BAB 3
8579Please respect copyright.PENANAlkJTN5cGk0
8579Please respect copyright.PENANAJuNbMqQq0C
8579Please respect copyright.PENANAQAsn52PAaY
Siang itu sekitar pukul 13:30, aku sedang berdiri di koridor lantai 3 dekat ruang rapat divisi keamanan, memeriksa jadwal shift sore. Dari jendela besar yang menghadap lobby bawah, aku melihat Winda dan temannya baru saja kembali dari luar—mungkin dari meeting dengan klien atau urusan humas lainnya. Mereka berdua berjalan masuk ke gedung, tertawa ringan sambil membawa map dan tas.
8579Please respect copyright.PENANAet9aKcdb3R
8579Please respect copyright.PENANAM575nFLPwV
8579Please respect copyright.PENANASvPzi1cJwF
Winda, seperti biasa, langsung mencuri perhatian. Hari ini dia memakai hijab segi empat warna krem yang dia ikat longgar di belakang, sehingga sebagian rambut depannya masih terlihat samar-samar. Tapi entah bagaimana, hijab itu justru menonjolkan wajahnya yang cantik: bibir penuh yang selalu terlihat menggoda meski tanpa lipstik tebal, mata sipit yang berbinar nakal setiap kali dia tersenyum, dan bulu mata lentik yang seolah tak perlu maskara. Blus longgar kremnya tetap menempel lembut di dada yang penuh, rok span panjang hitamnya memeluk pinggul dan bokong dengan pas, membuat setiap langkahnya terasa seperti undangan halus. Bahkan saat berhijab, Winda tetap… menggoda. Aura femininnya tak pernah pudar, malah semakin terasa karena kontras dengan kain yang menutupi.
8579Please respect copyright.PENANAaMdnV1ErX2
8579Please respect copyright.PENANAPKvS47GPih
8579Please respect copyright.PENANAQ4m33yB8tC
Di sampingnya berjalan Dinda, teman satu timnya di humas. Dinda kebalikannya total: badan agak gemuk, kulit sawo matang gelap, aura maghrib yang tebal—rambut dikuncir sederhana, hijab lebar hitam polos, baju gamis longgar yang tak menonjolkan apa pun. Dinda orangnya ceria, suaranya keras, tapi dibanding Winda, dia seperti bayangan yang tak terlalu mencolok.
8579Please respect copyright.PENANAaRUSSQyl7J
8579Please respect copyright.PENANA5KHqxTgBud
8579Please respect copyright.PENANA1YPbLzgowN
Mereka berdua berhenti sebentar di depan pos security kecil. Mang Ujang lagi berdiri di luar, menyapa dengan senyum lebar. Winda dan Dinda langsung bercanda dengannya—tertawa lepas, Winda sesekali menyentuh lengan Dinda sambil menunjuk sesuatu ke arah Mang Ujang. Dari kejauhan, aku melihat Mang Ujang tertawa sambil menggeleng-geleng kepala, wajahnya merona. Winda menoleh sekilas ke atas—ke arah jendela tempat aku berdiri—dan senyumnya melebar sejenak, seperti tahu aku sedang memperhatikan.
8579Please respect copyright.PENANA3dJeK8DSws
8579Please respect copyright.PENANA2GmvlXel2D
8579Please respect copyright.PENANAFJLMKkX4w6
Tak lama, mereka berpisah. Winda dan Dinda naik lift ke lantai humas. Saat melewatiku di koridor, Winda berhenti sebentar, tangannya menyentuh lenganku pelan.
8579Please respect copyright.PENANA2RzFbtkyPJ
8579Please respect copyright.PENANAKoj6otHTFA
8579Please respect copyright.PENANAJll71MJwqP
“Mas, nanti pulang aku mau mampir beli beberapa perlengkapan tim kantor ya. Kertas HVS, spidol, sama kopi sachet buat stok ruangan. Boleh aku pulang agak telat sedikit?”
8579Please respect copyright.PENANARRM4xe0sPA
8579Please respect copyright.PENANAguSjoaRso9
8579Please respect copyright.PENANAoWXlhyyMD8
Aku mengangguk, tersenyum. “Boleh, Sayang. Hati-hati ya.”
8579Please respect copyright.PENANAzwxL78umMi
8579Please respect copyright.PENANAfKBSPN2Zut
8579Please respect copyright.PENANA2h9fcOOTii
Dia mencium pipiku cepat, lalu berlalu bersama Dinda yang sudah berjalan duluan. Aku memandang punggungnya yang bergoyang lembut, hijab krem itu bergoyang pelan mengikuti langkah. Pikiranku kembali ke lembab di rok kemarin, celana dalam yang sudah dibilas, isyarat jari Mang Ujang… tapi aku cepat-cepat menepisnya.
8579Please respect copyright.PENANAbna8vlUrwy
8579Please respect copyright.PENANAElVXHRzQ09
8579Please respect copyright.PENANAZfKsfK4Xt9
Sepanjang sore, aku sesekali memantau dari ruang keamanan. Di monitor kamera lantai humas, aku melihat Winda bekerja di mejanya. Dia sangat fokus—mengetik cepat, menelepon, sesekali berdiri untuk mengambil map dari rak. Matanya berbinar, senyumnya lebar setiap kali bicara dengan rekan kerja. Semangatnya terlihat berbeda hari ini, lebih… hidup. Entah karena meeting tadi sukses, entah karena sesuatu yang lain.
8579Please respect copyright.PENANAHfipwUPnZr
8579Please respect copyright.PENANA3W1DmO3o0m
8579Please respect copyright.PENANAIwbk05pe6C
Aku menghela napas, menatap layar itu lebih lama.
8579Please respect copyright.PENANA18c7IoRsPI
Apa yang sebenarnya membuatnya begitu bersemangat?
8579Please respect copyright.PENANAorC1yGERr2
Dan kenapa aku merasa, semakin hari, aku semakin tak tahu apa yang ada di balik senyum istrisku itu?
8579Please respect copyright.PENANAlqd3oh0SGi
8579Please respect copyright.PENANAAWR2Bq6DFI
8579Please respect copyright.PENANAT3rXWbPwe4
###
8579Please respect copyright.PENANACMt7BqQz3J
8579Please respect copyright.PENANAFgUTztZTzx
8579Please respect copyright.PENANAX6kEHZd2sv
Jam sudah menunjukkan pukul 18:15 saat aku selesai shift dan berjalan ke parkiran depan. Aku sengaja agak cepat hari ini, ingin jemput Winda langsung supaya bisa pulang bareng. Tapi begitu keluar dari gedung, mataku langsung tertumbuk pada pemandangan yang membuat napasku tersendat.
8579Please respect copyright.PENANAB9eE4rrad4
8579Please respect copyright.PENANAj85Wlr4WLR
8579Please respect copyright.PENANA1IbCBzICwq
Di depan pos security, Winda sudah berdiri di samping motor Honda Vario hitam yang biasa Mang Ujang pakai untuk keliling kompleks. Mang Ujang duduk di depan, helm sudah dipasang, tapi dia menoleh ke belakang sambil tersenyum lebar. Winda… naik ke boncengan dengan duduk miring ke samping—gaya cewek yang jarang dia lakukan kalau naik motorku.
8579Please respect copyright.PENANAgE4vMSN7yH
8579Please respect copyright.PENANAn0yvqlRzbB
8579Please respect copyright.PENANA3FWjHhkD4H
Rok span hitam panjangnya hari ini naik sedikit karena posisi duduk miring itu, mempertegas paha bohaynya yang besar dan mulus. Kain rok menempel ketat di kulit paha bagian dalam, membentuk lekuk yang begitu penuh dan menggoda, hampir seperti tak sengaja menawarkan pemandangan itu.
8579Please respect copyright.PENANAQcMdw53z7h
8579Please respect copyright.PENANAnDlLCUgZYE
8579Please respect copyright.PENANAzQ38G2MCyA
Hijab kremnya masih longgar, tapi angin sore membuat ujungnya berkibar pelan, memperlihatkan sedikit rambut di dahi. Yang paling membuat dadaku sesak adalah wajahnya bibir penuh yang sedikit terbuka karena tertawa kecil, mata sipit yang berbinar erotis saat menatap Mang Ujang, bulu mata lentik yang seolah mengedip pelan. Senyumnya manja, seperti sedang berbagi rahasia kecil.
8579Please respect copyright.PENANAAf3oP29vE3
8579Please respect copyright.PENANANGVpqjEELH
8579Please respect copyright.PENANA26lVqtnDnK
Mang Ujang menyalakan mesin, motor mulai bergerak pelan keluar dari parkiran. Winda memegang bahu Mang Ujang dengan tangan kanan, tangan kirinya memegang rok agar tak tertiup angin terlalu kencang—tapi justru gerakan itu membuat roknya naik sedikit lagi, memperlihatkan lebih banyak paha yang putih mulus itu. Mereka berdua tertawa ringan, seperti orang yang sudah akrab sekali.
8579Please respect copyright.PENANAKCiRFYqGbm
8579Please respect copyright.PENANA4M0le5KU47
8579Please respect copyright.PENANAQ9tV9qAUFz
Aku berdiri di tempat, tangan mengepal di saku celana. Mobil kami masih parkir tak jauh dari situ, tapi aku tak bergerak. Cemburu membakar dada seperti api kecil yang tiba-tiba menyala besar. Kenapa dia naik motor Mang Ujang? Kenapa bukan nunggu aku? Kenapa duduk miring begitu, memperlihatkan pahanya seperti itu? Dan kenapa matanya… kenapa bibir dan matanya terlihat begitu erotis saat menatap laki-laki lain?
8579Please respect copyright.PENANAa2sw4TBTIJ
8579Please respect copyright.PENANAeEjA5GZl22
8579Please respect copyright.PENANAB2xLHVjLAg
Pikiran buruk mulai berputar lagi: lembab di rok kemarin, celana dalam yang sudah dibilas, isyarat jari manis di pos satpam, semangat berlebih Winda siang tadi… Semuanya terasa semakin nyambung, semakin gelap.
8579Please respect copyright.PENANA3irmr5LE0K
8579Please respect copyright.PENANAJKlvNMWKt3
8579Please respect copyright.PENANAMHyItogUVi
Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Mungkin dia cuma minta tolong antar ke minimarket terdekat untuk beli perlengkapan tim yang dia bilang tadi. Mungkin Mang Ujang kebetulan mau pulang searah. Mungkin… aku terlalu overthinking.
8579Please respect copyright.PENANANlnwJt2PXt
8579Please respect copyright.PENANA4etUosTtji
8579Please respect copyright.PENANAHpOjbZ3Dhq
Tapi saat motor mereka menghilang di tikungan depan, aku tetap berdiri di situ, memandang kosong.
8579Please respect copyright.PENANAPvjrY0lnGX
Malam ini, aku tahu aku harus bertanya.
8579Please respect copyright.PENANAbAAcfAgria
Tapi yang lebih menakutkan: aku tak yakin apakah aku benar-benar ingin tahu jawabannya.
8579Please respect copyright.PENANApoT82bRhyU
8579Please respect copyright.PENANAteh2fe4XIS
8579Please respect copyright.PENANAqrLX7NoiDt
###
8579Please respect copyright.PENANAPwnvCzXLxH
8579Please respect copyright.PENANAEsZ1pzx8Bg
8579Please respect copyright.PENANAVxfRWhwWV0
8579Please respect copyright.PENANAvto5PXdBdl
8579Please respect copyright.PENANAOGC1KVfj2v
Jam sudah menunjukkan pukul 20:05 ketika aku duduk di sofa ruang tamu, rumah terasa terlalu sepi. Lampu dapur menyala redup, AC berdesir pelan, tapi pikiranku berisik sekali. Winda sudah hampir dua jam tak pulang—dia bilang cuma mampir beli perlengkapan tim kantor, tapi kenapa lama sekali? Dan yang lebih mengganggu: kenapa tadi dia naik motor Mang Ujang, duduk miring memperlihatkan paha bohaynya seperti itu, mata dan bibirnya begitu erotis saat menatap laki-laki itu?
8579Please respect copyright.PENANAyOsSnCJzZS
8579Please respect copyright.PENANAcpStErspJF
8579Please respect copyright.PENANAQKseCEHJYl
Aku tak tahan lagi. Aku ambil ponsel, tekan nomor Winda. Nada sambung berdering panjang, hampir lima kali, sebelum akhirnya diangkat.
8579Please respect copyright.PENANAkUBv9WGSSJ
8579Please respect copyright.PENANAPszWGCJZNx
8579Please respect copyright.PENANA4zZTRcjc7T
“Halo, Mas?” suaranya terdengar agak terengah, tapi tetap lembut seperti biasa.
8579Please respect copyright.PENANALgeqoVU5Rd
8579Please respect copyright.PENANA5Bk7PMhSzA
8579Please respect copyright.PENANAbvdSTCfSls
“Sayang, kamu di mana? Sudah lama banget. Aku khawatir.”
8579Please respect copyright.PENANAkAfqsNzUFW
8579Please respect copyright.PENANAv19TlsjL7V
8579Please respect copyright.PENANA2NpaESAz5d
Dia tertawa kecil, suara yang biasanya menenangkan, tapi malam ini terasa… berbeda. “Aku lagi di minimarket dekat kantor, Mas. Tadi antri bayar, trus ketemu Mang Ujang, dia kebetulan mau pulang juga. Jadi aku ikut naik motor bentar biar cepet, sekarang lagi nunggu ojek online aja. Sebentar lagi pulang kok.”
8579Please respect copyright.PENANAnouKL51TTU
8579Please respect copyright.PENANAgZzC72CqyX
8579Please respect copyright.PENANAetZiuSa2Wa
Aku diam sejenak, mendengar latar belakang. Aneh. Tidak ada suara kendaraan lewat, tidak ada klakson, tidak ada deru motor, tidak ada suara orang-orang di minimarket yang biasanya ramai. Hanya keheningan… dan napasnya yang sedikit cepat.
8579Please respect copyright.PENANA6eZwN8Bzzd
8579Please respect copyright.PENANAQD06Lp4VXf
8579Please respect copyright.PENANAnN6NF1NOmU
“Tapi kok nggak ada suara apa-apa di sana, Wind? Kayak… sepi banget. Kamu beneran di minimarket?”
8579Please respect copyright.PENANAuOcyS2GVI8
8579Please respect copyright.PENANAPFWR3hY7ak
8579Please respect copyright.PENANAeRID3J9HpM
Dia terdiam sebentar, lalu suaranya kembali manja. “Ya ampun Mas, overthinking lagi ya? Ini minimarketnya lagi sepi aja, mungkin udah malam. Lagian aku di dalam, deket rak kopi. Tenang aja, aku baik-baik kok. Sebentar lagi pulang, ya? Kangen nggak sama aku?”
8579Please respect copyright.PENANAHhW0pML7J2
8579Please respect copyright.PENANAbQ8YP3Mt9J
8579Please respect copyright.PENANABCSUbq7k7N
Aku ingin percaya. Aku ingin sekali percaya. “Iya, kangen. Cepet pulang ya, Sayang.”
8579Please respect copyright.PENANAuaBC7pcybd
8579Please respect copyright.PENANAcEJPZYZ5HB
8579Please respect copyright.PENANAd4tw6zfE7v
“Pasti. Love you, Mas.”
8579Please respect copyright.PENANAO3BNc20YC6
8579Please respect copyright.PENANAMJIosgYJHS
8579Please respect copyright.PENANAiUudC7Kndy
Telepon masih menyala. Aku belum sempat menutup, tapi tiba-tiba terdengar suara samar dari seberang sana—tepat sebelum dia menutup.
8579Please respect copyright.PENANA6WGSfmrzEO
*Plak… plak…*
8579Please respect copyright.PENANAXljPHUJEIX
Seperti tepukan tangan pelan. Atau… kulit bertemu kulit. Ritme pendek, dua kali, lalu terdengar napas Winda yang tersengal sebentar sebelum panggilan benar-benar terputus.
8579Please respect copyright.PENANAwo4Ia1ca1j
8579Please respect copyright.PENANAbhCFf9giDr
8579Please respect copyright.PENANAcopeXtpOlg
Aku menatap layar ponsel yang sudah gelap, jantung berdegup kencang.
8579Please respect copyright.PENANA5OTOQyXkG4
Apa itu tadi?
8579Please respect copyright.PENANARYoYkXz4RP
Tepukan? Atau imajinasiku yang sudah terlalu liar?
8579Please respect copyright.PENANAr8WAItFG9z
8579Please respect copyright.PENANA8rWVw46uCS
8579Please respect copyright.PENANANcFsk4sluk
Rumah masih sepi. Jam dinding berdetak pelan. Aku duduk membeku di sofa, menunggu suara pintu terbuka, tapi yang datang hanya pertanyaan-pertanyaan yang semakin gelap di kepalaku.
8579Please respect copyright.PENANAnG66z4B3SP
8579Please respect copyright.PENANA3JZus8uMR8
8579Please respect copyright.PENANAX5yccwPert
###
8579Please respect copyright.PENANAxEdNUHhP8f
8579Please respect copyright.PENANA3aPSzYw94M
8579Please respect copyright.PENANAFDSd1g932Y
Aku masih duduk di sofa, ponsel tergenggam erat sampai buku-buku jarinya memutih. Telepon sudah mati sejak tadi, tapi suara itu—*plak… plak…*—terus berulang di kepalaku seperti rekaman rusak yang tak bisa dipause. Dua tepukan pendek, ritmis, diikuti napas Winda yang tersengal sebentar sebelum panggilan terputus. Bukan suara pintu minimarket ditutup. Bukan suara barang jatuh dari rak. Itu terlalu… intim. Terlalu mirip kulit bertemu kulit dengan sengaja.
8579Please respect copyright.PENANAmHqL7GpN7r
8579Please respect copyright.PENANA3I1Fm2fshH
8579Please respect copyright.PENANAmPURhRSpuU
Aku bangkit, berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Lampu teras menyala redup di luar, tapi pikiranku gelap.
8579Please respect copyright.PENANAJJChckiaBm
Minimarket sepi? Jam segini memang bisa sepi, tapi nggak mungkin sepi total. Biasanya ada suara pendingin minuman berdengung, kasir ngetik struk, atau paling tidak suara motor lewat di jalan depan. Tapi tadi? Hening. Hanya suara napas Winda, suara kain bergesek pelan (mungkin roknya atau hijabnya), dan… tepukan itu.
8579Please respect copyright.PENANAud1rOt9phe
8579Please respect copyright.PENANANUNDaInFpJ
8579Please respect copyright.PENANAsPOfP46z2e
Aku coba rekonstruksi dalam kepala.
8579Please respect copyright.PENANAr7XLPZp1Df
Kalau dia benar-benar di minimarket, kenapa nggak ada suara apa pun? Mungkin dia lagi di ruang belakang, di gudang kecil yang kadang dipakai karyawan istirahat. Tapi kenapa dia bilang “deket rak kopi”? Dan kenapa Mang Ujang tadi ikut? Dia bilang “kebetulan mau pulang juga”, tapi kalau kebetulan, kenapa Winda naik motornya? Kenapa duduk miring, memperlihatkan paha bohaynya seperti itu? Dan sekarang… tepukan itu.
8579Please respect copyright.PENANAKaMmOtSE5Z
8579Please respect copyright.PENANAlFGt2rtmUx
8579Please respect copyright.PENANAQCUc04uZjJ
Pikiran buruk mulai mengalir deras, tak bisa kutahan lagi.
8579Please respect copyright.PENANAZivmaTKZWt
*Plak… plak…*
8579Please respect copyright.PENANA5YBZy96XW4
Apa itu tepukan pantat? Atau tepukan paha? Atau… lebih buruk lagi, tangan Mang Ujang yang menepuk sesuatu di tubuh Winda? Atau Winda sendiri yang menepuk sesuatu—mungkin tangan Mang Ujang yang nakal, tapi dengan nada bercanda? Atau… sesuatu yang lebih dalam, lebih ritmis, seperti dorongan pelan yang disamarkan sebagai tepukan?
8579Please respect copyright.PENANAkx5gafTvIU
8579Please respect copyright.PENANA1NWFx0hKb5
8579Please respect copyright.PENANAuLr9JPaj30
Aku berhenti di depan cermin lorong, memandang wajahku sendiri yang pucat.
8579Please respect copyright.PENANAv2ZDwi9uZ1
“Jangan gila, Vin,” gumamku pelan. “Dia istri kamu. Dia cuma beli barang kantor. Mungkin tepukannya cuma dia tepuk meja karena kesal antri lama. Atau tepuk tangan sendiri karena nemu promo kopi sachet.”
8579Please respect copyright.PENANAW7ZnQTD1Iv
8579Please respect copyright.PENANAsmFLt12JcC
8579Please respect copyright.PENANAukRVWjbFHT
Tapi semakin aku mencoba menenangkan diri, semakin jelas suara itu terngiang. Dua kali. Pendek. Keras. Diikuti napas tersengal yang samar. Napas yang sama seperti saat kami… melepas hasrat di ranjang. Napas yang selalu keluar dari mulut Winda saat dia mulai terbawa.
8579Please respect copyright.PENANASaYRjmPPJL
8579Please respect copyright.PENANAfMD5M7kh0P
8579Please respect copyright.PENANAH95QmRYPpv
Aku kembali ke sofa, duduk dengan tangan menutup wajah. Jam sudah hampir setengah sembilan. Winda bilang sebentar lagi pulang. Tapi setiap detik terasa seperti jam.
8579Please respect copyright.PENANAtUroF7elSh
Kalau dia pulang nanti, apa aku harus tanya langsung? Apa aku berani dengar jawabannya?
8579Please respect copyright.PENANA3OO9o6iVz5
Atau aku lebih baik pura-pura nggak dengar apa-apa, terus overthinking sendirian sampai besok pagi?
8579Please respect copyright.PENANAa9fjPjIGbH
8579Please respect copyright.PENANAs0YiXs4g4O
8579Please respect copyright.PENANAexSjpn2QRp
Suara pintu pagar terdengar samar dari luar.
8579Please respect copyright.PENANA1j5NnHyrZT
Aku langsung berdiri, jantung berdegup kencang.
8579Please respect copyright.PENANAMfz0IRAbPU
Itu Winda.
8579Please respect copyright.PENANAqujoy66bT3
Atau… masih ada waktu untuk berpura-pura semuanya baik-baik saja.
8579Please respect copyright.PENANALRnVh1m48r
Tapi suara tepukan itu… tak akan pernah hilang dari kepalaku malam ini.
LANJUT👇
https://victie.com/novels/016-nestari-istriku-dan-shaina-anakku-1
ns216.73.216.23da2


