Hujan deras mengguyur Pontianak sejak sore, seperti biasa di musim ini. Air menggenang di trotoar Jalan Gajah Mada, memantulkan lampu neon dari warung kopi dan kedai bakso yang masih buka sampai larut. Di dalam kantor kecil “DD” di kawasan Kota Baru, Azula duduk menyandar di kursi kayu tua, kakinya naik ke meja, mata menatap layar laptop yang menampilkan feed CCTV buram dari salah satu sudut pasar malam. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Azula belum bergerak. Dia masih menunggu.
Kantor DD bukan kantor mewah. Ruangan sempit sekitar 4x5 meter, dinding cat putih sudah mengelupas di beberapa sudut, satu meja kerja penuh tumpukan kertas dan foto-foto kasus lama, rak buku yang penuh novel detektif murahan dan buku mitologi Kalimantan yang jarang disentuh. Di belakang ada pintu menuju kamar kecil yang dipakai Azula dan Ranham tinggal bersama—kasur lipat, kompor gas mini, dan kulkas kecil yang selalu penuh mie instan. Bau kopi hitam dan mie goreng selalu menempel di udara.
Pintu depan terbuka pelan, diikuti derap sepatu basah. Seorang wanita paruh baya masuk, payungnya meneteskan air ke lantai. Wajahnya pucat, mata merah karena menangis. Di tangannya ada kantong plastik berisi kotak styrofoam dan termos kecil.
“Selamat malam, Mbak Azula?” suaranya gemetar.
Azula menurunkan kakinya dari meja, berdiri, dan mengangguk. “Iya, Bu. Masuk aja, duduk. Hujannya deras ya malam ini.”
Wanita itu duduk di kursi tamu yang reyot. “Saya Ibu Sari. Anak saya… Lina… hilang sejak kemarin malam. Dia keluar ke Jalan Gajah Mada, katanya mau ketemu temen buat tugas kuliah. Tapi sampai sekarang gak pulang. HP-nya mati. Saya sudah lapor polisi, tapi mereka bilang tunggu 24 jam dulu. Saya takut…”
Azula mengambil notes kecil dari laci. “Ceritain dari awal, Bu. Lina umur berapa? Kuliah di mana? Terakhir dilihat jam berapa?”
“Lina 21 tahun, kuliah di Untan jurusan Sastra. Terakhir keluar rumah jam tujuh malam kemarin. Dia bilang mau ke coffee shop di Gajah Mada yang namanya Kopi Nusantara. Saya cuma tahu itu. Ini dompetnya jatuh di rumah, mungkin dia buru-buru.”
Ibu Sari mengeluarkan dompet kulit cokelat kecil dari tasnya, menyerahkannya ke Azula. Di dalam ada KTP Lina, foto keluarga, dan beberapa lembar uang receh.
Azula membuka dompet itu, jarinya menyentuh permukaan kulit yang sudah aus. Seketika dunia berputar. Penglihatan datang seperti gelombang dingin.
Dia melihat Lina berlari di trotoar Gajah Mada, hujan deras, jaket hoodie basah kuyup. Ada motor hitam mengikuti dari belakang, lampunya redup. Lina berhenti di depan gang kecil, menoleh ke belakang—wajahnya ketakutan. Lalu tangan kasar menarik lengannya dari belakang. Gambar berganti cepat: Lina diikat tangan di belakang, mulut disumpal kain, dibawa naik motor ke arah pinggir sungai. Rumah kayu tua, atap bocor, suara air Kapuas bergemuruh di bawah. Lina berjuang, tapi pelakunya kuat. Lalu gelap.
Azula tersentak. Tubuhnya ambruk ke kursi, kepala berdenyut keras. Mimisan tipis mengalir dari hidung kanannya. Dia mengusap dengan punggung tangan, napas tersengal. Penglihatan itu hanya sepuluh detik, tapi rasanya seperti satu jam.
Ibu Sari panik. “Mbak Azula! Kamu kenapa?!”
Azula mengangkat tangan, menenangkan. “Gak apa-apa, Bu. Cuma pusing sebentar. Ini… biasa.”
Dia mengambil tisu dari meja, menyeka darah. Kepala masih berputar, tapi dia sudah terbiasa. Efek samping penglihatan: mimisan, pusing, kadang drop total kalau vision-nya panjang. Tapi dia tidak pernah menolak pakai kemampuan itu kalau dibutuhkan.
“Bu, saya terima kasusnya. Bayarannya gak mahal, cukup barter aja. Ini makanan apa?” Azula menunjuk kantong plastik.
“Bubur pedas sama lempok durian. Saya jualan di pasar Flamboyan. Kalau Mbak mau, besok saya bawa lagi. Tolong cari anak saya…”
Azula mengangguk. “Deal. Besok pagi saya mulai cek lokasi. Ranham bisa hack CCTV di Gajah Mada, kan?”
Seolah dipanggil, pintu kamar belakang terbuka. Ranham keluar, rambut acak-acakan, kaos oblong hitam, celana pendek. Umur 20 tahun, badan kurus tapi lincah, mata selalu setengah mengantuk. Dia membawa dua mangkuk mie goreng panas.
“Siapa yang manggil nama gue?” tanyanya santai.
“Ini Bu Sari, klien baru. Kasus hilang orang. Lina, anaknya.”
Ranham mengangguk ke Ibu Sari. “Selamat malam, Bu. Makan dulu, mie-nya masih panas.”
Dia menaruh mangkuk di meja, lalu duduk di lantai, menyilangkan kaki. Azula memandangnya sekilas—Ranham selalu santai, bahkan pas kasus lagi runyam. Itu yang bikin Azula nyaman. Mereka sudah tinggal bareng hampir dua tahun, sejak Ranham kabur dari rumah dan mampir ke DD minta kerja. Sekarang dia hacker pemula, masak, bersih-bersih, dan… partner dalam hal-hal yang lebih pribadi.
Ibu Sari pamit setelah memberikan alamat rumah dan nomor HP Lina. Pintu tertutup, hujan masih deras di luar.
Azula membuka dompet Lina lagi, tapi kali ini tanpa menyentuh langsung. Dia ambil foto Lina dari dalamnya—gadis muda, rambut panjang, senyum manis.
“Vision tadi nunjukin dia dibawa ke pinggir sungai. Rumah kayu tua, kayak rumah panggung yang ditinggalin. Bukan gudang, lebih ke rumah kosong.”
Ranham mengunyah mie. “Keren. Jadi stalker? Mantan? Atau random?”
“Belum tahu. Tapi motornya hitam, platnya gak keliatan jelas. Besok lo hack CCTV Kopi Nusantara sama gang sekitar Gajah Mada. Cari motor yang ngikutin cewek hoodie abu-abu.”
“Gampang. Tapi lo jangan langsung nyelonong ke sana malam-malam. Lo kan suka ceroboh.”
Azula menyeringai sarkas. “Ceroboh? Gue profesional.”
Ranham tertawa kecil. Dia bangun, mendekat ke belakang kursi Azula. Tangan kirinya meraih pergelangan tangan Azula yang sedang memegang notes, menariknya pelan ke belakang.
“Profesional tapi ceroboh,” bisiknya di telinga Azula. “Lihat nih, tangan lo gak dikunci. Kalau lo klien jahat, lo udah diikat sekarang.”
Azula mendengus, tapi tidak menarik tangan. “Lo lagi cari kesempatan ya?”
Ranham tidak menjawab dengan kata-kata. Dia mengambil tali paracord pendek dari laci meja—tali yang selalu ada di sana untuk “keperluan darurat”. Dengan gerakan cepat tapi lembut, dia melingkarkan tali itu di kedua pergelangan Azula, mengikat simpul sederhana tapi kuat di belakang kursi. Tidak terlalu ketat, tapi cukup untuk membatasi gerak.
Azula menggeliat pelan. “Ranham… gue lagi kerja.”
“Kerja bisa nunggu lima menit. Lo tegang banget dari tadi. Vision bikin lo drop, kan?”
Azula diam. Dia memang tegang. Efek pusing masih ada, kepala berdenyut, dan ada sensasi aneh di perut—campuran adrenalin dan rasa penasaran yang sudah lama dia pendam sejak remaja. Film-film penculikan, ikatan, sumpel mulut—semua itu dulu hanya fantasi. Sekarang, dengan Ranham, jadi sesuatu yang nyata, mutual, dan aman.
Dia menguji ikatan itu. Tali tidak longgar, tapi simpulnya bisa dilepas kalau dia twist tangan dengan benar. Dia tahu caranya—sudah berlatih sendiri berkali-kali, di kamar sendirian, atau pas Ranham “membantu”.
“Mmpphh…” Azula bergumam pelan, pura-pura kesal.
Ranham tertawa. “Belum disumpal kok. Mau?”
Azula menoleh, mata menyipit sarkas. “Jangan kebablasan. Besok gue undercover.”
Ranham mengendurkan tali sedikit, tapi tidak melepas. Dia membungkuk, mencium pelan leher Azula. “Oke. Tapi malam ini lo istirahat. Gue yang urus semuanya.”
Azula menghela napas panjang. Dia tahu Ranham benar—dia butuh istirahat. Tapi pikirannya sudah melayang ke Lina, ke rumah kosong di pinggir sungai, ke tali yang mengikat gadis itu.
Malam itu, setelah Ranham melepas ikatan dan mereka makan malam bersama, Azula berdiri di depan jendela kecil kantor. Hujan masih deras. Dia mengenakan jaket bomber hitam tebal di atas crop top-nya, menutupi badan dari dingin malam Pontianak. Holster pisau kecil tetap di pinggang, di bawah jaket.
Besok malam, dia akan ke Jalan Gajah Mada. Undercover. Mencari jejak Lina.
Dan kalau perlu, dia siap masuk ke sarang singa.
ns216.73.217.39da2


