profesional—ada celah kecil di antara pergelangan. Kakinya diikat di pergelangan, membatasi langkah. Mulutnya disumpal kain tebal yang dibalut duct tape melingkar dua kali. Napasnya terbatas, setiap tarikan udara membuat hidungnya berdengung.
“Mmpphh!!”
Suara itu keluar pelan, teredam. Azula menggelengkan kepala, mencoba membersihkan kabut di otak. Dia berbaring miring di lantai rumah panggung tua—dinding kayu belian sudah lapuk, atap bocor di beberapa tempat, air hujan menetes ritmis ke ember plastik di sudut. Lampu senter kecil tergantung di langit-langit, cahayanya kuning redup menerangi ruangan kosong. Tidak ada furnitur kecuali tikar usang dan beberapa kardus bekas.
Langkah kaki mendekat dari ruang sebelah. Andi muncul di ambang pintu, masih pakai jaket denim yang sama, tapi sekarang matanya berbeda—lebih gelap, lebih lapar.
“Bangun juga akhirnya. Gue kira lo bakal tidur lebih lama. Obatnya ringan kok, cuma buat bikin lo lemes sebentar.”
Azula menatapnya tajam, mata menyala marah. “Mmpphh!! Grrrmph!!”
Andi tertawa kecil, mendekat. Dia jongkok di depan Azula, tangannya menyentuh pipi gadis itu. “Lo cantik banget pas marah gini. Lina juga gitu dulu. Tapi dia gak sekuat lo. Lo… lo beda. Detektif, kan? Gue tahu dari kartu nama lo.”
Azula menggeliat, mencoba menjauh. Tali di tangan menggigit kulit, tapi dia tidak panik. Dia sudah merasakan simpulnya—bukan simpul sailor yang rumit. Bisa dilepas kalau dia punya waktu dan kesabaran. Dia mulai memutar pergelangan pelan, mencari titik lemah.
Andi berdiri, berjalan mengelilingi Azula seperti predator mengamati mangsa. “Gue gak mau sakitin lo… kalau lo nurut. Gue cuma mau lo ngerti. Lina gak ngerti. Dia kabur. Makanya gue harus ajarin.”
Dia mengeluarkan pisau lipat dari saku, membukanya pelan. Bukan untuk melukai—hanya untuk memotong tali kaki Azula sedikit, memberi ruang gerak tapi tetap terikat. Lalu dia menarik Azula duduk, menyandarkan punggungnya ke tiang kayu di tengah ruangan.
Azula merasakan tali baru melingkar di pinggangnya, mengikat tubuhnya ke tiang. Ketat. Dada naik-turun cepat, napas terengah di balik sumpel. “Mmpphh!! Mmmphhh!!”
Andi membungkuk, wajahnya dekat sekali. Bau napasnya campur rokok dan kopi. “Lo suka diikat, ya? Gue lihat dari cara lo geliat tadi. Gak takut. Malah… penasaran.”
Azula menatapnya dingin. Dalam hati, ada campuran emosi yang rumit—marah membara, takut yang nyata, tapi juga sensasi aneh yang selalu muncul di situasi seperti ini. Rasa penasaran yang sudah lama dia pendam. Tapi sekarang bukan saatnya menikmati. Sekarang saatnya bertahan.
Andi mulai menyentuh—pelan dulu, jari menyusuri lengan Azula yang terikat, lalu turun ke pinggang. Jaket bomber sudah dilepas, crop top hitamnya basah karena hujan dan keringat. Dingin membuat putingnya mengeras di balik kain tipis.
“Mmpphh!!” Azula menggeleng keras, mencoba menendang, tapi kaki masih terikat.
Andi tertawa lagi. “Tenang. Malam ini panjang. Kita punya waktu.”
Dia berdiri, berjalan ke sudut ruangan, mengambil botol air dan kain basah. “Gue kasih lo minum dulu. Jangan takut, gak ada obat lagi.”
Dia membuka duct tape pelan, menarik kain sumpel keluar. Azula langsung menghirup udara dalam-dalam, batuk kecil.
“Lo bajingan…” suaranya serak, tapi penuh amarah. “Lepasin gue sekarang juga.”
Andi tersenyum. “Belum. Lo harus ngerti dulu.”
Dia mendekat lagi, kali ini tangannya lebih berani—menyusup ke bawah crop top, meremas dada Azula dengan kasar. Azula menggigit bibir, menahan erangan yang hampir keluar. Tubuhnya bereaksi meski pikirannya menolak.
“Mmpphh…” kali ini bukan karena sumpel, tapi karena sensasi yang tak diinginkan.
Andi memperhatikan. “Lihat? Lo suka.”
Azula memuntahkan kata sarkas meski napas tersengal. “Lo salah besar. Gue bakal bikin lo nyesel.”
Andi hanya tertawa, lalu mengambil kain sumpel lagi. “Kita lihat nanti.”
Dia menyumpal mulut Azula kembali, kali ini lebih ketat, duct tape melingkar tiga kali. Azula menggeleng, matanya menyala. Tapi di dalam, dia mulai menghitung—waktu, celah simpul, kesempatan.
Malam masih panjang. Hujan di luar semakin deras, menutupi segala suara.
Dan Azula tahu, dia akan keluar dari sini. Seperti selalu.
ns216.73.216.69da2


